Our Past Future Life(Chapter 3)

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Hyora

Support casts   :Lee Chunji, Eomma Kai, Eomma Hyo, Hyorin

Genre              : Romance

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Summary         :

“No matter how dark your past is, the all I know is that you are my future”

(Author’s side)

Angin yang berhembus membuat beberapa lembar daun beringin yang tumbuh subur di belakang sekolah berguguran. Sisanya saling bergesekan menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan.

“Apa kabar Kai?” Seorang namja membuka suara, menyapa namja satunya yang sedang duduk di bangku kayu tepat di bawah pohon beringin yang cukup besar itu. “Terakhir kita bertemu saat kau bilang akan keluar dari dunia kita. Emh… hampir 2 tahun yang lalu. Benar kan? Lama sekali yaa…” Namja bernama Chunji itu membalikkan badan menghadap lawan bicaranya yang masih membisu.

“Iya. Dan aku sudah hampir melupakan semua tentang kehidupan kita yang dulu.” Pada akhirnya, dengan suara bergetar Kai menjawab basa-basi yang di lontarkan Chunji.

“Hampir? Berarti belum kan? Hahaha…”Tawa sumbang keluar dari bibir tipis Chunji. “Kau tahu, aku masih setia dengan kehidupan yang dulu. Hanya saja sekarang lebih ‘bersih’, tidak curang seperti dulu.” Tawanya menghilang, berganti dengan raut wajah serius.

“Kenapa kau datang kemari?” Tanya Kai

“Aku mencari seseorang.” Tutur Chunji.

“Sudah kau temukan?”

“Sepertinya sudah.” Jawabnya sambil berjalan menghampiri Kai yang masih di posisinya semula. “Aku harus pergi sekarang. Senang bertemu denganmu lagi.” Tangannya menepuk pundak Kai yang lagi-lagi di tolak oleh namja itu.

“Oh iya…” Chunji berbalik. “Kalau ada waktu kau boleh menemuiku di tempat biasa. Kita bermain seperti dulu. Aku tahu kau merindukan saat-saat itu.” Tambahnya dengan senyum licik tersungging di bibirnya.

Sepeninggal Chunji, Kai duduk termenung di tempatnya. Ia menarik nafas panjang sambil melonggarkan kepalan lengannya yang sedari tadi bersembunyi di saku jaket hitam yang ia kenakan.

Tanpa ada seorangpun yang tahu, seorang gadis duduk di bangku tepat di balik bangku yang di duduki oleh Kai dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya dengan rapat. Mata gadis itu membulat setelah mendengar semua percakapan dua namja tadi.

‘Jadi… Chunji itu adalah orang yang dulu membawa Kai menjalani dunia gelapnya…’ Gumam gadis itu dalam hati.

(Flashback)

(Hyora’s side)

“Eomma, mau apa kita kesini?” Aku menggerutu saat eomma menuntun aku dan Hyorin, adikku, memasuki gerbang rumah tetangga sampingku.

“Tentu saja untuk menyapa tetangga baru kita. Eomma dan Appa kan akan sering pergi meninggalkan kalian, jadi kita harus pintar bersosialisasi agar nantinya kalian tidak kesulitan.” Jelas eomma.

Kami memang baru pindah ke kota ini 3 hari yang lalu. Dalam 3 hari itu kami belum sempat menyapa tetangga baru kami karena masih sibuk berbenah. Bahkan saking sibuknya, aku dan Rin, nama panggilan adikku, baru mulai masuk ke sekolah baru kami hari ini.

“Tapi aku sudah besar Eomma, aku bisa menjaga Hyorin dan diriku sendiri.” Rengekku.

“Tetap saja Eomma ingin mengenal tetangga kita.”

Jika sudah begini, akan sangat percuma kalau aku terus-terusan memaksa eomma. Jadi ku ikuti saja maunya.

“Yeobuseo…”Kata eomma sambil mengetuk pintu di hadapan kami.

“Ne, yeobuseo…” tersengar suara berat namja yang menjawab sapaan kami.

Tidak lama pintu terbuka dan nampaklah sesosok namja berperawakan jangkung di balik pintu. Ia menunjukan wajah tanpa ekspresi.

“Siapa Kai?” Tanya suara seorang yeoja di dalam sana.

Yeoja yang ternyata nyonya rumah disini menghampiri kami. “Ah ternyata tetangga baru kita… Mari masuk…” Kata wanita paruh baya itu ramah.

Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya aku tahu kalau namja yang tadi membukakan pintu itu adalah putra tunggal keluarga ini. Namanya Kim Jongin dan biasa di panggil Kai. Dan kau tahu, dia sekolah di seekolah yang sama denganku dan berada di kelas yang sama dengaku juga. Kenapa aku tidak merasa melihatnya ya tadi… hehehe

<><><>

Aku merasa antara beruntung dan tidak beruntung mengetahui Kai sekelas denganku. Beruntung karena secara tidak sengaja hampir setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Aku merasa beruntung karena Kai bisa di bilang cukup tampan… Baiklah, aku jujur sekarang. Kai sangat tampan. Yeoja mana yang tidak senang berjalan bersama namja tampan setiap hari… kekeke~

Tapi sayang ada rasa tidak beruntung yang kurasakan. Kau tahu, setelah cukup sering kami jalan pulang dan pergi ke sekolah bersama, masih bisa ku hitung dengan jari frekwensi namja itu bicara padaku.

Jadi, satu hal lagi yang kutahu namja ini. Dia namja yang pelit bicara.

<><><>

Aku sedang asyik bermain dengan laptop putih susu kesayanganku di kamar saat terdengar suara ketukan pintu di bawah. “Rin… buka pintunya.” Aku sedikit berteriak pada adikku itu.

Tidak ada jawaban. “Rin…” teriakku lagi.

Masih tak ada jawaban dari gadis yang terkadang memang menyebalkan itu. Ku lirik jam dinding bulat yang tergantung manis di salah satu dinding kamarku. 10.35. Ah ternyata sudah larut, Rin pasti sudah tidur.

Dengan malas aku melangkahkan kaki menuruni tangga. Sebelum membuka pintu, ku sempatkan mengintip dari balik tirai biru yang menutupi jendela. Kai? Tanyaku dalam hati.

Segera ku bukakan pintu setelah tahu yang datang Kai. Tapi betapa terkejutnya aku saat menyadari kalau dia tidak dalam keadaan normal. Wajahnya di penuhi bekas luka. Sudut kiri bibirnya berdarah dan pipi kanannya memar.

“Kai… Kau kenapa?” Tanyaku dengan nada khawatir yang tidak bisa di sembunyikan lagi. “Ayo masuk, ku obati dulu lukamu.” Aku bergeser memberi jalan agar dia bisa masuk.

“Maaf mengganggumu malam-malam.”

Dia duduk di ruang tamu. Penampilannya benar-benar kacau. Selain wajahnya yang di penuhi luka, aku juga melihat punggung tangannya berdarah.

“Ku ambilkan minum dulu.” Kataku sambil beranjak dari sofa.

Namja itu ikut berdiri lalu menarik lenganku, menahanku yang baru saja akan pergi.

“Tidak usah.” Katanya. “Bisa tolong hubungi rumahku?” Tanyanya yang membuatku bingung.

“Huh?” Tanyaku.

“Tolong bilang pada Eommaku kalau aku menginap disini karena harus mengerjakan tugas.” Katanya yang membuatku semakin bingung. “Atau apapun alasannya terserah kau. Yang penting katakan aku tidak akan pulang.”

Penjelasan tambahan darinya bukan membuatku mengerti, malah membuatku semakin bingung.

“Appa akan membunuhku kalau melihatku dalam keadaan seperti ini.”

Kalimat terakhirnya itu membuatku menarik keputusan untuk membantunya.

“Yeobuseo…” Sapaku saat terdengar suara dari seberang sana. Suara eommanya Kai.

“…”

“Ne Eommonim, aku Hyo.”

“…”

“Emh… Igeo… Kai sedang di rumahku. Kami sedang mengerjakan tugas kelompok yang sampai sekarang belum selesai. Jadi mungkin Kai harus menginap disini untuk menyelesaikan tugas kami. Bagaimana eommonim?”Aku bicara setenang mungkin agar eommonim tidak curiga kalau aku sedang berbohong.

“…”

“Ah ye, eommonim. Gamsahamnida. Anyeong…”

~bip~

“Otte?”

Aku hanya mengagguk.

“Oke… gomawo sudah membantu dan mengobati lukaku. Aku pergi.” Dia beranjak sambil menutup retsleting jaketnya yang tadi sempat ia buka.

Dengan agak ragu aku menghampirinya yang sudah hampir mencapai pintu keluar. “Kau mau kemana malam-malam begini?”

“Ke rumah Chanyeol.”

“Kau tidak lihat ini jam berapa?” Ucapku sambil menunjuk jam di dinding ruang tamu.

“Aku tidak punya pilihan” Katanya. “Kecuali kau mengijinkanku menginap disini.” Tambahnya dengan suara pelan.

“Asal kau tidak keberatan tidur di sofa.” Jawabku setelah sejenak berpikir.

Kami berjalan kembali ke tengah ruang tamu dan duduk disana.

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku seperti ini.”

“Aku tidak punya hak untuk bertanya.”

“Tapi aku mau kamu tahu.”

“Keure… malhebwa.”

Akhirnya Kai menceritakan semua tentang dirinya. Selain seorang anak tunggal dari keluarga Kim dan seorang siswa yang cukup terkenal dengan banyak fans di sekolah, ternyata namja yang sedang duduk di sampingku ini memiliki satu sisi yang tidak terjangkau oleh orang-orang di sekitarnya.

Tahun lalu, tepatnya saat kelas 2 SMP, seorang temannya mengenalkannya ke dunia balapan liar. Awalnya dia hanya berperan sebagai penonton. Semakin lama ia merasa semakin tertarik dan mulai mengawali hal yang kini menjadi salah satu hobinya itu. Beberapa kali dalam seminggu dia akan datang ke tempat balapan liar itu lalu ikut balap.

Selain balap, hobi aneh yang ia geluti adalah berkelahi. Setiap habis balap, selalu ada saja sekelompok orang yang mengajaknya bertarung sehingga beginilah akhirnya, ia pulang dengan kondisi yang mengenaskan meski katanya ia selalu memenangkan perkelahian itu.

Dari ceritanya, aku bisa menarik kesimpulan mengenai ‘pengetahuan’ ketiga yang ku tahu tentang dirinya. Kalau boleh ku bilang, ia namja ‘liar’.

<><><>

Setelah hari itu, setiap kali ia pulang malam sehabis balap dan berkelahi, ia selalu datang ke rumahku untuk mencari perlindungan. Aku akan mengobatinya sambil terus menceramahinya walaupun aku tahu kalau tak satupun nasihat yang kuberikan tersangkut di telinganya.

Oh iya, apa kau heran kenapa Kai bisa dengan bebas datang malam-malam ke rumahku? Mungkin aku lupa bilang kalau orang tuaku sangat sibuk mengurusi bisnis keluarga di luar negeri sehingga dalam satu tahun tidak lebih dari 50 hari yang bisa aku dan Rin habiskan bersama keluarga lengkap kami.

Hubunganku dan Kai semakin dekat. Kami mulai terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama denga tanpa kata ‘tidak sengaja’ sekarang.

Sampai saatnya kami lulus SMP dan masuk ke SMA, kami memasuki sekolah yang sama dan lagi-lagi duduk di kelas yang sama. Entah kenapa semakin hari sikap Kai semakin kurasa berbeda. Dia seringkali memaksa untuk mengantarku kemanapun aku ingin pergi. Dia juga tidak pernah keberatan jika ku mintai tolong. Namun hal-hal janggal itu tidak pernah terlalu ku pikirkan karena mungkin itu hanya caranya memperlakukan teman mengingat kepribadiannya yang memang sedikit aneh.

<><><>

Hari itu, seperti biasa, aku sedang asyik bermain dengan laptopku saat tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Eomma muncul disana. Ya, sudah seminggu ini kedua orang tuaku ada di rumah.

“Hyo… cepat ganti baju. Kita harus segera berangkat.” Kata eomma dengan nada cemas yang tergambar jelas disana.

“Berangkat kemana eomma?” Tanyaku penasaran

“Rumah sakit.”

“Rumah sakit?”

<>끝<>

Author’s talk:

Author mau tutup kuping ah pas chapter ini di publish, soalnya pasti banyak yang komplain dan bilang ‘ko pendek thor???’… hehehe… #kidding

Semoga masih ada yang nunggu chapter selanjutnya yaa…

Makasih buat yang udah mampir… dan jangan lupa comment ya… hehe

Makasih… n_n

 

60 pemikiran pada “Our Past Future Life(Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s