The Exotics Life of Immortal (Chapter 2)

Title: The Exotics Life of Immortal

Genre : Romance, AU, Adventure, Fantasy Suspense, Friendship

Author : @Rimahyunki

Length : Chaptered, Series

Rating : T, PG13

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Shin Heerin

Kwon Richan

 

Other cast:

All Member of EXO

Suho

Xi Luhan

Oh Sehun

Chen

Siwon

Victoria, and others.

 

p.s: Cerita terinspirasi dari series Twilight, mbah Google, dan sebagian lagi imajinasi gila author (?)

 

Kembangkan imajinasimu setinggi mungkin!

Happy Reading ~^^

Previous Chapter

 

Many thing in this world which can’t be described with Logic.

“Aku sudah memperingatkanmu” ujarnya kemudian berlari ke arah Chen yang mencoba berdiri. Entahlah apa yang dilakukan yeoja itu, memukulnya? menerjangnya? Semuanya berlangsung begitu cepat untuk tertangkap oleh indera penglihatanku.

Suara dentuman terdengar begitu keras ketika yeoja itu melempar tubuh Chen hingga merubuhkan sebuah pohon besar. Hingga setelah itu aku tidak bisa lagi melihat bayangan mereka yang hilang dibalik gelapnya malam.

Dingin, berkulit pucat, tajam, kuat, cepat–sangat cepat. Vampire?

Banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dijelaskan dengan logika.

ФФФ ФФФ

 

Kedua mataku terus memandang lurus ke depan, melihati jalanan lengang yang hanya dihiasi barisan lampu.

Hanya terdengar suara deruman mesin diiringi gesekan ban mobil dengan aspal. Kami hanya duduk di jok mobil tanpa ada satupun yang mau memulai pembicaraan. Sudah hampir sepuluh menit aku dan namja yang baru kukenal sehari ini saling diam.

Aku meliriknya tepat disaat ia juga mengalihkan wajahnya melihatku. Dengan cepat, aku mengalihkan wajahku kembali ke depan.

Banyak hal berputar di otakku, membuatku sampai bingung untuk memulai bertanya darimana. Aish ada apa sebenarnya dengan hidupku dan makhluk-makhluk di sekitarku?

“Heerin-ah Gwenchana-yo?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku menolehkan kepalaku lagi ke arah Baekhyun yang masih fokus di belakang kemudi.

“Gwen.. Gwenchana” jawabku terbata. Entahlah mungkin ini efek dari rasa takut yang masih kurasakan.

Senyuman terukir di wajahnya, cahaya lampu dari luar yang berpendar di wajahnya membuatnya terlihat tampan sekaligus menakutkan.

Tanganku bergetar tanpa kontrol, perasaan saat aku melihat wujud asli Chen kini kembali muncul.

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri, jika saja namja di sebelahku ini adalah salah satu dari jenis makhluk-makhluk aneh itu maka hanya ada dua pilihan.

Pertama, melompat dari mobil ini lalu kabur.

Kedua, menyerah dan membiarkannya menghisap darahku.

Degg. Jantungku seakan berdegup kencang beberapa sekon saat merasakan sesuatu menyentuh tanganku.

Baekhyun memegangi tanganku dengan sebelah tangannya. Ia tidak berkata apapun selain tetap fokus pada jalan. Namun anehnya, semua rasa takut itu hilang ketika tangannya menggenggam tanganku sekarang. Namja itu seolah-olah sedang mengatur emosiku yang sempat labil.

Dingin. Itulah yang kurasakan sekarang. Setelah semua rasa takutku hilang dan mulai bisa tenang, aku baru menyadari jika telapak tangan namja itu begitu dingin seperti es.

Ia melepaskan tangannya yang semula menggenggamku, “Mianhae,” ucapnya singkat tanpa menjelaskan maksud permintaan maafnya.

CITT..

Ia menghentikan mobilnya. Reflek aku langsung menoleh ke sekeliling. Sudah sampai?

Klik. Kulepas sabuk pengamanku kemudian segera turun dari mobil tanpa banyak bicara. Begitu menutup pintu mobilnya, aku berbalik menghadap ke arah Baekhyun yang masih memegangi setir. Sepertinya ia tidak akan turun walaupun aku menyuruhnya mampir.

Ia melihat ke arahku, dua matanya yang dihiasi eyeliner membuatku harus mengakui jika ternyata namja itu tampan. Berbeda saat pertama aku melihatnya di kelas, tanpa eyeliner dan tatapan tajam itu, Baekhyun terlihat lebih ramah dan hangat.

Aku membungkukkan badanku hampir sembilan puluh derajat seraya berkata, “Kamsahamnida”

Ia melambaikan tangannya bersamaan dengan kaca mobil yang tertutup.

Layaknya seorang pembalap yang berputar balik di arena balapan, mobil sport hitam itu berdecit menyapu tanah kemudian melaju dengan cepat meninggalkanku yang hanya bisa terkesiap.

Apakah ia melajukan mobilnya secepat itu semenjak tadi? Astaga.

***

 

Author poV_

“Tidak sulit untukku membunuhmu sekarang juga” ujar yeoja bertatapan dingin itu. Ia melihat makhluk di depannya tajam seolah sedang berusaha membaca pikirannya.

“Kalau begitu lakukan” tantang namja berperangai tampan itu.

Richan mengukir sebuah smirk, “Sayangnya aku tidak suka mengotori tanganku”

Seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba muncul di belakang Richan. Pria rupawan yang tak lain adalah Siwon. Ia bersama Baekhyun yang berada beberapa detik di belakang kemudian berdiri di depan yeoja yang sebenarnya bermaksud mengulur waktu.

“Kami tidak akan membunuhmu” ujar Siwon pada Chen yang  berhadapan dengan tiga orang sekaligus.

***

 

Keesokan harinya, 06.00 KST_

Heerin melangkahkan kakinya terburu-buru menuju perpustakaan. Sekolah masih sepi. Ya tentu saja. Ini masih pukul 6 pagi. Siapa murid yang rela datang satu jam sebelum jam masuk sekolah kecuali yeoja berwajah imut itu.

Klek.

“Fiuh” Heerin menghembuskan napasnya lega karena melihat sosok sang penjaga perpustakaan yang ada disana.

Jaesuk melihat Heerin heran. Kenapa anak ini  datang pagi sekali? batin pria paruh baya itu.

“Songsaenim, aku ingin meminjam buku yang kemarin” sergah Heerin tanpa berbasa-basi.

Jaesuk mengangkat sebelah alisnya, “Buku yang mana?”

“Buku yang bersampul hitam dan ada simbol-simbol aneh di depannya. Sudah usang dan terlihat sudah tua”

Jaesuk mengerutkan dahinya, mencoba mengingat buku apa yang dimaksud yeoja itu.

“Aku sudah bertahun-tahun disini, tapi aku tak pernah menemukan buku seperti itu”

Degg. Heerin membeku di tempatnya berdiri. Lalu apa yang kubaca kemarin?

. . .

10.00_KST

“Kau tidak mau sandwichmu? Sini berikan padaku”

Heerin langsung memukul tangan Hyerim yang telah menjulur untuk mengambil makan siangnya.

Hyerim mengerucutkan bibirnya kesal sampai ia teringat akan sesuatu.

“Eh bagaimana kencanmu dengan Chen oppa? Kau tau tidak, aku dengar ia akan pindah sekolah. Aneh sekali bukan?”

Heerin menyunggingkan senyuman sinis mendengar nama namja itu. Pindah sekolah? Kenapa tidak mati saja hah.

“Hey! Kau melamun lagi” sentak Hyerim membuat yeoja di depannya terkesiap.

Untuk sesaat perhatian mereka berdua teralihkan dengan masuknya dua orang murid yang dua hari ini menjadi pembicaraan. Byun Baekhyun dan Kwon Richan.

“Tumben sekali” gumam Hyerim yang baru kali ini melihat dua murid baru itu mengunjungi kantin.

Heerin hanya diam sambil menyangga kepalanya. Ia berpikir beberapa lama hingga akhirnya memutuskan sesuatu.

Beberapa lama setelah Baekhyun dan Richan duduk di sebuah meja kosong, Heerin beranjak dari kursinya.

“Aku ada urusan sebentar” ucap Heerin berpamitan pada sahabatnya. Ia berjalan menuju meja Richan dan Baekhyun.

“Bolehkah aku duduk disini?” tanya Heerin sopan.

“Tentu saja” jawab Baekhyun ramah sementara Richan hanya diam dan menyandarkan pundaknya.

Satu hal yang dilakukan Heerin setelah duduk adalah memerhatikan keadaan yeoja di depannya.

‘Kenapa tidak ada satupun luka atau lecet? Ia terlihat baik-baik saja’

Richan mengukir sebuah senyuman, “Kau tidak usah   mengkhawatirkanku”

Heerin agak terkesiap mendengar ucapan Richan yang seakan mengerti apa yang ada di pikirannya.

‘Atau jangan-jangan ia memang bisa membaca pikiranku?’

Lagi-lagi yeoja berambut hitam kecoklatan itu tersenyum, sambil melipat kedua tangannya ia berkata, “Kau benar sekali. Aku tau apa maksudmu datang kesini, serta semua pertanyaan yang akan kau ajukan pada kami”

Baekhyun menggelengkan kepalanya mendengar perkataan temannya itu. Ia berusaha menahan tawanya melihat ekspresi bingung Heerin.

“Berhenti mengatakannya, aku akan pergi sekarang” ucapnya kali ini ditujukan pada Baekhyun.

Richan menatap namja itu tajam sebelum akhirnya beranjak dari kursi dan meninggalkan dua orang itu.

Heerin balik melihat Baekhyun, kepalanya seperti berputar karena bingung.

“Apa ia…?”

Baekhyun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Senyuman termanis yang pernah dilihat Heerin.

“Ah kau ingin tau jawaban dari semua pertanyaanmu bukan?” tanya Baekhyun yang dijawab anggukan oleh Heerin.

“Kita bertemu di bukit dekat sekolah nanti sore, bagaimana?”

. . .

 

Chanyeol melepas kedua headset dari telinganya. Seseorang yang berjalan melewati kelasnya membuat namja itu reflek berdiri dari kursinya. Ia hendak berlari keluar pintu sebelum akhirnya kembali ke mejanya, mengambil sebuah kertas yang hampir dilupakannya.

“Hey kau!” teriak namja tinggi itu pada seorang yeoja berambut panjang.

Yeoja itu berbalik, ia melihat dingin ke arah Chanyeol yang berjalan mendekatinya.

“Aku ingin mengajakmu bergabung dengan klub beladiri disini” ujar Chanyeol seraya menunjukkan kertas pamflet yang dipegangnya. Richan– yeoja yang berdiri di depannya hanya mengangkat sebelah alis. Ia hendak membalikkan badannya untuk pergi sebelum tangannya dicegah.

“Aku yakin kau akan menyukainya” tambah namja itu kemudian langsung melepaskan tangan Richan begitu yeoja itu melihat tajam ke arah tangannya.

Richan mendongakkan kepalanya melihat Chanyeol, “Buktikan padaku” ucapnya singkat kemudian tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan ke arah Chanyeol yang berhasil ditepis.

“Baiklah, akan kutunjukkan sedikit”

Richan tidak memberikan kesempatan untuk Chanyeol berdiam terlalu lama. Yeoja itu memberikan beberapa serangan cepat yang cukup membuat namja di hadapannya kagum.

Namun Chanyeol bukanlah seseorang yang mudah dikalahkan, namja itu memiliki kecepatan dan pertahanan yang luar biasa hingga akhirnya ia mampu mengunci kedua tangan Richan dalam waktu beberapa detik saja.

Keduanya sempat saling berpandangan beberapa lama hingga Richan melepaskan cengkeraman Chanyeol.

Yeoja itu berbalik melihat Chanyeol, diambilnya kertas di tangan namja itu sambil berkata, “Kapan aku bisa mulai?”

“Nanti sepulang sekolah” balas Chanyeol seraya mengukir sebuah senyuman.

Richan balas tersenyum kemudian pergi meninggalkan Chanyeol yang sedang berputar girang.

. . . .

 

15.00_KST, Heerin poV_

Kulirik jam tanganku yang masih menunjukkan pukul 3 sore. Apa aku terlalu cepat datang ya?

Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan datang ke tempat ini. Sebaiknya aku pulang dulu dan mengganti seragam sekolahku, kemudian baru kembali lagi ke tempat ini.

Sret.

Seseorang sudah berada di depanku ketika aku membalikkan badan.

“Hyaa!” jeritku spontan. Siapa yang tidak terkejut jika baru beberapa detik lalu kau tidak melihat siapapun, kemudian mendadak seseorang berdiri di depanmu. Untung saja aku tidak punya penyakit jantung.

Namja di depanku ini terkekeh seperti mengejekku, “Mianhae mianhae aku sudah mengagetkanmu”

Aish bisa-bisanya ia tertawa puas begitu.

“Jadi kenapa kau mengajakku kemari hanya untuk menjawab pertanyaanku?” tanyaku tanpa berbasa-basi. Ia memutar bola matanya seperti berpikir dan tiba-tiba saja menghilang. Tidak, ia tidak menghilang. Namja itu bergerak dan berpindah ke sebelah kiriku.

“Kau ingin tau?” tanyanya sembari menaikkan sebelah alis. Sebenarnya aku sudah tau siapa atau lebih tepatnya makhluk apa dia. Mungkin.

“Naiklah” ujarnya tiba-tiba membungkukkan badannya, memberikan isyarat agar aku naik di punggungnya. Aneh. Tapi yang lebih anehnya lagi, aku malah menuruti perintahnya.

Kukalungkan kedua tanganku melingkar di pundaknya dan seketika itu juga aku merasa sedang melayang. Pohon serta benda-benda di sekitarku seperti bayangan kabur karena kecepatan berlari Baekhyun yang luar biasa.

Satu persatu dahan kokoh pohon kami lompati, ia mengayunkan kakinya sempurna hingga kami sampai di dahan sebuah pohon yang cukup tinggi. Tidak ini sangat sangat tinggi.

Kuedarkan mataku melihat hamparan hijau saat namja itu menurunkanku. Indah sekali di atas sini.

“Menyenangkan?” tanyanya seraya mengukir sebuah senyuman. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Ia memandangiku dengan kedua matanya yang entah sejak kapan sudah dihiasi eyeliner. Hal itu membuatku gugup dan bodohnya aku malah mengalihkan wajahku ke bawah.

Aigoo tinggi sekali!

Mendadak kepalaku terasa begitu sakit, aku berusaha menjaga keseimbangan namun kakiku malah terpeleset.

Kurasakan tubuhku melayang jatuh bebas, aku ingin berteriak tapi kepalaku terlalu sakit dan tenggorokanku seperti tercekat. Apa ini akhir hidupku? Kupejamkan kedua mataku. Mungkin jika terpejam bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.

Tapi tiba-tiba sesuatu seperti melingkar memelukku, kedua tangan itu menyangga tubuhku.

Ketika membuka mataku, kulihat wajah serius Baekhyun yang sedang berpijak dari satu batu ke batu lain.

Entahlah ia makhluk apa, vampire atau drakula sekalipun, itu bukan masalah buatku. Aku merasa nyaman berada di dekatnya, di dekat namja ini. Jika saja suatu hari ia menggigit darahku, mungkin aku akan rela. Aku tau ini sedikit gila tapi aku merasa kami memang ditakdirkan untuk terikat satu sama lain.

“Kau ini bodoh atau apa hah?” sentaknya dingin begitu kami sampai di sebuah dataran rendah.

Aku menundukkan kepalaku menyesal, “Mi..Mianhae.. Aku mendadak pusing ketika berada di atas tadi”

Aish Heerin. Kenapa kau benar-benar memalukan.

“Aku tidak bisa diam jika terjadi apa-apa denganmu” ucapnya kemudian mengangkat wajahku tiba-tiba. Warna merah di lensa matanya membuatku agak terkejut, namun ptatapannya yang begitu dalam membuatku melupakan kenyataan itu. Ia mendekatkan wajahnya hingga bibir kami saling bertautan. Ciuman pertamaku dengan seorang drakula. Menakjubkan.

. . . .

 

@ School Gymnasium, Author poV_

Chanyeol mengacungkan jarinya ke arah hoobae yang sedang melihatnya. Namja tinggi itu kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke arah seorang yeoja berambut panjang yang sedang membereskan barang-barangnya. Diliriknya jam yang melingkar di tangan kirinya.

Ah benar, memang sudah waktunya berakhir.

“Oppa, aku ingin bicara denganmu” ujar seorang yeoja yang merupakan juniornya di ekstrakurikuler beladiri.

“Ne ne, nanti saja ya, aku ada urusan” tolak namja itu pada salah satu fansnya.

Chanyeol segera berlari dari tempatnya mengejar seseorang yang  berjalan keluar gedung olahraga.

“Richan.ah!” serunya membuat yeoja yang ia panggil menghentikan langkahnya.

“Bolehkah aku mengantarmu?” tanya Chanyeol sembari menunjukkan senyuman lebarnya.

“Tidak” jawab Richan singkat. Ia hendak kembali berjalan sebelum namja itu berdiri menghalangi di depannya.

“Baiklah jika begitu temani aku makan, aku yang traktir”

Richan memutar bola matanya, ia hendak menolak ajakannya lagi jika saja tidak mengingat jasa Chanyeol yang telah mengembalikan kalung berharga miliknya.

“Baiklah” ucap Richan enggan.

Begitu mendapat lampu hijau, namja itu menggandeng tangan Richan tanpa sadar.

Richan yang berada setengah langkah di belakang Chanyeol bukannya tidak berusaha untuk melepaskan genggaman namja itu. Namun anehnya, tangan Chanyeol terlalu kuat untuk dilepaskannya begitu saja.

“Siapa sebenarnya namja ini? Kenapa ia kuat sekali?” batin Richan bingung.

Chanyeol adalah satu-satunya manusia yang bisa memegangnya begitu kuat seperti sekarang, meskipun genggaman tangan namja itu memang sama sekali tidak menyakiti Richan.

“Bisakah kau melapaskan tanganku?” ujar Richan membuat Chanyeol langsung melepaskan tangannya.

“Mianhae, aku benar-benar tidak sadar” balas namja itu memaksakan sebuah senyuman penyesalan walaupun kenyataannya ia sama sekali tidak menyesal.

. . .

17.00 KST

“Apakah hal itu harus kulakukan sekarang?” tanya Suho pada Siwon yang duduk di depannya.

Siwon hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Suho sementara Victoria hanya bisa mengelus pundak suaminya.

Ia tau jika hal itu pasti berat untuk Suho dan untuk dirinya sendiri. Tapi mereka tidak mempunyai pilihan lain. Siwon benar. Cepat atau lambat Heerin harus mengetahui hal yang selama belasan tahun telah disembunyikan darinya itu.

“Kapan kita harus memberitaunya?” tanya wanita cantik itu pada Siwon.

“Secepatnya..”

Suho menganggukkan kepalanya akhirnya menyetujui permintaan Siwon, “Yah lebih cepat lebih baik”

Sesuatu yang besar telah menunggu mereka, lebih cepat Heerin mengetahui tentang kebenaran identitasnya, hal itu akan semakin baik untuk semuanya.

“Appa..”

Victoria menatap Suho dalam, sedangkan pria tampan itu hanya dapat menganggukkan kepala, mengisyaratkan jika mereka mungkin akan segera berpisah dengan anak yang selama ini dirawatnya

. . . .

“Kau mm ti..dak makan?” tanya Chanyeol tidak jelas karena mulutnya yang masih dipenuhi makanan.

Namja itu bingung melihat Richan yang sama sekali tidak mengutik sandwich di depannya, bahkan memegang garpu saja tidak apalagi untuk memakannya.

“Tidak lapar” balas Richan singkat.

“Tidak baik diet terlalu ketat, apalagi kau kurus begitu”

Chanyeol mengiris daging di piringnya kemudian menusuknya dengan garpu.

“Kau mau disuapi? Aaa” ujar namja itu seolah sedang berusaha menyuapi anak kecil.

Richan melihat Chanyeol tajam, ia kemudian menyahut garpu di tangan Chanyeol dan memakannya sendiri.

Dikunyahnya daging steak itu begitu pelan membuat Chanyeol heran.

“Wae? Tidak enak?” tanya Chanyeol tanpa ada jawaban keluar dari mulut Richan.

Aish. Desahan panjang keluar dari mulut yeoja itu ketika ia memerhatikan keadaan di sekeliling meja mereka.

“Kau tau berapa banyak yeoja yang melihat ke arahku saat kau tadi menyodorkan garpumu?”

Chanyeol langsung mengedarkan pandangannya ke arah semua murid perempuan yang duduk di sekitar mejanya. Richan benar, ada beberapa yeoja yang sempat tertangkap sedang melihat ke arah mereka.

“Tenanglah, mungkin mereka memang suka memperhatikan orang lain”

Richan menyunggingkan sebuah smirk mendengar ucapan cuek Chanyeol.

“Kau tau? Yeoja yang duduk di belakang kita, ia sudah menyukaimu semenjak kelas satu” ujar Richan tanpa menunjuk ke arah orang yang ia bicarakan.

“Yeoja yang duduk di serong kanan dan kirimu itu sudah mengagumimu sejak masuk ke klub beladiri.. dan satu, dua, tiga adik kelas yang duduk di meja paling pojok, mereka menjadikanmu idola beberapa bulan ini”

Chanyeol hanya bisa membuka mulutnya bingung mendengar setiap kata yang dilontarkan Richan.

“Bagaimana kau bisa tau? Kau bisa membaca pikiran ya?” tanya namja itu asal.

Richan hanya menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum, yeoja itu kemudian menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat kedua tangan.

“Hampir semua yeoja disini menginginkanku untuk segera menyingkir darimu”

Chanyeol menggelengkan kepalanya kemudian balik bertanya pada Richan, “Kalau begitu kau bisa membaca pikiranku sekarang?”

Richan mengerutkan dahinya, ia memajukan badannya yang semula bersandar di kursi. Kedua mata kuning keemasannya terus menatap wajah namja di depannya.

“Aku tidak mau tau” ucap yeoja itu kembali bersikap dingin. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain sampai Chanyeol mengatakan sesuatu yang membuatnya cukup terkejut.

“Aku sedang berpikir bagaimana cara menyingkirkanmu dari otakku”

“Apa maksudmu?” tanya Richan bukannya tak mengerti.

Chanyeol tersenyum mendengar pertanyaan Richan. Ia malah balik bertanya, “Kau tau siapa yang ada di pikiranku dua hari ini?”

Richan tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Yeoja itu hanya melipat kedua tangannya, memandangi Chanyeol dingin.

Lagi-lagi sebuah senyuman terukir di wajah tampannya, ia  membuka mulutnya kemudian berkata, “Kau”

***

 

Beijing, Author poV_

Luhan menatap beda berbentuk bola bening yang terletak di ujung ruangan. Ia memfokuskan konsentrasinya  hingga akhirnya benda itu bergerak cepat menujunya.

Dipandanginya bola kecil di depannya itu tanpa sedikitpun menyentuh permukaannya. Bola kristal bening itu tampak ingin menunjukkan suatu gambaran, membuat Luhan perlahan mengukir sebuah senyuman. Namun gambaran itu tak lebih dari sebuah garis-garis tak jelas. Sekali lagi dan untuk yang kesekian kalinya, namja itu gagal menemukan orang yang sudah terpisah belasan tahun darinya. Sang adik yang sekarang entah berada disana.

“Bagaimana hyung, kau sudah menemukannya?” tanya Sehun yang entah sudah sejak kapan berada di belakang Luhan.

Luhan menggelengkan kepalanya putus asa menjawab pertanyaan temannya itu. Sehun hanya bisa menatap Luhan kasihan, ia menepuk pundak

Luhan mencoba memberikan semangat.

“Kai pasti akan membunuhnya jika tau keberadaannya, dan sampai sekarang aku masih belum menemukannya..” gumam Luhan menunjukkan tatapan kosong.

“Dan ia pasti akan membunuh kita juga” tambah Sehun duduk sambil menyangga kepalanya. Yah, Ia akan membunuh semua yang tidak berpihak padanya, batin Sehun menunjukkan mimik muka serius.

Luhan mengalihkan wajahnya, menatap ke arah gelapnya langit malam. Meskipun belum berhasil menemukan satu pentunjukpun, namja itu sangat yakin jika ia sudah berada di dekat adik perempuannya.

Yah, firasatnya begitu kuat.

***

 

19.00 KST, Heerin poV_

Kupejamkan mataku, merasakan hembusan angin yang menerpa seluruh tubuhku. Meskipun udara dingin  ini cukup banyak membuatku bergidik ditambah suhu badan Baekhyun yang seperti es, aku merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah kebahagiaan yang indah sekaligus aneh.

Kubuka kedua mataku melihat ke sekeliling bukit yang sudah gelap, hanya ada sinar bulan yang menembus pohon-pohon besar. Aigoo sudah malam?

Rasanya waktu berjalan cepat sekali dan aku masih memakai seragam sekolah. Entahlah apa yang akan dikatakan Suho appa jika aku pulang nanti. Hash.

“Kita akan sampai di depan rumahmu dalam waktu lima detik” ujar Baekhyun sangat jelas. Aku menganggukkan kepalaku sambil berhitung.

1..2..3..4..5..

Wush! Tubuhku melayang. Bukan untuk pertama kalinya, namun karena lompatan Baekhyun yang cukup jauh membuat tubuhku bergesekan dengan udara lebih kuat.

“Ups, sepertinya ada yang sudah menunggu kita”

Aku langsung menegakkan kepalaku yang semula bersandar di pundaknya. Mataku langsung membelalak melihat Suho appa dan Victor umma yang sudah berdiri di depan rumah seperti sedang menunggu kedatanganku. Mati kau Heerin.

Spontan Baekhyun langsung menurunkan tubuhku.

“Aku.. Aku bisa jelaskan” sergahku sebelum appa sempat membuka mulutnya. Perhatianku agak teralihkan ke arah dua orang yang berdiri di belakang dan umma. Sepertinya aku sangat mengenal wajah-wajah itu.

Siwon ahjussi dan Richan. Mereka berdua memakai pakaian yang menurutku cukup aneh. Keduanya sama-sama  memakai jubah bewarna hitam. Hanya berbeda di warna kain dan permata yang menjadi hiasan di jubah mereka.

Jubah gotic itu menutupi pakaian mereka yang jauh lebih mewah. Seperti apa aku harus menjelaskannya? Entahlah yang jelas mereka seperti seorang puteri dan raja– vampire.

“Ia benar-benar imprintmu? Sempurna” ujar Richan  sudah berada di sebelah Baekhyun yang semula berdiri bersandar di pagar. Ia melipat kedua tangannya, tetap menunjukkan wajah dingin yang membalut keanggunannya.

Imprint? Apa maksudnya?

“Appa sebenarnya ada apa ini?” tanyaku bingung kenapa appa dan ummaku itu bersikap biasa saja, seolah sudah mengerti apa yang ada di sekitar mereka.

Suho appa berjalan mendekatiku, “Kurasa kau memang sudah harus tau tentang hal ini sayang”

Tau? Hal ini? Apa?

Richan melihatiku sambil menyunggingkan senyumannya, “Tentang maksud kedatangan kami kemari, kenapa aku dan Baekhyun sangat melindungimu, kenapa Baekhyun meng-imprint-mu, tentang kenapa kau sama sekali tidak bisa mengingat masa kecilmu, tentang siapa kami dan kau sebenarnya..”

 

ᴥᴥᴥ To Be Continue ᴥᴥᴥ

 

Gimana? Makin geje ya ceritanya?

Maklum author lagi stress haha /plak/

Sorry for typo dan segala kekurangan di cerita ini ~

Thanks for reading ~

Really appreciate your comment ^^

Mau tau kelanjutannya? Mau tau?

See you at next chapter kkk


43 pemikiran pada “The Exotics Life of Immortal (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s