Cooking? Cooking? (Chapter 2)

Author: @Anggiilicious

Genre: Romance

Cast: Park Yoonhae

EXO-K Do Kyungsoo

EXO-M Kris

And other cast..

Ini chapter 2 nya, masih dengan ff saya yang jelek. Ga papa fanficnya jelek, yang penting Kris ganteng .____. enjoooooooooooy!!

_______________________________________

Yoonhae POV

“Ini” ujarku pada Kris sambil menaruh sepotong tiramisu yang kubuat tadi bersama Kyungsoo di mejanya. Saat ini kami sedang berada di apartemen Kris. Kris sedang sibuk dengan papernya yang ternyata belum selesai. Aku ingin menemaninya disini. Ia menatapku.

“Apa ini?” ujarnya sambil meyingkirkan papernya karena takut terkena krim. Aku terduduk di sebelahnya.

“Ini tiramisu. Aku membuatnya tadi di tempat kursus” ujarku sambil menyodorkan garpu untuknya. Kris tersenyum dan mengambil garpu itu dari tanganku. Ia mulai memakan sedikit tiramisu yang kusajikan. Aku terus melihatnya dan menunggu reaksi darinya. Ia memejamkan matanya sejenak, dan tak lama kemudian sebuah senyum terkembang di bibirnya. Senyum yang sangat kusukai.

“Kau suka?” tanyaku sambil menggenggam lengannya. Ia membuka matanya dan tersenyum padaku. Ia pun mengangguk dan kembali memakan tiramisu itu. Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa membuat masakan yang disukai Kris. Akhirnya aku bisa membuat makanan lain selain batu bata goreng!

“Ini enak sekali. Kau yang buat sendiri atau dibantu chef?” ujarnya setelah menghabiskan tiramisu itu sambil mengusap ujung bibirnya. Hal yang sering ia lakukan.

“Umm dibantu chef sih, tapi aku janji aku akan buat sendiri!” ujarku sambil tersenyum lebar padanya. Ia pun tersenyum dan mengacak rambutku.

“Aku akan melanjutkan paperku. Kau nonton TV saja ya” ujar Kris sambil menunjuk TV besar yang ada di belakangnya. Aku mengangguk mengiyakan.

“Nanti kalau kau butuh apapun, bilang padaku ya” ujarku sambil bangun dari dudukku. Kris mengangguk dan tersenyum. Aku pun beranjak ke sofa di belakang Kris dan menyalakan TV dengan volume kecil agar tak mengganggunya. Kulihat punggung Kris yang bidang. Aku sangat senang melihatnya menikmati masakanku. Tiba-tiba aku teringat Kyungsoo. Aku membuat tiramisu ini bersama Kyungsoo dan mungkin jika tak ada dia tidak akan jadi tiramisu.

“Yeppeo yeoja seperti noona tidak mungkin tidak punya pacar kan?”

Aku teringat perkataan Kyungsoo. Mengapa ia suka sekali mengatakan hal yang membuatku malu. Jujur aku senang mendengarnya, rasanya sama persis saat Kris mengatakannya pertama kali untukku. Tapi mengapa nada bicaranya tadi agak berbeda ya? Tidak seperti Kyungsoo biasanya yang ceria. Ah, mungkin dia kelelahan. Aku pun memutuskan untuk lanjut menonton TV dan tanpa sadar aku tertidur saking lelahnya.

J

Aku mengerjapkan mataku. Aku baru saja terbangun dan saat kulihat jam ternyata sudah jam 2 malam. Kulihat ke sekelilingku, ini bukan kamarku. Saat kuamati, ternyata aku tertidur di kamar Kris. Aku baru teringat kalau aku tidak sengaja tertidur tadi di sofa. Pasti Kris yang memindahkanku kesini dan menyelimutiku. Tetapi aku tak melihat sosoknya sekarang. Kulangkahkan kakiku ke ruang tamu dan kudapati Kris sedang tertidur di sofa dengan beberapa lembar kertas diatas dadanya. Aku kembali ke kamar untuk mengambilkan selimut.

Aku berlutut di samping sofa tempat Kris tertidur. Kuamati wajahnya yang terlihat lelah. Aku paling suka matanya. Matanya sangat indah. Kupindahkan lembar-lembar kertas yang ada di dada Kris ke meja kecil sebelah sofa. Kuselimuti tubuhnya dengan selimut yang aku bawa. Aku meraba rambut cokelatnya yang halus. Kami sudah 3 tahun berpacaran, dan ia masih sama seperti pertama kali kami bertemu. Aku pun mendekatkan wajahku dan kusentuhkan bibirku di tulang pipinya. Kris sangat suka dicium di tulang pipinya. Kurasakan bulu mata panjangnya menyentuh hidungku. Aku pun beranjak kembali ke kamar agar tak mengganggunya.

“Tak mau mengatakan apapun padaku?” ujar Kris yang sedikit mengagetkanku. Aku berbalik dan mendapatinya sedang tersenyum kearahku sambil berusaha untuk bangun.

“Berpura-pura tidur ternyata?” ujarku sambil kembali menghampirinya dan duduk di ujung sofa di dekat kakinya.

“Aku terbangun karena ada seseorang yang menciumku” ujar Kris sambil menyentuh tulang pipinya yang kucium tadi.

“Maaf membangunkanmu” ujarku sambil menyentuh kakinya yang terbalut selimut.

“Tidak apa apa, aku suka. Aku merasa seperti sleeping beauty” ujarnya sambil terkekeh yang membuatku tertawa kecil. Ia menatapku sambil tersenyum. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya kearahku. Aku bingung tidak mengerti maksudnya.

“Kemarilah” ujarnya pelan. Aku menyentuh tangannya dan segera saja ia menggenggam tanganku dan menarikku ke pelukannya. Aku merasakan lengan panjangnya mendekapku dan itu memberikan rasa aman yang sangat. Wangi cokelat yang menguar dari tubuhnya membuatku nyaman.

”Waeyo Kris-ah?” tanyaku dalam pelukannya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Aku merasakan ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Biarkan seperti ini sebentar lagi” ujarnya pelan. Aku tak mengerti ada apa dengannya. Tapi biarlah seperti ini. Aku sangat nyaman berada di pelukannya. Rasanya seperti ada yang menjagaku. Tanpa sadar kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku ingin waktu terhenti sebentar saja.

J

Kris POV

“Kemarilah” ujarku pelan. Dia menyambut tanganku dan segera kutarik tubuhnya dalam pelukanku. Entah mengapa aku ingin memeluknya. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya. Dia sering termenung yang aku sendiri tak tahu apa yang ada di pikirannya. Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang mengambil dia. Aku tak ingin ada orang lain yang ada di hatinya selain aku.

“Waeyo, Kris-ah?” tanyanya dalam pelukanku. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak ada apa-apa. Aku hanya takut kehilanganmu. Perasaanku mengatakan ada sesuatu Yoonhae-ah.

“Biarkan seperti ini sebentar lagi” ujarku pelan. Lalu kurasakan ada sepasang tangan kecil yang melingkari pinggangku. Aku tersenyum. Aku menganggap ini adalah janji. Janji kalau kita akan terus bersama.

“Ayo kembali ke kamar, ini sudah larut. Biarkan aku tidur disini menjagamu” ujarku sambil melepas pelukanku. Ia tersenyum dan mengangguk.

“Selamat malam, Kris-ah” ujarnya sambil menggenggam tanganku dan berjalan menuju kamarku. Aku kembali menatap punggung Yoonhae sampai sosoknya menghilang dibalik pintu kamarku dan termenung sejenak. Aku harap kau dapat memegang janjimu Yoonhae-ah..

J

Yoonhae POV

Saat ini sedang musim dingin. Aku sudah berada di Do’s Cooking Course untuk memenuhi jadwalku hari ini. Saat ini sudah banyak peserta kursus yang datang. Aku segera melepas mantelku dan bergabung bersama yang lainnya di kelas memasak. Tak lama kemudian kulihat Kyungsoo memasuki ruang kelas memasak.

“Annyeonghaseo” ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya. Kyungsoo terlihat tampan seperti biasanya. Ia memakai kaos putih polos dan celana jeans biru tua. Sepasang sepatu cokelat setinggi betis menutupi kakinya dan tubuhnya terbalut jaket tebal yang berbulu di bagian lehernya berwarna putih. Ia melepas syal yang melilit lehernya dan segera memakai apronnya.

“Karena sekarang musim dingin, kita akan belajar memasak sesuatu yang hangat. Entah mengapa aku ingin memasak tteokbokki hari ini” ujar Kyungsoo sambil mengecek bahan-bahan yang ada di mejanya. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Senyumnya. Kemana senyum indahnya? Aku tidak melihatnya. Biasanya ia selalu menyapa kami dengan senyum. Tapi tidak dengan hari ini.

“Ini yang pertama kita masak kuah kaldunya dulu” ujarnya sambil mencontohkan caranya memasak kaldu. Tetapi aku tidak konsentrasi. Aku merasa ada yang aneh dengan Kyungsoo. Ia tidak tersenyum sejak masuk ke kelas ini. Gerak-geriknya pun tampak tidak semangat.

“Bawang putihnya di geprek dulu, setelah itu dicincang” ujarnya sambil mengambil beberapa buah bawang putih dan mencingcangnya kecil-kecil. Caranya sama persis seperti yang dia ajarkan padaku saat pertemuan pertama kami.

“Setelah kuahnya mengental masukkan fish cakenya. Karena dia sudah matang jadi masukkan belakangan saja” ujar Kyungsoo lagi sambil memasukkan semangkuk fish cake ke dalam pan. Karena aku sibuk melamunkan apa yang terjadi pada Kyungsoo aku jadi tidak konsentrasi pada apa yang diajarkan Kyungsoo. Bahkan red pepper paste di tanganku belum masuk ke pan. Aku menoleh pada yeoja disebelahku.

“Harus diapakan red pepper paste ini?” tanyaku padanya yang sibuk mengaduk tteokbokki yang hampir matang. Ia menoleh padaku. Dan tiba-tiba kudengar Kyungsoo berdehem.

“Kalau tidak memperhatikan dari awal, lanjutkan saja sesuai insting” ujarnya sambil terus mengaduk tteokbokkinya. Mataku membulat. Apa katanya? Insting? Dia pikir aku binatang? Bahkan sekarang dia menyindirku. Ada apa dengannya? Mengapa tiba-tiba seperti ini? Apa dia marah padaku? Tapi marah karena apa?

“Sudah selesai. Dicicipi saja sendiri, kalau rasanya enak berarti berhasil” ujarnya sambil meletakkan tteokbokkinya meja. Ia pun melepas apronnya dan melilitkan syal ke lehernya.

“Kurasa kelas hari ini sampai sini saja. Kamsahamnida” ujar Kyungsoo sambil membungkukkan tubuhnya yang dibalas oleh semua peserta kursus. Ia pun menyambar tas dan jaketnya dan segera keluar dari kelas. Aku harus berbicara dengannya. Ada apa ini? Aku sungguh tak mengerti. Aku segera beberes dan secepat mungkin kususul Kyungsoo menuruni tangga. Tetapi nihil, sosoknya sudah menghilang entah kemana.

J

Kyungsoo POV

Rasanya tidak mood sekali hari ini. Apalagi harus bertemu Yoonhae noona. Entah mengapa aku merasa kesal dan marah karena ia sudah mempunyai namjachingu. Sebenarnya aku pun tak mengerti mengapa aku harus marah. Yoonhae noona bukan siapa-siapaku dan aku tak pantas untuk marah kepadanya. Tapi hatiku ini rasanya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Sekalinya kesal, rusaklah seharian penuh ini.

Selesai kelas memasak tadi aku langsung melarikan diri. Aku tak ingin melihat Yoonhae noona lebih lama lagi. Aku sedang kesal saat ini. Oh yeah, aku memang kekanakan. Terserah apa namanya. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Aku tak ingin bertemu banyak orang. Itu hanya membuat emosiku semakin tak terkendali.

Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Rasanya suntuk dan kacau sekali. Ternyata begini ya rasanya patah hati? Seperti ini yang rasanya cemburu? Sangat tidak menyenangkan. Tiba-tiba kurasakan handphoneku bergetar. Ada pesan dari nomor yang tak kukenal.

Kyungsoo-ah, aku Yoonhae. Aku mendapatkan nomormu dari staff. Ada apa denganmu hari ini? Cerita saja kalau kau ada masalah J

Yoonhae noona? Untuk apa dia bertanya seperti ini? Tidak sadarkah dia kalau justru dia masalahnya. Aku meletakkan handphoneku kasar ke meja. Aku sama sekali tak berniat membalasnya. Biarkan saja dia menyadarinya sendiri.

J

Yoonhae POV

Sudah 3 hari ini Kyungsoo menjauhiku. Ada apa? Jujur aku rindu senyumnya yang ceria. Aku rindu ketika dia berteriak ‘Yoonhae noona!!’ aku rindu matanya yang besar. Aku merasa sangat tidak nyaman Kyungsoo menjauhiku seperti ini. Aku merasa tidak ada yang salah, tetapi Kyungsoo menjauhiku seperti marah padaku. Aku yakin dia marah padaku. Tapi karena apa?

“Yoonhae-ah, wae?” ujar Kris yang mengagetkanku. Ya Tuhan, aku lupa kalau saat ini aku sedang bersama Kris. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.

“Anni Kris-ah” ujarku sambil memain-mainkan jari-jari tangan Kris.

“Jinja? Kalau ada masalah bilang saja” ujar Kris sambil menatapku. Aku tersenyum padanya untuk menenangkannya.

“Iya, sejak kapan aku tak cerita padamu kalau ada masalah?” ujarku sambil menyentuh punggung tangannya. Kris tersenyum dan mengangguk. Ini bukan suatu masalah yang berat, Kris-ah. Kau tak perlu tahu. Ini hanya masalah kecil..

J

Kris POV

Melamun. Lagi-lagi dia melamun. Gerak-geriknya terlihat gelisah dan sedang memikirkan sesuatu. Ada apa denganmu Yoonhae-ah? Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini? Jangan membuatku khawatir..

“Yoonhae-ah, wae?” ujarku padanya. Ia sedikit tersentak kaget mendengarku. Sudah kuduga, dia melamun terlalu jauh.

“Anni Kris-ah” ujarnya sambil menyentuh jari-jari tanganku. Ia senang sekali memainkan jari tanganku seperti ini. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari sentuhannya. Aku merasakan ada kekhawatiran yang ia rasakan.

“Jinja? Kalau ada masalah bilang saja” ujarku sambil menatap dalam matanya mencari suatu. Ia tersenyum dan kelihatan jelas kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

“Iya, sejak kapan aku tak cerita padamu kalau ada masalah?” ujarnya sambil tersenyum. Aku sangat khawatir padanya saat ini. Aku tak ingin terjadi apapun pada dia dan hubungan kami. Ia lanjut memakan eskrim yang tersaji dihadapannya dengan perlahan. Kumohon jujur, Yoonhae-ah. Aku sudah mengenalmu bukan sehari-dua hari saja. Dan beberapa hari terakhir setelah kau ikut cooking course itu kau terlihat sangat berbeda, dan itu membuatku sangat khawatir.

J

Yoonhae POV

Hari ini ada kelas memasak lagi. Ini sudah satu minggu Kyungsoo mendiamkan aku. Semua pesan yang kukirimkan tak pernah ada yang dibalas. Aku harap dia mau bicara denganku hari ini. Kami semua sudah berkumpul di kelas masak, hanya Kyungsoo yang belum datang. Tak lama kemudian tampaklah sosoknya. Ia mengenakan jaket tebal berwarna cokelat, celana panjang hitam polos dan sepatu hitam yang tingginya sampai ke betis. Ada beberapa butir salju yang tersangkut di rambutnya.

“Annyeonghaseo” ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya. Ia cepat-cepat melepas jaketnya dan mengenakan apron. Wajahnya tak jauh berbeda dengan satu minggu yang lalu. Tanpa senyum. Matanya terlihat lesu dan tidak bersemangat. Ada apa Kyungsoo-ah?

“Umm kemarin banyak yang minta diajari masak lasagna, jadi kita masak lasagna saja hari ini” ujarnya tanpa senyum. Aku menatapnya nanar. Dia bukan Kyungsoo yang aku kenal. Dia mulai mengecek bahan-bahan yang ada di mejanya.

“Ini ada lasagna, dan keju mozzarella. Kita pakai saus béchamel, jadi kita butuh susu dan krim kental” ujarnya sambil menjelaskan bahan apa saja yang akan digunakan. Aku tidak mendengarnya. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya yang aneh. Aku sungguh ingin menggenggam tangannya saat ini, dan bertanya ada apa dengannya.

PRANGG!

Tiba-tiba aku tersentak. Kyungsoo tanpa sengaja menjatuhkan wadah besi ke lantai. Aku terkejut melihatnya. Ia menatap wadah yang ia jatuhkan sambil memegangi kepalanya.

“Mianhamnida” ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya. Aku menatapnya sedih. Dia seperti menahan masalah yang sangat mengganggunya. Tapi apa? Apa aku penyebabnya?

“Yang pertama kita cincang bawang bombay dan bawang putihnya” ujarnya sambil mengambil bawang bombay dan memotongnya perlahan. Dia tampak sangat kacau hari ini. Tiba-tiba entah apa yang terjadi, cepat sekali, Kyungsoo menjatuhkan pisaunya dan memegangi tangannya yang mengeluarkan banyak darah. Aku panik melihatnya dan sekeika itu pula aku menghampirinya.

“Omo, apa yang kau lakukan Kyungsoo-ah! Ayo ikut aku!” ujarku sambil menarik tangannya untuk kuberikan pertolongan pertama. Ia menahan tangan yang kutarik tanda keengganannya.

“Kumohon kali ini saja!” ujarku sambil terus berusaha menariknya. Ia pun mengalah dan ikut denganku ke ruang kesehatan.

“Kyungsoo-ah, kau ini kenapa? Kau kacau sekali hari ini” ujarku sambil mendudukkan ia di kursi dan membersihkan lukanya. Ia meringis menahan sakit. Aku terus membersihkan lukanya. Aku menatap matanya yang samar, aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya.

“Kyungsoo-ah ada apa? Kenapa kau mendiamkanku? Kau marah padaku?” ujarku sambil membalut lukanya. Ia hanya diam, mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan ini. Aku menggenggam tangannya seakan memaksanya untuk bicara.

“Jangan sentuh aku, itu hanya akan membuatku lemah” ujarnya pelan, nyaris tak terdengar. Aku tercengang, apa yang anak ini bicarakan? Ia menundukkan kepalanya, ia tak mau melihatku.

“Ada apa Kyungsoo-ah? Kalau kau marah padaku lampiaskan sekarang” ujarku berusaha membujuknya untuk bicara. Tak lama kudengar ia terisak pelan. Ia menangis. Aku terkejut melihatnya seperti ini.

“Kyungsoo-ah! Apa kau sakit? Apanya yang sakit?” ujarku sambil menggenggam tangannya. Ini baru pertama kalinya aku benar-benar emlihat seorang namja menangis di depan mataku.

“Aku mencintaimu noona. Aku mencintaimu” ujarnya sambil terus terisak. Aku mengernyitkan dahiku. Ini sudah benar-benar gila. Seorang namja dihadapanku menangis sambil mengatakan ia mencintaiku.

“Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku harus mencintai noona yang ternyata mencintai orang lain. Aku baru pertama kali menyukai seorang yeoja, dan itu noona. Tetapi noona hanya menganggap aku anak kecil ternyata. Aku baru tahu, begini rasanya sakit hati. Begini rasanya cemburu. Aku tak tahu kalau rasanya seburuk ini. Noona jangan menyentuhku, itu hanya akan membuatku semakin lemah” ujarnya sambil terus terisak. Kepalaku kosong, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menatapnya nanar, ternyata selama ini akulah yang membuatnya seperti ini. Dia menjadi sekacau ini gara-gara aku. Tiba-tiba ia keluar dan berjalan dengan cepat. Kususul ia keluar dan ia berjalan ditengah salju tanpa berbalik lagi.

J

Kyungsoo POV

Tak kusangka aku mengatakannya pada Yoonhae noona. Menangis pula. Aku benar-benar tidak tahan. Rasanya sakit dan kesal. Kulangkahkan kakiku di tengah hujan salju. Butiran-butiran salju jatuh di kepalaku. Rasanya dingin, aku hanya memakai kaos berlengan pendek. Jaketku masih di kelas memasak. Kupeluk tanganku sendiri dan aku terus melangkah. Tanpa kusadari kakiku melangkah ke taman kota. Tempat yang sering aku kunjungi bersama ayahku. Aku duduk di salah satu  bangku yang berwarna putih karena tertutup salju. Aku duduk disitu meruntuki kebodohanku membeberkan semuanya pada Yoonhae noona.

Kutatap jari telunjukku yang terbalut perban hasil karya Yoonhae noona. Aku mencintainya, tapi aku juga tak mengerti mengapa aku jadi egois begini. Yoonhae noona pasti sudah lama berpacaran dengan namja itu. Aku tenggelam dalam pikiranku tentang Yoonhae noona. Aku tak tahu sudah berapa lama aku disini. Tanganku sudah membeku dan rasanya sangat dingin.

“Sudah kuduga kau pasti disini” kudengar suara yang sangat kukenal. Kutengadahkan kepalaku dan kudapati Yoonhae noona berdiri di hadapanku. Ia terlihat sangat cantik. Ia mengenakan coat yang berbulu di bagian lehernya berwarna biru tua, celana panjang berwarna hitam polos dan sepatu boots beludru berwarna cokelat tua. Di lengannya tersampir jaketku dan kedua tangannya membawa dua gelas minuman yang mengepul.

“Kau tidak boleh dingin-dinginan seperti ini. Nanti sakit” ujarnya sambil memakaikan jaketku di bahuku. Aku pun memakai jaket itu dengan benar karena memang sangat dingin rasanya. Yoonhae noona menyodorkan segelas minuman yang ternyata cokelat panas kepadaku. Aku menerimanya dan kami menikmati cokelat masing-masing. Ada keheningan antara kami. Kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.

“Jangan marah padaku lagi” ujar Yoonhae noona memecah kesunyian diantara kami. Aku menyeruput cokelatku pelan. Rasanya aku pun tak ingin marah padanya. Itu hanya akan membuatku semakin kesal ketika melihatnya.

“Aku rindu bercanda denganmu noona” ujarku jujur. Aku ingin dia tahu kalau aku menyukai saat-saat bercanda dengannya. Ia menoleh padaku dan tersenyum. Senyumnya sangat cantik. Wajahnya memerah karena dingin. Butiran salju yang jatuh di kepalanya membuat dia seperti snow white. Hehehe.

“Maaf ya, tadi aku marah-marah” ujarku sambil menangkupkan tanganku pada gelas cokelatku yang hangat. Aku sebenarnya tidak mau marah-marah, apalagi memarahi noonaku yang cantik ini. Tapi entah kenapa semuanya keluar begitu saja tadi.

“Gwenchana, sudah agak baikan sekarang?” ujar Yoonhae noona sambil mengubah posisi duduknya ke arahku. Aku mengangguk pelan dan kembali menyeruput cokelatku. Yoonhae noona tersenyum.

“Kyungsoo-ah jangan marah-marah terus! Nanti tidak cute lagi” ujar Yoonhae noona sambil mencubit pipiku yang membuatku tertawa kecil. Aku merindukan senyumnya yang tidak kulihat seminggu ini. Sekarang rasanya sangat baik bisa bercanda seperti ini dengan Yoonhae noona lagi. Yang aku tahu Yoonhae noona juga suka bercanda denganku. Yang aku tidak tahu, ternyata ada seseorang yang melihat kami sejak tadi.

J

Kris POV

Malam ini Yoonhae berada di apartemenku. Ia bilang ingin menemaniku. Dan saat ini ia tertidur disebelahku. Kepalanya bersandar ke bahuku. Kugenggam tangannya yang kecil. Sore ini kulihat dia bersama seorang namja di taman kota. Do Kyungsoo, chefnya di cooking course. Pantas saja kau agak berubah akhir-akhir ini Yoonhae-ah. Bahkan kau tidak bilang kau pergi ke taman kota sore ini. Apa karena namja itu? Kau menyukainya?

Aku melihatmu mencubit pipinya. Aku melihatmu tersenyum sangat cantik kepadanya. Senyum itu yang selalu kau berikan kepadaku. Kenapa kau berikan pada orang lain? Aku menatap wajah Yoonhae. Ia selalu cantik saat tertidur. Kuangkat tubuh ringannya dan kurebahkan di tempat tidurku. Aku pun tak lupa untuk menyelimutinya. Aku terduduk di sampingnya dan kugenggam tangannya.

“Jebal Yoonhae-ah. Jebal..” ujarku pelan nyaris tak terdengar.

J

Yoonhae POV

“Nanti aku jemput?” ujar Kris sesampainya kami di Do’s Cooking Course. Aku mengangguk pelan.

“Nanti kukabari” ujarku sambil menyentuh bahu Kris dan keluar dari mobil Kris. Aku menunggu mobil Kris pergi sambil melambaikan tanganku. Segera kumasuki gedung Do’s Cooking Course dan kulihat Kyungsoo sudah datang lebih dulu. Ia terduduk di sofa sambil mengemut permen lollipop kesukaannya.

“Noona annyeong!” sapanya ceria. Akhirnya aku mendapat sapaan seperti ini lagi. Aku tersenyum dan menghampirinya. Aku menghempaskan tubuhku ke sofa di sebelahnya.

“Noona, jalan-jalan yuk?” ujarnya sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku. Wangi manis tubuhnya langsung meyeruak ke dalam indera penciumanku.

“Kemana? Kan ada kursus” ujarku sambil melihatnya. Kyungsoo hanya nyengir. Matanya yang besar menghilang ketika tersenyum.

“Aku sudah bilang ke staff noona untuk meliburkan dulu kursus hari ini. Aku ingin berjalan-jalan dengan noona”’ ujarnya sambil mengemut lolipopnya lucu. Aku menatapnya sinis sedangkan ia hanya tersenyum lebar.

“Seenak perutmu sendiri” ujarku sinis yang dibalas tawa oleh Kyungsoo.

“Ini cooking course milik keluargaku, jadi ya seenak perutku juga. Kajja noona!” ujarku sambil mengajakku keluar. Aku mengikuti Kyungsoo kemanapun ia pergi. Kami pergi berjalan-jalan di sekitar Myeongdong, kami membeli eskrim dan tertawa bersama. Kami juga membeli makanan khas musim dingin bersama.

“Noona! Kajja!” ujar Kyungsoo sambil menggenggam tanganku. Jantungku rasanya berdegup kencang tak karuan ketika Kyungsoo melakukannya. Ku tatap wajah tersenyumnya, dan tiba-tiba detak jantungku terasa makin cepat. Walaupun ia lebih muda dariku, tetapi tubuhnya bertumbuh dengan baik. Tangannya besar, cukup hangat untuk digenggam saat musim dingin seperti ini.

“Noona, aku punya kejutan untukmu. Tutup matamu, jangan curang” ujarnya sambil tersenyum jahil. Aku memejamkan mataku dan kurasakan tangan besar Kyungsoo menuntunku pelan ke tempat yang aku pun tak tahu dimana.

“Noona boleh buka mata” ujarnya pelan disampingku. Kubuka mataku perlahan dan aku tercengang dengan apa yang aku lihat. Kebun bunga yang sangat indah. Berwarna-warni dan banyak bunga lily yang kusuka. Ditambah dengan butiran salju yang jatuh membuat kebun bunga ini terlihat semakin cantik.

“Kyungsoo-ah, ini cantik sekali” ujarku sambil menyentuh bibirku. Rasanya aku ingin menangis saking cantiknya. Kyungsoo tersenyum.

“Ini kebun bunga kesukaan ibuku. Cantik kan?” ujarnya sambil tersenyum senang. Aku pun tersenyum dan mengangguk, kebun bunga ini memang sangat cantik.

“Kebun bunga ini cantik, tapi tidak secantik noona” ujarnya sambil menatap mataku. Wajahnya terlihat berkarisma. Aku terdiam untuk sejenak. Jantungku berdebar-debar saat ini. Tangan Kyungsoo menggenggam tangan kiriku. Aku tak mengerti apa yang terjadi, semuanya cepat sekali. Kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku terkejut saat kusadari Kyungsoo menciumku.

TBC..

Hehehehehehehehehehehehehe. Ini author masih nunggu kritiknya loh. Maklum ff nya abal sih hehehehehehehehehehe. Kamsahamnidaaaaaaaaaaaaaaaaaa :*

59 pemikiran pada “Cooking? Cooking? (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s