Love is You (Chapter 1)

Tittle:  Love is You – Part 1
Author:  Mutiara
Cast :
Kim Jongin – Kai
Mutia Kim – Mutia
Kim Joonmyun – Suho
Park Chanyeol – Chanyeol
Other cast
Genre:  romance, drama.
Length :  multi chapter

” Arghh…” Aku menggeliat untuk merenggangkan otot otot ku pagi ini.

Huh! Rupanya sudah pagi, cepat sekali. Sepertinya baru saja aku memejamkan mataku, tapi sekarang sudah pagi. Ah sudahlah.

Toktoktok

” Jongin! Kau sudah bangun?”

” Sudah. Baru saja!”

” Oke. Aku berangkat duluan ya! ”

” Iya!”

Derap kaki yang menuruni tangga terdengar setelahnya menandakan Suho hyung sudah turun. Lalu suara pintu terbuka lalu tertutup lagi. Suara mesin mobil pun juga terdengar. Dan, hyung sudah pergi. Memang sudah biasanya dia selalu berangkat pagi pagi.

” Hemm, dia memang bukan orang yang santai.” Gumamku.

***

Pagi ini jalanan seperti biasanya, tidak ada hal yang istimewa. Seperti biasa, aku berangkat jam segini, 9.15. Padahal 15 menit lagi kelas kuliahku sudah mulai. Ah, tidak apa apa lah. Aku selalu berangkat jam segini, tapi satu kalipun aku tak pernah telat. Santai sajalah, jangan terlalu berlebihan.

Aku dan hyungku memang sangat berbeda. Hyungku adalah orang yang sangat disiplin, harus tepat waktu, dan pintar. Sedangkan aku, aku sangat santai, tak akan ambil pusing dan aku orang yang biasa saja, tak pintar dan tak bodoh. Tidak sulit bukan?

Tapi, persamaan aku dengannya adalah sama sama menyukai musik dan dance. Kami adalah guru les dance. Dan kami sangat menyukai pekerjaan sampingan kami.

Tak terasa aku sudah sampai tempat parkiran mobil di kampusku. Aku tidak  telat kan walau aku berangkat jam segitu? Kkk^^

” Kai  yomaan!” Ujar seseorang sambil memukul bahuku yang ternyata temanku, Park Chanyeol.

Aku pun langsung melakukan ritual salam pertemanan kami seperti saling beradu kepalan tangan dan juga beradu bahu. Itulah ritualnya.

” Kau tau Kai, ada anak baru dikampus kita. Katanya si manis, cantik, imut. Tapi, aku belum liat dengan mataku sendiri sii.” Ujar si Chanyeol sambil berjalan menaiki tangga bersamaku.

” Huh! Cewek lagi yang kau urusi. Tapi, memangnya kau tau siapa namanya?”

” Eh, kalo ga salah namanya…” Katanya sambil masih berpikir terus. Lupa kali nih anak.

” Mutia! Mutia! ” Ujar seseorang.

” Nah, iya namanya Mutia, Mutia Kim. Itu kau tau Kai, kenapa bisa tau?” Kata Chanyeol. Aku terkekeh.

” Woy, bukan aku yang tau tapi… Tuh orang!” Aku menunjuk kearah orang yang tadi memanggil orang yang bernama Mutia.

Sekarang orang yang tadi memanggil Mutia sedang berbicara sesuatu padanya. Rupanya itu yang namanya Mutia. Ehm, not bad lah.

” Aigoo!!!” Chanyeol menepuk bahuku.

” Hah?” Tanyanku

” Akhirnya, aku melihat anak baru itu dengan mataku  sendiri. Yaampun, ternyata semua kata orang tentang dia memang benar.” Katanya terkagum kagum. Ish-_-

” Yasudah, ayo kita kekelas.” Kataku

Aku melanjutkan menaiki anak tangga yang belum habis ku naiki. Mutiapun akan menuruni tangga karena sudah selesai bicara dengan orang yang tadi, mungkin temannya.

Sedari tadi Chanyeol terus menatapnya sampai sampai tubuhnya berbalik untuk menatap gadis itu sampai punggungnya menghilang di balik tembok.

” Hey, sudah? Kalau sudah tutup mulutmu itu!” Kataku lalu berjalan mendahuluinya. Chanyeol pun sadar dan langsung menutup mulutnya. Dia langsung mengejarku yang sudah jalan terlebih dahulu.

” Manis sekali…” Kata Chanyeol. Ish-_- semua gadis saja kau bilang mereka seperti itu. Dasar!

***

Suho Hyung mengapa dia belum datang? Biasanya dia yang selalu datang lebih awal kalau kemanapun. Tapi, tak seperti biasanya dia seperti ini.

” Anyeonghaseyo, oppa!” Kata seseorang yang baru datang memberi salam padaku dan ternyata itu muridku.

” Ya, masuklah. Mana teman temanmu Rimi? “Kataku padanya yang bernama Rimi itu.

” Oh, mereka sedang membujuk seseorang untuk ikut les disini. Masih bisakan tambah 1 orang lagi disini? ” Ujarnya.

” Tentu tentu. Silahkan saja.”

Baru satu orang yang datang dan hyungku belum datang. Ehm, disini adalah tempat les kecil kecilan yang berarti aku dan hyung saja gurunya. Hehe. Kami mengajar adik adik kelas kampus kami, tempatnya ya dirumah kami. Mengajar seperti ini selain hanya untuk iseng iseng, juga bisa untuk menambah uang saku. Maklum, harus irit ongkos dari orang tua kami. Kadang Chanyeol juga membantu kami, tapi hari ini dia tidak bisa. Ada urusan mendadak. Aish, entahlah anak itu.

Deerrttdeerrtt

Ada sms.

From : Suho hyung

Kai! Aku hari ini tidak mengajar dulu ya. Temanku ada yang ulang tahun jadi aku di traktir olehnya. Tadinya ku bilang tak usah, tapi tetap saja dipaksa ikut. Sori ya!

Baiklah hari ini aku sendiri yang mengajar. Tak apalah. Sudah jam 3, mana murid muridku? Lama sekali.

Baru saja di bicarakan-walaupun dalam hati- mereka sudah datang. Lalu, mana murid barunya?

” Anyeonghasaeyo, oppa! ” Kata mereka semua. Hanya satu yang tidak terlihat mengucapkan salam dan terlihat canggung. Pasti itu anak barunya. Sebentar, itu bukannya…

” Oh, Kai oppa. Ini Mutia. Hey, cepat perkenalkan dirimu! ” Kata Nari salah satu muridku juga.

” Ehm, anyeonghasaeyo. Namaku Mutia Kim. Aku mohon bantuannya, oppa ” Katanya begitu polos.

” Baiklah, aku Kim Jongin. Panggil saja aku Kai, senang bertemu denganmu” Kataku. Dia hanya mengangguk lalu tersenyum.

” Baiklah dimulai saja!” Lanjutku

” Oppa, mana Suho oppa? ” Kata Joori ” Oh dia, sedang ada urusan.” Joori hanya mengangguk mengerti.

” Oh iya! Bulan depan ada dance cover audition EXO K – Mama. Bagaimana menurut kalian? Kita harus daftar? ” Kataku. Mereka tampak masih berpikir pikir.

” Baiklah aku mau ikut. Kami bersedia!” Kata Rimi sangat antusias diikuti anggukan yang lainnya.

Yap, tempat les dance ini hanya ada  perempuan saja dan tak ada laki laki. Kenapa? Akupun juga tidak tau kenapa. Karena Mutia baru masuk, jadi murid disini ada 7. Exo K kan berenam, sedangkan muridku kelebihan satu. Huh, baiklah.

” Ehm, Mutia.” Panggilku kepada gadis itu.

” Ya, oppa.” Katanya dengan tampang innocentnya

” Ehm, member EXO K ada 6, sedangkan muridku disini ada 7 karena sekarang ada kamu. Karena kamu murid baru, maka tidak keberatan kan jika kamu menjadi cadangan saja? ” Kataku berharap dia tidak tersinggung dan mau menerimanya.

” Baiklah. Jika memang begitu.” Katanya pasrah tapi tetap tersenyum. Aku jadi tidk tega.

” Ehm, jangan khawatir. Kamu juga tetap harus berlatih dan memperhatikan. Seorang cadangan harus bisa berada diposisi manapun. Ara?” Kataku berusaha menangkannya.

” Baik, oppa.” Katanya sambil tersenyum manis. Manis sekali.

***

” Oke, hari ini sudah cukup. Kalian bagus! Pulanglah, hari sudah mendung.” Kataku pada anak anak.

Mereka pun mengiyakanku dan lalu beres beres dan bersiap siap untuk pulang.

” Anyeong oppa! ” Kata semuanya. Aku melambaikan tangan dan tersenyum.

Semoga, kali ini mereka menang lagi. Tahun kemarin mereka sudah memenangkan dance cover audition juga, tapi waktu itu SHINee Lucifer. Gstory-nama grup dance mereka- jadi terkenal di Youtube. Sekitar 1 juta lebih pengguna Youtube melihat rekaman audisi GStory.

Rupanya sudah mulai gerimis. Akupun keluar untuk menutup pintu gerbang rumahku, tapi sepertinya  masih ada seseorang di teras.

” Oh, Mutia? Kamu belum pulang?” Kataku. Dia terlihat sangat cemas.

” Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu cemas?”

” Sebentar lagi turun hujan. Dan appaku tidak bisa menjemputku karena hari ini ada rapat. Lalu aku bagaimana?” Katanya cemberut. Kalau dilihat lihat, gadis ini manis juga. Hihi, sudahlah.

Tibatiba…

Sekarang bukan gerimis lagi, tapi hujan. Deras pula.

” Bagaimana ini?” Katanya yang makin cemas.

” Sudahlah sudahlah. Ayo masuk dulu, minum teh bersamaku dulu.”

 

Aku menariknya kedalam rumahku lagi. Segera kududukkan di sofa ruang tamuku. Dia masih sangat cemas, kasian sekali dia. Akupun duduk disampingnya.

” Sudahlah jangan cemas seperti itu. Tenang saja, jika hujannya sedikit reda aku akan mengantarmu pulang. Oke?” Akupun mengacak rambutnya pelan.

” Benarkah?” Tanyanya dan aku mengangguk. Wajahnya pun berseri lagi.

” Terimakasih oppa. Kau memang orang yang baik.” Katanya begitu senang.

” Tentu saja. Hehe. Yasudah, aku akan buatkan teh dulu, seperti janjiku tadi.” Dia pun mengangguk. Aku segera pergi ke dapur untuk membuat teh. Setelah aku selesai membuatkan teh, akupun kembali menemui Mutia. Pasti dia sudah menunggu lama.

” Hey, hyung! Kapan kau kembali?” Kataku pada suho hyung yang sedang duduk disamping Mutia. Sepertinya mereka sudah mengobrol beberapa saat.

” Iya, aku sudah pulang. Maaf, aku tadi tidak bisa mengajar, Kai.” Katanya.

” Sudahlah tak apa. Hey, hyung! Kenalkan, ini Mutia. Dia murid baru kita.” Kataku antusias.

” Aku sudah tau. Tadikan aku  sudah mengobrol dengan dia sebentar. Ku kira siapa, yasudah aku tegor saja dia.” Katanya sambil menoleh kearah Mutia yang sedang tersenyum.

” Yah, hyung. Aku tidak membuatkan teh untukmu. Aku cuma buat 2.” Kataku merasa bersalah.

” Ah, gapapa. Aku ingin ganti baju dulu deh di atas. ” Sungmin hyungpun beranjak dari ruang tamu lalu menaiki tangga. Aku pun menyilahkan Mutia untuk minum tehnya, Mutiapun menyesap tehnya.

” Terimakasih ya oppa.” Katanya sambil tersenyum. Entah senyum yang ke berapa yang dia berikan padaku. Semakin lama, aku mulai tertarik juga dengannya. Hehe.

” Ya, sama sama. Minumlah lagi.”

” Tenyata apa yang dikatakan teman teman memang benar. ” Katanya sedikit tertunduk. Semburat merah mewarnai pipi putihnya.

” Tenyata apa yang dikatakan teman teman memang benar. ” Katanya sedikit tertunduk. Semburat merah mewarnai pipinya.

” Memang apa yang mereka bicarakan?” Tanyaku penasaran

” Benar. Ternyata kau orangnya sangat baik dan ramah. Dan, juga… ” Omongannya terputus.

Dan juga????

” Dan, juga … Suho oppa sangat tampan. Hihi, teman temanku tidak bohong. ” Lanjutnya dengan wajah bersemu merah.

” Tentu saja.” Kataku singkat.

Hyungku memang sangat tampan. Hampir semua gadis bilang seperti itu. Tapi, rasanya aku sedikit tidak rela, yang mengatakan itu adalah seorang Mutia Kim. Ah, sudahlah.

Suasana selanjutnya hening. Hujan pun masih turun dengan deras. Gadis didepanku ini melihat keluar lalu menggembungkan pipinya setelah tau hujannya masih deras. Tak tau mengapa rasanya aku ingin mencubit pipi itu.

” Sudahlah” akupun pindah ke samping Mutia.

” Sepertinya, sebentar lagi waktunya makan malam. Makan malamlah dulu disini, hujannya masih deras. ” Lanjutku.

” Apa tidak apa apa?” Tanyanya.

” Tidak apa apa.”

Mutia tampak berpikir pikir.

” Baiklah.”

***

Akhirnya akupun mengantar Mutia pulang kerumahnya menggunakan mobilku Setelah makan malam. Wajahnya pun tampak lesu dan tidak bersemangat.

” Kau kenapa? Apa kau sakit? ” Tanyaku

Diapun sedikit kaget. Lalu menoleh kearahku dan tersenyum.

” Ah, tidak. Aku tidak apa apa.” Katanya.

Kalau di lihat lihat, Mutia mempunyai mata yang bulat dan besar dan tidak sipit. Hidungnya lancip dan rambutnya hitam sebahu. Sepertinya dia bukan asli keturunan korea.

” Ehm, Mutia.” Panggilku

” Ehm?”

” Sepertinya kau bukan asli keturunan korea. Benarkah itu? ” Tanyaku

” Bagaimana kau bisa tau? Hehe. Iya, aku keturunan Indo-korea. Ibuku yang orang indonesia. ”

Akupun mengangguk. Tebakanku memang benar.

 

“ lalu bagaimana bisa kau sangat lancar berbahasa korea?”

“ kau lupa? Ayahku kan orang Korea, ibupun juga berbahasa korea. Aku juga dulu pernah tinggal di korea selama 8 tahun. Jadi, akupun sudah terbiasa dengan bahasa Korea. ”

Oh. begitu rupanya.

***

urin deo isang nuneul maju haji anheulkka?

Sotonghaji anheulkka? Saranghaji anheulkka?

Apeun hyeonsire dasi nunmuri heulleo

Bakkul su itdago bakkumyeon doendago

malhaeyo mama. Mama.

Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.

Heartless, mindless. No one. Who care about me?

 

” Oke, teman teman! Latihan hari ini sudah cukup. ” Kataku.

Aku menoleh ke arah sudut ruangan dimana ada gadis yang selama beberapa hari ini telah menyita pikiranku, Mutia Kim. Aku tersenyum melihatnya. Tapi, senyumanku lenyap seketika saat hyungku duduk disebelahnya. Wajah gadis itu begitu sumeringah sekali saat hyung duduk disebelahnya. Aku hanya diam melihat pemandangan itu, pemandangan yang menyakitkan.  Aku ingat seminggu yang lalu. Kata kata itu, terasa sangat menyengat hatiku. Kata kata yang kutakuti akhirnya terucap dari mulut mungilnya.

‘ Aku menyukainya! Aku menyukai Suho oppa ‘

Sakit sekali rasanya jika suara itu terulang lagi diotakku. Seorang Mutia Kim, menyukai seorang Kim Joonmyun alias Suho, hyungku.

Walaupun sejak awal aku sudah menduganya, tapi aku masih tidak percaya. Aku yang selama ini menemaninya, mendekatinya dan memberikan perhatian lebih padanya. Tapi, dia tidak mengartikan semua itu sebagai rasa sukaku terhadapnya. Dia hanya menganggap aku adalah seorang teman sekaligus kakak baginya. Yang dia pandang hanya satu orang, Lee Sungmin.

” Woy, melamun saja kau! ” Kata seseorang menepuk bahuku yang membuat aku terkejut. Selalu saja, Park Chanyeol. Hari ini dia membantuku dan hyungku untuk melatih anak anak untuk ikut audisi.

” Ah, rupanya kau! Mengagetkan saja.” Kataku senormal mungkin, dan segera mengalihkan Walaupun sejak awal aku sudah menduganya, tapi aku masih tidak percaya. Aku yang selama ini menemaninya, mendekatinya dan memberikan perhatian lebih padanya. Tapi, dia tidak mengartikan semua itu sebagai rasa sukaku terhadapnya. Dia hanya menganggap aku adalah seorang teman sekaligus kakak baginya. Yang dia pandang hanya satu orang,  Kim Joonmyun.

” Woy, melamun saja kau! ” Kata seseorang menepuk bahuku yang membuat aku terkejut. Selalu saja, Park Chanyeol. Hari ini dia membantuku dan hyungku untuk melatih anak anak untuk ikut audisi.

” Ah, rupanya kau! Mengagetkan saja.” Kataku senormal mungkin, dan segera mengalihkan pandanganku dari dua orang yang sekarang sedang tertawa gembira.

Chanyeol sepertinya tau aku menarik tatapan dari hyung dan Mutia. Dia langsung menepuk bahuku bermaksud menenangkanku. Ya, dia sudah tau semuanya. Semua tentang perasaanku.pandanganku dari dua orang yang sekarang sedang tertawa gembira.

Chanyeol sepertinya tau aku menarik tatapan dari hyung dan Mutia. Dia langsung menepuk bahuku bermaksud menenangkanku. Ya, dia sudah tau semuanya. Semua tentang perasaanku.

” Sudahlah. Bagaimana menurutmu? Apakah anak anak akan memenangkan audisi lagi?” Kataku mengalihkan pembicaraan.

” Ya, kurasa. Mereka sudah berlatih keras dan gerakan mereka pun juga sudah mantap. ”

” Ya, kurasa begitu. Sepuluh hari  lagi audisinya dan kurasa mereka sudah siap.”

***

Kulihat seorang gadis yang tidak asing sedang duduk di bangku taman kampus. Mutia, dialah gadis itu. Dia duduk tenang sambil menatap langit. Kuhampiri dia yang kini sedang memejamkan matanya.

” Doooorrr!” Aku mengagetkannya sehingga dia terlonjak kaget. Hahah, lucu sekali dia.

” Oppa ini apa apaan! Aku kaget tau.” Katanya merajuk.

” Hehe. Habis sepertinya sedang asik sendiri.” Kataku menahan tertawa.

” Bolehkan aku duduk disini?” Lanjutku sambil menunjuk kearah tempat kosong disebelahnya. Dia pun tersenyum lalu menggeser duduknya sedikit.

” Duduklah, oppa.” Akupun duduk disebelahnya.  ” Bagaimana? ” Tanyaku yang dibalas dengan alis bertautnya menandakan ‘bagaimana apanya?’

” Maksudku, bagaimana? Bagaimana antara kau dan… Suho Hyung?” Tanyaku sedikit ragu.

Aku tak tau ini pertanyaan yang bodoh atau bukan. Tapi, aku sangat ingin tau. Apakah Suho hyung memperlakukannya seperti seorang gadis yang sedang disukainya?

” Aku… Aku tak tau.” Seberkas raut sedih terlihat jelas diwajahnya.

Dreeeetdreeet

Ada sms.

From : Rimi

Oppa!!!! Bagaimana ini?!?!

Ada apa anak ini? Akupun bingung jadinya.

” Dari siapa oppa? ” Tanyanya penasaran. Akupun juga penasaran.

” Dari Rimi.” Mutiapun mengangguk.

To: Rimi

Kenapa? ada apa?

From : Rimi

Oppaaaaa!!! Aku tadi pagi jatuh dari tangga!!!

To : Rimi

Lalu?

Anak ini! Kalau dia jatuh kenapa harus bilang padaku?

From : Rimi

Kakiku harus di gips!!! Oppaaa!!!

To : Rimi

Baiklah, semoga cepat sembuh^^

Sebentar! Dia terjatuh dari tangga dan kakinya harus di gips? Sebentar! Perasaanku jadi tidak enak. Dengan kondisinya seperti itu, itu berarti dia…

Dreeetdrettt *ada sms lagi

From: Rimi

Oppa-_- berarti aku tak bisa ikut audisinyaaaaaaaa. Oppaaaaaaaaaa!!!!!

” Oh tidak! ”

Bodoh sekali aku! aku baru menyadari kalau Rimi dan teman temannya akan ikut audisi 5 hari lagi! Kalau Rimi tidak bisa berarti….

” Ada apa oppa? ” Kata gadis disampingku ini yang sedari tadi penasaran, Mutia. Mutia?!

Yaampun! Aku memang bodoh. Mengapa tak terpikir olehku?

” Mutia… ”

” Hmm? ”

***

” Maafkan aku. Aku memang ceroboh.” Kata gadis yang sekarang sedang berbaring dengan kaki diperban. Malangnya!

” Tidak apa apa. Kau istirahat saja. Lagipula, masih ada Mutia yang menggantikanmu. Benarkan?” Tanya Minkyung kepada semua temannya yang akan ikut audisi.

” Benar. Aku akan berjuang, oh bukan tapi kami akan berjuang dan akan memenangkan audisi ini! ” Kata Mutia lalu disertai anggukan kepala semua teman temannya.

” Terimakasih sudah memaklumiku.” Katanya.

” Suho oppa, Kai oppa. Aku mint___ ” ucapannya langsung dipotong oleh Suho hyung.

” Sudahlah, kau istirahat saja. Jangan terus terusan menyalahi dirimu sendiri.” Katanya lembut sambil mengelus rambut Rimi.

Rimi pun merasa tenang karena perlakuan hyung tadi. Aku teringat. Aku menoleh kearah Mutia yang sekarang terlihat memaksakan senyumnya melihat pemandangan yang berada tepat di depan matanya. Aku mengerti perasaannya saat ini. Matanyapun kini bertemu dengan mataku. Akupun tersenyum berusaha menyemangatinya, lalu dia pun tersenyum semangat lagi walaupun agak sedikit terpaksa. Dia… Cemburu.

***

Hari audisi telah tiba. Semuanua juga sudah tampak bersiap siap. Kali ini kostum mereka bertema Black and White. Dengan kaos hitam bergambar lambang EXO K di bagian belakang dan bagian depan bergambar lambang masing masing dari ke 6 member EXO K, celana panjang hitam dan sepatu kets putih. Dengan seperti ini penampilan mereka akan terlihat elegan dan keren. Ini semua adalah ide Suho Hyung dan juga Park Chanyeol. Aku kan sudah melatih lebih banyak dari pada mereka, maka aku hanya setuju saja dengan kostum itu.

” Kau keren sekali, Mutia! ” Kata hyung setelah Mutia keluar dari ruang ganti memakai baju dari salah satu member termuda di Exo-k, Oh Sehun. Aku melihat kearah hyung dengan tatapan tidak rela. Aku tidak suka jika dia melakukan itu pada Mutia.

” Ah biasa saja! ” Kata Mutia yang tersipu mendengar pujian semprul dari hyungku.

Aku tak tahan melihatnya. Rasanya aku ingin bilang pada hyung, jangan merayu gadisku. Dia itu milikku, jadi jangan melakukannya lagi.

Tapi apa maksudnya Mutia itu gadisku? Apa  maksudnya juga dengan kata dia itu milikku? Dan apa hakku juga melarang hyung begitu? Kenyataannya, aku bukan siapa siapa Mutia, jadi aku tak pantas untuk berkata seperti itu. Aku akan menyimpannya dalam dalam saja dihatiku.

Teman teman Mutia yang lainnya juga sudah berganti baju. Mereka sekarang sudah lengkap. Tinggal menunggu panggilan nomor urut 10, nomor urut tampil mereka.

***

Kemarin adalah hari kebanggaan kami. GStory-nama grup dance asuhanku- kembali memenangkan audisinya. Aku bangga pada semuanya terutama Mutia, karena dia adalah murid baru yang cepat menangkap apa yang dijelaskan.

Tapi sekarang, aku sedang melihat Mutia gadis yang kucintai sedang termenung dan lagi lagi di bangku taman kampusku. Akupun menghampirinya.

Tidak seperti waktu itu, kali ini aku tak berniat untuk mengagetkannya. Kurasa mengagetkannya kali ini tidak tepat karena wajahnya kini terlihat sedang sedih. Ada apa?

” Bolehkah aku duduk disini? ” Tanyaku sedikit pelan. Dia pun menoleh kearahku dan tersenyum.

” Duduk saja oppa.” Katanya sedikit lesu tidak seperti biasanya. Akupun duduk.

” Ada apa? Kenapa orang yang telah menang audisi jadi termenung seperti ini?” Tanyaku berusah menggodanya agar dia tidak memasang muka yang terlalu sedih. Dia pun menggeleng.

” Aku tidak apa apa.”

Hening. Hanya itulah suasana setelah dia mengatakan kalimat yang terakhir itu, ‘aku tidak apa apa’.

” Oppa…” akhirnya diapun bersuara  juga.

” Ya?”

” Apakah Suho oppa selalu bersikap seperti itu? Maksudku… Bersikap perhatian pada semua perempuan?” Tanyanya

” Memangnya ada apa? ”

Kenapa dia mengatakan kalimat tadi dengan nada yang sangat pilu? Apakah ini alasannya kenapa dia terlihat sedih?

” Tidak. Aku, aku merasa Suho oppa

Selalu baik pada semua perempuan temasuk aku. Apakah dia seorang playboy?”

Playboy katanya? Ah, mana mungkin dia begitu.

” Ah, tidak bukan seperti itu. Hyung memang selalu baik dan perhatian pada semua perempuan karena ibu adalah perempuan jadi dia selalu menghormati kaum perempuan. Suho Hyung selalu ingin melindungi perempuan yang tak setegar kaum laki laki. Jadi, dia bukan playboy yang kau bilang itu.” Kataku menjelaskan lalu mengacak rambut Mutia pelan.

” Benarkah?”

Akupun mengangguk.

” Tapi… Mengapa aku melihat sikap Suho oppa berbeda kepada… Rimi? Aku tak pernah mendapatkan perhatian seperti yang Rimi dapatkan dari Suho oppa. Aku… Aku tak tau. Apakah ini hanya perasaanku saja? Apa mungkin, Suho oppa benar menyukai Rimi? ” Kata katanya terasa begitu perih untuk dirinya. Aku tak sanggup melihatnya begini. Kurangkul dia kedalam pelukanku. Mungkin ini akan menenangkannya. Kurasa, apa yang dirasakan Mutia juga dirasakan olehku. Itu bukan perasaan Mutia saja.

Aku jadi teringat. Sejak Rimi mengalami patah tulang dan sampai sekarang dia masih dirawat dirumah sakit, Setiap pagi Hyung selalu sibuk di dapur untuk membuatkan makanan untuk Rimi. Dia tampak bersemangat sekali ketika dia pamit padaku untuk pergi menemui Rimi.

Diapun pulang sesuai dengan habisnya jam besuk, sekitar jam 13.00. Jam besuk berikutnya sekitar jam 17.00 dia kembali lagi ke rumah sakit lalu pulang jam 19.00, sesuai dengan habisnya jam besuk juga.Pernah kutanya, apakah dia mempunyai rasa terhadap Rimi. Dia hanya tersenyum lalu berlalu pergi menuju kamarnya. Entahlah, kurasa itu tak wajar. Mungkinkah tebakan aku dan Mutia benar? Hyung menyukai Min Rimi?

” Ehm oppa…” Panggilnya. Akupun tersadar dari lamunan. Ia pun bangkit dari pelukanku.

” Apa?”

” Ayo antar aku.”

***

Aku mengantarkan Mutia ke rumah sakit. Katanya, dia rindu pada Rimi makanya dia ingin menjenguk Rimi.

Setelah sampai kamar rawat-inap Rimi yang bernomor 101 itu, kamipun kaget karena Rimi tak ada di kamarnya. Aku bertanya pada suster, katanya Rimi sedang jalan jalan di taman bersama teman laki lakinya. Uh, ku kira dia sudah pulang. Rupanya sedang jalan jalan.                                    Kamipun menuju taman karena Rimi ada di sana. Tujuan kami memang ingin menemui Rimi bukan?

 

Langkahku tehenti karena Mutia yang menghentikan langkahnya dengan tiba tiba. Dia terlihat terkejut lalu menutup mulutnya. Akupun mengikuti arah pandangannya yang sepertinya itulah yang membuat dia terkejut seperti ini. Setelah sampai kamar rawat-inap Rimi yang bernomor 101 itu, kamipun kaget karena Rimi tak ada di kamarnya. Aku bertanya pada suster, katanya Rimi sedang jalan jalan di taman bersama teman laki lakinya. Uh, ku kira dia sudah pulang. Rupanya sedang jalan jalan.

Kamipun menuju taman karena Rimi ada di sana. Tujuan kami memang ingin menemui Rimi bukan?

Langkahku tehenti karena Mutia yang menghentikan langkahnya dengan tiba tiba. Dia terlihat terkejut lalu menutup mulutnya. Akupun mengikuti arah pandangannya yang sepertinya itulah yang membuat dia terkejut seperti ini.

” Astaga! ”

Akupun langsung menutup mata Mutia lalu mebalikan tubuhnya dan menariknya kedalam pelukanku. Aku juga menutup mataku karena tidak sanggup melihat pemandangan yang membuat hati Mutia pasti sangat sakit.

” Mutia, ayo kita pulang”

***

Akupun paham betul perasaan gadis disebelahku ini. Sakit, sakit yang hanya dirasakannya. Akupun juga dapat merasakan sakitnya itu karena melihat keadaannya saat ini.

Aku, sampai saat ini masih tak pecaya dengan apa yang baru aku dan Mutia lihat. Di taman rumah sakit, tempat diamana kami melihat semuanya. Suho Hyung mencium Rimi. Rimipun juga tampak menerima ciuman itu.

Ah, sudahlah. Hatiku terasa teriris mengingat semua itu. Aku tak tahan mengingat ekspresi Mutia tadi.

Kini, gadis itu hanya menatap lurus kedepan tapi tatapannya terasa kosong. Air matapun jatuh ke pipi putihnya itu. Tapi, mukanya tanpa ekspresi. Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Kuhentikan mobilku dipinggiran jalan.

” Mutia…” Pangilku pelan.

Tak ada respon darinya. Dia tetap memandang lurus kedepan. Aku tau dia masih tidak percaya dengan kejadian tadi.

” Mutia, aku tau bagaimana perasaanmu sekarang. Aku sangat tau bagaimana rasanya. Saat orang yang kita cintai tak melihat kearah kita tapi melihat kearah orang lain, pasti rasanya begitu sakit.”

Akupun juga meneteskan air mataku. Ini juga terjadi padaku. Aku mencintai Mutia, tapi sama dengan kalimat yang barusan kuucapkan. Mutia tidak melihat kearah ku yang jelas jelas mencintainya, tapi dia malah melihat kearah orang lain yaitu hyungku.

” Kai oppa… ”

Akupun menoleh kearahnya.

” Oppa, mengapa kau menangis? ” Tanyanya. Tangannya terangkat untuk menghapus air mataku. Ketika tangan lembut itu akan terlepas dari pipiku, akupun menahannya.

” Jangan lepaskan. Aku mohon” Ia pun menggenggam pipiku lagi dengan tangan lembutnya.

” Oppa… ” Akupun menoleh kearahnya lagi.

” Bantu aku melupakannya, oppa. Ku mohon.”

***

Aku sedang menunggu Suho hyung pulang. Apa ada cerita baru yang akan keluar dari mulutnya? Sungguh, aku sangat ingin tahu walaupun kurasa aku sudah menduganya.

Pintu pun terbuka dan yang datang adalah sudah pasti Suho hyung. Terlihat sekali wajahnya yang tak henti hentinya menunjukkan kegembiraan dihatinya, aku sudah menduganya.

” Hyung, kau sudah pulang? ” Tanyaku hanya sekedar basa basi. Langkahnya pun terhenti lalu membalikan badannya kearahku.

” Kau! membuatku kaget saja. ” Lalu dia menghampiriku lalu duduk disebelahku.

” Ada apa? Wajahmu menandakan bahwa kau ingin mengatakan sesuatu padaku. Katakanlah!” Seperti biasanya, Sungmin hyung memang selalu bisa menebak mimik mukaku.

” Bagaimana dengan Rimi? Apakah dia sudah lebih baik? ” Aku mengatakan ini untuk memancingnya. Dan benar saja, wajahnya berubah setelah mendengar nama Rimi. Pancinganku berhasil.

” Ah, dia sudah lebih baik. Besok juga sudah boleh pulang. Aku akan mengantarnya besok. ” Binar matanya saat mengatakan kalimat itu keluar memancarkan cahaya kebahagiaan. Sudah kuduga.

” Hyung… ”

” Apa? ”

” Kau dan Rimi sudah resmi menjadi… Sepasang kekasih? ” Tanyaku ragu.

Sama sekali dia tak kaget dengan perkataanku tadi. Malah dia tersenyum memandangku.

” Baiklah Kim Jongin. Aku mengalah. Aku sudah terkait pada pengail pancinganmu dan tak bisa lepas lagi.” Katanya terkekeh. Sudah kubilang, dia memang sangat memahami bagaimana aku. Sedari tadi ternyata dia berusaha untuk tidak terpancing olehku, tapi itu tidak berhasil. Dapat kau hyung!

” Ya, dia sudah menjadi pacarku.”

***

” Oppa, aku ingin makan ramen. Ayo temani aku!” Rengek Mutia di telepon.

” Ah, baiklah. Aku akan menjemputmu. Tunggu saja.” Akupun menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.

Setelah kejadian beberapa waktu lalu dirumah sakit itu, Mutia jadi semakin dekat denganku. Kemanapun aku pergi pasti ada dia di sampingku.

Tidak sedikit teman temanku di kampus bertanya apakah aku sudah berpacaran dengan Mutia. Ah, tentu saja belum. Akupun tak tau apakah Mutia sudah mempunyai perasaan padaku atau dia masih mempunyai rasa terhadap hyungku.

Setiap Mutia melihat dua sejoli alias Suho Hyung dan Min Rimi, wajahnya pun berubah menjadi bete. Masihkah dia mempunyai rasa itu?

Karena alasan tersebut, sampai saat ini aku belum menyatakan perasaanku. Walaupun aku memperlakukannya sebagai seseorang yang aku cintai, tapi itu semua belum keluar dari mulutku.

Akupun sudah berjanji bukan, kalau aku disuruh untuk membantu melupakan Suho Hyung oleh Mutia sendiri. Tapi, sampai sekarang nampaknya aku belum dapat membantu melupakannya. Terbukti dengan wajah betenya saat melihat mereka berduaan. Tapi, apakah dengan aku menyatakan perasaanku hatinya dapat berpaling dari Suho hyung?

***

” Astaga hujan!” Kataku. Kami sedang berada di teras restoran ramen

Aku yang sedang panik karena hujan turun karena kami tidak bisa menuju parkiran mobilku dengan baju kering, Mutia malah bermain air dengan menadahkan tangannya kearah hujan lalu menyiprat nyipratkan airnya kearahku.

” Hey, apa yang kau perbuat!” Omelku. Bukannya takut malah dia ketawa. aku memang tak berbakat pura pura marah.

” Jangan marah seperti itu, oppa. Wajahmu tambah jelek! haha.”

Oh rupanya dia mengejekku. Awas saja kau!

” Aaah! Oppa hentikan! Aaah! Awas kau”

Aku terus mencipratkan air hujan lebih dahsyat dari cipratannya yang tadi untukku. Haha, kena kau.

” Baiklah, sudah satu sama. Sekarang bantu aku pikirkan bagaimana caranya kita ke tempat parkir mobilku tanpa baju basah!”

” Tentu saja tidak bisa seperti itu. Hujan sederas ini mana mungkin kita tidak akan basah.”

Ah, benar juga. Okelah, basah sedikit tidak apa apa kalau kita berlari cepat menuju parkiran. Ehm, tidak buruk.

” Ayo kita lari saja.” Kataku lalu langsung menarik tangan Mutia menuju tempat parkiran.

Sesampainya di dalam mobil, akupun merutuki diriku sendiri. Ternyata ide itu sangat buruk.

” Oppa! Seharusnya tunggu reda sedikit dulu kalau mau lari seperti itu. Lihat baju kita basah!” Omel Mutia. Ah, ternyata bukan sangat buruk, tapi sangat sangat buruk.

” Maafkan aku. ”

Akupun menyalahkan mesin mobil lalu langsung menjalankannya menuju rumahku. Kebetulan rumahku lebih dekat dari restoran ramen tadi dari pada rumah Mutia.

Akupun sedari tadi menggenggam tangan mutia karena sepertinya kedinginan.

“ Maafkan aku.”

***

Akupun meminjamkan baju dan jelana trainingku untuk Mutia. Walaupun sedikit kebesaran tapi tidak terlalu buruk ditubuhnya.

Sedari tadi aku terus memandangi wajahnya yang sedang tertidur di tempat tidurku. Ku topangkan daguku di pinggiran tempat tidurku. Kuelus pipinya yang putih itu. Begitu cantik jika dia sedang tenang seperti ini.

Bisa bisanya dia tertidur dikamar seorang laki laki. Begitu percayakah dia padaku kalau aku tidak akan macam macam padanya? Apakah ini pertanda bahwa aku sudah mulai masuk kedalam hatinya?

Diapun terbangun karena elusan tanganku di pipinya. Akupun berhenti melakukan itu lalu menarik tanganku kembali tapi diapun menahan tanganku dan meletakannya lagi di pipinya.

” Jangan berhenti, aku menyukainya.”

Akupun tersenyum mendengarnya. Satu pertanda lagi dia sudah mulai menyukaiku?

” Tidurlah lagi, ini masih jam 3. Kau tidur saja lagi. Nanti malam aku akan mengantarmu pulang.”

Diapun mengangguk lalu tersenyum. Kemudian, dia menggeser tubuhnya dan menepuk kasur yang sudah dikosongkannya karena tadi dia bergeser. Aku tau maksudnya apa.

Akupun naik keatas kasur lalu berbaring disampingnya. Diapun lansung memeluk pinggangku dan menyenderkan kepalanya di bahuku. Akupun memiringkan tubuhku kearahnya lalu memeluknya dengan lenganku sebagai bantal untuknya agar dia lebih nyaman.

“Ada apa? Kenapa kau seperti ini?” Tanyaku sambil mengelus elus rambutnya. Setelah ku bertanya seperti itu dia makin mengeratkan pelukannya Di pinggangku.

” Aku kedinginan. Memangnya aku tidak boleh seperti ini?” Aku tersenyum mendengar perkataannya dan makin mengeratkan pelukanku.  ” Tentu saja boleh.”

Hening. Itulah suasana setelah kalimat terakhirku tadi. Pasti dia sudah tidur kembali. Deru nafasnya berhembus di dadaku. Aku yakin, pasti dia mendengar detak jantungku yang begitu cepat.

” Oppa…” Aku sedikit kaget. Ternyata dia belum tidur.

” apa? Kenapa kau tidak tidur?” Aku merasakan gelengan kepalanya di dadaku. Diapun mendongakan kepalanya agar bisa menatap menatapku.

” Aku tidak bisa tidur lagi.” Melihat tatapannya yang begitu lembut terhadapku, akupun mendekatkan wajahku kewajahnya lalu ku kecup bibirnya yang mungil itu.

” Saranghae.” Ucapan itu akhirnya terucap juga dari mulutku. Mungkin, ini memang saatnya aku mengataknnya.

” Aku, mencintaimu Mutia.”

Diapun tampak terkejut mendengarnya, tapi tak berapa lama setelahnya dia tersenyum lalu meraih wajahku lalu mngecup bibirku. Aku begitu terkejut dengan perlakuannya. Dibenamkannya lagi wajahnya didadaku lalu memelukku erat. Tapi, tak ada jawaban atas pernyataanku tadi. Hanya hembusan nafasnya saja yang aku dengar. Tapi aku merasakan dia tersenyum di dadaku.

” Aku tau.”

***

Akhirnya sampai juga didepan rumah Mutia. Aku pun menoleh kearahnya yang sekarang sedang tersenyum kearahku.

” Seharusnya, aku mengantarkanmu jalan kaki saja.” Kataku.

” Memangnya kenapa?” Tanyanya heran.

” Hehe. Agar aku bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu sebanyak banyaknya sepanjang jalan.” Mendengar ucapanku yang konyol itu dia pun terkekeh.

” Walaupun mengantarku bukan dengan berjalan kaki, kurasa kau mengatakan hal itu sudah terlalu banyak dan itupun juga sepanjang jalan.” Akupun sekarang yang terkekeh.

” Kan kalau jalan kaki lebih lama.”

” Ah, sudahlah kau ini oppa.”

Tangannya terangkat untung memegang pipiku lalu mengelusnya. Akupun meraih tangan itu.

” Ada apa?” Bukannya menjawab pertanyaanku malah dia menciumku. Akupun terkejut. Dia lansung melepaskan bibirnya itu dari bibirku lalu langsung membuka pintu mobil lalu berlari menuju gerbang rumahnya. Sebelumnya, dia membalikan badannya lalu melambai kearahku dengan wajah yang merona. Dengan cepat dia membuka gerbangnya lalu berlari menuju pintu masuk rumahnya.

Akupun tersenyum mengingatnya tadi tiba tiba menciumku. Mungkin memang benar, dengan caraku mengatakan perasaanku yang sebenarnya bukan hanya dari perilakuku selama ini akan membuatnya berpaling dari Suho hyung dan mulai melihat kearahku. Benarkah itu?

TBC

Iklan

9 pemikiran pada “Love is You (Chapter 1)

  1. judulnya kok mengingatkan ku sama salah satu GB indo ya? kirain main castnya gigi, annisa, cheryl dan semacamnya untungnya kaga =) #apadeh

    lumayanlah ceritanya, nice 🙂

  2. Lanjut thor,,aku bingung kai udah jadian kah sama mutia kok mereka kayak org udah pacaran apa lagi udah kissing,,bagus thor tpi typo nya masih sangat ada,,ditunggu part selanjutnya

  3. haaa aku suka thor~jgn-jgn kai cuman jadi pelampiasan ni?
    ada bagian-bagian yg ke copas balik thor sama ada typo dikit
    lanjuuut

  4. bagus thoor, cuma aku gatau ini belom diedit apa gimana tapi masih banyak banget typo nya hehe
    dan jugaaa, ff ini ngingetin aku sm ff forgetting oh sehun, hehehe tp daebak kok thor ff mu!^^

    • aku juga setuju sama kamu !!
      baru aja mau nanyain itu,ternyata kamu udah nanyain duluan.
      jadi aku ikut nyempil (?) deh di coment.an kamu ^^ #biarhemat #kkkkkkkk
      mianhe ya.
      authorrrr hhhhwwwaaaiiittthhhiiinnngggg !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s