My Beloved Devil (Prolog)

TItle: My Beloved Devil (PROLOG)

Main cast: Oh Sehun, Ahn Soo Ra (OC).

Genre: Romance, Family, Friendship.

Author: Byun Bacon (^▿^)/

WARNING: Semi AU, miss typo, alur gaje (?), authornya males -____-, ga suka? Jangan baca. Silahkan tekan back 🙂

 

ENJOY~~~

 

 

“Appa, sakit.” Seorang yeoja tengah merintih kesakitan sambil menahan kristal bening yang hampir mengalir dari pelupuk matanya. Sedangkan pria setengah baya yang dipanggil Appa itu hanya diam sambil terus menyeret anak semata wayangnya itu ke arah sebuah mension mewah dalam beberapa blok kompleks perumahan sambil terus menjambak rambut anaknya dengan kasar. Tujuannya? tentu saja, untuk dijual.

Saat ini dirinya tengah terbelit hutang dengan nominal yang cukup besar. Semua harta peninggalan istrinya kini telah berpindah tangan. Dari mulai perhiasan hingga rumah telah ia gadaikan. Kini ia memilih jalan pintas untuk menjual anak gadisnya pada seorang pria setengah baya lain yang kaya raya dan gila perempuan. Pria setengah baya yang baru ditemuinya kemarin sore berjanji akan melunasi hutangnya bahkan memberinya uang lebih untuk kembali berjudi asal ia mau menjual anaknya. Karena penagih hutang itu berjanji akan kembali 2 hari lagi. Jadi, ia harus merelakan anaknya.

 

***

 

Sebuah pagar besi bercat putih tampak menjulang di depan mereka. Tuan Ahn menekan bel beberapa kali sebelum pria muda berpakaian resmi menghampiri mereka dan menggiring mereka masuk ke dalam rumah yang sangat mewah itu. Yeoja itu masih sesekali menghapus sungai kecil yang terus mengalir tanpa henti dari sudut matanya dengan ujung sweater hijau toska yang ia kenakan, keadaan yang sangat kontras dengan keadaan Appa-nya yang terus menebar senyum sejak mereka memasuki mansion mewah tersebut. Memikirkan nominal angka yang akan ia terima membuat kepala keluarga Ahn itu terus-menerus menarik kedua ujung bibirnya.

 

“Silahkan.” Suara pria muda itu membuat lamunan singkatnya lenyap. Ia dan putrinya di persilahkan duduk di sebuah sofa beludru berwarna putih gading di tengah ruangan bernuansa cokelat. Pria muda itu membungkuk singkat sebelum menghilang di balik pintu.

 

“Appa, aku tak mau.” Yeoja itu kembali membuka suaranya. Pria itu menoleh dan melemparkan tatapan tajam. “Mau tak mau kau harus mau. Kali ini aku sedang butuh uang.”

 

Airmata sekali lagi mengalir dari pipi putihnya. “Aku akan bekerja demi melunasi hutang Appa. Tapi tolong jangan jual aku pada –“

 

“Ahn Soo Jun, sudah datang kau rupanya.” Seorang pria paruh baya lain datang menginterupsi diskusi antara ayah dan anak itu. Pria yang masih terlihat cukup bugar dalam usianya yang mungkin sudah tak muda lagi. Rambut abu-abunya yang tersisir rapi dengan sweater cokelat khas pakaian kelas atas melekat pada tubuhnya menunjukkan bahwa ia bukan orang yang sembarangan bisa kau sapa di kedai sosis ikan pinggir jalan.

 

Pasangan ayah dan anak yang menyadari adanya kehadiran orang lain langsung berdiri tegak dan membungkuk singkat sebagai ucapan selamat datang sebelum akhirnya kembali menghempaskan tubuh mereka pada sofa beludru tadi.

 

“Jadi, ini anakmu?” pria itu langsung kepada inti permasalahan. Tak mau membuang-buang waktunya hanya untuk pria miskin yang mengemis minta secuil hartanya yang berlimpah ruah yang sebenarnya bisa ia habiskan untuk hal-hal lain yang lebih penting.

 

“Iya. Ini anak yang aku janjikan kemarin sore. Bagaimana?”

 

Pria paruh baya itu menatapnya dari ujung kaki hingga ubun-ubun yang membuat si anak gadis merasa risih. Ia mulai berfikir yang tidak-tidak dengan pria paruh baya yang ada di hadapannya. Siapa yang tak tau dia? Seorang pengusaha sukses di bidang otomotif yang tak bisa dianggap enteng. Beberapa mansion mewah dan beberapa pulau yang ia miliki menjadi saksi bisu betapa kayanya orang yang di hadapannya itu. Walaupun ia bukan penggosip, setidaknya ia sedikt tahu bahwa pria paruh baya yang gila wanita di depannya ini mempunyai 2 istri. Fikirannya mulai meracau pada hal yang tidak-tidak. Bagaimana kalau tujuan Appa-nya menjualnya untuk menjadi istri ketiga pria tua itu? Bukan tak mungkin memang ia akan di tempatkan di mansion mewah ini hanya sekedar untuk menjadi pelayan atau juru masak. Tapi untuk seorang pria tua yang gila wanita? baginya mungkin saja untuk dijadikan istri atau hanya sekedar alat pemuas lelaki hidung belang ini nantinya. Memikirkan hal itu membuatnya bergidik ngeri. Tanpa ia sadari obrolan kedua pria itu telah usai setelah ia melihat Ayahnya mengantongi selembar cek.

 

“Jangan macam-macam dan jangan pernah bermimpi untuk kabur,” pesan sang Ayah di telinganya sebelum membungkuk dan meninggalkan ruangan serba cokelat itu. Menyisakan ruangan itu hanya terisi oleh dirinya dan pria yang baru saja membelinya.

 

“Ah… ternyata kau wanita yang cukup cantik, Aggashi.” Tubuh yeoja itu menegang sesaat. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhnya. Kata-kata yang dilontarkan pria itu dengan nada rendah mampu membuat seluruh tubuhnya serasa beku.

 

Pria itu bangkit dan berjalan ke arahnya dengan pandangan mata yang lepas sedikitpun dari gadis manis yang semakin erat menarik-narik kecil ujung sweaternya. Sedangkan yang ditatap hanya merunduk memandangi pantofel hitam yang semakin mendekat ke arahnya.

 

 

“Jadi –“

 

Suara dering ponsel memutuskan kata-kata pria itu. Pria itu merogoh saku celananya dengan sedikit geram. Ia tak pernah suka kata-katanya di interupsi oleh apapun atau siapapun.

 

“Wae?”

 

Samar-samar yeoja itu mendengar suara percakapan pria di hadapannya dengan orang dalam sambungan telepon sambil terus merunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian sutra cokelat yang menghalangi siapapun untuk melihat paras eloknya.

 

“Nama mempelai wanitanya adalah… siapa namamu?” ia yakin bahwa pria itu sedang mendelik ke arahnya. Ia menyebutkan namanya dengan sedikit bergetar. “Ahn So-Soo R-Ra,” jawabnya pelan. Masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.

 

“Tanggal berapa sekarang? Pernikahan akan dilangsungkan 3 hari lagi. Dan aku mau semuanya siap. Kau tahu kan aku paling tak suka menunggu? Masalah gaun, besok Ahn Soo Ra akan pergi melihat gaun pernikahannya. Jadi siapkan semuanya. Jangan sampai pada hari pernikah nanti ada yang cacat,” ujar pria itu sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.

 

Mempelai wanita? Namanya? Gaun pernikahan? Ada apa dengan semua ini?

.

.

.

.

.

[TuBerCulosis]


DOR!!!

Annyeong, Chaca imnida.

Maaf kalo prolognya jauh dari kata bagus, karena saya buatnya cuma 2 jam. Hehe 😀

Soal typo, itulah kelemahan saya. Males ngedit -_______________-

Bingung mau ngomong apalagi? -_____________-

Makasi udah nyempetin baca  🙂 *kabur

 

108 pemikiran pada “My Beloved Devil (Prolog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s