Foreigners (Chapter 1)

Author : Pradesi (@paramitapradesi)

Cast : Woo Youngmin/ Sunghyo , Byun Baekhyun , Oh Sehun

Genre : Fantasy , Romance

Length : Chapter

“Siapa bilang di dunia ini hanya ada manusia? Siapa bilang hanya manusia mahluk paling sempurna di dunia ini? Jauh dari itu masih ada kehidupan lain, mahluk lain yang jauh lebih ..lebih dari manusia, dan tergantung darimana mereka berasal”

“Youminnnnn…..” aku hanya bisa mengangkat selimut dan menenggelamkan tubuhku ke kasur lagi. “Youngmin-ah cepat buka pintunya” ada apa anak itu? dia mau mengaturku. Dengan sangat terpaksa aku bangkit dan dengan cepat membuka pintu. “waeyo seo-ah?” tanyaku malas. Wajahnya sangat licik, dia menarikku dan membawaku ke kamarnya walaupun aku menolak mati matian.

“kau kan belum tidur kerjakan tugasku dulu, baru kau boleh tidur” katanya santai tapi menuntut..aku mendengus pelan. “aku mengantuk dan ingin tidur, kau kerjakanlah sendiri” “EOMMA” aku menyumpal mulut Inseo, dasar menyebalkan dia mengancamku dengan mengatakan akan mengadu pada ‘eomma’nya itu jika aku tidak menuruti maunya.

Inseo menyuruhku mengerjakan PRnya yang sangat banyak, dia benar benar belum mengerjakannya. Padahal jika aku pikir pikir tugas ini sudah diberikan seonsaengnim sebulan yang lalu. Lalu apa saja yang dikerjakannya selama liburan? Aku yakin Inseo itu pasti menghamburkan uang dengan ‘eomma’nya yang menyebalkan itu.

Ya, dia adalah adik tiriku, lebih tepatnya eomma Inseo menikah dengan appa. Tapi aku tidak menganggap dia eommaku, aku lebih suka memanggilnya nenek sihir karena kelakuannya mirip sekali dengan nenek sihir, hanya menghamburkan dan menghabiskan uang appa lalu..suka mengaturku.

Aku memeras otakku sampai larut malam dan alhasil kelopak mataku menghitam sempurna dan rasa kantuk benar benar menyerangku.

__

Untung saja di kelas seonsaengnim tidak mengetahui bahwa aku mengantuk, sesekali aku menguap dan terpejam sebentar, walaupun tidak menghilangkan semua kantukku. Bel pulang sekolah berbunyi, dengan cepat aku memasukkan buku ke dalam tas dan mengejar Inseo yang telah lebih dulu keluar kelas, jika tidak maka Inseo akan dengan teganya meninggalkanku.

“Inseo-ah” panggilku dan berlari kecil mendekatinya, inseo tidak bergeming , dia malah menatap Jam tangannya dan menoleh ke kanan dan kiri jalan, seperti menunggu seseorang. “Seo-ah” ucapku tersengal, baru aja aku sampai padanya. Inseo menatapku heran lalu kembali lagi menatap jalanan.

“kau tidak pulang?” Inseo menggeleng. “Luhan oppa” teriakkannya membuatku melihat ke arah pandangnya juga. Seseorang mengendarai mobil sport hitam tengah menghampiri kami. Lalu laki laki itu keluar dari mobilnya. Kutatap Inseo yang sedang senang, dia berlari dan menghambur ke pelukan laki laki itu meninggalkanku yang terheran heran.

“dia siapa?” sayup sayup aku mendengar pembicaraan mereka. “ah gadis itu, dia hanya pelayan” “mwo?” aku membulatkan mata, apa yang dikatakannya tadi, aku pelayan? “Inseo aku..”

“Youngmin-ya kau pulang saja duluan, ingat katakan pada eomma kalau aku ada kelas tambahan” aku baru saja ingin menghampirinya tapi Inseo dengan cepat memasuki mobil itu dan pergi dengan laki laki yang bernama.. Luhan. Ya seingatku namanya Luhan. “cih” dengusku pelan. Dengan gontai aku berjalan mencari bis terdekat, semoga saja nenek sihir itu tidak mengomel padaku karena tidak pulang bersama Inseo.

__

Benar saja, si nenek sihir itu mengomel padaku karena tidak pulang bersama Inseo. Padahal aku sudah mengatakan kalau Inseo mempunyai kelas tambahan. Untung saja aku masih baik dengannya, tidak taukah nenek sihir itu kalau anaknya sedang keluyuran dengan seorang namja. “ahh” lelah sekali rasanya , andai saja eomma masih hidup ,nenek sihir itu dan anaknya tidak akan tinggal dirumah ini.

Hari sudah malam, tepatnya sangat malam. Kulirik jam dinding yang sudah menampakkan pukul 9 malam. Inseo sepertinya belum juga datang. Ah, biarkan saja dia.

Baru saja aku memikirkannya deruman mobil terdengar jelas di telingaku, dengan cepat aku mengintip di jendela, karena kamarku yang terletak di lantai 2 jadi bisa melihat kendaraan yang terparkir di depan rumah.

Kulihat Inseo keluar dari mobil itu dengan pakaian yang bisa dibilang..vulgar. Luhan memeluknya dan mengecup pipi Inseo yang kulihat memerah. Menjijikkan sekali, dan kemudian Inseo masuk ke rumah. Laki laki itu sangat aneh, aku seperti pernah melihatnya..tapi aku tidak tahu dimana.

“Youngminnn…” telingaku hampir saja tuli karena teriakkan itu, itu Inseo. “ne, waeyo?” aku menghampirinya. Ditangannya sudah ada banyak baju kotor. “cucikan ini, besok harus kering” dengan santainya Inseo memberikan baju itu ke tanganku. “aniyo Inseo aku sibuk” “mwo? Kau berani menentangku” “arraseo arraseo” kataku akhirnya.

Dengan berat hati aku membawanya ke belakang. Inseo memang sering menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah, tapi di depan appa dia dan eommanya selalu berlagak baik seakan dia menyayangiku sebagai saudaranya, padahal mereka hanya pura pura.

Udara sangat dingin sampai menusuk kulitku, bagaimana tidak ini sudah jam 9 malam dan Inseo menyuruhku mencuci baju sebanyak ini. Bulan menampakkan seper empat sinarnya, sebentar lagi pasti purnama. Drttt..drttt.. ponselku berbunyi dan aku segera mengambilnya.

“Yeobosseyo”

“Youngmin-ya ini appa” aku terkejut dan senang. “appa kenapa menelfonku?” tanyaku antusias. “appa hanya merindukanmu, dan..appa ingin mengatakan kalau besok appa akan pulang dari Newyork, jadi kau beritahu eommamu dan Inseo ya” aku mendengus, lagi lagi nenek sihir itu.

“ne arraseo, aku akan memberitahunya”

“baiklah Youngmin, saranghae” sambungannya terputus, ada sedikit kekecewaan di benakku. Aku ingin sekali berbincang dengan appa lebih lama, ingin sekali mengatakan kalau aku tersiksa disini, dan aku yakin walaupun aku mengatakan hal itu appa tak akan percaya. Appa lebih percaya dengan nenek sihir itu, dan aku kasihan dengan appa yang sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya jika berhadapan dengan nenek sihir itu.

Hampir setengah jam aku mencuci dan akhirnya selesai. Aku harus memberi tahu nenek sihir itu dan Inseo kalau appa akan pulang besok. Baru saja aku masuk aku melihat mereka berdua duduk santai di sofa sambil menonton, jahat sekali bukan? Mereka bersenang senang sedangkan aku harus bersusah payah menghadapi dinginnya malam demi mereka.

“eomma , aku sudah muak dengan Youngmin itu, kapan eomma akan membereskannya dan appanya itu?” mendengar itu membuatku terdiam di tempat, niatku yang awalnya ingin memberi tahu mereka menjadi hilang. Dan lebih memilih mendengarkan. “sebentar lagi, kau tahu kan kita sudah pernah menghabisi eommanya,jadi eomma kira akan dengan mudah menghabisi appanya dan mengambil kekayaannya, bukankah besok appanya akan ke jepang?”

“jadi eomma akan menghabisinya besok, wah aku sudah tidak sabar”

“pelankan suaramu Inseo, nanti Youngmin mendengar maka rencana kita akan berantakan”

Jantungku benar benar terhorok, entah kenapa tanganku mengepal keras. Ingin sekali aku menghampiri mereka berdua dan melabraknya karena rencana busuk mereka sudah aku ketahui. Tubuhku seketika memanas, Inseo dan nenek sihir itu tertawa puas, yah mereka memang licik dan keji.

Dan atas dorongan apa aku tidak jadi melakukannya, dengan cepat aku berlari ke kamar. Aku membuka ponsel dan menelfon appa. Aku harus memberi tahu appa akan hal ini. Sambungannya benar benar tidak menguntungkanku. Namun sesaat kemudian aku mendengar suara laki laki menjawabnya.

“appa”

“Youngmin-ya waeyo?” tanganku mengejar hebat dan bibirku rasanya kaku untuk mengatakannya. “appa aku ingin mengatakan sesuatu pada appa” aku memejamkan mata, ya aku harus mengatakannya. “memangnya apa yang ingin kau katakan youngmin?” aku mengigit bibir bawah.

“appa eomma dia..

“kenapa dengan eommamu?”

“eomma meninggal karena.. sekali lagi tanganku mengejar, aliran aneh mengalir di sekujur tubuhku membuat bibirku seperti membatu dan sulit mengatakannya. “youngmin apa yang kau katakan?” aliran hangat terasa jelas di pipiku, aku menangis. “appa eomma dia meninggal karena perempuan itu”

“youngmin siapa maksudmu? Dan eommamu dia meninggal karena siapa?”

“perempuan itu appa dia ada di..”

“Youngmin kau sudah selesai” ucapan itu membuatku terdiam dan memutus sambungan secara tiba tiba. Dengan cepat aku menghapus air mata dan berbalik. “ne eomma” kataku ringan. “ah begitu, kau sedang menelfon siapa?” tanyanya sakratis. “aku sedang menelfon appa..katanya besok appa akan pulang” nenek sihir itu hanya mengangguk.

“begitu, baguslah, ingat tidur bukannya besok kau akan piknik dengan teman temanmu” setelah mengatakan hal itu pintu tertutup. Aku menenggelamkan diri di bantal, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada appa. “eomma” gumamku pelan, nenek sihir itu benar benar kejam, dia membunuh eomma dan akan membunuhku dengan appa.

__

Semalaman aku memikirkan hal itu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak terbayang bayang kejahatan nenek sihir itu dan Inseo. Sesaat kemudian appa datang, dia membawa berbagai macam oleh oleh, tentunya Inseo meminta lebih banyak barang denganku, terlihat jelas betapa tebalnya paperbag miliknya dari pada milikku.

Lalu nenek sihir itu, appa membelikannya berbagai macam perhiasan. Tanganku mengepal lagi, mereka dengan begitu baiknya appa , dengan begitu penuh perhatiannya appa , mereka masih tetap memiliki pikiran keji seperti itu.

“yeobo bukannya kau akan ke Jepang?” nenek sihir itu bertanya pada appa. Appa tampak menimang nimang. “aku sudah ada janji check up ke dokter Kim” aku menangkap kegelisahan di mata appa. Tapi nenek sihir itu masih bergelayut manja di lengan appa. “aniyo yeobo bukannya check up bisa kapanpun, di Jepang juga bisa. Bagaimana kalau kita pergi sedikit lebih cepat kebetulan aku ingin sekali ke Jepang”

Appa hanya bisa mengangguk lemas, aku menyadari satu hal. Sedari tadi di balik wajah ceria appa , wajahnya sangat pucat. “kalau appa tidak enak badan, lebih baik ditunda dulu ke Jepang” aku menghampiri appa, berharap appa akan mendengar kata kataku. “gwaenchanna , appa baik baik saja Youngie” aku mendesah dalam hati.

Nenek sihir itu tersenyum puas, ada rasa ketakutan yang mendalam di benakku. Aku hanya bisa menatap appa nanar, kenapa appa begitu pasrah dengan nenek sihir itu. Sesaat kemudian appa keluar dari kamarnya dengan koper, “youngie appa akan pergi ke jepang dengan eomma, bukahkah kau dan Inseo juga akan piknik”

Aku mengangguk dan memeluk appa, “appa tolong kembalilah dengan selamat” aku menangis lagi, appa terkekeh pelan melihatku. “youngie kau kenapa menangis? Appa hanya pergi 2 atau 3 hari bukan untuk selamanya” Appa tersenyum padaku , aku sesak sekali. Aku takut dan khawatir, andaikan aku bisa mengatakan yang sebenarnya.

“appa aku akan menjaga youngmin eonnie dengan baik kok, tenang saja appa” kurasakan Inseo memegang lenganku. Aku kesal dengannya yang selalu bertingkah baik hanya di depan appa. “anak baik, kalau begitu appa bisa pergi sekarang” nenek sihir itu datang dan juga masuk ke mobil audi hitam appa setelah sebelumnya menatapku sinis.

“appa hati hati”

Setelah mobil appa tidak terlihat lagi Inseo mendorongku. “heh cepat rapikan barang barangku, awas saja kalau tidak ya” aku mengangguk pelan, otakku lemas sekali, padahal baru beberapa saat bertemu appa aku sudah sangat merindukannya.

__

Hari ini sekolah kami memang mengadakan piknik ke suatu wilayah, awalnya aku menolak ikut, tapi Inseo itu memaksaku dan mengancamku. Aku hanya bisa menghela nafas melihat kelakuannya, dia hanya menumpang di rumahku dan eommanya juga, dan dia tidak pernah menganggapku saudaranya.

“bawakan ini” aku sedikit berjengit, tanganku sangat pegal membawa tas ransel Inseo.

Aku melihatnya mengobrol dengan teman temannya, tanpa memperdulikan keadaanku. “ah kau kan Woo youngmin” aku berbalik, ternyata Luhan. Kurasa dia benar benar namja chingu Inseo, dan kenapa dia memanggilku seperti itu? “ne” kataku ringan dan menjauhinya, karena aku malas berelasi dengan orang orang yang berhubungan dengan Inseo.

Beberapa jam kemudian kami sampai di daerah Gyeonggu, tempatnya sangat terpencil. Kami sempat melihat hutan yang lebat di perjalanan. Tapi suasana disini sangat nyaman dan tentunya bebas polusi. Aku terpaksa harus berbagi tempat karena ternyata aku satu tenda dengan Inseo, menyebalkan.

Belum saja kami sampai di tenda Inseo sudah menyuruhku merapikan tempat peristirahatan kami dan dia pergi entah kemana. Dengan malas aku memasuki tenda itu, membersihkannya , merapikannya walaupun aku tidak rela melakukan hal itu.

Setelah itu aku keluar, betapa terkejutnya aku menemukan seseorang melipat tangannya. Dia menatapku tajam, matanya seperti mengeluarkan cahaya merah, tapi terlihat samar. “Luhan” dia mendekatiku. Aku sontak menjauh. “Inseo dia tidak ada disini” kataku dan bergegas pergi sebelum tangan Luhan menghalangiku.

“kau tidak mengenalku?” aku berjengit. “mengenalmu? Kau bukannya namja chingu Inseo?” dia menggeleng. “bukan itu maksudku tapi..”

“oppa kau disini” Luhan melepas tangannya. Aku berbalik dan melihat Inseo tengah berjalan ke sini. “oppa padahal aku mencarimu tadi” Inseo menatapku curiga dan sinis. “aku hanya berjalan jalan, aku kira kau disini” aku sudah muak dan pergi dari sana, dasar pasangan aneh.

_

Bintang bintang bertaburan di langit, sangat indah, dan aku merindukan eomma. Rasanya sudah lama aku diam seperti ini, aku malas masuk ke tenda, malas bertemu dengan Inseo. Maka dari itu aku memutuskan untuk duduk di luar seperti ini. Benar, bulan sudah sepenuhnya bulat, sekarang purnama.

“akh” aku memejamkan mata dan memegang dadaku. Rasanya kenapa seperti ini? Seperti ada yang ingin aku keluarkan, tapi sangat sulit mengeluarkannya. “Luhan” aku mengerjapkan mata, tiba tiba saja laki laki itu berdiri di hadapanku. “keluarkanlah” “apa?” dia menatap langit, “jadi kau benar benar melupakanku?” matanya mengeluarkan kilatan merah lagi.

Aku membulatkan mata sangat heran. “kau bicara apa? Melupakanmu? Bahkan mengenalmu saja baru tadi” dia terkekeh seperti meremehkanku, entah apalah. Srett.. sebuah benda tepat mengenai kepalaku. “ini..” “pakailah, kau pasti akan mengenalku suatu saat” dia tersenyum dan meninggalkanku.

Aku masih mematung, kenapa benda ini tiba tiba mengenai kepalaku. Dan ini.. “Kalung” kalung perak ini sangat aneh, dan bandulnya berbentuk bulatan metalic. “Youngminnn..” aku berbalik dan melihat Inseo baru saja bangun. “ada apa?” tanyaku gugup, apa dia tadi melihat kejadian itu? semoga saja tidak.

“antarkan aku buang air kecil”

__

“tunggu aku disini” aku mengangguk, hutan ini sangat seram. Tidak ada penerangan sama sekali. Aku menggosokkan kedua tangan, dinginnya benar benar ekstrim. Perlahan sesuatu yang berjalan sangat cepat membuatku bergidik. “siapa?” tanyaku pelan. Sosok itu tidak muncul, ah mungkin hanya halusinasiku saja.

Aku berbalik tapi tidak menemukan Inseo, membuatku heran. “Inseo” tidak ada jawaban. “seo-ah kau dimana?” aku menyusuri tempat itu. Bagaimana kalau Inseo tersesat? Nenek sihir itu pasti akan membunuhku. “seo-ah argghh” sesuatu yang basah dan licin membuatku tergelincir dan jatuh.

“akh” kakiku terkilir sepertinya sangat sakit. Tiba tiba seseorang seperti mengangkatku cepat dan menurunkanku ke tempat yang lebih layak. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena langkahnya sangat cepat, bagaikan kilat. “siapa kau?” tanyaku samar samar melihat sosoknya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas namun aku yakin dia pasti laki laki.

“gwaenchanna?” alih alih menjawab pertanyaanku dia malah balik menanyakan keadaanku. “kau siapa?” aku mulai gugup, takut takut dia adalah mahluk gaib penghuni hutan ini. “ah aku sebenarnya..”

“Kai” laki laki dihadapanku menoleh ke sumber suara, dan aku juga. Satu lagi sosok laki laki membuatku takut. “sedang apa kau disini?” tanya laki laki itu. “hyung aku sedang membantu gadis ini dia terkilir”

“sebenarnya siapa kalian?” tanyaku mulai jengah. “untuk apa kau menolong seorang manusia?” apa yang dia katakan?. “hyung, setidaknya tolong dia sebentar, tadi aku melihat dia ditinggalkan temannya” aku mengerutkan dahi. Ditinggalkan teman, maksudnya apa Inseo meninggalkanku. Cih, aku sudah menebaknya.

“baiklah sini mana kakinya” “akh” aku mengerang tertahan saat kakiku tiba tiba saja di tariknya. “yak pelan pelan sedikit ini sangat sakit” dasar laki laki kasar. Dia seperti mengurut kakiku, rasanya benar benar sakit dan aku menangis. “akh sakit sekali” “tahan sebentar, kau ini cengeng sekali” cih, dia tidak bisakah mengerti perasaan wanita.

“hyung , benar apa yang dikatakan gadis ini, menurutku wanita memang lebih peka dari pada pria” laki laki yang tadi menolongku menyerukan hal itu. Tapi walaupun begitu urutan dari laki laki satunya tetap kasar. Membuatku harus menggigit bibir bawah menahan sakitnya.

_

Baekhyun Pov

Dasar gadis cengeng, baru saja ku mengurutnya seperti itu dia sudah menangis. Lagipula kenapa Kai menolong seorang manusia. “hyung , benar apa yang dikatakan gadis ini, menurutku wanita memang lebih peka dari pada pria” aku mendengus perlahan. Gadis itu tampaknya memang kesakitan , samar samar aku lihat dia menggigit bibir bawahnya.

Dadaku terasa hangat , rasanya aku mengenal gadis ini, ada rasa kerinduan yang sangat dalam. Aromanya aku seperti mengenalnya, hanya saja pikiranku seakan buntu saat memikirkan hal itu. “hyung sepertinya kita harus mengembalikan gadis itu, kasihan dia” aku mengangguk, lagipula kulihat gadis itu seperti kelelahan.

“hei, kau tinggal dimana?” tanyaku. “ya hyung kau ini , dia kan seorang wanita” lagi lagi Kai membentakku. “arra, agashi kau tinggal dimana?” tanyaku. “seingatku tempatnya tidak jauh dari sungai , ya aku ingat itu”

“ah aku tahu hyung, baiklah kami akan mengantarmu, hyung cepat terangi jalan ini” Kai menyenggol lenganku. “arraseo” aku mencoba mengeluarkan cahaya dari tanganku, tapi anehnya tak ada apapun yang keluar, aku hanya bisa terdiam, kenapa kekuatanku seakan musnah.

“hyung, cepatlah” aku menggeleng. “tidak bisa” “mwo? Maksudmu kekuatanmu hilang” aku menggeleng, pasti ada yang tidak beres. “kalau begitu hyung, kau saja yang menggendongnya ya, aku hafal arah tempat itu”

“mwo? Menggendongnya andwae”

“hyung cepatlah” aish, aku melihat gadis itu juga kaget. Aku membelakanginya dan sedikit membungkuk. “naiklah” sepertinya gadis itu berfikir dan sesaat aku merasakan tangannya berada di bahuku dan aku menggendongnya, cih dadaku bergetar entah kenapa. Ada apa ini sebenarnya?

“sepertinya kita harus ke kiri melewati semak itu, dan..”

“yak cepat kau jalan, aku akan mengikutimu, cepat..” bentakku padanya yang sedari tadi hanya mengoceh.

“hehehe mian hyung , lagipula ekspresimu mengangkat seorang gadis lucu sekali” kalau saja aku tidak mengangkat gadis ini mungkin aku sudah menjitaknya, berani sekali dia menggodaku seperti itu.

__

Author Pov

Hampir satu jam youngmin seperti ini, penampilannya jauh dari kata rapi ataupun bersih, sangat berantakan. Matanya teralu sembab, kosong dan memilukan. “appa” lirihnya lemas. Ia masih terkejut dan tidak menyangka. Menatap nanar orang orang yang hilir mudik memasuki rumahnya.

Mengangguk pasrah saat orang orang menatapnya iba, toh juga tidak ada yang berubah. Appanya tetap tertidur disana, dan tidak akan pernah bangun. Air matanya semakin menggenangi wajahnya , pikirannya kosong.

“kau harus sabar young-ah” Youngmin mengangguk pelan, ia mencoba tersenyum walaupun tidak sepenuhnya berhasil. “terima kasih ajhumma” ajhumma itu mengelus pundaknya pelan. Setidaknya lebih baik dari pada eommanya yang menangis tapi ia yakin tangisan itu palsu.

“harusnya aku sadar appa menderita penyakit itu, harusnya aku bersikeras melarangnya pergi ke Jepang” gumam Youngmin, ajhumma itu hanya mendengar tanpa memberi respon apapun, ia tahu Youngmin perlu mengeluarkan semua isi hatinya yang terpendam.

“mianhaeyo young-ah ajhumma tidak bisa mengurusmu, ajhumma yakin Nam Yeorin akan menjagamu dengan tulus” youngmin mendesah dalam hati, perempuan itu bukan menjaganya, tapi memperlakukannya kurang lebih seperti pembantu. “ajhumma tidak bisakah aku tinggal di rumah ajhumma?” ajhumma itu menggeleng.

“maafkan ajhumma youngmin” youngmin mengangguk pasrah, ia hanya bisa menunduk menatap peti itu untuk terakhir kalinya. “appa tenanglah di alam sana”

__

Youngmin Pov

Aku sendiri, ya sekarang siapa lagi yang bisa mempercayaiku. Appa, dia sudah meninggal seminggu yang lalu. Kamar ini sangat sempit, bahkan barang barangku tergeletak berantakan saking sempitnya. Nenek sihir itu dan Inseo memaksaku untuk pindah ke kamar..pembantu. “eomma appa” terkadang kehidupan begitu tidak adil, kenapa tuhan tidak mengambilku saja agar aku bisa bersama mereka lagi.

“Youngminnnnn…” aku sudah muak mendengar teriakkan itu, aku membuka pintu keras dan menghampiri nenek sihir itu. “cepat kau buatkan aku jus jeruk dan Inseo juga, gulanya jangan teralu banyak, pastikan juga agar jangan teralu asam, arraseo?” aku hanya bisa mengangguk, rasanya benar benar rendah.

Setelah membuatnya aku segera menaruhnya di ruangan TV, mereka ada disana dengan santainya menonton tanpa sedikitpun memperhatikanku. “Ya! Eomma kenapa jeruknya sangat asam” kudengar Inseo mengomel tepat di hadapanku. “bagaimana kau ini youngmin?” aku menunduk.

“mianhae aku tadi kelelahan” kataku pelan. Sesaat kemudian sesuatu yang dingin mengguyur permukaan kepalaku. Bau asam jeruk menyengat di hidungku, mereka tertawa puas melihatku seperti ini. Aku tidak tahan, mengepalkan tangan meredam semua emosiku.

“rasakan, begitulah akibatnya apabila kau tak becus” mataku memanas, aku ingin menangis tapi tak pantas aku menangis di depan mereka. Aku akan semakin rendah.

“apa kalian sudah puas melihatku seperti ini?” kata kata itu keluar begitu saja dari mulutku, seperti bom waktu yang aku tanam sejak lama, dan aku mengeluarkannya sekarang. “kalian…kalian dengan kejamnya membunuh appa dan eomma dan sekarang menyiksaku”

Mereka tampak kaget dengan perkataanku. “youngmin apa yang kau bicakan ah dasar..” aku menghalang tangan Inseo yang sepertinya ingin menamparku. Aku menghempaskan tangannya kasar, aku tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka. “kalian ingat, aku..aku masih memiliki 80% harta kekayaan appa!!”

Degg.. aku seperti kehilangan kesadaranku saat sesuatu yang keras mengenai kepalaku. Rasanya sakit sekali, bau anyir merebak sampai membuatku lemas. Kakiku lemas terjatuh, dan semuanya gelap..

__

Author Pov

“eo..eomma d-d-dia” tangannya bergetar saat kayu itu jatuh. Tubuh Youngmin tergeletak tak berdaya. Kepalanya penuh dengan darah. “dia meninggal eomma eothoke?” Yeorin menggeleng geleng. “tidak..tidak bukan kita yang membunuhnya, dia..dia bunuh diri” mereka berdua terduduk lemas di sofa. Tubuhnya bergetar hebat dan ketakutan menghantuinya.

“kita harus membuangnya Inseo-ah , kita harus menghilangkannya agar tidak ada yang tahu” Youngmin diseretnya sampai ke mobil menyisakan ceceran darah segar di lantai. Mereka menaruhnya begitu saja di bagasi dan melesat dengan kecepatan penuh.

“Gyeonggu, di hutan ini pasti tidak ada yang menemukannya” Inseo hanya mengangguk, Yeongmin diangkatnya dan di gulingkannya begitu saja di jurang yang curam, tidak peduli dengan cuaca dan bahaya binatang buas yang mengancamnya, karena pikiran mereka hanya satu, yeongmin sudah meninggal.

__

Sinar matahari memasuki ruangan yang sangat indah ini. Aroma bunga matahari menyeruak masuk ke sela sela ruangan. “ergh” “hyung” mereka tampak kaget saat gadis itu membuka matanya perlahan dan menggeliat pelan. “dia sudah bangun?” “molla, tapi sepertinya sudah” Suho menghembuskan nafasnya lega.

Gadis itu membuka matanya perlahan, dan betapa kagetnya dia berada di ruangan ini. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, menemukan 2 orang laki laki menatapnya dalam.

“kau sudah bangun?” gadis itu tidak menjawab, malah terdiam dan menyentuh perban yang membalut kepalanya. “dimana aku?” tanya gadis itu linglung. “kau ada di tempat yang aman” kata Suho dan diikuti dengan anggukan Kyungsoo. “kau tenang saja, kau aman disini” gadis itu menggeleng.

Dia terlihat semakin bingung, “akh” erangnya pelan. Kepalanya begitu sakit untuk mengingat apapun. “siapa namamu?” tanya Suho kembali menatap gadis itu. “aku..aku tidak tahu siapa namaku”

To Be Continued..

Preview Next Chapter

Dimana aku sekarang berada? Siapa aku sebenarnya? Pikiranku semakin pusing saat aku memikirkan jati diriku. Entahlah, hanya saja aku mendapat kehidupan baru disini. Di dunia yang jauh dari dunia manusia, bahkan manusia tidak bisa menembusnya. Tidak ada manusia yang bisa masuk ke tempat ini tanpa memiliki kekuatan. Dan aku..selama aku disini tidak ada satu kekuatanpun yang muncul.

Seperti Suho oppa yang bisa mengendalikan air, Kyungsoo oppa yang bisa mengendalikan tanah seperti Demeter. Chanyeol oppa dengan kekuatan flamenya. Kai oppa dengan teleportasinya, dan Baekhyun yang bisa memancarkan cahaya..katanya. Tapi aku tidak pernah melihat jelas bagaimana kekuatannya. Baekhyun terlalu dingin padaku.

Dan saat itu aku menemui seseorang, aku langsung menyukainya, hidupnya seperti terpuruk dan memilukan. Tapi akankah dia mengetahui perasaanku nantinya?

Note : ini ff Fantasy pertama saya, maunya sih buat Oneshot tapi kepanjangan ternyata. Maaf banget di part ini belum keliatan jelas fantasy nya , tapi di part kedua ketiga udah mulai ada fantasy. Enjoy Reading 😉

Iklan

51 pemikiran pada “Foreigners (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s