Den (Chapter 4)

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [Author] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO];

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO];  find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Fanfict             :

Chapter 3

“Aku menyayangimu, Sungie,” ucapnya lembut.

Chapter 4

                ~Hyosung’s Point Of View~

Entahlah. Kecupannya di keningku tadi membuatku tak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran hari ini. Semua yang aku pikirkann hanyalah tentang dia, Jongin Oppa, seorang namja yang diam-diam aku sukai. Entahlah, aku rasa aku mencintainya. Aku tidak bodoh untuk mengerti diriku sendiri, mengerti perasaanku, hanya saja terkadang aku menyangkalnya.

“Kim Hyosung, kau mau ikut bersama kami?” Lee Haneul. Salah satu temanku mengajakku.

  Beberapa menit yang lalu kumpulan yeoja di kelasku sedang membicarakan tentang kencan buta. Aku hanya ikut mendengarkan dan tidak ikut untuk membuka suara sedikitpun.

“Molla, aku tidak tertarik,” ucapku.

“Ayolah, kali saja kau dapat bertemu namja yang baik dan bagaimana kalau ternyata itu jodohmu?” paksa Haneul.

“Ani, lagipula aku sudah menyukai seseorang, aku tidak mau ikut kencan buta seperti ini,” jawabku. Aku memang sedang menyukai orang lain.

“Kau menyukainya, belum tentu dia menyukaimu, peluangmu untuk memilikinya itu sedikit, ayolah kau masih menyukainya, kau belum berpacaran ‘kan dengannya?” desak Haneul.

Aku terdiam. Peluangku untuk memilikinya itu hanya sedikit, atau mungkin tidak ada sama sekali. Akhirnya dengan hembusan nafas berat aku menganguk ke arah Haneul. Tampak sekali dia tersenyum senang.

                Aku melirik ke arah Jongin Oppa yang tengah berkutat dengan laptopnya, memastikan ia benar-benar terjun ke dalam dunianya sendiri, memastikan waktu yang tepat untukku pergi dari ruah untuk kencan buta. Aku sengaja tidak meminta izin atau sekedar memberi tahunya, entahlah, aku tidak ingin dia tahu aku akan pergi untuk kencan buta, yang berarti kencan dengan namja lain yang belum dikenal.

Aku berdiri dari dudukku lalu berjalan pelan ke arah pintu depan, aku membuka pintu itu pelan dan kembali menutupnya. Aku tersenyum lega. Keluar rumah itu memang hal yang mudah, hanya saja untuk tujuan apa yang membuatnya menjadi sedikit lebih menegangkan atau apapun.

                “Haneul-ah,” panggilku.

“Hyosung-ah? Ah ya, aku sudah ada teman kencan, temanmu ada di sana, kesanalah,” ucap Haneul.

“Aku pergi,” lanjutnya.

Aku melihat ke arah salah satu sudut taman yang ditunjuk oleh Haneul. Aku bisa melihat namja itu. Namja yang tengah membelakangiku sambil duduk. Aku berjalan perlahan ke arah namja itu. Aku sedikit tertegun ketika aku merasa familiar dengan bentuk tubuh namja itu, sepertinya aku mengenalnya. Kuberanikan diriku untuk menepuk pundak orang itu. Orang itu menoleh ke arahku dengan cepat. Aku membelakkan mataku ketika kulihat namja itu. Dia pun juga melakukan hal yang sama.

“Hyosung?” sahut namja itu.

Sedangkan aku hanya bisa diam menatap namja itu. Aku berpikir apa yang harus aku lakukan. Apakah aku pergi sekarang atau apa?

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“A-Aku menemuimu,” jawabku gugup.

“Ah, kau jadi teman kencanku?” tanyanya lagi.

Aku hanya bisa menganguk canggung, mataku tak lepas dari matanya yang berbinar itu.

“Jongdae-ssi, aku mohon jangan bilang kepada Oppaku kalau aku ikut kencan buta ya?” pintaku seketika.

Entahlah, hal itu yang ada di pikiranku pertama kali. Jongdae, namja itu, dia bisa saja bilang kalau aku melakukan kencan buta. Aku tidak mau.

“Eh?” Dia terlihat keheranan.

“Aku kemari tidak bilang apapun padanya,” ucapku merendah.

Jongdae terdiam. Aku menatapnya dengan tatapan memohon. Sedetik kemudian dia tersenyum ke arahku, tanda dia tidak akan bilang apapun kepada Jongin Oppa. Aku membalas senyumannya dan kemudian ikut duduk di sebelahnya.

“Sebenarnya kenapa kau tidak mau kalau Jongin tahu?” tanya Jongdae.

“Entahlah, aku hanya tidak mau,” jawabku asal.

“Apakah kau takut dimarahi olehnya?” tanyanya lagi.

“Mungkin.”

“Kalau dia marah, atas dasar apa dia memarahimu? Kau ikut kencan buta seperti ini, itu untung dan ruginya ada di dirimu, apakah kau takut kalau Jongin akan memarahimu karena dia tahu kau berjalan bersama namja lain dan itu bukan dirinya?”

Aku terdiam. Serasa ucapan Jongdae adalah panah yang menghujam hatiku saat ini. Aku hanya memapu menatap matanya yang terlihat santai itu.

“Kalau dia Oppamu, dia tidak akan marah kalau kau jalan dengan namja lain, kalau dia marah berarti namja lain itu tidak disukai oleh Jongin, dan kalau aku namja lain itu adalah aku, mungkinkah dia akan marah?”

“Mungkin saja, Jongdae-ya.”

“Atas dasar apa? Cemburu?” tanyanya.

Aku menatapnya takut. Apa dia tahu apa yang telah kami lakukan. Melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan sesama saudara kandung.

“Kau tidak terbiasa dengan perlakuannya Hyosung-ah, dulu kau hidup tanpa kasih sayang seorang Oppa, kau memiliki seorang Oppa tapi kau tidak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang Oppa, kini Jongin bertingkah seperti itu, kau mendapat cinta yang sebelumnya tak pernah kau dapat, kau sudah cukup dewasa, hatimu yang tidak terbiasa itu, kini mulai mencintai orang yang memberikan cinta itu, kau mengerti maksudku?”

Aku hanya menatapnya datar. Intinya, aku menganggap kasih sayangnya adalah kasih sayang seorang ‘namja’ bukan ‘oppa’.

Kringg!!

Suara bel menghentikan lamunanku. Tak lama, semua orang sudah berhamburan keluar kelas dengan semangat mengingat pelajaran hari ini sudah berakhir. Aku berjalan gontai ke luar kelas.

“Mwo? Siapa dia? Sangat keren.”

“Lihat saja mobilnya, sangat keren.”

“Namja tampan, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, siapa dia?”

“Apakah salah satu namjachingu murid sekolah sini? Beruntung sekali.”

Semua orang terdengar riuh dan memusatkan pandangan mereka ke seorang namja yang tengah bersandar di sebuah mobil sport di halaman parkir sekolahku. Aku menatap namja itu. Jongin Oppa?

Aku terpaku di tempatku. Entah mengapa, setelah mengetahui orang yang barusan dipuji oleh orang-orang di sekitarku, hatiku menjadi panas. Aku merasa tidak suka jika ada orang yang mengagumi Oppaku. Padahal itu biasa saja, mengetahui Jongin memang tampan dengan kulit yang agak lebih gelap daripada orang korea pada umumnya.

Jongin Oppa melambaikan tangannya padaku. Aku terdiam di tempat. Kurasakan semua orang melihat ke arahku sekarang. Aku takut. Dengan cepat, aku berlari ke arah Jongin Oppa, dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia terlihat heran, namun aku membiarkannya dan sedikit berteriak padanya untuk segera masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan kami hanya diam, aku tidak menggubris sama sekali apa yang dia ucapkan, aku hanya sesekali menaikkan bahu untuk menjawab apa yang ia tanyakan. Aku masih merasa kesal melihat teman-temanku memuji Jongin Oppa, dan aku yakin tidak sedikit dari mereka yang mulai jatuh cinta dengan Jongin Oppa.

“Wae, Sungie? Kau terlihat kesal? Apakah seseorang membuatmu kesal?” tanyanya.

Aku hanya mengangkat bahuku. “Ne, kau orangnya,” batinku.

“Ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku rasa aku bisa menghilangkan kekesalanmu,” tawarnya bersemangat.

Ya, ide bagus. Entah, aku senang sekali mendengar tawarannya, aku akan jalan-jalan dengan Oppa, hanya berdua! Aku mengangukkan kepalaku pelan, meskipun dalam hatiku aku berteriak kegirangan. Aneh sekali aku ini? Tadi aku kesal, sekarang aku senang. Oh, perasaan apa ini?

Aku berjalan di sekitar jalan Pojangmacha, aku mencari kedai yang kira-kira tidak terlalu ramai. Namun, semua kedai terlihat penuh, hingga tidak ada tempat duduk tersisa.

Aku merasakan hangat di tangan kananku. Pandanganku yang semula mengedarkan ke sekitar teralihkan ke arah tanganku. Kulihat tangan Jongin Oppa sudah menggenggam tanganku erat. Mataku beralih lagi ke arah Jongin Oppa, dia terlihat tersenyum senang tidak mendapat perlawanan dariku untuk melepas genggaman tangannya. Aku tersipu malu mendapat perlakuan seperti itu.

“Oppa-ya! Aku malu, ada banyak orang di sini,” ucapku jujur.

“Aku kan Oppamu, kenapa harus malu?” tanyanya.

Aku terhenyak. Apa yang ia katakan benar. Dia Oppaku, aku dongsaengnya, dan tidak ada yang salah jika dia memegang tanganku ‘kan? Kenapa aku harus malu?

“Sungie. Itu kedainya sepertinya tidak ramai.” Jongin Oppa menunjuk ke suatu kedai.

Aku menganguk dan dia menggenggam tanganku makin erat dan menyeretku masuk ke kedai itu. Kami duduk tepat di depan tempat sang penjual memasak, mengingat ini adalah jalanan ini dipenuhi pedagang kaki lima, maklum saja kalau setiap kedai hanya memiliki tempat yang kecil.

Kami berdua memesan Chicken nugget yang menjadi satu-satunya menu disana selain beragam minuman yang disediakan. Tak lama, pesanan kami sudah jadi. Aku melahap makanan itu sedikit cepat. Aku memang lapar.

“Kalau makan pelan-pelan, Sungie.” Jongin Oppa melihatku makan sambil memperingatiku.

“Aku lapar Oppa,” ucapku kesal karena acara makanku diganggu.

“Arraseo,” ucapnya.

Aku melanjutkan acara makanku kembali. Sesekali aku melirik ke arahnya, dia tampak diam saja sambil menikmati makanannya.

“Kenapa memperhatikanku seperti itu?” Matanya masih terpaku ke makanannya.

“Ani,” ucapku cepat.

“Ada apa? Kau tampak gelisah.”

Aku terdiam. Perkatannya benar, aku gelisah, aku bingung jika mengingat-ingat bagaimana Jongin Oppa bisa baik dan perhatian padaku, berbeda dengan sebelumnya. Aku sempat mencurigai kalau dia adalah makhluk alien yang sengaja dikirimkan untukku untuk menyelamatkan aku dari sikap Jongin Oppa, namun aku cukup sadar kalau itu sangatlah tidak mungkin. Aku gelisah akan sikapnya, namun aku juga tidak mengingkari kalau aku merasa senang diperlakukan seperti itu.

“Apakah kau pernah jatuh cinta, Oppa?” tanyaku ragu.

“Hmm, pernah,” jawabnya santai.

“Seperti apa rasanya?” tanyaku.

“Susah menjelaskannya. Hmm, mungkin kau akan merasa senang jika berada di dekatnya, kau merasa lupa diri jika berada di dekatnya, kau akan melupakan statusmu dengannya jika kau berada di dekatnya, kau akan susah menahan dirimu untuk tidak menyentuhnya.”

Jongin Oppa melontarkan kata-kata itu dengan  menatapku tajam. Serius, itulah yang dapat kugambarkan. Aku hanya menganguk kecil lalu melanjutkan makanku, meskipun aku bisa melihat dari sudut mataku Jongin Oppa masih menatapku dengan tatapannya seperti tadi.

Aku tergeletak di sofa ruang tengah. Aku capek, aku jalan-jalan dengan Jongin Oppa sampai hampir malam. Namun, aku masih ingin menonton televisi.

“Sungie-ya! Katanya capek, kenapa tidak langsung istirahat saja?” Jongin Oppa ikut duduk di sebelahku.

“Aku masih ingin menonton televisi, Oppa,” ujarku singkat.

“Geurae, aku temani saja,” sahutnya.

Aku hanya mengiyakan saja. Aku mulai menonton drama yang aku kira bagus.

“Omo!” pekikku, aku menyadari kalau aku masih belum ganti baju, seragam sekolah masih melekat di tubuhku.

“Sebentar, Oppa, aku ke kamar dulu,” ujarku.

“Chakkaman!”

Jongin Oppa menarikku duduk kembali ketika aku hendak berdiri. Mengakibatkan aku sedikit terpental ke arah Jongin Oppa karena sofa yang lumayan empuk ditambah dengan gaya tarikan tangan Jongin Oppa. Dan inilah sekarang, tubuhku sedikit menindih tubuh Jongin Oppa, membuat jarak kepala kami sangat dekat. Aku menatap matanya yang menatapku terkejut, begitu pula denganku.

Namun pandangan matanya berubah menjadi lurus ke arahku namun lembut. Aku hendak membetulkan posisiku, namun tangan Jongin Oppa menahan lenganku untuk tidak bergerak.

“O-Oppa,” ucapku gugup.

“Disini saja, nikmati saja dramanya,” ucapnya lembut.

Aku terlonjak ketika Jongin Oppa mengangkat tubuhku hingga kini aku duduk di pangkuannya. Aku duduk menyamping, hingga kau bisa melihat wajahnya yang tampan itu. Pandangan matanya masih lembut dan meneduhkan. Aku masih terdiam, hingga kurasakan tangan Jongin Oppa memegang kedua pipiku, terasa hangat. Tangannya turun ke leherku, tubuhku bergetar ketika kulitku saling bersentuhan dengan kulitnya. Aku memejamkan mata menikmati kehangatan tangannya itu.

Kurasakan bibirku basah lagi, dia menciumku lagi. Kali ini ciumannya hanya sebuah kecupan yang tidak terlalu lama, ciuman yang tidak menuntut, ciuman yang lembut dan hangat, membuatku ingin merasakan bentuk bibirnya lagi.

“Oppa,” lirihku ketika dia melepaskan ciumannya.

“Ne?” tanyanya.

“Kau terlalu sering menciumku,” keluhku jujur.

“Wae? Kau tidak suka?” tanyanya.

“Bukan begitu, hanya saja-.” Aku terdiam, aku bingung harus bagaimana mengungkapkannya.

Aku memilih untuk memejamkan mata daripada melanjutkan perkataanku, kuletakkan kepalaku hingga menempel ke dadanya, setidaknya ini membuatku nyaman. Jongin Oppa, ingin sekali kukatakan padamu bahwa aku masih memikirkan ikatan darah antara kita.

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, berusaha menyesuaikan mataku dengan cahaya matahari yang mulai masuk melalui jendela. Kurasa hangat menjalar di seluruh tubuhku. Apa ini?! Oh, aku berada dalam dekapan seseorang?! Sedangkan aku sedang melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Kudongakkan kepalaku, Jongin Oppa terlihat sedang tertidur pulas sambil mendekapku. Aku bernafas lega mengetahui itu adalah Jongin Oppa. Cukup lama aku memandangi wajahnya dari posisiku, aku mengagumi setiap lekuk wajahnya, kenapa dia dilahirkan begitu sempurna di mataku? Aku menaikkan posisi tidurku, hingga kepalaku sejajar dengan kepalanya

Aku mulai merasa, rasa kasih sayang itu melebihi batas wajar. Ini bukanlah lagi perlakuan yang seharusnya dari seorang Oppa kepada Dongsaengnya. Lebih tepatnya, ini adalah bentuk perasaan yang lebih tepat dilakukan oleh sepasang kekasih. Kalaupun benar aku jatuh cinta padanya? Apakah itu lazim? Apakah itu sah? Apakah itu tidak terlarang? Kalau memang benar aku jatuh cinta, apakah Jongin Oppa merasakan hal yang sama? Atau dia menganggap aku hanya sebagai dongsaengnya? Aku memang dongsaengnya, tapi tidak adakah perasaan spesial seperti apa yang aku rasakan sekarang? Aku tahu ini terdengar gila, namun perilakunya padaku membuatku berani untuk mulai mencintainya.

Aku menatap wajahnya yang tertidur pulas itu, wajahnya begitu damai, tenang, dan tampan. Aku menyentuh hidungnya dengan jari telunjukku, kemudian turun ke bibirnya, bibir itu yang merebut ciuman pertamaku, bibir itu yang aku inginkan pula. Aku ingat betul bentuk bibirnya ketika menempel dengan bibirku, terasa hangat.

“Sampai kapan kau terus menyentuhku seperti itu?” Jongin Oppa membuka matanya tiba-tiba.

Sontak aku menarik kembali tanganku dan kini aku sudah menatap matanya yang menduhkan itu. Dia tersenyum dan merapatkan jarak kami, sofa yang sebenarnya terbilang cukup besar ini tiba-tiba terasa menjadi sempit sehingga membuatku juga ingin merapatkan tubuhku ke arahnya.

“Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Hm?”

“Sebenarnya, kita ini saudara kandung atau bukan?” tanyaku ragu.

Dia hanya tersenyum simpul sambil menatapku. “Tentu saja, wae?”

“Ani, hanya saja, aku merasa ada yang aneh,” ucapku jujur.

“Aneh? Apa yang aneh?” tanyanya.

“Kau. Kau. Kau memperlakukanku seperti kekasih bukan sebagai dongsaeng, dan aku bertanya-tanya, apakah ini wajar, apakah kita ini saudara kandung?” Aku memilih untuk terang-terangan padanya dan kuharap aku tidak semakin gelisah.

“Kau sekolah pagi ini?” alihnya.

Aku tahu dia mengalihkan permbicaraan, aku segera bangkit dari tidurku dan bergegas ke kamarku. Aku berjalan gontai.

“Kita ini saudara kandung, kita saudara kandung, Sungie-ya.” Kudengar suara Jongin merendah. Aku tetap berjalan gontai ke arah kamar dan tak berniat untuk menoleh ke arahnya.

“Hyosung-ah, kemarin itu siapa?”

“Dia itu namjachingumu? Sekolah dimana?”

“Kau beruntung sekali.”

Semua teman-temanku begitu mengelu-elukan Jongin Oppa. Mereka begitu heboh setelah melihat Jongin Oppa menjemputku kemarin. Aku hanya menanggapi mereka dengan anggukan dan senyum yang sedikit terpaksa. Aku tidak suka jika melihat yeoja-yeoja itu tertarik pada Jongin Oppa. Aku tidak suka.

~Jongin’s Ponit Of View~

“Kau bertemu dengannya?” tanyaku dingin pada namja yang kini tengan duduk di depanku.

“Ne. Aku menceritakan semuanya,” jawab namja itu, Jongdae.

“Kau tidak menceritakan semuanya ‘kan?” tanyaku mulai panik.

“Aku menceritakan semuanya, namun aku tidak menceritakan 1 hal itu.” Dia berujar setelah menyeruput teh yang ada di depannya.

“Syukurlah kalau begitu,” ucapku lega.

Jongdae sibuk dengan tehnya, dia memang tipikal namja yang menyukai minuman dengan jenis apapun, teh, kopi, atau bahkan soju, dia akan berusaha untuk menikmati setiap tetesnya.

“Kau benar-benar akan melakukan hal itu?” Jongdae tetap memandang ke arah cangkirnya.

“Ne. Bagaimanapun, aku harus melakukannya, sudah perjanjiannya seperti itu,” ucapku mantap.

“Sebenarnya aku menyetujui keputusanmu, Kai-ah,” suaranya melembut.

Jongdae memanggil nama panggilanku, atau bisa disebut nama panggilanku untuk semuanya kecuali keluargaku. Mungkin itulah salah satu cara untuk menyembunyikan kalau aku ini bermarga Kim. Aku dulu memang namja yang rusak, namun sebisa mungkin aku menutupi kalau namja rusak ini adalah anak dari seorang pengusaha besar berpusat di Seoul. Anak dari pengusaha Kim. Aku tidak mau mempermalukan mereka.

“Beberapa hari yang lalu Hyosung bilang bahwa ada seseorang menelpon di rumah, dia mencariku, mengatakan bahwa Hyosung adalah calon istrinya. Syukurlah, Hyosung mengira kalau itu hanya orang gila yang menelpon, namun aku sangat khawatir, Jongdae-ya!” keluhku sambil mengacak-ngacak rambutku.

“Itu pasti dia, kalau aku jadi kau aku juga akan melakukan hal yang sama, namun tidak seperti alasanmu, aku akan melakukannya dengan dasar dia adalah dongsaengku sudah sepatutnya aku melindunginya, sedangkan kau? Kau melakukannya karena kau mencintainya,” ujarnya.

Aku hanya bisa terdiam dan menunduk, apa yang Jongdae katakan memang benar, Jongdae sangat mengetahui tentang diriku, dialah yang mengerti diriku.

“Jongin-ssi, bagaimana kau sudah setuju bukan?” Seorang namja berdiri tepat di meja kantorku.

“Kau?”

“Ne. Kau sudah memastikannya bukan?” tanyanya diikuti dengan seringgai.

“Sudah,” ucapku pelan.

“Baiklah. Kalau begitu, kau harus segera pergi dari sini,” peringatnya.

“Kau juga harus menepati janjimu!” sahutku tegas.

“Tenang saja, aku tidak akan mengambilnya,” ujarnya remeh.

Apapun yang terjadi, aku harus tetap menjaganya. Menjaga yeodongsaengku. Seperti apa yang Appa pesan kepadaku, meskipun itu mengorbankan semua usaha Appa selama ini.

                How is it, readers? ^^~Mianee kalau agak tidak nyambung.  Mianee kalau ternyata Jongin-Hyosung itu saudara kandung,dan maaf kalau ternyata ff ini lama, sebenarnya saya udah mau ngirim pas habis dipublish Chapter 3, eh sayanya sakit, jadi ngirim yang part ini saya tunda T_T Ok, ditunggu commentnya! ^^~ Khamsa~~~

Iklan

70 pemikiran pada “Den (Chapter 4)

  1. lama nunggu ff ini ._.
    sya sebenernya msh gk ngerti sma ceritanya, knp saudara kandung ngelakuin kya gtu?? tp, satu pertanyaan yg udh kejawab : Kai jg suka sma Hyosung..

  2. daebakk bgt thorr! sorry baru komen,hehehehehe……. oh ya ngomong2 KAI ama hyosung cocok bgt! lebih cocok jadi sepasang kekasih daripada adik kakak! oh ya nama temen hyosung yang “lee haneul” sama bgt kaya nama korea aku*gk nanya* pokoknya daebakk thoorrr…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s