Our Past Future Life (Chapter 6)

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Hyora

Support casts   :Lee Chunji, Chanyeol, D.O, Baekhyun, Sehun, Saera and some others.

Genre              : Romance, Angst, Sad

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Summary         :

“No matter how dark your past is, the all I know is that you are my future”

 

(Author’s side)

Kai berjalan gontai memasuki gerbang sekolah. Hari ini ia berangkat sendirian ke sekolah karena Rin bilang Hyo sudah berangkat pagi-pagi sekali.

Masih dengan setumpuk rasa bersalah yang terpendam dihatinya setelah apa yang dia lakuka pada Hyo kemarin, Kai berjalan melewati kelas gadis itu berharap ia bisa melihatnya dalam keadaan yang lebih baik.

Tapi ia salah. Pemandangan yang tidak mengenakkan menyambutnya saat ia tiba di depan pintu kelas Hyo. Disana Hyo terlihat sedang membenamkan kepalanya ke tangannya yang terlipat manis di atas meja. Saat Kai bergerak untuk mendekatinya, entah darimana datangnya, tiba-tiba Chunji sudah berada di samping gadis itu. Tangan Chunji bergerak mengelus puncak kepala Hyo yang perlahan di tegakkan.

Kai tahu persis kalau Chunji melakukan itu dengan sengaja untuk membuat Kai cemburu. Dan itu berhasil. Apalagi saat Chunji menyeringaikansenyum liciknya ke arah Kai yang mematung di ambang pintu melihat kejadian tersebut. Hati Kai benar-benar sudah terbakar api cemburu.

Dengan berat hati Kai melangkah pergi. Ia tak ingin menyaksikan hal yang menyakitkan itu lebih lama lagi. Namun saat ia hampir mencapai pintu kelasnya, seseorang memanggil namanya dari belakang. Chunji.

Namja itu berjalan kearahnya. “Aku ingin bicara berdua denganmu. Temui aku sepulang sekolah di tempat biasa.”

Kai tidak menjawab. Ia terlalu sibuk meredam emosinya agar jangan sampai ia melayangkan tinjunya ke pipi mulus namja itu sekarang juga.

Chunji yang awalnya berjalan menjauhinya tiba-tiba berbalik. “Oh iya, setelah di perhatikan ternyata Hyo cantik juga.” Katanya dengan kembali menunjukan senyum liciknya.

Emosi Kai mendidih. Rasanya ia benar-benar ingin menghajar namja itu sekarang juga dan membuatnya tidak bisa mendekati Hyo lagi. Tapi untungnya akal sehat Kai masih bekerja, ia tidak ingin membuat Hyo bertambah kesal padanya jika ia lepas kendali.

<><><> 

(Kai’s side)

Suasana di tempat ini masih sama seperti terakhir kali aku menapakkan kaki disini. Tempat ini sebenarnya adalah gudang penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai lagi. Dulu aku dan Chunji menggunakannya sebagai tempat kami untuk berkumpul sebelum ataupun sesudah melancarkan aksi balapan dan berkelahi.

Aku melangkah semakin ke dalam. Di bagian tengah, aku melihat cahaya yang berpendar cukup terang. Disana telah berdiri seorang namja yang ku yakin itu Chunji meski kini ia berdiri menghadap kobaran api yang berasal bari ban bekas yang di bakar dan membelakangiku.

Menyadari kedatanganku, namja itu menolehkan kepalanya lalu tersenyum “Kau datang juga rupanya.” Katanya.

Aku berdiri di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Aku tidak pernah meragukan cinta Hyo padamu.”

Aku tersentak karena Chunji menyebut nama Hyo. “Katakan apa maumu?”

“Aku hanya ingin tahu apa kau masih Kai yang dulu, Kai yang jika sudah berada di lintasan balap maka tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya. Kai yang jika sudah sekali saja mengepalkan tangannya, maka tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya.”

Lidahku terasa kelu. Sangat banyak yang ingin ku katakan pada namja ini, tapi tak satupun yang bisa terucap. Dia benar-benar menyulut emosiku.

“Kali ini lawan aku.”

Aku menarik nafas dalam, mencoba menenangkan diriku sendiri. “Aku tidak mau.”

“Kalau begitu akan ku buat Hyo jatuh cinta padaku.”

~Deg~ Baiklah, aku memang sangat percaya bahwa Hyo sungguh-sungguh mencintaiku dan aku percaya dia tidak akan mengkhianatiku. Tapi aku benar-benar tidak bisa percaya pada namja yang sedang berbicara denganku saat ini. Aku mengenalnya. Dia bisa melakukan semua yang terkadang terlihat mustahil demi mencapai tujuannya. Dan mengingat hubunganku dengan Hyo yang sedang merenggang belakangan ini, kemungkinan itu masih ada.

“Bagaimana?”

“Jika aku menang, kau harus berjanji akan menjauhinya.” Akhirnya. Rasa takutku kehilangan Hyo, gadis yang sangat kucintai, membuatku menghilangkan akal sehat dan menerima tantangannya.

“Aku janji.” Katanya.

<><><> 

“Kau serius?” Tanya Chanyeol saat kuberitahu soal rencana duel balapku dengan Chunji.

Saat ini aku berada di rumah Chanyeol bersama Baekhyun, D.O dan Sehun.Aku tidak berharap banyak dari kawan-kawanku ini karena sebenarnya aku bisa menyelesaikannya sendiri dan aku juga tahu kalau mereka tidak punya pengalaman untuk hal-hal semacam ini. tapi setidaknya kehadiran mereka akan membantu mempersiapkan mentalku.

Dari keempat kawanku yang ada disini sekarang, hanya Chanyeol yang tahu masa laluku. Itu pun hanya sekedar tahu dan tidak pernah ikut-ikutan. Dan seperti dugaanku, Baekhyun, D.O dan Sehun, terlihat kaget saat ku ceritakan semuanya dari awal.

“Tidak ada jalan lain.” Kataku saat lagi-lagi mereka menanyakan keseriusanku.

“Tentu saja ada.” Kata D.O. “Kau bisa bicara baik-baik dengan Hyo.” Tambahnya kemudian.

Aku menghela nafas pelan. “Kau pikir aku belum melakukannya?” Sahutku mengingat usaha yang sudah kulakukan untuk bicara pada gadis itu.

Kami berlima duduk termenung di sofa hitam di kamar Chanyeol. Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya aku mengambil keputusan.

“Aku akan melakukannya sendiri kalau kalian tidak mau membantuku.” Kataku sambil beranjak dari dudukku.

“Tunggu Kai…” Langkahku terhenti saat tangan milik Sehun mendarat di pundakku.

“Kami akan membantumu.”Tambah Baekhyun yang disusul anggukan mantap dari kawanku yang lainnya.

<><><> 

Waktunya telah di tentukan. Satu minggu dari hari ini, aku dan Chunji akan melakukan balapan di lintasan dekat markas kami.

Semakin dekat waktu yang dijanjikan, aku dan kawan-kawanku semakin sibuk mempersiapkan semua yang sekiranya harus dibenahi. Sudah tiga hari berturut-turut kami menghabiskan waktu di bengkel milik salah satu kerabat Baekhyun setiap pulang sekolah untuk memodifikasi motorku.

Dengan bantuan keempat kawanku ini, motorku yang sudah cukup lama tidak kukendarai itu telah kembali menjadi motor balap seperti dulu.

<><><> 

(Author’s side)

Suara deruan mesin motor meraung memekakkan telinga. Kepulan asap yang berasal dari knalpot motor besar itu pun sudah memenuhi atmosfir di sekitar lintasan.

Kai menatap tajam kearah Chunji yang sedang berkumpul dengan kelompok barunya. Wajah-wajah mereka memang tidak asing bagi Kai, mereka adalah Ricky, L.Joe, Niel dan Changjo, orang-orang yang dulu merupakan rival Kai dan Chunji.

“2 lap saja.” Kata Chunji sambil berjalan mendekati Kai,Chanyeol, Baekhyun, D.O dan Sehun yang sedang memeriksa kesiapan motor hitam Kai yang akan digunakan untuk balapan kali ini. “Dengan start dan finish di tempat ini.”

Chunji mengulurkan tangan kanannya, siap menjabat tangan Kai sebelum balapan dimulai. Dengan tanpa ragu sedikitpun, Kai menerima uluran tangannya.

“Semoga beruntung.” Kata Chunji lalu berbalik menuju motornya.

Kini keduanya Sudah berada di atas motor masing-masing. Memutar gas sedalam mungkin agar mengeluarkan suara yang menggema.

Ricky berperan sebagai orang yang memberi aba-aba untuk balapan kali ini. ia berdiri di tengah lintasan diantara Kai dan Chunji dengan syal hitam di tangannya. Setelah menanyakan kesiapan dua orang yang akan berduel malam ini, Ricky mengangkat syal itu tinggi-tinggi, lalu saat hitungan ketiga syal itu pun terlepas dari genggamannya. Dan seketika itu pula dua motor yang sedari tadi menyuarakan deru suara masing-masing segera melesat dengan kecepatan yang luar biasa.

<><><> 

Dengan malas Hyo membuka selimut yang menutupi seluruh badannya saat terdengar nada dering ponselnya berteriak-teriak memanggilnya. Beberapa digit nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar.

“Yeobuseo?”

“Ne, Yeobuseo. Hyo? Aku Saera.” Jawab suara di seberang sana.

“Ah, ne Saera, apa kab…”

“Hyo, aku mau bilang sesuatu padamu.”Suara Hyo terpotong setelah si penelpon yang ternyata sahabat lamanya itu memotong kata-katanya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Emh… ada apa? Sepertinya serius sekali.” Perasaan Hyo mulai tidak enak.

“Eung… Aku yakin Baekhyun akan sangat marah padaku, tapi kau sahabatku, aku harus memberitahumu.” Kata Saera bertele-tele.

“Iya aku tahu. Tapi soal apa? Cepat katakan…” Hyo tidak sabar karena sahabatnya itu tidak langsung memberitahu yang sebenarnya.

“Eum… Kai…”

“Kai? Ada apa dengan Kai?” Mendengar nama itu disebut membuat Hyo semakin tidak sabar dengan kata-kata Saera selanjutnya.

“Saat ini Kai sedang duel dengan Chunji. Mereka sedang balapan motor, Hyo…”

~Deg~ Hyo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. “Jangan bercanda Min Saera!”

“Aku serius, Baekhyun sendiri yangbilang padaku.”

“Dimana? Katakan mereka dimana sekarang?” Air matanya sudah meleleh. Ia sempat tiba-tiba merasa tidak enak hati tadi siang, tapi tidak ia hiraukan. Dan ternyata feelingnya benar.

“Aku tidak tahu nama tempatnya, tapi aku bisa mengantarmu kesana.”

“Aku kerumahmu sekarang.”

Tanpa membuang banyak waktu, Hyo segera menyambar sweater yang menggantung di balik pintu kamarnya lalu segera berlari keluar dan mencegat sebuah taksi. Ia bahkan tidak ingat untuk memberitahu Rin kalau ia akan pergi.

<><><> 

Mata dua gadis itu menangkap pemandangan yang terasa asing. Gelap dan dingin. Suara deruan mesin motor sudah terdengar bahkan sejak jarak mereka masih cukup jauh. Hyo dan Saera terus berjalan menghampiri pusat suara berisik tadi berasal.

“Hyo…” Chanyeol terbelalak saat tiba-tiba Hyo berdiri di sampingnya yang sedang mengamati laju dua motor yang sedang berduel.

“Saera…” Baekhyun tak kalah kaget karena mendapati Saera juga berada disana.

“Mian… Tapi aku tidak bisa membiarkan sahabatku seperti ini.” Jelas Saera menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat terlontar dari bibir Baekhyun, kekasihnya.

Baekhyun tersenyum tipis lalu merangkul Saera.

“Kai…” Pekik Hyo pelan sambil matanya terus tertuju ke jalanan aspal yang terbentang lurus di hadapannya.

“Mereka sudah melewati lap pertama. Dan siapapun yang mencapai tempat kita berdiri saat ini lebih dulu, dialah pemenangnya.” Jelas Chanyeol.

Semua mata tertancap lurus ke jalanan saat dua lampu bercahaya terang dari ujung jalan sana. Kai dan Chunji sudah menjelang garis finish. Saat ini posisi Kai memimpin. Meski hanya terpaut jarak yang tidak cukup jauh, tapi mengingat lintasan yang tersisa merupakan lintasan lurus, kecil kemungkinan Chunji bisa menyusul.

Namun tiba-tiba, salah satu motor itu terlihat oleng dan menyenggol motor yang satunya. Dalam sepersekian detik kejadian yang mengerikan terjadi. Semua orang yang ada di disana menahan nafas saat terlihat satu motor terjungkal dan beberapa kali berputar sampai akhirnya berhenti setelah menabrak pinggiran jalan sementara motor yang satunya, di luar dugaan, masih dengan tegapnya berdiri. Dan si  pengendara motor itu bukannya segera menolong rivalnya yangcelaka, ia malah nampak menyaksikan kejadian itu dengan sangat puas.

Tidak ada yang tahu siapa yang terjungkal dan menabrak pinggiran jalan yang keras itu dan siapa yang dengan angkuhnya menatap kejadian naas itu. Jarak kedua motor dan orang-orang yang menyaksikan balapan yang cukup jauh membuat tak seorangpun yang bisa melihat mereka dengan jelas.

Derap langkah orang-orang yang berlarian mendekati tempat kejadian bercampur dengan suara teriakan memanggil nama dua pembalap itu.

“Kaaaaaiii….~”

Teriakan bercampur tangisan Hyo pecah saat melihat orang yang kini tergeletak di pinggir lintasan itu mengenakan helm hitam yang sangat ia hapal. Itu Kai.

Ketika helm itu dilepaskan dari kepala Kai, darah langsung merembes menutupi hampir seluruh wajah Kai.

Saat itu Kai masih sadar. Namja itu menyunggingkan senyum tipisnya saat matanya menangkap bayangan gadis yang selama balapan tadi menghiasi pikirannya.

“Hyo…” Suaranya hampir tak terdengar.

“Kai…”

Tangis Hyo semakin menjadi saat setelah itu mata Kai perlahan tertutup.

“Kaaaaaiii….~”

<><>

 

Author’s talk:

Ampun readers…

Tolong jangan ketawain author yang dengan pedenya ngirimin cerita picisan kayak begini yaa… ampuuunn…

Iya deh tau, ceritanya pasaran banget kan??? Hiks… maaf yaa ga bisa ngasih cerita yang lebih menarik lagi… #nangis di pelukan D.O

Tapi tetep, author mau minta comment dari para readers yang udah rela baca cerita ga bermutu ini…

Makasih… n_n

Author : Sakura^^

Title : Your the girl and im the man-intro

Genre : Romance, crack, gender bender, comedy

Main cast : Luhan OC

Rating : PG. For now. Hueheheheh.

A/N : author yang satu ini membuat FF gender bender karena saya menyukai cewek tampan. Ngiler ngeliatin mereka, ops, bukan berarti saya ‘belok’. Saya suka cewek tampan dan cowok cantik. Haha. Oh, omong-omong, DISCLAIMER DISCLAIMED!

 

 

“Aku menolak. Berapa kali harus kukatakan—aku bukan lelaki.”

 

Lelaki—maksudku, wanita itu—berjalan dengan langkah lurus sementara orang-orang dibelakangnya memandangnya bingung. Oh iya, wanita itu adalah seorang wanita yang—sangat, amat—tampan. Seharusnya dia mengikuti Ulzzang contest dan dia akan mendapat juara sebagai Ulzzang cowok—tapi tidak! Dia sebenarnya adalah perempuan. Well, dengan kulit putih pucat dan bibir merah, bisa dibilang dia sebagai seorang lelaki keperempuanan dari pada perempuan kelaki-lakian. Haha. Itu lucu sekali, bukan?

 

Sejak kemarin para kameramen amatir itu—mereka mengklaim diri mereka sebagai seorang profesional. Huh. Profesional apa—terus mengejar si gadis untuk menjadi model majalah lelaki mereka. Kalau dibilang majalah lelaki, kalian pasti sudah mengerti. Banyak yang harus diperlihatkan, kulit cokelat, wajah macho…. wanita itu bahkan sudah memukul sekali, atau mungkin beberapa kali, siapa yang peduli? wajah mereka, tapi mereka tetap memaksa waniata tersebut. Dan sudah beberapa kali ini dia mencari pekerjaan, dan ujung-ujungnya… dia menjadi lelaki. Terus menerus.Atau penjaga polisi. Atau bekerja di sebuah hostclub. Padahal dia itu wanita! Oke, dia memang sedikit tomboy. Tapi itu bukan berarti dia cowok, kan?

 

Sekarang dengan langkah panjang dan wajah tidak peduli, cewek-cewek masih memandang penuh minat padanya. Serius! Wanita itu menggeram dalam hati dan menendang pintu cafe.

 

“bagaimana, Yoonsa? Bertemu dengan pekerjaan lain?” tanya seorang pria yang amat, amat amat amat tampan berpakaian bartender, dengan tenang mengelap gelas wine dengan hati-hati dan meniup debu yang tersisa dengan hati-hati pula. Setelah mengamatinya beberapa detik, dia mengulang lagi kelakuannya dari awal. “negatif.” Kata Yoonsa kesal, menyodorkan gelas dengan kasar ke pria tersebut. Pria tersebut—namanya  Suho—terlihat sangat terhibur dengan kelakuan Yoonsa. “kenapa kau tidak bekerja disini saja? Bayarannya cukup untukmu dan—“

 

“diam atau kupotong lidahmu, om.” Kata Yoonsa dingin. “lihat? Kalau begini mana mungkin ada yang mau mempekerjakanmu? Selama ini hanya akulah yang tahan membiarkanmu kerja di tempatku lebih dari 3 bulan!” protes Suho. “Kau tidak coba melanjutkan sekolah saja? umurmu baru sembilan belas tahun, dan kukira kau cukup pintar dalam bidang seni.” Kata Suho lagi.

 

 

Yoonsa terdiam, pandangannya menerawang ke gelasnya.

 

Sejenak masa lalunya berbayang…

 

“Yoon?” tanya Suho. Yoonsa mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum kecil. “Aku malas! Lagipula buat apa sekolah kalau aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan, huh?” Yoonsa tertawa, membuat Suho mengerutkan dahinya bingung.

 

“rambutmu berantakan,” Suho merapikannya dengan lembut. “Pakailah sisir, pantas saja tidak ada yang mengira kau wanita.” Omel Suho. “Aku bisa pakai jari,” kata Yoonsa cuek. “Untuk apa pakai jari kalau kau punya sisir?”  tanya Suho, memakai perkataan Yoonsa tadi. “Apa boleh buat—ini kebiasaanku.” Kata Yoonsa, melarikan tangannya ke rambut hitamnya. Diacak seperti apapun, rambutnya akan kembali seperti biasa lagi.

 

“Bisakah kau berhenti seperti itu? sehabis ini, akan ada banyak wanita memberondong kami dengan pertanyaan.” Cemberut seorang pria tampan dengan pakaian waiter, tiba-tiba saja muncul. “Melakukan apa?” tanya Yoonsa bingung pada waiter tersebut. “D.O hanya cemburu pada mu, Yoonsa, jangan dipedulikan. Karena keberadaanmu yang singkat disini mengalahkan kepopulerannya.” Kepala bacon—uups, Baekhyunmaksudnya—mmendadak muncul dari dapur. “ih! Perlukah kau memberi tahu dia?!” seru D.Okesal.

 

“Ini kan cafe cowok! Mana mungkin aku masuk ke cafe ini lagi?” cemberut Yoonsa.

 

Memang, cafe yang tengah dia datangi ini adalah Cafe Coffee, Cafe yang terkenal karena wajah ‘flower’ para pelayannya. Legendanya, ketika kau datang ke Cafe ini ketika patah hati, dalam sekejap kau akan melupakannya karena wajah tampan para waiter disini. Ada si Pemilik Cafe, Suho yang karismatik dan sabar, kemudian D.O, yang tampan namun hotheaded, baekhyun si mood maker dan xiumin, si imut dari goa roti. *eh?!

 

“Kenapa kau tak pergi lagi? Sana gih!” usir D.O. “Aku capek.” Kata Yoonsa singkat dan padat. Sejak tadi siang dia sudah berputar-putar mencari pekerjaan yang paling tidak pantas untuk kriterianya…“Sudah kubilang kau masuk sini saja…“ tawar Baekhyun.

 

“Mwo? Andwae! Maldo andwae. Berada disini saja sudah membuatku merinding terus menerus.” Kata Hyukmin menggeleng malas. “Sepertinya kau berlebihan, oh? Mereka hanya menyentuh punggungmu dengan tangan mereka. Kau belum merasakan apa yang tante-tante itu lakukan padaku.” D.O bergidik ngeri. “Tapi Sudah 3 kali aku di’lecehkan’. Mereka bukan Cuma menyentuh. Tapi menggesekkan. Kalau kalian tahu maksudku” kata Yoonsa .

 

terdengar suara muntahan oleh ketiga pria di depannya.

 

“Ibu-ibu itu memang kelebihan nafsu,” pikir Baekhyun setuju dengan Yoonsa. “mereka menggesekan pantat mereka padaku, menyentuh ku dengan penuh nafsu, dan kemudian menawarku?! Kau pikir aku ini apa—gigolo??” seru Yoonsa kasar dan meneguk minumannya lagi.

 

“pokoknya aku akan mencari kerjaan lain.” Yoonsa memberikan 1000 won untuk minumannya. “untukmu, gratis.” Kata Suho. Yoonsa menyipitkan matanya. “aku masih perlu cukup uang tanpa welas asih mu, kek.” Yoonsa pun keluar dari cafe itu

 

“Dia terlalu arogan.” Kata Baekhyun sambil tersenyum geli. “Yah, itu kan salah satu kelebihannya.” Kata Suho. “dasar sombong,” gerutu D.O. “berhentilah cemburu padanya, D.O.” Xiumin yang sedari tadi tidak memunculkan diri karena sedari tadi sibuk memanggang wafel di dapur ikut bicara. D.O manyun sepuluh senti dan kembali masuk ke dalam dapur.

 

“Aku bingung,” kata Xiumin akhirnya. “Kenapa?” tanya Baekhyun sambil mencuci piring. “Soal Yoonsa…” kata Xiumin. “Tidakkah kau kira dia aneh?”

 

Baekhyun menatap Xiumin lamat-lamat. “Apanya?”

 

“Dia selalu datang dengan plester besar di pipi atau perban di jemarinya. Atau, warna keunguan di lehernya.” Kata Xiumin. Suho mengangguk-angguk. Dia juga sudah memikirkan hal itu sejak dulu, sejak pertama kali Yoonsa berkenalan dengan Suho. Dia mau bertanya, namun Suho merasa segan dan tidak enak ikut campur urusan orang.

 

“Mungkin cuma aksesori.” Kata D.O

 

Mereka bertiga memandangi D.O, seakan D.O itu bodoh.

 

“Apa?” tantang D.O

 

“kata ibunya, ketika dia masih kecil dia suka menggigiti pagar box bayi.” Kata Xiumin, memandang D.O intens.

 

“begitu ya? Apa cat box bayi bisa berimbas pada otaknya?” tanya Baekhyun, mengerutkan dahi seperti detektif. Dia mengelus dagunya dan mengerutkan dahi.

 

“Sepertinya. Aku kasihan dengannya. IQ nya berkurang karena box bayi tersebut.”

 

D.O mendengus ketika menyadari siapa yang mereka omongi. “Aku tidak pernah merasa menggigiti box bayi. Sudah, sana kembali ke tempat kalian!” omelnya, membuat Suho dan Baekhyun terkikik, sementara Xiumin menjulurkan lidah membuat D.O tambah murka.

 

*

 

“ayolah Sooyong—satu kali saja!!”

 

“mwo? Kau ini benar-benar tak tahu diri Yoonie!” seru Sooyong kesal. “kenapa kau tidak bilang ‘iya’ dan menerimaku saja? Aku sedang benar-benar butuh uang sekarang!” paksa Yoonsa.

 

“tapi kau harus tahu! Aku tidak menerima model cowok!” seru Sooyong berkacak pinggang. “apa! Enak saja! Aku masih cewek. Lihat?” Yoonsa menunjuk dada ratanya. “Rata begitu apa yang mau dilihat?” dengus Soyoong, telak.

 

“Aku memang agak mirip cowok! Tapi lihat Amber! Kau masih memakainya! Itu kan tidak adil!” kata Yoonsa menunjuk Amber. “hei, aku tidak tahu apapun.” Kata Amber, membela diri. “Amber kan tetap feminin. Ini semua berkat Kris, puji tuhan. Kata Sooyong, membuat Amber memerah.

 

“tapi aku benar-benar butuh uang!” seru Yoonsa. “kalau kau butuh, jangan disini. Aku memang penyelenggara catwalking model, tapi itu untuk wanita! Dan walaupun kau memakai baju berbelahan dada rendah ataupun mini seminimininya, Tidak akan ada yang tahu kau wanita!” kata Sooyong.

 

“sudah lah Sooyong,” kata Jessica tenang. “lebih baik kau keluar dari sini Hyukmin.” Kata Jessica. “tapi, aku—“

 

“butuh uang? Yoonie, disini bukan tempatmu. Tempat ini tempat untuk para glamour, tempat yang sangat tidak cocok untukmu.” Kata Jessica. Yoonsa menghela nafas. Mengahadapi si Ice Princess satu ini memang sangat membutuhkan ketenangan.

 

“kalian bertiga kan sahabatku,” kata Hyukmin, akhirnya tenang dan duduk di ruang kerja yang besar tersebut. Amber tertawa keras, kemudian berkata,“Kau tahu, masuk ke tempat ini dan melamar sebagai model bukanlah hal yang mudah. saat aku mau menjadi model, aku harus menyembah dua tiran ini dan disiksa oleh para model senior baru boleh menjadi salah satu model disini.” Kata Amber. “Mereka tidak melihatku sebagai hoobae tersayang mereka yang sudah kenal dekat mereka selama sepuluh tahun, tapi sebagai amatiran menyedihkan yang butuh pekerjaan.”

 

Yoonsa manyun mendengar hal itu.

 

“Kalau kau benar-benar ingin bekerja disini,” kata Jessica, “Apa kau siap memakai ini?” tunjuk Jessica pada pakaian mini di ujung kerjanya. “atau itu.” Katanya menunjuk bikini di sebelah Yoonsa. Yoonsa bergidik, seluruh bulu dibadannya berdiri. “ini benar-benar kemerosotan moral!” jerit Hyukmin malu. “kalau tidak mau tidak usah kupaksa.” Kata Sooyong, menghela nafas berterima kasih pada Jessica. Amber hanya tertawa ngakak, tidak menolong si magnae yang manyun dan mencak-mencak sebal.

 

*

 

Yoonsa berjalan dengan sedih. Sudah sore dan inilah status nya; pengangguran. Apa harusnya dia kembali ke tempat kakek itu lagi? Tapi itu berarti dia akan menjadi seorang lelaki lagi. Paling tidak, ada satu, satu, satuuu saja orang yang tahu kalau dia adalah wanita. Kenapa dia dilahirkan dengan tubuh begini?

 

Bruk!!

 

Seorang wanita menubruknya. Rambutnya pendek, brunette. Mata besar dan wajah cantik itu menatap Yoonsa. Bibirnya kecil dan manis, tapi tingginya hampir sama dengan Yoonsa. Yoonsa makin lesu. Cewek ini tidak akan mungkin, tidak akan pernah, disalah pahamkan sebagai cowok!

 

“Mianhae, ahgasshi,” kata Yoonsa, mengambil barang-barang wanita tersebut. “Ahgassi?” tiba-tiba orang itu berkata. Yoonsa mendongak, dan wanita itu menatapnya. Kemudian sebuah kerlingan muncul di mata wanita tersebut, yang tiba-tiba berjongkok dan…

 

“Huaaaaaaa~~~”

 

Yoonsa tergeragap. Ke-ke-ke-ke-kenapa wanita ini?!

 

“aaaaaaaaahhhh~~ huwaaaaaa~~ kau jahat chagiyaaa~ kenapa kau memutuskan aku seperti ini~?? Eoh??” dia berseru, sambil terisak-isak. Mwo?! Siapa yang memutuskannya? Astagaa… kasihan sekali ahgasshi ini, kenapa dia diputuskan oleh pacarnya? Padahal ahgasshi ini cantik! Pikir Yoonsa, tidak ragu-ragu memeluk wanita tersebut. Insting keperempuanannya muncul.

 

“Neo gwenchana?” tanya Yoonsa. Wanita itu memeluknya balik, getaran tubuhnya terasa oleh Yoonsa. “hiks… hiks… sekarang kau sudah memaafkanku?” tanya wanita itu, suarnaya diperbesar… seolah-olah dia sengaja. Yoonsa mengerutkan dahi, mwo? Dia hendak melepas pelukan wanita itu namun wanita itu malah mempererat pelukannya.

 

“Y-ya, ya, neo, lepaskan?!” bentak Yoonsa mendorong wanita itu. Wanita itu malah menangis lebih kencang. “HUWAAAA~ CHAGIYA JANGAN BUANG AKU SEPERTI INIIII~~”

 

Yoonsa ternganga ketika mendengarnya dan tergagap melihat orang-orang disekeliling mereka yang mulai menatap Yoonsa jijik. Yoonsa tau apa yang mereka pikirkan, dan dia tidak menyukai sedikitpun yang berada di pikiran mereka!!!

 

“CHAGIYA SARANGHAE! Jangan buang aku jebal!!” seru wanita itu.

 

“YA! SHIKKEUREO!” seru Yoonsa panik.

 

“ANDWAEEEE AKU TAK MAU JANGAN BUANG AKU KUMOHOOON!” seru wanita itu.

 

“SIAPA KAU? AKU TIDAK MENGENALMU!” seru Yoonsa.

 

“SE-SEKARANG KAU BILANG TIDAK ME-MENGENALKU? HUEEEEE~~”

 

“Neo!? Ya! Be-berhenti sekarang jugaa!!” seru Yoonsa, benar-benar kaget dan panik melihat mereka dilingkari orang.

 

Sekarang Yoonsa tahu… apa yang dimaksud dengan ‘kesialan ketika bertemu orang-orang cantik.

Iklan

25 pemikiran pada “Our Past Future Life (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s