Baby Don’t Cry (Baekhyun Version)

Author: Yoana Felicia

Main Csst: Baekhyun

Genre: Romance

Baby Don’t Cry (Baekhyun version)

__________________________________________

“Chagiya ^^”

“Baeki oppa lepasin ah. Malu tau.”

Aku melepaskan back hug sambil memanyunkan bibirku. Sementara itu, yeoja yang ada di depanku ini, hanya tersenyum dan meletakkan tanganku di pundaknya lalu melanjutkan makan siangnya.

“Jangan cemberut gitu deh. Oppa jelek tau.”

“Tapi kau tetap suka kan. Ayolah chagi. Aku capek dan rindu padamu. Masa aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri?”, ucapku dan meletakkan daguku di pundaknya.

“Bukannya tidak boleh, tapi oppa tau tempat dong. Ini kan di kantin. Malu dong diliatin orang banyak.”

Aku belum memperkenalkan diri ya? Byun Baekhyun imnida. Aku trainee di SM Entertainment dan direncanakan untuk debut dalam sebuah grup bernama EXO yang terbagi menjadi 2 yaitu EXO-K dan EXO-M. K untuk Korea dan M untuk Mandarin. Kami akan mempromosikan lagu yang sama hanya berbeda bahasa. Dan aku masuk ke EXO-K. Baguslah jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk belajar mandarin seperti Minseok hyung atau Jongdae yang merupakan orang Korea tapi harus masuk ke EXO-M.

Dan di sebelahku adalah pacarku. Lee Kyeona. Dia juga trainee di SM Entertainment. Dan dia sudah di sini 1 tahun lebih lama daripadaku tapi umurnya masih di bawahku 3 tahun. Kami berpacaran sudah setengah tahun lebih. Aku pertama kali bertemu dengannya di atap saat dia sedang frustasi dan menyanyi keras-keras di atap sambil menangis walaupun suaranya masih tetap bagus. Dan aku membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk mendekatinya karena dia termasuk orang yang tertutup dan tidak mudah untuk berkomunikasi. Tapi setelah dekat dengannya, ternyata dia orang yang hangat dan sangat perhatian. Dan dia juga sekarang sangat dekat dengan member EXO lain setelah aku memperkenalkan mereka padanya. Sekarang, dia seperti eomma kedua kami setelah Kyungsoo.

“Ehem… Kayaknya aku ganggu nih.”, suara seorang namja mengagetkanku. Ternyata hanya Suho hyung yang tersenyum lebar di belakang kami.

“Suho oppa. Aniyo. Duduk aja oppa.”

“Kyeona-ah, bagaimana latihan tadi.”

“Hehe… Biasa aja. Agak pusing sedikit sih sekarang.”

“Aigooo… Jangan kecapekan ya. Aku tidak mau kau sakit.”, aku memeluk leher Kyeona dan mengecup pipinya yang langsung merona merah. Aku tau dia masih sedikit malu untuk urusan skinship.

“Hei, lihat tempat dong kalo mau mesra-mesraan. Ini tempat orang makan bukan pacaran.”, tegur Jongin sedangkan Luhan hyung dan Sehun yang berada di belakangnya hanya tertawa cekikikan.

“Kai oppa, Sehun oppa, Luhan oppa. Ini bukan salahku. Baekhyun oppa yang main nyelonong saja.”

“Jongin-ah, kalo iri bilang saja.”, sindirku dan menyandarkan kepalaku di pundak Kyeona

“Tidak usah sensi kayak gitu Jongin-ah. Wajar aja. Mereka kan pacaran.”, sambung Luhan hyung dan menyesap bubble tea.

“Mian Kai oppa. Bagaimana persiapan debut teasernya?”

“Begitulah. Cukup membuat stress. Suho hyung sampai kurus banyak karena stress.”

“Suho oppa, oppa harus jaga kesehatan. Jangan sampai di panggung nanti pingsan. Tidak lucu. Dan oppa harus banyak makan sedikit. Lihat aja tuh pipi tembem oppa udah pada hilang.”

“Tenang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri kok. Kau terdengar seperti eommaku saja.”

“Chagi, aku juga kurusan.”, rengekku dan menarik-narik lengan baju Kyeona.

“Hehe… Oppa juga jangan sakit. Oh ya, mana member lain?”

“Xiumin hyung dan Chen hyung masih belajar mandarin. Tao lagi wushu ditemani Kris hyung. Kyungsoo hyung masih di practice room. Chanyeol hyung dan Lay hyung tidak tau keluyuran ke mana.”, jelas Kai panjang lebar.

Kyeona mengelus rambutku yang basah karena keringat dan menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. Aku menghirup aroma rambutnya yang selalu kusukai. Campuran antara bunga mawar dan buah-buahan. Tangannya tiba-tiba merogoh tasnya dan mengambil sebotol obat yang belakangan ini kuperhatikan selalu dikonsumsinya setiap waktu istirahat siang.

“Itu obat apa?”, Tanya Sehun tiba-tiba.

“Aniyo. Cuma vitamin saja kok.”

“Di sini rupanya kalian. Kita dipanggil ke ruang CEO sekarang.”, ujar Kris hyung yang tiba-tiba datang sambil berlari.

“Chagi, aku tinggal dulu ya.”, aku mengecup pipi dan keningnya sebelum aku pergi.

“Ne oppa.”

“Kyeona, kami jalan dulu ya.”

“Ne oppadeul. Annyeong.”

Aku sempat berbalik dan melihat wajahnya yang tiba-tiba terlihat sendu. Ada apa dengannya? Apa ada masalah?

“Hei, ayo jalan. Jangan selalu melihat chagiyamu.”, tegur Luhan hyung.

“Hyung iri karena aku punya pacar. Iya kan?”

Luhan hyung hanya menepuk rambutku pelan sebelum masuk lift. Sebelum into lift tertutup, aku sempat melihat Kyeona yang mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke lorong yang mengarah ke practice room.

4 months later, EXO debut d-day

“Aigooo, aku benar-benar tegang. Otokkhae?”, ujarku panic dan mondar-mandir.

“Oppa tenang saja. Oppa pasti bisa. Fighting.”

“Gomawo chagiya. Tapi kau benar-benar tidak apa-apa. Semakin hari wajahmu semakin pucat. Dan kau sekarang terlihat sangat kurus.”, tanganku menulusuri tulang pipinya yang semakin menonjol seperti Suho hyung.

“Gwaenchana. Aku kan diet jadi wajar saja aku terlihat kurus.”, Kyeona tersenyum menenangkanku.

Tentu saja aku ikut tersenyum walaupun aku merasa ada yang tersembunyi di balik senyum itu. Matanya juga tidak memancarkan senyumnya. Matanya terlihat… Bagaimana caraku mendeskripsikannya. Matanya terlihat redup dan kantung matanya menghitam. Bahkan sudah hampir sama dengan si panda Tao. Oh ya satu lagi. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan tapi belakangan ini dia selalu memakai topi dan menolak untuk melepaskannya bahkan saat makan siang sekalipun. Aku jadi khawatir apakah training belakangan ini membuatnya stress sekali. Bagaimapun dia masih murid high school. Dan aku dengar dia selalu memperhatikan nilai di sekolahnya. Dia pernah cerita jika ada ulangan yang membutuhkan hafalan, dia bisa tidak tidur selama dia belum mengingat semua bahan yang akan diujikan. Aku jadi khawatir. Aniyo. Sangat khawatir soal kesehatannya. Apakah dia makan tepat waktu? Apakah dia tidur yang cukup?

“Kyeona-ah, kau kembali saja ke tempat dudukmu. Sebentar lagi showcase akan dimulai.”, ucap Chanyeol.

“Arasseo oppa. Baeki oppa, aku ke tempat duduk dulu ya.”

“Baiklah. Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu oppa. Aku bisa sendiri. Aku tidak mau oppa terlibat skandal nantinya.”

Aneh. Nada suaranya aneh. Seakan-akan memaksaku agar tidak mengikutinya dan meminta jarak antara aku dengannya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan kaku. Kyeona mengecup pipiku sebelum meninggalkan waiting room.

Bukannya tidak suka tapi lagi-lagi ini aneh. Biasanya selalu aku yang melakukan skinship duluan dan dia selalu malu jika aku mengecup pipinya atau aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Pipinya akan langsung memerah dengan cepat. Tapi kali ini dia yang mencium pipiku duluan. Lagi-lagi aku tekankan. Bukannya aku tidak suka. Hanya saja ini terasa aneh.

“EXO-K, siap-siap naik panggung di sisi kiri atas.”

Aku merapikan rambutku untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari waiting room. Aku dapat melihat bukan Cuma aku saja yang tegang. Raut wajah Suho hyung seakan sudah mau meledak antara gembira dan tegang. Dan Sehun sedari tadi memainkan jarinya. Aku saja sudah mulai berkeringat dingin.

“Nah. Sesudah ini kita akan naik ke panggung. Bertemu langsung dengan fans dan mulai menjalani mimpi kita.”, Suho hyung mulai berbicara dengan tegang lalu meletakkan tangannya di tengah-tengah kami dan kami meletakkan tangan kami di atas tangannya.

“EXO-K, SARANGHAJA!!!”, teriak kami semua sebelum naik ke atas.

Suara music dan teriakan dari fans menandai awal mimpi kami di atas panggung.

“Wah akhirnya selesai juga!!”, teriak Chanyeol dan merebahkan tubuh tingginya ke sofa panjang di waiting room.

Aku hanya tersenyum mendengar teriakan Chanyeol dan langsung menelefon Kyeona. Mengapa dia belum ada di sini?

‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar servis area.’

Ne? Apa baterai HPnya habis? Mengapa dia tidak langsung datang ke sini saja?

“Oh ya. Baekhyun hyung. Kyeona tadi SMS. Katanya dia tidak bisa datang ke backstage. Katanya ada urusan. Dan jangan coba menghubunginya karena baterai HPnya sekarat.”, ucap Tao dengan bahasa korea yang terpatah-patah dan aksen Chinese yang kental.

“Ah.. Keurae? Gomawo.”

Mengapa Tao? Mengapa bukan aku. Well aku tau Kyeona juga dekat dengan Tao karena mereka memiliki kepribadian yang kurang lebih sama. Tapi mengapa dia tidak langsung menghubungiku saja?

Aku menghembuskan nafas panjang antara lelah dan frustasi lalu melihat fotoku dan Kyeona yang kupajang sebagai wallpaper.

‘Apa yang terjadi sebenarnya?’, batinku lalu memejamkan mataku.

“Baekhyun-ah, ayo pulang.”, kata Suho hyung dan aku hanya menurutinya masuk ke van dengan muka yang tertunduk.

‘Bodoh. Jangan membuatku khawatir seperti ini.’, rutukku dan langsung mematikan HPku.

“Gwaenchana hyung?”, Tanya Kai dengan raut wajah yang khawatir.

“Gwaenchana. Hanya agak capek saja kok.”

“Dari tadi raut wajahmu terlihat tidak baik. Apa karena Kyeona tidak mengunjungi hyung setelah selesai showcase.”, tambah Sehun.

“Aniyo. Itu bukan masalah sama sekali kok.”

“Kai, Sehun, jangan ganggu Baekhyun. Dia sangat capek.”, tegur Suho hyung.

Aku tersenyum pada Suho hyung walaupun dia tidak sedang melihat ke arahku. Aku mulai berusaha untuk melihat-lihat jalanan kota Seoul dalam perjalanan ke Incheon. Sebelum naik pesawat ke China, aku masih sempat menghubungi HP Kyeona yang ternyata masih tidak aktif. Apa dia belum sampai rumah? Tidak mungkin. Aku saja sudah sampai di Incheon airport masa dia belum sampai di rumah? Mungkin dia tidak mengaktifkan HPnya.

Aku tetap memikirkan Kyeona selama penerbangan ke China. Hhh… Apa yang kau pikirkan Byun Baekhyun. Kau hanya terlalu khawatir. Sudahlah tidak usah dipikirkan.

Aku melihat sekelilingku dan melihat semua member sudah tertidur jadi aku juga memutuskan untuk tidur.

Showcase di China sukses besar seperti di Korea. Walaupun aku tidak mengerti apa yang mereka teriakkan, setidaknya aku bisa merasakan kegembiraan dan ketulusan fans China. Kami tidak bisa berlama-lama di China karena harus mempersiapkan debut di stasiun broadcast Korea.

Tempat pertama yang kukunjungi setelah sampai di perusahaan tentu saja practice room. Kyeona jam segini tentu saja masih latihan. Tapi begitu aku mengintip dari jendela practice room, aku tidak menemukan Kyeona sama sekali. Atau mungkin di atap? Atau di kantin? Tapi tadi kantin sedang kosong. Dan begitu aku sampai di atap, pintu atap pun terkunci. Aku berusaha menghubungi ponselnya tapi di luar servis area. Aneh. Apa HPku yang bermasalah?

“Oh? Jaewon hyungnim.”, panggilku saat melihatnya di tikungan.

“Baekhyun-ah. Ada apa?”

“Hyungnim, apa hyung lihat Kyeona?”

“Kyeona? Lee Kyeona yang dancing machine itu?”

“Ne.”

“Dia absen hari ini. Katanya dia mau pergi ke suatu tempat.”

“Keurae? Gomapseumnida hyungnim.”

“Ne. Selamat ya debutmu.”

“Kamsahamnida hyungnim.”

Suatu tempat? Aku baru kali ini melihat Kyeona izin training. Waktu itu saja dia masih masuk training padahal lagi demam tinggi. Mungkin dia sedang ada urusan keluarga.

“Di sini kau rupanya. Ayo cepat. Kita sudah ditunggu di practice room. Apa yang kau lakukan di sini? Mencari Kyeona?”, suara Suho hyung terdengar dari belakangku.

“Ne. Dia tidak ada di sini. Kaja hyung.”

1 bulan kehilangan kontak dengan Kyeona sukses membuatku uring-uringan setiap hari dan membuat moodku berantakan tingkat maximum. Anehnya setiap kali aku menelefonnya pasti tidak diangkat. SMS selalu delivered tapi tidak pernah dibalas. Dan tidak ada lagi kunjungan ke dorm minimal seminggu sekali. Aku juga tidak pernah ke practice room karena jadwal yang padat yang mengharuskanku bolak balik luar kota dalam waktu 1 hari.

Oh ya. Mengapa tidak terpikirkan sama sekali dari dulu? Mengapa aku tidak mencoba menelefon Kyeona lewat HP member lain. Walaupun tidak diangkat setidaknya kemungkinan berhasil 50%.

“Chanyeol-ah, pinjam HPmu dong.”

“Untuk apa?”

“Tidak usah banyak Tanya. Ayolah.”

Chanyeol merogoh kantong jaketnya dan menyodorkan HPnya tanpa suara. Cepat-cepat kutekan nomor Kyeona yang ternyata disimpan juga oleh Chanyeol.

‘Ayolah angkat. Ayo angkat.’, batinku dalam hati.

Aku baru saja mau mematikan sambungan ketika ternyata suara yang sangat kurindukan terdengar dari seberang sana.

“Yoboseyo.”

Aku masih diam saja. Berusaha meyakinkanku bahwa ini bukan mimpi.

“Yoboseyo? Yeol oppa? Yoboseyo? Aku matikan ya?”

“Kau mau mati?”, ucapku ketus.

“Baek… Baekhyun oppa?”

Suaranya terdengar kaget dan takut. Apa yang perlu ditakuti?  Aku pacarnya bukan seorang pembunuh yang menyeramkan.

“Kau tidak mengenali suaraku? Mengapa kau tidak mengangkat telefonku? Mengapa kau tidak membalas SMSku? Mengapa kau terdengar kaget saat kau tau ini aku. Jelaskan padaku sekarang sebelum aku ke practice room dan menyeretmu untuk bicara langsung.”

“Itu… Umm… Aku belakangan ini sibuk jadi tidak bisa mengecheck HP terus.”

“Sibuk apa sampai 1 bulan tidak bisa mengangkat telefon atau membalas SMS. Kau tidak tau seberapa gilanya aku karena tidak bisa menghubungimu.”, jeritku frustasi. Menumpahkan seluruh uneg-uneg yang kutahan selama 1 bulan.

“Itu bukan urusan oppa. Aku harus pergi sekarang.”

“Tunggu. Kau belum…”

Tut… Tut… Tut…

“AAARRRGGGHHH!!! BRENGSEK!!!”

Kubanting HP Chanyeol ke ranjang yang langsung disambut dengan teriakannya. “YAH!! APA YANG KAU LAKUKAN!!!”

Kuabaikan teriakannya dan langsung ke kulkas mengambil segelas air dingin dan membawanya ke kamar lagi.

“Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya kau seperti ini.”, Tanya Chanyeol

“Tidak bisakah kau diam saja?”, bentakku kesal.

“Gitu aja marah. Kyeona lagi? Mengapa kau tidak pergi ngobrol langsung saja dengannya? Mumpung kita tidak ada schedule hari ini.”

Benar juga. Mengapa tidak pernah terpikirkan ya?

“Gomapta Chanyeol-ah.”

“Permisi, apa kau kenal Lee Kyeona?”

“Maaf aku tidak tau.”

“Kamsahamnida.”

Ini sudah trainee yang kesepuluh yang aku Tanya tapi tidak satupun yang mengenal Kyeona. Tentu saja aku sudah ke practice room dulu tapi dia tidak ada di sana.

“Permisi, apa kau kenal Lee Kyeona?”, tanyaku pada trainee yeoja yang baru lewat.

“Oh? Baekhyun sunbae. Kyeona? Aku tau. Dia tadi 1 kelas denganku di dance class. Waeyo?”

“Kau tau di mana dia sekarang?”

“Tadi dia langsung minta izin pulang begitu dia menerima telefon. Dia bilang tiba-tiba ada urusan dan harus pulang ke rumah.”

“Ahhh… Kau tau di mana rumahnya?”

“Maaf aku tidak tau. Jadi apa benar rumor di kalangan trainee yang mengatakan Kyeona dan sunbae berpacaran.”

“Hehe… Kau tidak perlu tau. Terima kasih informasinya.”

“EXO fighting.”, teriaknya sebelum aku berlari meninggalkannya.

Mau menghindariku ya? Awas saja kalau aku berhasil menangkapnya. Ke mana aku harus mencarinya?

Sebuah tempat langsung melesat di otakku. Bagian administrasi. Tempat semua informasi trainee tersimpan.

“Permisi soensaengnim.”

“Oh? Baekhyun-ah. Ada apa ke sini?”

“Aku mau minta tolong. Bolehkah aku meminta alamat Lee Kyeona?”

“Boleh aku tau ada apa?”

“Itu, kemarin aku meminjamkan buku padanya dan itu buku Suho hyung. Sekarang aku harus mengembalikannya karena Suho hyung ingin membacanya. Tadi aku mencarinya di practice room, katanya dia pulang lebih cepat hari ini jadi aku terpaksa harus ke rumahnya untuk memintanya kembali.”, aku mengucapkan kebohonganku dengan lancar.

“Baiklah. Apa kau perlu yang lain? Nomor telefon?”, tanyanya sambil menyodorkan kertas berisi alamat di daerah Yeouido.

“Tidak perlu soensaengnim. Cheongmal kamsahamnida.”

Tidak perlu waktu yang lama untuk sampai di rumah Kyeona atau lebih pantas disebut apartmentnya. Apartmentnya ada di salah satu komplek apartment elite di Yeouido. Ini dia nomor 1911.

Ting… Tong…

“Nuguseyo?”, jawab seorang namja dari dalam.

“Annyeonghaseyo. Aku teman Kyeona. Baekhyun imnida.”

“Kyeona sedang pergi.”

“Boleh aku tau pergi ke mana?”

“Maaf aku juga tidak tau.”

“Keurae? Kamsahamnida.”

Dia tidak ikut training tapi juga tidak ada di rumah. Ke mana dia sebenarnya. Aku mencoba menghubungi HPnya tapi tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada yang mengangkatnya.

“Tidak berhasil?”, Tanya Chanyeol begitu melihat mukaku yang masih kusut masuk ke dalam kamar.

“Ayolah semangat sedikit. Besok kita ada fansigning. Jangan sampai menampakkan wajah kusutmu di depan fans atau kamera.”

“Kau tidak tau saja bagaimana rasanya diabaikan seperti ini. Kalau posisi kita dibalik sekarang, akan sangat mudah bagiku mengatakannya. Tapi kau yang menjadi aku tidak akan semudah itu menuruti apa yang kau katakan tadi.”, ocehku panjang lebar.

“Aku juga pernah mengalaminya kok. Semakin kau memikirkannya, semakin kau akan terpuruk. Sekarang berpikir positif saja. Kyeona mungkin menghindarimu karena dia sibuk. Atau jangan-jangan dia sedang mempersiapkan debut. Itu bagus kan? Sudahlah jangan berpikiran terlalu negative. Kyeona orang yang baik dan selalu memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu. Dia tidak mungkin menjauhimu jika tidak terpaksa. Dia sangat menyukaimu tau. Kau tidak ingat waktu kau pura-pura sakit dulu. Dia merawatmu dengan baik bahkan sampai nangis kan waktu kita bilang suaramu mungkin tidak akan kembali seperti semula lagi. Jangan berpikiran negative tentangnya.”

Ucapan Chanyeol benar. Mengapa aku berpikiran negative tentangnya. Kyeonalah yang selama ini memperhatikanku selain member lain.

“Sudah jangan menangis. Dasar bodoh. Apa yang kau tangiskan?”

Chanyeol duduk di sebelahku dan menghapus air mata yang entah kapan mengalir di pipiku. “Aku pasti terlihat seperti orang bodoh.”

“Semua orang bisa menjadi bodoh kalau urusan cinta. Sudah sana. Cuci mukamu dulu.”

“Kau terdengar seperti hyung saja.”

“Kalau didengar dari urusan suara, aku memang hyung.”, Chanyeol tersenyum lebar dan menepuk pundakku sebelum focus main game lagi.

Aku berusaha menguatkan diriku dan berpikir positive seperti apa yang dikatakan oleh Chanyeol.

Hari-hari terus kulalui tanpa contact dengan Kyeona. Aku tetap mengikuti saran Chanyeol untuk terus berpikiran positive walaupun semakin hari semakin sulit kulakukan. Terkadang rasa gelisah sulit untuk disingkirkan. Pernah suaraku sampai pecah ketika menyanyi live di salah satu stasiun radio. Lagu itu sangat mengingatkanku akan Kyeona dan tanpa sadar suaraku pecah saat aku harus menyanyikan nada tinggi.

“Gwaenchana?”, bisik Kyungsoo begitu kami duduk lagi.

Aku hanya mengangguk pelan dan focus lagi ke acara radio. Aku berusaha keras menunjukkan bahwa aku baik-baik saja tapi tetap saja member lain merasa curiga terutama Suho hyung. Kadang aku memergokinya sedang menatapku curiga meski aku tersenyum lebar padanya.

“Ayo cepat. 1 jam lagi pesawat mereka sampai.”, kata manager hyung.

Aku menghela nafas panjang dan langsung meninggalkan roti  yang baru kugigit setengah. Aku memang tidak sabar ingin bertemu dengan EXO-M yang hampir terpisah 2 bulan dengan kami. Tapi jujur aku sedang tidak berada dalam mood yang bagus sekarang.

Incheon airport tetap padat seperti biasa. Dari pengumuman yang aku dengar tadi, pesawat mereka akan sampai dalam waktu 5 menit. Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan mau menunggu di dekat pintu arrival ketika aku melihat bayangan orang yang sangat kukenal.

“Kyeona-ah.”, teriakku.

Tapi begitu aku melihat lagi, bayangan itu sudah hilang. Apa aku berhalusinasi? Atau aku tidak sengaja melihat orang yang mirip. Apa aku terlalu kecapekan? Atau aku sudah gila?

“Ada apa?”, Tanya Kyungsoo.

“Aniyo. Mungkin aku agak kecapekan saja.”

‘Terlalu capek hingga berhalusinasi.’, koreksiku dalam hati

“Itu mereka.”, seru Suho hyung.

1 per 1 member EXO-M muncul. Pertama Lay hyung, lalu diikuti oleh Chen dan Minseok hyung. Di belakang mereka Kris hyung, Luhan hyung dan yang terakhir magnae Tao. Tao menoleh ke sekitarnya seperti sedang mencari seseorang.

“Kau mencari siapa?”

“Baekhyun hyung. Hyung di mana? Aku tidak melihatmu tadi.”

“Aku dari tadi di belakangmu. Kau menyindirku karena aku pendek?”

“Aniyo hyung. Hehe… Ayolah jangan marah. Aku membawa oleh-oleh untuk hyung.”

“Oleh-oleh?”

“Ne. Ayo.”

EXO-M tidak sempat pulang ke dorm karena kami harus cepat-cepat ke practice room untuk sparing bersama. Akan ada special stage yang menampilkan EXO-K dan EXO-M secara bersamaan.

Aku masih berbicara dengan Tao saat HPnya tiba-tiba berdering. “Hyung, aku angkat telfon sebentar ya. Kalian pergi saja dulu.”

Siapa yang menelfonnya? Mengapa sepertinya private sekali? Mungkin dari keluarganya.

Aish Byun Baekhyun mengapa kau jadi suka ikut campur urusan orang lain? Itu bukan urusanmu sama sekali kan.

Tapi aku penasaran juga sih. Jadi aku menguping di balik dinding lorong yang mengarah ke toilet.

“Wei?”

Ah… Pasti dari keluarganya dari China kan kalau begitu.

“Aku di practice room sekarang.”

Eh? Bahasa Korea? Berarti bukan dari keluarganya. Yang aku tau keluarga Tao tidak ada satu orangpun yang bisa bahasa Korea

“…”

“Ne gwaenchana. Aku tau kok.”

“…”

“Tenang saja. Tidak ada orang di sebelahku sekarang.”

“…”

“Um… Sebaiknya setelah selesai latihan saja. Aku tidak mau hyung depresi sekarang dan menjadi tidak konsentrasi latihan nanti. Aku akan menelefonmu nanti.”

Hyung siapa yang dimaksudnya? Memangnya ada apa?

“…”

“Tapi kau yakin kau mau melakukannya. Kau tega padanya? Jujur aku sendiri tidak tega mau melakukannya.”

“…”

“Stop. Aku tidak mau dengar kau berkata seperti itu. Ayolah. Positive sedikit.”

“…”

“Jangan bodoh. Aku tau kau pasti bisa kalau kau mau berusaha.”

“…”

“Aku bilang jangan bicara seperti itu. Ben zi. Jangan menyerah. Tolong jangan. Jika kau tidak ada, apa yang harus kulakukan. Kau tau kan aku tidak mudah bergaul.”, suara Tao mulai serak dan terdengar tersendat-sendat seperti orang menangis.

Eh? Tao menangis? Aku tau dia memang sensitive tapi apa yang membuatnya menangis?

“…”

“Ini semua kan karena kau.”

“…”

“Seharusnya iya. Aku takut hyungdeul curiga aku tidak kembali.”

“…”

“Nado saranghaeyo. Annyeong”

Saranghaeyo? Pacar Tao? Aku baru dengar. EXO-M tidak bilang apa-apa saat webcam dengan kami.

“Baekhyun hyung?”

“Ah ne Tao.”

“Hyung menguping?”

“Menguping? Hyung baru saja dari toilet kok.”

“Zhen de ma? Ayo. Kita pasti ditunggu hyungdeul.”

“Dari mana saja kalian? Aku baru saja mau mencari kalian.”, protes Lay hyung.

“Baru dari WC kok.”

“Sudahlah. Ayo mulai.”, titah Kris hyung dan memulai music.

“Hyung, aku keluar dulu ya. Sebentar saja.”

“Ne.”

“Oh ya Baekhyun-ah, bisa kau panggilkan Tao ke sini lagi?”, pinta Luhan hyung dengan raut wajah yang agak tegang.

“Waeyo?”

“Itu… Aku baru ingat ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengannya.”

“Baiklah.”

Aku meneguk air dulu sebelum keluar. Oh? Itu dia Tao. Tapi dia sedang merangkul seorang yeoja. Apa itu pacarnya? Siapa ya? Coba yeoja itu melepaskan tudung hoodienya. Mungkin aku bisa mengenalnya.

Karena penasaran, aku justru mengikutinya diam-diam. Mereka masuk ke practice room kosong yang berada di paling ujung lorong. Aku mengintip mereka dari jendela kecil yang ada di sebelah pintu.

Yeoja itu tampak melepaskan tudung hoodienya. Tapi ternyata yeoja itu memakai topi lagi berwarna hitam di dalamnya. Tunggu dulu. Rasanya aku pernah melihat topi itu sebelumnya. Tapi di mana ya?

Ah aku ingat sekarang. Topi itu… Itu kan topi… Aniya. Topi itu pasti banyak dijual di manapun.

Seakan-akan menjawab pertanyaan di otakku mengenai identitas yeoja itu, yeoja tersebut membalikkan badannya dan langsung memeluk Tao.

Astaga. Aku pasti salah melihatnya. Yeoja itu… Tidak mungkin yeoja itu Kyeona kan? Dia menolak seluruh telefon dan SMSku tapi bertemu Tao diam-diam di sini.

BRAK!!!

Kubanting pintu hingga terpantul. Kyeona dan Tao tampak terkejut dan langsung melepaskan pelukan mereka.

“Apa maksudnya ini?”, tanyaku pelan tapi tajam.

“Baekhyun hyung.”, bisik Tao ketakutan

“Oh? Baekhyun oppa. Oppa datang di saat yang tepat.”, ucap Kyeona santai dan menyunggingkan senyum miringnya.

“Jelaskan sekarang juga. Kau menolak seluruh panggilanku. Kau tidak membalas SMSku. Selama hampir 2 bulan aku hampir gila karena tidak berkomunikasi sama sekali denganmu. Tapi kau bertemu dengan Tao diam-diam di belakangku. Jelaskan apa maksudmu sekarang juga.”

“Hmm… Bagaimana aku harus menjelaskannya ya? Selama 2 bulan ini aku berusaha untuk memikirkan apakah aku harus melakukan ini atau tidak. Tapi sepertinya aku sudah bosan dengan oppa. Dan aku pikir Tao oppa jauh lebih baik daripada oppa.”, jawabnya santai dan menggelayut di tangan Tao seperti ular.

“Mwo? Ulangi sekali lagi.”, pintaku antara shock dan memohon. Berharap ini semua hanya mimpi atau halusinasiku lagi.

“Kita putus saja. Aku sudah muak dengan oppa. Lalu bencilah aku karena aku juga benci oppa.”

“Wae? Apa artinya 6 bulan lebih yang sudah kita jalani? Tao, tolong katakan ini semua tidak benar.”

“Mian hyung.”, hanya itu yang bisa diucapkan Tao.

“Jangan salahkan Tao oppa. Ini semua aku yang mau. Tao oppa juga sebenarnya tidak mau mengkhianati oppa. Tapi apa boleh buat? Oppa tidak bisa memaksa Tao oppa untuk mengalah kan? Dan oppa tadi bertanya mengenai waktu yang aku habiskan dengan oppa selama ini. Apa oppa bodoh? Atau terlalu naïve? Oppa percaya kalau aku benar-benar menyukai oppa? Selama ini aku hanya menyukai Tao oppa. Aku hanya tidak ingin membuat oppa malu karena ditolak oleh seorang yeoja.”

Aku menatap Kyeona tidak percaya. Ini tidak mungkin Kyeona. Kyeona milikku bukan orang seperti ini. Kyeona milikku memiliki hati yang tulus dan sangat perhatian.

Kutatap matanya dalam-dalam tapi aku tidak menemukan kelembutan atau kebohongan sama sekali dalam matanya. Matanya keras seperti batu obsidian dan tanpa keraguan.

“Sudahlah. Aku malas berbicara dengan oppa. Kita putus. Lalu bencilah aku sama seperti aku membenci oppa. Tao oppa, ayo kita pergi.”

Kyeona menarik tangan Tao dan berjalan melewatiku yang masih terdiam seperti patung.

“Mian hyung.”, bisik Tao sebelum meninggalkanku.

Ini bohong kan? Ini pasti hanya lelucon kan? Mereka pasti sedang tertawa di belakangku sekarang. Ayo keluarlah. Ini tidak lucu sama sekali.

Aku menunggu sendirian di dalam ruangan kosong. Hanya kekosongan yang ada di hatiku sekarang. Sakit rasanya. Sangat sakit.

“Di sini kau rupanya. Kami mencarimu dari tadi.”, ucap Suho hyung.

“Gwaenchanayo? Mengapa kau menangis?”

Suho hyung menghampiriku dan menghapus butiran air mata yang mulai membentuk sungai di pipiku.

“Oh? Suho hyung.  Mataku hanya kelilipan debu saja kok.”

“Cheongmal gwaenchana? Kalau kau ada masalah, kau bisa membicarakannya padaku. Siapa tau bebanmu bisa berkurang.”

“Tidak ada apa-apa kok hyung. Ayo pergi.”

Suho hyung menyerah dan menyeretku langsung ke van. Pikiranku masih melayang entah kemana dan aku juga tidak mau mengumpulkannya. Aku tidak mau memikirkan apapun sekarang.

“Minseok hyung, mana Tao?”

“Luhan hyung bilang Tao harus pergi ke suatu tempat. Kemungkinan dia akan pulang malam.”

Pasti lagi date dengan Kyeona. Ke mana mereka sekarang? Aku jadi teringat date pertama kami. Waktu itu cuaca panas dan kami memutuskan untuk berjalan-jalan di Yeouido Park. Lalu kami saling menyiram air di tengah air mancur, membeli es krim bersama dan tertawa bersama. Tapi yahh… Itu semua hanya menjadi kenangan pahit sekarang.

‘Lalu bencilah aku sama seperti aku membenci oppa.’

Kalimat itu terus terngiang di pikiranku. Bagaimana aku bisa membencinya. Dia cinta pertamaku. Bagaimana aku bisa membencinya? Aku sangat mencintainya. Bagaimana mungkin dia hanya menganggapku seperti mainan yang bisa dibuang sesuka hatinya.

Dan Tao… Aku memang tidak bisa menyalahkannya. Kyeona benar. Aku tidak mungkin bisa mengendalikan hati orang. Jika Tao memang menyukai Kyeona, apa yang bisa kulakukan. Dan jika sebenarnya Kyeona memang menyukai tao, apa yang bisa kulakukan? Kyeona memang dekat dengan Tao dan mereka juga memiliki kepribadian yang sama. Wajar saja jika mereka saling menyukai.

Tapi hatiku tidak bisa bohong. Aku sakit hati jika mengingatnya. Terutama jika mengingat bayangan Kyeona yang berjalan bersama dengan Tao.

Aku terus memikirkan rasa sakit hatiku hingga aku masuk ke dalam dunia mimpi yang dipenuhi dengan beban.

“Bogoshipo.”, bisikku pelan pada layar HPku yang masih memajang fotoku dan Kyeona.

“Babo, bagaimana aku bisa membencimu. 3 bulan sudah kuhabiskan untuk mencoba membencimu. Mengapa aku tidak bisa? Semudah itukah kau membenciku? Kau selalu membuatku khawatir dan cemas jika aku tidak melihatmu. Dan sekarang kau membuatku harus menahan itu semua setiap hari? Kau membuatku menangis setiap malam aku mengingatmu. Kau membuat luka yang sudah kucoba untuk tutupi menjadi bernanah setiap kali aku melihat benda yang mengingatkanku padamu. Kalau kau tau aku sebodoh itu, kau pasti akan langsung menyuruhku membuangnya. Iya kan? Kau tidak tau seberapa rindunya aku padamu. Merasakan hangatnya tubuhmu di pelukanku. Melihat pipimu yang memerah setiap kali kucium. Menerima semua perhatianmu ketika aku lelah. Aku merindukan semuanya.”

“Dan kau ingat tempat ini? Ini tempat di mana aku pertama kali melihatmu. Melihatmu yang begitu frustasi lalu tersenyum dengan lebar ketika semua bebanmu terangkat. Aku dulu hanya merasa kagum melihat caramu melampiaskan kemarahan. Tapi dimulai dari rasa kagum itu, aku mulai menyukaimu. Dari caramu menyanyi, dance hingga senyummu yang sangat langka.”

“Kau ingat pertama kali kau tersenyum padaku? Kau pertama takut kan padaku? Karena banyaknya trainee lebih tua yang mengerjaimu, kau sangat takut padaku dulu. Bahkan tidak berani menatap mataku. Kau hanya menunduk hingga aku tertawa karena melihatmu yang begitu lucu. Lalu kau tersenyum saat aku memperkenalkan diriku. Saat kau tersenyum itu, kau langsung membuatku mabuk dan kecanduan akan senyummu. Kau mungkin tidak secantik trainee lain tapi aku paling menyukai senyummu. Terlihat sangat murni dan innocent.”

“Dan setelah setengah tahun lebih kita menghabiskan waktu manis bersama, kau tiba-tiba menyuruhku untuk membencimu? Kau pikir akan semudah itu? Dan aku juga tidak bodoh untuk membiarkanmu lepas begitu saja. Tapi bagaimana aku bisa menahanmu? Kau bahkan sudah mengganti nomormu. Kau juga melarang orang yang dekat denganmu untuk memberikan nomormu yang baru padaku. Kau begitu jahat, dasar bodoh.”

Aku melirik jam tangan pemberiannya tahun lalu. Mungkin aku sudah terlalu lama duduk di sini seperti orang bodoh. Aku memutuskan untuk turun dan pulang.

Mungkin takdir yang sudah digariskan tidak akan bisa berubah. Aku bertemu dengan Kyeona di koridor practice room di lantai 2. Dia terlihat sangat kurus dibandingkan terakhir kali aku bertemu dengannya. Dan dia memakai topi hitam dan tudung hoodie yang menutupi kepalanya seperti terakhir kali. Matanya hanya menatapku sekilas lalu melewatiku seakan-akan aku ini tidak tampak. Aku langsung menggenggam pergelangan tangannya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanyanya dingin.

“Tolong… Jangan pergi lagi.”

“Aku benci oppa.”

“Tapi aku mencintaimu.”

“Itu bukan urusanku. Lepaskan tanganmu sekarang.”

“Shireo.”

“Aku bilang lepaskan. Aku benci oppa. Sangat benci.”

Ucapannya yang sangat ketus dan benar-benar menyiratkan kebencian membuatku melepaskan genggamanku pada tangannya. Ucapannya benar-benar membuatku sulit bernafas. Seakan-akan dadaku baru saja dilempar sekarung beras.

“Baekhyun hyung, hyung sudah pulang. Hyung lapar? Kyungsoo hyung membuat spagethi hari ini.”, sapa Jongin begitu aku sampai di dorm.

“Aku tidak lapar Jongin-ah.”, jawabku pelan seperti bisikan.

Aku mengabaikan pertanyaan Jongin selanjutnya karena aku sendiri tidak tau apa yang dia tanyakan.

3 months later…

“BAEKHYUN HYUNG!!!!!!!!!!!!”

Teriakan Sehun benar-benar mengganggu. Apa dia tidak bisa bicara normal saja? Mengapa harus teriak-teriak sih?

“WAE???!!!”, aku balas berteriak.

“Hyung, Kyeona berhenti dari SM.”

Lagi-lagi Kyeona. Sudah 3 bulan aku tidak mendengar kabar sama sekali tentangnya.

“Keurae?”

“Ne. Aku tadi bertemu dengannya di Yeouido Park. Aku sedang jalan-jalan dengan teman sekelasku saat aku melihatnya berjalan sendirian. Anehnya, dia memakai topi dan hoodie yang menutupi kepalanya. Memangnya tidak panas ya? Ini kan musim panas. Lalu aku menghampirinya dan bertanya mengapa dia berkeliaran di waktu training dan dia bilang dia sudah berhenti dari SM. Kok hyung tidak kasih tau sih?”

“Mana aku tau.”, ucapku kesal lalu masuk ke kamar.

Apa benar dia berhenti dari SM? Mengapa? Coba aku tanya Jaewon hyungnim. Mungkin dia tau.

“Yoboseyo?”

Hhh… Untung saja diangkat.

“Yoboseyo hyungnim. Baekhyun imnida.”

“Ah ne Baekhyun-ah. Ada apa?”

“Hyung, aku dengar dari Sehunnie katanya Kyeona sudah berhenti dari SM.”

“Ne. Kau tidak tau? Itu sudah lama sekali. Sudah sekitar setengah tahun lebih ya? Sayang sekali padahal dia sangat berbakat.”

“Setengah tahun lebih? Aku bertemu  denganny di SM sekitar 3 bulan lalu.”

“Oh ya dia mampir ke sini 3 bulan lalu. Dia bilang sebagai kenang-kenangan sebelum dia pergi.”

“Pergi? Ke mana hyung? Mengapa dia berhenti dari SM?”

“Kau benar-benar tidak tau? Kyeona terkena kanker otak. Saat dia ke sini terakhir kali, dia bilang kankernya mulai menyebar dan sudah stadium 3. Kemungkinan untuk sembuh hanya 35%. Kau benar-benar tidak tau? Aku dengar dari trainee lain kalian sangat dekat. Bahkan ada rumor kalau kalian berpacaran.”

“Kanker otak? Stadium 3? Hyung tau di mana dia dirawat?”

“Hmmm… Kalau tidak salah di Severance Hospital of the Yonsei University Health System. Kalau kau mengunjunginya, sampaikan salam cepat sembuh untuknya ya.”

“Ne. Kamsahamnida informasinya hyung.”

Kanker otak? Bagaimana bisa? Aku dengar kanker otak kebanyakan terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan atau benturan sangat keras di kepalanya. Kyeona kan tidak pernah… Tunggu dulu…

2 bulan sebelum mempersiapkan debut teaser, Kyeona pernah jatuh di tangga saat hujan lebat lalu kepalanya membentur lantai hingga berdarah. Tapi dia bilang tidak apa-apa dan hanya luka kecil. Dan mengapa dia tidak memberitau apa-apa padaku? Apalagi kanker. Itu bukan masalah yang kecil.

Pokoknya aku harus bicara dengannya. Sekarang juga.

“Suho hyung, kita tidak ada jadwal kan hari ini? Sampai malam?”

“Ne. Kita kosong. Ada apa?”

“Hyung aku pergi dulu ya. Mungkin aku pulang malam. Atau tidak pulang hari ini.”

“Mau ke mana?”

“Rumah sakit.”, jawabku singkat lalu keluar dari dorm.

“Permisi, boleh aku tau nomor kamar pasien yang bernama Lee Kyeona?”

“Lee Kyeona? Ne harap tunggu sebentar.”

“Lee Kyeona-sshi, pasien kanker otak ada di kamar nomor 296 di divisi khusus kanker.”

“Maaf, tapi di mana divisi kanker?”

“Dari koridor ini lalu lurus dan belok kanan, maka anda akan sampai ke taman belakang. Dari jalan setapak itu, anda tinggal berjalan lurus hingga menemukan perempatan jalan setapak lalu berjalan lurus. Di sana divisi kanker.”

“Kamsahamnida.”

Aku mengikuti petunjuk dari suster tadi dan sampai di divisi kanker. Tiba-tiba aku merasakan tekanan yang sangat besar di dadaku hingga aku merasa sulit bernafas.

Lorong-lorong yang kulewati terasa sangat sepi. Hanya terdengar ketukan langkah kakiku dan deru nafasku. Di saat aku mencapai ujung koridor kamar nomor 290an, langkahku terhenti. Koridor kosong di sini, terlihat hanya 2 orang yang sedang duduk menunggu dengan raut wajah cemas. Walaupun mereka menunduk, aku masih dapat melihat wajah 2 orang yang sangat kukenal tersebut.

“Luhan hyung, Tao.”, bisikku pelan tapi memantul di dinding koridor

Mereka berdua mendongak dan menatapku dengan kaget.

“Baekhyun hyung.”

“Apa yang kau lakukan di sini.”, tanyaku dingin.

Semenjak aku mengetahui Tao dan Kyeona berpacaran, aku tidak pernah berbicara lagi dengannya. Dan sekarang harus berbicara dengannya, membuat udara di sekitarku menjadi sangat canggung.

“Ah… Ada temanku dirawat di sini.”

“Maksudku, apa yang kau lakukan di Korea? Kapan kau tiba di sini?”

“Tidak lama. Kami hanya mengunjungi teman kami sebentar lalu pulang.”, jawab Luhan hyung.

“Siapa teman kalian itu sampai membuat kalian terbang ke Korea?”

“Hyung tidak tau kok.”

“Jangan coba-coba membohongiku. Aku sudah tau semuanya.”

Perkataanku membuat mereka kembali tersentak dan menoleh satu sama lain.

“Kurasa ini sudah waktunya kau memberitau Baekhyun yang sebenarnya.”

“Tapi gege…”

“Tao, Baekhyun berhak tau semuanya. Aku akan membawakan minuman untukmu.”, ucap Luhan hyung lalu meninggalkan kami berdua.

“Mian hyung.”, ucapnya pelan.

“Sejak kapan kau tau Kyeona mengidap kanker?”

“Sudah cukup lama. Sekitar setengah tahun yang lalu.”

“Mengapa kau tidak memberitauku?”

“Hyung, Kyeona tidak ingin membuatmu cemas.”

“Jangan membuatku tertawa? Mengapa dia mengkhawatirkanku? Dia juga tidak menyukaiku.”

“Dan hyung percaya? Hyung, dia sangat mencintaimu. Dia ingin hyung membencinya agar hyung tidak sedih jika dia nanti pergi ke alam sana.”

“Jadi semua itu bohong?”

“Tentu saja. Mungkin hyung merasa sakit tapi Kyeona juga merasakannya. Dia merasa sangat berat melepaskan hyung. Dia tidak pernah berhenti menangis setiap kali dia memikirkan hyung.”

“Bagaimana dia memberitaumu? Dan mengapa Luhan hyung juga tau?”

“Dia tidak memberitauku sama sekali. Dia bahkan mengelak ketika aku menanyakannya. Aku tidak sengaja menemukan kertas dari rumah sakit dan aku membawanya ke Luhan hyung.”

Ribuan pertanyaan masih berputar di kepalaku. Entah yang mana yang mau aku tanyakan lagi.

“Mengapa kau dan Luhan hyung di luar?”

Mata Tao menoleh ke pintu dan menggigit bibirnya. Raut wajahnya terlihat gelisah dan matanya mulai berair. “Kyeona kritis lagi.”

“Kritis? Dia kan hanya stadium 3.”

“3 bulan lalu dia masih stadium 3. Sekarang sudah stadium akhir dan tidak ada kemungkinan sembuh kecuali operasi. Walaupun operasi, kemungkinan berhasil masih 50%”

“Mengapa dia tidak operasi saja kalau begitu?”

“Dia tidak mau. Dia ingin hidupnya berjalan apa adanya tanpa perubahan.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Sangat parah. Kata dokter kemungkinan hidup Kyeona tinggal 1 minggu lagi. Dia tidak akan bertahan lama karena kankernya sudah menyebar dan tidak mungkin disembuhkan lagi.”

Air mata Tao menetes bersamaan dengan air mataku. Dasar yeoja bodoh. Mengapa dia tidak operasi saja.

Ceklek…

“Tao-sshi?”

Seorang dokter muda keluar dari ruangan Kyeona dengan wajah yang lelah.

“Ne. Bagaimana keadaannya?”

“ Sekarang sudah tenang. Dan tolong jangan berbicara hal yang berat karena itu akan memperburuk sel kanker di otaknya. Dan berikan apapun yang dia mau. Kau tau kan. Beri dia kenangan yang indah sebelum hidupnya berakhir. Memang akan berat melepaskannya tapi akan berat juga baginya untuk selalu menderita seperti ini. Jadi kuharap kau bisa menerima yang terburuk.”

Hatiku mencelos mendengar perkataan dokter. Tuhan, tolong jangan biarkan Kyeona pergi dulu. Aku bahkan belum sempat member kenangan yang indah untuknya.

“Boleh kami masuk sekarang?”

“Ne.”

Aku mengikuti Tao masuk ke kamar Kyeona. Begitu aku melihatnya, mataku langsung basah. Bagaimana mungkin tubuhnya bisa sekurus itu sekarang? Dan ke mana rambut panjangnya yang selama ini selalu kuelus? Hanya sebuah kupluk rajutan berwarna putih yang menutupi kepalanya. Kontras dengan kondisi tubuhnya, wajahnya yang pucat terlihat mulus dan tanpa cela. Seperti sedang tertidur saja.

Aku duduk di kursi sebelah tempat tidurnya dan mengelus pipinya. Terasa halus dan dingin. Seperti mengelus batu pualam. Tangannya yang kugenggampun terasa dingin.

“Dia selalu menghubungimu?”

“Ani. Aku yang selalu menghubunginya. Dia tidak ingin menggangguku tapi aku berkeras ingin mengetahui kondisinya. Hyung tau apa yang membuatnya tersenyum di antara rasa sakitnya?

Diamku diartikan sebagai iya oleh Tao karena dia langsung melanjutkan. “Dia senang melihat hyung berdiri di atas panggung dan tersenyum ceria. Dia tidak pernah melewatkan satupun acara radio atau acara TV yang menampilkan EXO. Dia merasa senang karena hyung sudah bisa melupakannya walaupun dia merasakan sakit luar bisa. Di tubuh dan di hatinya.”

Air mataku kini mengalir deras mendengar semua perkataan Tao. Apa hanya dia yang merasa sakit. Aku juga merasa sakit. Dan apa katanya tadi? Tersenyum ceria? Itu tersenyum paksa. Aku berusaha sekuat tenaga menghilangkan perasaan sakitku ketika di atas panggung. Tetap saja perasaan itu ada.

Kurasakan tangan Kyeona yang berada di genggamanku bergerak. Aku langsung meremas tangannya dan perlahan-lahan matanya membuka.

Pertama dia menatap sekelilingnya  lalu matanya focus ke arahku. Kyeona hanya menatapku kosong dan lama-kelamaan matanya membulat dan langsung mengalihkan tatapannya ke Tao.

“Aku sudah memberitaukan semuanya. Mian.”

“Hhhh… Gwaenchana. Lama-kelamaan pasti akan terbongkar juga.”

Mataku membulat mendengar suara Kyeona yang terdengar seperti desau angin. Terdengar sangat rapuh dan pelan.

“Mengapa oppa di sini? Mana Luhan oppa?”

“Luhan hyung di luar. Apa aku tidak boleh ada di sini?”

“Aku mungkin harus menyusul Luhan hyung.”, aku mendengar bisikan Tao dan pintu yang ditutup.

“Kapan oppa tau?”

“Baru tadi. Mengapa kau tidak memberitauku sama sekali? Dasar yeoja bodoh.”, ucapku bercanda namun air mataku terus turun.

Tangannya yang gemetaran menghapus air mataku dan tersenyum. “Jangan menangis. Aku sudah meminta oppa untuk membenciku kan?”

“Bagaimana aku bisa membencimu bodoh. Kau pikir bisa semudah itu?”, kali ini aku benar-benar menangis hingga terisak.

“Hhh… Ternyata actingku begitu parah hingga Baeki oppa tidak bisa tertipu.”

Aku tersenyum dalam tangis mendengarnya memanggilku Baeki. Hanya dia yang memanggilku seperti itu. Itu panggilan specialnya untukku.

“Kau tidak merindukanku?”, tanyaku berharap.

“Bogoshipoyo oppa. Cheongmal bogoshipo.”, ucapnya pelan namun tulus. Senyum yang sangat kurindukan itu merekah di bibir pucatnya.

“Nado.”, ucapku dan memeluk tubuh kurusnya.

“Oppa, boleh aku meminta sesuatu? Anggap saja ini permintaan terakhirku.”

Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya. “Kau akan hidup sangat lama bersamaku. Jangan berbicara seperti itu. Apa permintaanmu? Apapun akan kukabulkan.”

“Pergi dari sini.”

“Ne? Aku tidak akan mengabulkannya kalau begitu.”

“Hanya bercanda. Aku ingin mendengar oppa menyanyi.”

“Menyanyi? Lagu apa yang kau inginkan?”

“Terserah oppa saja.”

Aku membersihkan tenggorokanku sebelum menyanyikan lagu yang sangat sering kunyanyikan live

This moment feels like I was born as a child who knew nothing
I closed my eyes again in case it 
would be a dream
You were standing in fron of my desperate self and praying
Just once, I want to walk side by side with you

Taken by the soft wind to your world
You asked me brightly where I came from to your side
And I told you that It was a secret
Wherever we walk together
Will be paradise

You are an eye-blinding entity compared to Michael
Who would remember you, I will not forgive it
Like the beginning when stepping into Eden
Believing you every day from the bottom of my heart

I alway want to protect you
So that even the small things won’t tire you out, I’m eternally in love

As your guardian, I will block the stiff wind
Even though people turn their backs to you
If I could become the person
Who can wipe your tears on a tiring day
It will be paradise

I, who has fallen in love with no other place to
Go back, my wings have been talen away (oh no)
Even though I lost my everlasting life, the reason to my happiness
You are my eternity Eternally Love
(EXO-K – Angel)

Kyeona menepuk tangannya pelan dan tersenyum lemah. Air mataku justru hampir jatuh lagi karena tidak tega melihatnya yang masih tersenyum demi aku.

“Chagi, aku juga ingin mendengar suaramu.”, pintaku manja dan menggenggam tangannya yang rasanya semakin dingin.

“Suaraku saja sudah seperti ini. Bagaimana aku bisa menyanyi?”

“Ayolah. Suaramu tetap bagus kok.”, aku menunjukkan puppy eyes yang tidak mungkin bisa ditolaknya.

“Arasseo. Mau lagu apa?”

“Terserah chagi saja.”

Matanya menerawang sebentar sebelum menyunggingkan senyumnya. Senyum sendu yang membuat hatiku seperti teriris.

Saying that this moment is the last to you whom I loved so much
Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying, I was the one who said no and bid our farewell

I always act strong,
but I’m a cowardly
woman who didn’t have the confidence to protect you forever and left

don’t love someone like me again
don’t make someone to miss again
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you.. please

hurting, you try to hold me back,
but I’m a cowardly woman who doesn’t have the confidence to give happiness to anyone beside h
im

don’t love someone like me again
don’t make someone to miss again
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you

even if we are ever to regret our breakup
I can’t do anything but give you our farewell

don’t cry in pain counting the time that’s passed
don’t miss a foolish love that’s already passed
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you..

Please, I hope that you’ll be happy
let’s never meet again…
(Super Junior – Let’s Not)

 

“Bodoh. Kau terlalu banyak berhalusinasi. Kau akan tetap di sini bersamaku kan?”

“Hadapi saja kenyataan oppa. Aku tidak akan bertahan lama lagi.”

“Andwae. Kau pasti bisa bertahan. Kau akan bertahan kan? Demi aku.”

Aku tidak peduli jika aku terdengar seperti mengemis cintanya atau apa. Aku hanya ingin dia tetap di sampingku. Apa itu salah?

Kyeona menatapku dalam lalu air matanya menetes dan membentuk aliran sungai di pipinya. “Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Jangan sedih jika aku pergi. Aku akan terus mengawasi dan menjaga oppa dari sana. Teruslah tersenyum maka aku juga akan tersenyum.”

“Mudah mengatakannya bodoh.”, ucapku dan air mata kembali lolos dan mengalir bebas.

“Saranghaeyo, Kyeona-ah.”

“Saranghaeyo Baeki oppa.”, ucapnya pelan dan tersenyum kecil.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan mengecup bibirnya untuk pertama kali. Terasa kaku dan sangat dingin.

“Gomawoyo Baeki oppa.”, bisiknya begitu aku melepaskan ciumanku.

“Oppa, aku mau tidur.”

“Istirahatlah sayang.”, aku mengelus pipi dan mengecup keningnya.

Perlahan-lahan matanya terpejam dan bersamaan dengan matanya yang tertutup, mesin pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurus. Tubuhku langsung kaku dan menatap wajah Kyeona yang tersenyum tenang dalam tidurnya.

“Andwae. Andwae. Kyeona-ah ireona. Jangan mempermainkanku.”

Aku menekan tombol emergency di atas ranjangnya. Air mataku masih terus keluar dan tidak menunjukkan tanda akan berhenti.

“Kyeona-ah ireona. Ayo bangun. Ini tidak lucu. Andwaeyo. Kau belum boleh meninggalkanku.”, aku mengguncang-guncangkan tubuhnya yang kaku.

Pintu menjeblak terbuka dan dokter, suster serta Tao dan Luhan hyung masuk. Luhan hyung menarikku menjauhi tubuh Kyeona sementara Tao menangis tanpa suara melihat Kyeona yang sedang tidur dengan tenang.

“DIa tidak meninggal kan hyung? Dia tidak pergi kan hyung?”, tanyaku frustasi ke Luhan hyung.

“Tenangkan dirimu dan terima kenyataannya, Baekhyun-ah. Biarkan Kyeona beristirahat dengan tenang.”

“ANDWAE!!!!”

Pemakaman… Aku tidak pernah menyukainya. Semua orang akan bersedih dan menangis. Kali ini termasuk aku meskipun aku mencoba menahannya.

“Kau yang namanya Baekhyun?”, tanya seorang namja.

“Aku Lee Junjin. Oppanya Kyeona. Aku ingin memberikan ini untukmu.”, tangannya menyodorkan sebuah buku seperti diary berwarna putih dan biru.

“Apa ini?”

“Kau akan tau ketika kau membacanya.”

1 per 1 orang yang datang mulai pergi hingga aku yang terakhir. Aku berlutut di sebelah pusara Kyeona dan meletakkan sebuket bunga Gardenia yang sangat disukainya.

Aku membuka buku tadi dan mulai membaca isinya.

 

7 Mei 2012…

 

‘Walaupun aku tidak tega, aku harus melakukannya. Aku tidak ingin Baeki oppa menangis saat aku pergi nanti. Baeki oppa harus membenciku tapi aku akan tetap mencintainya. Aku menangis setelah memutuskan Baeki oppa hingga aku pingsan. Untung Tao oppa ada di sebelahku. Jika tidak mungkin akan timbul kehebohan dan Baeki oppa akan curiga. Tao oppa memang sangat baik dan perhatian. Aku masih tidak terbiasa dengan kemotheraphy. Aku benci rasa mual yang selalu datang dan tidak tahan dengan sakit kepalanya T.T Baeki oppa saranghaeyo.’

Aku terus membaca halaman demi halaman tulisan Kyeona. Semakin aku membacanya, semakin banyak air mata yang keluar. Aku sampai hingga halaman terakhir yang ditulisnya kemarin malam.

21 Agustus 2012…

 

‘Aku menghabiskan waktu bersama dengan Tao oppa dan Luhan oppa di daerah sekitar Yonsei. Aku bosan di rumah sakit. Mereka pertama menolak pergi terutama Tao oppa. Tapi setelah kubujuk dengan aegyo, akhirnya mereka setuju juga. Sebenarnya sebelum pergi, kepalaku sudah sangat pusing, tapi sesudah aku minum obat, pusingnya hilang walaupun tidak lama kemudian muncul lagi tapi aku berusaha menahannya agar aku bisa keluar ^^ Luhan oppa membelikanku bubble tea yang biasa dibelinya bersama Sehun oppa. Aku diberikan rasa kopi, rasa favoriteku meskipun sudah dilarang oleh Ryujin oppa agar tidak meminum kopi, tapi ini kan bukan kopi karena ini hanya rasa kopi. Kali ini aku mimisan dulu sebelum pingsan ToT Untungnya aku pingsan ketika kami sudah berada di taman rumah sakit. Aku masih ingat wajah Luhan oppa dan Tao oppa yang sangat panic. Aku merasa bersalah pada mereka karena selalu merepotkan mereka dan membuat mereka khawatir setiap hari. AKu sangat beruntung bisa mengenal Tao oppa dan Luhan oppa. Aku sangat menyayangi mereka walaupun rasa sayangku pada mereka beda dengan rasa sukaku pada Baeki oppa. Aku menyayangi Luhan oppa dan Tao oppa sebagai saudara seperti Junjin oppa. Sedangkan aku menyukai aniyo… Aku mencintai Baeki oppa sebagai namja. Aku sangat merindukannya. Baeki oppa bogoshipo. Aku bisa merasakan waktuku sebentar lagi akan tiba. Selamat tinggal semuanya. Jaewon soensaengnim, Sooman soensaengnim, cheongmal kamsahamnida. Luhan gege, aku akan merindukan wajah imutmu. Tao gege, aku akan merindukan gerakan wushumu. Wufan gege, aku akan merindukan tatapan kharismamu. Yixing gege, aku akan merindukan waktu di mana aku bisa sparing bersamamu. Wo ai ni men. Zai qian. Junmyeon oppa, tetaplah menjadi Suho (guardian) bagi member lain. Minseok oppa, Jongdae oppa, belajarlah mandarin yang rajin ^^ Kyungsoo oppa, aku akan sangat merindukan Kimchi spagethi. Jongin oppa, aku akan merindukan ekspresi malumu yang begitu lucu. Sehun oppa, aku akan merindukan aegyo ppuing ppuing ^^ Chanyeol oppa, aku akan merindukan suaramu yang begitu berbalik dengan wajahmu. Saranghaeyo oppadeul. Jalgayo. Uri Baeki oppa, aku akan merindukan semua aspek darimu terutama senyummu yang sudah membuat hidupku berubah. Cheongmal saranghaeyo. Yeongwonhi saranghaeyo. Byebye oppa. Aku akan merindukan kalian semua. Annyeong ^^’

Aku kini terisak keras di samping pusaranya. “Kau bilang jangan menangis? Sangat susah babo. Aku akan berusaha terus tersenyum untukmu. Kau senang kan?”

Angin berhembus pelan seakan-akan memeluk dan menjawab pertanyaanku. Angin lembut ini seakan-akan membisikkan “Aku akan selalu ada dan menjaga oppa. Aku akan kembali lagi. Tunggulah aku.”

Aku tersenyum lalu mengelus pusara Kyeona dan beranjak pulang.

“Baekhyun hyung, gerakan dancemu tadi salah. Seharusnya kau bergerak ke kanan.”, tegur Sehunie.

“Mian. Aku sudah sangat capek. Istirahat dulu ya. 5 menit saja.”, pintaku.

“Ayolah kita sudah latihan satu setengah jam nonstop. Kami bukan dance machine seperti kalian.”, timpal Suho hyung.

“Baiklah 10 menit saja.”

“Arasseo.”, ucapku dan mengambil botol air minum lalu beranjak keluar.

“Hyung mau ke mana? Katanya mau istirahat.”

“Aku mau ke atap. Aku lebih bisa menenangkan diri di sana.”

Ketika aku sudah hampir mencapai pintu atap, aku mendengar suara yeoja yang menyanyi dengan sangat keras.

Baby don’t cry tonight

Eodumi geodhigo namyeon

Baby don’t cry tonight

Eobseossdeon il-i doelgeoya

Mulgeopum-idoeneungeos-eunni ga aniya

Kkeutnae mollayahaessdeon

So baby don’t cry cry

Nae sarang-i neol jikilteni (EXO-K – Baby Don’t Cry)

Deg… Perasaan déjà vu yang sangat kuat langsung menghantamku. Perasaan ini. Ini perasaan saat pertama kali bertemu dengan Kyeona.

Aku melihat di atap ada seorang yeoja yang sedang memunggungiku dan masih menyanyi. Sesekali kudengar isak tangisnya di tengah lagu. Saat lagu sudah selesai, dia tertawa dengan gembira dan berbalik ke arahku.

“Sunbaenim. Annyeonghaseyo.”, ucapnya dan membungkuk 90o

“Trainee baru di sini?”

“Ne. Lee Yeonchan imnida.”, ucapnya takut-takut. Persis saat pertama kali aku berkenalan dengan Kyeona.

“Aigooo… Kau sangat lucu.”, aku mencubit pipinya gemas.

“Sakit sunbae.”, ujarnya dan mengusap pipinya yang mulai memerah namun dia tersenyum manis.

Astaga senyumnya bahkan mirip dengan senyuman Kyeona. Angin mendesir dan rasanya aku bisa mendengar suara Kyeona.

“Jagalah dia dan hiduplah bahagia. Saranghaeyo oppa.”

Aku tersenyum pada Yeonchan dan mengacak-acak rambut merah panjangnya.

‘Gomawo Kyeona sudah menjaga oppa. Nado saranghaeyo.’, batinku lalu tersenyum pada Yeonchan.

Hidup baruku dimulai sekarang.

The End…

37 pemikiran pada “Baby Don’t Cry (Baekhyun Version)

  1. Feel nya dapet banget T-T huhu, Kyeona kasian banget :(( daebak deh pokoknya thor, apalagi ceritanya lumayan panjang jadi lebih detail dan itu bikin angst nya kerasa banget :’

    Keep writing ne~^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s