Baby Don’t Cry (Kyeona Version)

Author: Yoana Felicia

Main Csst: Baekhyun

Genre: Romance

Baby Don’t Cry (Kyeona version)

_____________________________________________

Aku terbangun setelah alarm dari HPku berbunyi keras. Begitu aku duduk, gelombang vertigo langsung menghantamku keras hingga aku kembali mendaratkan kepalaku di bantal. Mengapa masih pusing padahal aku tidak kurang tidur kok.

“Kyeona-ah bangun. Cepat mandi. Oppa akan menurunkanmu di sekolah nanti. Cepat.”

Teriakan Junjin oppa menggema masuk ke kamarku. Perlahan-lahan aku bangkit dari ranjang dan merangkak keluar menuju dapur. Aku mengunyah roti perlahan-lahan lalu minum obat sakit kepala. Agak sedikit hilang sih, tapi aku memasukkan obat itu ke dalam tasku untuk berjaga-jaga.

“Kyeona pali. Nanti aku terlambat.”

“Ne sebentar oppa.”

Aku mengikat tali sepatuku sembarangan karena panic lalu berlari mengejar Junjin oppa yang hampir menutup pintu lift.

“Mengapa lama sekali sih?”

“Hhh… Oppa jahat. Hhh… Aku kan capek gara-gara training. Hhh… Wajar dong kalo aku perlu tidur sedikit lebih banyak.”, jawabku terputus-putus.

“Jangan kecapekan. Aku tidak mau kau sakit.”

“Tenang saja. Aku sesehat kuda kok.”

Junjin oppa mengacak-acak rambutku sebelum duduk di kursi kemudi. Tanpa suara aku duduk di sebelahnya. Karena kami berdua bukan tipe orang yang cerewet, sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sesekali aku menyenandungkan lagu yang sedang diputar di radio.

“Aku pergi dulu. Annyeong oppa.”

Waktu sekolah berjalan seperti biasa. Hanya saja aku terkadang tidak bisa konsentrasi karena kepalaku yang tiba-tiba berdenyut atau perhatianku teralihkan saat melihat rambutku yang tiba-tiba rontok ketika aku menyelipkan rambut ke balik telinga. Hmmm.. Sepertinya aku terlalu depresi dengan training atau sekolah. Tapi selama ini tidak pernah. Ahh… Mungkin karena aku terlalu banyak berpikiran negative seperti ini.

Drrrtttt… Drrrtttt… Drrrttt…

HPku bergetar saat aku sedang mengantri makanan di kantin agency. Well ini kan jam makan siang dan aku tau persis siapa yang menelefonku.

Nae Baeki Oppa ❤ Calling…

“Yoboseyo?”

“Jagiya ^o^”

“Waeyo?”

“Eodiyeyong??”

Aku bisa membayangkan wajah Baeki oppa yang tersenyum manja dan memamerkan aegyonya. Sudut bibirku terangkat dan mengepit ponsel di antara telinga dan pundakku ketika aku harus mengangkat nampan yang berisi penuh makanan untukku dan untuk Baeki oppa tentu saja.

“Aku di kantin bawah kok.”

“Arasseoyong… Aku akan sampai ke sana sebentar lagi.”, ucapnya lalu langsung mematikan sambungan.

Aku baru mengunyah 2 sendok ketika kurasakan sepasang tangan yang tidak asing memeluk pinggangku dari belakang.

“Chagiya ^^”

“Baeki oppa lepasin ah. Malu tau.”

Baeki oppa melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibirnya. Sementara aku hanya tersenyum dan meletakkan tangannya di pundakku lalu melanjutkan makan siang.

“Jangan cemberut gitu deh. Oppa jelek tau.”

“Tapi kau tetap suka kan. Ayolah chagi. Aku capek dan rindu padamu. Masa aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri?”, ucapnya lalu menyandarkan kepalanya di pundakku seperti biasa.

“Bukannya tidak boleh, tapi oppa tau tempat dong. Ini kan di kantin. Malu dong diliatin orang banyak.”

“Ehem… Kayaknya aku ganggu nih.”, suara seorang namja mengagetkanku. Aku menoleh dan melihat Suho oppa yang tersenyum lebar di belakang kami.

“Suho oppa. Aniyo. Duduk aja oppa.”

“Kyeona-ah, bagaimana latihan tadi?”

“Hehe… Biasa aja. Agak pusing sedikit sih sekarang.”

Ralat sebenarnya aku sangat pusing sekarang. Mungkin karena aku tadi tidak makan banyak tadi pagi. Tapi aku tidak ingin membuat Baeki oppa khawatir. Dia sudah cukup pusing dengan persiapan debutnya.

“Aigooo… Jangan kecapekan ya. Aku tidak mau kau sakit.”

Baeki oppa memeluk leherku lalu mengecup pipiku singkat. Aigooo… Pipiku pasti memerah sekarang. Aku memang belum terlalu terbiasa dengan skinship karena Baeki oppa kan pacar pertamaku dan aku sama sekali tidak tau apa yang harus kulakukan.

“Hei, lihat tempat dong kalo mau mesra-mesraan. Ini tempat orang makan bukan pacaran.”, tegur Jongin oppa sedangkan Luhan oppa dan Sehun oppa yang berada di belakangnya hanya tertawa cekikikan.

“Kai oppa, Sehun oppa, Luhan oppa. Ini bukan salahku. Baekhyun oppa yang main nyelonong saja.”

“Jongin-ah, kalo iri bilang saja.”, sindir Baeki oppa lalu menyandarkan kepalanya di pundakku lagi.

“Tidak usah sensi kayak gitu Jongin-ah. Wajar aja. Mereka kan pacaran.”, sambung Luhan oppa dan menyesap bubble tea.

“Mian Kai oppa. Bagaimana persiapan debut teasernya?”

“Begitulah. Cukup membuat stress. Suho hyung sampai kurus banyak karena stress.”

“Suho oppa, oppa harus jaga kesehatan. Jangan sampai di panggung nanti pingsan. Tidak lucu. Dan oppa harus banyak makan sedikit. Lihat aja tuh pipi tembem oppa udah pada hilang.”

“Tenang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri kok. Kau terdengar seperti eommaku saja.”

“Chagi, aku juga kurusan.”, rengek Baeki oppa dan menarik-narik lengan kemeja seragam sekolahku.

“Hehe… Oppa juga jangan sakit. Oh ya, mana member lain?”

“Xiumin hyung dan Chen hyung masih belajar mandarin. Tao lagi wushu ditemani Kris hyung. Kyungsoo hyung masih di practice room. Chanyeol hyung dan Lay hyung tidak tau keluyuran ke mana.”, jelas Kai oppa panjang lebar sementara aku mengangguk-angguk.

Aku mengelus rambut Baeki oppa yang selalu basah karena keringat dan menyandarkan kepalaku di atas kepalanya. Aku dapat merasakan hangat nafas Baeki oppa yang menggelitik leherku. Tanganku merogoh tasku dan mengambil obat sakit kepala yang sama dengan yang kukonsumsi tadi pagi. AKu sudah selesai makan tapi kok masih pusing ya? Mungkin aku harus pergi ke dokter kapan-kapan jika aku tidak sedang sibuk.

“Itu obat apa?”, Tanya Sehun oppa tiba-tiba.

“Aniyo. Cuma vitamin saja kok.”

“Di sini rupanya kalian. Kita dipanggil ke ruang CEO sekarang.”, ujar Kris oppa yang tiba-tiba datang sambil berlari.

“Chagi, aku tinggal dulu ya.”, Baeki oppa mengecup pipi dan keningku sebelum pergi. Aku bisa merasakan panas kembali merayapi pipiku.

“Ne oppa.”

“Kyeona, kami jalan dulu ya.”, pamit Luhan oppa

“Ne oppadeul. Annyeong.”

Aku melambaikan tangan hingga punggung mereka kini menghadap ke arahku. Aku sebenarnya mau melanjutkan training tapi rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi walaupun aku sudah minum obat.

Sudahlah Lee Kyeona. Jangan lemah. Jika kau ingin mengejar Baeki oppa, kau harus semangat latihan. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum berjalan ke arah training room.

Sakit di kepalaku semakin hari semakin parah. Aku rasa ini karena kelelahan yang menumpuk selama training. Aku menggeliat di atas ranjang kamarku. Aku tau ini sudah jam 10 tapi aku masih tidak mau beranjak keluar bahkan bergerak. Rasanya tulangku mau lepas semua setiap kali aku bergerak. Dan tentu saja kepalaku yang rasanya mau meledak apalagi ketika aku baru bangun.

Drrttt… Drrrtttt… Drrrttt…

Asal-asalan, aku meraup ponselku yang tergeletak di nakas sebelah ranjang. Dengan mata yang setengah terbuka, aku melihat caller ID orang yang menelefonku.

Nae Baeki Oppa ❤ Calling…

 

“Yoboseyo?”

Aku dapat mendengar suaraku yang sangat serak dan dalam.

“Chagiya ^^ Baru bangun ya?”

“Hmmm…”

“Mau pergi jalan hari ini?”

Aku tidak yakin aku bisa berjalan sekarang. Dan sepertinya aku mulai demam juga karena aku merasakan butiran keringat dingin mulai menuruni leherku.

“Mian oppa. Sepertinya aku tidak bisa. Besok ada ulangan dan aku harus belajar sekarang untuk mengejar ketinggalanku.”

“Keurae? Baiklah kalau begitu. Kapan-kapan saja kita pergi jalan. Belajar yang rajin ya ^^”

“Ne. Gomawo oppa.”

“Saranghaeyo chagi”

“Nado oppa. Annyeong.”

Aku memutuskan sambungan telefon dan beranjak dari ranjang walaupun tidak ingin. Aku mandi dengan air hangat berharap bisa menenangkan kepalaku. Walaupun tanpa effect, aku mencoba bersikap baik-baik saja.

“Junjin oppa, bisa antar aku ke Severance Hospital?”

“Mau ngapain ke sana?”

“Cuma mau check up aja. Belakangan ini aku agak pusing.”

“Kau kecapekan kali. Atau kau terlalu banyak minum kopi waktu bergadang untuk ulangan.”

“Mungkin. Oppa bisa antar aku kan?”

“Ne. Kaja.”

“Haejoon oppa.”, sapaku begitu aku memasui ruangannya.

Di balik meja besar yang bertuliskan Lee Hae Joon, tampak seorang namja berkacamata yang sedang membaca buku tebal yang aku tebak pasti buku kedokteran. Haejoon oppa adalah sepupu jauhku dan sekarang sudah menjadi dokter di sini meskipun sambil belajar untuk mengambil S2.

“Kyeona annyeong. Lama tidak bertemu. Kau sakit? Tumben.”, ocehnya panjang lebar dan memelukku sekilas.

“Entahlah. Mungkin terlalu kecapekan.”

Haejoon oppa meletakkan stetoskop di dadaku dan mendengar detak jantungku sebentar sebelum menempelkan tangannya di keningku.

“Sepertinya kau terkena demam biasa. Minum obat demam biasa pasti sembuh kok.”

“Ne. Tapi oppa, 3 minggu belakangan ini aku selalu pusing setiap hari. Aku pikir itu efek samping kurang tidur jika aku sedang bergadang. Tapi belakangan ini tidurku cukup dan pusing itu masih ada. Bahkan semakin parah jika aku bangun tidur. Seakan-akan kepalaku terbentur sesuatu. Dan rambutku juga sering rontok terutama ketika aku baru bangun tidur.”

“Keurae? Mungkin kau harus tes darah saja. Aku memikirkan suatu penyakit ketika kau bicara soal cirri-ciri tadi. Tapi sepertinya tidak mungkin. Tes darah saja. Mungkin kau ada anemia.”

Aku bisa melihat sedikit kekhawatiran dan kebohongan di balik mata Haejoon oppa. Tidak mungkin anemia sampai membuat rambut rontok.

“Apa harus tes darah. Oppa tau aku takut jarum kan?”

“Ayolah Kyeona-ah. Kau sudah besar masa masih takut jarum.”

“Namanya juga trauma waktu kecil. Emang mudah menyingkirkan trauma. Itu namanya sudah membekas di hati.”

“Ayolah. Jangan lihat jarumnya saja.”

Haejoon oppa menarik tanganku dan mulai mengeluarkan berbagai jarum dan suntikan. Aku hanya menutup mataku ketika Haejoon oppa mulai mendekatkan jarum ke kulitku.

“Bagaimana kuliah oppa?”, tanyaku basa-basi sambil memejam mataku rapat.

“Begitulah. Lumayan sibuk mengurus waktu. Nah sudah selesai. Tidak terlalu buruk kan?”

“Sakit T.T”, rengekku manja.

“Aigoo dasar manja. Mana Junjin?”

Seakan menjawab pertanyaan Haejoon oppa, pintu terbuka dan Junjin oppa masuk sambil menyesap gelas yang aku tebak isinya ice chocolate.

“Lama tidak bertemu hyung.”, sapa Junjin oppa dan memeluk Haejoon oppa.

“Ne. Kau bertambah tinggi lagi?”

“Aniyo. Kyeona sakit apa hyung?”

“Hanya demam biasa kok. Minum obat demam dan istirahat saja yang cukup.”

“Baiklah. Kami pulang dulu ya hyung. Kapan-kapan kita lunch bareng.”

“Ne.”

Junjin oppa merangkul pundakku dan menyeretku keluar. Mungkin ada baiknya juga karena sekarang aku tidak bisa lagi berdiri tegak akibat pusing di kepalaku.

“Gwaenchana?”, tanya Junjin oppa begitu kami meninggalkan Severance.

“Gwaenchana. Hanya sedikit pusing saja.”

“Aku sudah bilang kan jangan terlalu kecapekan. Belum lagi kau masih harus mengatur waktu dengan sekolah.”, omel Junjin oppa sedangkan aku yang mendengarnya merasa mengantuk dan akhirnya tertidur.

Drrttt… Drrrttt…

Aku merasakan HP yang kuletakkan di saku rok sekolahku bergetar saat aku baru masuk ke stasiun kereta bawah tanah. Kubuka isi SMS yang ternyata dikirim oleh Haejoon oppa.

‘Cepat datang ke sini. Hasil tes darahmu sudah keluar dan ada hal penting yang harus kita bicarakan.’

Tepat waktu. Untung saja aku belum mengambil kereta yang ke arah SM. Tidak butuh waktu yang lama ke Yonsei dari sekolahku. Aku mengetuk pintu ruang kerja Haejoon oppa dan melihat Haejoon oppa sudah menungguku dengan  raut wajah serius.

“Annyeong oppa. Ada apa?”

“Duduklah dulu. Aku tau kau pasti capek datang ke sini.”

Aku mengangguk dan duduk di hadapan Haejoon oppa yang masih menatapku tajam.

“Waeyo oppa? Ada hal serius apa?”

“Kyeona-ah, jawab yang jujur. Apa kau pernah mengalkami kecelakaan belakangan ini? Atau kau kepalamu terbentur sesuatu dengan sangat keras?”

“Umm… Kecelakaan sih tidak pernah tapi aku pernah jatuh dan kepalaku terbentur cukup keras. Tapi tidak apa-apa kok. Tidak terlalu parah walaupun berdarah cukup banyak.”

“Kalau begitu benar.”, lirihnya pelan.

“Waeyo? Memangnya aku sakit apa?”

“Mian Kyeona-ah. Tapi hasil tes darahmu menunjukkan ada sel kanker yang sedang berkembang di otakmu. Memang belum parah. Masih stadium 2 tapi jika kau tidak operasi, maka sel kanker itu akan terus berkembang hingga stadium akhir.”

“Kanker otak?”, ulangku tidak percaya. “Bagaimana mungkin?”

“Dari ceritamu tadi, kemungkinan ada penggumpalan darah di dalam kepalamu saat terbentur yang menyebabkan sel kanker mulai tumbuh.”

Aku menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan tubuhku. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku memberitau Junjin oppa, Baeki… Aniya. Baeki oppa tidak perlu tau. Mereka semua tidak perlu tau hal ini.

“Baru stadium 2 kan? Aku rasa belum waktunya operasi.”

“Kyeona-ah, jika sudah stadium lanjut, walaupun operasi, kemungkinan hidup juga kurang dari 50%”

“Oppa tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga diriku sendiri kok.”

“Baiklah jika kau tidak mau operasi sekarang, tapi setidaknya lakukan kemotheraphy. Itu akan memperlambat perkembangan sel kanker. Dan jangan kecapekan. Aku rasa kau harus mundur dari SM.”

“Mwo? Mundur? Shireo. Aku tidak akan mundur. Aku pasti bisa melawan kanker ini dan tampil di atas panggung.”

“Kyeona-ah…”

“Aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlambat.”, ucapku buru-buru dan mengambil amplop di meja Haejoon oppa.

“Mampirlah ke cancer center di belakang dan temui dokter Ryujin. Dia temanku dan dia pasti bisa membantumu.”

Itu kata terakhir yang aku dengan dari Haejoon oppa sebelum aku berlari keluar menuju stasiun kereta.

Aku masih menggenggam erat hasil tes darahku ketika aku memasuki gedung SM. Aku menyamarkan amplop rumah sakit di antara tumpukan kertas-kertas sekolah yang sengaja kupegang agar tidak terlihat terlalu kentara.

Perutku yang dari tadi pagi belum diisi sebenarnya sudah berteriak minta diisi tapi aku mengabaikannya. Jam makan siang baru saja habis dan aku harus latihan sekarang.

Drrrttt… Drrrttt…

1 New Message from Nae Baeki Oppa ❤

 

‘Chagiya eodiyong?? >.< Bogoshipo. Mengapa kau tidak makan siang? Apa kau sudah makan duluan di luar? Mengapa kau tidak mengajakku. Bogoshipoyo ^o^ Saranghae :*’

Aigooo dasar oppa babo yang manis ini. Aku memindahkan mapku ke tangan kiri dan mulai mengetik.

‘Hehe mian aku tadi keluar dulu. Aku akan makan nanti sesudah training. Jangan khawatir. Nado saranghae <3’

Brak…

Aku menabrak seorang namja yang tinggi karena aku tidak melihat wajahnya dan mulai membereskan kertasku yang berceceran.

“Choisonghamnida.”, ucapku dan namja itu bersamaan.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat Tao oppa yang menatapku terkejut lalu kembali membantuku memungut amplop.

“Mian aku tidak melihat jalan tadi.”

Lagi-lagi aku dan Tao oppa mengatakannya bersamaan. Aku tersenyum lebar saat Tao oppa menyodorkan kertas-kertas dan map yang dipungutnya tadi.

“Gomawo oppa. Aku pergi dulu.”

Aku membalikkan badan dan berbelok ke lorong sebelah kanan. Kutekan tombol send untuk SMS yang tadi belum sempat aku kirim ke Baeki oppa. Pesan balasannya datang cukup cepat.

‘Aigoo… Uri aegi jangan telat makan. Aku tidak mau kau sakit. Siapa yang akan kucium jika kau sakit dan tidak ada di sebelahku? Kau tidak mengharapkanku akan mencium Chanyeol kan walaupun kami sangat dekat. Hhh… Aku ingin bertemu denganmu secepatnya dan memelukmu lagi ^^ Jangan lupa makan ya. Aku mengkhawatirkanmu. Saranghaeyo <3’

Aku bahkan baru kemarin bertemu dengannya dan dia sudah merindukanku hingga mengirimkan SMS yang membuat pipiku memerah seperti ini. Bagaimana aku bisa memberitau masalah kanker itu? Andwae. Aku tidak akan memberitaukan masalah ini padanya.

“Kyeona-ah. Tunggu. Kau meninggalkan ini tadi.”

Aku menoleh dan melihat Tao oppa melambai-lambaikan amplop putih yang membuat mataku membulat horror melihatnya. Dia tidak melihat isinya kan?

Aku merampas amplop itu dan menyelipkannya di antara kertasku seperti tadi. “Umm… Gomawo. Oppa tidak melihat isinya kan?”, tanyaku gugup

“Lihat kok. Tapi aku tidak mengerti satupun kata di sana. Mungkin kau harus mengajariku kapan-kapan. Sudah dulu ya. Hyungdeul pasti akan sibuk mencariku jika aku terlalu banyak berkeliaran. Annyeong Kyeona-ah.”

Hhh… Untung saja Tao oppa yang melihat ini bukan orang lain. Bisa mati aku kalau ternyata yang melihat isi amplop ini adalah member EXO yang orang Korea atau yang fasih berbahasa Korea seperti Kris oppa. Aku sangat beruntung hari ini hanya Tao oppa yang melihat ini.

Aku memasuki ruangan trainee dan menyapa Jaewon seonsaengnim yang baru mengutak-atik computer di sudut ruangan. Well aku tidak akan menyerahkan mimpiku. Setidaknya belum sekarang.

Kanker otak? Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Mengapa aku? Mengapa di saat usiaku masih terlalu muda dan bahkan belum melihat seluruh dunia ini.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin kamar. 2 bulan sudah aku berkutat dan berusaha keras melawan penyakit ini dan tentu saja membuahkan hasil. Tubuhku sudah menyusut jauh sekali dan pipiku seakan-akan tertarik masuk ke dalam dan menampakkan tulang pipiku yang sangat menonjol. Aku memang mengikuti saran Haejoon oppa untuk ke cancer center dan menemui dokter di sana. Dokter Ryujin sangat baik dan memintaku memanggilnya oppa walaupun dia adalah orang Jepang.

Aku juga mengikuti kemotheraphy sesuai saran Ryujin dan Haejoon oppa. Memang kata Ryujin oppa, perkembangan sel kanker di otakku melambat tapi aku tidak menyukai kemotheraphy dan tidak akan pernah menyukainya. Sesudah kemotheraphy, aku pasti langsung mual dan rambutku banyak yang rontok. Dan sekarang aku harus menutupi rambutku dengan topi karena kepalaku yang mulai botak. Aku benci sekali karena Baeki oppa selalu mengelus rambutku dan aku tidak mau kehilangan rambutku yang berharga.

“Kyeona-ah, Ryujin hyung sudah datang.”, teriak Junjin oppa.

Hari ini adalah hari debut Baeki oppa dan EXO oppadeul. Tentu saja aku diundang dan aku harus datang walaupun Ryujin oppa mati-matian melarangku untuk ikut. Katanya di sana ramai dan dia takut jika aku pingsan. Akhirnya Ryujin oppa mengizinkan aku pergi dengan syarat dia akan ikut untuk menjagaku.

Aku memakai topi hitamku dan menaikkan tudung hoodie sebelum keluar menghampiri Ryujin oppa yang sudah menunggu.

“Aigooo, aku benar-benar tegang. Otokkhae?”, rengek Baeki oppa dan berjalan mondar-mandir karena tegang.

“Oppa tenang saja. Oppa pasti bisa. Fighting.”

Aku menepuk-nepuk pundaknya pelan dan berusaha tersenyum ceria meskipun sakit di kepalaku mulai merayap lagi.

“Gomawo chagiya. Tapi kau benar-benar tidak apa-apa. Semakin hari wajahmu semakin pucat. Dan kau sekarang terlihat sangat kurus.”

Tangannya menulusuri tulang pipinya yang semakin menonjol. Aku bisa melihat kecemasan dan kekhawatiran membayang di matanya.

“Gwaenchana. Aku kan diet jadi wajar saja aku terlihat kurus.”, aku berusaha tersenyum menenangkan.

Baeki oppa tersenyum walaupun aku melihat dia sedikit curiga dengan kebohonganku. Well aku memang belum memberitau Baeki oppa tentang penyakitku. Aku tidak mau membuatnya khawatir. Baeki oppa akan debut dan tidak perlu mengkhawatirkan hal lain terutama mengkhawatirkan aku. Aku tidak ingin membebaninya sementara Baeki oppa sendiri harus berkutat dengan jadwal dan kelelahan yang menumpuk selama persiapan debut.

“Kyeona-ah, kau kembali saja ke tempat dudukmu. Sebentar lagi showcase akan dimulai.”, ucap Chanyeol oppa dari seberang ruangan.

“Arasseo oppa. Baeki oppa, aku ke tempat duduk dulu ya.”

“Baiklah. Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu oppa. Aku bisa sendiri. Aku tidak mau oppa terlibat skandal nantinya.”

Aku cepat-cepat menolak. Bukannya aku tidak mau tapi kepalaku sudah sangat sakit sekarang dan aku tidak mau Baeki oppa khawatir jika aku tiba-tiba menyangga kepalaku di tengah jalan.

Baeki oppa mengangguk dan aku mengecup pipinya sekilas. Well selama ini aku memang agak malu soal skinship tapi tidak ada salahnya kan jika aku member sedikit kenangan untuknya. Aku rasa hidupku juga tidak akan lama lagi.

“Sudah kembali?”, tanya Ryujin oppa dan menyodorkan berbagai macam obat ketika aku kembali ke tempat duduk dengan tangan menyangga kepala.

“Ne.”

Ryujin oppa meletakkan obat-obatan itu di tanganku dan aku langsung meminumnya dengan rakus. Untunglah sakit di kepalaku langsung reda walaupun pandangan mataku masih sedikt kabur di ujungnya.

“Kau pasti sangat menyukai pacarmu ini. Nonton showcase dengan kondisi tubuh seperti ini.”, goda Ryujin oppa dan membuat pipiku memerah.

“Begitulah.”

Kami tidak berbicara apa-apa lagi karena lampu tiba-tiba dimatikan dan lampu panggung mulai menyala. It’s show time.

“Oppa, aku ke backstage ya.”, ucapku dengan suara yang sangat serak karena terlalu banyak berteriak.

“Baiklah. Aku akan menunggu di sini.”

Aku hendak berlari ke arah backstage ketika tiba-tiba aku tidak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh. Aneh. Mengapa tiba-tiba aku jatuh. Aku mencoba berdiri tapi kakiku tidak mau mengikuti kehendak otakku dan aku kembali terjatuh.

“Gwaenchana?”, tanya Ryujin oppa yang menghampiriku.

“Ani aku tidak tau mengapa aku jatuh. Tiba-tiba saja aku terjatuh. Padahal aku tidak terpeleset atau apapun. Dan aku yakin tadi aku baik-baik saja. Tapi…”

Raut wajah Ryujin oppa mengeras dan langsung menggendongku di punggungnya.

“Oppa waeyo? Aku harus ke backstage.”

“Kita harus ke rumah sakit sekarang. Jika ternyata apa yang aku pikirkan ini benar, maka ini akan menjadi buruk. Kirim SMS ke salah satu teman acarmu. Tulis kau tidak akan bisa ke backstage.”

“Mengapa tidak langsung ke Baeki oppa saja?”, tanyaku bingung dan mengeluarkan ponsel dari saku jeans.

“Bodoh. Dia akan lebih khawatir. Lalu matikan HPmu dan tulis juga baterai HPmu habis dan jangan menghubungimu. Lalu matikan ponselmu.”

“Arasseo arasseo. Tapi ada apa sebenarnya? Mengapa oppa menjadi sangat panic?”

Aku bisa merasakan kepanikan itu walaupun Ryujin oppa tidak mengucapkannya karena sekarang dia menggendongku sambil berlarian ke mobilnya.

“Oppa, beritau aku apa yang terjadi? Mengapa oppa menjadi sangat panic seperti ini?”, tanyaku panjang lebar begitu kami sudah keluar dari area Jamsil stadium.

“Aku belum yakin makanya kita ke rumah sakit sekarang untuk membuktikan prediksiku.”

“Prediksi apa?”

“Mengenai kau yang tiba-tiba jatuh tadi. Aku tidak mau menakuti-nakutimu maka dari itu aku harus membuktikannya juga agar aku bisa tenang.”

Karena aku tidak mengerti apa yang dikatakan Ryujin oppa selanjutnya (Ryujin oppa berbicara bahasa Jepang), aku menenangkan kepalaku yang mulai pusing dan tertidur. Hal selanjutnya yang aku tau adalah Ryujin oppa yang membaringkanku di meja rongsen dan mulai merongsen kepalaku.

“Ini buruk Kyeona-ah.”, ucap Ryujin oppa begitu selesai meneliti hasil rongsen.

“Waeyo?”

“Kau harus segera operasi atau ini akan sangat buruk. Sel kanker di otakmu mulai menyebar ke sebagian otak kecil meskipun masih dalam stadium 2. Jika ini terus berlanjut, kau tidak akan bisa mengendali gerakan tubuhmu.”

“Dan aku tidak akan bisa dance lagi?”

“Tentu saja. Jika sangat parah, kau bahkan tidak akan bisa berjalan sendiri.”

“Ottokhae?”

“Hanya operasi yang bisa membantumu sekarang. Kemotheraphy sekarang hanya untuk pencegahan, Kyeona-ah.”

“Aku tidak akan operasi oppa. Aku tidak akan memperanjang hidupku dan akan membiarkan hidupku berjalan seperti ini. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu dengan kemotheraphy ini.”, kataku mantap.

“Aku hanya menyarankan tapi aku tidak akan memaksamu, Kyeona-ah. Ayo aku antar kau pulang. Dan besok kau harus menebus obatmu lagi.”

Aku mengangguk dan mengikuti Ryujin oppa ke mobilnya yang akan mengantarku pulang ke rumah.

Aku dengar showcase di China juga sukses seperti di Korea. Oppaku memang sangat hebat. Aku menerawang bosan ke jendela ruang rawatku. Mungkin karena terlalu kecapekan, kemarin aku collapse dan langsung dilarikan ke sini. Tapi aku tidak diizinkan keluar meskipun aku sudah meyakinkan Ryujin dan Junjin oppa bahwa aku baik-baik saja tapi mereka tetap saja berdebat denganku dan mengatakan aku harus banyak istirahat.

Dan Jaewon seonsaengnim saat aku biang aku tidak bisa datang trainee hari ini. Karena biasanya aku tidak pernah sekalipun bolos dari trainee. Bagiku sekarang agency sudah menjadi rumah kedua selain apartmentku.

Aku juga sempat mengecheck ponselku sebentar sebelum mematikannya lagi. Aku sudah memutuskan aku tidak akan memberitau Baeki oppa dan aku akan menghindarinya sebisaku. Mungkin aku harus memutuskannya secepatnya. Cepat ataupun lambat, Baeki oppa pasti akan tau hal ini. Lebih baik dia melupakanku dulu sebelum dia tau mengenai hal ini.

Tapi aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Pertama karena aku sangat menyukainya dan tidak tega dengan Baeki oppa. Kedua, aku tidak ada alasan yang solid untuk memutuskannya. Tidak mungkin kan aku bilang aku memutuskannya karena aku ingin memutuskannya. Terlalu absurd. Bahkan jika aku ada di posisi Baeki oppa, aku akan bingung sendiri mengenai maksud kalimatku tadi.

Hhhh… Sangat memusingkan.

“Kyeona-ah, gwaenchana?”, tanya Jaewon seonsaengnim begitu aku tiba-tiba jatuh lagi.

“Gwaenchana. Aku kepleset keringat kok tadi.”

Aku berusaha tersenyum walaupun kepalaku sedikit berdenyut karena saat terjatuh tadi, kepalaku terbentur lantai tapi tidak terlalu keras kok jadi aku membiarkannya. Samar-sama aku mendengar suara getaran yang berasal dari meja tempat meletakkan HP yang ada di sudut ruangan. Aku menoleh dan melihat lampu HPku berkedip-kedip. Sepertinya ada telefon masuk.

Happy Virus Oppa calling…

Chanyeol oppa? Tumben telfon. Ada apa? Apa Baeki oppa sakit? Atau Baeki oppa terluka? Well aku tidak tau apapun. 1 bulan ini aku benar-benar memutuskan kontak dengannya. Walaupun sudah beratus-ratus SMS dan telefon aku abaikan, Baeki oppa masih tidak menyerah dan terus menghubungiku.

“Yoboseyo.”, jawabku.

“…”

Huh? Apa ini prankster call? Aku menoleh ke layar HPku dan masih tersambung kok dengan Chanyeol oppa.

“Yoboseyo? Yeol oppa? Yoboseyo? Aku matikan ya?”

“Kau mau mati?”

Aku mendengar suara namja yang tajam tapi ini bukan suara Yeol oppa. Ini suara… Astaga. Ini suara Baekhyun oppa!! Aigoo ottokhae?

“Baek… Baekhyun oppa?”

Aku berusaha meyakinkanku ragu-ragu. Bagaimana mungkin dia bisa menghubungiku? Aku kan tidak mengangkat telefon darinya… Astaga Lee Kyeona apa yang kau bicarakan? Ini kan HP Yeol oppa. Babo… Sepertinya otakku sudah benar-benar terpolusi dengan penyakit ini.

“Kau tidak mengenali suaraku? Mengapa kau tidak mengangkat telefonku? Mengapa kau tidak membalas SMSku? Mengapa kau terdengar kaget saat kau tau ini aku. Jelaskan padaku sekarang sebelum aku ke practice room dan menyeretmu untuk bicara langsung.”

Andwae. Dia tidak boleh ke sini. Aigoo apa yang harus kukatakan?

“Itu… Umm… Aku belakangan ini sibuk jadi tidak bisa mengecheck HP terus.”

“Sibuk apa sampai 1 bulan tidak bisa mengangkat telefon atau membalas SMS. Kau tidak tau seberapa gilanya aku karena tidak bisa menghubungimu.”

Aku mendengarnya menjerit frustasi. Astaga aku juga gila karena tidak bisa bertemu oppa. Aku juga merindukan oppa. Oppa tidak tau saja aku ingin menerima telefon atau membalas SMS oppa. Tapi ini semua demi kebaikan oppa juga. Ingin sekali aku berteriak seperti itu. Tapi berbalik dengan apa yang kupikirkan, aku hanya melontarkan kalimat ini.

“Itu bukan urusan oppa. Aku harus pergi sekarang.”

“Tunggu. Kau belum…”

Tut… Tut… Tut…

Aku tidak tahan lagi. Air mataku sudah mengalir dan kepalaku terasa semakin berat. Aku mengeluarkan botol obat dari dalam tas dan meneguk isinya dengan rakus. Aku menghapus air mataku dan berbalik menghadap Jaewon seonsaengnim yang menatapku bingung.

“Seonsaengnim? Boleh aku pulang sekarang?”, pintaku dan air mata bodoh ini kembali lolos dari mataku.

Entah memang karena kasihan atau tersentuh dengan air mataku, Jaewon seonsaengnim mengangguk dan aku langsung meraup barangku asal-asalan dan melemparkannya ke dalam tas. Setelah membungkuk singkat, aku keluar dan menghirup udara segar.

Aku bahkan belum melepaskannya tapi mengapa hati ini sudah terasa sangat sakit. Aku bisa merasakan rasa frustasi Baeki oppa juga ikut menimpaku. Dan kini rasanya sangat sulit sekali bernafas karena rasa frustasi ini. Betapa aku ingin ke dorm mereka sekarang dan memeluk Baeki oppa. Hanya ingin merasakan kehangatan tubuh dan tangannya yang biasanya melingkar di pinggangnya. Dulu sebelum aku terkena penyakit bodoh ini, seminggu sekali aku akan ke dorm mereka dan membantu Kyungsoo oppa membereskan kekacauan yang terjadi di dorm yang semuanya berisi pria. Lalu aku akan memasak untuk mereka dan meluangkan waktu bersama dengan oppadeul yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri kecuali Baeki oppa.

Junjin oppa menatapku heran saat aku masuk ke apartment masih dengan air mata yang mengalir di pipiku.

“Ada apa?”

“Gwaenchana.”, elakku dan langsung mengunci pintu kamar.

“Kau ingat kan Ryujin hyung memintamu jangan memikirkan hal yang berat dan jangan kecapekan.”

“Arasseo. Oppa kerjain aja tugas oppa.”

Aku membaringkan tubuhku ke atas ranjang dan menatap langit-langit. Aku sangat merindukan senyumnya dan kepalanya yang selalu bersandar di pundakku.

Sudahlah Kyeona-ah, kau harus tahan dengan semua ini. Ini semua juga demi kebaikannya kan?

Aku bangun dan menatap miris rambutku yang berceceran di atas ranjang lagi. Sampai kapan aku bisa hidup dan bisa melihat senyum Baeki oppa? Aku memutuskan keluar dan meneguk air dingin untuk membasahi tenggorokanku yang sangat kering.

Saat aku baru sampai di kulkas dan hendak menuang air, bel pintu berbunyi. Junjin oppa mendahuluiku dan menjawab intercom.

“Nuguseyo?”, tanya Junjin oppa.

Karena penasran, aku juga ikut berdiri di depan intercom dan melihat siapa yang datang. Rasa dingin langsung menuruni perutku seperti es batu.

“Annyeonghaseyo. Aku teman Kyeona. Baekhyun imnida.”

Aku menyilangkan tanganku ke arah Junjin oppa lalu menunjuk ke arah luar. Junjin oppa membisikkan ‘keluar’ dan aku langsung mengangguk.

“Kyeona sedang pergi.”

“Boleh aku tau pergi ke mana?”

Aku menggelengkan kepalaku hingga pusing dan oleng ke arah Junjin oppa. Untung Junjin oppa bisa menangkapku.

“Maaf aku juga tidak tau.”

“Keurae? Kamsahamnida.”

Aku bisa melihat wajahnya yang kecewa dan berbalik. Wajahnya seakan-akan terus membayang di pelupuk mataku.

“Mengapa kau menghindarinya? Dia pacarmu kan?”

“Aku harus menghindarinya oppa.”

Aku merasakan sesuatu mengalir di hidungku dan mengusapnya. Saat aku menarik kembali tanganku, aku melihat cairan berwarna merah mengotori tanganku. Bersamaan dengan itu, aku merasakan pusing yang sangat hebat dan tubuhku seakan-akan melayang.

Aku melenguh keras saat merasakan terik matahari menembus kelopak mataku. Aku membuka mataku setelah tanganku menaungi wajahku. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat dinding putih yang asing. Di mana ini?

Aku duduk dan menoleh sekitar lebih tepatnya menerawang ke luar jendela. Ahh… Aku di rumah sakit ya?

Ceklek…

“Oh? Kau sudah bangun.”

“Ryujin oppa. Aku pingsan ya?”

“Secara tiba-tiba. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

“Begitulah. Berapa lama aku tidak sadar?”

Ryujin oppa melirik jam tangannya sebelum menjawab, “2 jam lagi maka kau akan pingsan selama 3 hari.”

“Kapan aku boleh pulang?”

“Tergantung kondisimu.”

Ryujin oppa mengecek detak nadiku dan mencatat sesuatu. “Jangan terlalu banyak pikiran dan jangan kelelahan. Jangan makan sembarangan dan jangan minum kopi. Aku dengan dari Junjin minggu lalu kau minum kopi dan tidak tidur. Aku kan sudah bilang itu bisa memperparah kondisimu.”, omel Ryujin oppa dan menyentil hidungku.

“Aku tidak ada pilihan lain. Bagaimana jika nilaiku parah. Setidaknya sebelum aku tidak bisa sekolah lagi, aku ingin mengukir nilai yang bagus.”

Aku memang disuruh Ryujin oppa untuk berhenti sekolah dan trainee yang selalu aku tolak. Selama aku masih bisa, mengapa aku harus berhenti?

“Ya sudah. Istirahatlah yang cukup. Jika kondisiimu membaik, mungkin besok kau boleh pulang. Aku pergi dulu.”

Aku mengecheck ponselku yang masih kuaktifkan. Ada 178 missed call dan 93 unread message. 67 missed call dari Baeki oppa. Astaga dia masih belum menyerah. Sisanya 16 dari Chanyeol oppa, 12 dari Suho oppa, 9 dari D.O oppa, 7 dari Sehun oppa, 5 dari Kai oppa, 46 dari Tao gege, 11 dari Luhan gege dan 5 dari Kris gege. EXO-K oppadeul mungkin menelefon karena Baeki oppa tapi mengapa Kris gege, Luhan gege dan Tao juga menelefonku? Mereka masih di China kan sekarang?

Bingo… HPku tiba-tiba bergetar. Video call dari Kris gege. Tidak apa-apa kan aku mengangkatnya?

“Wei?”

“Kyeona-ah. Akhirnya kau mengangkat telfonku juga. Mengapa kau tidak mengangkat telfonku? Mengapa kau tidak membalas SMSku?”, ucap Kris gege cepat sekali dan wajahnya terlihat panic.

“Tenang Kris gege. Bicara pelan-pelan saja. Ada apa sebenarnya? Mengapa gege menelefonku?”

“Bukan aku sebenarnya tapi Luhan gege dan Tao sudah gila di sini.”

“Ne? Memangnya ada apa?”

“Aku sendiri juga tidak tau. Dari kemarin Luhan gege dan Tao merongrongku agar aku mau menelefonmu. Ah, ini Tao dan Luhan gege mau bicara denganmu.”

“Gege, aku bawa pergi dulu ya telfonmu sebentar.”

Aku mendengar suara Tao gege lalu tiba-tiba layar bergoyang dan menampilkan wajah Luhan gege. Luhan gege tersenyum sekilas sebelum layar bergoyang lagi dan kali ini giliran wajah Tao gege yang memenuhi layar. Wajahnya terlihat marah dan frustasi. Entah apa yang terjadi di China sekarang.

“Tao gege.”

“Yah, mengapa kau tidak memberitau kami? Kau anggap kami ini apa?”

“Sabar Tao-ah. Ingat kondisinya.”, aku dengar suara Luhan gege.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali.”

Aku berusaha tenang meskipun hatiku mulai kebat-kebit. Tao gege tidak mungkin sudah mengetahuinya kan?

“Penyakitmu. Mengapa kau tidak memberitau kami?”

“Penyakitku? Apa…”

“Jangan berbohong lagi. Aku dan Luhan hyung sudah tau. Lihat ini.”

Tao gege menyodorkan HPnya yang menampilkan sebuah foto. Mataku menyipit. Itu hanya foto sebuah kertas yang tampak seperti…

Bagaimana dia mendapatkannya? Aa dia memotretnya ketika aku menjatuhkan amplop itu dulu?

“Kau tidak bisa mengelak lagi. Sekarang jelaskan.”, tuntutnya marah. Di sebelahnya Luhan gege berusaha menenangkan Tao gege tapi matanya juga menunjukkan rasa ingin tau.

“Apa yang harus kujelaskan. Gege sudah tau kan? Lalu apa yang harus kujelaskan?”

“Apa Baekhyun hyung sudah tau hal ini?”

Aku menggeleng pelan dan ekspresi Tao gege seakan-akan sudah siap meledak.

“Babo mengapa kau tidak memberitaunya. Luhan gege, bisa tolong telfon Baekhyun hyung sekarang. Baekhyun hyung…”

“Tao gege, Luhan gege, tolong jangan memberitau mereka. Tolong jangan. Jebalyo.”, rengekku

“Waeyo? Baekhyunnie pasti khawatir jika kau tidak memberitaunya, Kyeona-ah.”

“Luhan gege, aku justru tidak memberitaunya demi kebaikan Baeki oppa sendiri. Baeki oppa sudah cukup sibuk dan aku tidak mau menambah bebannya sama sekali. Tolong jangan beritau Baeki oppa.”

“Baiklah. Aku tidak akan memberitau Baekhyun hyung. Tapi mulai sekarang aku akan menelefonmu setiap hari dan jangan coba-coba tidak mengangkatnya karena aku akan langsung memberitau Baekhyun hyung.”

Ancaman Tao oppa membuatku sedikit meringis. Tidak adil sekali.

“Mengapa oppa harus menelefonku.”

“Untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja. Kau tidak tau aku hampir gila karena tidak bisa menghubungimu 2 hari ini. Aku pikir kau sudah sekarat atau sejenisnya.”

“Hampir benar tapi aku baru pingsan kemarin belum sekarat.”

“Kau di rumah sakit sekarang?”, tanya Luhan gege khawatir.

“Ne. Mungkin aku terlalu banyak pikiran hingga collapse. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”

“Baguslah kalau begitu. Kami harus pergi sekarang. Masih ada recording.”

“Ne. Byebye. Wo ai ni men.”

Hhh… Sekarang posisiku mulai tidak aman dengan adanya member EXO yang mengetahuinya walaupun EXO-M sekalipun. Tidak ada jaminan yang pasti bahwa mereka tidak akan memberitau Baeki oppa. Siapa saja dari EXO-M yang mengetahui ini?

Hhhh… Bisa gila aku lama-lama. Oh ya hari ini hari Jumat. Hari ini ada acara music yang menampilkan EXO-K. Aku cepat-cepat membuka TV. Untung saja acaranya belum mulai.

Sambil menunggu, aku makan makanan yang sudah disiapkan di meja sebelah. Walaupun makanannya mulai dingin setidaknya itu cukup untuk mengisi perutku yang belakangan ini mulai sensitive karena kebiasaan makanku yang tidak teratur.

Itu dia stage EXO-K. Aku memperhatikan ekspresi wajah Baeki oppa yang masih mulus. Berarti setidaknya Baeki oppa benar-benar clueless tentang kondisiku. Keningku berkerut saat mendengar suara Baeki oppa yang pecah. Apa Baeki oppa baik-baik saja. Aku tau watak Baeki oppa yang tidak pernah mentolerir kesalahan dalam suaranya dan sesudah turun dari stage ini, mood Baeki oppa akan langsung turun drastic. Ingin sekali aku menelefonnya dan menenangkannya.

Andwae. Aku harus bisa melepaskannya. Walaupun berat, aku harus melepaskannya. Harus.

Aku sudah memutuskan. Aku harus memutuskannya.

“Wei?”

“Tao gege.”

“Kyeona? Ada apa kau menelefonku?”

“Kyeona annyeong ^^ Bagaimana kabarmu?”, aku mendengar suara Luhan gege yang ceria dari seberang sana.

“Baik-baik saja Luhan gege. Tao gege, aku ingin minta bantuanmu.”

“Mwo?”

“Tapi gege harus berjanji harus mengabulkannya.”

“Tergantung permintaanmu.”

“Kalau begitu aku tidak bisa memberitau Tao gege. Luhan gege, gege masih ada di sana.”

“Ne aku di sini.”

“Jika Tao gege tidak mau mengabulkan permintaanku, apa Luhan gege mau mengabulkannya?”

Aku bisa membayangkan Luhan gege dan Tao gege saling bertatapan dengan tanda tanya di atas kepala mereka.

“Aku sama seperti Tao. Tergantung permintaanmu. Jika kau memintaku untuk keluar dari EXO, aku tidak akan bisa mengabulkannya.”

“Permintaan apa itu? Aku tidak mungkin meminta hal seperti itu.”, protesku keras. “Ayolah Tao gege, anggap saja ini permintaan terakhirku. Aku kan tidak akan lama lagi bisa meminta sesuatu dari Tao gege.”, rengekku lagi

“Baiklah baiklah. Katakan permintaanmu. Aku akan mengabulkannya dan kalau bisa Luhan gege juga akan membantumu. Tapi jangan berani-berani menyebutkan permintaan terakhir atau sebangsanya. AKu tidak senang mendengarnya.”

“Gomawo Tao gege. Gege memang terbaik.”

“Bagaimana dengan aku?”

“Wo ai ni Luhan gege.”

“Yey Kyeona mengatakan dia menyukaiku.”, aku tertawa mendengar Luhan gege yang bersorak konyol.

“Hei kau tidak menyukaiku?”, senyumku semakin lebar mendengar rengekan Tao gege yang tampak seperti anak kecil meminta lollipop.

“Wo ai ni Tao gege.”

“Baiklah. Lanjut yang tadi. Kau ingin aku melakukan apa?”

“Aku sudah memutuskan, Tao gege. Aku akan memutuskan Baeki oppa.”

“Ne?”

“Mwo?”

Suara histeris Luhan gege dan Tao gege saling tumpah tindih membuatku semakin tidak nyaman. Aku bahkan belum memutuskan Baeki oppa dan mereka sudah terkejut seperti ini.

“Lalu? Bagaimana reaksi Baekhyun hyung.”

“Tao gege, aku bilang aku AKAN memutuskannya. Maka dari itu aku membutuhkan bantuan Tao gege. Atau Luhan gege jika Tao gege tidak mau melakukannya.”

“Bagaimana… Maksudku mengapa aku?”

“Karena Baeki oppa tau kita sangat dekat.”

“Lalu apa hubungan kau memutuskan Baekhyun dengan Tao? Kau mau membuat scenario seperti di drama?”

“Bingo dan aku membutuhkan bantuan Tao gege.”

“Aku? Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak memintaku untuk menciummu di depan Baekhyun hyung kan?”

“Sedikit mirip tapi hanya berpelukan ok?”

“Kyeona-ah, apa Baekhyun tidak akan membenci Tao jika kau melakukan itu?”

“Aku sudah memikirkan semuanya, Luhan ge. Baeki oppa mungkin akan membenci Tao gege tapi Tao gege juga akan ke China lagi kan?”

“Kau sangat kejam Kyeona-ah.”, aku bisa mendengar suara Tao gege yang terdengar seperti menuduhku.

“Aku terpaksa. Ini demi kebaikan Baeki oppa juga. Tao gege mungkin belum pernah merasakannya tapi aku juga berat melepaskan Baeki oppa.”

“Aku tau. Sudah jangan menangis.”

Eh? Bagaimana Tao gege tau air mataku sudah mengalir?

“Aku tidak menangis. Gege akan kembali ke Korea kan seminggu lagi?”

“Bagaimana kau tau?”

“Aku selalu mengawasi gege. Pada hari itu juga aku akan memutuskan Baeki oppa.”

“Secepat itu?”

“Gege kan tidak bisa lama-lama di sini. Jika tidak minggu depan, kapan lagi?”

“Tapi bukannya beberapa hari lalu kau bilang kau tidak boleh meninggalkan rumah sakit?”

“Memang tidak boleh. Tapi tidak apa-apa kan jika aku menyelinap sebentar. Lagi pula aku ada urusan sebentar di SM.”

“Ada apa?”

“Aku akan mengundurkan diri sepenuhnya dari SM dan sekolah. Kata Ryujin oppa, otakku tidak akan mampu lagi menerima dan memproses informasi seperti dulu.”

“Mengapa kau tidak operasi saja dasar bodoh. Jika Baekhyun tau kau sebodoh ini, dia pasti akan menyeretmu langsung ke meja operasi. Atau jangan-jangan dia sendiri yang akan mengoperasimu.”

“Itulah Baeki oppa. Maka dari itu, biarkan Baeki oppa selamanya clueless soal ini.”

“Bagaimana kau akan melakukannya? Tidak mungkin kau akan masuk langsung ke practice room dan memelukku di depan hyungdeul yang lain. Percayalah mereka akan langsung menangkapmu dan menginterogasimu untuk memberi alasan yang setidaknya sangat masuk akal.”

“Aku sudah bilang aku sudah memikirkan semuanya kan? Nanti aku akan SMS gege lagi mengenai rencana ini. Sekarang aku harus pergi.”

“Waeyo?”

“Ada jadwal kemotheraphy hari ini dan aku tidak boleh bolos lagi.”

“Keurae? Baik-baiklah di Korea sana dan teratur minum obat.”

“Arasseo.”

“Bye. Wo ai ni.”

“Wo ye ai ni ge.”

‘Tao gege, tunggu aku di airport ^^ Aku akan menjemput oppa.’

 

Send to: Panda gege.

 

Sent…

 

Belum delivered? Mungkin Tao gege baru masuk pesawat.

“Ryujin oppa, aku pergi ya.”

“Hati-hati di jalan dan jangan memikirkan hal yang berat.”

“Ne.”

Aku menatap langit luas yang cerah sebelum naik ke taksi yang mengantarku ke bandara. Hari ini EXO-M gege akan pulang ke sini karena ada special stage yang menampilkan EXO-K dan EXO-M bersama-sama. Dan EXO-M juga ada acara fansigning di Korea.

Incheon Airport tidak pernah tidak padat pengunjung. Apalagi ada EXO-M. Airport semakin padat. Tadi aku lihat pesawat EXO-M akan tiba sekitar 15 menit jadi aku jalan-jalan dulu sambil melihat-lihat Incheon Airport mungkin untuk yang terakhir kali.

5 menit lagi. Aku berjalan menuju pintu kedatangan sebelum aku mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal meneriakkan namaku. Aku menoleh sekilas dan melihat Baeki oppa yang berdiri mematung di depan lorong yang mengarah ke toilet. Aku langsung sembunyi di balik pilar besar dan menurunkan ujung topiku lagi. Baeki oppa tampak bingung dan menggelengkan kepalanya sebelum berjalan seperti biasa ke pintu kedatangan.

Dasar bodoh. Bagaimana aku bisa lupa kalau EXO-K pasti akan menjemput EXO-M? Aku mengawasi Baeki oppa yang kembali bergabung dengan EXO-K oppadeul.

Drrtttt… Drrrtttt…

Message to Panda gege delivered…

Aigoo baru delievered lagi. Bagaimana aku bisa menyambut Tao gege?

Itu mereka. Pertama Lay gege, lalu Chen oppa dan Xiumin oppa. Di belakang mereka Kris oppa, dan yang terakhir Luhan gege dengan Tao gege. Tao gege tampak menoleh ke sana kemari. Mungkin Tao gege sudah membaca SMSku dan sedang mencariku.

Aigoo… Aku jadi tidak bisa menyambut Tao gege. Tidak apa-apalah. Tao gege pasti tidak akan marah. Karena banyaknya fans yang mengikuti van EXO dengan taxi, maka aku harus menunggu agak lama sebelum ada taxi kosong yang berhenti di depanku. Aku menyebut alamat gedung SM lalu menelefon Tao gege.

“Wei?”

“Tao gege. Gege di mana sekarang?”

“Aku di practice room sekarang.”

“Cepat sekali. Mian aku tidak bisa menyambut Tao gege. Tadi aku sudah ke bandara tapi aku melihat Baeki oppa jadi aku tidak bisa menjemput gege. Mian.”

“Ne gwaenchana. Aku tau kok.”

“Gege sekarang sedang sendirian saja kan?”

“Tenang saja. Tidak ada orang di sebelahku sekarang.”

“Gege, sebenarnya aku mau melakukannya sekarang saja.”

“Um… Sebaiknya setelah selesai latihan saja. Aku tidak mau hyung depresi sekarang dan menjadi tidak konsentrasi latihan nanti. Aku akan menelefonmu nanti.”

“Baiklah. Maaf aku terlalu tidak sabaran.”

“Tapi kau yakin kau mau melakukannya. Kau tega padanya? Jujur aku sendiri tidak tega mau melakukannya.”

“Ayolah Tao gege. Gege sudah berjanji. Ini kan juga permintaan terakhirku. Hidupku kan sudah tidak lama lagi.”

“Stop. Aku tidak mau dengar kau berkata seperti itu. Ayolah. Positive sedikit.”

“Berpikir yang realistis sedikit Tao gege.”

“Jangan bodoh. Aku tau kau pasti bisa kalau kau mau berusaha.”

“Ini memang sudah takdir, gege. Aku ditakdirkan tidak akan memiliki hidup yang lama.”

“Aku bilang jangan bicara seperti itu. Ben zi. Jangan menyerah. Tolong jangan. Jika kau tidak ada, apa yang harus kulakukan. Kau tau kan aku tidak mudah bergaul.”, aku mendengar suara Tao gege yang mulai serak dan terdengar tersendat-sendat seperti orang menangis.

Aku jadi merasa bersalah dengannya dengan sikapku yang pesimis. Tao gege yang sangat sensitive, maafkan aku.

“Sudahlah gege. Jangan menangis lagi.”

“Ini semua kan karena kau.”

“Mian. Gege tidak latihan? Kembalilah masuk. Oppadeul pasti akan curiga jika gege pergi lama sekali.”

“Seharusnya iya. Aku takut hyungdeul curiga aku tidak kembali.”

“Ne. Saranghaeyo gege.”

“Nado saranghaeyo. Annyeong”

Aku menutup telefon dengan perasaan yang tidak enak. Jujur aku sendiri tidak yakin akan melakukan ini atau tidak. Tapi tidak ada pilihan lain. Seandainya ada pilihan yang lebih bagus lagi.

“Sayang sekali kau keluar Kyeona-ah. Aku turut menyesal dengan penyakitmu.”

“Maaf sajangnim.”

“Aku mengerti. Cepatlah sembuh.”

Aku tersenyum lemah sebelum membungkuk dan keluar dari CEO room. Memang keputusan yang sangat berat. Aku juga sudah memberikan surat pengunduran diriku dari sekolah minggu lalu yang langsung disambut kaget oleh kepala sekolah. Dan kali ini aku juga harus menyerahkan mimpiku. Aku juga harus tetap melihat ke depan.

‘Aku menunggu di depan pintu training room gege.’

 

Send to: Panda gege

 

Sent…

 

Delivered…

Kini aku tinggal menunggu. Aku duduk di depan pintu sambil memeluk lututku. Perutku kembali mulas jika memikirkan rencana ini. Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, music berhenti dan aku mendengar suara Tao gege yang minta izin keluar. Bersamaan dengan pintu yang terbuka, aku bangkit dan langsung meletakkan tangan Tao gege di bahuku.

“Terkejut?”, tanyaku melihat ekspresi Tao gege.

“Lebih ke arah tegang dan panic. Apa Baekhyun hyung sudah melihat kita?”

Aku menajamkan pendengaranku. Di balik tudung hoodie yang menutupi telingaku, aku bisa mendengar langkah kaki yang sangat pelan dan mengikuti kami hingga kami masuk ke practice room kosong.

“Tao gege, sekarang.”

“Bagaimana caranya?”

“Aish dasar gege babo.”

Aku melepaskan tudung hoodieku dan memeluk Tao gege. Dari jendela kecil di sebelah pintu, aku bisa melihat bayangan orang yang sedang mengintip kami berdua.

BRAK!!!

Pintu terbanting terbuka dan aku segera melepaskan pelukanku ke Tao gege. Berpura-pura terkejut.

“Apa maksudnya ini?”, tanya Baeki oppa pelan tapi aku bisa mendengar nada menuntut dari suaranya.

“Baekhyun hyung.”, bisik Tao gege di sebelahku ketakutan

“Oh? Baekhyun oppa. Oppa datang di saat yang tepat.”, ucapku datar dan berusaha menampilkan senyum arrogant.

“Jelaskan sekarang juga. Kau menolak seluruh panggilanku. Kau tidak membalas SMSku. Selama hampir 2 bulan aku hampir gila karena tidak berkomunikasi sama sekali denganmu. Tapi kau bertemu dengan Tao diam-diam di belakangku. Jelaskan apa maksudmu sekarang juga.”

Aku mengepalkan tanganku sebelum mengucapkan kebohongan yang sudah kurancang. Semuanya persis seperti yang aku bayangkan.

“Hmm… Bagaimana aku harus menjelaskannya ya? Selama 2 bulan ini aku berusaha untuk memikirkan apakah aku harus melakukan ini atau tidak. Tapi sepertinya aku sudah bosan dengan oppa. Dan aku pikir Tao oppa jauh lebih baik daripada oppa.”, jawabku tenang dan memeluk lengan Tao gege.

“Mwo? Ulangi sekali lagi.”, pinta Baeki oppa.

“Kita putus saja. Aku sudah muak dengan oppa. Lalu bencilah aku karena aku juga benci oppa.”

Aku berusaha sekuat tenaga menahan isakan tangis yang sebentar lagi akan lolos dari bibirku. Sangat susah mengucapkan kebohongan ini. Kebohongan tersulit yang pernah aku katakan.

“Wae? Apa artinya 6 bulan lebih yang sudah kita jalani? Tao, tolong katakan ini semua tidak benar.”

“Mian hyung.”, hanya itu yang diucapkan Tao gege.

“Jangan salahkan Tao oppa. Ini semua aku yang mau. Tao oppa juga sebenarnya tidak mau mengkhianati oppa. Tapi apa boleh buat? Oppa tidak bisa memaksa Tao oppa untuk mengalah kan? Dan oppa tadi bertanya mengenai waktu yang aku habiskan dengan oppa selama ini. Apa oppa bodoh? Atau terlalu naïve? Oppa percaya kalau aku benar-benar menyukai oppa? Selama ini aku hanya menyukai Tao oppa. Aku hanya tidak ingin membuat oppa malu karena ditolak oleh seorang yeoja.”

Kini aku merasakan darah mulai keluar dari luka yang kutimbulkan akibat terlalu keras mengepalkan tanganku. Kuku panjang yang menusuk kulitku sama sekali tidak terasa sakit dibandingkan rasa sakit di hatiku sekarang.

Baeki oppa menatapku dalam dan aku berusaha tetap terlihat tenang dan mantap dengan keputusan walaupun aku tau sebentar lagi air mataku akan turun.

“Sudahlah. Aku malas berbicara dengan oppa. Kita putus. Lalu bencilah aku sama seperti aku membenci oppa. Tao oppa, ayo kita pergi.”

Aku menarik tangan Tao gege dan berjalan melewati Baeki oppa. Begitu aku tidak melihatnya lagi, air mata yang sudah kutahan sedari tadi langsung mengalir bebas membentuk anak sungai di pipi pucatku.

“Mian hyung.”, bisik Tao gege sebelum aku menutup pintu.

Aku melepaskan tangan Tao gege dan berlari secepat kilat ke arah atap. Tempat di mana aku menumpahkan kesedihanku sendirian dan tempat di mana aku bertemu Baeki oppa pertama kali. Aku tidak mempedulikan nafasku yang mulai pendek-pendek atau Tao gege yang mengejarku. Yang aku inginkan sekarang hanya lari dan melepaskan semua beban ini secepat mungkin.

Akhirnya aku melepaskan Baeki oppa. Akhirnya aku bisa melakukannya. Tapi mengapa rasanya sebongkah batu masih menghimpit hatiku. Wae?

Sepertinya keinginanku terkabul karena sebelum aku sempat meraih pintu atap, pandanganku semua berubah menjadi hitam dan tubuhku terasa ringan.

Begitu aku terbangun, langit-langit rumah sakit menyambutku dengan warna putih pucatnya yang biasa. Aku berusaha bangun tapi sebuah tangan langsung menyentil pelan keningku. Aku melayangkan tatapan bingung ke arah pemilik tangan yang menatapku campuran antara jengkel, marah dan kesal.

“Aku sudah bilang kan jangan memikirkan hal-hal yang berat dasar bodoh.”

“Bagaimana aku bisa di sini?”

“Temanmu menggendongmu ke sini. Jawab pertanyaanku babo. Apa yang kau pikirkan sebelum kau pingsan? Kau dibawa dalam kondisi kelelahan dan mimisan. Dan apa-apaan dengan bekas air mata itu? Apa yang kau tangisi?”

Oh ya. Aku pingsan setelah aku memutuskan Baeki oppa. Aku pasti sudah merepotkan Tao gege. Aku melemparkan selimut dan hendak berdiri ketika tiba-tiba semuanya berputar. Untung saja Ryujin oppa menangkapku sebelum wajahku mencium tanah. Aku lupa gerak reflekku sekarang sudah tidak sebagus dulu.

“Mau ke mana? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Tidak apa-apa kok. Aku tidak akan memikirkan hal itu lagi.”

“Keurae. Karena semuanya sudah terjadi. Dan karena hal-yang-tidak-akan-kau-pikirkan-itu, sel kankermu sekarang sudah naik ke stadium 3. Selamat.”, tambahnya sarkatis.

“Naik lagi?”

“Tentu saja. Aku kan bilang kemotheraphy hanya memperpanjang waktumu tapi sel kankermu akan terus naik. Kyeona-ah, ini sudah stadium 3. Jika naik ke stadium 4, maka waktumu akan semakin pendek.”

“Aku tau. Aku sudah mempersiapkan semuanya jika aku harus pergi.”

“Bagaimana dengan orang yang ada di sekitarmu? Apa mereka semua sudah siapa? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan pacarmu?”

“Aku yakin eomma, appa di Busan sana sudah mengetahui penyakit ini dan aku yakin mereka juga siap menerima kemungkinan terburuk. Dan Junjin oppa juga pasti juga sudah siap.”

“Dan Baeki oppamu yang selalu kau teriakkan setiap kali kau kesakitan waktu kemotheraphy itu? Apa dia sudah siap?”

“…”

“Mengapa kau tidak menjawabku? Jangan bilang pacarmu itu belum tau.”

“Begitulah.”, lirihku pelan.

Lagi-lagi hatiku terasa sakit ketika memikirkannya. Kutahan mati-matian air mata yang mendesak ingin keluar. Aku tidak ingin terlihat begitu bodoh di depan Ryujin oppa.

“Hhh… Dasar babo. Aku tidak akan mendesakmu untuk memberitaunya atau apapun. Kau bisa memutuskan sendiri. Ini sudah jam makan siang. Makanlah makananmu. Aku pergi dulu.”

Setelah Ryujin oppa meninggalkanku, aku mengambil nampan makanan dan mulai mengunyah. Tapi semua makanan rasanya seperti karet dan tidak bisa masuk ke perutku. Pada akhirnya aku hanya makan apel dan pisang serta segelas air putih. Menu yang selalu kumakan ketika diet.

Aku berjalan menuju taman rumah sakit yang biasanya hanya dapat kulihat dari jendela kamarku. Selama ini aku terlalu pusing memikirkan apa yang harus kulakukan di masa depanku. Tapi sekarang aku merasa masa depan hanya sebuah kertas kosong yang bisa diisi kapan saja. Jadi aku rasa tidak ada salahnya aku meluangkan waktu di taman.

Udara musim semi akhir terasa hangat di bawah kelopak mataku. Dan angin musim semi yang sejuk membelai pipi pucatku dengan lembut. Aku duduk di salah satu kursi kosong di bawah naungan pohon dan menutup mataku hanya untuk merasakan kehangatan dan ketenangan taman ini. Jika dari dulu aku datang ke sini, mungkin sudah dari dulu aku menghabiskan waktu di sini. Bukan di kamar yang membosankan dan bau obat-obatan.

Aku merasakan sepasang tangan menutupi mataku yang sedari tadi tertutup. Aku merasa sedikit familiar dengan tangan ini. Tapi tangan siapa?

“Nuguyo? Ryujin oppa? Junjin oppa?”, tebakku sembarangan.

“Tada…”

Pemilik sepasang tangan itu duduk di sebelahku dengan senyuman lebar. Samar-samar aku mengingat wajah orang ini tapi siapa?

“Hei, mengapa kau memandangi Luhan ge seperti itu?”

Aku menoleh bingung ke Tao gege sebelum kembali ke yeoja yang duduk di sebelahku. Ani, tadi Tao gege bilang apa?

“EH???!!! Luhan gege??!! Kok bisa berdandan jadi yeoja??”

“Ini semua ide gila panda bodoh ini dan si menara babo itu.”

“Menara? Kris gege?”

“Mian Kyeona-ah, Kris gege dan Lay gege mengecheck HPku sembarangan dan menemukan foto itu.”

“Jangan salahkan kami. Salahkan kungfu panda yang tidak bisa menjaga rahasia orang lain.”

Aku membalikkan badan dan melihat Kris gege yang berjalan sambil merangkul seorang namja bermasker yang aku tebak pasti Lay gege.

“Kapan kalian mengetahuinya? Apa Xiumin oppa dan Chen oppa mengetahuinya juga?”

“Aniyo. Kami tidak memberitau mereka. Aku takut mereka memberitau anggota K.”

Setidaknya penjelasan Lay gege berhasil membuatku menghembuskan nafas lega. Selama mereka menjaga mulut mereka, maka posisiku akan aman.

“Kyeona-ah, apa aku cantik?”

Luhan gege berputar-putar genit di depan mataku dengan rok pendeknya. Aku tau Luhan gege berusaha menghiburku dan aku menghargai usahanya.

“Jincha yeppoyo. Daebak. Luhan onnie ^^”

“Aigoo kau memang manis sekali”, Luhan gege mencubit pipiku lalu kembali berputar-putar riang di depanku.

“Kris gege, Tao gege, mengapa gege menyuruh Luhan gege berdandan sebagai yeoja? Kan kasihan.”

“Kasihan? Sepertinya Luhan onniemu itu sangat menyukai dandanan barunya. Aku penasaran bagaimana jika ini menjadi konsep Luhan gege di album selanjutnya.”

“Well, mungkin akan terlihat sangat aneh jika aku berjalan berdua saja dengan Luhan gege, jadi kami berpura-pura menjadi couple. Lalu Kris gege berpura-pura mengantarkan Lay gege yang sedang sakit. Jadi itu skenarionya. Dan untung saja kau sadar karena jika tidak artinya dandanan Luhan gege akan sia-sia. Kau membuatku sangat panic waktu itu. Aku melihatmu berlari-lari lalu tiba-tiba kau pingsan dan darah keluar dari hidungmu. Dan kau sempat kritis minggu lalu. Untung saja kau sekarang sudah bangun.”, oceh Tao gege panjang lebar.

“Aku? Kritis? Memangnya berapa lama aku pingsan?”

“Kau bahkan tidak tau? Kau pingsan hampir 2 minggu dan panda ini tidak pernah absen datang ke sini. Sebelum aku dan Kris gege mengetahui kondisimu, Tao selalu pergi dengan alasan ingin shopping, ingin melengkapi koleksi Gucci dan alasan absurd lainnya. Terkadang Luhan gege juga pergi dengan alasan absurd lainnya. Ingin membeli bubble tea padahal baru pagi harinya Luhan gege minum bubble tea. Sungguh absurd.”, komentar Lay gege.

“Maaf selalu merepotkan Tao gege, Luhan gege. Kris gege, Lay gege, terima kasih karena mau menyimpan rahasia ini.”

“Sudahlah. Jangan dipikirkan. Kau hanya perlu menjaga kesehatanmu. Kata doktermu, kankermu sekarang sudah naik ke stadium 3. Maka dari itu, kau tidak boleh memikirkan hal lain lagi. Pikirkan saja kesehatanmu.”, Luhan gege menepuk-nepuk topi rajutan yang tidak pernah absen bertengger di kepalaku.

Tao gege menyandarkan kepalaku ke pundaknya seperti biasa saat Tao gege mencoba menenangkanku. Untung saja mereka tidak menyinggung soal Baeki oppa sama sekali. Kalau tidak air mataku bisa jatuh.

Baeki oppa, bogoshipoyo. Cheongmal bogoshipo…

“Terima kasih sudah mengunjungiku. Sebenarnya ini tidak perlu, Kyeona-ah. Kau harus menjaga kesehatanmu baik-baik.”

“Well aku kan ingin menyimpan kenangan sebanyak-banyaknya. Mumpung aku masih bisa ke sini.”

“Hhh… Hati-hati di jalan ya.”

“Kamsahamnida seonsaengnim.”

Aku keluar dari kantor Jaewon seonsengnim dan mulai menelusuri koridor practice room lantai 2. Hari ini aku memang kembali ke SM untuk mengoleksi kenangan sebelum ke sini. Aku menurunkan topiku sebelum pergi ke temat terakhir sekaligus tempat favoritku di sini. Tapi badanku langsung berubah kaku ketika melihat orang yang ada di ujung koridor.

Baeki oppa menatapku tajam dan terkejut. Aku berusaha sekuat mungkin agar ekspresiku tetap sama dan membuang muka. Berjalan sambil berpura-pura melihat ke dalam practice room.

Kurasakan tangan Baeki oppa yang hangat dan selalu kurindukan, menggenggam pergelangan tanganku erat. Jantungku berdetak 2 kali lebih cepat begitu kulit kami bersentuhan.

Betapa aku merindukan perasaan ini. Perasaan hangat dan debaran jantung yang tidak teratur setiap kali kulit kami bersentuhan.

“Apa yang kau lakukan?”, tanyaku berusaha terdengar dingin.

“Tolong… Jangan pergi lagi.”

Betapa inginnya aku membalikkan badan dan memeluknya. Betapa aku ingin mengatakan semuanya baik-baik saja dan menenangkannya.

“Aku benci oppa.”

“Tapi aku mencintaimu.”

Lagi-lagi perasaan berdebar. Aku juga mencintaimu. Ingin sekali aku mengatakan itu. Sangat frustasi rasanya. Mengapa aku tidak bisa mengatakannya? Aku merasakan air mata mulai menuruni pipiku dan aku menjaga suaraku agar tetap tajam dan tidak terdengar seperti orang menangis.

“Itu bukan urusanku. Lepaskan tanganmu sekarang.”

“Shireo.”

“Aku bilang lepaskan. Aku benci oppa. Sangat benci.”

Baeki oppa melepaskan tanganku dan aku langsung lari. Mian Baeki oppa. Mian. Cheongmal mianhae. Saranghaeyo Baeki oppa. Saranghaeyo.

“Mian, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Kyeona-ah. Kankermu sudah masuk ke stadium akhir.”

“Hmm…”

“Hanya itu saja?”

“Lalu harus bagaimana reaksiku?”

“Jujur Kyeona-ah, apa ada yang membebani pikiranmu?”

“Tidak ada.”

“Jangan bohong. Kau tampak tidak ada jiwa lagi sekarang. Kau sekarang terlalu expressionless.”

“Tidak ada apa-apa kok. Aku pergi dulu oppa.”

Aku keluar dari ruangan Ryujin oppa dan kembali ke kamarku. Tanganku meraih album EXO yang tergeletak di atas sebelah buah-buahan. Semua album itu disign oleh anggota EXO-K dan EXO-M. Lay gege berbohong ke anggota EXO-K dengan mengatakan album ini untuk noonanya.

Aku membuka halaman yang menampilkan foto Baeki oppa. Di halaman itu, ada tanda tangan dan pesan kecil di bawahnya. ‘Saranghamnida ^^.’

Nado saranghaeyo Baeki oppa. Cheongmal bogoshipoyo.

Aku mengecup album itu sebelum minum obat dan tidur.

Aku menatap kosong ke arah Yeouido Park yang terbentang luas di hadapanku. Ingatanku melayang jauh saat pertama kali aku date dengan Baeki oppa. Aku rasa ini akan menjadi kali terakhir aku bisa ke sini.

HP di sakuku bergetar sebentar pertanda ada SMS masuk.

From: Deer gege

‘YAH!! Kau kabur ke mana? Apa jalan-jalan kemarin tidak cukup?’

Pasti mereka sangat khawatir sekarang. Begitu bangun dari koma, aku langsung kabur dari pandangan mereka.

‘Mian gege. Aku hanya pergi sebentar. Sebentar lagi aku akan pulang. Jangan mengkhawatirkanku.’

Send to: Deer gege

Sent…

Delivered…

Aku mencelupkan kakiku di kolam tengah Yeouido Park. Di sekelilingku ada banyak orang yang menghabiskan summer mereka di sini. Aku iri melihat orang-orang yang bebas berlarian sementara aku hanya bisa memandang mereka. Belum lagi aku juga harus menahan pandangan aneh dari orang-orang. Walaupun aku memakai celana pendek, aku harus memakai jaket yang kukancing rapat dan topi serta tudung jaket yang menutupi kepalaku. Siapa yang tidak merasa aneh melihat orang memakai pakaian yang begitu tertutup dan panas di saat summer sedang terik-teriknya.

Dan aku tau tidak seharusnya aku berkeliaran sembarangan apalagi kemarin aku memasuki masa kritis lagi setelah terlalu lelah.  Dan aku sudah sangat merepotkan Luhan gege dan Tao gege. Mereka mau kembali ke Korea 3 hari lalu dengan alasan untuk menemaniku dan menjagaku walaupun aku sudah menyuruh mereka focus saja ke schedule tapi mereka memaksa ingin ke sini dan mereka sudah membeli tiket. Mereka mati-matian ingin menemaniku setelah aku bangun dari masa kritis yang memakan waktu 1 bulan hingga aku sadar. Kata Luhan gege, Tao gege hampir sekarat di China karena frustasi aku tidak mau mengangkat telefonku atau membalas SMS selama 1 bulan.

Walaupun suah sering keluar masuk masa kritis, aku masih hidup kan. Tapi masa kritis kemarin, aku bisa merasakan waktuku sangat singkat sekarang dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku. AKu harus membuat kenangan sebanyak mungkin.

Aku membuka kancing jaketku dan berjalan menuju ke tengah air mancur. Aku menemukan seorang anak kecil yang tampak bermain sendirian.

“Hai anak manis.”

“Annyeonghaseyo.”, anak di depanku membungkuk singkat lalu tersenyum manis.

“Kau sendiri saja?”

“Aniyo. Hyungku sedang bermain di sana.”, anak itu menunjuk ke anak lain yang bermain sendiri di daerah pinggir kolam.

“Mana orang tuamu?”

“Aku tidak tau. Aku tidak punya eomma dan appa. Aku dan noona dibesarkan di panti asuhan.”

“Hmmm… Kasihan sekali. Mau bermain dengan noona.”

“Eung ^^”

“Siapa namamu?”

“Jung Minwoo imnida. Kalau noona.”

“Panggil saja Kyeona noona. Nah, sekarang coba tangkap noona.”

Aku langsung berlari memutari kolam diikuti oleh Minwoo yang mengejarku. Aku tertawa bahagia karena akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya berlari dan bermain seperti orang biasa tanpa memikirkan beban apapun. Aku dan Minwoo saling menyiram air hingga jaket dan tanktopku basah. Tapi aku tetap menjaga agar tudung hoodie dan topi tidak terlepas dari kepalaku.

“Minwoo-ah, kita harus pulang sekarang.”, panggil anak yang ditunjuk Minwoo sebagai hyungnya tadi.

“Shireo. Aku masih mau bermain dengan Kyeona noona.”

“Ayo pulang. Ini sudah jam makan siang.”

“Begini saja. Noona akan membelikan kalian makan siang.”

“Cheongmalyo? Gomawo noona.”

Minwoo memeluk kakiku dan aku membungkuk untuk menggendongnya. “Nah anak manis, siapa namamu?”

“Jung Minhyun imnida.”

“Nah Minhyun, ayo ikut noona juga. Kita akan makan siang bersama-sama.”

“Kamsahamnida noona.”

“Ayo pergi.”

Aku baru saja menggendong Minhyun dengan tanganku yang bebas ketika sebuah tangan menepuk bahuku dari belakang. Aku membalikkan badan dan bertemu pandang dengan mata sipit yang familiar.

“Ternyata benar. Walaupun kau jauh lebih kurus sekarang, aku masih bisa mengenalimu.”

“Sehun oppa. Apa yang oppa lakukan di sini?”

“Aku tadi berjalan-jalan dengan temanku. Tapi aku melihatmu dari kejauhan dan aku menyuruh temanku pulang duluan lalu menghampirimu.”

“Keuraeyo?”

Sebenarnya aku merasa tidak nyaman dengan situasiku sekarang. Aku bukannya membenci Sehun oppa atau apa tapi aku sudah lama tidak melihat EXO-K secara langsung walaupun aku selalu memonitori mereka. AKu merasa tidak tenang jadi aku mengancingkan lagi jaketku yang basah lalu merapatkan topiku.

“Ah.. Aku pergi dulu ya oppa. Aku harus membelikan 2 anak manis ini makan siang. Annyeong oppa.”

“Itu pacar noona?”, bisik Minhyun dan menepuk-nepuk pipiku pelan.

“Aniyo. Hanya teman kok.”

“Tunggu Kyeona-ah. Aku ikut.”

Aigoo bagaimana ini? Bagaimana aku menolaknya? Ah sudahlah. Sehun oppa tidak mungkin mengetahuinya secepat ini. Aku dan Sehun oppa berjalan dalam diam menuju kedai makanan terdekat. Setelah memesankan makanan Minwoo dan Minkyeong lalu membayarnya, kami duduk di meja kosong yang berada di luar kedai.

“Jadi siapa mereka?”

“Ini anak yang kutemukan di Yeouido Park tadi. Minhyun-ah, Minwoo-ah, ucapkan salam ke Sehun oppa.”

“Annyeonghaseyo.”, ucap mereka berdua bersama-sama dan membungkukkan badan mereka.

“Annyeong. Namaku Sehun. Senang bertemu dengan kalian.”

Tangan Sehun oppa mengelus rambut Minwoo dan Minhyun sebelum pandangannya kembali focus ke arahku.

“Tumben kau bolos latihan. Sekarang ini jam training kan?”

“Well aku sudah keluar dari SM.”

“Ne? Cheongmalyo? Kok bisa?”

“Ada sedikit masalah.”

“Waeyo? Nilai sekolahmu menurun?”

“Begitulah. Dan sebentar lagi aku akan pergi jauh.”

“Kau mau pindah dari Seoul? Kan masih bisa training walaupun kau tinggal di luar kota.”

Untung saja Sehun oppa tidak menyadarinya sama sekali. Bibimbap Minwoo dan Minhyun datang. Setelah mengucapkan selamat makan, mereka makan dalam diam. Sedangkan aku dan Sehun oppa yang memang tidak memesan makanan, juga ikut diam.

“Kyeona-ah, aku ingin tau tentang sesuatu.”

“Ada apa?”

“Apa yang terjadi antara kau dan Baekhyun hyung? Kau tidak pernah lagi mampir ke dorm jadi aku pikir mungkin kau bertengkar dengan Baekhyun hyung.”

Deg… Baeki oppa…

“Begitulah…”

“Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalahmu tapi aku harap kalian cepat baikan. Kami semua merindukan kehadiranmu di dorm kami. Dan Kyungsoo hyung protes karena tidak ada lagi yang membantunya memasak dan membereskan dorm jika kau tidak ada.”

“Aku hanya tidak ingin membuat skandal dengan EXO.”, ucapku singkat dan mengalihkan pandangan dari mata Sehun oppa.

Sialan. Kepalaku mulai sakit lagi. Andwae. Aku tidak boleh pingsan di sini. Setidaknya di depan Sehun oppa.

“Minwoo-ah, Minhyun-ah, apa kalian ingat jalan pulang ke rumah kalian?”

Mereka berdua mengangguk sebagai jawaban. “Noona harus pulang sekarang. Mian tidak bisa mengantarkan kalian pulang. Tidak apa-apa kan.”

“Gwaenchana. Terima kasih makanannya noona.”

“Senang bertemu dengan noona.”, sambung Minhyun.

“Kau sudah mau pergi?”

“Ne. Mian oppa. Sampai jumpa.”

Sampai jumpa jika kita bisa bertemu lagi. Aku melambaikan tanganku sebelum berlari ke arah taxi kosong yang kebetulan lewat. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 11 pagi.

“Severance Hospital.”, ucapku singkat dan meletakkan uang di kursi penumpang di sebelahnya.

Jaga-jaga. Siapa tau aku pingsan sebelum sampai ke rumah sakit. Tapi ternyata aku masih sadar hingga sampai di rumah sakit walaupun kepalaku semakin terasa berat dan pandangan di depanku terasa berputar-putar.

“Kyeona-ah.”, teriak Tao gege begitu aku membuka pintu.

“Aigoo… Mengapa kau bisa basah kuyup seperti itu?”, tambah Luhan gege panic dan mengambil handuk untuk mengeringkan bajuku.

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat lelah dan merindukan Baeki oppa. Setidaknya sebelum aku pergi. Tapi aku juga tidak ingin Baeki oppa tau.”

“Tao gege, aku merindukannya. Aku menyukainya. Aku mencintainya.”

Air mataku turun deras dan tangan Tao gege menghapusnya cepat. Luhan gege juga mengelus-elus tanganku.

“Aku sangat merindukannya. Bogoshipoyo. Baeki oppa, bogoshipoyo.”

“Kami tau. Kau pasti sangat merindukannya.”

“Bogoshipoyo… Saranghaeyo. Cheongmal…”

Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku ketika aku kembali jatuh dalam kegelapan pekat.

Kepalaku sakit sekali. Rasanya ingin pecah. Aku ingin membuka mata tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali.

“Dia senang melihat hyung berdiri di atas panggung dan tersenyum ceria. Dia tidak pernah melewatkan satupun acara radio atau acara TV yang menampilkan EXO. Dia merasa senang karena hyung sudah bisa melupakannya walaupun dia merasakan sakit luar bisa. Di tubuh dan di hatinya.”

Ini… Suara Tao gege. Tapi dia berbicara dengan siapa? Apa dengan Luhan gege. Aku bisa merasakan sebuah tangan yang sangat hangat menggenggam tanganku erat. Sangat nyaman. Rasanya seperti tangan Baeki oppa sedang menggenggamku.

Akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku dan tangan yang ada di genggamanku langsung meremas tanganku pelan dan aku bisa membuka mataku. Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit rumah sakit seperti biasa. Lalu menatap sekelilingku. Aku melihat Tao gege yang bersandar di sebelah jendela dan menatapku dengan mata yang sedikit bengkak. Lalu melihat ke sebelah kananku.

Astaga. Aku pasti masih bermimpi. Jika ini benar-benar mimpi, maka aku tidak ingin bangun lagi. Mimpi yang benar-benar indah. Baeki oppa ada di hadapanku dan matanya yang hangat menatapku khawatir.

Tapi apa ini benar-benar mimpi. Tangannya yang menggenggam tanganku benar-benar terasa hangat dan rasa sakit di kepalaku terasa benar-benar nyata.

Apa ini benar-benar nyata? Aku menoleh ke Tao gege dengan tatapan bingung.

“Aku sudah memberitaukan semuanya. Mian.”

Ternyata ini benar-benar nyata. Ini bukan mimpi. Baeki oppa benar-benar di sini. Betapa aku merindukannya. Dan kehangatan dari tangannya memberikan perasaan nyaman ke seluruh tubuhku. Kehangatan yang aku rindukan.

“Hhhh… Gwaenchana. Lama-kelamaan pasti akan terbongkar juga.”, aku bisa mendengar suaraku yang sangat serak dan kecil.

“Mengapa oppa di sini? Mana Luhan oppa?”, tanyaku lagi

“Luhan hyung di luar. Apa aku tidak boleh ada di sini?”

“Aku mungkin harus menyusul Luhan hyung.”, aku mendengar bisikan Tao gege lalu pintu yang ditutup.

“Kapan oppa tau?”

“Baru tadi. Mengapa kau tidak memberitauku sama sekali? Dasar yeoja bodoh.”, ucap Baeki oppa pelan lalu air matanya turun.

Tanganku terasa gemetaran ketika menghapus air matanya. Baeki oppaku tidak pernah menangis sebelumnya. Aku jadi merasa bersalah karena membuatnya menangis.

“Jangan menangis. Aku sudah meminta oppa untuk membenciku kan?”

“Bagaimana aku bisa membencimu bodoh. Kau pikir bisa semudah itu?”, isak tangis Baeki oppa pecah dan air matanya semakin banyak jatuh ke tanganku.

“Hhh… Ternyata actingku begitu parah hingga Baeki oppa tidak bisa tertipu.”

Senyum Baeki oppa sedikit tertarik. Aku sangat merindukan senyuman ini. Senyum yang jenaka dan hangat.

“Kau tidak merindukanku?”, tanyanya. AKu bisa mendengar nada berharap dalam ucapannya.

“Bogoshipoyo oppa. Cheongmal bogoshipo.”, ucapku jujur.

Aku sudah lelah dengan kebohongan. Aku bisa merasakan ini benar-benar saat terakhirku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu manisku bersama Baeki oppa.

“Nado.”, ucapnya lalu memeluk tubuhku manja seperti biasa.

Aku sangat merindukanmu Baeki oppa. Aku merindukan pelukanmu ini. Aku juga merindukan genggaman tangan hangatmu.

“Oppa, boleh aku meminta sesuatu? Anggap saja ini permintaan terakhirku.”

Baeki oppa meletakkan jari telunjuknya di bibirku tanda ia tidak mau didebat. “Kau akan hidup sangat lama bersamaku. Jangan berbicara seperti itu. Apa permintaanmu? Apapun akan kukabulkan.”

“Pergi dari sini.”, ucapku asal. Aku tau dia akan protes sebentar lagi.

“Ne? Aku tidak akan mengabulkannya kalau begitu.”

Bingo. Bagaimana mungkin aku bisa mengusirnya. Walaupun aku mati hari ini, aku juga ingin mati dengan tenang dan bahagia.

“Hanya bercanda. Aku ingin mendengar oppa menyanyi.”

“Menyanyi? Lagu apa yang kau inginkan?”

“Terserah oppa saja.”

Baeki oppa membersihkan tenggorokanku sebelum menyanyikan lagu yang sangat sering kudengar live dari radio. Ini juga lagu favoriteku dari mini albumnya.

This moment feels like I was born as a child who knew nothing
I closed my eyes again in case it 
would be a dream
You were standing in fron of my desperate self and praying
Just once, I want to walk side by side with you

Taken by the soft wind to your world
You asked me brightly where I came from to your side
And I told you that It was a secret
Wherever we walk together
Will be paradise

You are an eye-blinding entity compared to Michael
Who would remember you, I will not forgive it
Like the beginning when stepping into Eden
Believing you every day from the bottom of my heart

I always want to protect you
So that even the small things won’t tire you out, I’m eternally in love

As your guardian, I will block the stiff wind
Even though people turn their backs to you
If I could become the person
Who can wipe your tears on a tiring day
It will be paradise

I, who has fallen in love with no other place to
Go back, my wings have been talen away (oh no)
Even though I lost my everlasting life, the reason to my happiness
You are my eternity Eternally Love (EXO-K – Angel)

Suaranya memang terbaik. Aku menepuk tangan pelan dan tersenyum lemah. Tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk tersenyum lebar.

“Chagi, aku juga ingin mendengar suaramu.”, pinta Baeki oppa manja dan menggenggam tanganku.

“Suaraku saja sudah seperti ini. Bagaimana aku bisa menyanyi?”, elakku

“Ayolah. Suaramu tetap bagus kok.”, Baeki oppa menunjukkan puppy eyes yang tidak mungkin bisa kutolak dari dulu.

“Arasseo. Mau lagu apa?”

“Terserah chagi saja.”

Mataku menerawang jauh. Lagu apa yang harus aku nyanyikan. Sebuah lagu yang dulu sering kunyanyikan ketika training lewat di kepalaku. Aku tersenyum sebelum mengeluarkan suaraku.

Saying that this moment is the last to you whom I loved so much
Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying, I was the one who said no and bid our farewell

I always act strong,
but I’m a cowardly
woman who didn’t have the confidence to protect you forever and left

don’t love someone like me again
don’t make someone to miss again
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you.. please

hurting, you try to hold me back,
but I’m a cowardly woman who doesn’t have the confidence to give happiness to anyone beside h
im

don’t love someone like me again
don’t make someone to miss again
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you

even if we are ever to regret our breakup
I can’t do anything but give you our farewell

don’t cry in pain counting the time that’s passed
don’t miss a foolish love that’s already passed
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you..

Please, I hope that you’ll be happy
let’s never meet again…
(Super Junior – Let’s Not)

 

“Bodoh. Kau terlalu banyak berhalusinasi. Kau akan tetap di sini bersamaku kan?”, kata Baeki oppa.

“Hadapi saja kenyataan oppa. Aku tidak akan bertahan lama lagi.”

“Andwae. Kau pasti bisa bertahan. Kau akan bertahan kan? Demi aku.”

Aku juga ingin bertahan dan ingin hidup lebih lama dengan Baeki oppa. Berada di sisinya dan meneriakkan namanya dari bangku penonton. Dan kalau bisa, aku ingin duet dengannya di atas panggung.

Aku menatap Baeki oppa dalam dan air mata kembali turun membasahi pipiku. “Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Jangan sedih jika aku pergi. Aku akan terus mengawasi dan menjaga oppa dari sana. Teruslah tersenyum maka aku juga akan tersenyum.”

“Mudah mengatakannya bodoh.”, air mata Baeki oppa kembali lolos dari matanya.

“Saranghaeyo, Kyeona-ah.”

“Saranghaeyo Baeki oppa.”, ucapku pelan dan tersenyum kecil.

Baeki oppa memperpendek jarak antara wajahnya dengan wajahku lalu mengecup bibirku untuk pertama kali. First and my last kiss. Aku rela memberikannya untuk orang yang sangat aku cintai ini.

“Gomawoyo Baeki oppa.”, bisikku begitu Baeki oppa melepaskan tautan bibir kami.

Kepalaku kini kembali sakit. Bahkan lebih sakit dari biasanya. Inilah saatnya. Selamat tinggal Baeki oppa. Selamat tinggal semuanya. Aku akan merindukan kalian. Saranghaeyo Baeki oppa.

“Oppa, aku mau tidur.”

“Istirahatlah sayang.”, Baeki oppa mengelus pipiku dan mengecup keningku.

Aku masih melihat senyum Baeki oppa sebelum aku menutup mataku untuk selama-lamanya.

Saranghaeyo Baeki oppa.

The end…

Iklan

13 pemikiran pada “Baby Don’t Cry (Kyeona Version)

  1. Huhu, jadi greget gara2 kyeona ga mau operasi T-T jujur ya thor, udah kebawa sedih gitu bacanya tapi pas bagian yang tao jenguk kyeona dgn alasan shopping dan alasan2 absurd lainnya, seketika aku langsung ngakak *abaikan* XDD DAEBAK thor, aku suka ada 2 versi dari sudut pandang masing2 tokoh utamanya~~^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s