Our Past Future Life(Chapter 7)

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Hyora

Support casts   :Lee Chunji, Jung Hana, Lee Chanhyuk

Genre              : Romance, Sad

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Summary         :

“No matter how dark your past is, the all I know is that you are my future”

(Author’s side)

Hyo menatap Kai yang bersimbah darah terbaring di pangkuannya. Air matanya menetes semakin deras. Kini ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan menggunakan taksi. Tangannya bergerak menyeka darah yang mengalir dari pelipis namja itu dan membuat tangannya ikut berlumuran darah.

Gadis itu kembali teringat semua yang dikatakan Chunji saat ia sedang menangisi Kai di lintasan balapan tadi.

(Flashback)

“Kim Hyora…”Namja itu berdiri dengan angkuh di depan Hyo yang sedang mendekap Kai.

“Kau jahat Chunji. Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini.” Saat itu hanya kalimat itu yang bisa ia lontarkan.

“Bagaimana rasanya menyaksikan orang yang kau sayangi kesakitan seperti itu?”

Hyo tidak habis pikir. Orang yang dia kira sudah berubah tega menyakiti kekasihnya yang notabene adalah kawan lamanya sendiri seperti ini.

“Menyakitkan bukan?Itu juga yang kurasakan tiga tahun yang lalu.”

Dengan air mata yang terus menetes, Hyo berpikir keras untuk mencerna perkataan Chunji barusan.

“Lee Chanhyuk. Apa kau masih ingat nama itu?”

~Deg~ Lee Chanhyuk? Chanhyuk oppa?

“Dia hyungku.”

“Hyung?”

“Kenapa kau seperti terkejut begitu, Hyo?” Ia tersenyum sinis. “Ah, tentu saja kau pasti tidak menyangkanya. Kalau begitu kenalkan…” Dengan sombongnya dia mengarahkan lengan kanannya ke depan wajah Hyo. “Aku Lee Chanhee.” Katanya. “Sekarang kau ingat kan?”

Serasa terpelanting dari ketinggian yang amat sangat tinggi. Hyo merasakan dadanya perih. Tanpa dia duga, masa lalu yang sudah dengan susah payah dia kubur rapat-rapat, tiba-tiba kembali ke permukaan.

Ingatan Hyo kembali ke masa 5 tahun yang lalu saat ia masih seorang gadis kecil yang baru duduk di kelas 1 SMP. Saat itu ia sedang menangis sendirian di sebuah ayunan di taman dekat rumah neneknya.

“Untukmu.”

Seorang namja yang umurnya 4 tahun lebih tua darinya datang menghampiri sambil memberikan satu cup ice cream strawberry padanya.

“Gomawo oppa…”

“Kau tidak marah lagi kan?”

Hyo menggeleng pelan. Hari itu, ulang tahun Hyo yang ke 12 tapi ia hanya bisa menghabiskan waktunya di taman sendirian karena orang tuanya teramat sangat sibuk. Sejak kecil, Hyo dititipkan pada neneknya di Busan oleh kedua orang tuanya yang merupakan pengusaha internasional.

Dan setiap kali Hyo merasa sedih atau kesepian karena merindukan orang tuanya, namja bernama Chanhyuk itu lah yang selalu menemaninya. Membelikannya ice cream strawberry kesukaannya agar tangis Hyo mereda.

Chanhyuk adalah tetangga yang tinggal di samping rumah neneknya Hyo. Disana Chanhyuk tinggal bersama Appanya karena keluarganya sudah bercerai dan Eomma dan adiknya satu-satunya sekarang berada di Jepang.

<><><>

“Oppa… oppa pasti menganggapku anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Tapi kali ini aku serius oppa. Aku sayang sama oppa.” Ucap Hyo suatu hari saat ia sedang duduk berdua dengan Chanhyuk. Saat itu ia sudah duduk di kelas 2 SMP dan sudah mengenal yang namanya cinta.

“Oppa juga sayang kamu, Hyo.”

“Aku mencintai oppa.”

Namja itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Hyo.

<><><>

“Hari ini teman oppa ulang tahun. Kamu mau menemani oppa datang ke ulang tahunnya?”

“Emh…”

Hyo senang bukan kepalang saat Chanhyuk mengajaknya ke pesta yang diadakan temannya itu.

“Hyo… kenalkan ini Jung Hana. Dia pacarku. Kami baru berkenalan 3 hari yang lalu dan kemarin dia resmi jadi pacarku” Chanhyuk memperkenalkan seorang gadis yang kini sedang ia rangkul pada Hyo yang jelas-jelas menyukainya.

Chanhyuk meninggalkan Hyo yang masih membatu di salah satu sudut cafe sementara dia malah asyik bercanda dengan gadis yang baru saja di perkenalkan sebagai pacarnya itu. Matanya tidak lepas dari dua orang yang sedang asyik mengobrol sampai tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menurutnya sangat menjijikan.

Hyo berlari meninggalkan tempat itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Hatinya terluka. Bukan karena orang yang selama ini melindunginya memiliki kekasih. Bukan. Kenyataan itu masih bisa di mengerti olehnya. Tapi hal yang membuat air matanya tak terbendung itu adalah apa yang di lihatnya di cafe tadi.

Saat di cafe tadi, Hyo melihat Chanhyuk mencium Hana. Hyo tidak habis pikir, orang yang selama ini ia anggap sebagai orang yang sangat baik dan sopan, orang yang selalu menjaganya, orang yang bahkan menjadi tipe pria idealnya kini dengan sangat menjijikan mencium seorang wanita yang baru dikenalnya.

“Nappeun oppa… aku benci oppa.” Hyo terus berlari meninggalkan mereka.

Setelah kejadian itu, Hyo tidak pernah lagi bertemu dengan Chanhyuk. Sampai pada akhirnya orang tua Hyo menjemputnya untuk tinggal bersama di rumah baru mereka di Seoul saat Hyo kelas 3 SMP, Hyo sama sekali tidak memberitahu Chanhyuk. Ia terlanjur kecewa pada orang yang sudah dia anggap oppanya sendiri itu.

<><><>

Sudah setahun lebih Hyo tinggal di rumah barunya di Seoul. Meski orang tuanya masih tetap sibuk dan jarang di rumah, tapi setidaknya kini dia memiliki Rin, adiknya, yang dulu selalu di bawa kemanapun orang tuanya pergi.

Suatu hari di tengah musim dingin.

“Yeobuseo…” Sapa Hyo setelah menempelkan ponselnya ke telinga kirinya.

“Yeobuseo… Hyo?”

Suara di ujung sambungan telpon itu masih jelas ia ingat.

“Ini oppa.”

“Ada apa oppa?” Hyo menjawab dengan suara yang datar. Bayangan namja itu dua tahun lalu kembali berkelebatan di kepalanya.

“Aku sedang di Seoul. Bisa bertemu?”

“Aku sedang banyak tugas oppa.” Hyo tidak bergeming.

“Aku akan menunggumu di taman dekat sekolahmu.”

Sambungan telpon terputus. Hyo yang masih menyimpan rasa sakit di hatinya sama sekali tidak terpikir untuk menemui namja yang telah mengecewakannya itu.

(Flashback ends)

<><><>

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Hyo terus teringat kata-kata Chunji sesaat sebelum dia pergi.

“Dia menunggumu sampai malam tapi kau tidak datang. Dia menunggumu di bawah salju yang membuat penyakitnya semakin buruk.”

“Hah, jangan pura-pura tidak tahu!Aku yakin kalau kau tahu dia mengidap kanker hati akut. Dia bilang ingin bertemu denganmu sebelum pergi ke Jepang untuk operasi transplantasi hati.”

“Tapi sayang, ternyata orang yang ingin dia temui itu memiliki hati yang dingin dan tega membuatnya kehilangan kesempatan untuk hidup lebih lama.”

Semua kata-kata Chunji membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Di satu sisi, ia sedang mengkhawatirkan Kai yang sedang dalam kondisi kritis. Di sisi lain, hatinya juga sakit mengingat kebodohan yang dia lakukan dulu. Kebodohan yang dikarenakan ketidaktahuannya.

<><><>

(Hyora’s side)

Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit di pagi hari yang mendung ini. Cuaca hari ini benar-benar mencerminkan suasana hatiku. Sudah 4 hari Kai terbaring di rumah sakit dengan tidak ada perkembangan yang berarti.

Saat aku melewati ruang perawat, seseorang memanggil namaku.

“Hyora?” Seorang gadis dengan seragam serba putih berlari kearahku. “Kim Hyora?” Tanyanya lagi.

“Ne. Aku Kim Hyora.” Jawabku. “Anda siapa?” Wajahnya memang terlihat asing.

“Hana. Jung Hana. Kau masih ingat aku kan?”

Hana? Oh tuhan… apa lagi ini? kenapa semua orang di masa laluku dan Kai kembali bermunculan disaat kami sudah memulai kehidupan yang lebih baik.

“Oh, Ne eonni. Apa kabar?” Ucapku berbasa-basi.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Hyora.” Katanya.

“Ne?”

“Sudah lama aku mencarimu. Tidak ku sangka kita bertemu di tempat seperti ini.”

Aku terdiam memikirkan kemungkinan yang menjadi alasan ia mencari-cariku.Kami berjalan menuju taman rumah sakit lalu duduk di salah satu bangku kayu disana.

“Jadi namja yang kecelakaan beberapa hari yang lalu itu kekasihmu?” tanyanya.

“Emh…” Aku mengangguk pelan.

“Kau pasti sedang sedih sekarang.” Tentu saja. Apa masih kurang jelas terlihat dari wajahku sekarang? Rutukkku dalam hati. “Tapi aku tidak punya banyak waktu.” Tambahnya.

“Maksud eonni?”Tanyaku yang benar-benar tidak bisa membaca kemana arah pembicaraan kami sekarang.

Hana eonni mengajakku ke suatu tempat. Setelah meminta ijin pada eommonim yang sekarang sedang menunggui Kai yang masih belum sadarkan diri, aku segera menyusul gadis yang kini terlihat berbeda setelah ia mengganti seragam perawatnya.

Kami berjalan pelan di sela-sela bongkahan batu marmer yang bertuliskan nama orang yang jasadnya tertanam di bawah sana.

Langkah kami terhenti di sebuah nisan bertuliskan nama orang yang sangat ku kenal. Dan wajah di foto itu, senyum di wajah itu membuatku meneteskan air mata.

“Oppa…” Gumamku pelan.

Aku berlutut di depan foto itu.

“Chanhyuk menitipkan ini untukmu, sesaat sebelum ia pergi.”

Gadis yang masih berdiri tegap di sampingku itu memberikan sepucuk surat yang terbungkus amplop berwarna biru.

“Sedang apa kalian disini?” Suara seorang namja membuat kami berdua seketika memalingkan wajah ke arah suara tadi berasal.

“Chunji?” / “Chanhee?”

Aku dan Hana eonni menyerukan nama yang berbeda tapi jelas ditujukan pada orang yang sama.

“Noona? Kau sedang apa disini?” Tanya Chunji dengan suara dingin. “Dan kenapa kau bisa bersamanya?” Tanyanya lagi saat melihat aku ada diantara mereka.

“Aku hanya ingin memberikan titipan hyungmu.” Tutur Hana eonni. “Diamenitipkan surat ini untuk Hyo.” Tambahnya lagi.

Perlahan ku buka amplop biru yang membungkus dengan rapi selembar surat berisi pesan Chanhyuk oppa untukku. Aku membiarkan Chunji dan Hana eonni ikut membaca isi surat tersebut.

Dear my little girl, Hyo…

Apa kabar Hyo? Rasanya sudah lama tidak bertemu… Apa kau masih cengeng seperti dulu? Atau apa kau masih belum bisa menghentikan kebiasaanmu menggigit bibir? Hahaha…

Oke, aku tahu kau tidak suka mendengarku banyak berbasa-basi. Jadi aku akan langsung ke tujuanku saja. Disini aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahan yang ku perbuat dulu. Ada setidaknya 3 kesalahan yang aku harap bisa kau maafkan.

Yang pertama, maaf karena aku telah menyakiti hatimu dengan mengajakmu ke pesta ulang tahun temanku dan membuatmu melihat hal bodoh waktu itu. Aku benar-benar minta maaf…

Yang kedua, masih berhubungan dengan kesalahan pertamaku. Maaf karena aku telah membohongimu. Hana bukan pacarku, dia hanya teman yang kumintai tolong dengan tujuan agar kau tidak lagi berharap padaku. Sejujur-jujurnya aku katakan kalau aku sangat menyanyangimu. Kau gadis yang manis. Dan aku senang memiliki adik sepertimu…

Yang terakhir… maaf karena aku telah menyembunyikan keadaanku yang sebenarnya. Saat aku masih kelas 6 SD, dokter memvonisku sebagai penderita kanker hati. Sejak saat itu aku merasa tidak memiliki semangat untuk hidup. Tapi setelah mengenalmu, adikku yang manis, aku merasa memiliki semangat. Setidaknya aku memiliki alasan untuk tetap tersenyum setiap hari. Aku tidak memberitahumu karena tidak ingin kau bersedih karenaku.

Kau menangis ya? Sudahlah… kumohon jangan menangis. Aku sudah tidak bisa berlari membeli ice cream strawberry kesukaanmu untuk menghentikan tangisanmu lagi sekarang… Jadi jangan menangis ya…

Baiklah… Aku sudah mengakui semua kesalahku padamu. Aku harap kau mau memaafkan oppamu yang jahat ini…

Jaga dirimu baik-baik. Oh iya, saat kau sudah besar nanti kau pasti pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pasti banyak namja yang mengejarmu. Pesanku hanya satu, jangan salah pilih. Pilihlah orang yang bisa menjagamu, yang menyayangimu dengan tulus. Jangan pilih orang yang jahat sepertiku. Janji ya??? Hehehe…

Aku menyayangimu Hyo…

Your lovely Oppa…J

“Jadi, hyung benar-benar tidak memberitahumu soal penyakitnya?” tanya Chunji setelah kami selesai membaca.

“Dia memang tidak ingin memberitahu Hyo soal penyakitnya. Oleh karena itu dia memintaku agar membuatnya menjauhi hyungmu saat penyakitnya mulai semakin parah waktu itu.” Hana eonni mewakiliku menjawab pertanyaan Chunji karena saat ini aku masih terpaku dengan semua yang baru saja ku hadapi. “Aku minta maaf Hyo…” Tangan Hanna eonni merangkulku yang mulai menangis lagi.

“Oppa… Kau memang jahat. Kau menganggapku adikmu tapi kau malah menyembunyikan penderitaanmu dariku. Kau jahat…” Tangisku semakin menjadi. “Aku menyayangimu oppa…”Gumamku kemudian.

<>끝<>

Author’s talk:

Kyaaaaa… ya ampun.. ya ampun.. ya ampun… #author stress

Setelah dibaca-baca lagi ko rasanya ceritanya pasaran banget ya…. L

Tapi yaa… berhubung ini udah nyampe akhir, jadi tanggung kalo ga di terusin, author bermodal nekad ngepost chapter terakhirnya. Semoga akhirnya lebih bagus deh yaa…

Di tunggu comment-nya ya readers…

Makasih… n_n

Iklan

29 pemikiran pada “Our Past Future Life(Chapter 7)

  1. sumpah thor, aq tegang bgt bc part ini…
    chunji bnr2 keterlaluan bgt, gk mkr sblm bertindak…
    kasian kan kai… 😥 😥
    hyo jg kasian bgt dy, jgn sampe dy kehilangan kai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s