100 Ducks (Chapter 3)

Tittle    : 100 Ducks

Part  3  :  “Perang Dunia ke-3!

Lenght : Chaptered

Rating : T

Genre : School, Comedy and Romance

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Main Cast : D.O EXO-K (Do Kyung Soo)

                   Song Hye Ji (You)

                   Kris EXO-M (Kris Wu)

                   Yoona SNSD

 

(Mohon komentar dan sarannya *bow* ^^)

 

PART  3

Perang Dunia ke-3!’

==================================================================

Air mata Hyeji jatuh bak banjir bah. Dua buah air terjun yang bening mengalir deras dari hidungnya, sesekali ia menariknya jika hampir masuk ke dalam mulutnya. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan sangar. Sontak ada aliran listrik yang membuat laki-laki itu melepaskan Hyeji dari tangannya. Ia berdiri dan perlahan meninggalkannya.

“Hey Mister Bule! You mau go?” teriak Hyeji.

Tanpa ragu ia mendekati laki-laki itu dengan kedua tangan pinggang dan menaikkan dagunya.

“You kira you siapa hah?. You tau apa yang terjadi?. My tuan, My lord, you know?. Harus married dengan girl because you. You know bule?, MARRIED! MARRIED!. You Know gara-gara who?, gara-gara you. YOU! YOU! AND YOU!. You mau saya sunatin?, biar saya married kan dengan girl yang My lord sleep. YOU WANT? YOU WANT?. Heh!” kata Hyeji meluapkan amarahnya dengan bahasa yang kedengarannya seperti bahasa inggris.

“Eh?,Naega?, Waeyeo?,hmm… kamu bicara bahasa apa ya?” tanya laki-laki itu dengan wajah polos.

Mata Hyeji membesar, mulutnya terbuka. Ia mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya. Laki-laki itu berbicara fasih bahasa korea.

“Maaf ya saya buru-buru!” sambungnya lagi dan langsung pergi.

“Eitsss…”, baru selangkah ia berjalan, Hyeji menarik kerah bajunya dari belakang.

“Heh bule palsu!, kalau kamu gak mau bantu aku, aku akan teriak kalau kamu melakukan pencabulan. Ottokhe mister?” kata Hyeji menaik-naikkan alisnya dengan bangga.

Tanpa menunggu jawaban darinya, Hyeji langsung menarik kerah bajunya dan menyuruhnya mendayung sepeda miliknya. Layaknya modus hipnotis jaman sekarang, laki-laki itu menuruti semua perintah dari Hyeji.

Seperti ini….

“Lurus!. Belok!. Lurus!. Belok kiri!. Kanan kanan!. Kiri kiri!. Lurus sangak!.”

@ Cherry Park

Di bawah pohon yang hijau di pinggir sungai, D.O dan Yoona menikmati sandwich dan sekotak banana milk dalam balutan keromantisan ala remaja SMA. Mulai dari ala remaja SMA tahun 70-an sampe tahun mileniumpun di lakukan,  seperti suap-suapan, menaruh bunga di kuping, mendengarkan lagu bersama, sampai tidur-tiduran di pangkuan.

“KYUNG SOO-YA!!!!!!!” teriak Hyeji dari kejauhan saat melihat mereka berdua.

D.O yang sedang tidur dalam pangkuan yoona terkejut, ia melirik ke kiri dan ke kanan mencari-cari sumber suara.

“Seperti ada yang memanggilku ya noona?” tanyanya pada yoona. Namun yoona hanya mengangkat bahu.

“Oho! Ini rupanya!” Seru Hyeji tepat di belakang mereka berdua.

Sontak D.O dan Yoona berdiri sangking terkejutnya.

“Ya! Eonni bisa gak sih, gak meracuni otak tuan saya ini!, tuan saya ini masih polos tidak mengerti hal-hal 17 tahun ke atas. Jangankan Ciuman dan pelukan, berjabat tangan dengan perempuan saja dia sudah panas dingin. Apalagi tidur sama eonni. Eonni kira tuan saya mau tanggung jawab?. Yang jadi tipe dia itu bukan eonni, tapi yang seperti ini.” jelasnya yang lalu menyodorkan laki-laki campuran yang di bawanya tadi ke hadapan Yoona.

“Eonni kira dia pecinta wanita?, Heh! Eonni salah besar!.” Sambungnya lagi.

Yoona mengernyitkan dahinya, “Kris?” kata Yoona dengan ekspresi hampir tertawa.

“Yoona? Ngapain disini?” seru laki-laki campuran yang bernama Kris itu dengan wajah terkejut.

“Kaja! Kaja Kris!” Yoona menarik tangan Kris dan buru-buru meninggalkan tempat itu.

Temperatur di tempat itu semakin memanas, sejak Yoona dan Kris minggat. Hyeji dan D.O saling bertatapan tajam tanpa berbicara sepatah katapun.

“Sebenarnya di dalam kepala kamu itu ada isinya gak?. Tindakan kamu tadi semakin menjadikan kamu gadis yang paling menyedihkan di dunia ini. Coba lihat!. Pintar?, sudah jelas tidak. Cantik?, cih! jangan harap!. Aish!” D.O buka suara dengan mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati Hyeji. Ia menggaruk-garuk kepalanya lantaran pusing.  Kakinya langsung melangkah meninggalkan Cherry Park.

Mendengar pernyataan D.O, Hyeji hanya bisa manyun dan menggerutu sendiri.

“Ya! Mau diam di situ?, aku mau pulang. Cepat!” teriak D.O dari jauh.

“Hah?, masih berani menyuruhku??. Dasar bayi berjalan!” gerutu Hyeji pada dirinya dengan suara yang kecil.

Disepanjang jalan menuju rumah tiada henti-hentinya mereka berdebat masalah tadi. Beberapa kali Hyeji mengancamnya dengan menyuruhnya turun di tengah jalan, namun saat D.O berkata gajinya yang bulan lalu tidak akan di bayar, Hyeji langsung mengunci mulutnya dan mengayuh kembali sepedanya.

“Turun!” kata Hyeji dengan kasar setelah sampai di depan gerbang rumah D.O.

“Ah!, tadi kau panggil aku apa?” tanya D.O di hadapan wajah Hyeji.

“Anak Mami!, Baby Huey!, Balita Cacat!, kenapa? Marah?”

“Bukan itu bego!. Benarkan kau memang tidak punya otak!. Aaaaaah! Susah bicara dengan orang yang punya IQ 80 ke bawah.” kata D.O yang marah sambil menendang ban belakang sepeda Hyeji. Ia masuk ke dalam rumah dan menutup gerbangnya.

“Babuuuuu…” panggilnya di balik gerbang saat melihat Hyeji yang sedang ancang-ancang mengayuh sepeda.

“Euuuhh….Apa lagi?” marah hyeji.

“Tuan saya masih polos..hahaha. Ternyata kamu sadar juga kalau aku tuanmu. Babu-ya Annyeong~” ejeknya.

Esok Paginya…

Karena hari ini hari libur, D.O di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya. Tidak lupa pula babunya di ikut sertakan oleh ibunya. Ibunya sangat nge-fans dengan Hyeji, di matanya hyeji adalah pendekar wanita masa kini.

“Anak mommy maunya jalan-jalan kemana hari ini?” tanya ibu D.O padanya dengan nada manja di dalam mobil. Di belakang Hyeji yang duduk bersampingan dengan D.O membuat tanda muntah.

“Terserah mom saja.” Jawabnya singkat.

Tiba-tiba Hyeji terkekeh sendiri  sambil memegang hpnya. Ternyata ia mengirim pesan untuk D.O yang isinya ‘Anak Mami pengen asi’. Saat hp D.O bergetar dan membaca isi smsnya, matanya langsung menatap tajam ke arah babu di sebelahnya.

Hyeji kembali mengetik sms.

To : D.O sii Anak Mami

ih atut…anak mami ngambek >.<

D.O hanya membaca dan tidak memperdulikannya. Ternyata Hyeji belum puas kalau tidak memancing amarah baby hueynya.

To : D.O sii Anak Mami

‘Gara-gara aku, sebantar lagi anak mami akan menangis, kota seoul akan banjir bandang. >.<. Jangan marah ya!, susah cari susu untuk bayi raksasa. Sekarang anak mami tidur aja, nanti capek. Tapi jangan ngompol ya, gak ada popok ukuran XXXL (read. triple XL) soalnya. ^^’

“Eomma berhentikan aku dan Hyeji di ujung sana. Aku ingin jalan-jalan dengannya saja.” Pinta D.O pada orang tuanya.

Ayahnya yang sedang menyetir mobil terkejut dengan permintaannya dan menatap anak tunggalnya dibelakang dengan tatapan khawatir.

“Honey, tenang saja. Wajarkan kalau hari minggu dua sejoli mau jalan-jalan bersama tanpa di ganggu.” Kata ibunya D.O yang senyam-senyum sendiri.

“Eomma…..” keluh D.O.

Wajah D.O semakin berkerut saja, saat ibunya menyampaikan ide buruk baginya.

@ Pantai

D.O dan Hyeji kembali saling bertatapan tajam. Mereka saling berbicara dengan isyarat mata.

“Semua gara-gara kamu!.” tuduh Hyeji dengan nada tinggi.

D.O sama sekali tidak merespon perkataan Hyeji, ia malah langsung berjalan mendekati pantai. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang dalam kondisi bad mood. Hyeji di belakang sibuk mengkomplain D.O yang menyuruh mereka turun di tengah jalan.

Semua ini akibat ulah ibunya D.O yang mempunyai ide untuk menurunkan mereka di pantai, “Kalau hari minggu kan biasanya orang pacaran ke pantai.” Begitu katanya.

“Kalau kamu bicara lagi, aku sumpahin kamu jadi perawan tua!. Araseo?!” bentak D.O pada babunya yang dari tadi tidak berhenti nyerocos sedetikpun.

“Kau kesana jangan ikut-ikut aku.” Kata D.O menunjuk sisi kanannya.

Hari minggu dengan matahari yang cerah. Hari yang menyenangkan untuk bermain. Tapi apa yang dapat dilakukan kalau cuma sendiri. Hyeji sudah berusaha untuk membuat dirinya agar dapat menikmati suasana.

“Baby Huey, kau laki-laki bukan?” tanya Hyeji yang tiba-tiba datang menghampiri D.O.

“Apalagi hah?” jawab D.O.

“Coba kamu lihat, semua cowok disini gak pake baju. Wuah….badannya keren. Six Pack!!” serunya.

“So?” D.O menaikkan alisnya.

“Makanya aku tanya, kamu laki-laki bukan?, jangan-jangan….kamu….” kata-kata Hyeji terputus, membuat D.O penasaran.

“Jangan-jangan kamu pakai bra lagi di dalam. Hahahahaha.” Ledeknya.

“MWORAGO??” emosi D.O telah terpancing.

“Warna apa?, kuning?, Merah?, atau jangan-jangan warna pink?.” Ledek Hyeji lagi.

Wajah D.O memerah karena orang-orang di sekeliling mendengar percakapan mereka.

“Aaaa….wajah kamu merah. Warna merah kan?, iya kan?. hahaha. Benarkan dugaan aku. Kamu uda datang bulan belum bulan ini?, jangan-jangan kamu bad mood karena mau datang bulan ya?. ckckck, kasian. Kalau aku belikan Feminax bagaimana?, kamu kalau lagi datang bulan biasanya minum apa?, feminax?, atau Kiranti?. Kamu minum yang mana?” Hyeji tidak berhenti mengundang emosi D.O.

D.O tidak tahan dengan perkataan Hyeji yang menghina dirinya, ia berdiri dan melipat kedua tangannya, raut wajahnya begitu sombong.

“Ya!!, kau sendiri?. Kenapa selalu berpakaian laki-laki?. Hmm…aku yakin pasti ada sesuatu di balik itu semua.” Katanya percaya diri.

“A…ani..aniyo..” Hyeji terbata-bata.

“Ah, majayeo. Aku tau karena apa. Menurut analisis aku, kamu memang perempuan. Apa jangan-jangan….” D.O sengaja balik membuat Hyeji penasaran.

“a..apa?” Hyeji mendekatkan kupingnya ke wajah D.O.

“Apa jangan-jangan…dadamu begitu kecil ya?” bisiknya.

Mendengar pernyataan itu, Hyeji begitu marah. Ia mengejar-ngejar D.O dengan melempar sepatu ketsnya.

“Ya! Kurang ajar!. Kalau kau lihat kau pasti tergoda!!. Banci Cabul!” teriaknya.

Saat Hyeji mengejarnya ia melihat dua sosok yang sepertinya pernah dilihat. Ia menarik kerah baju D.O dan menunjuk dua orang yang sedang berjalan. Seketika itu juga D.O begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya, Yoona berjalan dengan Kris sambil tertawa.

“Iyaaaaaah, Yoona itu benar-benar penggoda laki-laki ya?” kata Hyeji. Namun D.O tidak memperdulikannya, ia langsung berjalan mendekati Yoona dan Kris.

“Noona…” sapa D.O di hadapan Yoona.

“Kau disini sama dia?” kata Yoona tersenyum sambil menunjuk Hyeji di sampingnya.

“Benar-benar perempuan penggoda.” Ketus Hyeji.

“Ya! Bule palsu, kamu ngapain dekat-dekat dengan dia?” sambungnya menarik Kris kesampingnya.

D.O kesal dengan hinaan Hyeji terhadap Yoona, ia berdiri di samping Yoona dan memarahinya. Kini posisi mereka seperti sedang dalam pertandingan bulutangktis ganda campur.

“Kamu tidak berhak menghinanya seperti itu.” gertak D.O.

Mereka kembali bersengketa, Kris dan Yoona hanya dapat melihatnya. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Cukup, cukup. Mmmm…kalian disini dulu. Selesaikan pertengkaran kalian. Aku dan Kris akan kembali bekerja. Oke?” kata Yoona perlahan.

Perlahan Yoona dan Kris angkat kaki dari tempat itu. Kris menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat bingung, karena sama sekali tidak mengenal mereka berdua.

Suasana seperti di dalam ring tinju, lagi-lagi mereka saling bertatapan tajam.

“Heh!, kasian ya, cintanya bertepuk sebelah tangan” ketus Hyeji.

“Kamu juga!” jawab D.O.

“Aku jamin 1000 persen, kamu gak akan bisa dapat si Yoona itu. Dia sukanya sama laki-laki seperti Kris.”

“Aku juga jamin sejuta persen, kamu gak bakalan dapat si Kris. Mana mau dia dengan gadis penguasa ilmu hitam yang mandinya aja setahun sekali kayak kamu. Gak mungkin kan manusia tampan jatuh cinta dengan siluman buaya putih?” kata D.O yang mengeluarkan unek-uneknya.

“Oho!, jangan anggap remeh!. Kalau aku pake baju perempuan, kamu pasti juga akan jatuh cinta sama aku. Liat ya dalam waktu 60 hari, Kris itu bakalan jadi pacar aku.” Hyeji berkata denga penuh keyakinan.

“Kalau aku jadian dengan Kris, kamu harus bayar aku dengan 100 ekor bebek yang warnanya kuning, bulunya halus sehalus sutra, ukurannya harus sama, tidak boleh besar, tidak boleh kecil, juga tidak boleh sedang. Dan kamu harus bisa menghafal setiap nama bebeknya. Gimana? Deal?” sambungnya.

“Hahaha, Deal! Deal!. Samapai kiamatpun kamu gak bakalan jadian sama dia.  Dan kalau aku bisa jadian dengan Yoona dalam waktu 60 hari. Kamu harus kasih aku 100 tangkai bunga mawar impor yang setiap warnanya berbeda dan setiap tangkai harus ada 20 bunga dengan warna yang berbeda. Deal?”

“Deal!” kata hyeji lantang. Mereka berdua berjabat tangan, tanda bahwa mereka setuju satu sama lain.

“Dada kecil, kamu pulang jalan kaki!” ketus D.O pada Hyeji saat ia membaca sms bahwa ayahnya telah datang menjemput.

“aaaaahh..”

To be continued..

43 pemikiran pada “100 Ducks (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s