Dear My Lover (chapter 1)

Tittle               : Dear my lover (chapter 1)

 

Author              : jejesikha

 

Genre              : Romance

 

Rating             : PG-15

 

Length             : Chaptered

 

Main cast        :  Park chanyeol (EXO K)

Wufan Kris (EXO M)

Lee Ahra (OC)

Tiffany (OC)

 

Other cats        :    –

 

Hello Readers!                                                                                                                                         Saya mau berterima kasih banyak untuk semua readers yang setia baca FF saya, Terima kasih juga buat readers yang ngelike sama comment juga, saya jadi terharu~ kkkk. Oh iya, sebelumnya kalian bebas mau comment apapun, malahan comment atau kritikan kalian bakalan dijadiin motivasi supaya saya bisa menghasilkan FF yang lebih bagus dan tentunya berkualitas. Nah, untuk kalian yang akan baca FF ini, saya mau ngejelasin kalau FF Ini adalah lanjutan dari FF saya sebelumnya yang berjudul This Love chapter 1,2,3,4 dan 5. Dan juga para readers yang baru baca FF ini, disarankan untuk membaca FF This love terlebih dahulu supaya kalian mengerti alur ceritanya.

Really Thank you so much dan sekian dari saya, so enjoy reading Guys!

Cinta ibarat pisau bermata dua, cinta mampu memaniskan hidup ini walau cinta bukanlah madu. Cinta dapat menerangi kegelapan meskipun cinta bukanlah cahaya, cinta mampu membuat semua menjadi indah meskipun cinta bukanlah segalanya..

 

Aku memandang seluruh tubuhku di cermin, gaun putih yang menutupi hampir seluruh tubuhku ini terlihat anggun dengan brokat jepang bemotif bunga berukuran kecil di sekitar ekor gaun yang lebih dari 2 meter, dan juga motif elegan yang terletak di sekitar dadaku  makin memperindah gaun rancangan salah satu desainer terkenal di korea, Andre kim. Tiara peninggalan ibuku yang terbuat dari butiran Kristal dan white gold-pun menghiasi kepalaku, tidak terlalu besar, namun Tiara ini sangat cocok di kepalaku dan aku sangat menyukainya. Terakhir, wajahku yang dirias tipis, bibirku yang diploles lipstick merah muda meninggalkan kesan simple namun elegan di mukaku.

 

“aku iri padamu, usiaku bahkan 1 tahun lebih tua darimu tapi ternyata kau lebih dulu menikah.” Ujar Tiffany yang masih diam di depan pintu.

“hm?” aku berjalan mendekatinya, sedikit sulit karena gaun yang benar-benar sempit dan sangat memperlihatkan lekuk tubuhku.

“diamlah disana, itu akan merusak semua hal yang hampir sempurna,”dia berjalan ke arahku. Tiffany terlihat cantik hari ini, dress krem se-lututnya dengan wedges 10cm yang dia beli di California itu makin menghiasi kakinya yang indah.

“lihatlah dirimu, kau sangat cantik!”

“kau, berlebihan,” ucapku sambil tersenyum padanya.

“bukan, aku tidak berlebihan, aku serius.”

“haha, terima kasih gadisku,” aku sedikit memukul sikutnya.

“Ahra, apa kau tidak gelisah atau merasakan hal yang aneh menjelang pernikahanmu?”

“tentu saja, apalagi saat teman temanku mengatakan bahwa aku terlalu dini untuk menikah, aku jadi sedikit ragu.”

Aku mengangkat gaunnku yang panjang, “sudahlah, kita tidak punya banyak waktu bukan? Kita harus berangkat?”

“ya, ayo” dia menuntunku berjalan keluar, tangannya menggenggam tanganku sangat erat seakan-akan dia menjagaku dan berusaha untuk menghindarkan atau meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Tiffany, dia adalah orang paling penting dalam hidupku.

Aku menatap jam dinding lekat-lekat, sekitar 3 menit lagi aku akan menuju altar, rasa gugup dan gelisah yang aku rasakan sekarang, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku hanya bisa menggenggam tangan Tiffany sambil menundukan wajahku.

“ada apa denganmu?”

“aku sangat gugup, entahlahTiff, apa yang harus aku lakukan?”aku mengarahkan kedua tanganku padanya,“lihatlah, tanganku berkeringat.”

Dia mengeluarkan serbet berwarna pastel pink lalu mengusapkannya ke telapak tanganku,

“kau seharusnya memakai kaos tangan,” berlahan dia memakaikan kaos tangan sesiku itu ke tanganku.

“jangan gugup, yakinkan hatimu, dia sudah menunggumu di atlar, dan saat kita sampai di sana paman akan menyerahkanmu padanya. Ok? Kau siap? Sudah waktunya kita pergi.”

Aku mengangguk,

Paman Jay datang dari arah timur, dia adalah wali untukku, menggantikan ayahku yang kini sudah tiada. Perajalanan dari Paris menuju China bukanlah waktu yang sebentar, demi menggantikan posisi ayahku dia datang lebih awal dari Paris, meskipun dia sangat sibuk namun dia tetap menyempatkan diri untuk menjadi wali untukku, melihat satu-satunya keponakan perempuannya yang beberapa menit lagi akan resmi menikah, aku tahu dia akan sangat bangga padaku.

 

 

Ini adalah langkah pertamaku di tempat suci yang akan menjadi saksi pernikahan sacral. Bisa kulihat semua hadirin yang datang menyambutku dengan senyuman,

Dan aku bisa melihat Kris, pria berpostur tubuh jangkung,  berambut pirang menggunakan kemeja putih dengan tuxedo putih rancangan Andre Kim, dasi hitam yang tertera rapih di dadanya dan celana bahan putihya yang sedikit longgar membuatnya terlihat elegan, wajahnya memancarkan senyuman, berbinar dan bercahaya.

“ini adalah langkah awalmu ahra, dunia barumu. Kau akan memulainya.”

“kau akan menemukan sesosok pria yang akan membahagiakanmu, mengajarimu, menjagamu, menuntunmu menuju surga dan menemanimu hinggal ajal yang memisahkan kalian,”

“kalian akan melengkapi satu sama lain, kalian akan menjadi jiwa yang satu, menjadi jiwa yang tidak akan pernah terpisahkan, terceraikan, kalian akan berjanji satu sama lain di temapt suci ini, berjanji dan bersaksi kepada tuhan.”

“yakinlah pada tuhan, yakinlah pada kitab sucinya, yakinlah pada pendirianmu, berdoalah, tuhan akan selalu memberkatimu”

“sekali lagi, tuhan akan selalu memberkatimu, ingatlah itu Lee Ahra ”

“Paman…” aku menatapnya, dia tidak berhenti memberikanku kata─kata kiasan, sambil tersenyum dia menghantarkanku hingga aku sudah sampai di depan altar.

Paman Jay melepaskan genggaman tangannya, memberikan tanganku pada Kris yang sekarang ada di depanku.

“aku, wali dari Lee Ahra sepenuhnya memeberikan kepercayaan padamu, atas nama tuhan dan kitab sucinya.”

Kris mengangguk tanda mengerti lalu mengambil alih tanganku. Dia menuntunku naik ke atas altar.

“kau siap?”bisik Kris pelan, dan aku hanya mengangguk.

“saudara Wufan Kris. Apakah saudara bersedia menerima Lee Ahra sebagai istri dengan tulus dan ikhlas?” tanya sang pastor pada Kris yang sekarang ada di depan mimbar.

“Ya. Saya bersedia” jawab Kris yakin,

“Bersediakah Saudara mengasihi, menghormati dan selalu setia kepada istri saudara seumur hidup sampai ajal yang memisahkan?”

“Ya, saya bersedia”

“Bersediakah saudara menjadi ayah yang baik untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka dalam iman kepada Tuhan?”

“Ya, saya bersedia”

Sang pastor mengalihkan pandangannya padaku,

“Saudari Lee Ahra. Apakah saudari bersedia menerima Wufan Kris sebagai suami dengan tulus dan ikhlas?” tanya sang pastor padaku.

Aku memandang pastor itu, “Ya. Saya bersedia”

“Bersediakah Saudara mengasihi, menghormati dan selalu setia kepada suami saudari seumur hidup sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia”

“Bersediakah saudara menjadi ibu yang baik atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka dalam iman kepada Tuhan?”

“…..ya, saya bersedia”

Berlahan paman Jay berjalan kearahku lalu berbisik, “kami sangat menyayangimu, ahra” ujarnya sambil tersenyum dan seraya meninggalkanku berlahan. Tugasnya untuk menggantikan ayahku sudah selasai, dia berjalan menuju bangku pertama, duduk di sana bersama bibi Alice..

“Di hadapan Tuhan, dan para saksi, serta umat beriman yang hadir di sini. Saya Wufan Kris dengan tulus memilih Lee Ahra sebagai istri saya, pendamping hidup saya, Saya berjanji untuk setia kepada istri saya dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, di waktu sehat maupun sakit dan saya akan selalu mencintanya hingga ajal yang memisahkan, Demikian janji saya di hadapan Tuhan.”

Aku menatapnya, dia begitu serius dan menggetarkan hatiku, pelafalannya yang lancar dan keseriusannya melafalkan janji sehidup semati yang membuatku tak bisa menahan air mataku. Sekarang aku sangat yakin, kalau dia benar-benar mencitaiku.

 

“Di hadapan Tuhan, dan para saksi, Saya Lee Ahra tulus memilih Wufan Kris sebagai suami saya, Saya berjanji untuk setia kepada suami saya dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, di waktu sehat maupun sakit dan saya akan selalu mencintanya hingga ajal yang memisahkan……Demikian janji saya di hadapan Tuhan.”

“demikian janji antara sudara Wufan Kris dan Sudari Lee Ahra, semoga cinta mereka tidak pernah terpisahkan dan terceraikan, hanya ajal yang memisahkan dan Tuhan akan selalu memeberkati cinta mereka.”

Kris membuka kotak yang berisikan dua cincin yang berbinar, dengan warna merah dari darahku dan darahnya yang disatukan lalu dicampurkan dengan bahan mentah white-gold dan dibentuklah 2 cincin dengan Kristal biru di tengahnya yang meninggalkan kesan indah,

Berlahan kris memasangkan cincin itu di jariku, aku tak kuasa melihat wajahnya, setelah kami memasangkan cincin ini satu sama lain dan pada akhirnya kami resmi menjadi sepasang suami─istri yang sah menurut agama maupun Negara.

Dan sekarang aku melakukan hal yang sama, aku memasangkan cincin itu di jari kris, dengan sedikit bergetar aku memasangkan cincin itu secara berlahan hingga akhirnya cincin itu tertera di ujung jarinya.

“tuhan memberkati cincin kalian, tuhan akan menyatukan kalian, cincin akan menjadi lambang kesetiaan dan keabadian cinta kalian yang tidak akan terceraikan, tuhan memberkati,” ucap pastor itu untuk terakhir kalinya.

Kris mendekatkan wajahnya padaku, “biarkan aku menciummu,”

Aku hanya diam dan menerima ciuman pertamanya, ciuman yang disaksikan oleh ratusan hadirin yang menghadiri pernikahan kami di tempat suci ini.

Semua hadirin bertepuk tangan setelah kami selesai berciuman. Aku bisa melihat tangisan bahagia tiffany serta paman Jay yang datang dengan bibi Alice-pun menangis bahagia.

Bukan hanya aku yang  merasakan kebahagiaan hari ini, tentu saja ayah dan ibuku yang kini sedang beristiahat di surga-pun ikut berbagaia melihat putri satu-satunya menikah, dan keinginan ayahku untuk menikahkan aku dengan pria pilihannya akhirnya telah aku penuhi.

Ayah, lihatlah. Apa kau bangga pada anak gadismu? Aku sudah menikah, dengan pria pilihanmu, ayah.

 

 

 

Malamnya aku sedikit tercengang saat melihat layar ponselku. Dahiku berkerut,  chanyeol calling-   itulah yang aku lihat sekarang di layar ponselku.

“ahra, kau tidak menjawabnya? Telfon dari siapa?” Tanya Kris sembari membuka kemejanya dan menggantinya dengan piyama.

“oh, ya tiffany, dia menelfonku, dia pasti menghawatirkanku,” jawabku berbohong,

Aku berlari menuju beranda kamar hotel dimana aku tinggal untuk beberapa hari bersama kris, berlahan aku menekan tombol ganggang telfon hijau di layar ponselku lalu mengarahkannya ke telingaku,

“hallo,”

“apa kau bahagia sekarang?” suaranya sedikit bergetar dan pelan,

“chanyeol…” ucapku lirih,

“entahlah ahra, aku tidak tahu harus bahagia atau tidak, hari demi hari aku habiskan untuk bekerja dan berfikir, berfikir bagaimana caranya untuk tidak menyakitimu, berfikir supaya akulah yang menjadi pendampingmu, berfikir agar aku bisa membahagiakanmu..”

“chanyeol, sudah cukup!”

“ hingga kini aku berfikir dan mengoreksi diriku sendiri, apakah aku menyakitimu?  Apa aku pernah menggoreskan luka dihatimu? Apakah aku pernah membuatmu terluka? Aku hampir gila memikirkannya, memikirkanmu, dan lagi saat tau kau sudah menikah dengan Kris, aku gila ahra, aku mencintaimu, aku gila..”

Demi Tuhan aku tidak bisa menahan air mataku, aku tidak sanggup lagi,

“sudahlah, aku sibuk…jangan berfikir tentangku lagi chanyeol mulailah duniamu yang baru,”

“kalau begitu beri tahu aku bagaimana cara mengeluarkanmu dari fikiranku, otakku dan hatiku, beritahu aku bagaimana cara untuk perpaling darimu, beritahu aku untuk bisa melupakanmu, BERI TAHU AKU BAGAIMANA CARANYA SEKARANG!”

“PARK CHANYEOL SUDAH CUKUP!” bentakku

Aku menangis pada akhirnya. Mengapa di situasi seperti ini dia masih sempat menghubungiku? Jelas aku sudah mencampakkannya dan lebih memilih Kris, sebegitu besarkah cintanya padaku? Dia benar-benar mencintaiku?

“cepat, katakan padaku! Kau tidak sedikitpun mencintai kris kan? Kau hanya berpura pura, demi orang tuamu, begitu? Cepat katakan! Kau berbohong kan? Kau mencintaiku kan? Kau tetap memegang teguh janji kita? Untuk hidup bersama di masa depan??”

“AKU MENCINTAI KRIS!” aku sedikit meninggikan volume suaraku,

“aku mencintainya! Dan kita,3 tahun yang lalu, lupakanlah! Aku sedikitpun tidak menyukaimu!”

‘maafkan aku chanyeol,’ batinku sembari memutuskan sambungannya.

Aku berdiri di pojok beranda, menundukan kepalaku, menangis, entah manusia macam apa aku ini, 2 kali aku mencampakannya, Yang pertama saat aku bertemu dengannya setelah aku berpacaran dengan Kris padahal statusku masih menjadi kekasihnya, namun saat itu Kris meninggalkanku karena takut jika cintaku padanya dipaksakan, dan pada akhirnya aku dan Chanyeol bersatu kembali, namun hanya bertahan 1 tahun setelah aku tahu bahwa orang tua Kris, yeah wufan sangat menyukaiku, menginginkanku menjadi pendamping hidup Kris di masa depan dan ayah kris, dilarikan ke rumah sakit setelah aku mengatakan ‘maaf paman,itu hanya permintaan terakhir dan hanya permintaanmu? Apa aku harus menikahi Wufan?’  Merasa bersalah, orang tua Kris adalah teman dekat ayahku, dan perihal rencana mereka untuk menjodohkanku, dan ayahku sangat menyukai Kris. Dan aku tidak punya pilihan, aku harus mengikuti kata hatiku, Aku lebih memilih ayah ketimbang perasaanku sendiri.

Namun setelah aku pindah ke China, melanjutkan studiku di sana, aku merasakan hal yang berbeda dari Kris, tersirat dibenakku, tiffany pernah mengatakan bahwa cinta akan datang jika terbiasa, dan setelah aku pindah ke China, aku mulai terbiasa dengannya, meskipun aku tahu dia sangat sibuk dengan karirnya namun dia selalu mengirimkanku pesan singkat, bertanya keadaanku, aku sedang melakukan apa, sudah makan atau belum, dan itu membuatku menyadari bahwa, aku harus bisa membuka hatiku untuknya dan jangan sia-siakan orang yang menanyayangiku.

Tapi, Chanyeol. Aku juga tidak bisa melupakannya, kenangan 3 tahun yang tidak akan pernah terlupakan olehku, 3 tahun yang aku ukir dan butuh perjuangan ekstra. 3 tahun bersamanya dengan senyumannya, jokesnya dan semua hal menyenangkan tentangnya, aku tidak bisa melupakannya.

Semua ini membuatku bingung, gelisah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku hampir gila.

 

“ahra, kau menangis?” kris membuka pintu beranda dan bergegas menghampiriku,

“baby….. please, don’t cry…” dia menghapus air mataku berlahan. Matanya yang berbinar binar itu menatapku, “ceritakan padaku, apa yang terjadi,”

Tanpa menjawab pertanyaannya aku menghempaskan poni rambutku kebelakang dan menciumnya berlahan, mengalungkan tanganku di lehernya, dan kini tidak ada jarak diantara kami.

“ada apa dengamu, ahra? Kau tidak seperti biasanya,” sergahnya cepat sembari melepaskan ciumanku,

Aku menatapnya dengan tatapan puppy eyes, tatapan memohon padanya, “nghh,”

Dengan matanya yang berbinar, kris metapku dan memulai berani meletakkan bibirnya di atas bibirku dan membuatku terpejam sesaat karena perlakuannya yang lembut tapi nikmat. Aku mulai membalas ciumannya, ciuman pertamaku dengannya. dan kami melakukannya di malam hari, di atas sinar rembulan yang terang dan seakan-akan menyoroti kami yang sedang asyik berciuman. Untuk pertama kalinya juga aku bisa merasakan detak jantungnya yang kian memacu, nafasnya yang berisik dan bibirnya yang lembut membuatku nyaman melakukannya. Entah apa yang aku rasakan sekarang, aku hanya menikmati semua pelakuannya yang dia berikan padaku di malam ini. malam pertama setelah pernikahanku dengannya.

 

 

Aku bangun lebih early darinya, sebagai istri yang baik aku akan berusaha untuk bangun lebih awal darinya dan membuatkannya beberapa sarapan pagi. Untuk hari ini aku membuat sarapan ala inggris, secangkir the hangat aroma vanilla dan beberapa lembar pancake yang disiram saus madu.

Berlahan aku masuk ke kamar, melihat sosok pria yang tengah tertidur pulas.             Aku menghampirinya berlahan, berusaha untuk tidak bersuara lalu  mendekatkan wajahku ke wajahnya, memegang setiap inci lekuk wajahnya mulai dari dahi, alis, mata, bulu mata, hidung hingga akhirnya aku menyentuh bibirnya yang kemarin hapir membuatku mendesah hebat. Bibirnya yang merah itu ku kecup sekilas hingga akhirnya matanya berlahan mulai terbuka,

“good morning,” sapaku ramah lalu mencium bibirnya lagi sekilas.

“good morning ahra, you look really beautiful everyday,” ucapnya sembari bangun dari ranjang.

“hmm, aroma saus madu dan pancake, kau membuatnya?”

Aku hanya menangguk lalu menuntunnya hingga meja makan, aku bisa melihat wajahnya yang berseri setelah melihat hidangan yang sudah tersedia di meja. Aku sangat tahu bahwa Kris senang sekali memakan pancake hangat di pagi hari.

“thanks honey,” ucapnya lembut sembari memotong pancake menjadi beberapa bagian,

“kau ingi bacon?” tanyaku,

“hm, boleh, ambilkan aku beberapa, sayang” ujarnya seraya tersenyum.

Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju dapur, mengambil beberapa bacon lalu menaruhnya di piring yang ukurannya tidak terlalu besar.

“ta-dah!” aku meletakkan bacon itu dihadapannya, mengecup pipinya sekilas lalu duduk kembali di kursiku semula.

“thank you honey,” dia memberikanku kecupan dari jauh, aku hanya bisa tertawa dengan sikapnya yang konyol, dia tidak seperti yang aku bayangkan, bahkan dia adalah pria tipikal romantis dan aku baru mengetahuinya sekarang.

 

“ahra, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” dia menaruh garpu dan pisaunya di selebelah piring lalu mempercepat mengunyah pancakenya yang masih ada di mulutnya.

 

“hm…….apa kau…. masih mencintai chanyeol?” tambahnya dan membuatku sedikit tercengang,

“kris….”

 

-TBC-

 

Lanjut gak nih??? Hehe^^

33 pemikiran pada “Dear My Lover (chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s