You’re Mine (Chapter 1)

Tittle: You’re Mine

Sub Tittle: Oh Sehun’s Noona

 

Author: Park Ha Rin  (@rialohasarap) (bukan dongsaeng-nya Park Chanyeol.__.)

 

Genre: Family, Romance, Friendship

 

Cast:

– Xi Luhan (Luhan EXO M)

– Oh Min Ra (OC)

– Oh Sehun (Sehun EXO M)

– and others~ (find it yourself, chingu, kekeke~)

 

Length: Serial

 

Author’s note:

Ini FF-EXO pertama saya (sebenernya FF-KPOP pertama juga sih.-.v) jadi mianhae kalo kurang sreg di hati (?)

Oh iya, di sini ceritanya EXO itu satu kesatuan (ya emang gitu kali, Ri!), mereka sama-sama debut di Korea, jadi nggak ada di China._.v

Abis baca jangan lupa komen yaa :—) yang komen tar saya kasih upilnya Kris (??)

Enjoy read, chingudeul~

 

###

 

Look after my heart – I’ve left it with you. —Stephenie Mayer, Eclips

 

***

 

“Oh Sehun! Habiskan sarapanmu atau kau harus membawa bekal ke sekolah!?” Seorang yeoja berkacak pinggang dan menatap galak pada Sehun, dongsaeng-nya. (Mian sebelumnya, saya nggak tau Sehun punya Noona apa enggak._.v yah, namanya juga Fiction, gak harus mirip kenyataan kan~)

 

“Tapi, Noona, aku malas,” sahut Sehun santai sambil memakai sepatunya.

“Kau harus sarapan, Sehun. Bukankah kau nanti ada latihan bersama EXO? Oh iya, sebentar lagi kalian debut, kan?”

 

“Ne…” Sehun melirik jam dinding, seketika matanya terbelalak lebar. “MWO? Sudah jam segini!? Mian, Noona, aku harus segera berangkat!” Secepat kilat Sehun menyambar ransel hitamnya, sebelum berlari meninggalkan rumah, namja itu menoleh kepada Noona-nya. “Noona, bagaimana kalau kau nanti mengantarkan makanan ke tempat latihanku?”

 

Yeoja itu mendengus kesal. “Ne…”

 

“Gamsahamnida, Noona! Aku berangkat!” Belum sempat Noona-nya itu meneruskan kalimatnya, Sehun sudah melesat meninggalkan rumah dengan sepedanya.

 

“Dasar! Adik merepotkan! Lihat apa yang akan kulakukan pada makananmu nanti!”

 

***

 

Gedung SMEnt, tempat latihan EXO…

 

“Hyung…” Sehun berlajan mendekati Luhan yang sedang melahap potongan terakhir donatnya.

 

Luhan mendongak, menatap Sehun, “Ne?”

 

“Aku lapar…” rengek Sehun manja.

 

Sejenak Luhan mengangkat sebelah alisnya. “Ah, mianhae, Sehun, seandainya aku punya donat lebih, pasti kuberikan padamu..”

 

Sehun tersenyum samar, “Gamsahamnida, Hyung..”

 

“Apa kau tidak sarapan tadi?” tanya Luhan.

 

Namja berambut cokelat itu menggeleng. “Ani.. Aku tadi terburu-buru ke sekolah, tidak sempat sarapan..”

 

“Aigoo… Baiklah, tunggu sebentar di sini, aku akan membelikanmu donat,” Luhan meraih ransel cokelatnya dan berdiri.

 

“Gamsahamnida, Hyung, maaf merepotkan..”

 

Luhan tersenyum, “Gwenchana..” Lalu namja itu berpamitan kepada teman-temannya yang lain.

 

Luhan berjalan menyusuri koridor dengan sekotak donat di tangan sambil melahap sepotong donat ketika melihat seorang yeoja asing sedang celingukan—seperti mencari sesuatu. Namja kurus itu segera menelan donatnya dan menghampiri yeoja itu.

 

“Annyeong, ada yang bisa kubantu?” tanya Luhan saat ia sudah berada di sisi yeoja itu.

 

***

 

“Annyeong, ada yang bisa kubantu?”

 

Min Ra sedikit terlonjak kaget saat mendengar sapaan itu. Kepalanya berputar ke arah sumber suara, nampak seorang namja kurus tersenyum padanya.

 

“Ah, ne.. Emm…” Entah kenapa Min Ra merasa kehilangan kata-kata. Terpesona, kah?

 

“Hm?” Namja itu mengangkat kedua alisnya. Senyumnya masih bertahan.

 

Sejenak, yeoja berambut panjang itu menarik napas, “Di mana tempat latihan EXO?” Min Ra merasa mata namja itu terbelalak lebar. Mungkin kaget.

 

“Siapa kau?” tanya namja itu, sedikit kecurigaan terdengar dari kata-katanya.

 

“Ah, mianhae. Oh Min Ra imnida, aku noona-nya Oh Sehun,” Min Ra membungkukkan badan sejenak, mencoba bersikap formal.

 

“Noona-nya… Sehun?”

 

Min Ra mengangguk. “Apa anak-anak EXO sudah selesai latihan? Aku ingin mengantarkan makanan ini untuk Sehun. Tadi pagi dia tidak sarapan, dan pasti ia sedang merengek kelaparan sekarang karena dia tidak pernah suka makanan di kantin sekolahnya, dan…” Sadar karena terlalu banyak bicara, Min Ra menutup mulutnya. “Mianhae…”

 

Tetapi namja itu justru tersenyum. “Kau benar. Sehun memang merengek kelaparan, karena itu aku membeli donat di depan sana. Ah iya, aku Xi Luhan, panggil saja Luhan. Sekarang, ayo ikut aku ke tempat latihan EXO.” Namja bernama Luhan itu berjalan mendahului Min Ra.

 

Min Ra sempat termangu beberapa saat. Luhan? Rasanya nama itu tidak asing baginya. Wajahnya juga, dia baru sadar kalau dia seperti pernah melihat namja itu sebelumnya.

 

“Noona? Apakah kau akan membiarkan adikmu kelaparan di tempat latihan?” tegur Luhan yang sudah beberapa langkah jauh di depannya. Min Ra segera tersadar dari lamunannya.

 

“Ah! Iya, kajja..”

 

***

 

“Annyeong! Aku kembali!”

 

Teriakan Luhan membuat semua yang berada di ruangan itu menoleh ke pintu. Tetapi yang paling bersemangat tentu saja Sehun.

 

“Ah! Hyung… Akhirnya kau kembali…” Luhan tersenyum mendengar sambutan dari Sehun.

 

“Luhan Hyung, siapa yang bersamamu itu?” tanya Kai, setelah melihat seorang yeoja di belakang Luhan.

 

“Oh iya, ini…”

 

“Noona! Kenapa kau di sini!?” seru Sehun, terkejut melihat noona-nya datang bersama Luhan.

 

Oh Min Ra akhirnya keluar dari balik punggung Luhan. “Annyeonghaseyo, Oh Min Ra imnida, aku noona-nya Oh Sehun,” Sama seperti sikapnya saat memperkenalkan diri pada Luhan tadi, Min Ra membungkukkan badan sejenak lalu tersenyum.

 

“Noona-nya Sehun? Waw, aku baru pertama kali ini melihatnya, kau cantik sekali, Noona,” komentar Kris, yang langsung mendapat senyuman dari Min Ra.

 

“Gamsahamnida, emm…”

 

“Kris. Namaku Wu Yi Fan, tapi kau bisa memanggilku Kris,” sahut Kris cepat sambil tersenyum.

 

“Gamsahamnida, Kris. Oh iya, apa aku mengganggu latihan kalian? Apa aku boleh membawa Sehun sebentar?” tanya Min Ra—entah pada siapa.

 

“Ani, Noona, kau tidak mengganggu, kebetulan kami sedang beristirahat. Silakan bawa dia, tidak kau kembalikan juga tidak apa-apa,” sahut Chen, diiringi tawa yang lain. Seketika saja Sehun melemparkan jitakan ke kepala Chen.

 

Min Ra tersenyum. “Ani, aku hanya akan sebentar, annyeong..” Min Ra menarik tangan Sehun, keluar dari ruangan.

 

“Noona… Kau penyelamatku!” seru Sehun girang saat Min Ra menyodorkan kotak makanan padanya.

 

“Kau yang memintaku ke sini tadi pagi. Aku membawakan dua porsi makanmu, kalau kau merasa kelebihan, bagilah pada teman-temanmu. Oh iya, sebaiknya kau harus meminta maaf kepada Luhan, kurasa kau merepotkannya. Aku buru-buru Sehun, sampaikan salamku pada teman-temanmu!” Min Ra beranjak dari tempatnya.

 

“Noona!” seru Sehun, membuat Min Ra berhenti dan menoleh.

 

“Ne?”

 

“Gamsahamnida,” Senyum Sehun terukir.

 

Min Ra ikut tersenyum. “Cheonma. Cepatlah makan sebelum kau pingsan!”

 

***

 

“Sehun, kapan noona-mu ke sini lagi, hah?” tanya Kris sambil menyerahkan handuk kecil kepada Sehun.

 

“Aku tidak tahu, Hyung. Memangnya kenapa?” jawab Sehun sambil menerima handuk dari Kris.

 

“Ani, aku hanya bertanya. Masakannya sangat enak! Dia seorang koki?”

 

Sehun mengangguk. “Ne.. Dia punya restoran di sekitar Myeongdong.”

 

“Aih! Kalau begitu kita harus ke sana beramai-ramai! Aku ketagihan masakannya!” Tiba-tiba saja Tao ramai, disusul kata-kata persetujuan dari yang lainnya.

 

Well, saat Min Ra mengantarkan makanan untuk Sehun hari itu, karena Sehun merasa porsinya terlalu banyak untuknya sendiri, akhirnya ia membagi-bagikan pada teman-temannya—dan tentu saja disambut dengan senang oleh mereka. Apalagi Luhan dan Kris. Dua namja itu paling sering berebut daripada yang lain. Mereka berebut lauk, sayur, bahkan nasi. Yang lain hanya geleng-geleng saja melihat tingkah mereka.

 

“Sehun, sebenarnya berapa usia noona-mu?” tanya Luhan. Saat ini mereka berjalan di koridor, menuju luar gedung, karena mereka telah selesai latihan.

 

“Dua puluh empat. Kenapa, Hyung?”

 

Luhan menggeleng. “Ani.. Aku hanya bertanya.”

 

Sehun mengangkat kedua alisnya. “Tingkahmu sama seperti Kris Hyung.”

 

“Mwo? Apanya yang sama?”

 

“Kalian sama-sama bertanya tentang noona-ku, dan ketika kujawab dan bertanya kenapa, kalian bilang hanya bertanya,” jelas Sehun.

 

“Ah, hanya perasaanmu saja, anak kecil.”

 

Sehun mencibir. “Luhan hyung,”

 

Luhan—yang baru saja sibuk dengan ponselnya—menoleh, “Ne?”

 

“Kau menyukai Min Ra noona?”

 

***

 

“Kau menyukai Min Ra noona?”

 

Luhan sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Sehun. “A…apa maksudmu?”

 

“Aku melihat dari matamu saat kau dan Noona datang bersama waktu itu. Aku melihat dari matamu saat kau bertanya-tanya tentang Noona. Aku merasa kau menyukainya.”

 

Luhan bingung harus menjawab apa. Saat ia hendak membuka mulut untuk berkata “Tidak”, ada sebuah perasaan yang seolah-olah melarangnya. Lalu, apakah ia menyukai noona-nya Sehun itu?

 

“Hyung? Kau baik-baik saja? Kenapa kau diam saja?” tanya Sehun, membuat Luhan menatapnya. “Apa pertanyaanku mengusikmu?”

 

Luhan tersenyum samar, lalu menggeleng. “Ani.. Oh iya! Astaga, aku baru ingat harus memberitahumu. Besok lusa kita pindah ke dorm, karena waktu untuk debut sudah hampir tiba!”

 

***

 

“Oh Sehun, apakah teman-temanmu ada yang bisa memasak?” tanya Min Ra sambil membantu Sehun beberes. Hari ini Sehun akan pindah ke dorm. Ia akan dijemput oleh salah satu temannya—Min Ra tidak tahu yang mana, EXO terlalu banyak!—dan satu asisten.

 

Sehun tampak berpikir. “Emm… Ada. Kyungsoo Hyung. Memangnya kenapa, Noona?”

 

Min Ra mengusap peluh yang menetes di dahinya. “Aku khawatir saja. Kalian berdua belas dan seluruhnya namja. Kalau tidak ada yang memasak, mau makan apa?”

 

“Tenang saja, Noona. Kyungsoo Hyung pandai memasak. Aku akan makan teratur, jika itu yang kau khawatirkan,” ucap Sehun sambil tersenyum. Min Ra ikut tersenyum.

 

“Anak baik. Jangan sampai eomma dan appa menyesal merelakanmu tidak ikut pindah ke Sidney demi cita-citamu ini. Kau harus menjadi penyanyi yang sukses, Oh Sehun!”

 

“Siap, Noona!” Mereka tertawa bersama. Saat pekerjaan mereka hampir selesai, bel pintu berbunyi.

 

“Lanjutkan beberesmu, biar aku yang membuka pintu,” Min Ra beranjak dari kamar Sehun, berjalan ke pintu depan.

 

“Annyeonghaseyo, selamat siang, Noona…”

 

Min Ra sedikit terkejut mendapati siapa tamunya. Namja itu tersenyum manis di depan pintu. Lagi-lagi, Min Ra serasa dihipnotis oleh pesonanya, sebelum akhirnya sadar dan mempersilakan tamunya masuk.

 

“Mianhae, Luhan, sepertinya kau harus menunggu cukup lama. Sehun masih mandi sekarang,” ucap Min Ra setelah meletakkan secangkir teh hijau di meja di hadapan Luhan.

 

“Gwenchana, Noona, aku juga ingin lebih berlama-lama di sini,” Luhan menyesap teh hijau itu. “Gamsahamnida, tehnya enak.”

 

Min Ra hanya tersenyum. “Kau…hanya sendirian ke sini?”

 

Luhan menggeleng. “Ani.. Ada orang yang akan membantuku membawa barang-barang Sehun ke dorm nantinya. Tapi sekarang dia masih di mobil, aku baru akan memanggilnya jika semuanya sudah siap.”

 

“Ah, mianhae, Luhan, Sehun sepertinya merepotkanmu.”

 

“Gwenchana, Noona..” Luhan tersenyum. “Sehun bilang, Noona seorang koki? Benarkah?”

 

Min Ra mengangguk. “Ne…”

 

“Dan punya restoran di dekat Myeongdong?” lanjut Luhan.

 

Lagi-lagi Min Ra mengangguk, lalu ia mengangkat alisnya, “Apa saja yang sudah Sehun ceritakan padamu tentangku?”

 

Luhan tersenyum, “Tidak banyak… Hanya garis besar tentangmu saja.”

 

“Aku kira dia sudah cerita macam-macam pada teman-temannya, Sehun itu tipe orang yang suka keceplosan, membocorkan rahasia orang lain tanpa sengaja…”

 

“Luhan Hyung? Kapan kau datang? Kenapa Noona tidak memberitahuku kalau Luhan Hyung sudah datang?” Tiba-tiba Sehun datang dengan handuk dikalungkan di leher. Baru selesai mandi.

 

“Kau tadi sedang mandi, kupanggil beberapa kali kau tidak menjawab,” sahut Min Ra.

 

“Aish, aku jadi tidak enak pada Luhan Hyung, Noona… Dia sudah lama menungguku, bukan?” bantah Sehun.

 

Min Ra mengangkat kedua alisnya. “Omong kosong kau, Oh Sehun. Kau selalu membuat orang lain menunggu seolah-olah mereka memang harus menunggu.”

 

Sehun hanya menyeringai. “Mianhae, Noona. Baiklah, aku akan bersiap-siap, tolong temani Luhan Hyung mengobrol dulu,” ucapnya sambil berjalan masuk kamarnya.

 

***

 

“Oh Sehun, berjanjilah padaku kau tak akan merepotkan para hyung-mu di sana,” ucap Min Ra setelah melepaskan pelukannya pada Sehun.

 

“Ne, aku berjanji, Noona,” sahut Sehun sungguh-sungguh.

 

Min Ra menatap Luhan dan berkata, “Luhan-ssi, aku percayakan Sehun padamu, kalau dia berulah, kau langsung saja hubungi aku, ya?”

 

Luhan tersenyum dan mengangguk. “Ne,” jawabnya mantab. “Tapi, bagaimana aku bisa menghubungimu nanti, Noona? Aku tidak punya nomor ponselmu,” lanjutnya.

 

“Oh, iya!” Min Ra menepuk dahinya. “Mianhae, boleh kupinjam ponselmu?”

 

Luhan menyerahkan ponselnya dan dengan cepat Min Ra jari-jari lentik Min Ra menari-nari di atas layar ponsel Luhan.

 

“Ini nomorku. Mianhae, Luhan,” Min Ra mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.

 

“Nado, Noona..”

 

“Baiklah!” Tiba-tiba Sehun berseru. “Sebaiknya kita segera berangkat sekarang, Hyung. Aku sudah tidak sabar ingin melihat dorm kita.”

 

“Aish, baiklah… Noona, kami berangkat dulu, annyeong…” Luhan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil, disusul Sehun—tentu saja dia setelah dia berpamitan kepada Noona-nya.

 

Min Ra menarik napas panjang setelah mobil itu menjauh. Semakin sepi rumah ini, gumamnya dalam hati.

 

***

 

“Annyeong!” seru Sehun begitu ia menginjakkan kaki di dorm EXO. Namja itu tersenyum sangat sumringah.

 

“Oh Sehun! Kau mengagetkanku!” gerutu Lay, leher dan kerah bajunya basah karena minumannya tumpah saat mendengar teriakan Sehun.

 

Sehun menyeringai. “Mianhae, Hyung.” Matanya mengawasi sekeliling. “Jadi, ini dorm kita? Ternyata tak seluas yang kubayangkan.”

 

“Yah, memang. Tapi beginilah keadaannya,” timpal Suho, sang leader. “Oh iya, berhubung semua sudah datang, mari kita berkumpul untuk mengatur pembagian kamar.”

 

Dua puluh menit setelahnya, para member sudah masuk kamar masing-masing. Dorm tersebut berisi enam kamar tidur, tiga kamar mandi, dapur, ruang makan dan ruang tengah yang jadi satu dan ruang tamu. Satu kamar berisi dua orang. Pembagian kamar tadi dilakukan dengan undian, tidak ada yang boleh mengganggu gugat keputusan akhir. Berikut daftar nama roomate EXO‘s dorm:

Suho – Kris

D.O – Lay

Baekhyun – Tao

Chanyeol – Xiu Min

Kai – Chen

Sehun – Luhan

 

“Kalau kalian sudah selesai membereskan barang, kita berkumpul lagi untuk membahas peraturan-peraturan di sini!” teriak Suho dari ruang tengah, disahut dengan jawaban “Ne” yang kompak.

 

Ruang tengah dan ruang makan itu berada di antara kamar-kamar. Enam kamar itu berhadap-hadapan—tiga di kanan dan tiga di kiri—dan dipisahkan dengan ruang tengah dan ruang makan tadi. Sedangkan dapur dan ruang tengah itu dipisahkan dengan mini pantry. Dan ruang tamu-ruang makan dipisahkan dengan tirai berwarna hijau. Kamar mandi? Ketiga-tiganya berada di sebelah dapur.

 

Saat Luhan dan Sehun akan keluar kamar, tiba-tiba ponsel Luhan berdering. Saat mengetahui siapa yang meneleponnya, sebuah senyuman terukir di wajah imut Luhan.

 

“Hyung? Kenapa kau tersenyum?” tanya Sehun, penasaran, kepo.

 

“Ah?” Luhan menoleh kepada Sehun, sedikit salah tingkah. “Ani.. Oh iya, Sehun, kau duluan saja, aku harus menjawab telepon dulu.”

 

Meskipun masih penasaran, Sehun akhirnya mengangguk dan keluar kamar.

 

“Yeoboseyo, Noona?”

 

***

 

“Yeoboseyo, Noona?”

 

Min Ra menarik napas lega saat mendengar jawaban di seberang sana. “Maaf kalau aku mengganggu, Luhan-ssi, tapi apakah kalian sudah sampai di dorm?”

 

“Sudah, Noona. Kami sudah sampai sejak satu jam yang lalu.”

 

“Ah, Sehun memang bandel, aku sudah menyuruhnya untuk memberi kabar kalau sudah sampai, tapi sampai sekarang dia tidak memberiku kabar, aku telepon tapi tidak diangkat. Di mana dia sekarang, Luhan-ssi?”

 

“Sepertinya dia terlalu senang, Noona, sampai melupakan ponselnya. Sehun sekarang sedang berkumpul dengan yang lainnya, kami akan membahas peraturan-peraturan di sini.”

 

“Aigo… Aku sangat mengganggu, ya? Mianhae, Luhan-ssi..”

 

“Gwenchana, Noona, aku bisa menyusul mereka nanti. Apa ada pesan untuk Sehun?”

 

“Gomawo, Luhan-ssi. Ne, tolong katakan padanya untuk segera menghubungiku. Sekali lagi, mianhae kalau aku mengganggu, gomawo..”

 

Klik. Min Ra menutup flip ponselnya dan menghela napas. Lalu tiba-tiba ia tersenyum. Mendengar suara lembut Luhan, entah kenapa ia merasa damai.

 

***

 

“Mianhae, aku terlambat, aku harus menjawab telepon dulu,” Luhan duduk di sebelah Baekhyun.

 

“Tidak apa-apa, Hyung,” sahut Suho. “Ah, apa Hyung punya saran untuk peraturan di sini?”

 

Luhan mengambil kertas di meja, membacanya, dan kedua alisnya terpaut. Ia sedang berpikir. “Hmm… Bagaimana kalau siapa pun yang pulang terlambat, harus memberi kabar dulu? Supaya kita tidak berpikir macam-macam dan yakin kalau dia baik-baik saja?”

 

“Ide bagus!” sahut Chanyeol.

 

“Ah, eomma-ku selalu menyuruhku begitu..” gerutu Tao.

 

Luhan tersenyum. “Baguslah, Tao. Berarti kau sudah terbiasa dan ini bukan masalah bagimu.”

 

Tao nyengir.

 

Setelah tiga puluh menit berdiskusi, akhirnya jadilah Undang-Undang EXO’S Dorm. Karena belum ada bingkai, akhirnya kertas berisi tulisan tangan Suho itu ditempelkan secara asal di dinding di atas televisi.

 

“Oh iya, Sehun, tadi Noona-mu berpesan padaku, kau harus meneleponnya sekarang,” kata Luhan pada Sehun yang baru saja hendak menyalakan televisi.

 

“Noona? Jadi yang menelepon Hyung tadi Noona?” tanya Sehun.

 

“Apa? Min Ra Noona meneleponmu, Luhan?” tanya Kris tiba-tiba.

 

Luhan mengangguk kepada Kris, lalu kembali menoleh pada Sehun. “Cepatlah, dia sangat mengkhawatirkanmu.”

 

Sehun mencibir. “Dia Noona paling tega di seluruh dunia, mana mungkin mengkhawatirkanku.”

 

“Kalau dia tidak mengkhawatirkanmu, dia tidak akan meneleponku tadi,” balas Luhan.

 

“Ah! Sebaiknya memang aku segera menelepon Noona, sebelum Hyung semakin cerewet seperti Noona,” Sehun bergegas lari ke kamar, sebelum mendapat lemparan apa-saja-yang-ada-di-meja dari Luhan.

 

Kris menghampiri Luhan, “Luhan, apa kau punya nomor ponsel Min Ra Noona?”

 

Luhan menoleh dan mengangguk. “Ne.”

 

“Bolehkah aku mendapatkannya? Jebal…” Kris menunjukkan puppy eyes-nya.

 

Luhan menahan tawa, lalu menggeleng. “Ya! Aku mendapatkannya dengan penuh perjuangan, Kris. Mana mungkin kubagi begitu saja denganmu? Cobalah dengan usahamu sendiri..”

 

Kris mengangkat kedua alisnya, “Penuh perjuangan? Benarkah? Apa saja yang kaulakukan agar mendapat nomor ponselnya?”

 

“Aku tidak akan memberitahumu, nanti kau menirunya. Berpikirlah sendiri, Kevin Li,” jawab Luhan—masih dengan menahan tertawa.

 

Wajah Kris ditekuk. Ia berpikir Luhan serius, padahal sebenarnya Luhan tidak melakukan apa-apa, Min Ra sendiri yang memberikan nomor ponselnya secara cuma-cuma pada Luhan.

 

***

 

Ting tong….

 

Bel pintu dorm EXO berbunyi. Chen, yang sedang membaca buku di ruang tamu, beranjak membukakan pintu. Ketika ia membuka pintu, senyuman manis dari seorang yeoja menyambutnya.

 

“Annyeong, Chen-ssi..” sapa yeoja itu.

 

Chen, yang merasa terhipnotis sejenak, langsung sadar dan tersenyum. “Annyeong, Noona. Mencari Sehun? Dia sedang menonton televisi.”

 

Oh Min Ra mengangguk. “Aku sebenarnya ingin bertemu dengannya, tapi aku harus segera pergi. Bisakah aku minta tolong padamu, Chen-ssi?”

 

Chen mengangguk. “Tentu saja, Noona. Apa yang bisa kubantu?”

 

Min Ra mengulurkan dua kantong besar berisi kotak-kotak makanan. Chen langsung menerimanya. “Aku membawakan makan siang untuk kalian. Kata Sehun, Kyungsoo yang biasanya memasak belum kembali dan kalian semua belum makan.”

 

“Ah, kau baik sekali, Noona. Mianhae..” Chen membungkukkan badan sejenak.

 

“Nado,” Min Ra tersenyum. “Tolong sampaikan juga salamku pada Sehun, aku harap dia tidak merepotkan kalian semua..”

 

Saat Chen hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara lain ikut bergabung, “Min Ra Noona!?”

 

Min Ra dan Chen menoleh bersamaan. Mereka mendapati seorang namja berkaos abu-abu dan berambut cokelat menatap Min Ra dengan penuh sinar kebahagiaan. Min Ra tersenyum kepada namja itu.

 

“Annyeong, Kris-ssi..”

 

“Kenapa Noona di sini? Sudah lama?” tanya Kris, senyumnya masih merekah.

 

“Ani, aku belum lama, hanya ingin mengantarkan makanan pada kalian,” Min Ra menatap jam tangannya. “Mianhae, Kris-ssi, Chen-ssi, aku harus segera pergi. Gomawo atas bantuan kalian. Annyeong..” Min Ra membungkukkan badan sejenak, tersenyum, lalu bergegas pergi.

 

Kris, yang matanya masih mengikuti sosok Min Ra yang semakin jauh, diinjak kakinya oleh Chen. “Aww!! Chen! Apa yang kaulakukan hah!?”

 

“Mianhae, Hyung, tapi tolong bantu aku membawa ini, berat sekali,” Chen menyerahkan satu kantong plastik itu pada Kris.

 

“Ah! Masakan Min Ra Noona!” Ekspresi Kris langsung berubah seratus delapan puluh derajat, membuat Chen mencibir dalam hati.

 

“Aku seperti mendengar suara Min Ra Noona tadi,”

 

Chen dan Kris menoleh ke sumber suara. Luhan tampak di sana sambil celingukan.

 

“Ya! Kau kurang beruntung, Luhan! Min Ra Noona baru saja pergi,” Kris tersenyum penuh kemenangan.

 

Luhan mencibir.

 

“Sudah, Hyung. Sebaiknya kita membagikan ini, aku sudah lapar!”

 

###

 

*lap keringat Luhan* #lah?

Mianhae kalo bener-bener mengecewakan >< Saya kurang ahli bikin ginian 😥

Komentar ditunggu, chingu 🙂

Gomawo ^^

22 pemikiran pada “You’re Mine (Chapter 1)

  1. sehun emang anak bungsu kok..
    tapi ga beda jauh usia.a…
    seumuran suho kalo ga salah…tapi cowo juga…kalo ga salah itu juga..
    lupa soal.a hehehehe
    :):):)
    exo member suka noona noona yaah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s