Don’t go.. Jebal!

Author : LestarIsty

Title : Don’t go.. Jebal!

Genre : Romance

Main cast : Zhang Yi Xing ( Lay )-EXO-M, Kim Jong In ( Kai )-EXO-K, Cho MinJi (OC)

Rating : T

Length : Ficlet (2000 words)

Annyeong~

FF lainnya yang author buat. Mencoba bikin FF dengan main cast-nya Lay. Semoga suka ya 😀

Nb : untuk Kai biased yang gak suka karakternya disini, mianhae. *bow*

 

Happy reading~

 

November 2010, 04

Seoul, South Korea.

 

Kepulan asap panas dari dalam cangkir cappuccino terlihat jelas. Yeoja itu meneguknya perlahan. Ia mengeratkan pelukannya pada mantel kulit yang ia kenakan, sambil menggosok-gosokan telapak tangannya untuk mengurangi udara dingin yang menyergap tubuhnya.

Lagi-lagi ia lirik jam di pergelangan tangannya, 15.23. terlalu awal 7menit memang dari waktu pertemuannya.

Yeoja itu kembali meneguk cappuccinonya. Kali ini ia menengok ke luar café yang sedang ia tempati saat ini. Rintik sisa hujan tadi masih terlihat membekas, membentuk satu jalur butiran air di kaca.

Tidak beberapa lama, terdengar suara deritan pintu. Yeoja itu tersenyum saat mengetahui siapa yang muncul dari balik pintu kaca café tersebut.

Sesosok namja tampan berbalut pakaian kantornya melangkah memasuki café, dengan butiran air hujan yang membasahi rambut –dark brown-nya.

“Sudah lama? Maaf membuatmu menunggu.” ucap namja tersebut sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan yeoja itu.

Cho Minji –nama yeoja itu- tersenyum lembut, lantas menjawab.

“Aniyo oppa. Sekitar 10 menit yang lalu. Kau hujan-hujanan?” tanya Minji sambil mengeluarkan saputangan dari tasnya.

“Pakailah ini untuk mengeringkan rambut oppa.”

“Gomawo.” sahut lelaki tersebut sambil tersenyum manis. Memunculkan lesungpipi di wajah tampannya.

“Ne, ada apa oppa mengajakku ke tempat ini?” tanya Minji sambil melipat tangannya di atas meja.

“Tunggulah sebentar chagi. Setidaknya sampai aku memesan minuman hangat disini. Kau tau, cuaca diluar dingin sekali.” ucap namja tersebut seraya mengacak lembut rambut yeoja dihadapannya.

“Aigoo~ aku lupa. Mianhae Lay oppa.” sahut Minji sambil tertawa kecil.

“Gwaenchana. Haha chamkaman.” ucap Lay sambil memanggil waiter yang ada didekatnya.

Setelah memesan, Lay menatap dalam-dalam kedua mata Minji, kekasihnya.

Minji POV.

 

Entah apa yang akan Lay oppa katakan padaku.

Matanya menatap kedua mataku. Memunculkan semburat merah jambu dikedua pipiku. Aku membalas tatapannya, melihat gurat-gurat kekhawatiran di manik mata indah miliknya.

Ada apa?

“Waeyo oppa?”

Lay oppa tidak bergeming. Bahkan untuk membalas pertanyaanku. Matanya terus saja menatapku, tetapi pandangannya kosong. Entah kemana.

“Oppa..” sahutku agak keras. Ku pegang kedua tangannya yang dingin. Membuat Lay oppa tersadar dari lamunannya.

“Ne?”

“Wae? Kau melamun oppa?”

“A-ani. Aku hanya takut kehilanganmu.” jawabnya sambil membalas genggaman tanganku.

Aku menunduk. Rasanya kedua pipiku sudah memanas mendengar penuturannya.

“Wae chagiya? Mukamu memerah hahahaha.” tawanya merekah, terdengar nyaman ditelingaku.

“Oppa!” aku memukul pelan lengannya. Menyebalkan sekali membuatku malu dihadapannya. Huh.

“Hahaha tapi sungguh. Aku tak mau kehilanganmu, chagi.” tawanya mereda. Berganti helaan nafas berat yang kelur dari mulutnya.

“Oppa? Ada apa?” sahutku heran. Tidak biasanya ia seperti ini.

“Aku.. ada yang ingin aku katakan padamu, chagi.” kepalanya menunduk pelan. Menyembunyikan mata indahnya yang selalu bisa membuatku nyaman.

Perlahan ia membuka tasnya yang sedikit basah karena air hujan, lantas mengambil sepucuk surat dan menyerahkannya padaku.

Hatiku berdesir hebat. Memikirkan hal-hal apa saja yang akan terjadi.

“Ige mwoya?”

“Bukalah.” ujarnya sambil menyesap coklat panas yang dipesannya.

Aku menatap heran kearah Lay oppa, lantas membuka perlahan surat tersebut.

Ini…

“Surat kepindahan?”

Lay oppa mengangguk pelan. Kemudian memegang erat kedua tanganku.

“Apa maksudnya ini oppa?” tanyaku heran.

“Aku diterima di perusahaan besar milik tuan Park. Dan resiko yang harus aku terima, aku akan di pindah tugaskan ke China.” jawab Lay oppa.

“M-maksudmu?”

Lay POV.

 

“M-maksudmu?”

Yeoja dihadapanku hampir menangis. Ya Tuhan. Bagaimana ini? Aku tau pasti akan jadi seperti ini.

Yeoja yang sudah menjadi kekasihku selama hampir dua tahun ini perlahan meneteskan air matanya.

“Mianhae Minji~ah. Uljima. Aku juga tidak ingin meninggalkanmu. Tetapi kau tau kan, pekerjaan ini sangat penting bagi kelangsungan bisnis appa.” Ujarku sembari memegang bahunya, menenangkan.

“Kau.. kau juga tau kan oppa, kau tau aku sangat tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti itu. Apalagi untuk waktu yang lama. Aku tidak bisa.” Ucap Minji sambil menangis. Isakannya semakin keras.

“Tiga tahun bukan waktu yang lama chagi. Kita masih bisa mengirim pesan, menelepon, bahkan jika kau mau setahun sekali aku akan pulang ke Seoul. Tenanglah chagi.” Jelasku sambil menyeka air matanya.

“Aku.. tidak bisa oppa, jika harus seperti ini, maafkan aku. Mungkin hubungan kita memang harus berakhir sampai disini saja oppa. Permisi.” Ucap yeoja yang sangat aku cintai itu sambil mengambil kasar tasnya dan berlari keluar dari café ini.

Author POV.

 

Lay menghela nafas berat. Pikirannya kacau.

Disatu sisi ia tidak mau kehilangan yeojachingu-nya itu. Tetapi disisi lainnya dia juga tidak bisa membatalkan kepindahannya.

Matanya menerawang ke atap café. Menahan air matanya yang bisa saja mengalir saat ini juga.

Dadanya sesak, memikirkan apa yang baru saja terjadi.

“Minji~ah. Semoga keputusanmu benar. Semoga kau bahagia. Mianhae.” Gumam Lay.

 

December 2011, 15

 

Seoul, South Korea.

 

Minji POV.

 

1 tahun sudah aku berpisah dengan Lay oppa. Namja yang dulu menjadi kekasihku.

Namun sekarang semuanya sudah aku lupakan. Walaupun tak dapat kupungkiri, separuh hatiku masih untuk Lay oppa. Tetapi kini aku sudah mempunyai namjachingu yang baru. Yang akan selalu mendampingiku kapanpun. Dan aku akan mencoba mencintainya.

“Chagi, kau melamun?” Tanya Kai oppa, namjachingu-ku.

“Eo? Ani, aniyo oppa. Hehe habis kau tampan sekali hari ini.” Sahutku yang langsung dibalas dengan cubitan kecil di hidungku.

“Aish yeoja-ku ini pintar sekali menggombal.” Sahutnya.

“yaaak! Oppa, appo.” Ringisku.

“Mianhae chagi. Haha.” Tawanya.

 

Hari ini aku dan Kai oppa akan pergi ke taman hiburan.

Di sepanjang jalan ia terus menggenggam tanganku kuat seolah tidak boleh ada satupun yang merampasku darinya.

Tiba-tiba seorang namja berlari dari belakangku dan menabrak tubuhku hingga terjatuh.

“YAAAAAAK!”

Author POV.

 

“YAAAAAAK!” teriak Kai marah. Kilatan matanya terlihat menyeramkan.

“KAU TAK PUNYA MATA?! LIHATLAH KAU MENABRAK YEOJACHINGUKU!” teriak Kai sangat marah.

Minji terlihat ketakutan. Itu bukan seperti Kai yang biasanya.

“Oppa, sudahlah. Aku tidak apa-apa.” sahut Minji sambil membenarkan pakaiannya.

“Ani. Orang ini perlu diberi palajaran!” ucap Kai.

Dua orang namja dihadapannya menunduk ketakutan.

“Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo aggashi.” Sahut pria yang satunya.

“Ne, gwaenchanayo.” Ucap Minji sambil tersenyum ramah.

BUGH!

Kai meninju perut dan dada dua orang namja dihadapannya. Emosinya tak dapat ia kontrol. Nafasnya terengah-engah menahan amarah.

“Oppa! Hentikan! Dia sudah minta maaf!” teriak Minji berusaha menahan Kai yang hendak memukul kembali.

“Kalian berdua cepat lari!” lanjutnya.

Dua orang pria tersebut bangkit dan membungkuk kearah Minji. Mengucap kata maaf sekali lagi, sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan mereka.

“Kau tidak apa-apa chagi?! Apa yang sakit?! Hah?” ucap Kai sambil memeluk erat Minji.

“Oppa, sudah ku bilang, aku tidak apa-apa. Kenapa kau memukul mereka?” sahut Minji sambil melepaskan pelukan Kai.

“Mereka melukaimu chagi. Siapapun yang berani menyentuhmu selain aku, akan aku hajar dia! Bahkan akan aku bunuh jika mereka mengganggumu.” Sahut Kai ketus.

Minji hanya tersenyum. Menganggap jika yang Kai lakukan itu sebagai tanda sayang Kai terhadapnya.

Dua minggu berlalu.

Minji merasa ada yang tidak beres dalam diri Kai.

Mulanya ia merasa segala sesuatu yang Kai lakukan terhadapnya, sebagai bentuk kasih sayang yang Kai berikan.

Tetapi lama-kelamaan, tindakannya sudah diatas batas wajar.

Setiap hari Kai menelpon Minji. Bahkan setiap saat ia harus mengabarkan keadaannya pada Kai. Apa yang ia lakukan, bahkan tempat yang Minji kunjungi harus seizin Kai, dan harus bersamanya.

Belum lagi sekarang Minji sudah tidak mempunyai teman di kampusnya. Kai selalu saja menghajar siapapun namja yang mendekatinya –bahkan hanya berada didekatnya-.

Setiap mereka pergi berkencan, selalu Kai yang menentukan tempat. Bahkan makanan yang mereka makan harus seizin dan mendapat persetujuan dari Kai.

Kai. Terlalu. Mengekang.

Bahkan Minji berfikir Kai seorang psikopat. Dia seperti berada di penjara.

 

Minggu ini, Minji bermaksud memutuskan hubungannya dengan Kai.

 

“Sudah lama chagi? Maaf aku tidak sempat menjemputmu dirumah. Mobil sialan itu tiba-tiba saja tidak berfungsi. Mianhae.” Ujar Kai sembari duduk di hadapan Minji.

“Ne oppa, gwaenchana.” Ucap Minji.

“Kau sudah memesan makanan?” Tanya Kai sambil matanya mencari sosok pelayan restoran ini.

“Bukankah biasanya aku tidak pernah memesan? Selalu kau yang bertindak. Bahkan jika aku sudah memesanpun kau akan mengganti menu-ku dengan menu yang kau pilih?” ujar Minji sarkatis.

Kai hanya tertawa lepas sambil mengacak puncak kepala Minji.

Sambil menunggu pesanan, Kai memandang Minji dengan tatapan aneh.

“Waeyo oppa?” sahut Minji.

“Kenapa kau tidak memakai baju yang kemarin aku belikan? Kau terlihat gemuk memakai baju ini. Aish!  Sudahlah. Sesudah makan kau ikut aku ke mall. Akan aku carikan baju lagi yang cocok untukmu.” Sahut Kai.

 

Minji POV.

 

Aku menghela nafas berat.

Tidak tahan lagi dengan semua sikapnya.

“Cukup oppa! Aku bukan bonekamu yang selalu kau atur! Aku capek. Kau terlalu mengekangku. Membatasi keinginanku. Aku.. aku ingin putus.”

“APA?!”

 

Lay POV.

 

Hari ini hari libur kerjaku.

Akan ku manfaatkan selama sebulan ini untuk pulang ke Seoul.

Saat ini aku berada di Bandara Incheon. Menunggu mobil jemputanku yang datang.

Fyuuuh. Seoul. Akhirnya aku kembali lagi kesini. Setelah hampir 1 tahun 2 bulan aku tak pernah kesini.

Aku rindu Seoul. Rindu semua yang ada di sini.

Termasuk, Minji.

Ya, Cho Minji. Mantan yeojachingu-ku. Yang bodohnya selama satu tahun ini aku terus saja memikirkannya.

Namja pabo.

Mobil jemputanku terlihat. Membawaku menuju tempat favorite-ku menghabiskan waktu.

 

Author POV.

 

“APA?! Apa maksud kau Cho Minji? Kau ingin putus dari ku?! HAHA tidak akan. Tidak akan pernah. Kau milikku. Dan SELAMANYA akan menjadi milikku. Arra?” kilatan amarah terlihat di bola mata milik Kai.

“Tidak oppa. Aku tidak ingin menjadi milikmu lagi. Kau terlalu mengatur hidupku!” teriak Minji. Tak perduli seberapa banyak orang yang sudah menatap adegan mereka. Hatinya terlalu sakit.

“AKU MENGATUR KAU KARENA AKU NAMJACHINGU-MU! Dan aku punya hak untuk itu!” teriak Kai tak kalah hebatnya. Darahnya berdesir hebat. Lonjakan amarahnya tak dapat ia bendung lagi.

“terserah kau oppa! Kau FREAK!” ucap Minji.ketus.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Minji. Membutnya menangis hebat.

“HENTIKAN!”

Minji POV.

“HENTIKAN!”

Suara tegas milik seseorang yang sudah aku kenal terdengar. Aku menoleh ke arah suara.

“L-Lay op-oppa?” ujarku.

“Jangan pernah kau berbuat kasar pada wanita!” teriak Lay oppa sambil menarikku ke pelukkannya.

Pelukkan yang selama ini aku rindukan. Aroma parfum ini.. masih sama. Saat terakhir aku bertemu dengannya.

“Siapa kau berani menyentuh pacarku?! HAH?! HAHAHAHA. Ehmm.. kau tau? Siapapun yang berani menyentuhnya, akan aku habisi!” teriak Kai oppa sambil mencoba mengambil botol minuman kaca di meja dan memecahkannya, lalu mengambil salah satu pecahan itu.

GILA. Dia. Sudah. Gila.

“Kembalikan dia padaku, BODOH! sebelum…”

 

Keadaan sudah kembali normal seperti biasa. Setelah polisi datang dan menangkap Kai, setengah jam yang lalu.

Aku menatap wajah namja dihadapanku.

Melihat kerinduan yang teramat sangat, yang tertera di kedua matanya.

“Oppa..”

GREP.

Dia memelukku kencang.

Menyalurkan semua rasa rindu yang dia rasakan.

Tangan kekarnya mengelus pelan rambutku.

Kenyamanan yang aku rasakan setahun lalu, kini kembali.

“Minji~ah, neomu bogoshipo.” Ujarnya lembut.

“Nado oppa. Nado bogoshipo.”

Aku melepas pelukkannya dan mengenggam erat kedua tangannya.

“Oppa, jebal.. jangan tinggalkan aku lagi.” Pintaku. Air mata ini terus saja mengalir membasahi kedua pipiku.

“Mianhae. Aku tetap harus kembali kesana Minji~ah. Hanya sebulan disini dan aku harus melanjutkan pekerjaanku disana.”

“Oppa, jebal… aku benar-benar mencintaimu oppa, neomu saranghae.”

“Tenang saja Minji~ah. Aku juga mencintaimu. Dan aku punya cara agar kita bisa selalu bersama.”

July 2012, 28.

 

Dan disinilah aku sekarang. Dirumah baruku. Di China.

Aku tersenyum bahagia saat ini. Bahkan terlampau bahagia.

“Chagi. Sedang apa kau disini?” Tanya Lay sambil tersenyum kearahku.

Ya, dialah Lay. Suamiku.

Kami akhirnya memutuskan untuk menikah. 6 bulan yang lalu saat dia akan kembali ke China.

“Ani oppa. Aku hanya menikmati angin malam.” Ucapku senang.

“Apa kau tau, istriku. Angin malam seperti ini tidak baik untukmu. Juga untuk anak kita.” Ujar Lay sambil mengusap perutku yang sedang mengandung anak kita. Anakku dan Lay.

“Arraseo tuan Lay. Mari kita masuk.” Ucapku sambil menggenggam tangan suamiku.

“Istri yang pintar. Jawab Lay oppa yang tiba-tiba saja menggendongku.

“YAAAK OPPAAA! Zhang Yi Xing!”

 

Eottohke? Jelek? Membosankan? Banyak Typo? Mian.

Butuh RCL buat mengkoreksi hasil tulisanku.

Gomawo~ *bow*

Iklan

16 pemikiran pada “Don’t go.. Jebal!

  1. yeeee… happy ending…^^
    ih beneran deh si kai kya psiko.. ngeri mbayanginnya..==”

    .. yeyeye akhirnya ama lay oppa >.<
    ..suka suka…
    bikin lagi dong… castnya chen gitu… hhee^^
    keep writhing…o(^,^)o

  2. Kurang detil, ada beberapa yg kurang dpt feelny, kalo di chapterin lebih bagus kayanya.
    Penulisan lebih baik dari yang sebelumnya.
    Lanjutkan!! Di tunggu cerita berikutnya…

Tinggalkan Balasan ke jongie Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s