Fallen Leave (Chapter 1)

Author: Vianri Novia

Genre: Romantic, Angst

Cast:

  • Kris
  • Lee Minyu (OC)
  • Suho
  • EXO Members
  • OC character
  • Other kpop idols *as cameo*

____________________________________

The wind is blowing, a glowing of the sky…

The fated two of us…

Even if it’s a distance away…

The time passes…

The space that passes by is long…

Suasana di tempat itu sangat ramai. Banyak dijumpai remaja laki-laki dan perempuan yang memakai baju bebas di sekolah ini. Ya, walaupun namanya sekolah, namun sekolah ini tak seperti sekolah biasa. B-jes High School, sekolah elit yang berlokasi di tengah Seoul. Anak-anak yang bersekolah di sekolah ini hanya bisa dibagi menjadi 2 tipe: anak orang kaya atau anak yang sangat berprestasi. Karena banyak terdapat siswa berprestasi di sekolah ini, maka sekolah ini bisa masuk ke kategori Top 5 sekolah di Seoul karena anak yang lulus di sana rata-rata pasti akan sukses. Dan sekolah ini juga termasuk ke kategori Top 5 sekolah termahal di Seoul. Karena itu, berbagai tipe remaja akan ditemukan di sekolah ini. Sekolah ini berbasis international, karena sekolah ini adalah cabang dari B-jes American School yang ada di Amerika. Jadi segala peraturan di sekolah ini juga adalah peraturan internasional.
Sebagus-bagusnya sekolah ini, sekolah ini tetaplah sekolah seperti sekolah biasa, masih sering terjadi kesenjangan sosial dan bully-ing antar siswa di sekolah ini. Namun…kurasa tidak juga?
Suasana koridor yang hangat dan ramai itu tiba-tiba menjadi hening sesaat sejak mereka semua menyadari ada bayangan orang yang masuk ke situ. Seseorang yang sedang berdiri di depan koridor.
Secara penampilan, orang itu berbeda dengan orang lain. Orang itu tidak kurus dan kulitnya agak gelap. Dia mengenakan jaket yang kebesaran, membuat badannya terlihat lebih pendek dan lebih gemuk.
“Tch….” desis orang itu.
Lalu seperti sihir, setelah dia berdesis seperti itu, waktu seolah kembali lagi. Semua orang di koridor berbicara sewajarnya dan kegiatan berlangsung seperti normal. Orang itu lalu berjalan melewati mereka semua. Beberapa dari mereka berbisik sambil memandang ke arah orang itu, lalu mereka tertawa cekikikan.
Namun orang itu tak peduli, dia terus berjalan ke suatu ruangan dan membuka pintu ruangan itu. Seluruh orang di dalam ruangan itu melihat ke arah pintu.
“Apa aku telat?” tanya orang itu dengan suara datar dan wajah menantang.
Orang-orang dalam ruangan itu tersenyum. “Tidak kok..” kata seorang wanita cantik dengan lembut. Walaupun terdengar menantang, namun mereka semua tahu kalau Lee Minyu, wanita yang baru masuk ke ruangan itu, sebenarnya hanya bertanya biasa saja. Matanya yang tajam dan tulang pipi yang besar membuat wajahnya terlihat pucat dan angkuh. Nada suaranya yang lain daripada yang lain, membuatnya terdengar seperti menantang, walaupun dia sebenarnya sedang berbicara dengan ekspresi biasa saja.
“Kami menunggumu dari tadi..” ujar wanita cadel S(?) di pojok.
Minyu melihat ke teman-temannya dengan pandangan bertanya. Mereka ini berbeda darinya. 4 orang di depannya ini masuk ke sekolah ini karena orang tua mereka masing-masing adalah pengusaha. Sedangkan, Minyu masuk ke sekolah ini karena murni beasiswa.
“Hari ini kita tidak latihan dulu ya…” kata wanita yang tadi pertama kali menyapanya dengan senyuman keibuan, Song Eunhee. Song Eunhee adalah queenka di sekolah, namun tak seperti queenka lain, dia sangat ramah dan baik hati.
Yang tadi cadel(?) itu adalah Choi Hyesu. Ayahnya adalah seorang pengusaha batik(?).
Wanita periang yang dari tadi tersenyum melihat Minyu adalah Han Miru, dia sangat ramah. Ayahnya seorang dokter gigi(?) ternama di Korea. /author digampar/
Satu lagi, wanita yang kecil, dia adalah Song Youngmi, walaupun kecil namun dia paling tua (?) /minta ditabok/.
Dan mereka berempat ini adalah teman Lee Minyu. Banyak yang mau bergaul dengan mereka, namun mereka tak menggubris itu, mereka lebih menghargai Minyu daripada siswa lain yang berbaik hati dan selalu menolong mereka. Karena mereka tahu, mereka kaya dan memiliki segalanya. Sulit untuk mencari teman yang benar-benar ingin berteman dengan mereka dalam keadaan seperti ini. Saat pertama kali Minyu masuk ke sekolah, dia di bully karena dia adalah anak beasiswa. Namun, mereka semua bisa melihat kalau Minyu itu berbeda dari anak lainnya. Dia terkesan cuek. Jadi mereka mencoba dekat dengan Minyu. Memang, tak mudah mendekati wanita yang kepalanya sekeras batu itu. Namun, setelah mereka berhasil menjadi dekat dengan Minyu, tak ada lagi yang berani bully Minyu terang-terangan.
“Hari ini Youngmi ada kelas bahasa, Miru ada kelas matematika, aku ada kelas fisika, dan Hyesu ada kelas sejarah(?).” kata Eunhee. “Jadi dari tadi kami menunggumu untuk mengabarimu ini.” katanya.
“Ah baiklah…” kata Minyu, ekspresinya berubah.
“Kau tak apa kan?” tanya Eunhee.
Minyu menggeleng dan tersenyum tipis. “Tak apa, aku juga ada kelas olahraga nanti..” kata Minyu.
“Baiklah, kalau begitu kita akan latihan nanti saja aku kabari lebih lanjut lagi.” kata Eunhee.
“Ne..” jawab Minyu.
Lalu mereka semua keluar dari ruangan itu, beserta Minyu, dan berpencar.
Sebenarnya Minyu ada kelas olahraga 1 jam lagi, namun dia sudah ada di aula olahraga sekarang. Tentu saja dia hanya duduk di pinggir dan melihat beberapa siswa kelas lain yang sedang berolahraga. Sebenarnya dia tak tertarik melihat permainan basket, hanya saja tak ada yang bisa dilakukannya sekarang, jadi lebih baik dia menunggu saja. Minyu lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun akhir-akhir ini. Entah mengapa, dia tak tahu apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja dia melamun.
“Awas!!!” aba-aba seseorang.
Minyu menyadari teriakan orang itu dan menoleh. [cr: http://tiffeiny.blogspot.com; twitter: @yingfs]
BUAK!!!!
Bola basket itu sukses menghantam wajahnya dan membuat Minyu terjatuh dari duduknya. Minyu merasa ada suara dengung panjang di telinganya. Wajahnya bersemu, tulang hidungnya sangat sakit, dia merasakan darah di mulutnya. Lalu Minyu mencoba bangkit dari lantai dan melihat beberapa darah berceceran. Dia kemudian menggerakan gigi depannya dengan lidahnya, dia agak lega karena giginya tidak goyang. Namun dirasakan gusi depannya mengeluarkan darah dengan deras. Dia merasakan beberapa orang mengerumuninya sekarang. Minyu mencoba untuk mengedip-ngedipkan matanya, berusaha supaya air matanya tak jatuh. Perasaan sakit selalu membuat air mata Minyu jatuh secara tak sadar *ini pengalaman author beneran*, dan dia tak mau air matanya jatuh di saat sekarang dan dilihat oleh banyak orang.
“Kau tak apa-apa?” tanya seseorang.
“Bagaimana kau bisa bertanya seperti itu?! Kau lihat ada darah!” kata orang satu lagi menunjuk lantai.
Namun apa daya Minyu tak bisa menahan air matanya. Air matanya jatuh, namun untungnya posisinya sekarang dia sedang menunduk, jadi air matanya langsung jatuh ke lantai, tak ke pipinya. Minyu menutup kedua wajahnya dengan tangannya, diam-diam dia menyeka air matanya. Kemudian dia mendongak.
“T….tak apa….” jawabnya. Sekarang pandangan semua orang tertuju padanya. Minyu menganggap pandangan mereka adalah sebuah ejekan, padahal tidak. Minyu tak tahu reflek apa yang ditimbulkan oleh tubuhnya, namun setiap dia merasa kesakitan, air matanya selalu turun. Minyu tahu sebentar lagi air matanya akan turun lagi. Jadi dia berlari keluar dari aula dan menyembunyikan air matanya.
Ternyata benar dugaannya. Selama dia berlari, air matanya turun. Untung saja tadi dia berhasil kabur tepat waktu. Minyu berlari dan menunduk, menyembunyikan wajahnya. Dia tak peduli walaupun dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang dilewatinya. Minyu berlari menuju ke ruang dance, tempat yang dia tahu tak ada orang sekarang. Karena harusnya tadi dia dan teman-temannya ada di kelas ini.
Minyu berjalan perlahan dan melihat pantulan wajahnya dari kaca itu. Air mata terus jatuh dari wajahnya, padahal perasaannya tidak sedih. Hanya saja rasa sakit di wajahnya masih terasa. Mulutnya penuh darah. Darah segar juga keluar dari lubang hidungnya. Wajahnya merah. Matanya lebam karena air matanya tak berhenti. Dia merasa malu kalau keluar dalam keadaan seperti ini. Di balik wajahnya yang menantang, Minyu adalah sosok yang pemalu dan minder (?) *aw*. Tiba-tiba pintu terbuka
Minyu membelalak. Dia melihat dari kaca, seorang pria membuka pintu itu. Mereka berdua melakukan kontak mata….melalui kaca itu. Minyu menunduk dan langsung berbalik hendak keluar menuju pintu. Namun pria itu lebih cepat, dia masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan pintu itu untuk menahannya.
“Permisi, aku mau keluar.” pinta Minyu dengan suara tegarnya.
Tak ada jawaban dari pria itu. Pria itu hanya terdiam mengamati Minyu dengan wajahnya yang terlihat iba.
“Kubilang aku mau keluar!” seru Minyu tak senang berusaha menggeser(?) badan pria itu dari pintu, namun pria itu bersikeras menahan dirinya untuk menahan pintu.
Minyu pun mendongak dan ekspresinya tak sesedih tadi lagi. Kini ekspresi Minyu yang biasa keluar, ekspresi jutek, dengan wajahnya yang pucat dan matanya yang besar, serta wajahnya yang merah dan mulut hidung bersimbah darah, persis seperti pembunuh di sinetron thriller.
“Apaan sih?!” pekik Minyu memukul lengan pria itu. Pria itu reflek memegang lengannya yang panas dan sakit karena pukulan Minyu, lalu Minyu meraih gagang pintu dan membuka pintu untuk keluar, meninggalkan pria asing yang sedang meringis itu di dalam ruang itu.

Seorang pria menggiring bola basket nya dan dengan lincah menghindar dari lawan-lawannya.
“Kris tangkap!” seru orang itu melempar bolanya.
Sepertinya mood pria berambut blonde dan bernama Kris itu sudah berubah sejak kejadian tadi. “Argh! Aku keluar!” gerutunya, lalu dia keluar dari arena permainan.
Semua orang saling memandang dan terdiam.
Kris menghampiri tempat duduk yang dipenuhi tas dan dia mengambil salah satu botol minuman dari salah satu tas di sana dan meneguknya.
“Hei, bro, ada apa?” tanya seseorang menepuk pundak Kris, dia tahu ada yang tak beres dengan sahabatnya itu.
Kris lalu duduk dan menghela napas panjang. Temannya itu pun duduk di sebelah Kris, tersenyum awkward, berusaha menghibur Kris dengan creepy smile nya.
“Aku break dulu ya!” seru seseorang dari arena permainan, lalu orang itu berlari ke arah Kris dan duduk di sebelahnya.
“Kenapa kau break?” tanya pria creepy itu pada orang itu.
“Suka-suka aku sih!” jawab pria imut itu lalu meneguk botol minumannya.
“Cih…baru main 10menit saja sudah minta break…” desis pria creepy itu.
“Maklum lah…di Amerika aku belajar terus, tak pernah main basket, jadi aku cepat lelah..” ujar pria itu tersenyum manis.
“Mentang-mentang baru liburan dari Amerika. Wuu Bacon!” goda pria creepy itu.
“Hahahaha ngomong-ngomong….kau kenapa Kris?” tanya pria yang dijuluki Bacon itu.
“Chanyeol, tolong ambilkan aku handukku…” pinta Kris menunjuk handuk kecil di samping temannya yang creepy itu.
“Ah ya..” Chanyeol mengambilnya dan menyerahkannya pada Kris. Kris mengelap peluhnya dengan handuk itu.
“Apa kau….berpikir untuk…..minta maaf pada wanita itu?” tanya Chanyeol pelan.
“Apa maksudmu?!” Kris langsung melemparkan pandangan menghakimi pada Chanyeol. Lalu dia menoleh lurus ke depan lagi. “Aku tak mungkin mau minta maaf pada wanita itu! Kau kira pria macam apa aku, mau minta maaf pada wanita yang bodoh itu?” tanya Kris. “Berani-beraninya wanita itu menghancurkan mood main basket ku…. Kini pasti semua orang menuduhku atas hal ini… Cih….wanita macam dia tak pantas hidup. Aku penasaran…pria macam apa yang akan jatuh hati padanya…” desisnya.
Baekhyun dan Chanyeol saling melirik dan mengisyaratkan kecemasan.
Akhirnya Baekhyun yang membuka suara. “Ehm…tapi kau murid baru di sini Kris, kau baru pindah ke sini kemarin dan kau—”
“Apa itu berarti aku harus minta maaf padanya? Lagipula sekolah ini pasti akan memilih orang kaya sepertiku daripada wanita yang terlihat buruk sepertinya…” ujar Kris.
“Aku hanya baru mendengar tentangnya dari beberapa anak-anak..” kata Baekhyun kurang yakin. “Katanya….dia itu adalah preman sekolah. Dia berteman dengan para queenka, dia ditakuti banyak orang karena tatapannya yang dingin. Konon…katanya dia anak beasiswa, itu menjadikannya berbeda dari anak-anak lain…. Dan kalau ada yang mem bully dirinya, guru pasti menyalahkan orang itu.. Kau tahu? Gadis itu tadi terlihat sangat marah.” kata Baekhyun.
Kris diam dan hanya merespon dengan smirk nya. “Akan kubuat dia minta maaf padaku karena telah menghancurkan mood ku…” desis Kris, lalu dia bangkit berdiri dan keluar dari aula. Chanyeol menelan ludahnya, dia tahu Kris tak pernah main-main kalau dia sudah seperti ini. Baekhyun takut sesuatu yang buruk terjadi, jadi dia mengikutinya.
Kris memang adalah anak yang baru masuk ke sekolah ini kemarin, namun dia telah dikenal oleh banyak siswa dan menjadi salah satu kingka baru sekolah. Ayahnya adalah penyumbang saham di sekolah ini. Dan EXO, adalah teman-temannya dari kecil. Tujuan Kris pindah ke sekolah ini tentu saja untuk bertemu dengan teman-temannya.

Minyu selesai membasuh wajahnya dengan air di wastafel WC. Keadaannya lebih baik sekarang. Wajahnya sudah tak semerah tadi. Bekas darah juga sudah hilang. Matanya yang lebam pun berangsur normal kembali. Lalu Minyu mengelap wajahnya dengan tissue. Kemudian dia membuang tissue itu dan berjalan keluar dari WC ke koridor.
“Hei!” Minyu berhenti, dia menoleh pelan. Di belakang ada seorang pria tinggi blonde yang memanggilnya. Pria itu kemudian berjalan mendekati Minyu. Di belakangnya ada 2 pria yang Minyu kenal sebagai Baekhyun dan Chanyeol, salah satu kingka sekolah, karena mereka dekat juga dengan Eunhee. Baekhyun mengisyaratkan Minyu untuk berlari. Namun Minyu telat, karena pergelangan tangan Minyu sudah digenggam erat oleh pria blonde itu.
“Apa?” tanya Minyu mendongak memandang wajah pria itu.
Pria itu agak terkejut, karena baru kali ini ada wanita yang berani langsung menatapnya dengan tatapan menantang.
“Setelah kulihat aku baru menyadari wajahmu sangat jelek ya..” desis pria itu smirk.
Minyu terdiam dan blink beberapa kali, lalu dia mendongak lagi. “Lalu?” tanyanya dengan ekspresi datar.
Kris tahu wanita ini tak marah, meskipun wajahnya jutek seperti menantang, namun Kris tak merasakan ada tekanan dan tantangan dari pertanyaan gadis itu. “Minta maaf padaku sekarang.”
“Memang kita kenal?” tanya Minyu.
“Cepat minta maaf karena kau telah menghancurkan mood ku untuk bermain basket…. Kau gadis sialan, membuat semua orang menuduhku yang tidak-tidak…” desis Kris melotot.
Minyu menarik tangannya dari genggaman Kris dan melipat tangannya. Dia mengangkat dagunya. Kali ini Kris baru percaya kata-kata Baekhyun tadi. Entah mengapa terbesit sedikit….sedikit sekali…..penyesalan di hati Kris karena mungkin dia telah menantang orang yang salah. Kali ini ekspresi wanita itu benar-benar sangat menantang, Minyu menyipitkan matanya.
“Jadi kau yang melemparkan bola tadi padaku?” tanya Minyu. [cr: http://tiffeiny.blogspot.com; twitter: @yingfs]
“Cih…iya!” jawab Kris melotot, semakin menantang. “Dan aku dituduh mereka semua! Kau tahu?! Air matamu tadi tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan harga diriku!” ujarnya.
Minyu membelalak. Jadi orang ini tahu dia menangis tadi? “Kk…kau….mau apa?” tanya Minyu.
Kris smirk, sepertinya dia sudah memegang kartu kelemahan Minyu. “Berlutut..dan minta maaf padaku..” desisnya.
Minyu melirik sekitar, sekarang semua orang sedang mengerumuni mereka. Bahkan Baekhyun dan Chanyeol pun tak mampu berbuat apa-apa. Sebenarnya siapa pria ini? Bahkan Minyu saja tak pernah melihat dia di sekolah.
Minyu menghela napas keras. “Baiklah….” katanya. Lalu Minyu perlahan merendahkan dirinya. Baekhyun dan Chanyeol tercengang, seorang Minyu pun tunduk pada Kris?! Sedikit kagum namun khawatir juga.
Minyu pun hendak dalam posisi menunduk, ketika akhirnya dia dia smirk. Minyu dengan cepat mengangkat kaki kanannya dan menendang tulang kering Kris.
“Ah!” Kris ambruk ke belakang. Dia memegang tulang kering nya yang sangat sakit. Baekhyun dan Chanyeol menghampiri Kris. “Gadis sialan!” gertak Kris meringis.
Minyu kemudian berdiri dengan anggun dan melontarkan senyuman tipis pada Kris. Kris tentu melihat ekspresi puas dari wajah Minyu. Minyu kemudian berbalik dan berjalan pergi. Kris berjanji akan membalas apa yang gadis itu telah lakukan padanya, dengan balasan setimpal!

Suasana sekolah berlangsung begitu saja, tak terasa hari tersebut telah berakhir.
Hingga keesokan harinya di sekolah…..
Minyu membuka lokernya. Dia meletakkan beberapa buku. Pelajaran biologi baru berakhir. Dia merasa otaknya full setelah 1jam mendengarkan ceramah nama-nama Latin itu.
“Minyu..” panggil seseorang.
Minyu menoleh. “Ya?”
“Kau dipanggil oleh kepsek…” kata orang itu.
“Baiklah…” Minyu mengangguk. Dia kemudian menutup lokernya dan berjalan menuju kantor kepsek. Berpikir apakah yang ingin dibicarakan kepsek padanya.
TOK TOK TOK.
“Masuk…” aba-aba dari dalam.
Minyu membuka pintu ruang kepsek. Perhatiannya langsung tertuju pada orang yang berdiri di samping meja kepsek. Orang itu tak asing di mata Minyu.
“Ayo mendekatlah…” pinta kepsek.
Minyu berjalan mendekat. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.
Kepsek tersenyum. “Ada yang harus kau lakukan, berhubung kau adalah  school president. Ehm..sebelumnya perkenalkan orang ini, dia bernama Suho.” kata kepsek. Minyu baru teringat, pria ini yang kemarin membuka pintu ruang dance saat Minyu sedang menangis, orang ini adalah orang yang didorong Minyu. “Dia adalah murid baru sekolah kita, dia baru kemarin masuk sekolah dan masih tak tahu ruang-ruang tempat belajar di sini. Jadi kumohon bimbinganmu untuk mengajaknya berkeliling ke satu sekolah, supaya dia tidak tersasar.” kata kepsek.
Oh, ternyata orang ini kemarin tersasar. Minyu jadi agak tak enak hati pada orang ini. “Baiklah.” jawab Minyu.
“Sebenarnya harusnya ada 1 orang lagi yang harus kau ajak berkeliling sekolah ini, dia adalah sepupu Suho, orang tuanya penyumbang saham sekolah kita. Dia masuk 1 hari lebih awal daripada Suho, namanya Kris.” kata kepsek.
“Kris?” tanya Minyu, dia melihat ke sekeliling mencari seorang sosok yang bernama ‘Kris’ itu.
“Iya, tapi katanya hari ini dia tak masuk karena sakit, jadi kau cukup mengajak berkeliling Suho saja.” kata kepsek.
“Baiklah.” Minyu bow pada kepsek.
Akhirnya Minyu keluar dari ruang kepsek bersama Suho. Agak awkward, karena mereka tak saling mengenal. Dan Minyu adalah tipe yang tak akan mengajak orang untuk berbicara dahulu dan menjawab seperlunya saja. Karena Minyu adalah orang yang tak pandai menggali topik pembicaraan.
Selama perjalanan, mereka hanya diam. Minyu berbicara dan menjelaskan tentang satu per satu ruangan, seperlunya saja. Namun Suho lebih memfokuskan pandangannya ke Minyu yang sedang berbicara daripada ruang-ruangan yang ditunjuk Minyu.
“Ini adalah ruang auditorium. Biasa di sekolah ini sering diadakan pentas musical atau pentas musik, jadi ruangan ini sering dipakai.” kata Minyu. “Di depan itu ada  gitar, piano, biola, dan drum.” katanya.
“Kau bisa memainkan alat musik?” tanya Suho.
“Hah?” Minyu bingung. Karena dari tadi Suho ini menanyakan pertanyaan yang tak nyambung sebenarnya dengan penjelasan Minyu. “Sedikit…” jawabnya kemudian.
Suho kemudian menarik tangan Minyu ke panggung auditorium. Anehnya, reaksi Minyu tak seperti reaksinya biasa saat merasa terganggu. Minyu tak melawan, dia mengikuti Suho.
Pria itu kemudian duduk di kursi piano, lalu dia menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Minyu untuk duduk juga.
Minyu pun akhirnya duduk. Lalu Suho membuka cover piano itu. Dia menempatkan jari-jarinya di atas tuts piano, dan mengalunkan nada indah. Minyu memperhatikan jari-jari pria itu yang lincah, sampai pada wajah pria itu saat bermain piano. Ekspresi pria itu sangat lembut, dia tersenyum tipis dan menutup matanya. Minyu kembali menatap tuts itu. Pria itu memainkan lagu Nocturne. Minyu tahu, karena Minyu suka mendengarkan lagu classic itu. Lagu dengan nada yang menenangkan. Tanpa sadar Minyu melamun lagi, melihat ke arah tuts piano.
Suho kemudian melirik wanita itu. Wanita itu sedang melemparkan tatapan kosong pada tuts piano. Suho kemudian mengangkat jarinya, berhenti memainkan lagu itu. Suho mengamati ekspresi Minyu sesaat dahulu. Tatapan kosong wanita itu…dari matanya yang tajam, tersirat kesedihan dan kekhawatiran dari sorot matanya. Apakah lagu yang Suho mainkan membuat wanita itu sedih? Suho merindukan senyum wanita itu.
“Hei…” panggil Suho.
Minyu kemudian baru tersadar dari lamunannya. “Ehm…” Minyu membuang mukanya dan berdiri. “Jadi kurang lebih demikianlah ruang-ruangan yang ada di sini, kalau ada apa-apa, kau bisa tanya kepada siswa-siswa di sini, mereka akan ramah terhadap orang kaya.” katanya tanpa menoleh, lalu dia berjalan menjauh.
Namun Minyu merasa pergelangan tangannya ditahan. Minyu menoleh, tiba-tiba pria itu sudah memeluknya. Minyu membenamkan wajah pada dada pria itu, sehingga Minyu bisa merasakan detak jantung pria itu.
“Ingat janjiku….? Aku datang ke sini untuk menepatinya….” kata pria itu.
Minyu membelalak. Janji apa? Apa dia mengenal orang ini? Minyu menarik dirinya dan menampar pria itu. Lalu Minyu berlari keluar dari ruang auditorium, meninggalkan pria itu untuk kedua kalinya.
Suho hanya bisa memegang pipinya yang merah. “Aku kembali….Minyu….” katanya tersenyum pahit.

Sejak saat itu, Minyu menjadi lebih diam. Dia memikirkan siapa pria itu. Sampai seharian dia mencoba berpikir, namun dia tak tahu siapa pria itu.
Keesokan harinya, saat Minyu ke sekolah, berita besar menyerbunya.
“Hei kau Lee Minyu kan?” tanya seorang wanita.
“Kenapa?” tanya Minyu.
“Ayo ikut aku!” ujar wanita itu menarik tangan Minyu.
Sementara itu, di kelas lain, member EXO berkumpul. Para siswi berteriak histeris melihat ke-awesomeness nya mereka. Namun mereka hanya bisa melihat dari jauh karena kelas dikosongkan untuk member EXO.
“Sudah kau suruh wanita itu?” tanya Kris.
“Su…sudah….” jawab Baekhyun agak ragu.
“Hmm.. Baguslah…” ujar Kris tersenyum sinis. “Biar kuhitung…. Lima…..empat…….—”
Terlihat ekspresi khawatir dari wajah Chanyeol dan Baekhyun. Member seperti Lay dan yang lain tak tahu apa-apa, hanya terdiam dan melongo. Sementara yang cuek seperti Kai dan D.O, hanya berkomunikasi berdua saja.
“Tiga….. Dua…… Satu……”
“Ada apa, Hee?” tanya seseorang yang mendekat ke kelas. Orang itu kemudian menoleh ke dalam kelas. Ternyata dia adalah Minyu. Dia cukup terkejut, karena melihat kesepuluh member EXO beserta pria jangkung yang waktu itu ditemuinya.
“Mian…” wanita itu berbisik di telinga Minyu.
Kris berdiri dan memberikan sebuah amplop untuk wanita yang membawa Minyu, lalu wanita itu berlari meninggalkan Minyu. Dia kemudian menatap Minyu.
Minyu mendongak menatap Kris. Kini baru disadari Kris jauh lebih tinggi darinya, dan pria ini bisa melakukan apa saja dengan mudahnya padanya. Entah mengapa Minyu merasa agak sedikit gentar.
“Lihat…” Kris menatap kakinya. Minyu mengikuti pandangannya. tungkainya diperban. “Ini karena ulahmu.. Kata dokter untung saja aku dibawa cepat, kalau tidak, aku takkan bisa berjalan lagi selamanya.” kata Kris. Minyu agak terkejut, dia merasa tak enak. Karena biasanya seperti itu caranya dia melumpuhkan orang yang hendak menjahatinya. Kris bisa melihat ekspresi tak enak di wajah Minyu. “Kau harus membayar semua ini..” eskpresi Kris berubah.
“Hm?” Minyu mendongak dengan tatapan polos, dan itu membuat Kris agak kesal.
“Aku menghabiskan 5.000.000won untuk ini semua!” teriak Kris.
“Mwo?!” Minyu membelalak terkejut.
“Kau harus membayar ini semua!” desis Kris. “Bahkan kurasa dirimu saja tak semahal itu…” lanjutnya.
Minyu agak terluka mendengar kata-kata Kris, meskipun ekspresinya tetap begitu saja.
Kris bisa melihat wajah Minyu yang terluka, entah mengapa dia sangat menikmati pemandangan itu.
Kris tersenyum sinis. Sepertinya wanita ini melunak karena mendengarkan harga yang fantastis itu. “Cih, semua wanita sama saja, begitu mendengar nominal uang, langsung terdiam…” desis Kris.
Minyu mendongak dan mengeluarkan tatapan tajam namun polos, Kris tahu itu tak menantang. “Dan semua orang kaya sama saja, bodoh.” ujar Minyu, lalu dia smirk dan keluar dari ruang kelas.
Kris masih membatu di tempatnya, menatap kepergian Minyu dengan tak percaya. “A…apa katanya….?” gumamnya. Lalu dia sniff(?). “Lihat saja pembalasanku…” desisnya. Member EXO dari belakang sudah menggeleng-gelengkan kepala mereka.
Baekhyun kemudian menyadari seseorang di depan pintu, orang tersebut menatap ke arah Minyu pergi tadi.
“Suho!” panggilnya.
Suho menoleh. “Untuk…apa dia ke sini?” tanyanya.
Baekhyun kemudian berdiri dan menarik Suho untuk masuk ke kelas. “Yo yo bro kau mengenalnya?” tanya Xiumin tak percaya.
“A……” Suho terdiam sebentar. “Dia….yang mengajakku berkeliling sekolah kemarin atas permintaan kepala sekolah.” jawabnya. “Ada apa?”
“Biasa…incaran baru Kris…” jawab Kai asal.
“Benarkah?” Suho langsung menoleh ke Kris dengan ekspresi terkejut.
“Hei, kau mengapa memandangku seperti itu?” tanya Kris merasa tersinggung dengan pandangan tak percaya Suho.
“Kau ingat kan 2 hari yang lalu kita ke rumah Kris dan kakinya diperban? Ketika kita tanya, dia bilang tulang keringnya ditendang oleh seorang wanita?” tanya Chanyeol.
“Ja…jangan bilang….” Suho membelalak.
“Haahahaha… Seperti yang kau lihat, itu perbuatan wanita itu…” ujar Chanyeol dengan creep smile nya.
“Lihat saja, akan kubuat wanita itu benar-benar berlutut padaku, menangis di hadapan kakiku dan meminta pengampunan dariku….” desis Kris. Semua member tahu, Kris tak akan main-main dengan kata-katanya.
“Tapi…..” Suho hendak menyela. Sekarang pandangan semua orang tertuju padanya, termasuk Kris. Suho berpikir sebentar. “Kurasa dia memiliki alasan di balik itu semua…” katanya. Lalu dia memandangi Kris. “Kau juga harus membayar semua yang akan kau lakukan padanya….sepupu…” kata Suho, lalu dia pergi dari kelas.
“Hei, what’s wrong…?” tanya Xiumin.
Mereka bingung dengan tingkah laku Suho yang tak biasa itu. Sementara itu, Kris berkutat dengan pemikirannya sendiri.

Lalu bel berbunyi. Minyu sekarang ada di kelas bahasa. Dia memilih tempat duduk di pojok, dekat jendela. Dia tak suka bahasa, karena bahasa adalah pelajaran kelemahannya.
“Selamat pagi anak-anak.” sapa guru yang masuk.
Minyu menghela napas lalu menoleh keluar jendela. Melakukan pekerjaan yang dilakukannya di kala waktu senggang, melamun. Begitu banyak yang ada di pikirannya. Dia tak tahu apa itu, namun pikirannya sekarang terasa terbebani.
“Pssttt…” panggil teman yang duduk di depan bangku Minyu.
Minyu pun tersadar dari lamunannya dan menoleh. “Hm?”
“Songsenim memanggilmu…” bisik temannya.
Minyu langsung mendongak. “Ne songsenim?” tanyanya. Seseorang yang berdiri di samping songsenim tersenyum pada Minyu. Orang itu tampak tak asing. Tapi begitu melihat orang itu, jantung Minyu serasa mau copot(?) *bahasa author random*.
“Jangan melamun terus…” kata songsenim. “Baiklah, sekarang kalian kedatangan murid baru, perkenalkan dirimu.” pinta songsenim.
Minyu melemparkan pandangannya ke arah lain, dia sudah mengenal pria ini. Begitu banyak siswi yang terkagum-kagum menatap pria itu. Cih, mereka tak tahu pria ini adalah pria kurang ajar yang berani memeluk wanita yang baru ditemuinya. Maniak.
“Annyeonghaseyo, aku Kim Suho. Aku baru pindah dari China, namun aku adalah orang Korea. Mohon bimbingannya.” kata Suho tersenyum, pandangan matanya sekarang hanya tertuju pada satu orang, Lee Minyu, membuat sekelas mengikuti arah pandangan Suho juga.
“Baiklah, pilih tempat duduk mana yang mau kau duduki..” kata songsenim.
Suho kemudian berjalan dan menghampiri tempat duduk di pojok belakang. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?”
Minyu mendongak. “Hah?” tanyanya. [cr: http://tiffeiny.blogspot.com; twitter: @yingfs]
Beberapa anak mulai berbisik. Tempat duduk di samping Minyu selalu kosong, karena mereka tak mau mencari masalah dengan salah satu preman ini. Minyu memandangi wajah Suho, senyuman pria itu benar-benar angelic. Minyu kemudian menggelengkan kepalanya, dia tak boleh terpengaruh oleh senyuman pria ini.
“Itu ada tempat duduk kosong di sebelah Taeyeon.” ujar Minyu lalu membuang muka. Dia sadar dia sedang menjadi pusat perhatian semua mata sekarang. Senyuman Suho perlahan pudar.
“Baiklah…” katanya tersenyum…senyum kecil….atau mungkin senyum pahit? Suho akhirnya berjalan pelan dan duduk di sebelah Taeyeon, dia tersenyum kecil pada Taeyeon.
“Baiklah kita buka buku kita halaman 78.” kata songsenim.
Suho mengambil buku dari tasnya, sambil mencuri pandang ke arah Minyu. Wanita itu membuka lembar bukunya dengan ekspresi datar. Tulang pipinya yang besar membuat wajahnya terlihat pucat.

Akhirnya waktu sekolah usai dan para siswa kembali ke rumah masing-masing.
Minyu memasukkan buku dari lokernya ke tasnya, besok ada ujian sejarah, dan itu artinya dia harus belajar. Lalu Minyu buru-buru berjalan keluar. Minyu berlari ke halte bus. Ternyata bus masih belum datang, jadi Minyu menunggu di halte.
“Hei!” panggil seseorang.
Minyu menoleh. Pria itu lagi. Minyu membuang muka dan mengabaikannya.
Pria itu berlari menghampiri Minyu, napasnya terengah-engah. “Kau buru-buru sekali?” tanya Suho.
Minyu tak menjawab. Dia melihat ke kiri kanan jalan, menunggu datangnya bus.
“Minyu…kembalilah…” kata Suho.
Minyu menoleh. Apa maksud pria itu. “Hah?” tanyanya.
“Ah tidak…” Suho menggelengkan kepalanya. “Apa kau….sedang sibuk?” tanyanya.
Bus datang dan Minyu mengabaikan Suho, dia langsung naik ke bus. Bus hari ini sangat ramai. Minyu mencari-cari tempat duduk, namun tempat duduk sudah penuh. Namun tiba-tiba bus berjalan dan membuat Minyu hampir terjatuh…..sampai ada tangan yang menopangnya.
“Kau harus berhati-hati.” kata orang itu.
Minyu menoleh. Suho. Minyu menarik diri dan menjauh dari pria aneh itu. Suho tersenyum melihat wanita itu.
Lama sekali mereka berada di dalam bus itu. Minyu hanya berdiri terdiam sambil melihat keluar jendela bus. Sementara itu Suho hanya berdiri dari jauh sambil memandangi Minyu.
Bus berhenti di sebuah halte, dan Minyu keluar, Suho juga mengikutinya. Jujur Minyu merasa risih diikuti oleh pria ini. Jangan-jangan dia seorang stalker. Minyu berjalan semakin cepat dan berjalan di antara para kerumunan manusia. Setelah yakin Suho sudah menghilang dan tak mengikuti jejaknya lagi, Minyu kemudian berjalan ke salah satu cafe dan hendak membuka pintunya.
“Minyu!” panggil seseorang dari samping.
Minyu menoleh. “Lime unnie!” panggil Minyu terkejut.
Wanita berambut biru yang bernama Lime itu menarik Minyu. “Ayo ikut aku…” katanya. Ternyata dia mengajak Minyu ke cafe sebelah.
“Minyu, sebaiknya kau jangan ke cafe lagi.” kata Lime dengan wajah pucat.
“Ada apa unnie?” tanya Minyu.
“K…karena kau akan dipecat.” kata Lime. Seketika ekspresi Minyu langsung berubah. “A…aku tak tahu bagaimana tapi..aku hanya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu.”
“Ma…maaf?” tanya Minyu.
Flashback:
Lime membawa nampan segelas air mineral dan membawanya keluar. Dia terkejut mengetahui siapa tamu yang datang.
“Kk…kau” pekiknya membelalak. Dilihatnya pria itu sedang berbicara pada atasannya.
“Lime, aku sudah mengetahui semuanya. Kau adalah adiknya kan?” tanya manager.
“A…… Nn….ne…..” jawab Lime. Kemudian dia menoleh pada kembarannya itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. Dia paling tak suka ada anggota keluarganya yang memergokinya kerja part time.
“Jadi begini caramu mengisi waktu luang?” tanya Kris. Lime terdiam. Kembarannya ini bisa saja melapor pada orang tuanya. Dan bila dia melapor pada orang tuanya, maka sudah pasti Lime dipindahkan ke negara lain. Keluarga Lime adalah keluarga kaya. Ayahnya pengusaha produk minyak bumi. Keluarganya termasuk ke salah satu keluarga terkaya di Korea. Namun menjadi orang kaya, tak membuat Lime mengikuti jejak ke glamour an (?) keluarganya. Dia ingin merasakan kehidupan sebagai orang biasa, jadi dia diam-diam bekerja part time. Orang tuanya tak pernah tahu hal ini karena mereka sibuk dan mereka jarang kembali ke Korea.
“Kau mau apa?” tanya Lime menggigit bibir bawahnya ketakutan.
“Tenang saja, kau cukup diam dan tak perlu melawan.” kata oppa nya itu tersenyum licik. “Tadi sampai mana?” tanyanya.
“Tadi kau bertanya soal karyawan yang bernama Lee Minyu itu..” kata manager.
Lime membelalak. Ada apa dengan Minyu?
“Bagaimana kinerjanya selama di sini?” tanya ‘oppa’ Lime.
“Baik sekali, dia itu pekerja keras, hampir tak pernah absen, selalu datang ke sini setelah pulang sekolah. Kinerjanya juga—-“
Manager terdiam karena pria itu tiba-tiba menyodorkan sebuah cek. “Aku tahu kau berhutang pada banyak orang demi cafe ini. Tulislah berapapun nominal yg kau inginkan.” kata pria itu. Mata manager membelalak. Begitupun juga dengan Lime. “Aku memberimu uang secara cuma-cuma… Tapi tentu saja ada syaratnya..”
“A…apa itu?” tanya manager.
Pria itu tersenyum sinis. “Pecat Lee Minyu…” ujarnya pelan.
“Oppa!” Lime membelalak.
Pria itu berdiri. “Baiklah, senang bertemu dengan anda..” kata pria itu, dan dia kemudian menoleh ke Lime. “Senang juga mengetahui adikku bekerja di sini…” lanjutnya. Lime tahu ini adalah kalimat ancaman. Sebab kalau Lime mencegah niat pria itu, maka rahasia dia bekerja part time akan langsung terdengar oleh orang tuanya.
“Kau gila, Kris!” pekik Lime saat pria itu hendak meraih gagang pintu cafe.
Pria itu hanya mengeluarkan evil smirk nya, kemudian dia membuka pintu dan keluar dari cafe itu.
“Manager!” panggil Lime.
“Maaf Lime….hutang kita sudah terlalu banyak….” kata manager, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan. Bahu Lime langsung jatuh(?) *bahasa random*. Apa yang harus dilakukannya? Minyu adalah satu-satu sahabatnya di tempat ini. Dia tahu latar belakang Minyu. Kalau Minyu dipecat, mau bekerja di mana lagi dia?
-Flashback end….

Minyu sekarang berjalan di jalan. Tatapannya kosong. Dia berjalan dengan linglung. Tadi Lime merasa sangat bersalah tapi Minyu meyakinkannya kalau dia tak bersalah apa-apa atas hal ini.
“Memangnya kau punya hubungan apa dengan kembaranku?” tanya Lime tadi.
“Kembaranmu? Namanya siapa?” tanya Minyu.
“Kris.” jawab Lime.
Minyu merasa tak asing dengan nama itu namun dia tak ingat ada seseorang yang memperkenalkan diri sebagai ‘Kris’ padanya. “Aku tidak tahu…” katanya menggelengkan kepala.
“Aigoo…..lalu mengapa dia bisa seperti ini….” Lime bergumam cemas.
Apapun itu, Minyu sekarang sedang berpikir keras bagaimana selanjutnya dia bekerja untuk mencukupi hidupnya. Tanpa disadarinya, air matanya terjatuh. Minyu cepat-cepat mengelap air matanya supaya tak ada yang melihat, namun air matanya terus terjatuh.

Keesokan harinya, Minyu ke sekolah dengan mata lebam. Dia belum makan pagi hari ini, mengingat uangnya tinggal 10.000won dan dia sudah tak bekerja lagi. Namun hari ini dia agak bersemangat karena ada kelas dance.
“Annyeong…” Minyu masuk ke ruang dance. Di sana sudah ada beberapa anak yang ikut kelas dance. Ada teman-temannya, namun yang menarik perhatiannya ada segerombol kingka sekolah, Suho dan pria jangkung yang menyebalkan itu pun bersama mereka juga.
“Minyu ah!” panggil Youngmi.
“Ne!” Minyu menghampiri mereka.
“Kau agak pucat ya?” tanya Hyesu.
“Jinjja?” Minyu menoleh, bertanya pada Eunhee.
“Kau belum makan?” tanya Eunhee dengan senyum keibuan. “Makan dulu gih..”
“Tak perlu…” ujar Minyu. Sebenarnya dia belum makan dari malam, karena tak punya uang.
“Mau kutemani makan?” tanya Miru.
“Tak usah…makasih…” jawab Minyu tersenyum tipis.
Minyu menoleh, dia merasa diperhatikan dari tadi. Dan benar, pria itu, Suho, tersenyum padanya. Namun Minyu membuang mukanya.
“Perhatikan semua!” aba-aba sang tutor. “Hari ini kita kedatangan 2 murid baru.” katanya. “Ayo perkenalkan diri kalian masing-masing.
“Annyeonghaseyo, Kim Suho imnida. Aku baru pindah dari China dengan sepupuku ini..” kata Suho melirik pria jangkung di sebelahnya. Minyu membelalak, berbagai spekulasi muncul di pikirannya. Bisa saja Suho ini adalah stalker Minyu karena pria jankung ini berencana buruk terhadap Minyu. “Jadi—”
“Aku Kris.” pria jangkung di sebelahnya Kris. Tak sopan sekali orang ini, batin Minyu. Tunggu dulu… Kris… KRIS?! Minyu membelalak, seolah ada alarm di atas kepalanya. Jadi orang ini…dia kembaran Lime yang menyuruh pak manager untuk memecatnya?! Rahang Minyu mengetat, ingin rasanya dia meninju orang itu sekali sekarang.
“Minyu, kau kenapa?” bisik Miru melihat ada yang tak beres.
“Aniyo…” jawab Minyu, namun tetap dengan ekspresi yang mengeras.
“Aku ke sini karena ayahku adalah penyumbang saham di sekolah ini.” kata pria yang bernama Kris itu. “Tapi tak kusangka ada sedikit parasit di sini…” lanjutnya sambil melirik Minyu. Sekarang pandangan semua orang tertuju pada Minyu. Minyu memandangi pria itu dengan tatapan tak senang, tangannya sudah terkepal.
“Ehm…jadi mohon bimbingan kalian.” sambar Suho yang membaca keadaan sudah mulai tak membaik.
“Baiklah, aku ingin memberitahu, aku mendapat info kalau kita akan pentas di acara drama musical sekolah nanti, dan kalian semua akan mendapat peran masing-masing.” kata tutor.
Seisi ruangan langsung heboh, mereka menerka-nerka siapa yang akan menjadi pemeran utamanya.
“Akan kubacakan peran kalian masing-masing…” kata tutor membaca kertas yang ada di tangannya. “Kita akan memainkan drama yang berjudul Fallen Leave. Aku hanya akan membaca satu kali. Para pemain drama Fallen Leave: Suho sebagai narator. Hyoyeon sebagai ibu-ibu yang di pasar. Chen sebagai pengemis di jalan. Kyungsoo sebagai Jason.—” tutor menyebutkan satu per satu peran. Suho menoleh dan melihat Minyu. Kemarin Suho mengikuti wanita itu diam-diam. *soundtrack Fallen Leave diputer #ea* Dia melihat Minyu bertemu dengan sepupunya, Lime. Dia baru tahu Lime ternyata pekerja sebuah cafe. Lalu dia mengikuti Minyu. Dia melihat Minyu menangis. Wanita itu menyeka air matanya namun air matanya terus terjatuh. Wanita itu hanya bisa menunduk. Seandainya bisa, Suho ingin sekali mendekati wanita itu dan memeluknya erat. Namun dia tahu wanita itu pasti akan menepisnya lagi. Suho mengikuti Minyu sampai ke rumah Minyu. Dilihatnya rumah Minyu yang sekarang….apa ini pantas disebut rumah?
Tenang saja Minyu, aku yakin kau akan kembali dengan selamat, batin Suho. Sementara itu dia tak sadar, ada sepasang mata yang mengawasi dirinya sedang memandangi Minyu.
“Pemeran utama jatuh kepada Lee Minyu sebagai Bella dan Kris sebagai Kevin.” kata tutor.
“Mwo?!” Kris dan Minyu sama-sama terkejut.
“Aku tak mau memerankan peran itu kalau pasangannya dia!” seru Kris melipat tangannya.
“Aku tak sudi melihat wajahnya!” pekik Minyu.
“Hei apa kau bilang?!” Kris  tersinggung dan menoleh.
“Melihatmu saja membuatku muak!”
“Kau wanita rendahan tak pantas ada di sekolah ini! Rendah!”
“Oh ya?! Kalau begitu kau lebih rendah karena kau main belakang!”
“Apa?! Kau mau menuduhku lagi?! Cih…apa kau belum puas membuat aku hampir tak bisa berjalan?!”
“Bagus kalau itu kenyataan! Sayangnya kau terlalu BODOH untuk membodohiku! Mana ada check up kaki ke dokter  menghabiskan 50.000.000won?!”
Kris terdiam. Anak EXO tercengang, wanita ini ternyata tak terkena tipuan Kris.
“Oh…apa perlu aku katakan pada semua orang juga, kalau orang kaya yang bodoh ini membayar seorang manager cafe untuk memecat karyawannya?” tanya Minyu.
Kris agak terkejut, namun akhirnya dia mengeluarkan evil smirk nya. “Pasti dia yang memberitahukanmu… Sudah kuduga sudah saatnya memberitahu orang tuaku tentang ini.”
“Kau……” tenggorokkan Minyu seperti tercekat. Air matanya tiba-tiba mengalir turun. Semua orang di ruangan itu kini terdiam. Ini mengejutkan karena ini pertama kalinya mereka semua melihat Minyu menangis. “Aish…” Minyu menutup wajahnya dan menyeka air matanya lalu berjalan keluar dari ruang itu dan membanting pintu ruang itu.
“Cepat kejar…” bisik Baekhyun.
“Untuk apa aku mengejarnya?!” tanya Kris. Tiba-tiba dia merasa seseorang berlari dan keluar dari ruang itu juga, Suho.
“Jadi kau membuatnya kehilangan pekerjaannya?” tanya Youngmi tak percaya. “Bstard…” desisnya.
“Kau murid baru kan? Mengapa kau berani sekali?” tanya Miru.
Tutor kemudian mengisyaratkan mereka untuk diam, mengingat orang tua Kris adalah pemegang saham terbesar di sekolah ini.
“Aish!” Kris lalu keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya. Suasana di dalam ruangan itu hening sesaat.
“Ini salahmu, Byun Baekhyun!” seru Eunhee.
“Hei, aku hanya ingin membuat mereka menjadi akur!” balas Baekhyun.
“Kau akan beurusan dengan kami…” kata Hyesu.
“Stop! Jangan salahkan Baekhyun atas ini semua!” seru Chanyeol.
“Kau temannya, jadi kau membelanya!” seru Eunhee.
“Dengar! Ini adalah rencana kami, kami semua yang berencana untuk menyatukan peran mereka sebagai pemeran utama! Karena kami tahu jika hubungan mereka dibiarkan buruk begitu terus, Kris bisa melakukan sesuatu yang lebih buruk pada wanita itu!” kata Chanyeol.
“Tapi menyatukan mereka dalam 1 drama bukan hal yang akan memperbaiki hubungan mereka juga kan?!” tanya Youngmi.

Sementara itu, Suho mengejar Minyu. Minyu berjalan dengan cepat, sehingga Suho harus menerobos siswa-siswa yang ada di koridor untuk tidak kehilangan jejak Minyu. Dari kejauhan, Suho melihat Minyu berbelok ke arah kiri. [cr: http://tiffeiny.blogspot.com; twitter: @yingfs]
“Mian…” Suho menerobos siswa-siswa yang ada di koridor. Lalu Suho berjalan ke lorong kiri, namun dia sudah tak dapat melihat sosok Minyu lagi. dia berlari dan melihat sekeliling, mencoba untuk mencari sosok yang dicarinya. Hingga matanya menuju pada suatu pintu yang bertuliskan “Auditorium”. Suho ingat sekali, kemarin Minyu mengajaknya ke sini, dan di sini dia memeluk wanita itu kemarin.
Suho mencoba untuk memasuki ruangan itu. Dia membuka pintu auditorium pelan-pelan, ruang auditorium terlihat gelap, sepertinya tak ada orang di sini. Suho menghela napas, lalu hendak menutup pintu. Namun dia menghentikan niatnya ketika dia mendengar isakan tangis dari dalam. Suho pun tak jadi keluar, namun dia menutup pintu auditorium itu. Dia berjalan pelan, mencoba mencari asal suara itu. Dia berjalan terus ke depan, dan ternyata suara itu berasal dari seat sebelah kanan. Suho berjalan ke seat sebelah kanan.
Ada seorang wanita yang duduk sambil menutup wajahnya, menangis. Suho duduk di sebelah wanita itu. Wanita itu tahu, ada orang lain yang duduk di sebelahnya, tapi dia butuh waktu untuk menangis.
Suho mendekati wanita itu. Napas pria itu bisa terasa di rambut wanita itu. Suho mendekatkan kepala wanita itu ke dadanya dan memeluknya. Diam. Tak ada perlawanan dari wanita itu seperti kemarin. Wanita itu bisa merasakan detak jantung Suho yang berdetak sangat cepat. Setelah sadar apa yang dilakukannya, wanita itu hendak menarik dirinya dari pelukan Suho, namun Suho menahannya dan tetap mempertahankan wanita itu dengan posisi seperti itu.
“Menangislah….kalau itu mampu membuat dirimu melepaskan segala kegundahan hatimu…Minyu….” kata Suho. Jujur dia tak tahu harus memulai dari mana. Dia sendiri juga gugup.
Entah mengapa air mata Minyu mengalir makin deras setelah Suho berbicara seperti itu. Dia perlahan menggerakkan tangannya merapat ke punggung Suho dan membalas pelukannya. Tangisan Minyu semakin menjadi-jadi. Selama ini dia tak akan mau menangis di depan semua orang. Entah mengapa akhir-akhir ini dia menjadi sering menangis. Dia tak ingin terlihat lemah di depan orang banyak. Dia sendiri yang membangun tembok di depan orang-orang, supaya tak ada yang mengenalnya lebih dalam, tak ada yang mengetahui lemahnya dirinya sebagai seorang wanita. Hidup sendiri di atas hinaan orang banyak, membuatnya menjadi kuat.

 

TBC

46 pemikiran pada “Fallen Leave (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s