Dear My Lover (Chapter 2)

Tittle               : Dear my lover (chapter 2)

 

Author             : jejesikha

 

Genre              : Romance

 

Rating             : PG-15

 

Length             : Chaptered

 

Main cast        :  Park chanyeol (EXO K)

Wufan Kris (EXO M)

Lee Ahra (OC)

Tiffany (OC)

 

Other cats        :    Gikwang

“ahra, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” dia menruh garpu dan pisaunya di selebelah piring lalu mempercepat mengunyah pancakenya yang masih ada di mulutnya.

 

“hm…….apa kau…. masih mencintai chanyeol?” tambahnya dan membuatku sedikit tercengang,

“kris….”

Aku diam, mengapa di situasi seperti ini dia menanyakan hal seperti ini,

“bukan maksudku tapi, kurasa sulit untuk melupakan cinta pertama, pasti banyak kenangan yang masih tersimpan di memori otakmu..”

“kris, kau membahas hal ini padahal kita sudah resmi menikah,”

“bukan maksu….”

“kris,” potongku cepat.

“ah sudahlah, aku malas berdebat,”  tanpa pikir panjang aku pergi dari hadapannya, masuk ke kamar dan membanting pintunya.

2 hari semejak pernikahanku dengan kris, dan dia membahas hal ini, jelas aku berusaha untuk melupakannya dan dia mengingatkannya lagi dengan pertanyaannya itu, untuk apa dia bertanya hal bodoh semacam itu? Membuatku pusing.

 

Aku mengambil ponselku dan menekan tombol 1, panggilan cepatku untuk tiffany.

“Tuut….Tuuut”

“hallo?”

“Tiff! Aku ingin kembali ke korea!” aku menghempaskan tubuhku di ranjang, lalu fokus berbicara dengan tiffany melalui telfon.

“ya! katakan padaku, kau sedang dalam masalah dengan kris? Dia menyakitimu? Mencampakanmu? Biar ku hajar dia!”

“tidak~ aku hanya sangat merindukanmu, tiffany”

“bukankah 2 hari yang lalu aku bertemu denganmu? Saat pesta pernikahanmu? Siapa yang membantumu memegangi ekor gaun yang hampir 2 meter itu?”

“ya, ya, ya, aku ingin ke korea malam ini juga tiff!”

“okay, okay. Ohya, ahra. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini padamu, tapi kurasa kau harus tahu,”

“apa? katakan!” tanyaku penasaran.

“kemarin malam, sekitar pukul 3, chanyeol datang ke apartementku..”

“apa?!!” mataku terbuka maksimal,

“ya, dia datang dan menceritakan keluh kesalnya padaku. Kau harus tahu ini, bahkan dia menangis di depanku,”

“menangis?” tanyaku memastikan pendengaran,

“yeah, dia bilang ‘aku sangat merindukan ahra, 1 tahun dia meninggalkanku dan pergi ke china, lalu disaat aku benar benar merindukannya aku mendapat kabar bahwa ahra telah menikah dengan kris’ dan dia juga meminum banyak soju saat itu, aku kelelahan menghadapinya, dia mabuk parah hingga muntah. Untung saja dia menaruh ponselnya di meja lalu aku memanggil salah satu temannya untuk menjemputnya. Aku fikir dia mulai gila, atau mungkin sudah gila. Tapi saat aku lihat di TV dia bugar kembali, memang dia bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi,” ucapnya panjang lebar dan sontak membuatku tercengang.

Pukul 8 dia menelfonku, dan pukul 3 dia datang ke apartement tiffany, chanyeol… kau..

“kau masih disitu ahra?”

“iya, lalu siapa yang menjemputnya?”

“entahlah, pria cute dengan eyeliner sangat tebal di matanya, kurasa dia sebenarnya sipit,”

“oh, itu baekhyun.” Jawabku,

“entahlah aku tidak mengenalinya,”

“kurasa saat ini juga aku akan berkemas lalu pergi ke korea, bisakah kau jemput aku di incheon?” aku bangun dari tidurku dan bejalan menuju lemari, mengambil satu persatu bajuku dan memasukannya kasar ke koper ukuran besar berwarna pink milikku.

“ban mobilku kempes, kau dijemput oleh temanku saja, ya?”

“temanmu? Siapa?”

“namanya gikwang, dia Korean.”

“TEMAN DEKAT? KAU AKAN MENIKAH? MENYUSULKU?”

“bukan, bukan. Dia senior di sekolah dan membantuku beberapa tugas, hanya itu saja, sekarang dia ada di incheon dan malam ini akan ke seoul. Bagimana?”

“terserah kau tiff, mungkin aku sampai bandara pukul 9malam,”

“baiklah, jaga dirimu di pesawat, kau tidak hamil kan?” tanyanya dan membuatku sedikit heran.

“kau gila, aku belum melakukan hal itu, dan lagi jika aku hamil memangnya kenapa?” tanyaku,

“belum melakukannya? Yatuhan apa kris tidak memiliki hasrat untuk itu? Jika kau sedang hamil kau tidak boleh pergi menggunakan pesawat, kau akan keguguran,”

“oh, begitu. Yasudah aku akan packing tunggu aku jam 3 sore,”

Aku memutuskan sambungannya, dan dengan segera aku mencari secarik kertas dan bulpoint, lalu menulis beberapa kata untuk kris.

 

Dear; kris

Aku akan ke suatu tempat, hanya 1 minggu. Maafkan aku, aku hanya butuh waktu untuk sendirian, jangan khawatirkan aku, aku bukan anak kecil lagi, aku suda 20 tahun.

-ahra lee-

 

Aku berhasil mendarat dengan aman di incheon, meskipun mengalami delay selama 3 jam dan aku bisa dengan lancar malarikan diri dari hotel karena kris sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu hal, entahlah aku tidak tahu apa yang dia lakukan.

Yang jelas, aku yakin dia akan sangat terkejut melihatku yang pergi tanpa sepengatahuannya, aku wanita yang jahat.

 

“ahra?” aku menoleh kebelakang,

Sesosok pria bermuka cute itu melambaikan tangannya kearahku.

“aku?” tanyaku memastikan.

“kau ahra? Aku gikwang, teman dekat tiffany,” dia menundukan badannya padaku, dan aku juga melakukan hal yang sama padanya,

“teman dekat? Sedekat apakah kalian?”

“jadi dia tidak pernah menceritakanku ya? hahaha aku, bisa dibilang pacarnya,”

“SEJAK KAPAN?!!!” aku tercengang, sejak kapan, tiffany memilki kekasih?? Bahkan dia tidak pernah bercerita mengenai hal itu.

“hampir 6 bulan,”

6 bulan katanya? Brengsek kau tiffany.

“hm, aku akan mengantarkanmu ke apartement tiffany tapi aku tidak akan masuk, aku masih banyak pekerjaan,”

“oh, ya. tidak apa apa,”

Aku benar benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, brengsek kau tiff, kau sudah memilki kekasih dan tidak memberi tahukannya padaku.

Lihat sesampainya aku di apartement, akan terjadi sebuah perang dunia ke 2.

 

 

“YA KAU YA!!!!” aku berteriak sekuat tenagaku setelah bertemu dengan tiffany,

Aku melihat mukanya yang keheranan dengan sikapku, dasar kau, sahabat macam apa dia ini.

“kau kenapa??” tanyanya dengan tampang tanpa dosa, sialan.

“ceritakan padaku, semua tentang gikwang gikwang mu itu! Sudah 6 bulan merahasiakannya??? Haaah??? Sahabat macam apa kau ini???”

“…bukan maksudku untuk merahasiakannya tapi, aku takut kau akan mengejeknya..”

“mengejek apa? untuk apa??”

“karena dia…tidak tampan………..”

Tidak tampan katanya, aku tidak bisa menahan tawaku, hanya karena itu? Dia tidak tampan? Dia buta atau apa? menurutku dia pria yang cute, sedikit seperti chanyeol, bukan mukanya….maksudku aura cutenya.

“mengapa? Dia benar tidak tampan? Sepertinya aku salah memilihnya,” Dia berjalan munuju sofa sembari membawa koperku yang besarnya hampir setengah tinggi badannya.

“tiff, dia tampan, cute. Kurasa dia pria baik,”

“aku juga befikir begitu, dia selalu memberikan keceriaan setelah kau tidak bersamaku lagi, kau ingin aku mati kesepian disini? Lama-lama aku jadi bangkai..” kulihat pipinya yang memerah, baru kali ini aku mendengarnya menceritakan pria yang dia suka, dan bisa dibilang pria bernama gikwang itu cinta pertamanya.

“ya aku tahu kau kesepian, dan baguslah dia bisa menemanimu, sepertinya aku di korea hanya 1 minggu atau mungkin kurang.”

“mengapa? Secepat itu??”  tanyanya seakan akan tidak ingin aku kembali secepat itu,

“umm, yang pertama aku tidak bilang kalau aku akan berangkat ke seoul, yang ke dua kris dan orang tuanya pasti akan mengkhawatirkanku dan yang ketiga, kris akan sangat marah besar jika aku berlama-lama di korea.”

“aku akan pergi sebentar keluar,” tambahku sembari mengambil sweater milik tiffany.

“kemana? Sudah pukul 10 malam ahra,”

“entahlah, aku akan menelfonmu jika aku dalam masalah,”

“berhati hatilah,”

“ya..” jawabku seraya pergi.

 

Aku berjalan, menapaki trotoar kota seoul. Melihat sekeliling kota, taman dan beberapa pusat perbelanjaan yang masih terang menderang. Aku merasa asing dengan seoul, atau mungkin karena aku terlalu lama di china?

Namun tidak asing bagiku untuk tempat yang satu ini, meskipun seharusnya aku melupakan tempat ini, tapi entahlah aku merasakan tubuhku yang membawaku kesini, Mui Mui Café, meskipun manya sedikit aneh namun café ini café yang paling bersejarah untukku.

‘café ini tidak pernah berubah, hanya saja orangnya yang berubah, seperti aku dan chanyeol,’ bantinku dalam hati.

Disaat seperti ini, disaat aku sangat merindukan chanyeol, disaat aku kembali ke seoul dan tujuan utamaku untuk bertemu dengannya, setidaknya berjabat tangan, berbicara sedikit, meminum teh hangat bersama, atau menonton film di cinema. Aku sangat ingin bertemu dengannya, apakah aku bisa bertemu dengannya dalam waktu 1 minggu ini?

 

Tanpa sadar aku sampai di taman sebrang café, taman dimana kami melakukan ciuman untuk pertama kalinya.

“chanyeol… chanyeol… kau brengsek… atau aku yang brengsek… atau kita sama sama brengsek?”  ucapku pada diriku sendiri, Aku berjalan lebih dalam menuju taman, mencari tempat dimana saat itu aku menunggu kris hingga menggigil, dan chanyeol datang dengan nafasnya yang berisik.

yatuhan… aku benar-benar merindukannya.

 

“chanyeol, apa kau merindukanku seperti aku yang sangat merindukanmu. apa kau tetap bodoh seperti biasanya? apa kau gila karena aku? apa kau selalu menjahili managermu? apa kau baik pada teman temanmu? Apa kau masih memakan daging pork? makanlah makanan yang bergizi… jangan mabuk… lebih baik kau minum anggur atau memakan banyak bibimbab…. chanyeol kau brengsek chanyeol….”

Tak terasa aku air mataku jatuh berlahan, yatuhan… apa tindakanku salah? Lebih memilih kris padahal hatiku hanya untuk chanyeol? Berusaha mendekatkan hatiku untuknya, berusaha untuk membuka hatiku untuk kris, berusaha menciumnya setiap hari, berusaha menjadi istri yang baik untuknya… tapi apa arti semua itu jika dihatiku tetap chanyeol? Apa artinya jika difikiranku, dan batinku sekalipun hanya chanyeol? Hanya chanyeol yang dapat menjamahiku..

“chanyeol… chanyeol aku sangat brengsek!!!” teriakku sambil menangis,

Aku memang kekanak-kanakan, tidak bisa menahan emosionalku, aku akui itu tapi sungguh, kali ini aku benar benar bingung, hampir gila, mengapa hidupku harus serumit ini, mengapa sulit hanya untuk merasakan cinta? Mengapa sulit hanya untuk hidup bersama orang yang aku sayangi? Mengapa??

Aku tahu Tuhan maha adil, tapi apakah ini adil? Kurasa tidak.

 

Aku mengambil ponselku, membuka deretan trek lagu di ponselku, mendengarkan only in dream, sebuah soundtrack lagu instrumental, lagu yang selalu chanyeol putar ketika aku menangis, ketika aku tidak bisa mengontrol emosiku dan kini lagu ini selalu aku putar ketika aku merindukannya..

“aku memang bodoh, chanyeol. akulah yang terbodoh diantara orang bodoh, aku bodoh lebih memilih perasaanmu yang tersakiti tapi.. chanyeol aku sangat mencintai ayahku, aku sangat mencintainya. Chanyeol apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus bunuh diri? Apakah aku harus pergi ke sesuatu tempat yang tak berpenghuni?? Apa yang harus aku lakukan??”

 

“chanyeol jawab aku!!!!” aku berteriak sambil menangis bagaikan orang gila, aku tidak peduli orang akan mengatakan aku gadis gila atau aku gadis pemabuk, terserah! Aku tidak peduli!

Menangis dan terus menangis, entah berapa butiran air mata yang sudah keluar dari mataku. Aku tidak menghapus airmatanya, aku sibuk menangis, bersandar dibawah pohon, pohon tempat aku bersandar ketika chanyeol menghimpitku dan menciumku mesra…

Aku melempar ponselku hingga lagu tersebut berhenti, entah kemana kulempar ponselku, aku tidak peduli.

 

“kau tidak brengsek ahra… ” Aku menoleh kebelakang, mencari dari mana suara itu datang namun mataku sulit melihat, buram, terlalu banyak air mata menumpuk di mataku.

 

“bukan hanya kau yang hampir gila karena merindu, aku juga mengalami hal yang sama, bahkan aku lebih sakit dibanding kau, aku harus menerima kenyataan bahwa gadis yang aku cintai kini sudah menikah dengan pria lain..”

 

-DEG-

Pria berpostur tubuh tinggi, rambutnya sekarang panjang setelinga, memakai jaket tebal dan memakai topi kesayangannya. Dia menaruh tangannya di saku, aku bisa melihatnya sedikit mengeluarkan air matanya,

 

 

“bukan kau orang terbodoh, tapi akulah orang terbodoh di dunia ini… akulah orang bodoh yang tidak bisa menjagamu, akulah orang bodoh yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karirku sekarang…” Dia menghadapkan wajahnya ke langit, berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya meskipun aku tahu dia sekarang sudah menangis.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku masih menangis, dan entah sampai kapan aku menangis. Pria yang selalu aku rindukan, selalu aku ingat, pria yang selalu memberikanku kebahagiaan, pria yang selalu singgah dihatiku kini ada di depan mataku, dia menatapku dengan matanya yang berbinar dan sedikit mengeluarkan air mata. Dia memakai topi kesayangannya, topi yang aku belikan untuknya, topi yang selalu dia pakai kemana-mana. Aku tahu dia pasti memakainya, selalu memakainya, karena aku tahu dia sangat mencintaiku, begitupun aku yang sangat mencintainya.

“chanyeol, park chanyeol…”

-TBC-

 

Hallo!

Lanjut gak nih FFnya??? Hehe. Oh iya, Saya mau sedikit bercerita tentang pembuatan FF dear my lover chapter 2 nih, saat itu saya  bikinnya malem-malem jam 10 karena belum bisa tidur. terus gak sengaja keputer lagu only in dream OST you are my destiny. Meskipun Cuma instrumental, tapi feel-nya itu kerasa banget(?) pas saya lagi bikin bagian ahra ketemu sama chanyeol, admin bener-bener menghayati lagunya supaya kerasa feel ahra disitu yang ceritanya udah hopeless, gatau harus milih chanyeol atau keinginan ayahnya.  lagu itu emang enak banget didengerin kalau lagi baca cerita sedih atau lagi galau, hehe. Tapi kalian jangan pada galau ya~ kkkk.

Dan terima kasih buat kritik, saran, comment dan like kalian yang selalu kalian sempet kirim, itu dijaddin motifasi buat saya supaya menjadi penulis yang lebih baik lagi. Hehe^^

Iklan

23 pemikiran pada “Dear My Lover (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s