My Sweet-Little Sin

Title                                       : My Sweet-Little Sin

Author                                  : Soo Ra, Kim. (@namputz)

Genre                                   : Romance

Main Cast                           :

  • Kim Soo Ra (OC)
  • Kim Jong In/ Kai EXO-K

 

Other Cast                          : Bisa dicari sendiri di dalem cerita~ ^^v

Rating                                   : T (Teen)

Length                                  : Oneshot

Disclaimer                          :

FF ini adalah FF pertamaku yang berhasil diposting. Sisanya? FF oneshot amburadul lain yang masih tersimpan rapi di laptop, hehehe. Tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah milik Tuhan YME, but all of the story is fresh from my own mind (?). Author terinspirasi nulis FF ini gara-gara dengerin lagu Speak Now-nya Taylor Swift, tapi subjek ceritanya author ubah, jadi kebalikan sama yang diceritain dalam lagu ^^v

Yang terakhir, mian juga covernya abal!! ^^vv xoxo

Oke gak banyak omong lagi deh authornya, happy reading all~ hope you like it! ^^

 

WARNING: Miss Typo, kekekeke B-)

Komentar, saran, dan kritik author terima dengan senang hati demi perbaikan karya-karya selanjutnya. Once again, Gomawoyo! *bow* ^^

Aku menatap sesosok siluet yang terpantul di kaca dengan perasaan yang sulit dideskripsikan. Antara takjub dan tidak percaya, terselip sedikit kegugupan juga. Rasanya baru minggu lalu aku mengenal pria itu—berkencan dengannya, dan.. disinilah aku sekarang, berdiri mengenakan sebuah wedding dress putih elegan, lengkap dengan bridal veil & bridal gloves berwarna senada. Kau pasti sudah bisa menebaknya tanpa harus bertanya padaku, kan? Yeah, hari ini, 8 November 2012, adalah hari pernikahanku…

Neomu yeppeo,” ucap seseorang yang sejenak kemudian telah merengkuh pinggangku dengan sayang.

Aku menolehkan kepala ke arahnya lalu tersenyum. “Gomawoyo, Suho-ssi.

Suho mengernyitkan kening setelah mengamati bayangan kami di kaca selama beberapa saat. “Tapi.. wajahmu terlihat pucat… Neo gwenchanayo?” tanyanya sambil memegang pipiku—dengan sebelah tangannya masih melingkar di pinggangku.

Lagi lagi aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Ia begitu memperhatikanku, dan sebentar lagi aku akan menjadi yeojanya, gadisnya. Untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Yah, meskipun kami baru saling mengenal—dan itupun karena paksaan kedua orangtua kami, sebuah pernikahan yang tercipta karena perjodohan. Namun Suho adalah pria yang baik. Ia sangat dewasa, matang, dan perhatian, wajahnya pun rupawan. Aku seharusnya bahagia bukan? Ya, seharusnya. Tapi.. entahlah.

Aniya, mungkin hanya sedikit gugup..”

“Tenanglah chagiya, kau tidak perlu gugup atau takut.” Ia mencium pipi kananku sekilas.

Aku menghela nafas—mengulum senyum tipis, berusaha terlihat baik-baik saja walaupun kenyataannya… aku tidak baik-baik saja.

“Sebentar ya chagi, aku ke depan dulu. Masih ada sedikit perlengkapan yang harus diurus,”

Aku mengangguk saja. Suho pun meninggalkanku di ruang persiapan sendirian.

Aku menghela nafas, lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya. Kakiku melangkah dengan sendirinya menuju balkon. Duduk di pinggir jendelanya, menatap sekumpulan burung merpati terbang menjelajah langit pagi kota Seoul.

Aku makin teringat namja itu. Cinta pertamaku, namjachingu pertamaku, dan juga… ciuman pertamaku. Hhhh, aku ini wanita jalang, erangku frustasi. Bagaimana bisa memikirkan pria lain di hari pernikahannya—pria yang bukan mempelainya, bukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya, bahkan bisa dibilang  pria itu, dia, hanyalah bagian dari sebuah ‘masa lalu’.

 Arghhh tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memikirkannya!!! Mungkin kalau tidak ingat rambutku telah tertata rapi, lengkap dengan sebuah veil bersarang di sana, aku sudah mengacaknya sekuat tenaga.

Tiba-tiba semua kenanganku dengan namja itu terputar kembali—utuh, tanpa sedikitpun aku melupakan bagian bagian kecilnya. Terputar begitu saja bagaikan sebuah film pendek. Namja itu, Kim Jong-In—Kai.

 

“Chogiyo!”

Yang dipanggil masih tetap memantulkan bola ke bawah, melakukan sedikit dribble lalu…. Melemparnya sekali tembak—dan bola berwarna oranye itu sukses memasuki ring dengan mulus.

“YA!! Aku sedang berbicara denganmu!!”

Sesosok pemuda menoleh dengan tatapan garang. “Mwo?? Siapa kau? Berani-beraninya berteriak padaku!”

“Mianhamnida aku tidak sopan padamu, tapi aku berharap kita bisa berbagi lapangan. Tolong kau ajak bicara teman teman namjamu itu. Tim yeoja juga butuh tempat latihan.”

Namja itu membulatkan matanya. Hmm, berani juga gadis ini, sebelumnya tidak ada yang melakukan protes terang-terangan—bahkan dengan berteriak dan sedikit membentak ini padaku, aku jadi tertarik.

“Mwoya?” tanya gadis itu galak

“Baiklah, aku akan dengan senang hati memberimu dan timmu sebagian—ah tidak, bahkan seluruh lapangan ini sebagai tempat latihan, asalkan…”

“Asalkan apa?” gadis itu menyela tak sabar.

“Asalkan kau berhasil menang dariku—kita akan bertanding basket, hari ini juga.” Namja itu menyunggingkan sebuah evil smirk—dan sedikit tatapan menghina.

“Arraseo! No rules, deal? But force is not allowed! Waktunya 3 menit!”

Lagi-lagi namja itu hanya bisa membulatkan matanya—disaat ia masih terkesima dengan jawaban cepat si yeoja—gadis itu langsung merebut bola dari tangan kanannya….. dan yah, bisa diduga. Ia berhasil memasukkannya ke dalam ring tanpa hambatan berarti.

“2-0,” seringainya.

“Itu tidak dihitung!

“Ah bagaimana bisa! Aku tidak mau tahu! Pokoknya skor 2-0, UNTUKKU.” Ucap yeoja itu tersenyum puas, sesekali mencoba men-steal bola dari si namja.

Pertandingan berlangsung seru. Keduanya sama sama tidak mau mengalah—masing-masing bergerak dengan cepat, saling melakukan offense sambil tetap menjaga defense mereka.

“Kyaaaaa aku berhasil!!!” teriak yeoja itu ketika bola tembakannya di 20 detik terakhir—berhasil menembus ring. Skor akhir 14-12, untuknya.

Sementara, sang namja? Pemandangan yang kontras, dirinya terkapar lemas di tengah lapangan—saat si yeoja tengah asik berteriak teriak sambil sesekali berjingkrak meneriakkan yel kemenangannya. Namja itu menyeka keringatnya sambil mengacak rambut frustasi. Malu? Sudah pasti. Siapa yang menantang, siapa pula yang dihabisi, hah.

“Arra, arra, sesuai janjiku tadi, kau dan timmu…” si namja menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, “Silahkan berlatih di seluruh lapangan ini.”

“Kekekeke terimakasih ya, maaf tadi mungkin aku bermain sedikit kasar—terlalu semangat, sih.” Yeoja itu menyunggingkan senyum asal, “Hmm ngomong-ngomong namamu siapa? Kita belum berkenalan,”

Sepasang mata keduanya bertatapan. Ada jeda cukup lama diantara mereka.

Namja itu kemudian berdehem pelan, mengulurkan tangan. “Kim Jong-In imnida. Panggil saja Kai.”

“Kim Soo-Ra imnida. Kau bisa memanggilku Soo-Ra.” Gadis itu menjabat tangan Jong-In. Setelah itu, keduanya tersenyum—belum sepenuhnya menyadari sesuatu yang perlahan menyelinap ke celah hati mereka masing-masing.

 

Aku tersenyum miris mengenang pertemuan pertama kami. Pertemuan yang tidak disangka akan membuatku jatuh cinta pada pria itu. Satu-satunya pria yang berhasil membuatku luluh—menguatkanku sekaligus membuatku rapuh di saat yang sama. Melindungiku, menjagaku, memanjakanku… sekaligus menjadikannya sebuah candu yang entah bagaimana—selalu bisa memaksaku untuk kembali padanya.

Air mataku menitik perlahan, membentuk dua sungai kecil di pipiku. Jong-In, Kim Jong-In, Kai-ku, Kkamjong-ku, aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Mungkin aku memang jalang—aku bahkan tidak berhak mendapatkan cinta dari Suho, calon suamiku sendiri. Ia begitu mencintaiku, sementara aku justru menyalahgunakan perhatiannya dan malah memikirkan orang lain. Tapi sekali lagi… aku hanya yeoja biasa. Aku memimpikan sebuah hari bahagia, dimana aku bisa menikah dengan orang yang mencintaiku—dan aku, mencintainya juga…

Sungai dari kedua mataku semakin deras mengalir. Maafkan aku, aku memang jalang—Tapi bolehkah aku berharap, hari ini bukan dia… tapi kau—Kau yang mendampingiku di altar nanti? Kau yang akan mengucap janji sakral itu di depan semua orang—dan kau akan menjadi satu-satunya pria yang bisa membahagiakanku?

 

***

Soo Ra-ya…”

Aku tersentak kaget mendengar suara yang tak asing itu. Cepat-cepat kuhapus air mataku dengan tisu yang kugenggam. “Ne, Suho-ssi? Waeyo? Apakah acaranya sudah mau dimulai?” tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.

“Belum kok…”

Perlahan tapi pasti, ia melangkah ke arahku—dan ia memelukku, dengan sangat erat.

S..Suho-ssi?”

“Aku mencintaimu, Soo Ra-ya.” Ia berkata lirih—namun kesungguhannya tidak perlu kuragukan—lalu mengecup puncak kepalaku cukup lama.

Ah, rasanya aku ingin menangis lagi. Mianhaeyo, Suho-ssi… Jeongmal mianhaeyo…

 

***

Aku berjalan perlahan, berusaha terlihat anggun dan juga percaya diri. Para tamu berteriak penuh sukacita ketika melihatku mulai berjalan keluar. Dari kejauhan kulihat Suho—sedang berdiri di altar, tempat kami mengucap janji yang akan mengikat kami untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Ia sungguh tampan… ya, aku mengakuinya. Dengan kemeja putih yang dilapisi tuxedo hitam, dan dasi kupu kupu putih terang bertengger manis di bawah lehernya.

Langkahku semakin dekat dengan altar. Suho menyambutku di anak tangga pertama—merengkuh lenganku dengan lengannya sambil tersenyum lebar.

Penghulu pun memulai acara utama. Akhirnya… aku harus siap.

“Kim Joonmyun, apakah kau bersedia menerima Kim Soo Ra sebagai pendamping hidupmu—bersamamu dalam suka maupun duka sampai ajal memisahkan?”

Suho menatap penghulu dan menjawab mantap, “Saya bersedia.”

“Kim Soo Ra, apakah kau bersedia menerima Kim Joonmyun sebagai pendamping hidupmu—bersamamu dalam suka maupun duka sampai ajal memisahkan?”

DEG. Inilah giliranku. Yakinkan hatimu, Kim Soo Ra… Lupakan Jong-In. Lupakan pria itu dan berusahalah mencintai Suho…

“Saya ber—”

Ucapanku terhenti seketika—membuat suasana gereja menegang—ketika aku melihatnya, melihat sosoknya, sosok yang begitu kurindukan dan bahkan kunanti-nanti hari ini…. Sosok Kim Jong-In. apakah aku bermimpi?

“Soo Ra-ya!”

Aku tidak bermimpi. Ya Tuhan.. dia benar-benar Jong In-ku… Dan dia sedang berdiri di sana… berteriak lantang ke arahku.

Tanpa mempedulikan tatapan kaget orang-orang dan bisikan mereka yang sibuk berkasak-kusuk—aku melepas highheels putihku, mengangkat bagian bawah gaun yang kukenakan dan tanpa berpikir apapun, berlari ke pelukannya. Pelukan namjaku satu-satunya. Kim Jong In.

Ia membentangkan kedua tangannya lebar, dan langsung merengkuhku ketika aku sampai di hadapannya. Ah… wangi tubuh Jong In memang selalu menenangkan. Kami berpelukan tanpa suara. Kudengar beberapa tamu mulai berdecak dan berbisik-bisik—sepertinya terkejut dengan tingkahku. Maaf, ini memang tidak pantas.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu… Suho-ssi! Astaga! Ia pasti yang paling terkejut di antara yang lainnya. Aku segera melepaskan pelukanku dari Jong In, lalu berlari ke arahnya.

Suho-ssi, jeongmal mianh—”

Suho hanya tersenyum nanar menatapku. “Jangan meminta maaf, Soo-Ra ya. Mungkin kita memang belum berjodoh.”

Mataku berkaca-kaca menatap wajahnya. Aku benar-benar merasa bersalah harus menyia-nyiakan pria—calon suami sebaik dirinya. Tidak seharusnya aku meninggalkannya, tapi setidaknya… kupikir ini lebih baik daripada cintaku untuknya hanya sebatas kupaksakan.

“Pergilah,” katanya, kepalanya mengedik ke arah Jong In yang masih setia menunggu di pintu masuk gereja.

Bendungan air mataku jebol sudah. Aku hanya bisa sesenggukan sambil menganggukkan kepalaku, “Gomawoyo, Suho-ssi. Jeongmal gomawoyo. Aku yakin kau akan mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku… ”

Aku segera berjalan perlahan menuju Jong In.

Semoga kau berbahagia…”

 

***

”YAK!! KIM SOO RA KAU MAU KEMANA HEI!! DAN KAU, NAMJA TAK JELAS, BERANI-BERANINYA MEMBAWA KABUR PUTRIKU! YAK!!”

Aku berlari sekuat tenaga, melirik ke  arah Jong In yang menggenggam erat tanganku. Sedetik kemudian, kami tertawa cengengesan, setengah terengah engah seperti bocah bodoh—tentu saja masih berusaha melarikan diri dari kejaran massa super brutal yang mengejar kami dari arah belakang—siapa lagi kalau bukan Eomma & Appaku.

“Jangan tertawa, nanti kehabisan nafas!!”

“Kau sendiri juga tertawa, pabo!!”

Akhirnya dengan penuh perjuangan, kami berhasil sampai di mobil mini cooper convertible merah milik Jong In. Aku segera naik ke dalamnya, menjulurkan kepalaku, merasakan semilir angin menerbangkan rambut cokelatku. Jong In duduk di sampingku, di bangku kemudi.

Aku menatap wajahnya dalam-dalam, lalu menjatuhkan diri ke seat.

“Aku merindukanmu, Kai-ah. Jeongmal bogoshippodo.”

“Aku lebih merindukanmu.” sahutnya, tetap cuek sambil mencoba menghidupkan mesin mobil. Sikapnya benar-benar membuatku kesal.

“Aku mencintaimu! Apa kau mencintaiku?” ucapku lagi—setengah berteriak.

Apa hal itu perlu ditanyakan?

Hahaha, ia sungguh tidak berubah. Sikapnya yang seperti itu selalu berhasil membuatku rindu. Aku menatap manik mata kecoklatannya, intens. Dan dengan nekat mengecup bibirnya sekilas.

Jong In masih diam di tempatnya beberapa saat setelah aku menciumnya.

Soo Ra-ya,” panggilnya.

Aku masih tetap memalingkan wajahku, memandang ke luar jendela—berusaha menyembunyikan wajahku yang semerah kepiting rebus. Menatap wajahnya yang sempurna itu hanya akan membuatku salah tingkah. “Wae?

“Sekarang kau agresif ya, huahahaha”

Aku menoleh dengan cepat—merasa risih dengan kata ‘agresif’. “YAK!”

Tanganku yang hendak menjitak kepalanya tertahan oleh genggaman tangan besar Jong In. Kini ia berbalik menatap mataku intens.

Saranghaeyo, Kim Soo Ra. Neomaneul saranghae.”

Waktu terasa berputar dalam kepalaku ketika ia memiringkan wajahnya… mendekatkannya perlahan ke arah wajahku. Bibirnya menyapu bibirku, meninggalkan sensasi menggelitik yang tidak dapat kugambarkan. Sebuah ciuman yang hangat dan menyenangkan.

Nado saranghaeyo, Jong In-a, nae Kai, nae Kkamjong…. Jangan pernah meninggalkanku lagi, arra? Atau aku akan langsung menggantungmu ketika kau kembali!” Aku berseloroh, mencoba menyembunyikan air mata haru yang hampir tumpah.

Jong In memelukku erat. “Mianhaeyo. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Mini Cooper Jong In akhirnya menyala tepat di saat kejaran massa semakin mendekat. Jong In memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, dan aku—dengan semena-mena menjatuhkan kepalaku di bahunya sementara ia menyetir.

Aku melepas veilku. Ah iya, aku kan pengantin? Tapi, siapa peduli? Sekarang aku hanya ingin menikmati kebahagiaanku—atau… dosaku? Yah, apapun itu, yang penting, I’ve got my life, there. He’s my real happiness. Dan ini baru awal perjalanan kami yang sesungguhnya.

Iklan

43 pemikiran pada “My Sweet-Little Sin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s