The Last Target (Chapter 3)

Title : The Last Target

Nama author : milkchocholate

Genre : Romance

Length : 3 of ? (on writing)

Main cast : Oh Sehun, Shin Hyera

Other cast : Exo members, Shin Hyera’s friends

 

Author note :

Annyeong~~ 😀

Mian (lagi) updatenya lama~~ *sujud* bnyk hal yang lagi diurus, jd keteteran deh.. hehe *ngeles aja nih -_-*

Jeongmal gomawo yg udah baca chap 1, chap 2, dan msh bersedia baca chap 3 ini.. *terharu* *elap ingus* *reader kabur*

Gomawo for admin, semua reader, yang udah ngomen juga, makasih bgt.. komen2nya bikin senyum2.. hohoho.. dan buat cheonmi, hyoki, sanhee, chaerin, hyura, choya, yang kadang celetukan2nya, cerita2nya jadi ide2 yang diaransemen *berasa lagu* lagi jadi scene2 cerita, hehe..

As usual, Chapter 3 masih aja ancur, jelek, ga rapi, typo dimana-mana, alur ga jelas, cerita aneh, dll, hehe.. tapi terus bantu biar karyanya bisa lebih baik okeeeeeee~~~ 😀

Kepanjangan? Saya tau.. haha..

 

Okelah, Enjoy!!! ^^

Mungkin aku memang bersalah, menodai begitu banyak cinta yang datang padaku

Mungkin aku memang bodoh, menyakiti mereka yang tulus menyayangiku

Tapi setelah semua kesalahan dan kebodohan itu, aku tau kau akan datang, dan menjadi yang terakhir untukku

The Last Target

 

Cofee Factory, Samcheong-dong, 8.00 pm

 

Seorang pria masuk ke dalam cafe dengan interior unik itu, memesan segelas espresso lalu duduk di kursi ujung cafe. Pria itu memang lebih suka duduk di dekat jendela. Tak lama pesanannya datang. Segelas espresso hangat, yang langsung mengingatkannya akan seseorang. Ia meminum sedikit pesanannya itu lalu duduk lebih santai untuk membaca buku.

 

Lama pria itu tenggelam dalam dunianya bersama buku sampul biru di tangannya. Ia lalu menatap keluar, dimana orang-orang tengah berlalu-lalang, menjalankan aktivitasnya masing-masing. Sampai matanya menemukan sosok itu. Sosok gadis dengan wajah nyaris sempurna yang tengah menggandeng lengan seorang pria. Shin Hyera. Sehun hanya tersenyum melihatnya. Ia teringat kejadian seminggu yang lalu, dimana Shin Hyera datang ke sebuah pesta dengan membawa pria itu. Ia hanya tersenyum menyadari bukan dirinya lagilah yang berdiri di samping gadis itu. Tanpa satu kata penjelasan pun dari gadis itu.

 

Shin Hyera dan pria yang digandengnya itu ternyata masuk ke dalam cafe dimana Sehun berada. Mereka menuju counter untuk memesan lalu duduk di sofa nyaman yang jauh dari Sehun.

 

***

 

Sehun masih saja memperhatikan dua orang yang membelakanginya itu. Dua orang yang tampak serasi dengan keeleganan yang memancar dari keduanya. Gadis itu, memang lebih pantas bersanding dengan pria seperti itu. Pria berkharisma yang setara dengan kelas gadis itu. Bukannya kutu buku membosankan sepertinya. Tapi walaupun begitu, Sehun tetap saja merasa.. kata apa yang cocok? Cemburu? Kesal? atau dikhianati?

 

Mungkin benar, ia merasa dikhianati. Hampir sebulan gadis itu bersamanya, bermanja padanya, melakukan banyak hal bersamanya, tapi kini tiba-tiba gadis itu menjauh darinya, dan berada dalam dekapan pria lain tanpa penjelasan apapun. Ia tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia seperti orang patah hati yang kehilangan sebagian nyawanya. Ia sering tiba-tiba datang di hadapan Hyera, mengatakan sepatah kata atau memberi Hyera sesuatu lalu langsung pergi. Membuat Hyera terbengong dengan tingkahnya. Bahkan ketiga sahabat Hyera dengan terang-terangan menyuruhnya agar tidak menganggu Hyera lagi. Tapi Oh Sehun tidak pernah menyerah.

 

Sehun membereskan bukunya, membayar tagihannya lalu berjalan menuju meja dengan sofa berwarna gading tak jauh darinya. Gadis itu tampak sangat kaget melihat Sehun sementara Sehun hanya tersenyum padanya. Sehun menempatkan jaket ditangannya menutupi bagian kaki Hyera yang hari itu memakai rok mini, tersenyum lagi pada keduanya lalu keluar cafe tanpa mengatakan sepatah katapun. Hyera terpaku menatap punggung pria yang baru saja keluar dari cafe itu. Pandangannya kosong, sesuatu seakan mencabik hatinya saat melihat jaket di pangkuannya, bukti bahwa Oh Sehun itu tetap melindunginya walaupun ia sudah memperlakukannya sedemikian rupa.

 

***

 

Byun Baekhyun’s House, 11.00 pm

 

“Baekhyun-ah, aku lapar..”

 

“Aku juga..”

 

“Me too..”

 

“Kami juga..”

 

“Kyungsoo-ya, di kulkas ada banyak bahan makanan, masak apapun yang kau suka..” ujar Baekhyun dengan pandangannya yang tak lepas dari ponselnya. Sudah hampir satu jam penuh ia habiskan dengan menatap layar ponselnya serius, berusaha mencapai score tertinggi untuk game baru yang ada di ponselnya. D.O hanya menatapnya sekilas lalu menuju dapur untuk memasak. Beberapa mengikuti D.O menuju dapur, sekedar melihat atau menganggunya yang fokus memasak. Beberapa lagi diam di ruang tengah, meneruskan misi mereka untuk menggoda Tao, korban kejahilan mereka hari ini.

 

“Daebak.. sudah kubilang game ini pasti bisa kutaklukan..” Baekhyun tertawa melihat hasil scorenya, perjuangannya terus mengulang game yang sama selama hampir satu jam ternyata membuahkan hasil. “Park Chanyeol, kau tak akan bisa mengalahkanku sekarang..” teriaknya ke arah dapur, dimana Chanyeol dan yang lainnya sedang mengganggu D.O. Ia lalu menatap Sehun yang duduk dengan pandangan kosong di sampingnya.

 

“Neo wae?” Sehun tak merespon pertanyaan Baekhyun, hanya terus memainkan asal ponselnya. Baekhyun mengambil ponsel di tangan Sehun, membuat Sehun terperanjat kaget, Baekhyun pun tertawa melihatnya.

 

“Hyung-ah.. aish jinjja…”

 

“Neo wae?” Baekhyun mengulang pertanyaannya tadi sambil memainkan ponsel Sehun. Ia tersenyum melihat wallpaper yang terpampang disana. Seorang gadis yang tengah tersenyum cerah ke arah kamera, memperlihatkan kepolosan dan keceriaan yang katanya tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Entahlah, Baekhyun kurang tau mengenai gadis ini. Yang ia tau hanya, pria di sampingnya, orang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, menyukai gadis itu. Sehun masih tak menjawab. Kini ia malah menatap para hyung-nya yang tengah sibuk menggoda Tao yang matanya sudah memerah.

 

“Gadis ini, bagaimana kabarnya?” Baekhyun memancing Sehun. Topik mengenai Shin Hyera sudah jarang keluar dalam pembicaraan mereka karena ulah gadis itu sendiri. Sehun menatapnya, lalu menatap ponselnya lekat. Ia menghela nafas.

 

“Aku tidak tau..”

 

“Kau harus bisa melupakannya, Sehun-ah..” tiba-tiba dari arah dapur Suho muncul bersama pria lainnya yang tengah membawa piring-piring berisi penuh makanan sementara D.O masih sibuk mencampur soda dengan sirup lemon di dapur.

 

“Shin Hyera tak pernah serius dengan pria, kau juga tau itu kan?” kali ini Kai yang menyahut, ikut memberi masukan untuk Sehun yang akhir-akhir ini terlihat murung. D.O datang dengan minuman di pangkuannya.

 

“Ayolah, mahasiswa tampan, tinggi, kaya, dan pintar sepertimu, mana ada gadis yang akan menolak??” semua tertawa mendengar celoteh Xiumin barusan.

 

“Jadi sekarang aku harus bagaimana?”

 

“Lupakan gadis itu!!” seru hyungnya bersamaan, membuat semua orang termasuk Sehun tertawa. Mereka pun makan bersama, bercanda, membuat lelucon yang membuat semuanya tertawa. Sepertinya sekarang penderitaan Tao berakhir karena semua orang tengah fokus membuat Sehun kembali ceria.

 

***

 

President University, 6.00 pm

 

Taman belakang kampus, tempat yang jarang didatangi para mahasiswa karena letaknya yang berada di ujung kampus. Terlalu terpencil untuk dijadikan tempat bersantai yang nyaman. Namun Shin Hyera, kini tengah duduk tegap di bangku taman favoritnya, berkutat dengan buku-buku teori yang bahkan tak pernah ia buka. Besok adalah test hari pertama dari enam hari test yang dijadwalkan. Ia bahkan mungkin tak akan tau besok ada test kalau bukan Go Sarang, dosennya yang memperingatkannya. Dosennya itu bilang, kalau ia gagal dalam test, ia harus mengulang semester ini. Hyera masih saja membuka-buka buku di hadapannya asal, membaca sekilas kalimat-kalimat membosankan itu lalu menggarisi bagian-bagian yang ia anggap penting saat tiba-tiba seseorang dengan tudung jaket yang menutupi sebagian wajah datang menghampirinya. Orang itu menyerahkan sebuah buku tulis lalu langsung pergi.

 

“Kau..”

 

“Mulai sekarang aku tak akan menganggumu lagi..” ujar orang yang Hyera yakin adalah seorang pria. Pria yang selalu ada di pikirannya.

 

“Sehun?”

 

“Kau mungkin sudah muak denganku, terus-terusan menganggumu padahal jelas-jelas kau bilang kalau kita tidak punya hubungan apa-apa. Jadi mulai sekarang kau bisa tenang bersama pria pilihanmu, aku tak akan mengganggumu lagi.” Lagi-lagi Hyera hanya bisa menatap punggung itu menjauh pergi, perlahan menghilang dari jangkauan matanya.

 

***

 

Shin Hyera’s bedroom, 10.00 pm

 

Hyera membuka buku yang tadi Sehun berikan dan langsung terduduk lemas di ranjangnya. Isi dari buku itu adalah teori-teori, catatan-catatan dari materi yang akan diujikan besok sampai enam hari ke depan. Semua dalam tulisan tangan Sehun yang rapi. Hyera menangis. Menyadari bahwa ia sudah sangat bersalah pada Sehun. Pria itu menuruti permintaannya. Terus berada di sampingnya. Melindunginya. Hyera tak tau lagi apa yang harus dilakukannya. Ia memeluk lutut, merapatkan jaket milik Sehun yang dipakainya.

 

Oh Sehun. Pria itu tampak terlalu biasa jika dibandingkan dengan target-targetnya dulu. Semuanya modis, kaya, supel, populer, tau bagaimana bermain dengan wanita, player, tidak tertarik belajar dan hanya datang ke kampus untuk bermain, setiap malam berpesta, minum-minum, semuanya sama. Tapi Oh Sehun. Pria pendiam yang rendah hati. Pria itu bahkan mungkin lebih kaya dari target-targetnya dulu, tapi ia tidak pernah mau menunjukannya. Ia tetap menjadi Oh Sehun yang sederhana dimana pun, bahkan dihadapannya. Pria perhatian yang selalu gugup dihadapannya karena tidak terbiasa berada di dekat wanita. Awal mereka dekat Sehun bahkan tak berani menatap matanya, tubuhnya akan bergetar hebat kalau ia menyentuhnya. Oh Sehun itu, begitu tulus dan polos.

 

Ia tak tau bagaimana pria itu bisa dengan mudah mengubah hidupnya. Mengubah caranya tersenyum menjadi lebih tulus, mengubahnya menjadi lebih peduli keadaan sekitar seperti Sehun yang selalu membantu orang lain, mengubah fokusnya hanya pada pria itu. Ia benar-benar jatuh cinta. Tapi tiba-tiba ia terusik dengan status Sehun di antara teman-temannya. Ketiga sahabat Hyera itu menganggap Sehun hanyalah targetnya. Satu dari sekian pria yang akan ditinggalkannya setelah tujuannya tercapai. Yang mereka tau Sehun itu sama dengan pria lainnya.

 

Selama ini Hyera tak punya cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Fakta bahwa ia benar-benar mencintai Sehun seperti yang sering sahabat-sahabatnya katakan sebagai sebuah lelucon semata. Ia belum siap menerima nada sinis Yoomi, wajah heran Jin ah, atau tatapan Hani yang tak bisa diartikannya. Ia dan sahabatnya-sahabatnya sudah terlalu jauh untuk kembali menjadi gadis baik yang akan mencintai satu pria saja. Maka ia pun berusaha menepis semua perasaannya. Mencoba menghilangkan nama Oh Sehun dari pikirannya, bersikap seolah ia benar-benar menganggap Sehun hanya pria tidak penting yang hanya lewat saja dalam kehidupannya. Tapi ternyata apa yang ia lakukan malah menyakiti Sehun dan dirinya sendiri.

 

“Hani-ya, Yoomi-ya, Jin ah-ya, aku berbohong..” Hyera bicara pada dirinya sendiri dengan suara lemah, terdengar begitu lirih bahkan oleh telinganya sendiri. “Aku mencintainya. Targetku yang sangat berharga. Ia sudah menjadi target terakhirku bahkan di hari pertama aku mendekatinya. Ia sudah menjadi pria terakhir untukku di hari kedua aku bersamanya. Ia menjadi bagian dari hidupku di hari-hari selanjutnya. Ia menjadi malaikatku di sepanjang hari aku bersamanya. Tapi aku, aku menjadi mimpi buruknya sekarang.” Hyera semakin menelungkupkan wajahnya di antara lututnya. Menyesali banyak hal yang sudah dilakukannya demi menjauh dari Sehun. Pria yang bahkan tak pernah beranjak sedikit pun dari sisinya.

 

Pintu terbuka, menampakan Jin ah, Yoomi, dan Hani. Mereka masuk ke dalam kamar Hyera, langsung menghambur ke arah Hyera yang tengah menangis. Hani memeluk Hyera, menempatkan bahunya untuk tempat Hyera bersandar.

 

“Aku berbohong..” isak Hyera lagi. Hani mengelus-elus punggungnya, mencoba meyakinkan Hyera kalau mereka selalu ada untuknya.

 

***

 

Min Hani, Jung Jin ah, dan Song Yoomi. Ketiganya masih berada di kamar Hyera, mendengarkan semua perkataan Hyera dengan kesadaran dan konsentrasi penuh karena suara serak dan isak tangis kecil Hyera membuat suaranya kabur dan tidak jelas. Hyera menyenderkan bahunya ke arah Jin ah, jaket coklat milik Sehun yang tadi dipakainya kini ia genggam erat.

 

“Aku merasa jadi sahabat yang buruk Hyera-ya. Aku bahkan tidak tau kapan kau benar-benar jatuh cinta dan malah menyuruhmu meninggalkannya.” Yoomi menangis sejadi-jadinya karena merasa bersalah. Pasalnya ia adalah orang yang paling mengucilkan Sehun dan menyuruh Hyera untuk sesegera mungkin meninggalkan pria itu. Hyera hanya tersenyum padanya.

 

“Aku tau kau tak bermaksud seperti itu, Yoomi-ya..”

 

“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” Jin ah masih mengelus rambut Hyera lembut. Hyera lalu menatapnya lama sambil berpikir.

 

“Aku tidak tau..”

 

“Kau harus kembali padanya, Hyera-ya..” ucap Yoomi bersemangat. Membuat ketiga temannya tertawa.

 

“Kemarin kau bilang tinggalkan Oh Sehun, sekarang kau bilang kembali pada Oh Sehun, aish..” Hani menjitak pelan Yoomi yang duduk di sampingnya.

 

“Ya! Kemarin aku kan belum tau masalah yang sebenarnya..”

 

“Tapi, melihatmu seperti ini..” Jin ah sengaja memotong perkataannya, membuat ketiga sahabatnya memperhatikannya dengan wajah penasaran. Jin ah menepuk wajah Hyera lembut lalu tersenyum ke arah Hyera. “Melihat Shin Hyera yang benar-benar merasakan jatuh cinta, menangis dan tersenyum untuk Oh Sehun, membuatku merasa kalau orang yang sedang jatuh cinta itu sangat manis..”

 

***

 

President University, 8.00 am

 

“Sehunnie..” Hyera melongok melihat Sehun hanya melewatinya tanpa melihat ke arahnya. Shin Hyera sudah bertekad untuk benar-benar kembali pada Sehun. Ia sudah berusaha bicara pada Sehun sejak hari pertama ujian tapi yang ia lihat sampai hari ini masih saja Oh Sehun yang dulu sebelum Hyera mendekatinya. Oh Sehun yang tak pernah menatapnya sama sekali. Hubungan mereka kembali canggung. Hyera pun duduk di bangkunya, membuka-buka catatan yang Sehun berikan sebelum waktu ujian dimulai. Ini adalah hari terakhir ujian dan ia tak mau perjuangannya berhari-hari belajar keras sia-sia. Siang ini hasil ujiannya akan langsung keluar dan ia tak mau datang ke ruangan dosennya lagi untuk diceramahi karena harus mengulang semester.

 

***

 

Sehun tengah duduk di bangku kantin paling ujung. Makan ramyeon seafood yang tadi dipesannya dengan tenang saat seorang gadis tiba-tiba duduk di hadapannya. Membuatnya mendongak sekilas lalu kembali menatap makanannya.

 

“Sehunnie..” panggilan Hyera lagi-lagi tak mendapat respon. Hyera pun mulai meminum espresso yang tadi dibawanya. “Aku lulus. Terimakasih bukunya. Aku benar-benar terbantu dengan buku itu..” Hyera tersenyum manis sedangkan Sehun hanya menatapnya datar. Tak mengerti apa yang tengah dilakukan gadis di hadapannya itu. Ia memperlakukan Sehun dengan baik, menyapanya, mencoba mengajaknya bicara, bahkan gadis itu meminta maaf padanya. Tapi Sehun, entahlah. Ia senang melihat Hyera seperti itu. Tapi ia takut itu hanyalah bagian dari permainan Shin Hyera lagi. Ia takut akan mendapatkan hasil akhir yang sama. Ia takut berharap lagi.

 

“Nuguseyo?” Hyera menempelkan ponselnya ke telinga, mendengarkan perkataan lawan bicaranya dengan serius. Hyera pun berdiri, menatap Sehun lalu pergi tanpa mengatakan apapun pada Sehun.

 

“Kau apakan gadis itu?” Kai datang lalu duduk di hadapan Sehun. Menyeruput sedikit minumannya lalu menatap Sehun yang terlihat kebingungan.

 

“Eopseoyo.. wae?”

 

“Ia buru-buru sekali keluar, seperti ketakutan, entahlah.. wajahnya panik dan ya! Sehun-ah.. kau bilang mau mentraktirku..”

 

***

 

Hongdae, 10.00 pm

 

Sehun membetulkan letak tasnya. Matanya terus berputar liar menyusuri jalanan hongdae yang masih ramai. Ia masuk ke jalan kecil di samping restoran jepang, menelusuri jalan kecil itu sampai menemukan jalan buntu. Sehun menghela nafas. Sejak siang ia mengikuti Hyera, yang masuk ke dalam mobil hitam yang tampak mencurigakan. Mobil itu hanya berputar-putar menyusuri jalanan dan berhenti di kawasan Hongdae. Ia kehilangan jejak saat mobil itu berhenti dan orang-orang yang berada dalam mobil turun. Hanya ada tiga orang pria berpakaian serba hitam dan Hyera. Ia tak tau harus kemana lagi ia mencari mereka. Entahlah, sebenarnya Sehun tak tau apa yang tengah terjadi, tapi melihat kepergian Hyera, mobil hitam mencurigakan, dan ditambah tiga pria itu. Membuat merasa Hyera tengah berada dalam bahaya. Ia melihat sekelilingnya, di sisi kanan dan belakangnya terdapat tembok yang penuh tulisan, di sisi kirinya terdapat gudang dengan penerangan minim. Ia lalu menyenderkan tubuhnya ke tembok di belakangnya, mencoba menenangkan pikirannya dari rasa panik dan khawatir akan keadaan Hyera.

 

Sehun melihat seseorang keluar dari gudang itu, diikuti dua orang lain. Ketiganya mengingatkan Sehun akan tiga orang pria dengan pakaian serba hitam yang tadi bersama Hyera. Sehun langsung bergerak perlahan, bersembunyi di belakang drum besar yang di sekelilingnya tampak gelap.

 

“Gadis itu masih saja menangis, merepotkan..”

 

“Ayo kita cari minuman, gadis itu tak akan kemana-mana..” ketiga pria itu pun keluar dari area gudang. Sehun langsung menghampiri pintu gudang yang hampir-hampir tak terlihat karena cahaya lampu yang remang-remang. Tak perlu usaha yang keras karena dengan satu sentuhan saja pintu itu sudah bergerak membuka, mungkin para pria itu lupa menguncinya tadi.

 

Sehun berkeliling, mulai mencari Hyera di tengah remang lampu yang memayunginya. Ia melihat tas Hyera tergeletak begitu saja di lantai. Sehun lalu memungutnya dan menyampirkannya di bahunya. Ia mulai mencari lagi, menyusuri gudang tua itu lagi sambil menggunakan ponselnya sebagai penerangan tambahan.

 

“Aku mau pulang..” suara itu, suara gadis yang dikenalnya. Sehun mempercepat langkahnya sampai ia menemukan sosok gadis yang tengah terduduk lemah di lantai. Memeluk tubuhnya sendiri sambil terisak pelan. Sehun dengan cepat menghampirinya.

 

“Jangan menyentuhku!!” Hyera menjauh dan menepis lengan Sehun yang bermaksud memeriksa keadaannya. Gadis itu bahkan tak berani membuka matanya untuk menatap Sehun. Sehun tak tau apa yang harus ia lakukan. Di saat seperti ini ia malah tak bisa berkata apa-apa. Ia sendiri panik. Takut ketiga pria itu tiba-tiba datang dan melihatnya tengah mencoba menyelamatkan Hyera. Bukan hanya ia gagal membawa Hyera keluar dari gudang itu, tapi bisa saja para pria itu berbuat lebih kejam pada Hyera. Ia bukan tipe pria dalam drama yang akan melawan penculik yang menawan seorang gadis dengan adu fisik. Seorang Oh Sehun akan berusaha menyelamatkannya serapi mungkin, tanpa meninggalkan jejak, lalu di belakang akan membereskannya tanpa gadis itu tau. Agar gadis itu tidak merasa takut dan terancam.

 

Kehabisan akal, Sehun meraih tangan Hyera yang masih meronta dan beusaha menyentuhkannya ke kedua sisi wajahnya. Hyera tampaknya mengenalinya. Ia berhenti meronta dan mulai meraba wajah Sehun. Memastikan apa pria dihadapannya itu benar-benar pria yang dikenalnya.

 

“Sehun-ah..” Hyera langsung membuka matanya dan menangis seketika. Ia tak henti-hentinya meraba wajah Sehun. “Ini benar kau..”

 

***

 

Mereka sampai di mobil Sehun dan Hyera masih terisak pelan sambil berusaha menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tadi siang Hyera mendapat telepon dari seorang pria yang tak dikenalnya. Ia lalu dimasukan ke dalam mobil dan diancam akan dibunuh kalau tak mengikuti perkataan ketiga pria itu. Ketiganya bilang Hyera akan segera bertemu dengan seseorang yang Hyera kenal. Mereka tak menyebutkan namanya, hanya menyuruh Hyera bersiap-siap untuk mendapat balasan atas apa yang telah diperbuatnya. Hyera sendiri tak mengerti maksud perkataan ketiga pria itu.

 

Hyera tampak lebih ketakutan setelah bercerita. Sehun yang bingung lalu mencoba mengusap wajah Hyera, yang kini menatapnya dengan wajah lusuh penuh air mata.

 

“Boleh aku memelukmu?”

 

Dengan tangan gemetar Sehun meraih Hyera ke dalam pelukannya. Membiarkan tangis gadis ini pecah di dadanya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, mengeluarkan semua ketakutan yang tadi ditahannya. Hyera mulai melingkarkan lengannya mengelilingi tubuh Sehun, yang masih tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya diam, memeluk tubuh lemah Hyera lebih erat.

 

***

 

Shin Hyera’s House, 6.00 am

 

Sehun baru saja masuk ke dalam kamar Hyera saat melihat gadis itu menggeliat dalam tidurnya lalu membuka matanya perlahan. Sehun pun menyimpan nampan berisi bubur dan susu itu di atas meja di samping ranjang Hyera yang tengah mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan matanya dengan cahaya pagi yang menyambutnya hangat. Ia lalu bangun, dibantu Sehun duduk menyender ke kepala ranjang di belakangnya.

 

“Makan dulu lalu makan obat, kau demam..” Hyera hanya tersenyum, mendengar kalimat Sehun barusan mengingatkannya akan ia dan Sehun beberapa minggu yang lalu. Saat ia belum bersikap bodoh dengan menentang perasaanya sendiri.

 

Flashback

 

“Dimana kau menyimpan obatnya?” Sehun melongokkan wajahnya di antara celah pintu kamar Hyera dengan wajah panik. Hyera hanya menjawab dengan gerakan matanya. Sehun pun segera menghilang dan datang lagi dengan beberapa merek obat di tangannya. Ia menghampiri Hyera lalu meletakkan obat tadi di meja. Sehun kemudian sibuk dengan mangkuk sup di hadapannya. “Tadi aku meminta tolong Kyungsoo hyung untuk membuatkan sup ini untukmu, jadi rasanya pasti enak..” Sehun menyerahkan sup itu dan Hyera hanya menggeleng, membuat Sehun bingung.

 

“Aku mau disuapi..” Sehun membelalakan matanya. Ini pertama kalinya ada gadis yang meminta hal seperti itu padanya. Pria itu masih menatap kosong mangkuk di tangannya saat Hyera memanggilnya, menatapnya dengan wajah memohon andalannya. Dan Hyera tersenyum senang saat Sehun akhirnya mengambil sendok dan menyuapkan sup itu ke mulutnya.

 

“Setelah makan lalu makan obat lalu tidur, eo?”

 

“Ternyata kau cerewet sekali.. aish..”

 

“Kau harus melakukannya kalau ingin sembuh.”

 

“Arraseo Oh Sehun ssi..” Hyera membuka mulutnya lagi saat Sehun menyodorkan sesendok penuh sup. Tangannya terlihat gemetar karena gugup, membuat Hyera tertawa karenanya.

 

“Kau harus cepat sembuh, Hyera-ya..” Hyera tersenyum menatap pria di hadapannya itu. Pria yang sangat-

 

“Sebentar lagi kan akan ada test sebelum ujian semester, lalu-”

 

“Aku tidak mau sembuh saja!!”

 

Flashback end

 

Hyera menyuapkan sesendok penuh bubur terakhir ke dalam mulutnya. Sehun pun mengambil obat dan menyerahkannya pada Hyera lengkap dengan air putihnya.

 

“Kenapa?” Hyera menyerahkan gelas di tangannya ke tangan Sehun lalu menatap lekat Sehun yang tengah sibuk membereskan peralatan bekas makan Hyera. Sehun menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada mangkuk bubur kosong di tangannya.

 

“Kenapa kau memperlakukanku seperti ini??”

 

“Seperti apa?” Sehun menghentikan kegiatannya, menjawab pertanyaan Hyera tanpa menatap gadis itu.

 

“Kau mengacuhkanku tapi kau menolongku..” Sehun masih saja diam, hanya menatap obat demam milik Hyera di hadapannya dengan pandangan kosong. “Aku-“

 

“Aku hanya berusaha melindungimu..”

 

“Untuk apa? Untuk apa kau melindungiku tapi tak menatapku sama sekali?”

 

“Aku-“

 

“Saranghae..”

 

“Kau tak usah mengatakan hal seperti itu untuk menghiburku, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin melindungimu. Tak peduli kau bersama siapapun sekarang. Tak peduli balasan apa yang akan kudapat.”

 

“Tapi-“

 

“Aku harus pergi. Hubungilah teman-temanmu untuk menjagamu. Istirahatlah..”

 

***

 

TBC

 

Otte otte?? Aneh kan? Geje kan? Bnyk typo kan? TTATT

Oke, jadi Tbc lagi ya sodara-sodara.. hehe.. *nyengir ala chanyeol* *ditimpuk*

Blm tau mau udahan di chap berapa, jadi ikutin aja ya.. okeeee~~~~

Gomawo yang udah baca, ngomen, dll, ketemu lagi di next chap ya.. annyeong~~ 😀 *bow brg cast*

Iklan

41 pemikiran pada “The Last Target (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s