EXO PLANET (2nd Prolog)

EXO PLANET (Beibiiilee Version)

2nd Prologue

Author : Zuleykha Lee a.k.a beibiiilee

Main Casts : Kai and Cho Ikha

Support Casts : All of EXO’ Members

Cameo : Amber ‘F(x)’ – Jonghyun ‘SHINee’

Type : Sequel

Length : 10 Parts (only prediction)

Genre : Fantasy – Universe – Mistery

Rate : PARENTAL GUIDANCE !

Inspired from : EXO Music Video – Mama

Disclaimer : This FF is MINE! The story is mine and made with my-own-brain. Demi Super Junior, kalo sampe ada yang nge-plagiat-in nih FF, gue bawa kasus ini ke pengadilan *kebetulan rumah gue deket pengadilan Jakarta Selatan*

a/n : Yes, this is the 2nd Prologue of EXO PLANET. Thx sebelumnya yang udah komen di 1st prologue-nya.. Aduh, bingung mau ngomong apa. Jangan lupa komen aja ya ceman-ceman… Gak lupa aku juga ucapin thx buat admin-nya yang udah ngizinin aku publish FF disini. Muah muah~

***

Author’ Side

Sudah berapa kali yeoja itu menguap ketika mendengarkan penjelasan Shin Seonsaengnim mengenai partikel-partikel atom dan neutron di kelas Kimia hari ini? Jawabannya adalah puluhan kali. Jujur saja, ia paling benci pelajaran yang berkaitan dengan Ilmu Alam. Begitu rumit dan terlalu sulit dicerna oleh akalnya. Ia lebih suka mempelajari kesenian karena hal itu dapat menumbuhkan daya kreativitasnya.

Ikha menggaruk kulit kepalanya yang terasa gatal. Satu tangannya menopang dagu sedangkan tangannya yang lain memegang pulpen sambil menggerakan benda tersebut dan menggambar sesuatu.

Ia benci menjadi siswi Senior High School. Selama weekdays, hampir delapan jam waktunya hanya dihabiskan untuk belajar. Bukannya apa-apa. Gara-gara terlalu banyak belajar, rambutnya jadi mudah rontok sehingga ia memutuskan memangkas rambutnya hingga mirip seperti rambut Amber—teman sekelasnya.

Mulut yeoja itu terbuka lebar. Lagi-lagi menguap. Apakah tidak ada hal yang lebih menarik selain memperhatikan papan tulis? Jika seonsaengnim-nya itu tampan seperti Orlando Bloom, mungkin ia akan lebih termotivasi. Apakah sekolahnya tidak mampu menemukan seonsaengnim tampan? Setahunya, semua guru di sekolah ini rata-rata berumur diatas tiga puluh lima. Oh man! What the hell!

Pluk!

Sebuah kertas mendarat mulus di hidung Ikha. Yeoja itu mengusap permukaan kulit hidungnya seraya membuka kertas yang sudah tak berbentuk tersebut. Mulutnya terkatup rapat menahan tawa ketika melihat isinya. Ia melirik pada Jonghyun yang duduk tak jauh darinya. Namja itu ber-mehrong ria. Bagaimana tidak lucu? Jjong menggambar Shin Seonsaengnim seperti karakter manga Kobochan.

Yeoja itu menarikan pulpennya di atas kertas, meremasnya setelah selesai menulis pesan, kemudian melemparkan ke arah Jonghyun. Saat ia tengah membidik sasaran, angin musim semi yang masuk melalui jendela kelas menerbangkan kertas yang dilempar Ikha. Bukannya ke arah Jonghyun, kertas itu malah terbawa angin ke arah belakang kelas.

Ikha memutar tubuhnya dan mendapati kertas tersebut berhenti di bangku paling belakang. Mata yeoja itu menyipit. Kertas itu berada tepat di dekat kaki seseorang. Kedua mata Ikha bergerak memperhatikan si pemilik kaki dari bawah hingga ke atas. Alisnya mengeryit ketika mendapati seorang namja tengah duduk melipat kedua tangan di dada sembari mengarahkan pandangan padanya.

Serta merta Ikha mengembalikan posisi tubuhnya menghadap papan tulis. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Setahunya, bangku belakang itu selalu kosong dan tak berpemilik. Ia memang sudah biasa melihat hal-hal seperti itu—hantu dan semacamnya. Tapi ini lain. Namja itu nampak tidak begitu menyeramkan jika dibandingkan dengan hantu-hantu sejenis.

Ikha memberanikan diri memutar sedikit kepala untuk memastikan penglihatannya. Yeoja itu membulatkan mata. Benar. Orang itu masih di tempatnya. Anehnya, ia sama sekali tidak mengalihkan perhatian darinya sejak tadi. Selain itu, ia juga mengenakan pakaian yang jauh berbeda dengan hantu yang pernah dijumpainya. Nampak seperti pakaian perang yang dipakai Legolas di film Lord of The Ring.

Orang itu menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis seraya melambaikan satu tangan pada Ikha. Yeoja itu bergidik. Apa dia itu benar-benar hantu?

Ya! Nugusijyo? (siapa dia?)” Ikha menyikut tulang rusuk Amber—teman sebangkunya yang masih asik berkutat dengan tulisannya.

Amber memutar tubuh menghadap bangku paling belakang sesuai perintah Ikha. Semoga saja yeoja itu juga melihat orang berpakaian aneh tersebut. Masalahnya, dia tidak seperti hantu. Terlalu tampan untuk ukuran makhluk halus.

Nugu? (Siapa?) Tidak ada siapa-siapa,” ucap Amber setengah berbisik. Ia tidak ingin ditegur seonsaengnim hanya karena membuat gaduh di kelas.

Ikha memutar kepala Amber dengan paksa hingga yeoja itu mengaduh pelan. “Perhatikan baik-baik!” bisiknya.

Amber melepas kedua tangan Ikha dengan kasar lalu mendelik. “Tidak ada apa-apa, Kha-ya. Kau jangan menakutiku dengan penampakan hantu lagi!” ucapnya jengkel.

Menyerah. Akhirnya Ikha kembali memposisikan tubuhnya seperti semula. Ujung kuku ibu jarinya ia gigit sesekali. Kesimpulan yang ia dapat: Amber tidak bisa melihat namja tampan berpakaian aneh tersebut. Tapi ia penasaran. Jika memang dia itu hantu, tidak mungkin penampakannya seindah itu.

Ikha mengintip namja itu sekali lagi dari celah tubuh Amber. Penglihatannya masih sama. Ia masih duduk di bangku kosong itu sambil terarah padanya. Ketika si namja menopang dagu menggunakan satu tangan sambil mengedip ke arahnya, serta-merta Ikha langsung mengumpat pada tubuh Amber.

Yeoja yang selalu berpakaian seperti pria itu lagi-lagi mengaduh. Konsentrasinya terusik oleh tingkah Ikha. Amber berusaha menyingkirkan tubuh Ikha yang terus saja menempel padanya. Tapi Ikha malah semakin mengeratkan pelukannya.

See? Dia melihatku, Amber-ah! Apa kau benar-benar tidak melihatnya?” oceh Ikha.

“Aku tidak mau mendengar ocehanmu, Kha-ya. Tidak ada siapa-siapa disana. Kumohon, berhentilah mengerjaiku dengan hantu-hantu konyolmu itu,” tukas Amber seraya mendorong Ikha menjauh darinya.

Ikha mengusap tengkuk lehernya dengan cepat. Ia masih belum berani melihat ke belakang. Lagipula Amber sepertinya tidak membantunya kali ini. Mungkin karena ia masih dendam padanya. Well, agak sedikit jahil memang. Ikha memiliki kemampuan bisa melihat makhluk halus. Sebenarnya ia tidak pernah menganggap hal itu sebagai sebuah kelebihan. Jika ia tidak membiasakan diri dengan hantu-hantu berbagai bentuk yang menyeramkan, mungkin ia lebih memilih untuk bunuh diri.

Karena Amber adalah salah satu teman yang mengetahui kemampuannya, ia pernah mengerjai Amber beberapa hari lalu. Iseng, Ikha membawa Amber ke ruang laboratorium yang jarang ditempati oleh para siswa. Ketika Ikha menceritakan bahwa semua hantu disana berusaha untuk masuk ke dalam tubuh Amber, sontak yeoja itu lari terbirit-birit menuju tempat yang lebih ramai. Ikha tergelak melihat temannya yang boyish itu lari tunggang-langgang. Tak disangka, cerita bohongnya itu membuat Amber trauma berada di area sekolah sendirian.

Oke, sebaiknya ia lebih konsentrasi mempelajari teori yang Shin Seonsaengnim ajarkan. Mungkin hal itu lebih baik ketimbang memperhatikan hantu tampan di pojokan ruang kelas.

“Apa kau bisa mendengar suaraku?”

Ikha—yang semula mencoba untuk memahami struktur atom dan sistem periodik—langsung termangu di tempat. Ia mendengar seseorang seperti sedang berbisik padanya. Yeoja itu memutar kepala menghadap Amber. Namun ia langsung menggeleng. Tidak mungkin yeoja itu berbisik padanya. Lagipula suaranya terdengar lebih maskulin.

Kepalanya ia putar ke sebelah kiri. Gikwang dan Yeoseob sedang serius menyimak pelajaran. Tak jauh darinya, Onew dan Minho malah menutup kepala mereka masing-masing dengan buku. Sepertinya mereka tertidur di kelas. Berarti bukan mereka yang berbisik. Lalu?

“Tengoklah ke belakang,”

Bisikan itu lagi-lagi terngiang di telinga Ikha seolah menjawab ketidaktahuan dirinya. Tunggu! Menengok ke belakang?

Untuk kesekian kalinya Ikha mencoba menengok ke belakang bangku kosong. Yeoja itu menyipitkan mata lamat-lamat. Namja itu lagi-lagi tersenyum padanya. Ia masih menopang dagu. Sama seperti semula.

“Mengesankan,” ucap suara yang muncul di benak Ikha.

Alis yeoja itu menyatu. Kulit dagunya pun mengerut dan membuat yeoja itu tampak seperti wanita tua. Ia memiringkan sedikit kepalanya saat menatap namja berpakaian aneh tersebut. Jadi, suara itu berasal dari namja itu?

Ikha mengeluarkan suara phew pelan. Ini semakin membingungkan. Ia sudah biasa membedakan bisikan manusia dan makhluk halus. Tapi bisikan namja ini… bagaimana ia mendeskripsikannya? Suara si namja tak nampak seperti bisikan hantu-hantu yang pernah mengganggunya.

“Sebenarnya kau itu siapa?” Ikha berbisik di dalam hati.

Selang beberapa detik, namja itu kembali tersenyum. Tubuhnya mulai memudar seiring asap biru pekat yang menyelubunginya, ia tidak lagi nampak utuh seperti tubuh manusia—tembus pandang.

“Kau akan mengetahuinya nanti,” bisikan di sekitar kepala Ikha kembali terdengar.

Ikha membulatkan mata. Tak disangka jika namja itu dapat membaca fikirannya hingga akhirnya….

KRING!

….bunyi bel tanda berakhirnya kelas menggema di seluruh penjuru sekolahan. Yeoja itu mengalihkan pandangan sejenak pada Jonghyun, Amber dan Onew yang mengajaknya ke kantin untuk makan siang. Dan ketika ia memusatkan kembali perhatiannya pada bangku kosong, ia tak menemukan siapapun disana.

Ikha memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menemukan namja itu meski hasilnya sama, tidak ada siapapun di kelas selain teman-temannya yang berebutan keluar kelas.

“Damm*t!!”

***

“Kau yakin tidak akan bergabung dengan kami nanti malam? Biasanya kau tidak pernah melewatkan Friday Night bersama kami,” oceh Jonghyun seraya memasukan sesendok penuh bokkumbab ke dalam mulutnya.

Terdengar suara desah yang cukup berat dari mulut Ikha. “Untuk apa? Aku bosan terlihat seperti gadis tolol di depan Heechul Sunbae,”

Amber tergelak. Hampir saja ia menyemburkan makanan yang masih dikunyahnya. Ia masih ingat ketika Ikha berusaha mati-matian untuk mendapatkan perhatian Heechul—senior yang begitu dibanggakannya—meski hasilnya gagal total.

“Jika kau ingin sunbae cantik itu memperhatikanmu, ubahlah sedikit gaya berpakaian dan rambutmu. Lihat, bahkan kau kalah dengan Key. Dia bisa menjelaskan seluruh peralatan make-up hanya dalam waktu tiga menit.” Seloroh Amber.

Ikha melayangkan tissue ke arah Amber. “Aku sudah terbiasa bergaul dengan orang dekil macam kalian. Jadi aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau feminin.”

Jonghyun pun ikut melempari Ikha dengan tissue. Tidak terima sudah disebut orang dekil olehnya. “Oh, Sunbaenim mengajakku ke salah satu bar di daerah Hongdae. Yakin tidak ingin ikut?” ajaknya.

Alis Ikha mengeryit. Mulutnya bergerak membentuk kalimat ‘Maksudmu Heechul?’ tanpa mengeluarkan suara. Jonghyun mengangguk. Well, sepertinya ia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Entah kenapa Jonghyun bisa dekat dengan Heechul dua hari ini. Dia bilang alasannya hanya satu: karena golongan darah mereka sama. Hey! Come on! Dirinya juga seorang AB Type! Kenapa Heechul tidak mengajaknya juga?

“Sepertinya aku harus berdandan,” gumam Ikha, matanya lurus menatap sesuatu di depannya dengan tatapan kosong. Berfikir, sebaiknya ia harus mengenakan pakaian apa nanti malam.

“Mungkin sebaiknya kau tak datang,” bisik seseorang yang mengiang di benak Ikha.

Tangan Ikha yang tadinya bergerak untuk memasukan segarpu jajjangmyun langsung terhenti. Tubuhnya membeku sejenak dan detik berikutnya kedua matanya langsung beredar ke sekeliling kantin.

Wae? (Kenapa?)” tanya Jonghyun.

Ikha meletakan telunjuknya di bibir, menyuruh mereka untuk diam. Bola matanya tetap bergerak ke kiri dan ke kanan. “Kalian mendengarnya?”

Amber dan Jonghyun saling pandang. Tidak ada yang mereka dengar selain suara riuh kantin seluas gedung SM yang dipenuhi para siswa dan suara alunan lagu LMFAO yang berdentum dari speaker kantin.

“Sebaiknya kau berkenalan dengan hantu-hantu itu agar tidak mengganggumu dengan bisikan-bisikan mereka,” ejek Jonghyun, masih tidak peduli dengan Ikha yang terlihat begitu serius dengan omongannya.

Tak lama, Ikha melihat sekumpulan debu berwarna biru bergerak di depannya. Debu tersebut perlahan-lahan berkumpul menjadi satu, bergerak tak menentu seolah sedang membentuk sesuatu. Yeoja itu sempat melirik ke arah Amber dan Jonghyun yang duduk di samping kiri dan kanannya. Mereka berdua masih terlihat tenang.

“Jjong. Bisa kau pindah dan duduk di depanku?” suruh Ikha tanpa memandang Jonghyun. Ia masih memperhatikan debu-debu bercampur pasir berkilauan yang semakin memadat di depannya.

Ya. Mereka duduk di meja berbentuk persegi. Jonghyun berhadapan dengan Amber sedangkan Ikha berhadapan dengan bangku kosong yang ada di hadapannya. Demi Tuhan. Untuk pertama kalinya ia benci dengan bangku kosong selama hidupnya.

“Jjong,” sahut Ikha. Matanya menatap intens debu-debu tersebut yang hanya terpaut satu meter saja darinya.

Amber dan Jonghyun menatap Ikha yang tak berkedip memperhatikan sesuatu di hadapannya. Mereka mengikuti arah pandang Ikha tapi tidak menemukan apapun selain udara kosong.

Ikha memegang pergelangan tangan Amber cukup kencang, membuat yeoja itu mulai dilanda kegelisahan.

“Ada apa, Kha-ya? Ada sesuatu yang kau lihat?” tanyanya prihatin.

Belum sempat Ikha menjawab, debu-debu bercampur pasir biru berkilauan itu membentuk sebuah tubuh manusia yang tengah duduk tepat di depannya. Debu-debu itu berputar cukup kencang hingga akhirnya memudar lalu menampakan seorang namja yang dilihatnya di kelas tadi pagi.

Ikha menelan ludah. Oke, ia sudah biasa menghadapi para makhluk halus. Tapi penampakan makhluk ini lain dari yang biasa ia lihat. Tubuh namja itu tidak begitu nyata. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan membuat tubuhnya menjadi terawang—tembus pandang. Debu-debu halus berwarna biru masih bergerak di sekitar tubuh si namja meski tidak sepadat tadi.

Yeoja itu terdiam. Ia bisa mengendalikan keadaan. Sekarang ia tinggal menunggu reaksi dari namja ini. Jonghyun dan Amber ikut diam. Ia tahu gelagat Ikha. Pasti ia sedang berusaha berkomunikasi dengan makhluk halus tersebut dan mengusirnya.

Tiba-tiba namja itu membuka mata hingga memperlihatkan bola matanya yang bersinar berwarna biru tua. Mulutnya agak terbuka, membuat gigi taringnya nampak menyala terang. Rambut namja itu pun berubah warna dari hitam menjadi biru ketuaan. Namja itu tersenyum pada Ikha. Senyum yang bagi Ikha begitu mengerikan.

Tidak. Namja ini memang sama persis dengan namja yang dilihatnya tadi pagi. Tapi ada beberapa perubahan pada tubuhnya. Apakah memang seperti ini tubuh asli dari namja itu? Si makhluk halus yang belum diketahui dari spesies jenis apa.

Namja bermata biru itu menyeringai. Tubuhnya mengeluarkan asap biru tua, membuatnya seolah melayang di udara. Ia bergerak mendekati Ikha sambil mengeluarkan suara teriakan yang cukup menyeramkan. Yeoja itu tak kalah berteriak. Kedua tangannya menyilang di wajahnya sambil kedua mata terpejam kuat.

Kemudian tubuh Ikha terjengkang ke belakang saat merasakan tubuh terawang namja itu membenturnya. Ia sempat berteriak menahan sakit ketika tubuhnya mendarat di lantai kantin hingga terdengar bunyi debam keras. Jonghyun dan Amber serta merta membantu Ikha. Keduanya nampak khawatir dan gelisah. Selama ia mengenal Ikha, ia tidak pernah seserius ini menghadapi makhluk halus.

***

Langkah kaki Ikha begitu perlahan memasuki kamarnya. Hari ini ia diantar Jonghyun ke rumah setelah memaksa namja itu untuk tidak meninggalkannya. Ia menutup pintu kamar dengan malas kemudian menempelkan dahinya pada pintu.

Desah nafas beratnya kembali terdengar. Beruntunglah ia masih baik-baik saja—hanya kepala bagian belakangnya saja yang terasa ngilu. Jadi ia masih bisa ikut Jonghyun dan Amber ke Hongdae.

Saat Ikha memutar tubuh, kepulan asap biru tiba-tiba muncul di hadapannya. Makhluk misterius itu kini hanya terpaut beberapa centimeter saja dengannya, membuat yeoja itu menahan nafas saat matanya bertautan dengan mata biru makhluk tersebut yang menyala terang.

“Wow, senang rasanya bisa berdekatan denganmu.” suara itu lagi-lagi terngiang di benak Ikha.

Yeoja itu memperhatikan makhluk tersebut hati-hati. Ia terlihat menyeringai. Bibirnya sama sekali tak bergerak mengucapkan kalimat tersebut. Kesimpulannya adalah: makhluk ini berkomunikasi lewat fikiran.

Nu-nuguseyo? (Siapa kau?)” tanya Ikha, berbisik lebih tepatnya.

Makhluk itu sedikit memiringkan kepala. Seringaiannya menampakan salah satu gigi taringnya. “Tebak saja,”

Tubuh Ikha mengeluarkan peluh. Takut. Ya. Dia ketakutan sekarang. Sejauh ini ia tidak pernah diganggu oleh makhluk halus yang pernah dilihatnya selama ia tidak melakukan kontak secara intens dengan mereka. Tapi makhluk ini berbeda. Sepertinya sangat suka menggodanya.

“Menjauh dariku!” titahnya.

“Coba saja kalau bisa,” ucap makhluk berasap biru tersebut, menantangnya.

Kesal. Ikha pun memajukan kedua tangannya pada tubuh si makhluk yang terawang tersebut. Agak mustahil memang. Pasti kedua tangannya akan sia-sia menyingkirkan tubuhnya yang tembus pandang. Tapi ternyata tidak.

Ketika yeoja itu menggerakan kedua tangannya dan mencoba untuk menjauhkan tubuh makhluk tersebut, ia merasa asap biru yang mengelilingi namja itu berubah padat. Tubuh namja itu utuh sempurna. Kedua telapak tangannya berhasil menyentuh tubuh tersebut lalu…

BLAM!

Tak disangka, dorongan kecil yang dibuatnya mampu membuat tubuh makhluk berasap biru tersebut terpental ke belakang dan menabrak dinding kamarnya. Makhluk tersebut jatuh ke lantai dengan posisi salah satu lutut menopang tubuhnya. Ia mendongakan kepala menatap Ikha, bola matanya berubah hitam dan tak ada lagi asap biru yang mengelilinginya. Ia nampak utuh seperti manusia.

Kau memang seorang Huglooms,” ucap bisikan makhluk tersebut.

Tangan Ikha memegang kenop pintu dari balik punggungnya, bersiap untuk pergi. “Mworago? (apa yang kau katakan?)

Makhluk tersebut berdiri dari tempatnya. tubuhnya kembali tegap. Tak lupa senyumnya mengembang, membuatnya terlihat tampan untuk ukuran makhluk halus. “Kita akan bertemu lagi nanti,”

Namja itu menjentikan jarinya dan seketika menghilang. Hanya menyisakan asap hitam pekat yang mulai memudar dan ikut memudar. Tubuh Ikha merosot ke lantai. Ia masih berusaha menenangkan fikiran. Menyesal karena matanya ditakdirkan Tuhan untuk bisa melihat makhluk yang seharusnya tak dilihatnya.

***

Nyonya Cho melambaikan tangan pada Ikha saat yeoja itu menutup pintu taksi yang ditumpanginya. Untunglah ia memiliki seorang ibu yang gaul-nya setengah mati. Jadi ia dibolehkan pergi bersama Jonghyun meski sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Ia merogoh tas tangannya seraya mengambil ponsel, menekan beberapa tombol untuk menghubungkannya dengan Jonghyun.

“Jjong. Eodindae? (Kau dimana?) Aku sudah di taksi dan mungkin akan sampai 15 menit kemudian,” celotehnya.

Yeoja itu terdiam sejenak, menunggu Jonghyun menyelesaikan kalimatnya. Kedua matanya memperhatikan gedung serta rumah yang melintas. Ia sempat tersenyum saat Jonghyun menceritakan bahwa Heechul mengenakan jas pink. Tapi senyumnya hanya bertahan sesaat ketika ia melihat sesuatu bergerak cepat di balik jendela taksi.

Ikha mengeluarkan suara kekagetannya ketika melihat asap biru yang berkilauan beterbangan di samping jendela. Ikha menyuruh sang sopir melajukan kendaraan lebih cepat namun asap itu tetap bisa menandingi kecepatan taksi.

“Jjong,” bisik Ikha, bicara pada Jonghyun via telefon.

“Wae?”

“Makhluk itu mengikutiku,” Kedua mata Ikha tidak lepas dari kepulan debu biru yang masih beterbangan di luar mengikuti kecepatan taksinya.

“Siapa yang kau maksud?”

“Yang kutemui di sekolah,” Suara Ikha terdengar patah-patah. Ketakutan.

“Jangan bercanda, Kha-ya. Mungkin itu hanya halusinasimu saja dan—“

“YA!”

Suara si pengemudi taksi memotong pembicaraan Jonghyun dan Ikha. Yeoja itu menatap ke depan jalanan dan langsung berteriak ketika si pengemudi taksi membanting setir ke kanan dengan cukup kencang untuk menghindari sesuatu yang menghalangi jalan.

Pengemudi tersebut tidak bisa menyeimbangi taksi yang mulai oleng hingga akhirnya mobil terjungkal dan sempat berputar beberapa kali di jalanan yang cukup ramai. Taksi tersebut sempat menabrak beberapa mobil lain dan berhenti ketika benda itu menabrak tiang listrik.

Taksi tersebut menggulingkan tubuh Ikha. Yeoja itu bahkan harus berbenturan dengan beberapa benda di dalam mobil ketika terguling beberapa kali di jalanan. Ikha tak sadarkan diri saat kepalanya membentur atap taksi cukup keras hingga membuatnya mengeluarkan darah segar.

Makhluk berasap biru tersebut muncul di depan mobil yang kini sudah tak berbentuk lagi. Ia berjalan menuju tempat Ikha kemudian berlutut di depannya yang kini sudah tak sadarkan diri. Makhluk itu memegang salah satu pergelangan tangan Ikha lalu memejamkan mata. Tak lama, tubuhnya menghilang dari tempatnya dan hanya menyisakan debu-debu berwarna biru terang.

Bunyi sirine terdengar di sekeliling taksi. Beberapa polisi berusaha mengamankan keadaan. Sedangkan petugas kesehatan berusaha mengeluarkan tubuh Ikha dari dalam taksi.

And the Story begins…

26 pemikiran pada “EXO PLANET (2nd Prolog)

  1. hyaaa, kueren bngtz!!! akhirnya ff yg kutunggu2 dipublish juga. kekeke~
    penasaran bngt ma makhluk halusnya. siapa sih? kasih tahu dong.

    sy tnggu next chap nya. fighting!!

  2. wihh makin penasaran aja…Typ tjoba tebak itu antara Kai,Kris or Luhan /kebanyakan/ hihihi
    okelaa ini bagus,Typ kelabakan sendiri gegara penasaran 🙂 Good Thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s