Surat Untuk Sahabat

Author: Park Hyura / Lee Yong Mi / Resti Anisa Lestari

Title: Surat Untuk Sahabat

Cast:

  1. Oh Se Hoon
  2. Xi Lu Han
  3. Park Hyura (You)

Length: Oneshoot

Genre: Friendship, Sad (?)

Disclaimer: EXO adalah diri mereka dan milik SM dan Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan Hyura milik saya *plak!*

Ini FF pertama saya yang dikirim kesini, kalau ada yang mau baca FF lainnya, silahkan add facebook saya: Resti Anisa Lestari. PP-nya itu kertas yang terdapat tulisan hangul dan latin yang berantakan.

Gomawo yang udah baca J *bow bareng Kris*

PS: FF ini pernah dipublish di Stories Called Fanfiction (facebook), tapi dengan cast U-Kiss. Mian typo. Disini Sehun seumuran dengan Lu Han. Lalu, ada yang dicetak miring artinya flashback ya~… *readers: lama bacanya thor!*

Happy reading~…. *blow a kiss*

12 April 2012

Yeoja itu berusaha untuk terus menulis. Sesekali dia berusaha menghapus air matanya, namun apa daya… Air matanya terus berjatuhan di atas kertas itu. Perempuan itu terus terisak, namun dia berusaha menahannya. Dia terus menulis dan menulis.

Tes… tes…

            Tetesan darah jatuh ke atas kertas. Yeoja itu tersentak. Dia sadar, waktunya tidak lama lagi…

Tangannya terus bergerak di atas kertas itu, padahal seluruh tubuhnya telah gemetar menahan sakit. Gerakan tangannya pun terhenti, bersamaan dengan kepalanya yang jatuh ke atas meja dan hembusan nafas terakhirnya, menandakan dia telah pergi meninggalkan dunia ini.

Di kertas yang berserakan di atas meja, ada satu kalimat terakhir yang akan terus dia ingat di alam sana.

Kami berdua menyayangimu…

+++

            Namja itu berjalan memasuki perkarangan rumahnya. Dia tersenyum melihat bunga-bunga yang mulai tumbuh di musim semi ini, namun senyumnya menghilang ketika melihat sebuah amplop di depan pintu rumahnya. Dia berlari kecil ke arah pintu, lalu menunduk untuk mengambil surat itu.

Untuk  : Oh Se Hoon

            Dari     : Sahabatmu

‘ Hyura…?’ batin namja itu. Dia membuka pintu rumahnya, lalu dia melangkah masuk ke dalam. Setelah meletakkan tasnya, dia pun duduk di atas sofa dan membuka amplop itu.

Ada 2 lembar surat di dalam amplop itu. Tangan namja itu gemetar memegangnya. Kabar terakhir yang dia dengar, sahabatnya telah pindah keluar daerah karena suatu hal, dan ini adalah surat pertama yang dikirim sahabatnya itu. Dengan terburu-buru, dia segera membacanya.

 

Mokpo, 12 April 2012

            Happy birthday to you…

            Happy birthday to you…

            Happy birthday my bestfriend…

            Happy birthday to you…

 

            Annyeong, Sehun. Apa kabar? Semoga kau sekeluarga baik-baik saja, ya? Kabarku… ya, tidak bisa dikatakan ‘baik’.

            Sehun sahabatku,

            Apa kau tau alasan kenapa aku dan keluargaku pindah? Tidak? Semua berawal sejak kau memperkenalkanku dengan Lu Han. Semua berawal dari itu.

+++

            Sehun terhenyak. Dia ingat, saat dia memperkenalkan Lu Han pada sahabatnya.

“ Hyura!”

            Yeoja itu menoleh. Dia tersenyum melihat Sehun berlari menghampirinya. Namun, senyumnya berubah ketika melihat namja lain di sebelah Sehun.

            “ Sehun-ah? Waeyo?” tanya Hyura bingung. Sehun tersenyum manis lalu dia menyikut namja di sebelahnya.

            “ Hyura-ah, perkenalkan ini teman SD-ku dulu! Namanya Xi Lu Han. Kau bisa memanggilnya Lu Han. Lu Han, perkenalkan ini sahabatku sejak kami baru lahir! Namanya Park Hyura.”

            Namja di sebelah Sehun itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. Hyura hanya tersenyum, lalu dia menyambut uluran tangan namja itu.

            “ Joneun Xi Lu Han imnida. Kau bisa memanggilku Lu Han.” Kata laki-laki itu. Hyura tersenyum simpul.

            “ Joneun Park Hyura imnida. Kau bisa memanggilku Hyura.”

+++

            Sehun kembali membaca surat itu. Entah kenapa, firasatnya berubah menjadi buruk.

            Kau bingung kenapa aku mengatakan ini? Ah, mungkin aku bisa menjelaskannya nanti.

            Apa kau ingat? Setelah pertemuan itu, kita menjadi sahabat. Sahabat yang sangat akrab. Sampai aku sempat berpikir, bagaimana hidupku jika kalian pergi? Apakah aku sanggup bertahan di dunia ini ketika kalian ‘pergi’?

            Namun, pikiran itu segera kutepis jauh. Kalian tidak akan meninggalkanku, kan?

            Tapi, semua kembali berubah ketika aku mengetahui sesuatu. Suatu rahasia. Rahasia yang membuatku menyesal seumur hidup.

+++

            “ Hyura?”

            Hyura menoleh ke arah suara. Dia mengernyit ketika melihat Sehun menghampirinya.

            “ Sehun-ah? Waeyo?” tanya Hyura. Sehun duduk di sebelahnya, lalu dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Hyura semakin mengernyitkan dahinya. “ Waeyo, Sehun? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu…” katanya. Sehun menarik nafas, lalu menghembuskannya kuat.

            “ Beberapa hari ini Lu Han tidak masuk.” Kata Sehun pelan. Hyura menahan nafas mendengarnya. “ Tanpa alasan.”

            “ Tanpa alasan? Bagaimana bisa?!” tanya Hyura ingin tahu. Dia sedikit takut akan kehilangan Lu Han ini.

            “ Mollayo~… Pulang sekolah ini aku berniat mengunjungi rumahnya. Bagaimana? Kau mau ikut?” tawar Sehun. Hyura segera mengangguk. “ Baik, aku akan menunggumu di depan gerbang.”

            Sepanjang pelajaran terakhir, pikiran Hyura menjadi tidak tenang. Dia terus memikirkan Lu Han. Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak masuk sekolah?

            Akhirnya, bel pulang berbunyi. Hyura segera berlari ke arah gerbang. Disana, Sehun telah menunggu.

            “ Kajja, kita pergi!”

            Mereka pun segera pergi ke rumah Lu Han dengan mobil Sehun. Sesampainya disana, Sehun segera menekan bel rumah Lu Han.

            Ting tong…

            Seorang wanita membuka pintu dan menatap mereka berdua bingung.

            “ Mianhae, anda mencari siapa?” tanya wanita itu. Sehun melirik ke arah Hyura, namun Hyura hanya mengangkat bahunya.

            “ Apa ini… rumah Lu Han?” tanya Sehun. Raut wajah wanita itu berubah.

            “ Lu Han tidak ada di rumah.” Jawab wanita itu. Hyura mengernyit bingung. Kalau Lu Han tidak ada di rumah, lantas dimana Lu Han?

            Sekilas, Lu Han melihat sesosok bayangan di dalam rumah. Bayangan itu mirip dengan… Lu Han?

            “ Oh, kalau begitu terima kasih.” kata Sehun. Dia berbalik pergi, namun dia lupa kalau dia pergi dengan Hyura. Alhasil, dia pergi meninggalkan Hyura sendiri di depan rumah Lu Han. Wanita itu menatap Hyura tidak sabar, seakan dia mengusir Hyura dengan tatapannya itu.

            “ Mianhae, tapi saya rasa… tadi Lu Han ada di dalam.” Ucap Hyura. Wanita itu tertegun mendengarnya.

            “ Siapa namamu, Nak?” tanya wanita itu.

            “ Hyura. Park Hyura.” Jawab Hyura. Wanita itu terdiam sesaat, namun akhirnya dia mengizinkan Hyura masuk. Hyura berjalan mengikuti wanita itu ke sebuah pintu. Wanita itu mengetuk pintu di depannya.

            Tok tok tok…

            “ Lu Han?” panggil wanita itu. Tidak ada jawaban, namun pintu itu perlahan terbuka dan terlihat sesosok namja dengan wajah pucat di dalam.

            “ Hyura?” respon namja itu saat melihat Hyura. Hyura sendiri hanya bisa menahan nafas melihat rupa namja itu.

+++

            Sehun menggeleng membacanya. Apa yang terjadi pada sahabatnya itu?

 

Apa rahasia itu? Sebelum aku mengatakannya, apa kau ingat saat aku kecelakaan dan aku kehilangan banyak darah, dan saat itu Lu Han yang mendonorkan darahnya padaku?

+++

            “ Apa?! Hyura kecelakaan?!” pekik Sehun terkejut. Lu Han yang mendengarnya juga terkejut. “ Ne, ne. Kami segera kesana!!”

            Sehun dan Lu Han segera melompat keluar kamar dan berlari menuruni tangga. Mereka mengambil motor masing-masing, lalu mereka mengendarai motor itu dengan kecepatan penuh ke tempat yang telah dikatakan.

 

            “ Ini gawat. Pasien butuh donor darah secepatnya.” Kata Dokter itu. Appa Hyura mengacak rambutnya frustasi.

            “ Tapi persediaan golongan darah O ada kan, Dok?” tanya beliau pasrah. Dokter itu menggeleng.

            “ Rumah sakit kami tidak menyimpan donor darah, dan untuk mengambilnya ke rumah sakit pusat itu butuh waktu. Pasien bisa meninggal dalam kurun waktu tersebut.” Jawab Dokter itu. “ Apa diantara kalian ada yang bergolongan darah O?”

            Appa Hyura jatuh terduduk di atas lantai. Beliau tahu, Hyura tidak akan tertolong. Tidak ada satu pun di keluarganya yang bergolongan darah O, tidak ada… Beliau hanya berharap pada keajaiban…

            “ Golongan darah saya O!”

            Beliau mendongak dan melihat Lu Han, berdiri di depan Dokter itu.

            “ Golongan darah saya O, Dokter. Dokter bisa cek sekarang!” kata Lu Han sedikit panik. Dokter itu pun membawa Lu Han ke ruang lain, sedangkan Appa Hyura sangat beryukur, senang karena anaknya akan selamat.

+++

            Sehun kembali membaca surat itu. Firasat buruknya semakin kuat.

 

Dan kau tau, Sehun? Saat itu Lu Han lupa, benar-benar lupa kalau dia sebenarnya sakit kanker darah. Dan dia menularkan penyakit itu padaku. Ironis, bukan?

 

            Sehun terhenyak. Dia tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka, bahwa Hyura tertular oleh penyakit Lu Han, yang merenggut nyawa Lu Han. Kalau begitu, bagaimana keadaan Hyura? Bagaimana keadaan sahabatnya?

 

Saat aku tau aku sakit kanker darah, sama seperti Lu Han, aku menangis, antara sedih dan bahagia. Sedih karena aku akan meninggalkanmu, bahagia karena aku akan bertemu Lu Han lagi…

            Apakah kau tau, Sehun? Aku menganggap Lu Han sebagai saudaraku sendiri. Walaupun dia lebih muda beberapa bulan dariku, tapi dia seperti oppa yang sangat perhatian. Aku merindukan sosok itu, aku sangat merindukannya…

+++

            Sehun heran melihat Hyura yang beberapa hari ini selalu merenung. Wajahnya pun terlihat pucat, entah kenapa. Semenjak kepergian Lu Han satu bulan yang lalu, Hyura berubah drastis.

            “ Hyura?” panggil Sehun. Hyura hanya mengangkat kepalanya, lalu dia menunduk lagi. Sehun duduk di depannya. “ Kau kenapa, Hyura? Beberapa hari ini kau terlihat pucat…”

            Sehun menyentuh pipi Hyura pelan, namun Hyura segera menepis tangannya.

            “ Mian, aku refleks jika ada yang menyentuhku.” Kata Hyura, lalu dia tertawa pahit. Sehun mengernyitkan dahinya. Dia bingung melihat Hyura.

            “ Sebenarnya kau kenapa, Hyu?” tanya Sehun lagi. Hyura mengalihkan pandangannya.

            “ Cih, aku tidak apa-apa Sehun. Sekarang bisa kau pergi? Aku ingin sendiri.”

            Bagaikan tersambar petir, Sehun tidak menyangka Hyura bisa mengatakan kalimat itu.

            “ Hyu, Hyura…? Benarkah kau… mengusirku?” tanya Sehun tidak percaya. Hyura menatapnya tajam. Sehun tidak menyadari mata Hyura yang sangat sayu.

            “ Ne, benar. Bisa kau pergi sekarang?”

+++

            Tangan Sehun kembali bergetar. Jika Hyura tertular penyakit itu, maka dia akan…

 

Aku sudah terjangkit penyakit itu, Sehun. Dan saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada di dunia ini.

 

Tes… tes…

Tetesan air mata Sehun perlahan jatuh ke surat itu. Dia berniat melempar surat itu, namun dia tidak bisa. Dia tidak bisa melakukannya…

 

Tenang saja, uri Sehunnie. Walaupun aku dan Lu Han tidak ada, kami akan tetap berada di sebelahmu, Sehun. Kami berdua menyayangimu…

 

Sehun menangis. Dia memukul meja di depannya dengan kuat, lalu meremas kepalanya. Dia terengah-engah, tidak percaya akan fakta yang mengatakan kalau dua sahabatnya telah pergi.

“ Kalian…” lirih Sehun pelan. “ … jahat.”

+++

            Sehun melangkahkan kakinya ke tanah pemakaman itu. Dia tersenyum miris melihat dua nisan yang berdampingan.

 

Xi Lu Han

            Lahir   : 20 April 1994

            Wafat   : 12 Mei 2010

 

            Park Hyura

            Lahir   : 22 Januari 1994

            Wafat   : 20 April 2012

 

Sehun tersenyum miris. Dia meletakkan sebuket bunga di antara dua makam itu, lalu berdo’a sejenak. Setelah berdo’a, dia menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Dia menatap dua makam itu bergantian, lalu meletakkan sebuah amplop di dekat buket bunga itu. Setelah itu, dia berjalan pergi.

Entah bagaimana caranya, angin bertiup sedikit kencang sehingga menerbangkan amplop itu. Bukan terbang ke samping, melainkan ke atas. Ke arah cahaya matahari yang bersinar lembut, menerangi dua makam itu.

+++

            Dear sahabatku, Lu Han dan Hyura…

            Apa kabar? Sepertinya waktu telah berlalu lama sejak terakhir kali kita bertemu… 2 tahun kan?

            Kalian jahat… Kalian tidak mengatakannya padaku… Kenapa kalian menyimpan semua ini? Aku kan sahabat kalian… Kenapa kalian tidak mau menceritakan sedikit saja padaku…?

            Yaah, aku tidak akan menulis panjang lebar. Lu Han, kumohon jaga Hyura disana. Hyura juga, kumohon jaga Lu Han disana. Kalian sahabatku yang paling kusayang, jadi jangan bertengkar disana.

            Jika waktuku sudah datang, aku janji aku akan menyusul kalian. Aku janji.

 

Sahabatmu yang menyayangimu

 

Oh Se Hoon             aa

 

THE END

 

Gimana? Author gak yakin ini genre sad lho….

Jangan lupa comment ya,,baik itu kritik maupun saran…

Gomawoyo! *bow*

Jangan lupa comment ya,,baik itu kritik maupun saran…

Gomawoyo! *bow*

43 pemikiran pada “Surat Untuk Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s