Behind The Plan (Prolog)

Author : Evanne Mark

Cast : Wu Yi Fan/Kris, Lee Sora (OC) -cast akan bertambah seiring dengan bertambahnya Chapter. So, Stay tune!-

Genre : (Sementara ini) Family dan (Sedikit) Romance

Rating : PG13

Title : Behind The Plan (The Beginning)

Note : Jangan marah atau menyalahkan saya kalau FF ini terkesan abal ya.. Saya emang baru di dunia per-fanfic-an. Maaf kalau alur terlalu cepat, atau ceritanya yang membosankan. Tapi saya ingatkan, rating bisa berubah di beberapa chapter. Dan ini baru The Beginning-nya. Jadi mungkin masih pendek. Saya ingin mengecek anutsiasme dari pembaca terhadap cerita saya J. Ya sudah, kalau begitu. Selamat membaca J-

“Halo Lee Sora. Aku Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilku Kris kalau kau mau. Aku tutor barumu,”

Satu.. Dua.. Tiga.. Empat. Kemarin ia menarik otot bibirnya membentuk empat kata yang sukses menghancurkan hari mingguku yang ceria dan penuh semangat.

Tutor.

Aku benci hal-hal berbau tutor, dan pelajaran berjadwal walaupun aku belum pernah merasakannya. Singkat. Aku sama sekali tidak suka belajar. Tapi aku mampu meraih 20 besar paralel dari lebih dari 300 siswa angkatanku di sekolah.

Aku anak dari seorang agen FBI. Sejak umur 10 tahun, aku dilatih untuk bisa mempertahankan diriku. Tapi aku senang melakukannya. Tidak ada paksaan. Aku memang menyukai bidang ini. Aku bertemu banyak orang yang jauh lebih berpengalaman dan lebih dewasa dariku, karena ayahku. Aku mencintai ayah. Dan kau tidak akan bisa membayangkan sebagaimana aku mengidolakan ayahku. Pria yang pulang sebulan sekali dari Amerika hanya untuk memastikan keadaanku-ibuku meninggal ketika melahirkan aku-saja. Ia orang yang bijaksana dan sabar.

Tapi tidak sebijaksana mengirimkanku seorang tutor.

Aku tidak setuju, tapi ia dengan senyum lembutnya mengusap rambutku. Menaruh kepercayaan di matanya padaku, yang aku tak pernah tahu apa maknanya. Tapi berkat senyum, tatapan, dan usapannya dirambutku, aku menyetujuinya. Walau aku tak tahu apa yang ia rencanakan.

Kembali kepada Wu Yi Fan yang karena aku mau, aku memanggilnya Kris. Kris anak sahabat ayahku dari SMP dulu. Ketika ayahku mempunyai uang dari hasil pekerjaannya menjadi intelegent, ayah Kris lebih memilih membangun-atau lebih tepatnya-meneruskan perusahaan raksasa keluarganya.

Sejak pertemuan pertama, aku tidak pernah menyukai remaja bermarga Wu itu. Aku pernah satu kali bertemu dengannya ketika masih kelas 1 SD, dan dia selalu menempel pada ibunya. Padahal waktu itu ia adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun (selisih umur 4 tahun denganku). Kris langsung membuatku tidak suka. Mungkin karena aku terbiasa jauh dari ayah. Tapi aku hanya membencinya. Bukan orang tuanya. Apalagi ibunya yang orangCanada. Wu orang-orang baik. Mereka suka membelikanku benda-benda cantik jika bertemu. Dulu.

Dan ketika sekarang aku yang berumur 16 tahun bertemu dengannya, aku agak kaget.

Oke. Dia tampan tingkat dewa. Aku nyaris tidak bisa menahan mulutku agar tidak menganga bodoh di hadapannya. Bagaimana bisa anak laki-laki pendek berumur 10 tahun itu bisa tumbuh dengan gen yang sama sekali berbeda? Dia punya garis rahang yang tajam. Membuatnya terlihat benar-benar seorang laki-laki.

Tapi tetap saja aku menganggapnya orang kaya lemah yang manja. Walaupun dia tampan sekali. Oh. Seseorang tolong aku.

Aku membenci orang-orang yang tinggal di mansion. Walaupun aku sendiri tinggal di mansion. Mereka mementingkan individualisme. Tidak pernah ada kumpul-kumpul atau mengobrol bersama tetangga, karena mereka lebih mencintai uang mereka.

Dan aku beranggapan bahwa Kris pasti juga begitu.

Aku jadi penasaran. Bagaimana bisa anak manja seperti dia menghadapi seseorang seperti aku? Tentu saja aku menyetujui pernyataan ayah bukannya tanpa rencana. Kalau dia yang memutuskan untuk berhenti dengan kemauannya sendiri, itu sama sekali bukan salahkukan?

Aku berjalan ke meja makan. Mencomot satu buah roti tawar, lalu memakannya besar-besar. Kris akan datang nanti jam 7 malam, dan mulai memberi pelajaran padaku. Padahal aku sedang tidak mood belajar.

Aku masih belum paham apa yang sebenarnya dipikirkan ayah. Ayah tahu kalau aku bisa menjaga prestasiku. Dan dia selama ini membiarkanku belajar dengan caraku. Tanpa tutor.

Mataku tidak sengaja bergerak menelusuri ruang makan mansion kami yang kelewat besar. Mansion ayah ini memang benar-benar kelewat besar. Isinya hanya aku dan pelayan-pelayan, juga ayah di satu hari dalam sebulan. Aku sama saja hidup sendiri di sini. Seharusnya, ayah membelikanku sebuah apartement yang pastinya jauh lebih kecil daripada mansion selebar stadion tapi kekurangan isi seperti ini.

Aku melemparkan desahan kecil dan lelah. Tiba-tiba aku rindu ayah dan ibu. Walau aku tidak pernah bertemu dengan ibu, tapi aku tahu ibu orang baik. Dia pasti lebih memilih aku daripada nyawanya sendiri. Itu sebabnya ia melahirkan aku.

Sejenak mansion ini jadi lebih sepi dari biasanya. Dan aku baru menyadari satu hal.

Aku terlalu kesepian.

Author : Evanne Mark

Cast : Wu Yi Fan/Kris, Lee Sora (OC) -cast akan bertambah seiring dengan bertambahnya Chapter. So, Stay tune!-

Genre : (Sementara ini) Family dan (Sedikit) Romance

Rating : PG13

Title : Behind The Plan (The Beginning)

Note : Jangan marah atau menyalahkan saya kalau FF ini terkesan abal ya.. Saya emang baru di dunia per-fanfic-an. Maaf kalau alur terlalu cepat, atau ceritanya yang membosankan. Tapi saya ingatkan, rating bisa berubah di beberapa chapter. Dan ini baru The Beginning-nya. Jadi mungkin masih pendek. Saya ingin mengecek anutsiasme dari pembaca terhadap cerita saya J. Ya sudah, kalau begitu. Selamat membaca J-

___________

“Halo Lee Sora. Aku Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilku Kris kalau kau mau. Aku tutor barumu,”

Satu.. Dua.. Tiga.. Empat. Kemarin ia menarik otot bibirnya membentuk empat kata yang sukses menghancurkan hari mingguku yang ceria dan penuh semangat.

Tutor.

Aku benci hal-hal berbau tutor, dan pelajaran berjadwal walaupun aku belum pernah merasakannya. Singkat. Aku sama sekali tidak suka belajar. Tapi aku mampu meraih 20 besar paralel dari lebih dari 300 siswa angkatanku di sekolah.

Aku anak dari seorang agen FBI. Sejak umur 10 tahun, aku dilatih untuk bisa mempertahankan diriku. Tapi aku senang melakukannya. Tidak ada paksaan. Aku memang menyukai bidang ini. Aku bertemu banyak orang yang jauh lebih berpengalaman dan lebih dewasa dariku, karena ayahku. Aku mencintai ayah. Dan kau tidak akan bisa membayangkan sebagaimana aku mengidolakan ayahku. Pria yang pulang sebulan sekali dari Amerika hanya untuk memastikan keadaanku-ibuku meninggal ketika melahirkan aku-saja. Ia orang yang bijaksana dan sabar.

Tapi tidak sebijaksana mengirimkanku seorang tutor.

Aku tidak setuju, tapi ia dengan senyum lembutnya mengusap rambutku. Menaruh kepercayaan di matanya padaku, yang aku tak pernah tahu apa maknanya. Tapi berkat senyum, tatapan, dan usapannya dirambutku, aku menyetujuinya. Walau aku tak tahu apa yang ia rencanakan.

Kembali kepada Wu Yi Fan yang karena aku mau, aku memanggilnya Kris. Kris anak sahabat ayahku dari SMP dulu. Ketika ayahku mempunyai uang dari hasil pekerjaannya menjadi intelegent, ayah Kris lebih memilih membangun-atau lebih tepatnya-meneruskan perusahaan raksasa keluarganya.

Sejak pertemuan pertama, aku tidak pernah menyukai remaja bermarga Wu itu. Aku pernah satu kali bertemu dengannya ketika masih kelas 1 SD, dan dia selalu menempel pada ibunya. Padahal waktu itu ia adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun (selisih umur 4 tahun denganku). Kris langsung membuatku tidak suka. Mungkin karena aku terbiasa jauh dari ayah. Tapi aku hanya membencinya. Bukan orang tuanya. Apalagi ibunya yang orangCanada. Wu orang-orang baik. Mereka suka membelikanku benda-benda cantik jika bertemu. Dulu.

Dan ketika sekarang aku yang berumur 16 tahun bertemu dengannya, aku agak kaget.

Oke. Dia tampan tingkat dewa. Aku nyaris tidak bisa menahan mulutku agar tidak menganga bodoh di hadapannya. Bagaimana bisa anak laki-laki pendek berumur 10 tahun itu bisa tumbuh dengan gen yang sama sekali berbeda? Dia punya garis rahang yang tajam. Membuatnya terlihat benar-benar seorang laki-laki.

Tapi tetap saja aku menganggapnya orang kaya lemah yang manja. Walaupun dia tampan sekali. Oh. Seseorang tolong aku.

Aku membenci orang-orang yang tinggal di mansion. Walaupun aku sendiri tinggal di mansion. Mereka mementingkan individualisme. Tidak pernah ada kumpul-kumpul atau mengobrol bersama tetangga, karena mereka lebih mencintai uang mereka.

Dan aku beranggapan bahwa Kris pasti juga begitu.

Aku jadi penasaran. Bagaimana bisa anak manja seperti dia menghadapi seseorang seperti aku? Tentu saja aku menyetujui pernyataan ayah bukannya tanpa rencana. Kalau dia yang memutuskan untuk berhenti dengan kemauannya sendiri, itu sama sekali bukan salahkukan?

Aku berjalan ke meja makan. Mencomot satu buah roti tawar, lalu memakannya besar-besar. Kris akan datang nanti jam 7 malam, dan mulai memberi pelajaran padaku. Padahal aku sedang tidak mood belajar.

Aku masih belum paham apa yang sebenarnya dipikirkan ayah. Ayah tahu kalau aku bisa menjaga prestasiku. Dan dia selama ini membiarkanku belajar dengan caraku. Tanpa tutor.

Mataku tidak sengaja bergerak menelusuri ruang makan mansion kami yang kelewat besar. Mansion ayah ini memang benar-benar kelewat besar. Isinya hanya aku dan pelayan-pelayan, juga ayah di satu hari dalam sebulan. Aku sama saja hidup sendiri di sini. Seharusnya, ayah membelikanku sebuah apartement yang pastinya jauh lebih kecil daripada mansion selebar stadion tapi kekurangan isi seperti ini.

Aku melemparkan desahan kecil dan lelah. Tiba-tiba aku rindu ayah dan ibu. Walau aku tidak pernah bertemu dengan ibu, tapi aku tahu ibu orang baik. Dia pasti lebih memilih aku daripada nyawanya sendiri. Itu sebabnya ia melahirkan aku.

Sejenak mansion ini jadi lebih sepi dari biasanya. Dan aku baru menyadari satu hal.

Aku terlalu kesepian.

19 pemikiran pada “Behind The Plan (Prolog)

  1. Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt ._. si auth niih, udah ngirim dari 2012 juga masa ampe 2013 masih prolog TT^TT thoooorr kejam bener siii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s