Momiji

Author :  Mrs.Chanyeolet ( @chanyeolli27yahoo.co.id)

Genre : Angst
Rating : Teen
Length : Oneshoot
Cast : Byun Baekhyun, Byun Hyuna (you)

Annyeong readers… J

Ini fanfict kedua dari author.. Mian kalo masih belum puas..

Jangan lupa kritik dan sarannya…

Happy reading J

Aku memandang daun momiji yang jatuh pertama kali di musim ini dari jendela sudut rumahku. Daun cantik itu telah berganti warna menjadi merah kejinggaan menyala yang berwarna hijau muda sebelumnya. Sungguh indah diiringi dengan guguran kelopak sakura yang hangat membuat siapapun berdecak kagum. Rumput – rumput kecil diseberang rumah bergoyang kecil karena hembusan angin. Aku menarik kecil kedua sudut bibirku, musim gugur tahun ini telah tiba.

Aku melirik dirimu yang tengah asyik mendengarkan suara cablak penyiar radio yang sedang sibuk membacakan puisi – puisi dari pendengar setianya sambil bersandar pada dinding usang di balkon kecil di sebelah kiri rumah. Kau diam disaat si penyiar berusaha melucu dengan kata – katanya yang konyol dan terkesan bodoh. Kau pun tetap terdiam disaat penyiar itu memplay lagu kesukaanmu. Kau diam dan tetap diam. Aku sungguh sangat hapal sekali akan kebiasaanmu yang tak pernah alpa kau lakukan setiap sore seperti ini.

Aku tertegun, memandangmu yang hanya membisu menatap sebuah radio kecil yang kuno dan usang di hadapanmu. Kau hanya mengamati tanpa menyentuhnya sedikitpun. 10 menit berlalu , dan kau tetap dengan posisimu yang sebelumnya. Serasa kedua mataku terasa panas, tenggorokanku tercekat, tubuhku bergetar hebat. Aku menggigit bibirku keras keras, menahan sekuat mungkin agar air mata ini tidak lagi jatuh. Aku tak ingin kau melihatku menangis untuk yang kesekian kali.

Aku pun kembali untuk menatapmu, kau tetap terdiam sekalipun kini pandanganmu beralih ke arah beberapa pohon momiji yang tumbuh disamping kolam ikan kecil yang selalu beriak di pagi hari di muka rumah itu. Lagi lagi aku tau, kau sangat menyukai daun momiji. Daun unik yang berbentuk seperti bintang berwarna jingga itu seakan memberikan kesejukan padamu saat kau mengamatinya. Meskipun dengan ekspresi datar menghiasi wajahmu, aku tau kau bahagia melihat daun momiji telah gugur.

Lamunanku kembali pada masa silam. Masa dimana kehancuran yang telah tertidur sekian lama kembali terbangun untuk memecahkan semua kebahagiaan yang semula tercipta. Masa dimana keburukan telah mendominasi dengan segala kepahitannya. Masa dimana semua terasa benar benar kacau dan berantakan tanpa ada yang mampu mengembalikannya.

Disaat aku terlanjur menaruh separuh nafasku ke dalam dasar hatimu. Pribadimu yang begitu teduh dan hangat, dan bersedia memberikan bahumu sebagai tempatku bersandar mampu membuatku luluh seketika. Kekosongan jiwa hampa yang sering menyapaku memaksa diriku untuk membawa sosokmu dalam pelukannya. Menempatkannya disana dan mengikatnya erat. Tak akan pernah terganti hingga aku menemukan sosok lain yang mampu mencairkan keyakinanku yang telah membeku untuk selalu berada di sisimu.

Kurasakan begitu pula dirimu, tetap berpegang teguh pada pendirianmu untuk selalu tersenyum padaku ketika mentari menjelang hingga lelapku tiba, berjanji untuk selalu menaungku dalam pelukanmu, dan bersedia untuk selalu bersama sampai waktu dimana aku mampu untuk tetap menjadi diriku. Semua terasa begitu indah. Hatiku berdesir dan merasakan sensasi berbeda ketika jemari tangan kecilku bertautan dengan jemarimu dan menggenggamnya erat setiap senja tanpa pernah melepaskannya. Melihat bintang dalam gelap berdua dan tersadar sinar itu berasal dari sorot matamu yang bercahaya. Saling mendekap satu sama lain dengan lembutnya.

Intim. Ya, bisa dibilang seperti itu. Begitu intimnya bahkan terlalu intim hubungan ini sejenak membuatku buta. Lupa akan segala hal yang dirasa berbeda, hal yang tabu, dan terlarang. Aku berlari. Berusaha menghindar dari kenyataan yang berkata secara jelas bahwa kau adalah orang yang salah untuk mendapatkan perhatian lebih dari diriku. Kau adalah kakak kandungku. Hubungan darah yang tak mungkin bersatu dan mustahil aku dapat menyangkal fakta yang selalu membuat kepalaku terasa sesak dengan beban berat yang ku rasakan saat ini tiap kali aku memikirkannya. Semua sangat menyakitkan dan menyesakkan.

Sampai pada suatu petang menjelang, aku menemukan kau tengah beradu mulut hebat dengan seorang laki laki separuh baya setelah dirinya mengetahui hubungan tak biasa yang selalu kau  sembunyikan dibalik topengmu. Laki laki itu begitu murka hingga kehilangan kendali dirinya sendiri. Menentang keras tentang apa yang terlanjur terjadi dan mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk saling berubah. Namun, tidak  dengan dirimu yang tetap bersikukuh dengan pendirianmu untuk tetap melanjutkan semua. Semua yang terasa ganjal seperti ini.

Hingga aku menatap dengan jelas, semua kebencian dan amarah yang terpendam telah tumpah saat itu juga. Akal sehatmu yang kalah dengan api emosi yang membara seketika membuatmu kalap dan tega berbuat apa saja. Kau berusaha menentang takdir yang jelas jelas berusaha untuk mengingatkanmu arti tentang sesuatu yang terlarang namun kau mengacuhkannya dengan cara menghilangkan seseorang yang begitu dominan hadir dalam setiap detikmu. Seseorang yang selalu menatapmu, seseorang yang menjadi pelindungmu, seseorang yang kau panggil appa.

Sampai detik itu berakhir, kau terbelalak , tersadar dari murkamu dan bergetar. Kau berusaha mundur dan bersembunyi. Menghilangkan jejak dari ketakutan yang selalu mendominasi otakmu yang seakan akan terus berlari meraih dirimu dan memaksamu masuk ke dalam sesaknya. Kau begitu takut  sampai pada akhirnya kau tak mampu lagi untuk menahannya. Kau menolak untuk memandang setiap pasang mata yang selalu menatap gerak gerikmu. Kau menghindar disaat seseorang berusaha berbicara padamu. Kau tetap menutup diri dan bisu.

Aku benar benar benci , aku merasa ingin mengutuki diriku sendiri. Melihatmu seperti itu sunguh benar benar menyiksa batinku. Aku merasa bodoh dan kalah, dunia seakan akan tengah mengejek apapun yang kulakukan. Menghujaniku dengan bisikan bisikan pahit dibelakangku sekalipun aku tau mereka hanya bertopeng simpati didepanku. Menyayat diriku perih dengan lidah mereka yang tajam saat aku telah berlalu dan mulai membicarakan tentang segala hal yang ada pada dirimu. Dan kini, semua terasa benar benar terlambat ditambah dengan keadaanmu yang konsisten untuk tetap seperti itu tanpa menunjukkan sebuah perkembangan yang berarti.

Namun, tanpa disadari aku masih menemukan secuil kebahagiaan setelah semua kepenatan itu memang berakhir tidak seperti yang aku skenariokan. Setitik pancaran yang redup yang selalu tertangkap oleh sorot mataku setiap detiknya di kala aku memandangnya selalu berhasil membuatku merasa tenang.  Matamu. Ya.Terlihat begitu lelah dan sayu tanpa pernah memancarkan sinar kekuatan untuk bangkit seperti sebelum terakhir aku dapat melihatnya. Meskipun seperti itu, aku berjanji. Untuk mengembalikan sinar itu lagi ke dalam sorot matamu yang kosong saat ini. Sama seperti di kala kau mulai memandang indahnya daun momiji yang jatuh untuk pertama kali.

Aku pun bangkit dan berjalan ke arahmu yang masih sibuk memandangi momiji yang berjatuhan dengan indah itu dengan saksama. Aku menghempaskan tubuh kecilku disampingmu dan menyandarkan kepalaku pada bahumu yang lebar dan hangat. Aku tersenyum.

“ Baekhyun Oppa …,” panggilku.

Kau pun tetap tak bergeming dari pandanganmu.

“ Sangat cantik, bukan ? ” tanyaku.

Aku menutup kedua mataku perlahan. Terasa angin berhembus membelai anak – anak poni rambutku yang menutupi sebagian kedua mataku yang menerobos masuk melewati jendela tua yang berada tak jauh dari posisiku saat ini. Sangat nyaman berada disisimu seperti sekarang. Memang.

“ Oppa, Jebal..,” gumamku.

“ Jangan tinggalkan aku sendiri …,”

Angin kembali berhembus untuk yang kedua kali. Terasa lebih lembut dari yang sebelumnya. Meleburkan semua kebisuan. Menghangatkan pancaran kebekuan yang semula tercipta. Dan aku tak ingin semua berakhir.

Oppa, ingatlah. Meskipun warna daun momiji selalu berubah ketika musim berganti. Biarlah takdir membuatnya seperti itu. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa  perasaanku padamu tetaplah sama. Meskipun musim selalu berganti.

 

END-

Iklan

11 pemikiran pada “Momiji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s