Not Her, But You

Author           :           Qyn_Fairy

Genre             :           Romance
Rating             :           Teen
Main Cast       :

–           Do Kyung Soo (D.O)

–           Park Hye Rin

–           Yoo He Yi

Other Cast     :

–           Park Chanyeol

–           Other EXO members

Kyung Soo POV

Lagi, aku terbenam dalam sepi. Termenung dalam malam yang ungu berkabut dengan beberapa bintang yang berkelip samar. Sendiri dalam dinginnya udara bersalju, menatap awan kelabu yang semakin menggelap menutupi bintang-bintang yang tersisa di angkasa. Tiada seorang pun di sini, hanya ada aku, angin, dan salju. Semua membisu.

Entah sudah berapa lama aku terduduk di sini. Semenit? Sejam? Sehari? Entahlah. Rumah sepi senyap. Kai, Baekhyun Hyung, Suho Hyung, Sehun, dan Chanyeol sedang keluar menikmati malam tahun baru. Mereka memaksaku ikut berkali-kali, namun aku kukuh menolak. Mereka mungkin tengah asyik bersenang-senang. Sementara aku? Ya, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku mematung.

Kini gumpalan mendung telah menutup seluruh bintang yang kupandangi sedari tadi. Aku tetap tak mengalihkan perhatianku darinya, masih berusaha menemukan cahaya di langit yang hitam kelam. Tatapanku kosong, kepalaku masih terngiang-ngiang akan bayang wajahnya. Wajahnya, wajah seseorang yang teramat kurindukan.

Tiba-tiba handphone yang tergeletak di sampingku bergetar. Chanyeol. Aku enggan menjawab panggilan itu. Namun suara deringannya yang tak kunjung berhenti cukup mampu membuat telingaku gatal.

“Yeoboseyo?,” sapaku malas.

“Hey, Kyungsoo~a. Ayolah keluar! Apa kau tidak bosan terus menerus duduk sendirian di rumah? Ayo kemari! Kami berkumpul di tempat biasa.  Taman kota,” celoteh Chanyeol.

“Aku tak berminat,” jawabku singkat.

“Tapi kau belum pernah menerima tawaran kami keluar bersama. Kapan lagi kita memiliki waktu luang selain malam tahun baru ini? Ayolah…,” ucap Chanyeol masih berusaha membujuk.

“Ya, tapi aku tak berminat,” kataku sekali lagi.

“Kau tahu? Atmosfernya sangat menyenangkan. Datanglah, Sobat! Tempat seperti biasanya…”

“Tempat seperti biasa katamu? Lalu kau jadikan aku apa di sana? Makhluk malang yang melihat kalian bersenang-senang dengan yeoja kalian masing-masing, begitu??? Puaskah kalian melihatku seperti itu, huh ???”

Prakkk!!! Rasanya tak tahan lagi untuk mempertahankan benda itu di antara tangan dan telingaku. Amarahku meledak. Tak seharusnya aku berbicara seperti itu pada Chanyeol, tapi pengendalian diriku sudah terlanjur runtuh. Aku letih. Handphone satu-satunya yang kupunya telah kubuang dan kini mulai terselimuti oleh salju. Aku tak peduli lagi. Aku benar-benar marah.

Tak tahu lagi aku apa hal yang bisa kulakukan selain diam dam membeku. Rasanya seperti tak punya gairah hidup. Separuh jiwaku menghilang secara tiba-tiba. Dan separuh jiwaku yang tinggal seolah-olah hanya tinggal butiran debu. 10 butir, 7 butir, 5 butir,  2 butir, semakin hari butiran-butiran itu semakin lenyap. Dan jika satu butir yang tersisa dalam jiwaku musnah, entah akan menjadi apa diriku nantinya. Aku tak percaya ia tega melakukan ini padaku. Mengambil separuh jiwaku dan pergi tanpa meninggalkan jejak.

“Ting… Tong…”

Bunyi bel yang terdengar dari lantai bawah membuyarkan lamunanku. Siapa, sih yang bertamu pada rumah sesepi ini? Padahal aku sengaja mematikan lampu bawah agar terkesan sepi. Mengapa pula ia datang saat semua orang pergi keluar merayakan malam pergantian tahun? Aku pun bangkit, berjalan gontai menyusuri anak tangga untuk membuka pintu.

Cklek. Kuputar gagang pintu silver yang terasa sedingin es itu.

Tampak seorang yeoja dengan rambut ikal panjang di depanku saat ini. Ia berperawakan mungil namun terlihat berisi berkat balutan jaket eskimo putih tulang yang dikenakannya. Butiran salju yang masih tertempel di permukaan kepalanya tampak kontras dengan warna rambutnya yang menyatu dengan pekatnya malam. Ia tersenyum lebar, senyum yang hanya dimilikinya dan sangat kukenal. Ia menyodorkan kotak makanan berukuran sedang padaku sambil terus memamerkan gigi putihnya. Sejenak aku terdiam, lalu mengambil benda itu dari tangannya yang mengenakan sarung hangat berbahan wol. Begitulah Park Hye Rin. Selalu rajin mengunjungi rumah kami dengan mambawa sesuatu, yang entah apa itu.

Hyerin POV

Tak pernah bosan rasanya aku mengunjungi rumah ini. Tapi kali ini suasana berbeda, tak ramai seperti biasanya. Ah, tentu saja! Chanyeol, Baekhyun, Kai, Suho, dan Sehun pasti sedang menikmati malam tahun baru bersama kekasih-kekasih mereka. Tapi… Kyungsoo??? Ya, dia sendiri. Ekspresinya lain kali ini. Sedihkah? Marahkah? Kesepiankah? Aku tak dapat menebaknya. Namun, aku tahu dia sedang merasa kecewa. Untuk itulah, aku datang.

“Ayo ikut aku!,” ucap Kyungsoo tiba-tiba.

Seakan-akan tubuhku robot, kakiku berjalan menuruti perintahnya.

Kami sampai di lantai atas. Tapi, tidak. Kyungsoo masih tetap berjalan dan kedua kakiku masih membimbing tubuhku untuk mengikutinya. Balkon. Ya, dia mengajakku ke balkon. Aku tahu dia sangat menyukai tempat ini. Setiap kali aku datang, dia pasti bersemangat sekali mengajakku kamari untuk hanya sekedar menceritakan kesehariannya atau mungkin berbagi masalah. Tapi, untuk apa? Bukankah salju sedang turun dan udara sangat dingin?

“Keberatan di sini?,” tanya Kyungsoo sambil duduk menyilangkan kakinya. Tak lama kemudian ia berbaring dengan kedua telapak tangan sebagai alas kepalanya. Aku berjalan mendekatinya, duduk di sampingnya.

“Tidak,” ucapku lantang.

Angin berdesir lembut membelai tubuh kami. Sementara itu, aku memandang wajah Kyungsoo yang memang terlihat lain dari biasanya. Kulitnya tetap berwarna putih bersih dan cemerlang, namun tak dapat dipungkiri terkesan pucat. Di bawah kelopak matanya, terdapat lingkaran ungu yang terlihat jelas meski dalam kegelapan, semakin memperburuk keadaannya. Kyungsoo yang ini jelas bukan Kyungsoo yang kukenal, bukan Kyungsoo yang tampan, semangat, dan selalu ceria. Bahkan dalam hati aku bertanya-tanya tentang kata apa yang sanggup melukiskan kondisinya.

“Mengapa kau melihatku seperti itu?,” tanya Kyungsoo sejurus kemudian. Sepertinya dia sadar aku memperhatikannya.

“Tidak. Kau hanya terlihat… buruk,” jawabku jujuur.

“Seburuk itukah?,” lanjutnya dengan mimik penasaran.

“Tidak juga. Tapi wajahmu saat ini adalah wajah terburukmu yang pernah kulihat.”

“Benarkah? Memang setampan apa aku biasanya?”

Mau tidak mau aku tertawa, meski leluconnya kali ini tidak cukup lucu. Rindu juga rasanya duduk di sini hanya berdua dengan Kyungsoo, mengingat dia yang selama ini sibuk menggelar show di berbagai tempat hingga hampir lima bulan  ini kami tak sempat bertemu. Padahal kami sahabat sejak kecil, setiap saat aku selalu bersamanya. Namun akhir-akhir ini aku merindukannya, tak terhitung lagi berapa kali aku berharap agar momen istimewa seperti ini dapat terjadi. Momen di mana hanya ada aku dan dia. Namun pertemuan ini bukanlah yang kuinginkan. Ada yang janggal dengan Kyungsoo, dan aku tahu apa itu. Dan aku pun menyadari kejanggalan itulah yang membuat Kyungsoo bukan menjadi Kyungsoo yang biasanya. Dan aku benci akannya. Kuhirup udara dalam-dalam, lalu kutatap langit.

“Sudahlah. Tak ada gunanya menyia-nyiakan waktu,” ucapku.

“Maksudmu?,” responnya.

“Kau tak mungkin terus menerus bersedih. Hidup akan tetap berlanjut.”

“Kau mengucapkan kata-kata yang tak dapat kumengerti.”

“Kau tahu persis apa maksudku.”

“ . . . ”

“Pada dasarnya hidup adalah pilihan. Dan He Yi Unnie pun telah memilih. Mungkin baginya namja itu lebih baik daripadamu. Itu artinya He Yi Unnie memutuskan untuk memilih dia. Kau juga harus memilih. Tetap bergelut dengan kekecewaanmu atau bangkit dari keterpurukanmu. Waktu terus bergulir. Akankah kau hanya akan mempergunakan sisa hidupmu untuk sekedar meratapi kepergiannya?”

“Kau tahu semuanya?”

“Semua orang mengetahuinya.”

“Cih, pasti oppamu yang memberitahukannya. Chanyeol bukan orang yang dapat dipercaya.”

“Kau pun bahkan masih sempat menyalahkan oarng lain ketika mereka semua sibuk memikirkan dirimu???”
“Memikirkan aku? Pedulikah maksudmu? Dengan mendekatkanku pada yeoja-yeoja yang bahkan tak kukenal? Mengajakku keluar hanya untuk berkenalan dengan yeoja-yeoja itu? Apa maksud mereka???”

Nada marah yang muncul tiba-tiba dalam suara Kyungsoo memancing emosiku. Tanpa kusadari aku sudah berdiri, mataku berkaca-kaca dan dia pun bangkit.

“Aku tahu kau cinta mati terhadap Yoo He Yi Unnie. Tidakkah kau berfikir bahwa mereka hanya berusaha mengalihkan perhatianmu darinya dengan menempuh cara-cara itu? Aku tak menyangka kau tega berfikir seperti itu. Mereka sahabatmu. Mereka peduli padamu. Selama ini, tidakkah kau menyadarinya???”

“Kau membela mereka yang berlaku konyol terhadapku. Kau bahagia aku menderita seperti ini, huh?”

Setitik buliran bening  jatuh diikuti titik-titik lain. Aku berlari. Pergi meninggalkannya.

Kyung Soo POV

Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Aku pun tak tahu. Yang kutahu Hye  Rin marah terhadapku, untuk alasan yang bahkan aku pun tak mengerti. Untuk pertama kali aku melihatnya menangis, sepersekian detik kemudian ia berlari ke bawah dengan satu telapak tangan yang mendekap mulutnya. Refleksku langsung memerintahkan tubuhku untuk mengejarnya.

“Hye Rin…,” aku berteriak dengan suaraku yang bergetar.

Ia sudah terlebih dahulu sampai di pintu depan, dan secepat mungkin aku menahannya. Bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung menepis tanganku dan lari menjauh di tengah guyuran salju yang semakin beku. Tanpa kusadari lima orang namja yang berdiri di beranda rumah telah melihat kejadian tadi. Kelimanya gugup. Memandangku dengan ekspresi muak sekaligus jijik. Aku melihat Hye Rin yang terus berlari entah ke mana, dan takjub. Menyadari diriku adalah seorang sahabat yang membuat sahabatnya kecewa hingga menangis tersedu.

Chanyeol POV

Aku tak tahu apa masalahnya. Apa yang terjadi malam kemarin merupakan misteri yang belum terpecahkan. Suhu badan Hye Rin semakin buruk, tak kunjung mereda bahkan semakin tinggi dari sebelumnya. Namun, ia menggigil. Aku tak tahu berapa lama ia mandi dalam malam bersalju malam itu. Yang jelas saat ini kekhawatiran masih terus melanda benakku.

“Mungkin ini bukan urusanku. Tapi apa yang sebenarnya terjadi kemarin?,” tanyaku halus sembari memeras kain kompresan untuknya.

Hye Rin menggeleng.

“Ceritakan pada Oppa! Ada apa?”

Hye Rin pun masih terus menggeleng. Maka aku pun tak ingin memaksakan ini padanya. Telihat jelas bahwa dirinya sangat kalut, kulitnya yang kian memucat membuatku semakin gugup. Kemudian aku ingat bahwa aku harus melaundry beberapa pakaian Hye Rin yang telah menumpuk dalam keranjang pakaian kotor, aku pun bangkit berdiri.

“Oppa?”

Kulit sepanas api menahan pergelangan tangan kananku. Hye Rin. Aku berbalik.

“Ya?”

Sejenak ia menimbang-nimbang, mungkin berfikir apakah aku adalah orang yang tepat sebagai wadah untuk menuangkan isi hatinya.

“Aku… hanya… merasa… kecewa.”

Pada akhirnya ia pun bicara.

“Beritahu aku mengapa!”

“Sepertinya… Kyungsoo masih tak rela melepaskannya.”

“Kau masih berharap?”

“Molla.. .”

“Katakan padanya bahwa kau menyukainya.”

“Andwae…”

“Tunjukkan padanya bahwa kau mencintainya.”

“Itu mustahil. Bagaimana caranya?”

“Kau sahabatnya sejak kecil. Dan kau tahu bagaimana caranya.”

Aku tersenyum, kemudian berbalik. Kali ini tak ada yang menahanku. Hye Rin mungkin masih mencerna kata-kataku, aku yakin itu. Jadi itukah persoalannya? Dia hanya berusaha menahan pedih karena orang yang dicintainya masih mengharapkan mantan kekasihnya? Tak dapat kupercayai ternyata cinta monyet adik dengan sahabatku masih bertahan hingga sekarang. Tanpa kusadari ia telah tumbuh dari seorang gadis lugu yang polos menuju wanita dewasa yang sanggup jatuh cinta dan mencintai lawan jenisnya.

Kyung Soo POV

Aku bingung. Jari tengahku sudah siap mengetuk pintu kayu berwarna hijau tosca itu. Namun beberapa kali aku merasa nervous, hatiku masih belum siap. Akankah aku sanggup minta maaf padanya? Atas semua kesalahan yang kuperbuat hingga menyakiti hatinya? Membuat ia menangis? Untuk pertama kalinya? Pertanyaan-pertanyaan retoris mulai berhamburan memenuhi kepalaku. Aku laki-laki, tak seharusnya aku bersifat pengecut seperti ini. Aku meyakinkan diriku sendiri, meski tak sepenuhnya yakin akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu di hadapanku.

Tok, tok, tok…

Tak ada jawaban. Mungkinkah Hye Rin sedang pergi? Namun aku tahu Chanyeol di dalam.

Tok, tok, tok…

Kuketuk pintunya sekali lagi. Kali ini ada jawaban, suara perempuan. Namun suaranya sangat parau, mungkinkah.. ?

Aku pun masuk tanpa permisi. Kondisi apartemen sangat sepi. Berantakan. Kulongok semua sudut dalam ruangan ini, tak ada orang. Aku berjalan ke belakang, menuju kamar Hye Rin. Dan benar saja, di sana tubuhnya yang mungil tergeletak lemah tak berdaya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka, kedua matanya terkatup. Dan sebuah handuk kompresan melekat di permukaan dahinya. Tak salah lagi, ia pasti sedang sakit. Semalaman aku tak dapat tidur karena memikirkan Rainie yang pulang dalam naungan dingin udara bersalju.

Aku berjalan mendekatinya, menempelkan punggung tanganku ke pipinya yang kini tak bersemu merah seperti yang kulihat biasanya. Ia bergerak perlahan, aku sedikit terlonjak. Namun kelihatannya ia tak terbangun. Kamarnya sangat berantakan. Entah dorongan apa yang membuatku bersemangat untuk menata kamarnya yang serba oranye ini, tiba-tiba aku mulai bekerja.

Semuanya sudah bersih, bubur yang sengaja kubuatkan untuk Hye Rin pun sudah siap disantap dan menunggu di atas meja. Aku mendekatinya lagi. Ia tidur amat pulas, dalam dekapan tangannya aku melihat sebuah buku besar yang tak salah lagi adalah album foto. Perlahan aku mengambil album itu dari kedua pergelangan tangannya yang tersilang memeluk benda itu, dan mulai membuka. Aku terkikik geli ketika melihat wajah kami berlumuran cream. Saat itu adalah ulang tahunku yang ketujuh. Kami tertawa bersama dalam jepretan foto yang diambil oleh ibuku, terlihat mungil dan masih sangat polos. Kubandingkan wajah Hye Rin di foto dan Hye Rin yang kini tertidur nyenyak di sampingku. Tak ada yang berubah, namun ada sedikit perbedaan. Hye Rin yang sekarang jauh lebih… cantik dan… dewasa.

“Kau…”

Aku terlonjak kaget ketika Hye Rin terbangun.

“Apa yang kau lakukan di sini?,” tanya  yeoja itu dengan nada menuduh.

“Engg… Aku hanya ingin menjengukmu.”

Hye Rin mengalihkan wajahnya dariku. Aku semakin bingung harus mulai bicara dari mana.

“Hye Rin~a, aku tahu aku bodoh. Tak seharusnya aku membentak-bentakmu kemarin. Aku sangat menyesal. Mianhae…”

Ia tetap tak mau berpaling.

“Aku rasa apa yang kau ucapkan kemarin benar. Aku seharusnya sadar bahwa mereka peduli terhadapku. Aku hanya salah mengartikan kepedulian mereka dengan sesuatu yang kuanggap buruk bagiku. Terima kasih telah mengingatkan aku. Dan tolong maafkan aku, Hye Rin. Aku sangat menyayangimu.”

Hye Rin POV

Apa aku tak salah dengar? Apa dia baru saja mengatakan bahwa dia menyayangiku? Hatiku luluh, aku sangat merindukan kata-kata itu. Sontak aku berbalik menatap wajahnya, mencari kebenaran kalimat itu jauh di dalam matanya.

Kulihat Kyungsoo tersenyum, dan aku tahu senyum yang dikembangkannya sangat jujur. Aku pun tersenyum, tak sanggup lagi terlalu lama marah padanya.

“Aku membuatkan bubur untukmu. Kau lapar?”

Aku mengangguk pelan.

Dia membantuku duduk dengan menyandarkan sebuah bantal di punggungku. Entah mengapa, aku seperti menemukan sosok Kyungsoo kembali. Aku bahagia ketika ia menyuapkan bubur buatannya ke mulutku. Sesekali ia bercanda dan membuatku tak mampu menahan tawa. Dialah Kyungsoo yang kukenal seutuhnya. Kyungsoo yang dulu, Kyungsoo yang sahabatku sejak kecil, Kyungsoo yang hanya milikku, bukan orang lain.

“Ke mana Chanyeol?,” tanyanya kemudian.

“Melaundry pakaianku dia bilang,” jawabku.

“Kasihan dia. Seolah-olah kaujadikan dia pembantumu. Kalau penggemar-penggemarnya tahu, bisa dicap adik tak tahu diri kau.”

“Biar saja. Apa masalahnya? Ngomong-ngomong, enak juga bubur buatanmu.”

“Hey! Kau belum tahu? Di EXO akulah juru masaknya.”

“Hahaha…,” kami pun tertawa bersama.

~0~

Esok harinya dia datang lagi, kali ini dengan membawa mainan monopoli. Ya, monopoli yang selalu kami mainkan bersama sejak kecil. Aku heran, setiap kali memainkan permainan ini, aku yang selalu kalah. Dan ketika aku mengajaknya bermain ular tangga, aku yang selalu menang. Untuk itulah ia selalu menolak jika aku merengek meminta bermain ular tangga saja.

“Ayolah, satu putaran lagi. Aku yakin kau tak akan mendapat ular lagi,” bujukku.

“Tidak. Kita main monopoli saja. Lebih asyik,” elaknya sambil terus melemparkan uang-uang monopoli ke sisiku.

“Tapi aku bosan masuk penjara lagi.”

“Hahaha… Artinya kau narapidana sejati.”

“Ah, daripada kau. Tak pernah sampai finish karena selalu mendapat ular. Kau memang pantas jadi santapan ular. Hahaha…”

~0~

Di hari ketiga, lagi-lagi ia datang. Seolah-olah masa kecilku memang kembali, seharian penuh aku menghabiskan waktu dengannya untuk bersenang-senang. Kali ini dia mengajakku ke danau. Sebuah gitar tersangga rapi di kedua tangannya. Kami duduk sambil menikmati udara yang sejuk dan hangat mentari sore ini. Dia bernyanyi, sementara aku mendengarkan dengan mata terpejam. Kedua kakiku terbenam dalam air danau yang hangat dan membentuk kecipakan serta riak-riak kecil yang indah.

Dan han beonman ne yeopeseo, bareul matchwo georeo bogopa han beon, ttak han beon manyo, neoui sesangeuro yeorin barameul tago, ne gyeoteuro eodieseo wannyago, haemarkge mutneun nege bimirira malhaesseo, manyang idaero hamkke georeumyeon, eodideun cheongugilteni…”

Suaranya yang sehalus beledu mengalir indah di telingaku. Ini adalah lagu favoritku, dan ia menyanyikannya dengan sangat indah. Andai aku bisa memiliki Kyungsoo bukan sebagai sahabat, tapi lebih. Namun, apa itu mungkin?

“ Hye Rin~a,” ucap Kyungsoo tiba-tiba, membuat aku sedikit tersedak.

“Kau tahu? Aku telah memikirkan kata-katamu semalam. Aku rasa kau memang benar. Tak ada gunanya aku memikirkan Yoo He Yi Noona lagi. Dia lebih memilih namja itu, dan aku hanya dibuang seolah-olah aku hanya sampah baginya,” lanjutnya sembari merangkulkan sebelah lengannya ke pundakku.

“Hmmm…”

“Dulu, ketika kau mengenalkanku padanya, aku merasa sangat berbeda. Seperti melayang rasanya ketika jemariku bersentuhan dengannya. Saat itu aku senang sekali ketika kau membantuku menyatakan cinta padanya, hingga akhirnya dia menerimaku sebagai kekasihnya. Tapi sekarang… Aku seperti tak punya jiwa. Dia sangat membuatku sakit hati.”

Lagi, Kyungsoo memperlihatkan ekspresi yang tak jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu. Sedih, kecewa, entahlah. Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan perasaan cemburu yang terasa sesak dalam dadaku.

“Aku sudah bertekad, aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakannya. Aku tahu, jika ia memang bukan untukku, perlahan-lahan dia akan pergi juga dariku. Aku akan membuka hatiku untuk orang lain. Orang lain yang mungkin lebih baik dari He Yi Noona. Kukira suatu hari nanti aku akan menemukannya. Dan kau mau membantuku menemukannya, kan ?”

Aku terkesiap. Kyungsoo memandangku. Naluriku memerintahkanku untuk berkata ‘tentu saja’. Namun yang ada aku malah mengangguk-angguk padanya.

Kyung Soo POV

Sore ini begitu indah. Semburat warna merah berpadu kuning yang bergradasi di angkasa menjadi latar belakang burung-burung yang terbang bergerombol membentuk formasi huruf V. Aku menyanyikan lagu kesukaan Hye Rin dalam sejuknya balutan angin yang berhembus menerpa lembut kulit kami.

Ia masih tersenyum. Ketika lagu itu selesai, ia berpaling padaku. Memperlihatkan menawannya senyum khas yang dia punya itu, lagi. Dalam senja itu, mata kami bertemu. Entahlah apa yang kurasa. Seketika itu juga, hatiku berserakan. Lebur dan lepuh…

Hye Rin POV

Saat ini, Kyungsoo yang setiap hari mengunjungiku ke apartemen, selalu sore hari setelah ia latihan dance bersama para personil EXO-K lainnya. Aku telah sembuh sepenuhnya dari sakitku semenjak Kyungsoo rutin menjengukku. Bukan hanya sembuh secara fisik, namun secara psikis juga. Entah apa yang terjadi, namun aku merasakan secercah kebahagiaan saat Yoo He Yi Unnie, teman SMAku itu menghilang dari kehidupan Kyungsoo.Chanyeol Oppa yang rajin mengintip kebersamaanku dengan Kyungsoo kini mulai rajin menggodaku saat kami sarapan atau sekedar belanja bersama.

Kata Kyungsoo, sebentar lagi EXO-K akan ada show di beberapa negara berturut-turut. Disini dan China, tentu saja. Jadi kami harus berpisah selama kurang lebih tiga bulan sebelum dia kembali ke Korea. Saat ini jadwal latihan juga mulai menyita waktu kami untuk bersama. Jadi akulah yang lebih sering mengunjunginya ke tempat latihan, tentu saja dengan membawa kotak makanan berisi sphagetty kesukaannya. Agar tak terlalu kentara jika aku terlalu memperhatikan Kyungsoo, aku juga membawakan sushi untuk Suho, Sehun, dan Baekhyun; ayam goreng untuk Kai; dan ribs untuk kakakku, Chanyeol.

“Ne ??? Kau membawakan semua ini untuk kami? Wah, kau mau membuatku bangkrut, Hye Rin ???,” protes Chanyeol Oppa ketika mengetahuiku menenteng dua buah kantong plastik besar di kedua tanganku.

“Hyung, kau ini. Biarkan saja adikmu yang baik hati ini membawakan kami makanan setiap hari. Seharusnya kau bangga punya adik seperti dia,” ujar Kai menggoda.

Oppaku menggeram, sementara yang lain hanya tertawa.

Kyung Soo POV

Ya, aku memang beruntung. Berkat dia, perlahan lubang yang menganga di hatiku mulai tertutup. Aku dapat menemukan kebahagiaanku lagi semenjak aku kembali dekat dengannya. Memang, selama ini aku telah melupakannya. Aku menjadi orang yang sangat sibuk, bahkan tak pernah punya waktu untuknya setelah sosok He Yi Noona berstatus menjadi kekasihku. Namun, kini aku sadar bahwa sahabat adalah segalanya. Dia lah yang berperan sebagai penawar sakit hati ini hingga sepenuhnya aku sembuh dari lukaku.

Sore ini, aku menemaninya belanja di sebuah supermarket. Keranjang sepeda yang kami bawa sudah penuh oleh beberapa kantong plastik berisi berbagai macam bahan makanan. Belum lagi dua kantong lainnya yang bertengger di kedua genggaman Hye Rin memaksa kami untuk pulang dengan berjalan kaki. Aku yang menuntun sepedanya, sementara Hye Rin  yang membawa barang-barang belanjaan itu.

“Kyungsoo~a ,” ucap Hye Rin sedetik kemudian.

“Hmm…,” balasku.

“Menurutmu, apakah selamanya kita akan menjadi sahabat?”

“Errr… Entahlah.”

“Apakah mungkin persahabatan akan berubah?”

“Tergantung.”

“Tergantung. Pada?”

“Perasaan seseorang bisa saja berubah. Ketika seorang sahabat mengkhianati sahabatnya, pasti salah satu pihak dari kedua sahabat itu akan marah dan kecewa. Dan pada akhirnya, persahabatan mereka akan berubah menjadi sebuah permusuhan.”

“Hmm… Hanya itukah teorimu?”

“Maksudmu?”

“Tidak adakah contoh lain dari berubahnya sebuah persahabatan?”

“ . . . “

Aku masih berpikir. Tiba-tiba…

“Park Hye Rin…”

Suara seorang namja yang kuprediksi berusia dua puluhan itu menghentikan langkah kami.

“Hey… Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?,” tanya namja itu setelah berhasil berlari menghampiri kami.

Kulihat hye Rin tersenyum, menyambut pelukan dari namja itu dengan hangatnya.

“Seperti yang kaulihat. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?,” balas Hye rIN.

“Tentu saja aku baik. Ke mana saja kau selama ini, he? Semenjak kita lulus SMA, tak pernah sekali pun aku mendengar kabar tentangmu. Kau tahu? Aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga. Kudengar kau diterima di salah satu universitas ternama di Australie. Bagaimana kuliahmu?”

“Ya, di Adelaide. Jurusan teknik hukum. Lumayan menyenangkanlah. Kau sendiri?”

Aku mulai merasa tak nyaman, menonton pembicaraan mereka sementara aku sendiri bukan siapa-siapa dalam obrolan ini. Kukira selama ini Hye Rin tak pernah dekat dengan teman lelakinya, terbukti ia tak pernah jalan berdua dengan mereka apalagi bercerita masalah ‘namja’ kepadaku. Namun, sepertinya namja ini sangat mengenal Hye Rin. Ada perasaan aneh yang bergejolak dalam dadaku, seperti ada seekor monster yang mengaum keras dalam detak jantungku.

He Yi POV

Kyungsoo. Tiba-tiba aku teringat akannya. Ya, aku telah meninggalkannya. Aku tahu dia marah dan kecewa padaku, karena aku memutuskannya secara tiba-tiba saat hubungan kami hampir menginjak usia tiga tahun. Ada seseorang yang kukira lebih baik, seorang laki-laki yang jauh lebih sempurna dari seorang Kyungsoo yang hanya seorang personil boyband dan terkadang bertingkah seperti anak kecil berumur lima tahun itu. Dia adalah seorang anak dari konglomerat berkelas di seluruh Korea, sekaligus pewaris berbagai macam usaha dan bisnis yang dijaankan kedua orang tuanya. Gelar presiden direktur yang didudukinya saat ini kurasa sangat cocok dengan profesiku yang seorang model. Namanya Jang Geun Seok. Dan dia sangat sayang padaku. Di sampingnya, aku benar-benar menjadi wanita yang beruntung dan amat berbahagia.

“Kau mau kubelikan apa untuk ulang tahunmu bulan depan?,” tiba-tiba ia datang dan memeluk pinggangku dari belakang.

Kyung soo POV

Hari ini kami berangkat. Pesawat yang akan megantarkan kami ke China telah siap, dan kami pun juga telah siap. Namun Kai masih saja berpelukan dengan Park Minhyun, Sehun juga masih bergandengan dengan Im Yoona, Baekhyun dengan Cho Ahra, Suho dengan Yang Hye Rim, sedang Chanyeol bersama Han Hyuna. Rainie berkata bahwa ia akan datang, namun aku tak tahu mengapa sampai saat ini ia belum muncul.

Kai berjalan dengan sebuah koper besar menggelinding mengikuti langkahnya, yang lain pun ikut menyusulnya. Kutelusuri seluruh sudut bandara lagi, berharap Hye Rin akan datang meski hanya untuk melambaikan tangannya padaku. Namun nihil. Sudah pasti ia tak datang. Aku pun memutuskan untuk pergi, dengan menyisakan tanda tanya besar atas ketidakhadirannya.

13 Juni. Entah bagaimana aku bisa ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Yoo He Yi Noona. Segera kusingkirkan bayang-bayang itu dari kepalaku.

~0~

Konser di dua negara untuk jadwal debut dan promosi sekaligus sukses membuat waktu tiga bulan kami penuh dengan rasa lelah. Belum lagi dua bulan ke depan kami harus mempersiapkan diri untuk pembuatan MV yang entah akan mengambil latar tempat di mana. Jadwal untuk kembali ke Korea harus tertunda lagi karena kami harus shooting untuk pembuatan MV-MV itu di beberapa negara. Selama kami pergi, pikiranku tak pernah luput dari bayang-bayang Hye Rin. Entah mengapa.

He Yi POV

“Kau pembohong. Aku kecewa terhadapmu. Masih tak cukup baikkah aku bagimu? Tega-teganya kau berbuat ini padaku,” aku berteriak-teriak kasar, tak peduli ada 10 lusin orang tengah memandangi kami.

“Aku sudah pernah bilang padamu. Jangan salahkan aku jika suatu saat aku tak bisa setia padamu,” balasnya tak kalah keras.

“Tapi kau sudah berjanji padaku. Kau sudah berjanji bahwa kau akan berusaha mengubah kebiasaan burukmu itu.”

“Terserah kau. Pergilah dan tinggalkan aku. Cari pria yang lebih baik dariku jika kau memang masih mempermasalahkan hal itu.”

“Brengsek, kau!”

Tanpa malu, peduli, dan dengan refleksnya kusiramkan air soda berwarna merah darah itu ke tubuh Jang Geun Seok yang bergetar dan menegang. Aku berlari, menangis tersedu-sedu mengingat ia yang bermesraan dengan seorang yeoja asing yang tak kukenal itu.

Aku lelah dan berhenti. Tangis masih tertahan di pelupuk mataku. Beberapa saat kemudian aku memutuskan untuk meraih handphone dalam tasku, lalu mencari-cari nama Kyungsoo yang tersimpan pada kontak di dalamnya. Kutekan tombol panggil dan kutunggu. Nomornya tidak aktif lagi. Kucari-cari nama Baekhyun. Dapat. Kutekan tombol panggil, sedetik kemudian terdengar suara seorang namja yang sudah tak asing lagi bagiku.

Kyung Soo POV

“Kyungsoo~a, Bolehkah aku bertanya sesuatu?,” tanya Baekhyun saat pesawat akan lepas landas.

“Ah, kau ini Hyung. Kau berkata seperti itu seolah-olah aku orang lain saja,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Ehm… Baiklah. Aku akan jujur padamu. Apakah kau akan marah padaku jika… mmm… aku baru saja berkontak dengan… Yoo He Yi?”

Aku terkesiap.

“Errr… Yeah, tentu saja aku tak akan marah. Apa alasanku?”

“Tapi dia akan menemuimu di bandara.”

Rasanya membeku. Tak dapat kubayangkan bahwa separuh jiwaku yang menghilang akan kembali saat jiwa baru mulai terbentuk dalam diriku. Kutarik nafas dalam-dalam, kuhembuskan perlahan.

Hye  Rin POV

Dengan kencangnya aku mengayuh fixie oranyeku, menyalip beberapa kendaraan bermotor dengan angin lembut yang bermain-main dengan rambutku. Panas matahari yang menyengat tak melunturkan niatku untuk terus mengayuh.  Aku harus sampai tepat waktu. Dia akan datang. Dan aku harus menemuinya.

Aku berlari di tengah kerumunan orang yang berdiri di sana-sini, berusaha lebih kencang agar secepatnya aku dapat bertemu dengan dia. Ah, itu dia. Mengenakan jaket hitam dan sebuah topi sewarna bertuliskan huruf DR pemberianku beberapa tahun lalu. Heran juga aku, masih muat juga topi itu di kepalanya. Oh, kali ini aku serius. Tak terbendung lagi rasanya rindu yang menggebu-gebu ini.

“Hye Rin!” Chanyeol Oppa yang memanggilku.

“Oppa…” Aku memeluk tubuhnya erat.

“Kenapa kalian tak kunjung pulang? Kau bilang hanya tiga bulan, mengapa jadi dua kali lipatnya?,” tanyaku penasaran.

“Kau tahulah. Kami harus menjalani shooting dan pemotretan di berbagai negara. Beginilah resiko punya oppa yang sibuk dan terkenal,” terangnya.

“Ah, kau sama sekali tak lucu,” ujarku sembari meninju pelan pundak kirinya.

“Aku rasa aku baru saja melihatnya. Di mana dia?,” tanyaku kemudian.

“Dia? Kyungsoo???”

“Shttt… Jangan keras-keras.”

“Hahaha… Ke toilet, katanya.”

“Di mana toiletnya?”

“Di sebelah sana. Dari sini lurus, di sana ada paviliun. Nah, tepat di sebelah kanannya.”

“Oh…”

“Kau mau masuk toilet pria?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberi surprise padanya.”

Aku pun berlari lagi. Saat aku berlari, samar-samar Chanyeol Oppa berteriak “Ah… Kau ini… Selalu saja dia. Kakakmu sendiri kaulupakan”. Aku hanya tersenyum geli.

Kyung Soo POV

Aku tak tahu apa tujuan He Yi mengajakku bertemu di sini. Kini aku tepat berada di depannya. Aku pun tak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Apakah ‘hai’, ‘apa kabar?’, atau apa? Entahlah. Sebenarnya aku ingin menghindarinya saja, tapi aku tak mungkin membiarkannya menunggu seorang diri di sini. Lebih baik kutemui saja dia dan kudengarkan apa yang diinginkannya. Setelah itu, aku akan mengatakan bahwa aku tak lagi ingin berhubungan dengannya, kemudian pergi meninggalkannya.

Menatap wajahnya membangkitkan gejolak lama dalam diriku. Tatapan matanya mengingatkanku akan kenangan-kenangan lama antara aku dan dirinya. Namun, kembali aku teringat akan kata-kata yang diucapkannya saat dengan teganya dia meninggalkanku. ‘Mianhae, aku tak mencintaimu lagi’. Kukuatkan diriku saat mataku tak lagi tahan bertatap muka dengan parasnya.

“ Annyeong… Bagaimana kabarmu?,” kata-katanya mengawali pertemuan kami.

“Baik,” jawabku singkat.

“Jeongmal bogoshippoyyo..”

Aku diam, sementara dia masih menunggu. Kualihkan pandangan mataku dari wajahnya.

“Mianhae Kyungsoo~a …”

Tubuhnya yang hangat memelukku erat, begitu eratnya hingga aku tak lagi dapat menggerakkan tubuhku walau sesenti pun. Samar-samar kudengar isakan lirih dari balik bahuku, lama-lama isakan itu menjadi jelas dan aku dapat memastikan bahwa dia sedang menangis. Kusentuh kedua pundaknya, kutegakkan tubuhnya.

“Aku tahu aku bodoh. Aku bodoh, sangat bodoh,” ucapnya parau di sela-sela tangisnya yang perlahan terhenti.

Aku masih diam.

“Dia… Ternyata dia hanya penipu. Dia bilang dia akan setia padaku, dia akan membahagiakanku. Tapi kenyataannya, di belakangku, dia masih saja mempertahankan sifat buruknya itu. Begitu mudahnya dia tertarik pada yeoja lain sementara beberapa hari lagi statusku akan berubah menjadi tunangannya. Mianhae… Aku ingin kita kembali seperti sebelumnya. Aku ingin kita memulai dari awal lagi hubungan kita. Aku yakin kau pasti juga menginginkannya. Ya, kan?”

Aku ingin bicara, namun kedua bibirku tetap terkatup rapat ketika matanya menantiku menjawab pertanyaannya.

“Kau masih menginginkanku, kan? Kau masih cinta padaku, kan?,” tanyanya.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kupaksa bibirku untuk membuka.

“Aku tak tahu apakah aku masih mencintaimu atau tidak. Tapi kurasa… sakit yang kautorehkan dalam hatiku telah menghapus semua perasaan yang kupunya padamu. Kau tak tahu bagaimana perasaan yang kurasakan. Kau tak tahu bagaimana aku seolah-olah tak lagi mempunyai dunia, kau pun tak tahu bagaimana rasanya aku bernafas tanpa lagi mempunyai nyawa. Dan aku pun tak tahu… apakah aku bisa memaafkanmu atau tidak, Noona.”

“Tak bisakah kau melihat penyesalan yang sesungguhnya dalam mataku? Lihatlah! Dan ingatlah saat-saat kita dulu bersama. Tak inginkah kau mengulang momen-momen itu lagi bersamaku?”

Lagi-lagi aku menggeleng.

“Mianhae, tapi aku tak lagi menginginkan dirimu,” kataku akhirnya.

Mata He Yi Noona berkaca-kaca. Sedetik kemudian air matanya tumpah kembali.

“Baiklah. Aku mengerti. Kau berhak memutuskan apa pun, dan aku sadar mau tak mau aku harus menerima keputusan yang kaubuat. Tapi izinkan aku meminta satu hal dari dirimu.”

Suaraku sangat pelan ketika aku mengatakan “Ya”.

“Rengkuh tubuhku dan peluk aku,” ucapnya.

Sekujur tubuhku bergetar ketika He Yi Noona mengucapkan kalimat itu. Satu hal yang selalu diinginkannya dariku adalah sebuah pelukan. Aku ingat, saat itu adalah hari ulang tahunnya. Ketika dia tahu aku tak membawa kado apapun untuknya, dia bersedih. Namun, sebagai gantinya dia meminta sebuah pelukan dariku.

Pada akhirnya, kudekatkan tubuhku ke tubuhnya. Kedua tanganku menempel di punggungnya saat kedua lengannya memeluk pinggangku. Aku seperti merasakan d’javu. Momen-momen seperti ini sering sekali terjadi pada kami. Namun, tentu saja. Tentu saja pelukan ini adalah salam perpisahan yang kuberikan padanya untuk yang terakhir kalinya, bukan lagi pelukan sayang dan cinta yang dulu selalu bergejolak dalam hatiku. Aku ingin memberi apa yang dia minta, sebelum dia pergi dan tak akan pernah kembali lagi padaku.

Kemudian, aku tersentak ketika suara pekikan menggema di sekelilingku. Ketika aku menoleh, di sana ada Park Hye Rin.

Hye Rin POV

Ternyata aku salah. Kukira mereka sudah tak lagi mempunyai hubungan apapun. Saat mata kepalaku melihatnya dengan yeoja itu, hatiku seperti terasa terbakar. Pertahananku runtuh ketika aku tahu Kyungsoo tengah memeluk erat orang yang kukira mantan kekasihnya itu. Hasrat menangisku tak terbendung lagi, aku sangat ingin menumpahkan butir-butir air mata yang menggenang di pelupuk mataku ini. Namun aku tak mungkin melakukannya di sini, di depan mereka berdua. Maka aku pun berlari. Entah ke mana arah yang akan kutuju, kakiku masih tetap berlari.

“Hye Rin~a…”

Suara Kyungsoo. Aku tak peduli.

Kyung Soo POV

Hye Rin. Aku harus mengejarnya. Kuhempaskan tubuh yang tertindih di pelukanku ini, kukerahkan segenap tenaga yang kupunya untuk berlari menyusulnya. Bercak bening yang berukuran kecil-kecil bertaburan di lantai tempatnya berdiri tadi. Dan aku pun tahu dia menangis.

Dia berlari dengan amat kencangnya. Sampai-sampai beberapa kali aku terjatuh dan sempat menabrak orang-orang yang berhamburan di bandara. Aku terus mengikutinya berlari, otakku berfikir keras berusaha mencari tahu apa alasan masuk akal dari kejadian ini.

Aku bahkan sempat kehilangan jejaknya. Namun tapak sepatu yang ditinggalkannya akhirnya mampu membimbingku padanya, ke sebuah pantai. Pantai yang tak asing lagi. Pantai di mana dulu aku, dia, dan kakaknya yang kini satu group denganku itu menghabiskan waktu bersama.

Aku melihat lututnya jatuh menimpa butiran pasir, dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya yang bersimbah air mata. Aku mendekatinya.

“Hye Rin…,” ucapku.

Isakan itu sungguh membuat hatiku tak keruan. Seolah aku dapat merasakan kepedihan mendalam yang dirasakannya.

“Hye Rin…,” aku menempatkan tubuhku lebih dekat lagi dengannya.

“Maukah kau mengatakan apa salahku padamu hingga membuatmu menangis?”

Tak ada jawaban. Aku memutar kedua bahunya agar wajahnya menghadap ke arahku. Wajahnya pucat, tampak kontras dengan bibirnya yang merah menyala.

“Waeyo?,” tanyaku sekali lagi.

Lagi-lagi diam. Aku lagilah yang berinisiatif membuka percakapan ini dengannya.

“Hye Rin, aku sangat merindukanmu. Bukankah kau juga merasakan hal yang sama? Lalu mengapa kau menangis?”

Sunyi. Hanya suara tangisnya yang memecah kebisuan di antara kami.

“Baiklah. Jika kau masih butuh waktu untuk sendiri, aku akan meninggalkanmu di sini.”

Aku telah berjalan meninggalkannya beberapa langkah. Di langkahku yang ketiga, dia memanggilku.

“Kyungsoo~a …”

Aku berbalik.

“Aku… cemburu…”

Hatiku berdesir. Benarkah ia cemburu? Pada… He Yi Noona??? Aku berjalan lagi mendekatinya, kali ini akulah yang menempatkan diriku agar wajah kami dapat berhadapan. Aku tersenyum.

“Kau… cemburu pada Yoo He Yi Noona???”

Sejenak ia diam, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dua kali. Aku tersenyum lagi.

“Hye Rin, kau tahu? Aku bahagia sekali kau cemburu.”

Sontak dia menatapku. Matanya melebar hingga aku dapat melihat bulu matanya yang basah dalam silau cahaya matahari. Ekspresinya tak terbaca. Ia sedikit aneh dalam mata yang sembab dan kulit yang sedikit pucat, mengingat ia yang biasanya selalu tampak ceria dengan senyumnya yang lebar dan berseri-seri. Tatapannya masih tak terbaca, ia masih memandangku heran.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku bahagia karena kau juga merasakan hal yang sama sepertiku. Kau ingat waktu kita bertemu dengan teman namja lamamu itu? Saat kau berbicara akrab dengannya, sebenarnya aku juga… cemburu.”

Tanpa kedipan ia masih menyimakku berbicara. Jemariku terangkat untuk menghapus air mata yang membanjir di pipinya.

“Kau salah paham. Kau salah mengartikan pelukanku pada He Yi Noona. Memang dia ingin bertemu denganku. Dan aku menemuinya sebagai pertemuan terakhirku dengannya. Aku bilang padanya bahwa aku tak menginginkannya lagi. Awalnya memang ia tidak terima, namun akhirnya dia setuju. Dan permintaan terakhirnya adalah… pelukan dariku. Dia meminta itu sambil menangis, aku tak tega dan akhirnya aku memeluknya.”

Tak ada balasan kata-kata. Aku melanjutkan.

“Dan aku tahu apa jawaban dari pertanyaanmu yang dulu belum dapat kujawab.”

“Pertanyaan?”

Akhirnya ia mau juga merespon kata-kataku, meski dengan pertanyaan singkat.

“Ya, tentang berubahnya sebuah persahabatan. Dulu aku pernah mengatakan bahwa persahabatan dapat berubah ketika perasaan keduanya telah berubah. Aku punya teori lain,” terangku.

“Mwoya ??,” perintahnya.

“Ketika salah satu sahabat amat menyukai sahabatnya, dan sahabatnya itu juga menyukai sahabat yang lainnya, bukankah persahabatan itu akan berubah menjadi cinta?”

Kali ini ia diam, lalu tersenyum. Berbeda dari biasanya, kali ini senyum yang ia tampilkan sangat pelit.

“Nah… Kau jauh lebih terlihat manis jika tersenyum seperti ini.”

Senyumnya lebih lebar.

“Kau tak tahu, kan sejak dulu aku selalu mengidolakan senyummu?”

Senyumnya lebih lebar lagi.

“Hye Rin, aku tak tahu sejak kapan perasaanku berubah padamu. Yang jelas, selama ini wajahmu selalu terngiang-ngiang dalam kepalaku. Dan aku mulai sadar bahwa… aku mencintaimu. Lebih dari aku mencintai siapapun. Lebih dari rasa cinta yang dulu kupunya untuk He Yi Noona. Perasaan ini bukan untuk dia, tapi hanya dirimu. Saat ini kau segalanya…”

Kali ini kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajahnya.

“Aku serius. Coba tatap mataku dalam-dalam. Apakah kau menemukan kebohongan di sana?”

“Jeongmal bogoshippoyo…,” ucapnya lirih.

“Arayo…,” balasku.

Aku tersenyum. Dia pun tersenyum. Dalam senja yang indah di tepi pantai ini, kukecup lembut sudut bibirnya.

16 pemikiran pada “Not Her, But You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s