EXO PLANET (Chapter 1)

EXO PLANET

Exo 1 – Dizzy

Author : Zuleykha Lee a.k.a beibiiilee

Main Casts : Kai and Cho Ikha

Support Casts : All of EXO’ Members (Sehun, Baekhyun, DO, Luhan, Kris)

Cameo : Leeteuk ‘Suju’, Sulli ‘F(x)’

Type : Sequel

Length : 10 Parts (only prediction)

Genre : Fantasy – Universe – Mistery

Rate : PARENTAL GUIDANCE !

Inspired from : EXO Music Video – Mama

Disclaimer : This FF is MINE! The story is mine and made with my-own-brain. Demi Super Junior, kalo sampe ada yang nge-plagiat-in nih FF, gue bawa kasus ini ke pengadilan *kebetulan rumah gue deket pengadilan Jakarta Selatan*

***

Author’ Side

Sehun membenahi letak kacamatanya di tengah kegiatan membaca salah satu koleksi buku setebal lima centimeter yang ada di ruangan Suho. Kali ini ia memilih buku dengan judul ‘Huglooms Legend: True or False’ setelah berhasil mengakhiri buku berjudul ‘Maallum Witch’ yang menceritakan tentang legenda penyihir Maallum si pemakan tubuh pria tampan.

Kepalanya yang semula menunduk kini tegak sempurna saat mendengar bunyi debam yang cukup keras dari atas kepalanya. Namja berparas imut tersebut melepas kacamata lalu mengayunkan tangan hingga angin di sekitar mengelilingi tubuhnya. Angin tersebut seraya membawanya ke lantai atas markas warriors yang ditempatinya hanya dalam sepersekian detik saja.

Sehun menjentikan jari dan membuat angin yang memutar tersebut jadi memudar. Ia menemukan Kai tengah membawa sesuatu di kedua tangannya. Sayangnya ia hanya mampu melihat cahaya putih yang berpendar dari benda yang dibawa Kai. Sehun mengekor di belakang saat Kai berjalan menuju ruang peristirahatan. Rasa penasaran masih memenuhi sebagian otaknya.

“Kau darimana saja, Kai! Kita hampir saja—“

Perkataan Sehun terhenti saat Kai meletakan sebongkah cahaya yang dibawanya di atas kursi panjang yang dilapisi kulit Ovess—binatang khas Exo Planet yang hampir mirip seperti domba. Hanya saja bulunya terbuat dari sutera. Begitu halus dan lembut hingga membuat siapapun yang berbaring di atasnya langsung dapat bermimpi indah.

Cahaya tersebut lama kelamaan mulai meredup. Menampakan sesosok makhluk yang masih belum jelas spesiesnya. Yang pasti, bentuknya seperti mereka: seorang manusia. Hanya saja seluruh tubuhnya menyilaukan cahaya putih terang. Persis seperti berlian yang berkilauan terkena sinar matahari.

“Siapa dia?” tanya Sehun ditengah rasa takjubnya melihat makhluk tersebut.

Kai meletakan salah satu telunjuknya di bibir, menyuruh Sehun untuk diam dan menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Namja itu melipat kedua tangan di dada. Pandangannya tak luput dari tubuh tersebut.

Lama kelamaan, cahaya putih itu semakin menghilang dan tubuh makhluk itu mulai tampak lebih nyata dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kai dan Sehun saling menatap satu sama lain saat sosok itu mulai tampak jelas. Jangankan Sehun, Kai saja sampai tak percaya dengan yang dilihatnya. Sosok yeoja—atau lebih tepatnya roh yang diambilnya—dari planet ketiga itu kini berubah. Tubuhnya, wajahnya, rambutnya, bahkan pakaian yang dikenakannya begitu lain dibandingkan ketika ia membawa roh yeoja tersebut berteleportasi dari bumi.

“KAI! SUHO MENCARI—“ Langkah Baekhyun langsung terhenti saat ia hendak mencecar Kai. Tepat ketika kedua matanya terhenti pada sesosok makhluk yang tengah memejamkan mata di hadapannya.

DO—yang semula juga berniat untuk memaki Kai—ikut mengatupkan mulut. Ekspresinya hampir sama dengan Sehun dan Baekhyun: terpana melihat makhluk yang masih terbaring lemah di kursi berlapis kulit Ovess.

“Siapa dia?” bisik DO pada Kai.

“Ya. Dia siapa?” Baekhyun juga angkat bicara.

“Kau bawa gadis cantik ini dari planet mana?” Giliran Sehun yang mengajukan pertanyaan.

Dan…

“Ssstt!!!”

….hanya satu kata itu yang menjadi jawaban atas ketiga pertanyaan di atas. Pandangan Kai masih lurus menatap yeoja tersebut. Detik berikutnya, ia segera menghadap ketiga temannya. Tubuhnya begitu tegap seolah menghalangi mereka untuk mendekat.

“Sebaiknya kita tinggalkan dia dulu. Gadis ini butuh waktu untuk memulihkan tenaganya. Beruntunglah rohnya tidak memudar saat kubawa berteleportasi,” suruh Kai seraya mendorong tubuh ketiganya menuju tangga utama.

Kai berteleportasi menuju dapur markas mereka. Tak lupa, Sehun mengikutinya dengan membuat angin topan mini yang membawanya melesat ke dapur dalam hitungan detik. Hanya DO dan Baekhyun yang berjalan biasa. Terakhir kali mereka berpindah tempat menggunakan keahliannya, mereka merusak setengah bangunan rumah.

“Dia? Roh?” tanya Sehun tepat disamping Kai yang sedang meneguk segelas air putih—menyambung pembicaraan sebelumnya. Kai hanya berdeham sebagai pengganti jawaban Ya.

“Tapi barusan ia nampak utuh seperti kita,” Sehun menuntut penjelasan lebih.

Huglooms,” ucap Kai singkat. Tubuhnya kembali menghilang dan muncul beberapa meter dari tempat Sehun berdiri. Ia kini tengah berbaring di atas kursi berbentuk pentagon. Merebahkan kaki dan mendesah berat seolah dirinya telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan.

“Apa?” sahut Baekhyun. Ia dan DO telah berhasil menyusul mereka setelah berjalan sepuluh meter dari lantai dua.

“Dia itu seorang huglooms,” ungkap Kai. Nafasnya masih terengah-engah. Mungkin karena efek dari teleportasi panjang yang dilakukannya ketika membawa roh makhluk bumi tersebut menuju ke planetnya.

Baekhyun menepuk pundak Kai. “Kau jangan bercanda,” ejeknya.

Kai hanya tersenyum simpul seraya mencibir. Saat ini ia tak peduli apakah teman-teman mereka mempercayai perkataannya atau tidak. Ia terlalu lelah. “Aku akan pergi menemui seseorang. Jaga gadis itu dan jangan membuatnya ketakutan,” titahnya.

“Tapi—“

“Namanya Cho Ikha. Jangan sampai lupa!” ujarnya, memotong kalimat Sehun sambil menunjuk ke arah dadanya. Tak lama, Kai langsung menghilang, menyisakan debu biru pekat yang ikut memudar.

DO berdecak. “Kadang aku tidak suka dengan sikap otoriternya. Dia lupa kalau aku lebih tua darinya,” dumalnya.

Tiba-tiba Kai muncul dari balik punggung DO. Namja itu tersentak kaget saat satu tangan Kai melingkar di sekitar lehernya—bersiap untuk mencekik kapan saja, sedangkan tangan Kai yang lain diletakkan di atas kepalanya. Posisi yang bagus untuk memelintir kepala DO hanya dalam hitungan detik jika ia mau.

“Hati-hati dengan cara bicaramu, Fratheer DO. Aku tidak segan-segan membuatmu pingsan dan melemparmu ke planet Merkurius,” gumam Kai di telinga namja yang lebih pendek darinya.

Ya. Fratheer. Sebutan bagi siapapun yang umurnya lebih tua. Penggunaan katanya hampir sama dengan kata ‘hyung’ yang dipakai makhluk bumi. DO terkekeh saat Kai memperlakukannya seperti itu. Harus diakui, Kai memang begitu gesit dalam bergerak. Pantas ia suka berkelahi dan membuat onar.

“Lebih baik kau deportasi tubuhku ke planet ketiga. Setidaknya aku bisa jadi selebriti karena ketampananku,” candanya.

Kai hanya tersempul simpul kemudian melepaskan tangannya dari tubuh DO dan menghilang lagi. Ia memang seperti itu. Selalu membuat semua orang terkejut dengan penampakannya yang tiba-tiba.

“Kurasa Kai itu agak idiot. Gadis itu? Huglooms? Yang benar saja! Kurasa dia hanya sempat berkunjung ke Black Hole dan menyeret salah satu Stardus kemari,” oceh Sehun.

Ia langsung memutar tubuhnya dan memasang kuda-kuda, mengira bahwa Kai akan muncul tiba-tiba dan mencekik lehernya seperti yang ia perbuat pada DO barusan. Setelah beberapa detik menunggu, Kai tidak kunjung muncul dan menyerangnya. Namja itu sempat mengeluarkan suara phew pelan, bersyukur.

“Ngomong-ngomong, apa itu Stardus?” tanya Baekhyun seraya merebahkan diri di atas kursi pentagon yang lain.

“Apa kau pernah dengar kata ‘pelacur’ yang biasa digunakan oleh makhluk bumi?”

Baekhyun mengangguk. Mengerti kata-kata Sehun.

Well, seperti itulah seorang Stardus.” Ungkap si magnae.

Baekhyun tercengang mendengar penjelasan Sehun. Stardus? Namja itu menggerakan bola mata, memperhatikan keadaan di lantai dua dari tempat duduknya. Ia berniat untuk menghampiri yeoja bumi tersebut hingga Sehun menghentikannya dengan cara mengayunkan tangan—memutar angin. Tubuh Baekhyun ikut berputar dan kini menghadapnya.

“Jangan – coba – coba – menyentuhnya,” ucap Sehun, memberi penekanan di setiap kata-katanya. Meski ia biasanya selalu becanda, kali ini ia bersungguh-sungguh. Baekhyun memang harus diperhatikan gerak-geriknya jika sudah melihat gadis cantik dimana pun. He is a player one among them.

***

Sore itu keadaan di sekitar hutan begitu hening dan sepi. Hanya terdengar bunyi aliran air sungai dan suara burung-burung yang saling bersiulan. Tak jauh dari sungai, nampak seorang namja berpakaian kaus ketat serba putih plus sepatu boots selutut berhiaskan beberapa tanduk solomons—banteng seukuran kucing persia—tengah mengusap rambut unicorn. Sesekali namja itu tertawa renyah saat unicorn-nya merundukan kepala.

Di tengah keasikan bermain dengan kuda kesayangannya, sebuah asap biru pekat muncul di balik punggung namja tersebut. Namja itu tersenyum sambil tetap mengelus wajah si unicorn. Bunyi ranting kering bergemeretak terinjak oleh langkah kaki seseorang yang terdengar bergerak mendekatinya.

“Sudah lama kau tak berkunjung kemari semenjak Parleemos King mengadakan pemilihan penguasa baru EXO Planet,” sahut Luhan—namja pemilik unicorn.

Senyum simpul Kai mengembang. Senang karena kehadirannya kali ini disambut baik oleh Luhan, sahabat terbaiknya di gugus EXO Myrath. Terakhir kali ia mengunjunginya, Tao sempat membuat hidungnya berdarah hanya karena disangka penyusup.

“Keadaan semakin memanas. Aku hanya merasakan persaingan disana-sini. Tidak ada persahabatan. Dan kumohon, Luhan. Berhenti menyebut Leeteuk dengan sebutan itu,” rutuknya sambil ikut mengelus rambut unicorn.

Luhan hanya memamerkan senyum tipisnya sambil menggeleng pelan. Baginya, Leeteuk adalah seorang penguasa yang hebat. Beliau adalah orang yang begitu dihormati Luhan. Makanya ia selalu menyebut Leeteuk dengan sebutan Parleemos King.

“Hai, Fugore. Sepertinya majikanmu telah merawatmu dengan baik,” sapa Kai pada si unicorn. Kuda bertanduk tersebut mengeluarkan suara lengkingan pertanda bahwa hewan itu begitu senang dengan sapaan Kai.

“Bagaimana kabar warriors yang lain?” tanya Kai, mengalihkan pembicaraan.

Luhan menyisir puncak kepala Fugore­—nama kudanya. Sesekali ia melirik pada Kai. Dia tidak begitu banyak berubah. Masih dingin pada siapapun. Kecuali padanya. Mungkin.

“Seperti apa yang telah kau katakan. Semua nampak tegang,” jelasnya singkat.

Kai memperhatikan Luhan yang masih fokus mengajak Fugore berkomunikasi. Entah kenapa ia bisa begitu akrab dengan namja tersebut meski silsilah keluarga mereka begitu rumit dan sulit dimengerti. Hanya melihat wajahnya saja, ia bisa menemukan ketenangan yang selama ini tak didapatkannya. Wajah Luhan… wajah namja itu hampir mirip dengan wajah Ibunya… Ibu yang sangat dicintainya…

“Apa kau sadar? Kita akan melawan satu sama lain di pertandingan nanti.” Ucap Kai, setengah berbisik.

“Lalu?”

Luhan memegang tali kendali yang membelit leher Fugore kemudian membawa hewan itu berjalan dengannya. Kai mengikuti Luhan. Mereka bertiga akhirnya berjalan menyusuri pingiran sungai sambil menikmati keheningan hutan pinus tersebut.

“Tidak kah kau merasa khawatir?” Kai sengaja memelankan langkahnya. Pandangannya kini beralih pada rerumputan. Ia baru sadar, rumput yang diinjaknya nampak lain jika dibandingkan dengan rumput di gugus EXO Krypth. Setelah diinjak, rumput tersebut terlihat mengering. Tapi tak lama kemudian, rumput itu kembali ke keadaan semula.

“Untuk apa, Kai? Meski kita tidak menginginkannya, kita akan tetap melakukannya. Iya ‘kan?” ucap Luhan, mengungkapkan fakta yang sesungguhnya.

Fratheer,” sahut Kai. Ia menatap Luhan yang juga membalas tatapannya. Selama ini, ia tidak pernah memanggil siapapun dengan embel-embel fratheer kecuali pada Luhan. Sekalipun ia menyebut kata itu pada yang lain, hal itu hanya sekedar kata sindiran atau terpaksa.

Luhan menghentikan langkahnya. “Sebaiknya kau pergi. Gawat jika warriors lain mengetahui keberadaanmu disini,” cegahnya.

“Aku ingin mengajakmu ke kedai biasa. Aku rindu minum viinuum­—sejenis anggur—bersamamu,” pintanya, setengah memaksa.

“Aku harus datang ke pertemuan warriors Exo Myrath. Kita bisa melakukannya lain kali,” tolak Luhan halus.

See! Aku benci ketika kita harus menjaga jarak hanya karena pemilihan tolol ini! Asal kau tahu, aku sama sekali tidak tertarik dengan perebutan tahta itu!” Suara Kai agak meninggi sekarang. Asap hitam pekat mulai muncul di sekitar tubuhnya. Nampak bahwa namja ini tengah dilanda amarah.

Detik berikutnya Kai langsung berteleportasi dan menghilang dari hadapan Luhan. Namja itu memperhatikan asap hitam pekat tersebut hingga memudar. Wajahnya yang semula tersenyum berubah datar. Fugore menggerakan kepalanya pada bahu Luhan seolah mengerti perasaan namja tersebut.

“Kau masih sering berkomunikasi dengan salah satu warrior Exo Krypth itu?”

Kris—leader Six Warriors EXO Myrath—tiba-tiba muncul dari salah satu pohon pinus berdaun oak dengan batang pohon yang melengkung seperti saxophone. Kobaran api kecil masih belum padam di kedua lengannya.

“Ada yang salah?” tanya Luhan, bersikap sesantai mungkin sambil mengelus bulu-bulu fugore.

“Dia hanya mencoba mencari titik kelemahanmu saja, Luhan.” Gertak Kris.

Luhan lagi-lagi tersenyum menanggapi Kris. Benar. Perebutan tahta itu telah membuat semua mata warriors menjadi gelap. Gelap dan haus akan tahta penguasa tertinggi Exo Planet.

“Kai sudah mengetahui kelemahanku sejak dulu, Fratheer.” Akunya.

Kris menahan tangan Luhan yang hendak menunggangi fugore. “Menjauh darinya atau rencana kita akan gagal,” geramnya.

“Jangan terlalu serius menanggapi hal ini, Kris. Santai saja,” ucap Luhan.

Fugore menaikan kedua kaki depannya sambil melengkingkan suara. Kemudian cahaya putih terang muncul dari punduk unicorn berwarna putih tersebut. Cahaya itu memudar dan digantikan oleh sepasang sayap berwarna serupa. Luhan menaikinya lalu beranjak pergi dari hutan pinus tersebut ketika fugore membentangkan kedua sayapnya. Meninggalkan Kris dengan segala kekecewaannya.

***

Seorang namja berambut pirang kecokelatan tengah memperhatikan pemandangan di sekeliling istana dari balkon lantai tujuh. Matanya sempat terpejam saat menghirup udara malam yang begitu disukainya. Meski keadaan begitu gelap, ia dapat merasakan berbagai kehidupan di luar sana.

Namja itu memutar tubuh saat mendengar bunyi pintu berlapis baja setinggi tiga meter yang menjadi bagian dari ruangannya terbuka lebar. Senyumnya mengembang saat menemukan ajudannya datang bersama beberapa orang yang ditunggunya saat ini. Seiring langkahnya menghampiri mereka, pakaian ala kerajaan yang dikenakannya berubah perlahan-lahan menjadi kaus beludru berlapis cotton tipis yang menampakan lekuk tubuhnya serta celana jeans skinny hitam bermotif abstrak.

“Ada perihal apa Parleemos King memanggil kami?” tanya Suho setelah dirinya dan kelima warriors Exo Krypth yang lain membungkuk hormat pada petinggi Exo Planet tersebut.

Senyum Leeteuk mengembang. Bukan karena kehormatan yang diterimanya dari mereka, melainkan kehadiran warriors Exo Krypth yang sangat ditunggu sejak minggu lalu. Ia sengaja mengundang para kandidat penguasa EP (Exo Planet) untuk makan malam bersama. Namun ada beberapa hal yang membuat acara tersebut tertunda. Salah satunya adalah kepergian Kai ke planet ketiga.

“Kita sudah lama tidak saling berbincang. Aku juga mengundang gugus Exo Myrath malam ini,” ucap Leeteuk.

Ia mempersilahkan mereka duduk pada bangku di meja makan berbentuk persegi panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bahkan Baekhyun sempat takjub melihat keadaan di dalam ruangan. Interiornya terkesan sangat sederhana tapi mewah. Maklum, ini kali pertamanya ia menginjakan kaki di istana EP.

Cat putih dicampur abu-abu lebih mendominasi warna dinding ruangan. Ditambah lagi lantai berlapis marmer putih terang membuat ruangan itu menjadi nampak megah dan elegan. Baekhyun lagi-lagi memandang takjub. Setiap kali ia melangkahkan kaki di atas marmer, cahaya berbentuk pelangi menghiasi jejak kakinya kemudian memudar dan kembali ke bentuk semula.

Beberapa patung culprit tengah memainkan alat musik orkestra di pojok ruangan. Patung-patung tersebut seolah digerakan oleh semacam magic. Belum lagi sejumlah brascus—binatang sejenis kunang-kunang bersayap perak dan mengeluarkan cahaya berbagai warna—terbang mengitari seluruh ruangan mengikuti alunan musik yang dimainkan para patung culprit.

Tidak hanya itu, Chanyeol bahkan mengeluarkan kata ‘wah’ cukup kencang ketika mendapati beberapa lukisan berbingkai segi lima yang menjadi hiasan dinding berubah setiap sepuluh detik sekali. Lukisan tersebut berubah saat aliran air yang muncul di sekeliling bingkai menutupi permukaan lukisan. Dan saat air itu menyusut, lukisan salah satu Prajurit Super Junior yang semula menghiasi bingkai pun berubah menjadi lukisan para Dewi Girls Generations yang sangat terkenal akan kecantikan mereka.

Saat Suho dan yang lain menggeser kursi untuk duduk, pintu besar di ruangan itu mengeluarkan suara kreet pelan hingga tampaklah beberapa orang yang muncul dari balik pintu. Leeteuk menyambut para warriors Exo Myrath dengan hangat lalu mempersilahkan mereka bergabung dengan Exo K. Leeteuk duduk di kursi utama dimana Sora—istri tercinta, dan Sulli—cucu pertama—mengapitnya.

“Kalian nampak tegang. Santai saja,” ucap Leeteuk mencairkan suasana.

Bagaimana tidak tegang? Exo K dan Exo M duduk saling berhadapan. Sekarang ini mereka duduk bersama rival masing-masing. Mungkin hanya Kai dan Luhan yang nampak tak peduli. Kedua namja itu bersikap biasa saja. Justru mereka berdua menikmati makanan yang dihidangkan tanpa mendengarkan atau sekedar tertarik dengan perbincangan yang lain.

Kai sempat mendengus dan mengeluarkan smirk –nya ketika mendengar Suho dan Kris tak henti-henti memuji kehebatan Leeteuk. Ia tak habis fikir, kenapa kedua leader itu tak tahu malu? Memuji Leeteuk belum tentu jadi poin plus agar mereka bisa lolos menjadi penguasa baru EP, iya ‘kan?

“Pemilihan penguasa baru Exo Planet diadakan selama sepuluh tahun sekali. Aku sudah menduduki singgasana itu selama empat dekade. Pasti kalian mengerti bagaimana melelahkannya duduk disana,” ucap Leeteuk disertai suapan keduanya memakan daging Ovess panggang.

Kai memutar bola mata. Ia sudah tahu arah pembicaraan Leeteuk saat Suho memaksanya untuk mengikuti acara makan malam kali ini. Ia benci jika sudah berurusan dengan politik ataupun kekuasan. Terlalu rumit untuk dimengerti.

Namja itu juga mengatupkan mulut rapat-rapat menahan kesal. Sulli—cucu dari Leeteuk—sedari tadi terus saja mencuri pandang padanya. Berita bahwa Sulli menyukainya memang bukanlah sesuatu hal yang baru didengarnya. Tapi jujur saja, ia paling tidak suka dengan yeoja yang selalu bersikap manis. Jika disuruh memilih, ia akan mengencani salah satu Stardus ketimbang menghabiskan semalam bersama Sulli.

“Kalian adalah warriors terpilih di gugus masing-masing. Pilihanku ada diantara kalian dan aku tidak pernah meragukan kalian. Sedikitpun,”

Perkataan Leeteuk kali ini didengarkan oleh Kai. Setidaknya mendengarkan Leeteuk lebih bagus daripada melihat Sulli yang sedari tadi terus menyunggingkan senyum padanya. Kai menatap Leeteuk selama beberapa detik. Sungguh heran melihat penguasa EP yang akan turun tahta itu tetap terlihat awet muda di usianya yang hampir menginjak angka sembilan puluh.

“Apa kalian tahu alasan lain mengapa kalian terpilih menjadi kandidat penguasa baru?” tanya Leeteuk. Semua warriors menggeleng kepala sebagai pengganti jawaban tidak. Mereka bersikap hati-hati dalam berucap. Bahkan Baekhyun yang selalu bertindak sesuka hati hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin dipandang minus oleh Leeteuk.

“Karena kalian semua memang memiliki tetesan darah para warriors yang melegenda.” jawabnya.

Untuk kedua kalinya Kai memutar bola mata. Leeteuk selalu saja mengangkat topik ini setiap kali mereka berbincang. Warriors… ia bahkan tak ingin mendapat gelar itu meskipun ia ditakdirkan memiliki kekuatan yang sebanding dengan Leeteuk. Penguasa EP itu terus saja mengoceh tentang silsilah keluarga mereka. Mengagungkan para prajurit Super Junior dan Dewi Girls Generations yang memang merupakan bagian dari keluarga para warriors Exo K dan Exo M.

“…aku begitu mengenal Donghae. Dia adalah warriors yang hebat. Meski Kangin saat itu adalah warriors terkuat, Donghae begitu pintar membuat strategi dan bertarung sehingga Exo Planet menang melawan SHINee World saat itu.” oceh Leeteuk, melanjutkan perbincangan berikutnya.

Kedua tangan Kai yang sibuk mengiris hidangannya membeku seketika. Tatapannya lurus pada piring. Memicingkan telinga. Leeteuk lagi-lagi mengangkat topik yang tak ingin didengarnya. Membuat namja itu terus saja merutuki Leeteuk di dalam hati.

Suho melirik ke arah Kai yang duduk tak jauh darinya. Anggota Exo K yang lain pun melakukan hal yang sama. Sehun bahkan sempat mengusap punggung Kai untuk menenangkan namja itu. Asap hitam mulai menguap di sekitar tubuh Kai, pertanda namja ini sedang dilanda amarah.

Parleemos—“

“Dan kurasa kalian mengerti mengapa aku bersikukuh memilih kalian meskipun beberapa penasehat kerajaan tidak menyetujuinya. Bukan begitu, Kai?” seloroh Leeteuk, memotong kalimat Suho.

Kai menggenggam pisau dan garpu yang ada di kedua tangannya dengan kencang. Bibirnya terkatup rapat menahan emosi jiwanya. Anggota Exo K saling melirik satu sama lain. Cemas, karena Kai—yang notabene paling labil diantara mereka—menunjukan ekspresi wajah geram. Luhan yang sejak tadi hanya berdiam diri pun kini ikut menatap Kai. Ia dapat membaca situasi dan kondisi ini sangat tidak baik.

Selang beberapa detik, Kai menggeser bangkunya ke belakang dengan kasar. Ia membungkuk sejenak pada Leeteuk, menatap para warriors Exo-K dan Exo-M satu per satu, kemudian melenggang pergi dari tempat itu. Suara sergahan dari Suho pun tak digubris oleh Kai. Namja itu lebih memilih berteleportasi, mengisolasi diri dari lingkungan. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah tempat untuk menenangkan diri. Sendirian.

***

Suasana malam terasa begitu hening dan mencekam. Binatang-binatang dan makhluk penghuni kegelapan seolah berhibernasi. Tak terdengar sedikitpun suara-suara kelelawar atau burung hantu yang biasa bersahutan di tengah hutan tropis yang mengelilingi markas Exo Krypth. Semuanya membisu. Hanya bunyi desing angin malam serta gemerisik pasir halus yang berjatuhan dari alat penghitung waktu yang ada di atas meja saja.

Kedua mata Ikha perlahan mulai terbuka. Yeoja itu mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk menyesuaikan lensa matanya dengan cahaya terang yang muncul dari balik kap lampu di sudut ruangan. Ia menengadahkan kepala, mencermati struktur ruangan yang dirasa asing baginya.

Benar. Tempat ini begitu asing. Belum lagi furniture ruangan yang terkesan unik sekaligus aneh. Well, seumur hidup ia belum pernah melihat pohon bonsai mini—yang terpajang tak jauh darinya—menggugurkan daunnya sendiri. Selain itu, daun bonsai tersebut kembali menempel pada batang pohon kemudian menggugurkan lagi daunnya. Hal itu terus berulang setiap saat.

Ikha mengalihkan perhatian pada benda lain. Selang tiga meter darinya terdapat dua buah tiang besi berlapis perak yang menopang sebuah papan persegi panjang setinggi dua meter. Papan tersebut dikelilingi aliran air. Yeoja itu merengut. Bagaimana mungkin air tersebut mengalir pada pinggiran papan seolah tak memiliki gaya gravitasi?

Tak lama, air yang ada di pinggiran papan kayu itu menyebar menutupi permukaan papan. Riak air terlihat begitu tak menentu membentuk gelombang layaknya ombak air laut. Detik berikutnya, riak itu mulai tenang dan bersinar kebiruan membentuk pantulan ruangan. Kini, papan kayu itu berubah menjadi cermin besar yang menampakan pantulan tubuh Ikha yang masih terbaring di atas kulit Ovess.

Yeoja itu tercengang. Tidak. Bukan karena atraksi riak air yang berubah menjadi sebuah cermin. Melainkan apa yang dilihat dari pantulan tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya sendiri dan meletakannya tepat di depan mata. Yeoja itu menggeleng. Sepertinya ada yang salah dengannya.

Ia yakin seratus persen jika dirinya tidak sedang bermimpi sekarang. Tapi kenapa ia merasa bahwa kulit cokelat yang selalu dibanggakannya berubah menjadi putih terang merona? Belum lagi mini dress warna putih setinggi pangkal paha yang dikenakannya sekarang. Bukankah ia paling benci pakaian berbau ‘wanita’?

Ikha kembali menatap cermin dan menemukan sesuatu yang salah lagi dari tubuhnya. Yeoja itu memukul-mukul kedua pipinya cukup kencang.

Andwae,”  bisiknya.

Kedua kakinya ia turunkan dari tempat peristirahatan dan beranjak menuju cermin untuk sekedar memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Is it… me?” gumamnya di tengah kesibukan menatap pantulan tubuhnya sendiri dari cermin air tersebut.

Tangan Ikha mengelus kulit wajahnya dengan lembut. Benar. Wajahnya terasa lebih terawat dibanding sebelumnya. Belum lagi tata rambutnya. Ya. Rambutnya. Ia masih ingat dengan jelas bahwa rambut yang begitu dibanggakannya tak pernah sepanjang ini—setengah punggung.

“Jamkkan! (Tunggu!)”

Bola mata Ikha berputar. Kedua alisnya menyatu membentuk sebuah gelombang. Seingatnya, malam ini ia berniat untuk menyusul Jonghyun dan Amber ke Hongdae. Namun karena sesuatu hal, taxi yang ditumpanginya terjungkal di jalanan. Ia tak bisa mengingat apapun setelah itu kecuali cahaya putih terang bercampur biru pekat mengisi seluruh pandangannya.

“KENAPA KAU MENINGGALKAN ACARA MAKAN MALAM BEGITU SAJA? ACARA ITU BEGITU PENTING BAGI KITA!”

Suara alto-bariton yang tertangkap oleh indera pendengaran Ikha membuat yeoja itu menghentikan aktivitas otaknya. Ia berjalan mengendap-ngendap dengan kaki telanjang, mendekati arah suara. Bahkan ia sempat menghindar ketika sesuatu seperti akar parasit bergerak meraih rambutnya yang kini memanjang. Setelah diperhatikan, akar itu ternyata bergerak untuk membuka gorden tipis yang membatasi ruangan tempatnya tertidur barusan dengan ruangan lain.

“Jangan bawa-bawa aku jika kau ingin menjadi seorang penjilat di depan Leeteuk,” balas suara yang lain. Suara ini berbeda dengan suara semula. Seperti ada dua orang yang sedang bercakap.

Ikha menghentikan langkahnya lalu memegang besi pada pagar pembatas. Pandangannya bergerak ke bawah—lantai dasar bangunan, mengintip sebisanya dan menemukan dua orang namja tengah bersitegang. Ia tak mengenal namja berambut spike berpakaian layaknya prajurit kerajaan. Tapi ia mengenal namja satunya. Sepertinya ia pernah bertemu dengan namja itu tapi tak ingat dimana persisnya.

Namja berpakaian prajurit itu mengeluarkan suara desah nafasnya yang terasa berat. “Aku tahu kau tidak pernah suka denganku—dan juga pada Leeteuk. Tapi setidaknya tunjukan sedikit rasa hormatmu saat berada di istana,” titahnya.

“Aku akan hormat pada siapapun selama mereka pun menghormatiku. Kau tahu sendiri, Beliau mengungkit sesuatu yang tak ingin kudengar. Menurutmu apa Beliau sengaja melakukannya untuk memancing emosiku? Atau memang dia ingin mengucilkanku?” olok namja berpakaian serba hitam tersebut. Ia berjalan mengitari namja yang menjadi lawan bicara hingga bunyi boots hitamnya terdengar mengetuk-ngetuk lantai.

“Dia tidak pernah sedikitpun mengucilkanmu, Kai. Justru dia bangga karena kau menjadi bagian dari Exo-K dan kandidat penguasa EP,” elaknya.

Suasana tiba-tiba berubah tenang. Tak ada kalimat sanggahan lagi dari namja bernama Kai tersebut. Ikha membesarkan pupil matanya, berusaha untuk melihat lebih jelas pada Kai hingga akhirnya ia tersentak begitu mengetahui namja itu mendongakan kepala—balas menatapnya.

Ikha memalingkan wajah, menghindari tatapan tajam Kai. Detik berikutnya ia segera berlari ke ruangan semula. Tubuhnya berputar menghadap gorden tipis yang menutup saat ia masuk ke ruang peristirahatan, sekedar untuk memastikan bahwa Kai tidak mengikuti dan memakinya karena telah menguping pembicaraan mereka.

Kakinya yang bergerak perlahan ke belakang sontak terhenti saat menabrak sesuatu. Yeoja itu memutar kepala dan mendapati Kai tengah berdiri tegak tepat di belakangnya. Bola matanya membulat. Tidak mungkin Kai bisa ada di ruangan yang sama dengannya.  Jelas-jelas Kai masih di bawah bersama namja berambut spike. Namja ini masuk lewat mana?

Satu tangan Kai mencengkeram pergelangan tangan Ikha hingga yeoja itu tak dapat menjauh darinya. “Peraturan ke-453 ayat 2 mengenai kaedah hukum menyebutkan bahwa seorang penguntit harus menjadi santapan Razours atau diarak keliling kota dengan tubuh telanjang,” tuturnya, setengah berbisik.

Mata Ikha yang semula terbuka berubah menyipit sepenuhnya. Sukses membuat Kai tersenyum tipis. “APA?”

Namja itu menarik tubuh Ikha mendekat pada tubuhnya hingga mereka saling menempel satu sama lain. “Akan kubawa kau ke suatu tempat. Setidaknya dengan begitu kau bisa belajar untk tidak menguntit lagi,”

Ikha memberontak. Ia sempat mengeluarkan suara sopran-nya beberapa agar Kai melepas jeratannya. Bayangan terburuk sempat melintas di benak Ikha. Mungkin Kai akan merealisasikan pilihan kedua dari peraturan yang baru saja ia sebutkan—mengaraknya keliling kota.

“ANDWAE! LEPASKAN AKU PRIA JALANG!” pekiknya.

Lagi-lagi Kai hanya tersenyum tipis. Dipeluknya tubuh Ikha dengan erat seraya memejamkan mata—membawa serta tubuh yeoja itu berteleportasi ke suatu tempat.

 

…To be Continued…

 

Next Chapter

Ikha: “Jelaskan dulu kenapa aku bisa ada disini!”

Kai: “Kau akan mengetahuinya nanti. Yang penting sekarang aku harus membawamu pada Sehun.”

 

Tao: “Sepertinya mereka merencanakan sesuatu.”

Kris: “Kita pakai rencana B. Waktu pertandingan semakin dekat.”

Luhan: “Jangan gunakan aku sebagai kaki tanganmu. Bersikap sportif lebih baik, bukan?”

32 pemikiran pada “EXO PLANET (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s