Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 3)

Title                 : Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 3)

Author             : Kim Eun Soo

Main Cast        : Jeon Hyosung (Secret), Byun Baekhyun, Xi Luhan

Support Cast    : Wu Yi Fan / Kris

Genre              : Romance, Sad

Length             : Chaptered

Rating              : General

Disclaimer       : All casts in this ff are belong to God, except Kris Oppa 😀 He’s my elder brother :p *dikeroyok*

A/N                  : Annyeong! Kim Eun Soo is back! Udah baca chapter 2 nya? Bagus gak? Nggak? Maaf deh L But enjoy it  J And for plagiatrism, Go Away! Once more, sorry for typo(s). Sorry if this chapter is far from your expectation.

Summary         : “Mianhae, Chagiya.”

 “Ketika cinta datang, berusahalah untuk menggapainya. Namun ketika akhirnya cinta itu pergi, relakanlah ia. Karena percayalah, bahwa suatu hari cinta sejatimu pasti akan datang. Dan ia akan memberikan kebahagiaan yang abadi untukmu.  ~Kim Eun Soo~

 

Happy Reading! Don’t be silent readers. Comment below 😀

 __________________________________

Jeon Hyosung POV

Aku memperbaiki letak earphone putih yang tersambung dengan i-pod berwarna sama yang masih bersembunyi di dalam tasku. Dentingan piano indah yang dimainkan oleh Yiruma kini tengah mengalun lembut menyusup ke dalam telingaku dan menciptakan rasa tenang sekaligus damai. Bau harum bunga-bunga yang mulai bermekaran menyergap indra penciumanku. Aku tersenyum kecil lalu mengalihkan pandanganku ke arah Sungai Han yang mengalir tepat di bawah jembatan tempatku berpijak kini.

Saat hampir mencapai ujung jembatan, aku berhenti sejenak. Kulangkahkan kakiku ke arah tepi jembatan, lalu bersandar di salah satu pilarnya. Aku menopang daguku dengan kedua tangan, menikmati angin semilir khas musim semi yang mulai bermain-main dengan rambutku yang kubiarkan tergerai. Aku memperbaiki posisi jepit rambut berbentuk buah cherry dari perak yang menghiasi rambut coklat terangku, ketika kurasakan getaran pelan di paha kananku. Aku menyadari sumber getaran pelan itu kemudian merogoh tas dan mengambil i-phone-ku yang kini berkedip-kedip.

Ada sebuah pesan masuk. Aku membukanya dengan tergesa-gesa, tidak berusaha menyangkal perasaanku yang berharap itu adalah pesan dari Baekhyun Oppa. Aku hanya bisa membiarkan desahan kecil keluar dari mulutku saat mengetahui apa yang kuharapkan tidak menjadi kenyataan. Well, itu hanya sebuah pesan singkat dari Kris Oppa yang menanyakan keberadaanku sekarang––mengingat aku memang pergi keluar saat ia masih terlelap dan aku benar-benar lupa untuk sekedar memberitahu Yoonji Ahjumma. Aku tersenyum pahit lalu mulai mengetik balasan untuk Kris Oppa.

Aku hendak berjalan kembali ketika mataku menangkap figur sepasang kekasih yang sedang berfoto di bawah pohon sakura di taman seberang jembatan. Mereka terlihat amat bahagia. Pikiranku mulai melayang pada Baekhyun Oppa. Sudah lebih dari tiga bulan aku berpacaran dengannya. Bahagia, itu yang kurasakan saat bersamanya. Hhh, andai saja Baekhyun Oppa mau menemaniku dan tidak lebih memilih meringkuk seharian di tempat tidurnya itu, pasti aku tidak akan kesepian seperti ini. Aku membuang napas lalu meneruskan langkahku yang sempat terhenti.

Semerbak bau bunga sakura menyeruak di hidungku ketika aku telah menapakkan kaki di atas rerumputan hijau yang berhiaskan pohon-pohon sakura––yang tidak terlalu tinggi––dengan bunga-bunga kecil berwarna putih yang bergerombol di setiap cabang pohonnya. Angin musim semi yang bergesekan dengan daun-daun yang mulai tumbuh dan menghijau bagaikan lantunan nyanyian alam yang terdengar amat merdu di telingaku––walau sedikit terhambat oleh lagu-lagu yang masih mengalun lewat earphone-ku. Aku terus berjalan sampai kulihat sebuah bangku kayu berwarna coklat di kejauhan. Kupercepat langkahku hingga akhirnya aku berhenti tepat di antara dua pohon sakura dengan bunga berwarna ungu yang menyembul di antara daunnya––tempat bangku itu berada. Aku mengamati situasinya sejenak. Tenang dan sunyi. Hanya beberapa orang yang lewat di sini––karena tempat ini cukup tersembunyi.

Aku tersenyum kecil lalu mendaratkan pantatku diatas kayu keras yang menyusun bangku itu sekaligus menempelkan punggungku di sandarannya. Kupejamkan mataku sambil menikmati dentingan piano lagu Love Me dari Yiruma yang tidak benar-benar kudengarkan sejak tadi. Kubiarkan angin semilir yang mulai menyusup ke balik leherku membagikan kesejukannya kemudian bersendekap. Setelah sekian menit bertahan dalam posisi itu, mataku mulai terasa berat untuk dibuka kembali. Akan tetapi, rasa kantuk itu hilang dalam sekejap ketika kurasakan seseorang duduk di tempat kosong di sampingku. Sepertinya dia seorang namja––bisa kutebak dari wangi parfum maskulinnya.

Aku tetap memejamkan mataku saat namja itu pelan-pelan mulai menggeser duduknya mendekat ke arahku. Aku masih terlalu takut––takut kalau namja itu akan berbuat macam-macam padaku kalau ia tahu aku telah terbangun, serta takut akan apa yang terjadi padaku setelah ini. Semakin dekat jarak tubuhnya denganku semakin mudah pula hidungku menangkap aroma tubuhnya. Baunya terasa begitu familiar di hidungku, tapi aku terlalu panik untuk sekedar mengingat siapa yang memiliki aroma sama dengan namja di sampingku ini.

Setelah sepersekian detik kurasakan telapak tangan seseorang––sepertinya milik namja itu––mendarat di rambutku lalu membelainya dengan lembut, dan anehnya terasa begitu nyaman seolah-olah aku pernah merasakan belaian ini sebelumnya. Bukankah seharusnya aku merasa aneh dan takut jika seorang namja tak dikenal membelai rambutku seperti sekarang? Tapi kenapa rasanya justru berbanding terbalik? Apa mungkin aku memang pernah merasakannya sebelumnya?

Hmm, mungkinkah namja ini Wu Fan Oppa? Tidak mungkin! Aku baru saja memberitahunya tempatku berada sekitar 20 menit yang lalu, sedangkan jarak tempuh dari rumahku ke taman ini perlu waktu lebih dari setengah jam. Atau mungkin, namja ini Luhan Oppa? Impossible! Dia sedang berada di Itali bersama keluarganya dan baru akan terbang ke Korea besok pagi. Lalu siapa lagi? Baekhyun Oppa? Mungkin saja, tapi dia pasti masih tertidur pulas di atas tempat tidur king size-nya itu dan tidak akan terbangun sampai…

“Yeppeuda. Kau sangat cantik saat mengenakan baju musim semi-mu ini, Hyosungie. Tapi, kenapa Kau bisa tertidur pulas di taman seperti ini? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padamu hmm? Dasar ceroboh,” ucap namja itu dengan suaranya yang terdengar sangat familiar di telingaku. Kali ini otakku bekerja dengan cepat untuk mengingat siapa pemilik suara berat ini. Seketika sebuah nama muncul di otakku. Baekhyun Oppa! Benar, dari aroma tubuhnya, suaranya, dan cara membelainya, aku yakin sekali namja di sampingku ini adalah Baekhyun Oppa, namjachinguku.

Aku segera membuka mataku dan mendapati seorang namja berkulit putih dengan bola mata gelap tengah tersenyum sambil menatapku intens. Mata sipitnya membulat dalam sekejap saat melihatku yang ia kira sedang tertidur tiba-tiba terbangun. Tetapi mimik kagetnya hilang dengan cepat dan berubah menjadi senyum jahil. Dia tidak berkata apa-apa, tapi semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Tangan kanannya mendarat di bahuku, sedangkan tangan kirinya yang mencengkeram sandaran bangku berhasil mengunci pergerakanku. Aku memandangnya tak berkedip, tubuhku terasa kaku bahkan untuk bergerak seujung jari pun.

Wajahnya semakin dekat denganku––hanya berjarak sekitar dua inchi––hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang menerpa wajahku dan hidung mancungnya yang bersentuhan dengan hidung mungilku. Kupejamkan mataku, menghindari kontak mata dengannya serta bersiap untuk hal selanjutnya. Mataku sudah hampir semenit terpejam, namun tetap tidak ada yang terjadi. Deruan napasnya memang masih bisa kurasakan, tapi… Aish, sulit sekali menjelaskannya. Kucoba membuka kelopak mataku, tapi sebelum hampir setengahnya terbuka kurasakan Baekhyun Oppa memelukku erat. Begitu erat hingga aku sulit bernapas.

Aku tetap membiarkannya memelukku sampai kudengar sayup-sayup suara kikikan menerobos gendang telingaku. Aku mengernyit heran, benar-benar tidak paham dengan semua sikap Baekhyun Oppa kali ini. Kikikannya terdengar semakin keras dan berubah menjadi tawa renyah. Ia melepaskan pelukannya hingga aku bisa melihat wajahnya yang merah karena tertawa. Ia berhenti tertawa lalu bersandar di sandaran bangku di sampingku.

“Apa yang Kau tertawakan?” tanyaku penasaran seraya melepas earphone dari telingaku kemudian menaruhnya di tas dan mematikan alunan lagu yang masih terus beputar di i-pod putihku.

Baekhyun Oppa beralih menatapku. Dan saat mata kami bertemu tawanya kembali meledak. Ia membekap mulutnya seraya menggenggam tanganku erat.

“Ya, Oppa! Aku bertanya padamu dan Kau tidak menjawab tapi malah tertawa! Aish, aku ini bukan badut tahu!” seruku padanya. Aku mulai mengerucutkan bibirku dan melepaskan genggaman tangannya padaku.

Tawa Baekhyun Oppa tidak lagi terdengar di telingaku. Tiba-tiba lengannya melingkari tubuhku, membuatku membeku sesaat. Aku tidak menolak pelukannya tetapi juga tidak membalasnya, membiarkan namjachinguku ini menjelaskan apa maksudnya yang sebenarnya.

“Mianhae, aku hanya bercanda.. seperti biasa. Tapi, kalau aku boleh berbicara padamu yang sebenarnya–..”

“Well, sekarang Kau sudah berbicara padaku, Oppa.”

Baekhyun Oppa tertawa kecil lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi. “Kau.. Kau sangat lucu, Hyo. Maksudku, apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu saat wajah kita hanya terpaut sekitar dua inchi? Kenapa Kau memejamkan matamu hmm?” tanyanya tanpa menyembunyikan tawa renyahnya.

Aku terhenyak, baru tersadar dengan semua sikap Baekhyun Oppa. Kenapa ia tersenyum seperti itu, kenapa ia mendekatkan wajahnya padaku, kenapa aku tidak merasakan apapun dalam waktu semenit itu, dan kenapa ia segera memelukku lalu tertawa terbahak-bahak. Huh! Rupanya dia hanya mengerjaiku! Menyebalkan! Aish, Mr. Byun Baekhyun, aku benar-benar ingin membunuhmu sekarang juga! Arrgh. Gara-gara Kau pula aku jadi malu seperti sekarang. Pasti wajahku sudah semerah kepiting rebus saat ini. Huh, dimana aku bisa menyembunyikan wajahku kali ini? umpatku dalam hati.

“Hyosungie?” tanya Baekhyun Oppa setelah melepaskan pelukannya. Ia mencoba menatap wajahku, tapi aku dengan cepat memalingkannya ke arah lain.

“Wae? Kau marah? Hei, aku hanya bercanda, Chagiya,” kata Baekhyun Oppa tepat di telinga kiriku, membuat wajahku semakin memanas.

“Ani, aku hanya kesal. Sudahlah, menjauh dariku sekarang juga!” sergahku tanpa melihat ke arahnya.

Sedetik kemudian kurasakan Baekhyun Oppa mulai menelusuri wajahku menggunakan jarinya sekaligus meletakkan telapak tangannya di pipi kiriku. “Omo! Kenapa pipimu terasa hangat, Chagiya? Oh! Wajahmu berwarna pink sekarang!” serunya yang sukses membuatku berpaling dengan cepat ke arahnya. Aku mendengus sebal lalu beranjak dari bangku itu dan mulai berjalan menjauh darinya.

Bisa kudengar derap langkah yang mengikutiku dari belakang, namun aku tidak sekali pun mau untuk menoleh karena pasti yang pertama kali kulihat adalah wajah tengil milik Baekhyun Oppa. Aku kembali mendecak kesal saat mengingat apa yang baru saja terjadi di antara kami. Sejak kapan namjachingu-ku ini berubah menjadi sangat jahil? Tch, menyebalkan!

Suara Baekhyun Oppa kemudian menyapa indra pendengarku, “Hyo, hentikan langkahmu. Atau aku akan..”

“Atau apa hmm?” tanyaku memotong kalimat Baekhyun Oppa untuk yang kedua kalinya. Aku kini tanpa sadar telah berhenti berjalan dan berbalik menghadap ke arahnya.

Aku tidak mendengar jawaban keluar dari mulut Baekhyun Oppa, tapi aku malah melihat evil smirk-nya. Hei, watch out! Sejak kapan namjachingu-ku bisa mengeluarkan evil smirk seperti itu? Aish, aku benar-benar membenci senyumnya yang satu ini. Pasti hal itu tidak bertanda baik.

“Atau apa?” tanyaku sekali lagi pada Baekhyun Oppa. Kesabaranku sudah mulai habis untuk menghadapi sikap jahilnya.

Baekhyun Oppa berjalan mendekat ke arahku dan masih dengan evil smirk yang terpampang jelas di wajahnya, membuatku semakin muak––meski ia adalah namjachingu-ku sendiri. “Aish, jinjja. Apa Kau benar-benar tidak sadar kalau Kau sudah berhenti berjalan sekarang, Hyo?”

Aku seakan tertohok oleh pertanyaannya. Aku menatap kedua kakiku, lalu berganti menatapanya. Kuhentakkan kakiku ke tanah kemudian berputar arah dan berjalan memunggunginya. Tapi sebelum aku sempat berjalan lebih dari tiga langkah, lengannya kembali menahan tubuhku dan tubuhnya menghadangku dari depan.

Aku menatapnya geram. Tadi aku begitu menginginkan kehadirannya, tapi sekarang aku benar-benar ingin ia segera enyah dari hadapanku. “Apa lagi huh?” tanyaku ketus.

“Ayo kuantar Kau pulang,” tawar Baekhyun Oppa lembut. Tangan kanannya terulur ke arahku.

“Shireoh! Aku tidak mau Kau antar pulang,” tolakku cepat. Kutampis tangan kanannya dengan sedikit kasar.

“Oh my.. Ayolah, Hyosungie. Jangan terlalu keras kepala seperti ini. Memangnya Kau tidak ingin diantar pulang oleh namjachingu-mu sendiri hmm?” tanyanya sambil mengeluarkan puppy eyes.

“Kau selalu saja membuatku kesal, Oppa! Aku tidak ingat aku punya seorang namjachingu yang menyebalkan sepertimu!” tukasku cepat. Kulipat kedua lenganku di depan dada.

“Oh come on, Hyo. Well, okay, mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi, yaksok! Have you forgive me yet?”

“Kau pikir semudah itu minta maaf?” tanyaku sinis.

“Aish, lalu apa yang harus kulakukan agar Kau mau memaafkanku? Katakan padaku, Hyo.”

“Molla. Aku sedang malas memaafkan seseorang hari ini. Jadi, biarkan aku pulang sekarang. Minggir! Kau menghalangi jalanku!” sergahku pada Baekhyun Oppa yang sepertinya mulai kehabisan akal untuk merayuku. Huh, rasakan! Memangnya semudah itu meminta maaf pada seorang Jeon Hyosung?

Baekhyun Oppa sama sekali tidak melepaskan lengannya yang menahan tubuhku, malah semakin mempereratnya. “Oh God. Hyosungie, ayolah. Mianhae, jebal. Aku akan melakukan apa saja,” ucapnya. Tersirat ketulusan di dalam kalimatnya yang baru saja kudengar.

Aku tetap diam. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling taman, berusaha menghindari mata gelapnya. Tetapi malangnya, mataku menangkap siluet sebuah kedai es krim yang tidak jauh dari tempat kami berada sekarang. Semua pertengkaranku dengan Baekhyun Oppa seakan lenyap dari memoriku dalam hitungan detik, membuat lensa mataku hanya terfokus pada satu bangunan kecil yang cukup ramai didatangi anak-anak sampai orang dewasa. Sepertinya enak, ujarku dalam hati.

“Kau mau es krim itu?” tanya Baekhyun Oppa lembut. Aku segera berpaling menatapnya, sedangkan ia hanya tersenyum. “Aku sudah cukup lama mengenalmu untuk bisa menerka apa yang ada di dalam otakmu sekarang. Geurae, kaja.” Ia menggandeng lenganku menuju kedai es krim yang baru saja menyita perhatianku.

“Ahjussi, es krim strawberry-nya satu, es krim coklatnya satu,” pesannya pada Ahjussi pemilik kedai itu saat kami sampai di sana.

“Ne, tunggu sebentar,” jawab Ahjussi itu ramah.

Aku hanya memandang Baekhyun Oppa tanpa berbicara sepatah kata pun, begitu pula dengannya. Bedanya, aku memandangnya dengan tatapan bingung sedangkan ia memandangku dengan sebuah senyum manis yang menghiasi wajahnya.

“Igo, pesanan kalian,” kata Ahjussi penjual es krim itu membuyarkan lamunanku.

Baekhyun Oppa segera menerima es krim itu lalu membayarnya. “Gomawo, Ahjussi.” Ahjussi itu tersenyum semakin lebar. “Ne, cheonmaneyo. Semoga kalian berdua menikmatinya.”

Baekhyun Oppa membalas senyum itu untuk yang terahir kalinya, diikuti denganku. “Igo,” ujarnya singkat sambil menyodorkan es krim strawberry ke arahku. Aku menerimanya lalu memakannya dalam diam.

“Jadi.. maukah Kau pulang bersamaku sekarang?” tanyanya saat kami telah menghabiskan es krim masing-masing. Aku masih tetap diam, enggan untuk sekedar mengatakan ‘iya’ atau mengangguk kecil. Kudengar helaan napas keluar dari mulut Baekhyun Oppa. Ia menarik napas, mengeluarkannya, lalu berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Err, kukira dengan es krim tadi Kau telah memaafkanku, Hyo. Jadi, bagaimana menurutmu?”

Aku berpaling memandang Baekhyun Oppa sambil tersenyum lalu mengangguk kecil. “Sebenarnya aku masih sedikit kesal padamu, Oppa. Tapi karena Kau telah mentraktirku es krim, jadi.. yah, aku memaafkanmu.. dengan sedikit berat hati.”

“Aish, ternyata yeojachingu-ku ini nakal juga ya,” kata Baekhyun Oppa seraya mencubit pipiku pelan.

“Ouh, apayo, Oppa,” kataku sambil meringis kesakitan tapi tetap tidak menghilangkan senyum yang menghiasi wajahku.

Baekhyun Oppa tertawa kecil lalu mengalungkan lengannya di leherku. “Mianhae, Chagi. Let’s go home.”

***

Aku memberengut kemudian melipat kedua tanganku di depan dada sambil sesekali mendecakkan lidah yang akhirnya selalu diakhiri dengan senyum Baekhyun Oppa yang seakan menyuruhku untuk bersabar. Aku hanya memutar bola mataku setiap kali ia memberiku senyum yang bisa membuat hati setiap yeoja meleleh, termasuk aku. Tapi bagaimana mungkin aku tidak kesal? Kami telah berdiri di depan pintu rumahku selama lebih dari setengah jam hanya untuk menunggu Wu Fan Oppa membukakan pintunya untuk kami. Aku saja masih tidak yakin dengan gagasan itu, mengingat ia tidak membalas satu pun pesan singkat yang sejak tadi kukirim ke nomornya––bahkan Baekhyun Oppa juga ikut melakukannya––dan ia juga sama sekali tidak mengangkat teleponku. Kenapa aku tidak menyuruh Yoonji Ahjumma atau setidaknya Dongho Ahjussi untuk melakukannya? Karena malangnya, hari ini adalah jadwal mereka untuk pergi ke supermarket dan tempat laundry. Argh, betapa tidak beruntungnya aku hari ini.

Aku heran, apa yang sebenarnya dilakukan Wu Fan Oppa sekarang? Apa ia sedang mandi? Tapi, kenapa mandinya lama sekali? Atau mungkin, ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya dan terlalu fokus sampai tidak menyadari ponselnya berbunyi? Aish, memangnya dimana Wu Fan Oppa menaruh ponselnya sampai-sampai ia tidak mendengar bunyinya yang nyaring itu? Atau jangan-jangan, ia masih tidur? Oh Tuhan, aku harap jawabannya bukan opsi terakhir. Oppa-ku itu kan sangat kebal terhadap apapun saat sedang tidur. Aish, eotteokhae? Bisa-bisa aku menunggu sampai Yoonji Ahjumma dan Dongho Ahjussi datang kalau Oppa memang sedang tidur sekarang.

Kulirik Baekhyun Oppa sekilas, berusaha menghilangkan keraguan sekaligus kebosanan yang sejak tadi menguasaiku. Punggungnya ia sandarkan pada dinding rumahku yang bercat krem, dengan kedua tangan yang bersarang di saku jeans coklatnya. Pandangannya lurus ke bawah, tanpa sebuah senyum––yang baru saja ia suguhkan padaku lima belas menit yang lalu––yang menghiasi wajah imutnya.  Aku tersenyum bersalah saat mata jernihnya bertemu dengan mata coklat terangku. Kutatap jam tangan putih di pergelangan tangan kiriku untuk yang kesekian kalinya. Jarum pendek yang berwarna keperakan itu berhenti sangat dekat dengan angka dua belas, sedangkan jarum yang lebih panjang menggapai angka sepuluh, yang berarti waktu menungguku telah beranjak dari setengah jam menuju satu jam.

Aku mendesah pelan lalu menghempaskan tubuhku yang mulai pegal-pegal ke atas salah satu sofa berlapiskan beludru warna hitam pekat di samping jendela besar yang terpasang kokoh mendampingi pintu rumahku. Kupejamkan mataku, mencoba menikmati semilir angin musim semi yang kini terasa begitu sejuk saat menyentuh permukaan kulitku.

“Kau lelah?” Suara berat Baekhyun Oppa membuatku kembali membuka mata.

Aku melihatnya sejenak dari sudut mataku kemudian bergumam pelan, “Mmm.” Tidak ada jawaban. “Oppa, kenapa Kau tidak menemaniku duduk di sini saja? Daripada berdiri di sana sepanjang waktu?” tanyaku berusaha menghilangkan keheningan di antara kami.

“Lebih baik aku menunggu di sini saja, Hyo,” jawabnya seraya tersenyum manis.

“Hei, aku bahkan tidak yakin apakah Wu Fan Oppa benar-benar akan membukakan pintunya untuk kita. Mungkin sekarang dia sedang bersantai-santai tidur di kasur empuknya itu dan melupakan nasib kita,” jawabku sinis.

“Aku sudah mengirim pesan padanya. Mungkin sebentar lagi Hyung akan membukakan pintunya. Kau tenang saja,” balasnya datar––senada dengan raut mukanya.

“Oh my.. Baekki Oppa, kita bahkan telah mengiriminya berpuluh-puluh pesan singkat sejak tadi hingga sekarang. Kita juga telah mencoba untuk meneleponnya. Tapi tetap saja Oppa tidak mengangkatnya. Kau kira apa lagi yang bisa kita harapkan selain menunggu Yoonji Ahjumma dan Dongho Ahjussi pulang dari rutinitas mereka?” Aku mendecak sebal lalu mengambil ikat rambut ungu dari dalam tasku dan menggunakannya untuk mengikat rambutku ke belakang.

“Oh well, aku memang tidak punya alasan lagi. Tapi aku yakin Kris Hyung akan segera membukakan pintunya,” katanya tegas penuh keyakinan.

“Aku heran, dari mana Kau mendapatkan keyakinan sebesar itu, Oppa? Ckck, Kau memang tidak tahu seberapa mati rasanya Wu Fan Oppa saat ia telah memasuki alam mimpi. Bahkan sepuluh jam weker pun tidak akan sanggup membuatnya terbangun,” sungutku pada Baekhyun Oppa.

Aku semakin heran saat ia tertawa mendengar jawabanku. Seingatku aku tidak membuat lelucon, tapi kenapa ia tertawa? “Kenapa Kau tidak pulang saja, Oppa? Lagipula, apa untungnya Kau menemaniku selama ini? Asal Kau tahu saja, aku tidak mau merepotkanmu, Oppa. Pulanglah.”

“Aku khawatir meninggalkanmu sendirian di sini. Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana? Dan sedikit ralat, Kau tidak mau merepotkanku? Hei, Kau bahkan sudah terlalu sering merepotkanku sebelum ini. Don’t you remember that?” sindir Baekhyun Oppa dengan senyum jahilnya yang sangat kubenci.

Aku mengerucutkan bibirku kemudian menjawab dengan kesal, “Oppa, ini rumahku sendiri. Kenapa Kau bisa khawatir meninggalkanku di rumahku sendiri? Pfft, aneh sekali.”

“Tapi aku–..” Kalimat Baekhyun Oppa terpotong oleh ringotne i-phone hitamnya. Ia segera merogoh saku kanan jeans coklatnya dan seketika matanya terbelalak saat melihat caller id yang terpampang di layar. Ia mendongak menatapku lalu berbisik pelan, “Kris Hyung.”

“Yoboseoyo? Hyung?” ucap Baekhyun Oppa seraya melirikku.

“Ah ne, gwaenchana. Hyosungie? Dia sedang duduk di sofa sambil memandangku tanpa berkedip sekarang,” ucapnya lagi sambil tersenyum evil. Aku hanya mendengus pelan mendengar kata-katanya. Seenaknya saja dia bilang seperti itu pada Kris Oppa.

“Ne, aku akan menunggumu. Ne, annyeong.” Kini senyum evil Baekhyun Oppa berganti menjadi seulas senyum tipis. Ia meletakkan i-phone-nya ke dalam saku celana. Ia beralih menatapku kemudian bergumam pelan, “Kris Hyung akan turun sebentar lagi dan membukakan pintunya untuk kita. Apa kubilang, ia benar-benar akan melakukannya kan?”

Kuputar bola mataku lalu mendengus sebal. Aku akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Baekhyun Oppa. “Arasseo. Kali ini Kau benar, Oppa. Tapi ingatlah satu hal, Kau tidak berhak memalsukan perbuatanku seperti tadi. Siapa juga yang memandangmu tanpa berkedip, Oppa? Huh, Kau membuatku terkesan seperti orang bodoh!”

Baekhyun Oppa hanya tertawa ringan mendengar omelanku. Ia mengalungkan lengannya di leherku kemudian berbisik pelan, “Mianhae, Chagiya. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Kurasakan pipiku mulai memanas dan––sepertinya––juga ikut berubah warna. Aku hanya menunduk mendengar jawabannya––sekaligus berusaha menyembunyikan perubahan warna wajahku––lalu tersenyum kecil.

“Ehm.” Aku dan Baekhyun Oppa segera mendongak mendengar suara berat seorang namja––yang aku yakin pemiliknya adalah Kris Oppa. Pipiku yang baru saja menghangat langsung mendingin saat mataku menangkap sosok tegap seorang namja yang kini berdiri persis di hadapanku dan Baekhyun Oppa. Aku mendengus pelan lalu melepaskan lengan Baekki Oppa dan segera masuk ke dalam rumah melewati Kris Oppa yang masih menatapku––ehm, maksudku kami––dengan pandangan bertanya.

Aku segera menaruh tas kulit merah maroon-ku di atas sofa kemudian berbalik menghadap dua orang namja yang masih belum beranjak dari tempat mereka berpijak sedikit pun. Kuputar bola mataku ketika melihat mereka masih saling menatap satu sama lain dengan puzzle look lalu berseru kepada mereka sambil berkacak pinggang, “Sampai kapan kalian berdua mau berdiri di sana hmm?”

Tidak ada jawaban. Aku menghela napas sebal melihat tingkah Kris Oppa dan Baekhyun Oppa yang sama sekali tidak mendengarkanku. “Wu Fan Oppa! Baekhyun Oppa! Berhenti saling tatap dengan ekspresi seperti itu dan segeralah masuk ke dalam!” seruku lebih keras daripada sebelumnya.

Mereka terlonjak kaget mendengarkan seruanku kemudian Baekhyun Oppa masuk ke dalam sedangkan Kris Oppa menutup pintunya dulu. Aku bernapas lega lalu merebahkan tubuhku di sofa dan memejamkan mataku yang terasa berat, ketika kurasakan seseorang duduk di sampingku. Kubuka mataku perlahan dan kudapati wajah Baekhyun Oppa yang terlihat kelelahan dengan mata terpejam hanya berjarak sejengkal dari tempatku duduk. Aku tersenyum tipis dan segera bangkit dari sofa. “Kalian mau minum apa?”

Baekhyun Oppa membuka matanya kemudian menjawab pelan, “Terserah Kau saja. Tapi aku minta yang dingin.”

“Mm. Kau, Kris Oppa?” tanyaku beralih pada Kris Oppa yang kini telah duduk di sofa berhadapan dengan Baekhyun Oppa dan tengah sibuk menekan-nekan layar i-phone-nya. Ia mendongak menatapku lalu mengangkat bahu.

“Baiklah. Aku akan membuatkan minuman untuk kalian, tunggu sebentar di sini. Dan Kau Kris Oppa, kurasa sebaiknya Kau temani Baekhyun Oppa mengobrol. He’s our guest, I hope you still remember that.”

“Yeah. Just go and be quick, Hyo,” jawab Kris Oppa sembari memasukkan kembali ponselnya ke saku celana pendeknya.

Aku tersenyum tipis lalu berjalan ke arah dapur. Segera kuambil tiga buah gelas berbentuk silindris dengan motif bunga-bunga berwarna biru di lemari kaca yang ada di dekat lemari es. Aku mulai meracik lemon tea dan menambahkan gula.

“Akhirnya selesai juga,” ucapku setelah menuangkan air dingin ke dalam gelas. Aku menaruh lemon tea buatanku di atas nampan lalu membawanya ke ruang tamu.

Hyosung POV End

 

Author POV

“Kris Oppa, Baekki Oppa. Ini lemon tea-nya. Kalian pasti haus kan? Mian aku terlalu lama,” ucap Hyosung kemudian menata lemon tea buatannya di hadapan mereka.

“Ah, gwaenchana Hyosungie. Gomawo,” ujar Baekhyun disertai seulas senyum tipis––yang menurut Hyosung terlihat cukup aneh.

“Ne,” jawab Hyosung singkat kemudian mengambil tempat duduk di samping namjachingu-nya.

Mereka mulai meminum lemon tea masing-masing, kecuali Baekhyun. Namja itu hanya menatap gelas di hadapannya tetapi terlihat jelas kalau perhatiannya tidak tertuju pada gelas itu. Hyosung yang pertama kali menyadari keanehan itu mengernyit heran. Ia menatap ke arah Kris seolah meminta penjelasan. Kris hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu menahu dengan sikap Baekhyun saat itu.

“Baekki-ya, kenapa Kau tidak meminum lemon tea-mu? Tenang saja, aku jamin Hyosungie tidak memasukkan racun ke dalamnya,” ujar Kris terkekeh geli.

“Ah, ne? A-aku juga yakin Hyosungie tidak akan melakukan hal itu padaku, Hyung,” jawab Baekhyun salah tingkah lalu meminum lemon tea-nya dengan tangan gemetar.

Hyosung segera menangkap keganjilan itu kemudian bertanya kepada Baekhyun dengan nada khawatir, “Baekki Oppa, gwaenchanayo? Kenapa tanganmu gemetar seperti itu?”

“Ah, ne? Oh, aniya, na gwaenchana.” Baekhyun memaksakan seulas senyum di wajahnya.

“Jeongmal? Tapi aku tidak yakin Kau baik-baik saja. Atau..” Hyosung berpaling ke arah Kris dengan mata menyipit kemudian kembali menatap Baekhyun. “Atau.. Kris Oppa berkata sesuatu padamu? Benar kan? Apa yang ia katakan?” Hyosung melotot menatap Oppa-nya yang masih memasang wajah innocent.

“Ne? Ah, anieyo. Mungkin, aku hanya sedikit gugup. Ya.. sedikit gugup,” elak Baekhyun cepat, terlalu cepat hingga membuat Hyosung semakin curiga.

“Gugup? Bukankah Kau sudah sangat dekat dengan Kris Oppa? Kenapa tiba-tiba bisa gugup seperti ini?” tanya Hyosung penuh selidik, matanya menatap intens Kris yang dengan santai meminum lemon tea-nya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Mmm, yah.. nado molla, Hyo. Aku hanya takut kalau tiba-tiba Kris Hyung mengeluarkan taringnya lalu menggigitku. Ups,” ucap Baekhyun seraya menutup mulut dan memberikan cengiran tak bersalah serta V-sign menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Ne?” tanya Hyosung tidak percaya dengan jawaban Baekhyun. Ini aku yang sedang bermimpi atau mereka yang terlampau aneh? Tch, lagipula jawaban macam apa itu? gerutu Hyosung dalam hati.

“Ya! Kau pikir aku ini vampir penghisap darah manusia apa? Aish, jangan macam-macam Kau, Byun Baekhyun!” seru Kris sambil memberikan death glare-nya pada Baekhyun.

“Issh, kalian berdua ini kenapa sebenarnya? Aneh sekali. Baekki Oppa, dengarkan aku baik-baik. Kris Oppa memang terkadang terlihat menakutkan, mengerikan, dan..”

“Jeon Hyosung!” ujar Kris membuat Hyosung seketika menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.

“Dan berbagai ekspresi serupa. Emm, Kau tahu maksudku, kan, Oppa? Tapi tenang saja, dia tidak akan menggigitmu––setidaknya Oppa-ku tidak separah itu, arasseo?”

“Ah, ne. Arasseo.”

“Aish, kalian berdua. Arrgh, jincha!” gerutu Kris sambil mengerucutkan bibirnya.

“Geundae, ada satu hal yang masih ingin kutanyakan. Mmm, kalian berdua tidak merahasiakan sesuatu dariku, kan?” tanya Hyosung pelan dan sangat berhati-hati.

“Ani!” jawab Kris dan Baekhyun bersamaan, membuat Hyosung menatap mereka berdua dengan dahi berkerut. Baekhyun yang menyadari situasi itu segera menyela, “Ani, maksudku, tentu saja tidak. Kami tidak mungkin melakukan hal semacam itu padamu. Kau percaya pada kami, kan, Hyo?”

“Yep, benar apa yang dikatakan Baekhyunnnie.” Kris yang sedari tadi diam ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.

“Mmm, ne. Tentu saja aku percaya pada kalian,” kata Hyosung kemudian tersenyum sangat manis.

Kris bangkit dari sofa setelah menenggak habis lemon tea-nya. “Nah, kalau begitu aku ke kamar dulu. Aku ingin mandi lalu istirahat. Annyeong, Baekki-ya.”

“Kau tidak mengatakan selamat tinggal pada yeo-dongsaengmu sendiri?” tanya Hyosung mengangkat sebelah alisnya.

“Oh, aku lupa kalau aku mempunyai seorang yeo-dongsaeng yang sangat manja dan cerewet. Geurae, annyeong Hyosungie.”

“Aish, Oppa menyebalkaaan!” teriak Hyosung pada Kris yang telah melenggang ke kamarnya di lantai dua.

***

Jeon Hyosung POV

Hari ini adalah weekend pertama di musim gugur. Rasanya menyenangkan sekali. Dimana-mana wangi bunga menyeruak ke indra penciumanku. Segar, begitu menentramkan. Sejak kecil aku suka sekali musim gugur. Karena di musim itu aku selalu mendapatkan banyak keberuntungan yang tidak terduga. Hmm, sepertinya bintang keberuntunganku selalu jatuh di musim gugur. Ah, semoga musim gugur kali ini bintang keberuntunganku bersinar terang.

Kurasa semakin lama waktu berjalan semakin cepat. Tapi aku menyukai percepatan itu, karena semuanya terasa sangat menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan kalau setiap waktu yang kulalui Baekhyun Oppa sebisa mungkin selalu berada di sampingku? Oh, omong-omong tentang Baekhyun Oppa, kami sudah hampir setahun berpacaran. Dan hari ini adalah hari jadi kita bulan ke-sepuluh. Aah, aku sudah tidak sabar untuk merayakannya dengan Baekhyun Oppa. Ya, kita akan pergi jalan-jalan nanti sore. Ehm, Baekhyun Oppa juga bilang kalau nanti kita akan pergi ke taman tempat dia menyatakan perasaannya padaku.

Ah, satu lagi. Meski selama ini semuanya berjalan dengan baik, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda dari Luhan Oppa. Dia… berubah. Sepertinya hubunganku dengannya mulai menjauh. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Benar, kita memang masih melakukan banyak hal bersama. Tapi.. aku merasa seakan ada jarak yang tak kasat mata antara aku dengan Luhan Oppa. Berbeda dengan hubungan Baekhyun Oppa dengannya. Mereka terlihat baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Tapi kalau aku tiba-tiba datang di tengah-tengah mereka, Luhan Oppa seolah menghindar dariku. Ia akan langsung beralasan lalu pergi meninggalkan kami berdua. Aku bingung, juga sedih. Aku merasa kehilangan sosok Luhan Oppa yang dulu. Aku.. merindukannya.

***

            “Kau siap, Hyo?” tanya Baekhyun Oppa saat ia menjemputku di rumah.

“Ne. Kaja, Oppa,” ajakku sambil menggamit lengannya menuju ke mobil.

***

            Aku menapakkan kakiku pada rerumputan yang membalut jalan setapak di taman. Kuhirup oksigen yang bercampur dengan semerbak bau bunga sakura sebanyak-banyaknya, menikmati kesegarannya yang membuat hati dan pikiranku merasakan ketenangan. Tangan kanan Baekhyun Oppa melingkar di leherku, sesekali ia mengelus pipiku lembut lalu mencubitnya pelan. Tangannya kini mengusap puncak kepalaku kemudian menghadapkan wajahku ke arahnya dan mencium bibirku lembut, penuh ketulusan. Ia melumat bibirku pelan dan ciuman itu berlangsung cukup lama. Oh satu lagi,  kita berciuman di depan umum!

Well, sebenarnya aku menyukai perlakuan Baekhyun Oppa padaku, tapi kurasa yang tadi itu agak berlebihan. Bukan karena itu pertama kalinya kita berciuman, tapi karena tadi merupakan pertama kalinya Baekhyun Oppa menciumku selama itu di depan umum. Aku tahu benar kalau Baekhyun Oppa bukan seorang namja yang suka bermesaraan di depan umum, lalu yang tadi itu… kenapa dia melakukannya?

“Baekhyun Oppa, aku malu.” Aku akhirnya mengutarakan perasaanku.

Ia memandangku lalu tersenyum tipis. “Hehe, mian. Aku lupa kita masih di tempat umum. Tadi aku hanya rindu menciummu. Lagipula, belum tentu kita bisa seperti itu lagi.”

“Ne?” Ini aku yang salah dengar atau memang Baekhyun Oppa berkata seperti itu?

Baekhyun Oppa kembali tersenyum tipis dan mengeluarkan ekspresi aneh yang sulit ditebak. “Ah, lupakan. A-ku.. ngg, aku hanya meracau tadi. Mmm.. Hyosungie, ada yang ingin kubicarakan.”

 

TBC

Readers, otte? Jelek yah? Mianhae, waktu nulis chapter ini aku lagi suntuk-suntuknya. Jadi hasilnya berantakan kayak gini. Once more, mianhaeyo readers L Please wait for the next chap and RCL. Gamsahaeyo J

5 pemikiran pada “Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 3)

  1. first ? 🙂
    hwuaaa baekhyun oppa mau bicarain apa ya ? jangan-jangan dia mau ngomong kalau dia itu sakit ? ANDWEE !! 😦
    penasaran sama lanjutannya thor ..

  2. Aduh Hyosungku kenapa? Rasanya Hyosungku akan mengalami hal yg buruk. Saya biasnya dan saya tak akan membiarkan Hyosungku bersedih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s