Fragile Heart

Author : Pradessi (@paramitapradesi)

Cast : Baekhyun , Woo Sunghyo, Kim Jongin, Kim Joonmyun

Genre : Hurt , Romance

Length : Oneshot

Baekhyun Pov

Suara alat pendeteksi detak jantung menjadi alunan teratur ditelingaku, aroma obat obattan sangat menyengat membuatku bisa saja bosan di tempat ini, tapi ternyata aku tidak bisa. Karena memandang wajahnya membuatku cukup bahagia. Gadis itu, ia terdiam disana. Wajah polosnya terlihat pucat dan lemah.

Aku menggenggam tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan ke dalam tubuhnya yang sangat dingin. Bibirnya memucat dan yang lebih memilukan adalah gadis itu tidak pernah bangun 2 hari belakangan ini. Aku khawatir? Tentu saja.

Aku mengusap rambut hitamnya, kecantikannya tidak akan pernah pudar walaupun nafas gadis ini tidak teratur seperti kebanyakan orang. Hidungnya ditutupi alat tebal, aku menatapnya miris. Tidak bisakah dia bangun sebentar, sebentar saja aku ingin mengobrol dengannya seperti dulu lagi.

_

Suara derap langkah seseorang membuatku mendongak, aku menatap gadis dihadapanku dengan bingung seraya menaruh psp yang baru saja aku mainkan di meja terdekat. “su..sunbae” ucapnya gugup. Gadis ini menunduk dalam, membuatku harus mendekat agar bisa melihat wajahnya, namun karena tindakanku itu dia malah semakin menjauh.

“eh? Kau siapa?” aku menatapnya dari bawah ke atas. Ah, dia pasti adik kelasku yang baru saja melakukan kegiatan masa orientasi. Terlihat dari rambutnya yang dikuncir acak acakkan. Aku melihat ditangannya map coklat yang kuyakini di dalamnya terdapat kertas berisikan tanda tangan kakak kelas.

“aku Woo Sunghyo, aku kesini ingin meminta tanda tangan sunbae” ia mengulurkan map itu padaku. Aku terkikik pelan dan masih mendiaminya, tidak ingin mengambil map itu. Tidak, tidak segampang itu meminta tanda tanganku. Gadis itu terlihat bingung lalu menggenggam map itu di dadanya.

“sunbae” “ehm?” tanyaku pura pura tidak tahu, aku bahkan kembali ke dudukku semula dan memainkan psp. Membiarkannya kebingungan dan malu dengan tingkahku ini. “sunbae aku boleh minta tanda tanganmu?” tanyanya. Aku masih memainkan pspku mencuekkannya.

“sunbae” dia terus memanggilku, aku tersenyum puas dalam hati. Haha, begitulah jika menjadi siswa baru di sekolah ini. Aku juga seperti itu dulu, lumayanlah sekarang aku bisa membalaskan dendamku.

“sunbae aku serius..” dia hendak berbalik tapi dengan cepat aku menggenggam tangannya. Di saat itu aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sejenak desiran hangat mengalir ke jantungku, semuanya terasa hangat. “s-s-sunbae” aku terkesiap dan segera melepaskan tanganku. Aku terdiam, bagaimana bisa tadi aku..terpesona.

“aku akan memberikannya” kataku akhirnya, terlihat ia tersenyum senang. Aku terpana melihat senyumannya, karena secara tidak sengaja lesung pipinya terlihat menghiasi wajahnya yang cantik, ya dia sangat cantik.

“gomawo sunbae” katanya dan menyerahkan map itu. Aku mengambilnya dan membuka map itu, sejenak aku tertegun melihat list kakak kelas yang ia kumpulkan, semuanya sudah terisi dengan tanda tangan dan hanya aku yang belum.

“tapi aku memiliki satu syarat” ia menatapku kaget saat tiba tiba aku menyerukan hal itu.

“syarat?”

“ne, kau …harus membuatkanku makanan setiap hari”

__

Aku memasang earphone dan memainkan beberapa lagu, aku datang sangat pagi. Seperti biasa jadwalku sangat padat setelah terpilih menjadi ketua kesiswaan disini. Aku juga tidak tahu kenapa terpilih, hanya saja aku kaget saat semua pemilihku berasal dari kalangan murid perempuan.

Dengan santai aku menuju kelas, mengabaikan tatapan mengerikan murid murid wanita. Mereka melihatku seperti ingin memangsaku bulat bulat. “hey baekki-ah kau kenapa?” Chanyeol teman dudukku menghampiriku. Aku terdiam sebentar, baru menyadari kalau aku sedari tadi menunggu di depan pintu.

“tidak ada apa apa” jawabku tentunya berbohong, sedari tadi aku menunggu Sunghyo itu, ya aku masih ingat namanya. “kau tumben sekali seperti ini? Apa kau menunggu seseorang?” pertanyaannya lagi membuatku skakmat. Dengan cepat aku kembali ke tempat duduk. “aniya, aku hanya bosan”

Ah, tidak mungkin dia datang. Lagipula permintaanku saat itu sangat konyol. Menyuruhnya membuatkanku makanan setiap hari. Mana ada adik kelas yang mau melakukan hal seperti itu. Lagipula sekarang dia sudah resmi menjadi murid sekolah kami. Dan tentunya tidak memikirkan permintaan konyolku.

“aku kira kau menunggu seorang gadis, apa kau tahu sekarang adik kelas kita cantik cantik” aku hanya mengangguk, aku malas berdebat dengan Chanyeol yang aku yakini soal wanita dia jauh lebih berpengalaman. Bagaimana tidak? Pacarnya setiap bulan berganti ganti. Aku saja sampai bingung mengingat nama yeoja chingunya.

Aku memakai lagi earphone, menghilangkan stress karena memikirkan yeoja itu. “eh baekki baekki” tiba tiba Chanyeol menyenggol lenganku, membuatku terpaksa menanggalkan earphone dan menatapnya bingung. “kenapa?” “itu lihat” aku mengikuti arah pandangnya. Dan betapa terkejutnya aku menemukan gadis itu terdiam di pintu kelas kami.

“Sunghyo” aku beranjak dan mendekatinya, tapi sepertinya aku terlambat. Sebelum aku sampai aku melihatnya menjadi bulan bulanan murid lain. Wajahnya terengah engah dan rambutnya terlihat tidak rapi. Peluh membasahi dahinya, aku yakin dia berlarian menuju kelasku. Aku tidak sengaja melihat kotak makan berwarna silver di tangannya.

“aku ingin bertemu Baekhyun sunbae” seketika itu pandangan setiap orang mengarah padaku. “Baekki dia siapa?” tanya Chanyeol bingung. Ah kenapa seperti ini, aku segera menggenggam tangannya dan membawanya menjauh dari kelasku ke tempat yang lebih aman. “kau benar benar membuatkanku makanan?” tanyaku hampir tidak percaya.

Ia mengangguk lemah. “bukankah sunbae yang memintanya” benar juga. Dia menyerahkan kotak silver itu. “baiklah” kataku ringan. Gadis itu dia segera menjauh, aku menatap punggungnya. Bagaimana bisa dia mempercayaiku seperti itu? aku hanya bercanda. “HAISH” aku menggaruk garuk kepala belakang.

Menatap nanar kotak makan silver itu, dan perlahan membukanya. “ini…” aku menatap makanan ini tidak percaya. Nasi yang dibentuknya, diberi sedikit hiasan kacang polong dan rumput laut yang disusun menyerupai bentuk wajah manusia. Dan telur gulung serta daging yang terlihat menarik.

Aku sedikit tertegun. Aku mengingat suatu hal tentang makanan ini. Suatu kecil aku sering memakan makanan yang disusun indah seperti makanan yang diberikan gadis itu. Kenapa aku jadi mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.

__

Namanya Woo Sunghyo dan dia adalah murid kelas A. Aku sedikit kagum karena dibalik kecantikannya dia adalah murid pintar. Aku akui, semenjak kejadian itu aku mencari tahu semua tentangnya pada teman temannya. Bahkan aku nekat ke ruang guru, pura pura mengambil berkas kesiswaan tapi sebenarnya aku mencari informasi tentangnya.

Dia lahir tahun 1994, berbeda 2 tahun dariku. Kringgg…. Bel pulang sekolah berbunyi, aku segera mengemasi barang dan pergi dari kelas ini. Kelasku yang berada tidak jauh dari kelasnya membuatku bisa mengamati apa yang sedang ia lakukan. Tiba tiba mataku tertuju pada gadis yang sedang membuang setumpukan sampah.

Tunggu.. bukankah dia Sunghyo. Aku mendekat, ternyata benar dia. Aku menghampirinya membuatnya kaget dan segera menunduk. “su..sunbae” ucapnya kaget. Aku menoleh melihat kelasnya kosong, aku tahu dia sedang piket tapi kenapa tidak ada yang membantunya.

“kau sendiri mengerjakan ini?” tanyaku penuh penekanan. Ia mengangguk lemah. “kenapa kau mau melakukannya?” tanyaku sedikit tegas. “aku iklas melakukannya. Lagipula tadi Inseo ada keperluan jadi..”

“kau mengerjakan tugas yang tidak perlu kau kerjakan sendiri” ia mengangguk dan mencoba tersenyum. “bagaimana bisa kau mengerjakannya?” “aku bisa sunbae” aku hampir tidak percaya, tidak ada penyesalan di mata gadis ini. Ia membiarkanku terdiam disini melihatnya menyapu lantai dengan agak tergesa gesa.

Setelah itu ia mengepel dan membersihkan bangku, aku tidak tahan dan segera menggenggam tangannya. “sun..bae” “kau harus pulang Sunghyo, kau bahkan tidak pantas mengerjakan tugas seberat ini” ia sedikit memberontak saat aku menariknya agar pulang.

Disaat seperti ini aku tidak mementingkan gengsiku sebagai kakak kelas. Ah , Inseo menurut teman temannya Sunghyo memang agak diperlakukan buruk olehnya. Berawal dari Sunghyo yang sering dikagumi oleh laki laki karena kecantikannya, membuatnya dibenci oleh Inseo bahkan teman temannya yang lain.

Tapi menurutku Sunghyo bukanlah tipe wanita murahan seperti itu, bahkan ia sangat sopan dan baik pada setiap orang. Aku menunggunya lagi kali ini dekat dengan loker, karena jika dikelas akan tidak aman untuknya, gadis itu datang ia membawa kotak makan untukku, kali ini berwarna biru.

“ah mianhaeyo sunbae aku telat” ucapnya seperti biasa terengah. Aku menggeleng, aku bahkan baru menunggu 5 menit bagaimana bisa itu dikatakan telat. “aniya, kau tidak telat sama sekali” ia tersenyum dan memberikan kotak makan itu padaku. “mianhae sunbae aku hanya bisa memberikanmu roti itu”

Ucapnya sebelum aku membuka kotak itu. “gwaenchanna” aku melihatnya berbalik dan akan segera pergi

Sudah seminggu ini Sunghyo membuatkanku makanan dan itu membuatku tidak enak padanya. Walaupun aku bahagia karena itu. dan semenjak itu aku tidak pernah mengembalikan kotak makanannya, aku selalu menyimpannya di tempat yang sudah aku siapkan khusus. Entahlah, sepertinya kotak makanan itu adalah alasanku agar bisa bertemu dengannya lagi.

Aku tersenyum sendiri dan membuka kotak biru itu, hanya sebuah roti yang ditaburi keju diatasnya. Aku menggigitnya kecil, ada perasaan kaget dibenakku saat merasakan rasa blueberry dari selai di dalam roti itu. Aku hampir tidak percaya, bagaimana gadis itu tahu rasa kesukaanku?

Hatiku terasa hangat, rasanya sangat senang menyelimutinya. Walaupun itu tidak sepenuhnya kesengajaan, bisa saja gadis itu membuatnya secara tidak sengaja. Tapi, memikirkan gadis itu membuatku hilang kendali, kadang kadang aku bahkan tidak bisa mengontrol emosiku, senang sekali dan sedih sekali semuanya bercampur.

__

“Baekhyun-ah” aku menoleh menatap eommoni yang ternyata menungguku dan terduduk di sofa , aku menghampirinya setelah terlebih dahulu membuka sepatu. “ye eommoni?” Eommoni tersenyum padaku. “besok kita kedatangan tamu” aku mengangguk. “lalu?” eomoni mengelus pundakku. “lalu kau harus membelikan sejumlah kue di toko Kim ajhussi.

Ah ternyata sikap baik eommoni mempunyai maksud tertentu. “baiklah” kataku akhirnya. Aku sangat menyayangi eommoni, jadilah tanpa menghiraukan rasa lelahku aku kemudikan mobil sport sampai pada sebuah toko roti kecil.

Walaupun kecil toko ini sangat indah,  ada lonceng kecil di pintunya. Dan bunga yang indah di halaman depan. Aku melangkah dan memasukinya. Aroma khas roti menyapa indra penciumanku. “ada apa tuan?” tanya seorang namja paruh baya, dia memakai celemek berwarna hijau dan sepertinya kelelahan.

“ah aku hanya ingin menanyakan roti yang pas untuk kedatangan tamu yang penting” namja itu mengangguk ngangguk.  “ah  begitu” katanya seraya tersenyum padaku. “Sunghyo-ah” teriak namja itu membuatku sangat kaget, aku menoleh menatap gadis yang baru saja datang dari pintu belakang. Aku memicingkan mata. “waeyo Kim ajhussi?” bukan hanya aku yang kaget, gadis itu juga sama hal nya.

“begini, pemuda ini ingin membeli roti yang pas untuk kedatangan tamu penting, kau bantulah dia” aku masih tidak memalingkan tatapan pada Sunghyo, dia juga. “ah ne” katanya kecil dan namja yang bernama Kim ajhussi itu meninggalkan kami.

“mari saya antar” aku terkekeh pelan, sikapnya sangat sopan padaku dan sangat terkesan formal. Dia berjalan ke arah samping kanan ruangan dan aku juga mengikutinya. “ternyata dunia ini sangat sempit bukan?” kekehku pelan. Dia tersenyum, aku senang melihat senyumannya itu.

“sunbae bisa memilih blackforest atau..” “aku ingin kue rasa blueberry” kataku memotong ucapannya. “blueberry?” tanyanya kaget. “ne, kenapa memangnya?” aku menangkap keterkejutan yang beralasan di matanya.

“ah , aniyo” gadis itu berlari kecil dan kembali dengan sekotak kue rasa blueberry. “gomawo, ehm sepertinya lezat” gadis itu menunduk. “aku berterimakasih juga dengan kue yang kau buatkan tadi, itu kue kesukaanku. Ah bagaimana kau bisa tahu ya?” dia menatapku lekat, membuatku menjadi malu.

“ah, aku hanya bercanda Sunghyo-ah” kataku menggaruk rambut belakang. “aku tidak tahu sunbae suka dengan kue itu, tapi ..aku hanya membuatnya berdasarkan kesukaan oppaku” aku sedikit terkejut. “oppamu?, apa dia bersekolah disana?” tanyaku, ia menggeleng pelan. “tidak, dia sudah meninggalkanku dulu, 10 tahun yang lalu”

__

Setelan jas formal sudah terbalut rapi di tubuhku, ditambah juga dengan harumnya parfum. Eommoni memang sering mengaturku seperti ini. “Baekhyun-ah” tok tok tok.. aku menoleh dan segera membuka pintu.

“eommoni?” Eommoni melenggang masuk ke kamarku. “kau ini tampan sekali” pujinya , membuatku sedikit bangga pada diriku sendiri. “gomawo, eommoni juga sangat cantik” Eommoni mengangguk dan mengelus pundakku pelan. “kau ini sudah sepantasnya mencari kekasih bukan?”

Aku tidak tahu pasti, tapi pertanyaan eommoni membuatku berfikir. Apa pertemuan kali ini karena…pertunangan itu. “eommoni tapi…aku belum siap” “gwaenchanna, jika kau sudah melihat orangnya , segala keputusan ada padamu” Eommoni tersenyum dan meninggalkanku dalam pikiranku sendiri.

Sejak kecil memang keluarga kami sudah dekat dengan keluarga Kim. Dan eommoni selalu membicarakan tentang gadis yang akan ia jodohkan denganku. Eommoni mengatakan gadis itu pasti sangat baik dan serasi untukku, tapi..aku merasa tidak yakin dengan itu. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya.

Aku sudah berada di ruang makan keluarga kami, tinggal menunggu keluarga Kim dan aku akan melihat gadis itu. “ah itu dia” seru apa, dan pintu ruangan ini terbuka.Aku bisa melihat namja dan yeoja paruh baya. Dia menyapa eommoni dan abeoji dengan ramah. “Jong-in ah” aku sedikit kaget melihat laki laki yang sudah aku kenal.

Dia Kim Jongin, teman sekelasku. Bagaimana bisa ia disini?. “Baekhyun hyung kau ada disini” aku tersenyum padanya. Sedikit melupakan gadis yang tidak datang itu. “kalian sudah saling kenal?” tanya eommoni yang juga sama kagetnya denganku.

“tentu saja dia adalah teman sekelasku” balasku yang disertai anggukan Jongin. Aku tidak sama sekali melihat gadis itu, sampai Kim ajhumma membuka mulut mengatakan anak bungsunya sedang ada kerja kelompok. Yang lebih membuatku kaget adalah gadis itu bersekolah yang sama denganku. Itu berarti Jongin adalah kakaknya juga.

__

Author Pov

Baekhyun masih betah menunggu di depan kelas Sunghyo, ia berencana mengembalikan sejumlah kotak makan. “mana dia?” ucapnya mulai gelisah. Kelas sudah berangsur kosong tapi gadis itu belum menunjukkan batang hidungnya. Baekhyun dengan terpaksa masuk ke kelas itu, naas gadis itu tidak ada disana.

Perasaan putus asa dan sedikit khawatir menghampirinya. “lebih baik aku berikan ini besok saja” ia menusuri lorong sekolah, sampai didengarnya suara riuh yang berasal dari ruangan belakang. Baekhyun sedikit menyelinap dan ia menemukan 2 orang gadis yang salah satunya sudah ia kenal. “Inseo dan temannya”

Inseo dan temannya tengah tertawa sampai sampai tidak menyadari keberadaan Baekhyun. Baekhyun memperhatikan mereka terus. “haha bagaimana bisa kau mengerjai anak itu, kau hebat sekali” kata gadis satunya membuat Baekhyun sedikit bingung dan takut.

“tentu saja gadis itu tidak akan pernah mengganggu Sehun oppa lagi bukan” setelah itu mereka pergi dari tempat itu, Baekhyun mengepalkan tangannya, ia bergegas ke toilet , ia yakin Sunghyo ada disana.

“Sunghyo-ah, Sunghyo-ah” sebuah isakkan kecil membuatnya membuka salah satu bilik pintu toilet itu, benar saja Sunghyo ada disana. Meringkuk dan memeluk kakinya. Baju seragamnya basah kuyup dan rambutnya jauh dari kata rapi. “Sun..bae” gumamnya kecil.

Baekhyun melepas jas hitamnya dan segera menyampirkan ke tubuh menggigil Sunghyo. “Sunbae kau disini?” Sunghyo yang kaget hanya bisa menunduk. Tanpa mengatakan apapun Baekhyun mengangkat tubuh Sunghyo membuatnya kaget dan malu.

__

“dasar bodoh kau bahkan tidak melaporkannya kepada guru? Kau tahu ini sama saja seperti tindakan kriminal” Sunghyo hanya bisa menunduk dalam. “lagipula ini salahku Baekhyun sunbae” Baekhyun hanya mendengus kesal, bagaimana bisa gadis ini hanya pasrah, sedangkan keadaannya saat ini jauh dari kata baik.

“aku tahu Inseo yang melakukan hal ini..”

“Sunbae..”

“Sunghyo-ah” Baekhyun menggenggam bahu Sunghyo dan menatapnya lekat. “jangan melakukan ini lagi, kau harus bisa melawan mereka” Sunghyo menggeleng. “tidak, aku sudah sepantasnya menerima ini semua, ini salahku karena sudah mendekati Sehun oppa”

Baekhyun menghela nafas tidak percaya. “jadi kau seperti ini hanya karena seorang laki laki?” Sunghyo tidak menjawab, ia takut , takut jika perkataannya salah. “gwaenchanna sunbae, aku baik baik saja saat ini” sunghyo mencoba bangkit dari kursinya sebelum tangan Baekhyun menahannya.

“aku akan mengantarmu” , “tidak usah sunbae, aku bisa pulang sendiri” gadis itu keras kepala sekali. Ia berjalan menjauhi Baekhyun dengan terseok seok. “Sunghyo-ah” Baekhyun segera berlari padanya dan merangkulnya, dia pingsan. Hidungnya mengeluarkan darah segar, walau Baekhyun tidak tahu kenapa, tapi ada raut kekhawatiran di wajahnya.

__

“biarkan aku disini inseo-ah, aku ingin melihat appa sebentar” Inseo mendelik tajam, ia mendorong tubuh Sunghyo, menghempaskannya ke paving di rumahnya. Sunghyo hanya bisa meringis pelan. “kau tidak pantas menyebutnya appa, kau bukan anaknya, kau itu..anak haram” Sunghyo menunduk, entah kenapa matanya memanas.

“Inseo-ah”

“cepat kau pergi dari sini atau eommaku akan semakin marah padamu” Sunghyo beranjak dari tempatnya, ia terlihat putus asa. “baiklah, aku hanya ingin menyampaikan kalau aku sayang pada appa, apapun yang terjadi”

Gadis itu berbalik, dan meninggalkan kediaman keluarga Kim. Ia memegang tangannya yang mengeluarkan sedikit darah terkena benturan yang lumayan keras. Ia seakan tidak menghiraukan hal itu, hatinya sekarang lebih sakit.

Sunghyo berjengit ketika mobil ferari hitam memasuki halaman rumah itu, ia bersembunyi di balik pohon, mencoba menghindarkan tatapan mata namja yang ada di dalamnya. Ia dapat melihat dengan samar namja paruh baya itu keluar dari mobil, tentu saja setelah itu memeluk Inseo dan eommanya.

“appa” gumamnya pelan, Sunghyo menggigit bibir bawahnya, tapi dia tidak bisa. Sunghyo menangis, ia memeluk lututnya karena entah kapan ia sudah terduduk di trotoar. “appa aku merindukanmu” Sunghyo bahkan bisa melihat dengan jelas senyuman hangat laki laki itu, appanya yang tak akan mungkin jadi appanya.

_

“kau disini sunbae?” Sunghyo sedikit terkejut, baru saja dia sampai di sini ia melihat Baekhyun. Baekhyun tersenyum. “kau dari mana saja?” tanyanya khawatir, Baekhyun melihat pipi sembab Sunghyo di tambah lagi gadis ini terlihat sedih. “kau habis menangis?” Sunghyo menjauhkan tangan Baekhyun yang mencoba mengusap pipinya.

“aku baik baik saja sunbae, hanya..kelilipan” Sunghyo menundukkan wajahnya, mencoba agar Baekhyun tidak mengatahui keadaannya yang sebenarnya. “ngomong ngomong sunbae kenapa kau ada disini?”

“aku ingin membeli kue blueberry” kata Baekhyun antusias, “ah baiklah” Sunghyo masuk ke toko roti Kim ajhussi, mengambil sekotak kue blueberry. “sunbae semuanya 4000 won” Baekhyun tersenyum dan membayarnya.

“apa kau sudah baikkan?” Sunghyo mengangguk, kemarin Baekhyun baru saja mengantarnya kesini, disaat dia tidak sadarkan diri dan bajunya terkena darah. “gomawo sunbae sudah mengantarku kemarin” Baekhyun mengangguk.

“besok aku akan kesini lagi” Sunghyo mengerutkan dahinya. “untuk apa?” “tentu saja untuk membeli kue” “sunbae apa tamumu meminta ini setiap hari?” Baekhyun menggeleng. “aniya, aku dan eommoni sama sama menyukai kue ini, jadi pasti kami sering membelinya, bukankah itu boleh?”

“aku suka sekali dengan kue ini hyonnie , aku rasa eommoni pasti juga menyukainya” Sunghyo menggeleng, ia mengingatnya lagi. “kau kenapa? Apa sakit lagi?” “ah tidak, sunbae jika kau mau membelinya, kau bisa pesan, jadi tidak perlu repot repot datang ke tempat ini” Baekhyun sedikit kaget.

“ah tidak perlu, aku akan datang, tidak repot sama sekali” Baekhyun mencoba menolaknya, ia datang bukan hanya untuk membeli kue, tapi untuk melihat gadis itu juga. “aku pergi dulu” suara derap langkah Baekhyun menjauh di akhiri dengan bunyi lonceng membuat Sunghyo tersadar, kalau Baekhyun sudah pergi dari hadapannya.

__

Sunghyo mendekati meja kecil di kamarnya, ada satu hal disana yang membuatnya sedih. Ia mendekati buku bersampul biru, buku itu terlihat sedikit lusuh. Sunghyo membukanya, menemukan sebuah foto di lipatan terdalam, sunghyo menggenggamnya kuat. Terlihat 2 anak kecil yang bahagia disana. Ya, fotonya dan oppanya.

“oppa” Sunghyo kecil berlari mendekati namja itu.Ia terduduk bersamaan dengan namja itu dan menyunggingkan senyumannya. “oppa aku membuatkan ini” Sunghyo mengulurkan kotak makanan berwarna merah. Ia telah membuatkan oppanya makanan. “wah kau benar membuatkannya?”

Namja itu terlihat kaget, ia mengambil satu gulungan telur dan memakannya. “wah mashita, gomawo hyonnie” Sunghyo tersenyum senang, ia menatap namja itu, namja tampan yang terlihat semakin tampan dengan setelan jas membalutnya.

“eo oppa kau mau kemana?” namja itu bangkit dan membuat Sunghyo bingung. “hyonnie, aku akan segera bertemu dengan eommoniku, dia sudah menjemputku dan sebentar lagi aku akan memiliki keluarga yang utuh”

Sunghyo bangun dari tempatnya, ia menggenggam tangan namja itu. Memelas agar namja itu tidak pergi, tidak meninggalkannya sendiri. Tapi, namja itu tetap pergi , sebuah mobil mengantarnya menjauhi panti asuhan ini. Ya Sunghyo sadar ia seharusnya senang karena itu, karena namja itu sudah menemukan keluarganya.

Tapi.. Sunghyo tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata di lipatan tangannya. Ia menangis disini, di bawah pohon maple tempat Favoritnya dan oppanya itu.

“aku sangat suka blueberry ini hyonnie” ia seperti mendengar suara itu, suara yang datang entah dari mana. Sunghyo sadar ia hanya berhalusinasi. Oppanya tidak akan datang lagi padanya, ia terlihat putus asa. “oppa aku merindukanmu” isaknya diiringi dengan daun daun yang berguguran. Musim gugur.

Sunghyo menghapus air mata yang keluar, ia sangat merindukan namja itu. ia mengingat suatu hal, Baekhyun. Dia sangat mirip dengan oppanya, cara dia memandang, garis matanya, kesukaannya. “ah tidak mungkin dia” Sunghyo mencoba menepis pikiran yang menghantuinya. Tidak ada gunanya ia memikirkan hal itu sekarang, toh juga Sunghyo tidak bisa kembali ke masa lalu.

“Sunghyo-ah cepat buka pintu” Sunghyo kaget, ia dengan cepat membuka pintu apartemennya. Ia terkejut melihat Inseo disana. “i-i-inseo-ah” Inseo tanpa persetujuan memasuki apartemen Sunghyo, apartemen kecil yang tidak bisa menyandingi rumahnya.

“cepat pakai ini” Sunghyo bingung. “maksudmu?” “pakai ini cepat, dan juga sepatu ini” gaun berwarna putih dan highhells sudah terpampang di matanya. Ia mengambil itu, dengan segala pertanyaan di benaknya. “kau harus cepat memakainya, lalu datang ke café ini jam 7 malam, ingat kau harus mengatakan kalau kau ini anak tuan Kim, Kim Inseo. Jangan mengatakan hal apapun tentangku? Arra?”

Sunghyo terdiam, ia masih bingung. “Inseo tapikan..” “ah jangan banyak membantah, lakukan saja apa perintahku, aku ini masih ada janji dengan Sehun oppa, kau lakukan saja”

__

Sunghyo terdiam, ia menatap café itu bingung. Lalu ia hanya memasukinya, Inseo mengatakan meja nomer 11. Jujur saja ia tertegun melihat pemandangan dan dekorasi café ini, benar benar indah. Sunghyo memasukinya, ia tidak menemukan orang lain disana, namun matanya tertuju pada seseorang dengan setelan jas. Orang itu membelakanginya.

Ia berjalan sepelan mungkin, tidak ingin mengagetkan namja itu. “chogiyo..” gumamnya pelan. Perlahan namja itu berbalik. Semuanya terasa mati, disaat Sunghyo melihat namja dengan dasi hitam memandangnya lekat.

Jantungnya berdetak ribuan kali lipat dari biasanya, nafasnya tercekat dan tidak bisa mengatakan hal apapun. “Sunghyo-ah” laki laki itu sama hal nya. Sunghyo menunduk, apa ini laki laki yang dikatakan Inseo? Tunangannya?

“sun..bae”

__

Hening, tidak ada yang bisa memulai pembicaraan diantara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Jujur saja, Baekhyun tidak menyangka kalau gadis yang akan datang adalah Sunghyo. Apapun itu, ia kenal dengan semua yang eommoninya beri tahu. Gaun putih, dengan sepatu hak berwarna senada. Semuanya hampir sama. Baekhyun tertegun melihat penampilan gadis itu, ia menyadari jika gadis itu kini sangat cantik, bahkan Baekhyun susah mencari kekurangan di gadis itu. tapi..

Kenapa Sunghyo yang datang, “kau gadis bungsu tuan Kim?” Sunghyo menunduk, apa yang harus ia jawab? Ia adalah anak Kim Namsoo, tapi apa pantas ia mengatakan hal itu? “ne, aku anak Tuan Kim” Baekhyun kaget, gadis itu bahkan memiliki  marga yang berbeda, bagaimana bisa ia disebut anak Tuan Kim.

“ak..aku akan pergi sekarang” Sunghyo bangkit dengan cepat, dan pergi meninggalkan Baekhyun yang terdiam disana. Banyak pikiran yang menyerbunya dan banyak pertanyaan yang muncul, lalu dimana anak bungsu Tuan Kim sebenarnya?

_

“kau dari mana saja?” Sunghyo menunduk dalam, “aku pergi dengan temanku” ia berbohong, ia sadar akan hal itu dan joonmyun juga pasti mencurigainya. Joonmyun adalah anak dari Kim ajhussi yang kebetulan bersebelahan apartemen dengannya. “aku melihat anak bungsu Tuan Kim menemuimu, apa benar?”

Sunghyo hanya bisa mengangguk pelan. “apa dia menyakitimu?” “tidak oppa, aku baik baik saja” Sunghyo berusaha tersenyum, ia tidak akan terlihat sedih. “baiklah, istirahatlah yang cukup dan jangan tidur terlalu malam” kata joonmyun seraya mengusap bahu Sunghyo. Sunghyo mengangguk dan beberapa saat masuk ke apartemennya.

Ia lemas, apa yang harus ia lakukan. Tunangan Inseo ternyata adalah Baekhyun, seseorang yang selama ini telah ada dihatinya. Entah kapan Sunghyo merasakan perasaan ini, tapi ia begitu tertarik pada seorang Byun Baekhyun.

“ah itu tidak boleh, aku tidak boleh menyukai Baekhyun sunbae” Sunghyo menghempaskan tubuhnya, ia sangat lelah. Ia ingat saat Inseo mengatakan ada janji dengan Sehun dan begitu saja mengabaikan pertemuannya dengan Baekhyun, lalu Inseo menyuruh Sunghyo begitu saja , mengaku kalau ia adalah akan bungsu Tuan Kim, appanya sendiri.

_

“apa kencanmu sukses?” Baekhyun mengangguk, ia tidak ingin mengatakan ini tapi..senyuman eommoninya membuatnya luluh. Ia tidak mau menyedihkan orang tuanya. “apa dia cantik?” Baekhyun mengangguk lagi, walau ia sangat bingung dan penasaran dengan anak bungsu Tuan Kim itu, ia hanya menjawab apa yang ia lihat tadi.

Ya.. Sunghyo memang terlihat cantik, bahkan hampir sempurna di matanya. “ah eommoni sudah tebak kau pasti akan menyukai Kim Inseo itu kan” Baekhyun kaget, ia menatap eommoninya. “Inseo?” “ya, jangan katakan kalau kau tidak tahu namanya? Ah bagaimana bisa kalian tidak tahu satu sama lain jika sudah berkencan”

Baekhyun memutar pikirannya, Inseo. Ia ingat itu, Kim Inseo, teman Sunghyo yang selalu mengerjainya, gadis manja dan tidak punya perasaan, bagaimana bisa gadis seperti itu dijodohkan dengannya?

_

“eomma ..eomma” Sunghyo bangun, ia baru saja tersadar dari mimpinya. Mimpi yang sangat buruk. Ada sedikit kelegaan di benaknya, karena itu hanyalah mimpi. Sunghyo memeluk lututnya, entah sudah keberapa kalinya ia bermimpi seperti ini. Ia memimpikan eommanya.

“eomma” Sunghyo menangis, ia merindukan sosok hangat eommanya. Tapi eommanya tak akan kembali, Insiden itu sudah merenggut Eommanya dan kebahagiannya. Sunghyo ingat betapa melaratnya ia dengan eommanya saat wanita kejam itu datang, ia bahkan tidak mendapat kebahagiaan sekecil apapun.

Bahkan Sunghyo tidak yakin appanya sendiri akan mengenalnya, “Eomma bogosiposo” ia menggigit bibir bawahnya, rasanya sangat sakit mengingat itu semua. Ia sadar kalau ia adalah anak dari sebuah hubungan terlarang antara seorang gadis biasa dan direktur perusahaan terkenal yang saat itu sudah beristri.

Ia sadar bahwa semua adalah kesalahan eommanya, tapi .. apa ia benar benar tidak mempunyai hak untuk memeluk appanya sendiri? Untuk bahagia walaupun itu sedikit? Untuk tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga?

__

“apa.. eomma bilang baek..hyun?” “ne, bukankah kau sudah menemuinya tadi?” Inseo terlihat shock, ia baru menyadari bahwa orang yang akan ia temui adalah Baekhyun dan ia malah memberikan kesempatan itu pada Sunghyo.

“eomma..aku tidak bertemu dengannya”

“mwo? Lalu kau kemana saja sampai pulang larut begini?” tanya Yeorin, eomma Inseo dengan meninggikan nada suaranya. “aku..pergi dengan Sehun oppa eomma, mianhae” Inseo terlihat menyesal, ia tahu Baekhyun, sunbaenya yang sangat terkenal, jauh lebih terkenal dari pada Sehun, bagaimana bisa ia begitu bodoh.

“lalu bagaimana ini? Eomma sudah berjanji dengan eommanya?”

“aniya, tenang saja eomma, aku akan mengurus semuanya”

__

“akh” Sunghyo meringis saat merasakan benturan cukup keras di punggungnya. “kau tidak mengatakan apa apa kan pada Baekhyun oppa?” ia mengangguk, masih merasa sakit dengan punggung dan pergelangannya yang ditarik keras oleh Inseo.

“bagus, satu lagi, jangan pernah kau mendekati Baekhyun oppa, ah, lebih  baik kau jangan menemuinya lagi , arraseo?” bentak Inseo, Sunghyo berjengit. “ta..tapi..” “ish,. Kau jangan pernah menentangku” Sunghyo menunduk. “sini berikan padaku” kotak makan yang berada di tangannya diambil paksa oleh Inseo.

“Inseo itu..” Sunghyo mencoba mengambilnya kembali tapi Inseo menolaknya. “aku yang akan memberikannya pada Baekhyun oppa, kau kan tahu aku ini tunangannya?, ish pokoknya jangan pernah mendekatinya lagi” Inseo segara pergi meninggalkan Sunghyo yang terlihat sedih. Ia berusaha membuat makanan itu, tapi Inseo mengambilnya.

“ah gwaenchanna, yang terpenting makanan itu tetap diberikan pada Baekhyun sunbae” Sunghyo melangkah lemas, ia harus mengakui kalau Baekhyun adalah tunangan saudaranya sendiri, Sunghyo sadar ia tidak boleh merebutnya, itu adalah kebahagiaan Inseo, apapun itu walaupun ia harus mengorbankan hatinya sendiri.

__

“kenapa kau yang disini? Mana Sunghyo?” Baekhyun nampak kaget, ia melihat Inseo yang memberikan makanan itu untuknya, bukan Sunghyo. “oppa, mianhae, kemarin aku tidak bisa datang karena banyak tugas, jadi aku menyuruh Sunghyo untuk menemanimu” Baekhyun tidak suka melihat gadis itu, mengingatnya yang telah menyiksa Sunghyo terus menerus membuatnya tidak sedikitpun tertarik.

“pergilah, aku ada kelas” “oppa..” Baekhyun mendengus saat tangannya ditarik pelan. “bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita pergi?” Baekhyun menghempaskan tangan Inseo. “tidak bisa aku sedang sibuk” tungkas Baekhyun. “bagaimana kalau besok?” “tidak, aku banyak tugas, sudahlah kau cari saja laki laki lain untuk menemanimu”

Baekhyun melangkah pergi, menjauhi Inseo yang tampak cemberut. Baekhyun berjalan ke kelas A, ia mencari keberadaan Sunghyo. Baru saja ia sampai ia melihat gadis itu terduduk, tampaknya Sunghyo sedang mengusap tangannya. Bahkan Baekhyun bisa melihat dengan jelas memar disana.

“Sunghyo-ah” Sunghyo nampak kaget saat Baekhyun memanggilnya, ia terkejut melihat Baekhyun lalu segera menjauh. “Sunghyo-ah” Baekhyun menggenggam tangannya. “sunbae..aku akan segera ke kelas mianhae” Sunghyo mencoba menarik tangannya kembali, tapi Baekhyun menahannya.

“aniyo, jelaskan padaku soal kemarin dan juga kenapa kau menyerahkan makananku pada Inseo?”

“sunbae aku sangat sibuk, lepaskan aku” Sunghyo mencoba dengan keras, tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Baekhyun. “sunbae..” “aku mencintaimu Sunghyo” deg.. Sunghyo merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, ia menatap Baekhyun terkejut. “sun..bae jangan bercanda lepas..”

Sunghyo kini berhasil melepaskannya, ia menunduk. Ia masih kaget dengan pernyataan Baekhyun tadi. Wajahnya seketika memanas. “aku pergi”

Sunghyo segera menghilang dari pandangan Baekhyun, sedangkan Baekhyun masih terdiam disana, ia terkejut menyadari kelancangannya tadi, tidak..ada perasaan lega di hatinya setelah mengatakan hal itu, walaupun ia sedikit takut dengan jawaban dari Sunghyo nantinya.

Tidak jauh dari tempat itu Inseo melihatnya, ia mengepalkan tangannya. Matanya memanas, ia seperti ingin menangis. “aku..tidak akan membiarkanmu memiliki Baekhyun oppa sunghyo” katanya bergetar.

__

Plak..

Sunghyo memegang pipinya, terasa sangat panas dan sakit. Inseo baru saja menamparnya, walaupun ia tahu apa yang terjadi. Ini semua konsekuensi dari kejadian tadi, ya Inseo baru saja mengatakan melihatnya. Tapi bukankah Sunghyo tidak bersalah? “jangan pernah kau berhubungan lagi dengan Baekhyun oppa”

Seluruh isi tasnya kini berceceran di lantai ruang kelas, Sunghyo hanya bisa terduduk lemas. “akh Inseo sakit sekali” rambutnya seakan akan putus ketika jambakan itu datang. “sakit kau bilang? Hatiku lebih sakit Sunghyo-ah? Ah, atau kau mau aku panggil eonnie” Sunghyo mati matian menahan amarahnya.

“hentikan Inseo, aku sudah menjauhinya, aku aku..juga tidak bisa menghindarinya tadi” seketika itu tangan Inseo hampir sama menamparnya lagi sebelum bunyi ponsel Inseo menggema di seluruh isi ruangan.

“yeobosseyo” Sunghyo sedikit lega, ia memegang pipinya yang masih terasa panas dan rambutnya yang berantakan. “mwo? Appa sakit? Ne, aku akan segera kesana” Sunghyo menajamkan pendengarannya. Ia melihat Inseo tergesa gesa keluar dari ruang kelas, meninggalkannya yang kebingungan.

“appa sakit?” tanpa peduli apapun Sunghyo membetulkan barang barangnya dan keluar, ia ingin mengikuti arah perjalanan Inseo, tapi Inseo telah terlebih dahulu meninggalkannya. Maka dengan terpaksa Sunghyo datang ke kediaman itu. Rumahnya terlihat kosong, Sunghyo melihat bibi pelayan rumah yang baru saja keluar. “annyeong, apa kau tahu Tuan Kim pergi kemana?”

Bibi itu nampak kaget. “ah Tuan Kim dia di rumah sakit Seoul, anda ini siapa ya?” tanya bibi itu. “saya teman dari Inseo, ah kamsahamnida ajhumma” Sunghyo berlari kencang ke halte, perasaannya benar benar tidak enak. Ia takut terjadi apa apa dengan appanya.

_

“penyakit gagal ginjal Tuan Kim Namsoo sudah sampai pada tahap akhir, kita hanya bisa menunggu ada seseorang yang menyumbangkan ginjal padanya, keluarganya kami harapkan melakukan tes kecocokan satu per satu”

Sunghyo terdiam ketika mendengarnya, ia bersembunyi di balik tembok , melihat Nam yeorin dan Kim Inseo serta Kim Jongin disana. Sunghyo memang tidak dianggap keluarga oleh mereka, bahkan Sunghyo yakin oppa kandungnya Kim Jongin tidak tahu tentang dirinya.

“appa” isaknya lemas, Sunghyo menangis. Apa yang dikatakan dokter tadi membuatnya lemas dan sedih. Sunghyo tidak mau kehilangan anggota keluarganya lagi, sudah cukup Eommanya meninggalkannya karena kecelakaan pesawat 12 tahun lalu, lalu memaksanya tinggal di panti asuhan.

“hey..” Sunghyo tersentak, ia menghapus air matanya secara cepat. “kau menangis?” tanya orang itu, membuatnya kaget dan menunduk. Dia oppa kandungnya, Kim Jongin. Sunghyo juga baru melihatnya kali ini. “aniya, aku hanya kelelahan” Jongin mengangguk, ia menatap Sunghyo dari bawah ke atas.

“kau sekolah di Jungwon?” Sunghyo terkejut, ia masih memakai seragam maka dari itu Jongin mengenalnya. “ah ya, sunbae” Jongin tersenyum padanya. “aku tahu kau, aku pernah melihatmu menjadi bulan bulanan di kelasku, haha gara gara si Baekhyun itu kan?” Sunghyo berjengit. “ne?” “gara gara kau ingin menemui Baekhyun itu kau jadi bahan ejekkan di kelasku pada Baekhyun”

Sunghyo nampak tidak percaya, Jongin tahu tentang dirinya. “ngomong ngomong kenapa kau disini? Apa orang tuamu sakit?” Sunghyo mengangguk pelan. “appaku sakit” katanya lemas. Ia merasakan sentuhan tangan Jongin di bahunya, mengusapnya pelan. Sungguh, Sunghyo ingin mengatakan yang sebenarnya pada Jong in, tapi..ia benar benar takut.

“aku juga, appaku sakit keras dan membutuhkan sumbangan ginjal. Tapi sampai saat ini kami belum menemukan yang pas” jantung Sunghyo terhorok, “tidak ada yang pas?” tanyanya sekali lagi dan dibalas anggukan oleh Jongin. “ne, aku sangat takut terjadi hal buruk pada appa” Jongin menunduk lemas.

Sunghyo mengepalkan tangannya. “tenang saja sunbae, pasti tidak akan terjadi apapun yang menyedihkan” hiburnya, sebenarnya ia juga sedih, tapi Sunghyo ingin oppanya bahagia.

_

Baekhyun Pov

Aku menatap ikatan bunga ini sambil tersenyum. Aku akan segera memberikannya pada Sunghyo sebagai rasa minta maafku. Aku tidak kuat jika ia menjauhiku karena kejadian itu. Sekarang aku berada di dekat apartemennya, ya aku sudah menanyakan hal ini pada Kim ajhussi.

Belum sampai pada apartemen itu aku melihat Sunghyo berjalan berlawanan arah, ia baru saja keluar rupanya. Eh? Untuk apa dia keluar? Bukankah hari ini dia tidak bekerja?

Aku mengikutinya penasaran, dengan pelan aku mengendarai mobil agar ia tidak mengetahuiku. Sunghyo berhenti di depan rumah sakit. Aku sedikit kaget, apakah dia sakit?. “Sunghyo kau sudah datang?” tanya salah seorang dokter. Sunghyo mengangguk dan memasuki ruangannya. Aku tidak sengaja menemukan celah untuk mendengar pembicaraan mereka, pintu ini tidak ditutup rapat.

“kau benar benar mau melakukan ini?” tanya Dokter itu. “ne oppa, aku rasa hanya ini cara untuk bisa menyelamatkan appa” appa? Appa Sunghyo. Aku menajamkan pendengaranku. “Sunghyo dengar, kau sudah cukup menderita selama ini, mereka juga tidak menganggapmu, bahkan Inseo dengan teganya menyiksamu, apa kau benar ingin melakukannya?”

“oppa, aku benar benar tidak ingin kehilangan appa, aku sudah kehilangan eomma dan hanya appa satu satunya keluargaku, ya meskipun Inseo dan Jongin oppa adalah saudara tiriku” Jong in dan Inseo adalah saudara Sunghyo. Aku benar benar kaget, Sunghyo selama ini menyembunyikan semua fakta itu.

“aku benar benar khawatir padamu? Kau tahu kan apa akibatnya apabila kau melakukan hal ini?” kulihat Sunghyo menganggangguk. “aku akan menghadapi apapun konsekuensinya” Sunghyo, ia membuatku sedih.

Gadis itu terlihat sangat tegar dan kuat padahal ia sangat sengsara selama ini. Ya. Sunghyo dia gadis kecilku. Dia Hyonnie, aku baru sadar jika dia Hyonnie yang selama ini aku cari cari. Gadis yang mengisi masa kecilku saat aku tersesat dan berakhir di panti asuhan. Aku menyesal meninggalkannya dulu, karena eommoni menjemputku.

“sunbae” aku menatapnya tajam, sedangkan Sunghyo..dia sangat kaget melihatku ada disini. Mendengar semuanya.

__

“makanlah” ucapku pelan. Sunghyo mengangguk dan memakan kue yang baru saja aku beli. “aku tahu sunbae sudah mendengar semuanya” dia mencoba tersenyum, tapi aku tetap bisa menangkap raut sedih di matanya. “beginilah aku, jadi jika sunbae menyukaiku pikirkanlah terlebih dahulu..”

“Sunghyo aku benar benar mencintaimu” dia menggeleng. “sunbae hanya kasihan padaku kan? Jangan berbohong sunbae” aku menggenggam bahunya. “aku cinta padamu, sudah berapa kali aku katakan”

Sunghyo menunduk, aku sadar ia terisak saat ini. Aku memeluknya, membiarkannya menangis di bahuku. “aku..ingin sunbae bahagia dan bukan denganku..ak..ku tidak pantas untuk sunbae” aku mengeratkan pelukannya dan menangis, ya aku menangis. Kenapa gadis ini begitu pasrah? Apapun yang Inseo lakukan aku sadar, aku sadar Sunghyo tidak melawannya, itu karena..ia sayang dengan saudaranya.

“jangan pernah menangis lagi hyonnie, jangan menangis untuk kesedihanmu, bahagialah, kau pantas bahagia”

__

Dasar gadis bodoh, aku sudah mengatakan padanya untuk berfikir 2 kali jika melakukan hal itu.Dan dia, setelah operasi itu badannya tiba tiba lemas dan tertidur disini. Sunghyo koma. “hyonnie kapan kau akan membuatkanku kue blueberry lagi?” tanyaku pelan. Aku mengeratkan genggaman tanganku.

Aku kira dia akan menjawab dan segera membuatkanku, ternyata tidak. Sunghyo masih tertidur. “bangunlah hyonnie, kau mau menyiksaku kan? Jangan lakukan itu” aku menahan tangisku sebisanya. Gadis itu terlihat memilukan, walaupun begitu aku mencintainya. Dia pasti kuat, dia bisa melawan ini semua.

Tiba tiba aku merasakan bahuku disentuh. Aku sedikit mendongak, menatap namja paruh baya itu dengan tidak percaya. Harusnya Sunghyo bangun dan melihat ini lagi, harusnya ia memeluk namja ini sekarang. “Baekhyun bagaimana caranya untuk membalas semua jasamu untuk menjaga Sunghyo ku?”

Aku tersenyum. Kim ajhussi, dia appa Sunghyo. Walaupun Kim ajhussi sudah sehat tapi dia masih harus dirawat juga. “tidak perlu ajhussi, aku menjaga Sunghyo dengan tulus” namja paruh baya itu kini mengusap rambut Sunghyo. Aku benar benar terharu, andaikan Sunghyo tahu, andaikan ia bangun ia pasti akan sangat bahagia.

“aku sangat berdosa sudah meninggalkannya selama ini, aku bahkan tidak tahu keberadaannya, dan dia datang tiba tiba dengan menyumbangkan satu ginjalnya padaku, aku benar benar appa yang tidak berguna” Kim ajhussi sangat sedih, ia mencium kening Sunghyo. Bahkan air matanya sudah berlinang.

“ajhussi tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Sunghyo tidak akan marah pada ajhussi, aku tahu dia sangat kuat, dia bisa menyelesaikan ini semua” Kim ajhussi tersenyum padaku. “aku menyerahkannya padamu, tolong jaga dia baik baik Baekhyun, ah tenang saja pertunanganmu dengan Inseo sudah kami batalkan, aku sadar cintamu pada anakku hanya tertuju pada Sunghyo”

__

Aku membelikannya bubur ini, Sunghyo sudah sadar. Begitulah kata Joonmyun hyung, dia adalah dokter pribadi Sunghyo dan juga teman baiknya. “Sunghyo” aku tersentak melihat kamarnya yang kosong, bahkan kamar ini sudah rapi dan tidak ditinggali siapapun. “hyung!” Joonmyun hyung tidak bergeming.

“Sunghyo mengatakan kalau ia tidak mau kau tahu” aku mendesah putus asa. “hyung jebal, aku benar benar khawatir dengannya” kataku memelas. Joonmyun hyung mengeluarkan kertas kecil dan memberikannya padaku. “apa ini?” “surat dari Sunghyo bacalah”

_

“Oppa, aku sadar kau oppaku yang selama ini aku cari. Terimakasih Baekhyun oppa karena kau sudah menungguku disaat saat aku kritis, kau bahkan menunggu operasiku dengan sabar. Oppa aku menyayangimu, tolong jangan mencariku lagi. Aku benar benar ingin mengakhiri semuanya, appa sudah menerimaku lagi. Walaupun memang aku yang memutuskan untuk tidak tinggal bersamanya. Jeongmal Gomawoyo oppa, tapi aku akan pergi dari sini. Semoga kau baik dan sehat selalu..”

“hyonnie” aku menggenggam kertas ini, rasanya sangat menyakitkan mengetahui hal itu. Sunghyo sekarang tidak ada di sini, dia sudah pergi, meninggalkanku.

__

Author Pov

“eonnie ayo main denganku” gadis kecil itu menarik kaus Sunghyo. “ah ne” Sunghyo berjalan bersamanya. Ia menghirup udara segar, masih pagi dan wilayah ini memang tidak banyak polusi. Sudah 2 tahun semenjak kejadian itu ia disini, menikmati hari harinya yang terasa menyenangkan, mengingat masa kecilnya yang terasa indah, walaupun tidak bersama orang tuanya.

“eonnie itu suara apa?” tanya gadis itu. “itu..” Sunghyo melangkah mendekati sebuah ruangan. Suara alunan piano langsung memanjakan telinganya. Sunghyo perlahan membuka pintunya. Ia sekarang bisa mendengar jelas suara itu. Seseorang tengah memainkan piano, Sunghyo tidak dapat mengenalinya karena orang itu membelakanginya.

A fragile heart, was broken before
I don’t think it could endure
Another pain
But there’s a voice from deep inside Of you
That’s calling out to make you realize

Sunghyo menikmati suara indah itu, ia terhanyut dengan lirik dan permainan pianonya. Tiba tiba saja laki laki itu menghentikan permainan pianonya, menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya. “kau datang” ucap laki laki itu, Sunghyo terdiam, ia kaget melihat laki laki itu.

Laki laki itu beranjak dari duduknya dan mendekati Sunghyo. Sunghyo tidak bisa berkutik, badannya seakan kaku. “hyonnie, kau datang akhirnya” laki laki itu tersenyum, Sunghyo tidak bisa menahan emosinya. Ia memeluk laki laki itu, walaupun itu aneh, ia sangat merindukan laki laki itu sekarang.

“oppa” ucapnya terisak, Sunghyo menangis. “Sunghyo-ah kau membuatku tersiksa selama ini, memikirkanmu dan menginginkanmu disaat itu juga, kau tidak tahu 2 tahun Itu waktu yang sangat lama” Sunghyo tersenyum kecil, ia mengangguk ngangguk.

“sekarang jangan tinggalkan aku lagi hyonnie, aku tidak akan pernah melepaskanmu sekarang” “ne oppa” Baekhyun , laki laki itu mengeratkan pelukannya. “aku mencintaimu Sunghyo” “aku juga oppa” Baekhyun tersenyum.

Ia melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. “oppa itu..” Sunghyo kaget saat sesuatu yang berkilau terpasang di jarinya sekarang. “kau adalah milikku, jadi jangan pernah berikiran untuk lari lagi Kim Sunghyo” Sunghyo menangis bahagia, ia sangat terharu dan merasakan pelukan laki laki itu lagi.

“oppa ternyata suaramu bagus, kenapa kau tidak jadi penyanyi saja?”

“tidak akan, eommoni sudah menyerahkan perusahaannya padaku, dan aku akan bekerja disana ,jika kau mau aku bernyanyi aku akan melakukannya, tapi itu hanya untukmu seorang”

Sunghyo dan Baekhyun memandang hamparan langit di bawah pohon maple, tempat favorit mereka. Sunghyo sangat senang, di temani dengan hembusan angin musim semi yang indah dan Baekhyun disisinya.

So forget your past, and we can
Dream tomorrow Save our hearts for care and
Lovin too
It’s hard I know, but oh one things
For sure
Don’t go and break this fragile heart

END

 

Note : Hello Readers, makasi banget atas respons kalian di ff aku sebelumnya (Rooftop dan Will You?) Maaf ya aku Cuma bisa bikin ff oneshot, sebenernya udah buat yang chapter , tapi entah kenapa ide saya jadi buntu hehe. Semoga kalian menikmati ff aku ini, maaf banget kalau kepanjangan 😦 , tapi aku akan selalu nunggu comment kalian. Semua comment pasti bakalan aku bales kok. Trus kalau mau mengenal aku bisa follow di twitter #promosi kk.. (mention for follow back wkwk)

Dan untuk lagu yang di atas.. itu lagunya Westlife dengan judul Fragile Heart. Itu aja sih, *menghilang*

52 pemikiran pada “Fragile Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s