Hurt.. (Chapter 2)

Author : Misa Hwang

Title : Hurt.. (Chapter 2)

Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Kai Kim

Genre : Angst, Sad

Warning : Yaoi, AU

 

Luhan terus berdiri di sana, mematung memandangi mereka berdua. Bahkan setelah bayangan Sehun yang pergi sambil merangkul pinggang yeoja itu hilang dari pandangan matanya, Luhan tetap diam. Seakan tak sanggup berkata-kata. Bulir-bulir air mata terus berjatuhan dari kedua pelupuk matanya.

Sehun… Bagaimana bisa?

Rasanya Luhan ingin berteriak, frustasi.  Andai saja ia punya keberanian, mungkin ia sudah mendatangi mereka berdua. Melabrak Sehun, mungkin bahkan menamparnya dan mengatakan, “Kita putus” tepat di depan wajah namja dan yeoja sialan itu. Tapi itu hanya terjadi di drama atau film. Kenyataannya tidak semudah itu. Setidaknya tidak untuk Xi Luhan. Tidak, tak mungkin ia bisa melakukannya.

Ketukan di kaca boks telepon membuyarkan lamunan Luhan. Tampak seorang ahjussi dengan wajah tak sabar menggerutu padanya, “Kau sudah selesai menelepon atau belum?”

Luhan terkesiap. “Ah, mianhamnida.”

Dengan cepat ia berjalan keluar dari boks telepon itu. Saat kakinya menapaki jalanan yang bersalju, dirasanya pandangannya mengabur. Pemandangan di depannya menjadi berbayang. Kakinya serasa lemas, tak bisa menopang berat tubuhnya. Dicobanya untuk tetap melangkah, namun langkahnya semakin lama semakin berat. Luhan mengepalkan tangannya.

Aku harus kuat. Aku tak boleh ambruk. Kumohon, aku tak boleh ambruk di sini!

Entah kekuatan dari mana, Luhan terus berjalan walau terhuyung-huyung. Beberapa kali ia sempat menabrak pejalan kaki yang lalu-lalang. Beberapa gerutuan dan omelan yang ditujukan untuknya pun beberapa kali terdengar. Namun ia tak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanya sampai dengan selamat di flat nya yang nyaman.

~HURT~

            Kai Kim menghela nafas panjang. Diacak-acaknya rambutnya dengan perasaan kesal. Tugas matematika yang diberikan gurunya ini benar-benar berhasil menguras otaknya. Sudah dua jam lebih berlalu dan ia baru bisa mengerjakan lima soal. Bayangkan, lima dari lima puluh soal! Yah, sebenarnya ia memang bukan tipe murid rajin yang berotak encer. Tak biasanya juga ia menghabiskan waktunya—apalagi di masa liburan seperti ini—untuk mengerjakan tugas. Ia melakukannya hanya untuk membunuh waktu.

Ya, membunuh waktu sambil menunggu teman se-flat nya kembali. Menunggu itu membosankan. Apalagi menunggu orang yang kau suka pulang dari acara kencannya bersama namja lain. Bayangan temannya itu bergandengan tangan, menonton film bersama, dinner di restoran romantis, berpelukan, dan bahkan berciuman dengan namja chingunya membuat Kai sedih. Namun ia bisa apa? Bagi Kai, asal temannya itu tersenyum dan bahagia, itu sudah cukup.

TING TONG TING TONG TING TONG

Bel pintu dibunyikan berkali-kali, seolah yang membunyikannya tak sabar ingin segera masuk. Kai bangkit dan berjalan menuju pintu dengan heran. Siapa malam-malam begini?

            “Ya, sebentar, ” ujarnya seraya meraih gagang pintu, membukanya. “Nuguse.. “

Tak sempat Kai meneruskan ucapannya, dirasakannya tubuh seorang namja cantik ambruk ke dalam pelukannya. Rambut cokelat dan halus itu… Kedua bola mata cokelat yang sekarang tengah terpejam. Hidung mancung dan sempurna yang dipadu dengan bibir tipis nan lembut. Kedua lengan yang kecil dan ringkih yang sekarang tengah beristirahat di pinggangnya. Badannya yang kecil dan ramping yang sekarang tengah bergetar pelan…

Xi Luhan.

“Lu.. Luhan hyung?” Kai merasakan pipinya memanas, guratan merah muda mulai menjalari kedua pipinya. Ada apa ini? Mengapa Luhan memeluknya? Apa mungkin.. Tangan Kai bergerak pelan menuju wajah Luhan, dan segera ia terkesiap.

“Astaga hyung, wajahmu dingin bagai beku, tapi dahimu panas sekali!”

Luhan hanya menggumam tak jelas saat Kai menuntunnya masuk ke dalam flat. Ia tak berkata apa-apa saat Kai mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian kering dan hangat. Tak juga berkomentar saat Kai dengan cepat menyelimutinya dengan tumpukan selimut tebal.

Luhan memejamkan matanya. Kepalanya terasa sangat berat. Yang dipikirkannya sekarang hanya Sehun Sehun dan Sehun, dan itu membuat kepalanya semakin sakit. Ditekannya dahinya dengan kasar, dijambak-jambaknya rambutnya seakan dengan itu dapat menghilangkan rasa sakitnya.

“Hentikan,” saat Luhan membuka mata tampak Kai memandanginya dengan wajah khawatir. “Kurasa hyung demam. Aku akan ambilkan obat, oke?”

Tanpa menunggu jawaban Luhan, Kai sudah pergi dan secepat kilat kembali lagi dengan kompres dan termometer di tangannya.

“39 derajat,” Kai menghela nafas seraya membaca angka di termometer. “Jelas demam. Kenapa hyung bisa begini?”

“Menunggu dua jam di tengah salju. Mungkin itu sebabnya,” sahut Luhan lirih seraya Kai mengompres dahinya.

Kai menaikkan alisnya, heran. “Ada apa dengan Sehun? Kenapa hyung pulang cepat? Ini bahkan belum tengah malam.”

Tak ada jawaban apa pun selain keheningan. Luhan memalingkan wajah, menghindari tatapannya.

Kai kembali menghela nafas. Ia tahu sesuatu yang buruk pasti telah terjadi dan mungkin hyung-nya tak ingin membicarakannya saat ini. Ditambah dengan kondisinya yang sedang sakit. Kai tak ingin memaksa.

“Tak apa kalau hyung belum mau cerita. Panggil aku kalau kau membutuhkanku, arra?” ia bangkit dari tempat tidur, hendak keluar kamar ketika tiba-tiba sebuah tangan mungil menarik pelan ujung kemejanya.

“Dia selingkuh dengan seorang yeoja…” suara itu terdengar lirih, serak, dan lelah.

Kai memutar badannya dan mendapati pipi namja cantik itu telah basah oleh air mata.

“Dia selalu menyakitiku, tapi ini yang terburuk. Ini bahkan lebih sakit dari pukulannya di rusukku minggu lalu…”

Luhan menggerakan tangannya, meletakkannya di tempat luka itu berbekas. Ia tersenyum pahit.

“Orang seperti aku… Yang tak bisa apa-apa dan juga tidak tampan. Memang tak pantas mendampingi Oh Sehun yang sempurna… Aku pun harus tahu diri.”

Kai tak dapat menahan diri lagi. Ditangkupkannya kedua tangannya pada pipi halus namja cantik itu. Dihapuskannya air mata yang seakan tak bisa berhenti mengalir itu dengan lembut. Dikecupnya kedua pelupuk mata yang sembab akibat menangis itu. Dirasakannya bahu Luhan bergetar, maka ditariknya tubuh kecil namja itu dalam pelukannya.

Tangis Luhan makin menjadi. Dicengkramnya kemeja yang dikenakan Kai dengan kerasnya. Ditumpahkannya semua kemarahannya, kesedihannya, kekecewaannya, perasaannya yang terkhianati.. . Semuanya! Digigitnya bibirnya keras-keras  sebagai ungkapan rasa sakitnya selama ini. Kai mengelus rambutnya lembut. Membisikkan kata-kata penenang dan penghibur di telinganya. Mengatakan “semua akan baik-baik saja”, “hyung bisa menghadapinya”, “dia akan menyesali perbuatannya”, “pasti ada alasan di balik semua ini,” dan lainnya.

Ia tak tahu sudah berapa lama ia menangis dalam pelukan Kai. Mungkin berjam-jam lamanya. Yang pasti kemudian ia merasakan kedua matanya semakin berat, dan akhirnya semuanya pun menjadi gelap.

~HURT~

Pandangan Kai tak lepas dari namja yang sekarang tengah tertidur pulas di hadapannya. Sebelah tangannya masih mengelus rambut namja itu dengan perlahan. Berjam-jam berlalu ia tetap bergeming. Tidak, aku tak akan tidur. Aku akan terjaga menjaga Luhan hyung.

Dirasakannya amarah menyelusup dalam hatinya. Ia tak menyangka selama ini Luhan telah tersiksa oleh namja chingu-nya sendiri! Luhan adalah tipe namja tertutup. Ia tak pernah bercerita macam-macam apalagi menangis seperti ini di hadapan Kai sebelumnya. Jadi bagaimana ia bisa tahu semua kesedihan dan penderitaan namja itu selama ini? Kai pikir semuanya baik-baik saja, Luhan bahagia bersama namja chingunya. Karena itu ia selalu menahan perasaannya, mendukung hubungan Luhan walau dalam hati ia terluka, itu semua karena ia ingin melihat Luhan tersenyum dan bahagia! Namun apa?

Kai merutuki dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya yang tak bisa menebak isi hati namja yang disukainya selama ini. Merutuki ketidakpekaannya akan masalah yang dihadapi Luhan. Kai merasa sangat bersalah, telah membiarkan Luhan menanggung semuanya sendirian selama ini.

“Hyung…” lirih Kai seraya air mata turun dari kedua matanya. Diusapnya pipi lembut Luhan. Disapunya sisa air mata yang mengering di pipinya. Kai mendekatkan tubuhnya. Sebulir air matanya jatuh membasahi bibir tipis Luhan. Kai menghapusnya, kemudian dikecupnya bibir itu lembut. Sangat lembut agar namja cantik itu tidak terbangun dari tidurnya.

“Sehun-ah…” bibir Luhan bergerak menyuarakan nama itu dengan lirih. Kai terdiam, mengepalkan tangannya keras untuk menahan rasa sakit yang menyeruak hatinya.

Aku bukan Sehun. Andai aku memilikimu, aku tak akan menyakitimu seperti yang ia lakukan. Karena kau terlalu berharga untuk disakiti. Dan kau sangat berharga untuk dicintai…

TBC

 

Neomu gomapseumnida buat semua author dan reader yang udah kasi komen*bow 90 derajat. Saya nggak nyangka banyak juga yang mau baca dan review. Jadi terharu, hiks *peluk Sehun. Yang mau ngobrol2 bisa add fb saya di Arifia Sekar CassiElf yaa 😀

Akhir kata, sayonaraaa. ❤

           

 

30 pemikiran pada “Hurt.. (Chapter 2)

  1. Kasian bgt Luhan T_T
    Sehun jga kejam bgt sih. . .
    Kai sbar ya. . .
    Hhh thor itu aj deh,,, lanjutin ya thor,,, HWAITING thor! ^^

  2. ini chap 3 nya dmana ???
    aku baru liat loh ada FF bagus bin daebak kayak gini ^^
    lanjut dong nulis ff nya, keep writing yaa
    *moga aja komenku dibaca-plakk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s