In Heaven

Author            : Sno_Wint

Genre             : Family, Angst, Apaan lagi ya? Terserah aja deh..

Main Cast      :

-Kim Joon Myun (Su Ho EXO-K) as Kim Su Ho

-You/Readers (Kalo mau.. Kalo gak mau ya udh Author aja.. hhe..) as Kim Ha Neul

Other Cast     : Find it by yourself! PEACE!!

Rating                        : PG kali.. Gak tahu juga.. Wkwkwkwk..

WARNING!!!  : NO BASH!!! DON’T LIKE, DON’T READ!!! And.. NO SILENT READERS!!! O ya.. Mungkin lama kelamaan kalo kelarut kebawa cerita, chingudeul akan ngebayangin Ha Neul itu anak kecil.. BUKAN!!! Dia udah remaja.. Tapi belum dewasa!! Wkwkwkwkwkwk.. Happy Rotation.. Eh?! Happy Reading..^^

Summary       : Masih ada pertemuan setelah perpisahan.. Walaupun bertemu di tempat yang berbeda, yang lebih baik..^^

 

In Heaven

 

     Surga… Tempat yang tak bisa kulihat… Tak ada fotonya.. Tak ada penjelasannya.. Hanya sebuah kata ‘surga’ yang dapat membuat hatiku merasa aman.. Kata orang, surga adalah tempat yang sangat tenang, damai, tentram, sejahtera dan bahagia… Aku ingin melihat surga.. Aku sangat ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana bentuk surga itu.. Tapi, hatiku selalu berkata ‘belum saatnya’… Lalu, kapan saatnya???

-Su Ho POV-

Seseorang sudah mengetuk kamarku berulangkali. Rasanya, malas sekali untuk berdiri dari tempatku berbaring sekarang.

“Su Ho-ya..!!” Panggil bibi penjagaku bernama Ahn Young Mi.

“Cepat bangun, nak..! Sebentar lagi akan ada tamu..!” Lanjutnya.

Mungkin setelah mengatakan hal itu, ia beranjak pergi dari depan pintu, karena tidak kudengar lagi suara nyaringnya. Akupun membuka mata perlahan. Membiarkan cahaya matahari menerjang memasuki mataku. Aku melihat jam yang ada di meja sebelah kasurku. Lalu, kuletakan kepalaku lagi dengan malas.

Aigoo.. Anak ini… Ck! Susah sekali bangunnya.. Su Ho-ya! Ya!” Teriak bibi penjagaku itu yang ternyata sudah masuk ke kamarku.

“Aaahhh, ahjumma.. Sebentar lagi.. Masih ngantuk..”

“Ck! Tidak bisa! Ayo cepat bangun! Sebentar lagi ada tamu yang akan datang!”

“Siapa sih memangnya??”

“Adikmu…”

“Hah???”

-Author POV-

Seorang namja yang dipanggil Su Ho tengah berada pada posisi nyamannya sehingga ia tidak ingin bangun dari istirahatnya.

“Adikmu…” Jawab si bibi.

“Hah???”

Su Ho terlihat begitu bingung dan kaget.

“Adik?? Aku punya adik?? Kapan??” Tanya Su Ho tak percaya.

“Hish! Adik tirimu.. Dari istri kedua ayahmu..! Kan kau sendiri yang minta bertemu dengannya!”

Su Ho menyatukan alisnya dan mengingat-ingat kalimat yang mungkin ia lupakan.

“Hais.. Sudah cepat mandilah..!”

“Hehehehe.. Iya iya..”

Su Ho bangkit berdiri dari kasurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.

-Ahn Ahjumma POV-

Sudah lama aku mengabdikan diriku pada keluarga Kim. Aku merawat putra tunggal mereka yang bernama Kim Su Ho. Segala rahasia, kebiasaan dan apapun tentangnya aku sudah hafal. Memang, semenjak nyonya Kim, ibunya Su Ho meninggal, akulah yang merawat putra malang itu. Ia begitu sedih ketika ditinggal ibunya. Apalagi saat nyonya Kim meninggal, umur Su Ho masih 8 tahun!

“Hehehehe.. Iya iya..”

Dia memang suka bercanda. Sangat jahil pula! Tapi, kesabaran yang ia miliki itu tanpa batas! Terbukti, ia masih bisa memaafkan ayahnya yang telah selingkuh. Ia juga mau menerima buah hasil dari perselingkuhan ayahnya itu. Dan siang ini, ia akan bertemu dengan adik tirinya..

-Author POV-

Ahjumma…” Panggil Su Ho.

“Hm?” jawab bibi Ahn yang sedang menyiapkan meja makan.

“Aku sudah keren belum??” Tanya Su Ho sambil merentangkan tangannya.

“Sudah sudah.. Mau diapakan juga tuan muda Su Ho akan selalu tetap keren dan tampan!”

“Ahahahaha.. Terimakasih terimakasih.. Aku sadar kalau aku keren..”

“Kapan mereka datang, bi??” Tanya Su Ho mulai tak sabar.

“Sebentar lagi.. Tadi, tuan besar sudah telfon.. Katanya ini sedang di jalan..”

“Oh.. Eh, bi! Nanti bagaimana aku harus menyapa adikku ya??”

“Heh??? Sapa saja dengan ramah dan senang..”

Benar, tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar.

“Itu.. Mereka sudah datang!”

Bibi Ahn segera pergi keluar dan membukakan gerbang. Sebuah mobil warna silver masuk dan berhenti di depan pintu masuk. Didalam, Su Ho berdiri tegak dan menghela nafas untuk mengurangi sedikit kegugupannya.

“Tuan besar.. Selamat datang..” Sapa bibi Ahn.

“Nona.. Selamat………..”

Bibi Ahn agak kaget ketika melihat seorang gadis keluar membawa sebuah boneka beruang terlihat merasa takut.

“Datang….” Lanjut bibi Ahn.

Bibi Ahn membukakan pintu rumah lalu berjalan cepat menghampiri Su Ho. Ia membisikan sesuatu ke telinga tuannya itu. Su Ho hanya tersenyum manis menanggapi hal itu.

“Tidak apa..” Jawabnya.

Tuan Kim dan gadis tersebut masuk kedalam rumah yang bisa dibilang besar itu.

Aboji..” Sapa Su Ho lalu memeluk ayahnya.

Ayahnya terlihat senang bertemu dengan Su Ho.

“Ha Neul-a.. Ayo beri salam untuk kakak..” Perintah si ayah.

Gadis yang dipanggil Ha Neul itu memeluk bonekanya semakin erat dan bersembunyi dibelakang tuan Kim. Su Ho masih tersenyum melihat gadis itu.

“Ha Neul-a.. Jangan begitu.. Kau kan anak manis.. Ayo, beri salam untuk kakakmu…”

Annyeong..!” Sapa Su Ho sedikit membungkukan badanya sambil mengulurkan tangannya.

Gadis itu membalas jabat tangan Su Ho perlahan dan dengan sedikit gemetar.

“Kim Su Ho imnida.. Siapa namamu??” Tanya Su Ho.

“Kim Ha Neul imnida… Salam kenal…” Jawab Ha Neul lirih.

“Nah, dia adalah kakak Ha Neul…” Jelas si ayah.

Oppa…??”

“Iya, benar..!” Jawab si ayah.

Seberkas senyum kecil terukir di wajah bulat gadis bernama Ha Neul itu.

-­Su Ho POV-

Akhirnya mereka datang juga. Aku menunggu kedatangan mereka didalam rumah. Tiba-tiba bibi Ahn datang dan berbisik ke telingaku. Aku mendengar suaranya dengan sangat jelas. ‘Sepertinya dia keterbelakangan mental..’ itu yang dibisikan bibi Ahn ke telingaku. Tapi.. Aku rasa itu tidak apa.. Makanya, aku hanya tersenyum dan menjawab ‘tak apa’..

“Kim Su Ho imnida.. Siapa namamu??” Tanyaku berusaha seramah mungkin.

Kuharap dia mau menerima jabatan tanganku ini. Ternyata benar! Dia mau berjabat tangan denganku.

“Kim Ha Neul imnida.. Salam kenal..” Jawabnya begitu pelan.

Tangannya begitu lembut dan ukurannya juga lebih kecil dariku. Selain itu, tangannya hangat seperti tangan eomma..

“Apa kau bisa menjaganya selagi ayah tugas ke luar negri??” Tanya si ayah.

“Tidak masalah.. Aku kan yang minta ingin bertemu dengannya.. Aku akan menjaganya.. Jangan khawatir, yah..” Ucapku begitu meyakinkan.

“Oh ya.. Bagaimana dengan ibu… Ku?? Bagaimana kalau dia merindukan Ha Neul??” Tanyaku sebelum ayah pergi.

Ayah terlihat sedang berpikir sembari menatap kearah Ha Neul.

“Dia akan pergi denganku..” Jawabnya singkat.

Aku hanya mengangguk-angguk saja. Tak lama kemudian, ayah pergi meninggalkan rumah ini. Aku menghela nafas lalu membalikan badan dan didepanku sudah ada seorang gadis remaja bernama Ha Neul. Kim Ha Neul.

“Apa kau lapar??” Tanyaku mencoba mencari topik pembicaraan.

Ia hanya menatapku tak menjawab. Baiklah, kuakui aku menjadi gugup.

“Kau mau makan apa??” Tanyaku lagi.

Ia tak menjawab lagi dan terus menatapku.

“Kenapa?? Kenapa kau melihatku seperti itu??”

Ia masih tak menjawab dan hanya terus menatapku.

“Apakah………”

Suara pelannya tertangkap gendang telingaku. Ia masih menatapku dengan matanya yang bersinar.

Oppa menyayangiku??” Tanyanya.

Aku tersenyum lalu mendekat kearahnya. Anehnya, ia malah mundur ketika aku mendekat. Baiklah, aku berhenti melangkah.

“Tentu saja oppa menyayangimu..” Jawabku dengan senyum mengembang.

Iapun tersenyum. Kali ini senyumnya lebih lebar dari yang tadi.

“Hehe.. Kenalkan ini Mr. Gom!” Ujarnya lalu mengangkat bonekanya dan menunjukannya padaku.

Aku agak kaget ketika malah ia yang berlari kearahku untuk menunjukan boneka beruangnya.

“Wah.. Hai, Mr. Gom..! Apa kabar?? Apa selama ini Ha Neul nakal??” Tanyaku begitu kekanak-kanakan.

Mendengar ucapanku, tiba-tiba Ha Neul menarik bonekanya dan berjalan mundur dengan ketakutan.

“Ha Neul.. Ha Neul.. Ha Neul tidak nakal kok.. Tidak.. Tidak nakal kok.. Ha Neul gadis yang baik….” Ujarnya terlihat takut.

Aku dan bibi Ahn menatapnya heran. Aku menatap bibi Ahn lalu kembali menatapnya.

“Tidak tidak tidak.. Ha Neul kan memang tidak nakal.. Kemarilah..” Panggilku mencoba memahaminya.

Ha Neul berlari kearahku dan memelukku. Aku membalas pelukan itu.

“Jangan marah pada Ha Neul ya.. Ha Neul kan tidak nakal…” Katanya dengan masih memelukku.

“Iya.. Oppa tidak akan marah pada Ha Neul..”

-Author POV-

Ketika makan malam,

“Sepertinya nona Ha Neul sudah terbiasa berada di rumah ini.. Hehe.. Cepat sekali beradaptasinya ya..” Ujar bibi Ahn ke Su Ho.

“Iya.. Ahjumma, coba perhatikan.. Caranya memegang sendok.. Sama dengan eomma ya..!” Kata Su Ho menatap Ha Neul yang sedang lahap makan.

Bibi Ahn tersenyum dan mengangguk.

“Ha Neul-a.. Makan yang banyak ya.. Ini.. Tambah lagi lauknya..” Ujar Su Ho.

“Makanan ini enak! Lezat sekali!!” Kata Ha Neul begitu riang.

Su Ho melirik ke bibi Ahn.

“Hah.. Masakannya dipuji nih.. Kekekeke…” Goda Su Ho.

“Hahaha.. Benarkah begitu nona Ha Neul?? Kalau begitu, bibi ambilkan daging sapinya lagi ya..”

“Eh?! Aku kan belum ambil yang itu..!” Protes Su Ho.

“Tidak usah.. ini untuk nona Ha Neul saja ya, Su Ho.. Hahahahaha..”

Su Ho memanyunkan bibirnya lalu melahap sesendok makanan dari piringnya.

-Ha Neul POV-

Hari ini kata ayah, aku akan bertemu dengan kakakku. Oppa?? Seperti apa ya? Apa dia menyayangiku?? Apa dia tidak akan memarahiku?? Apakah…….. Wah! Ternyata dia baik! Dia sangat menyayangiku.. Dan dia juga menyapa Mr. Gom dengan ramah..

-Author POV-

Langit sudah semakin gelap. Matahari sudah terbenam dan digantikan dengan bulan. Ditemani bintang-bintang bercahaya tentunya.

Oppa…” Panggil Ha Neul dari balik pintu kamar Su Ho.

Ne? Masuklah, Ha Neul..” Jawab Su Ho.

Ha Neul masuk dengan cepat lalu naik keatas kasur Su Ho.

“Kenapa??” Tanya Su Ho.

“Hmmmm… Ha Neul takut gelap….” Jawab Ha Neul berbisik.

“Takut gelap?? Tak apa.. Ada oppa disini.. Oppa akan bersinar menjadi lampu untuk menemani Ha Neul.. Supaya Ha Neul tidak ketakutan..”

Ha Neul tersenyum.

“Eh…. Ini foto siapa??” Tanya Ha Neul melihat salah satu foto di album foto yang sedang dibuka Su Ho.

“Ini foto ibu…… Ee…. Ibu kita.. Hehehe..” Jawab Su Ho.

Eomma… Kita?? Tapi, wajah eomma Ha Neul tidak seperti ini.. Lebih cantik wanita ini..”

Mwo?? Hahahaha.. Memangnya wajah eomma Ha Neul seperti apa??”

“Seperti nenek sihir! Ha Neul tidak suka! Takut…”

Lho….?? Kenapa seperti itu??”

Eomma tidak mengizinkan Ha Neul menyalakan lampu pada malam hari.. Padahal kan Ha Neul takut gelap.. Lalu, eomma juga tidak memperbolehkan Ha Neul untuk bermain di taman… Ia juga tidak mau kalau Ha Neul ikut pergi dengannya… Pokoknya Ha Neul harus terus diam di rumah! Kalau tidak.. Nanti Ha Neul dihukum……” Jelas Ha Neul dengan cemberut.

“Kalau begitu, bagaimana Ha Neul bisa tidur kalau lampunya dimatikan semua??”

“Hehehehe.. Ha Neul menyimpan ini di kantung Mr. Gom!” Jawab Ha Neul sambil menunjukan sebuah lampstick ke Su Ho.

Su Ho tertawa disana.

“Oh ya.. Eomma juga tidak mau menemani Ha Neul tidur.. Padahal, Ha Neul sering takut kalau tidur sendirian.. Terkadang juga, Mr. Gom tidak boleh tidur dipelukan Ha Neul… Kalau wanita ini kan cantik.. Pasti seperti malaikat.. Coba kalau eomma Ha Neul seperti malaikat ya….”

Su Ho tersenyum menatap foto yang ditunjuk oleh Ha Neul.

“Iya.. Eomma memang seperti malaikat..” Ujar Su Ho.

Mereka menghabiskan waktu melihat foto-foto di album itu. Hingga akhirnya, Ha Neul tidur disana. Su Ho hanya tersenyum lalu menyelimuti diri mereka dengan selimut. Sebelum itu, tak lupa ia meletakan Mr. Gom dipelukan Ha Neul.

“Selamat malam, Ha Neul..”

Keesokan harinya, Su Ho membuka mata dan melihat Ha Neul masih tertidur disampingnya.

-Su Ho POV-

Aku terbangun dari tidurku. Hmm.. Mimpi yang cukup indah… Eh? Hehehehe.. Ternyata dia masih tidur juga. Aku mengamati wajahnya yang terlihat begitu damai. Entah kenapa, setiap kali aku melihatnya.. Aku selalu teringat akan eomma.. Keterbelakangan mental ya? Hmmm.. Eomma, andai saja kau masih disini.. Ha Neul pasti senang bisa bersama denganmu.. Dia bilang kau cantik dan seperti malaikat.. Hehe.. Aku rasa kau akan menyukainya, eomma.. Dia pasti juga akan menyukaimu..

“Eh?! Kau sudah bangun??” Tanyaku ketika melihat Ha Neul sudah membuka mata.

“Selamat pagi, oppa..!” Sapanya begitu semangat.

“Selamat pagi, Ha Neul-a..”

Oppa! Ayo, kita gosok gigi!” Ajak Ha Neul menarik-narik tanganku.

Gosok gigi? Hah? Hehe.. Setelah bangun, aku jarang menggosok gigiku! Kenapa gosok giginya tidak sekalian nanti saja waktu mandi sih? Tapi, ya sudahlah.. Aku tersenyum dan menuruti apa permintaannya.

Gom semari ga hanjibeisseo.. Appa gom eomma gom aegi gom..”

Ha Neul menyanyi begitu lucu dan sangat imut. Ia menari-mari kecil dengan menyanyikan lagu 3 little bears itu. Sesekali aku tertawa melihatnya.

Eusseuk eusseuk jalhanda!”

Akupun akhirnya ikut bernyanyi dengannya. Ternyata, mengasyikan sekali! Hahahaha.. Gom semari ga hanjibeisseo, appa gom eomma gom aegi gom.. Appa gom eun ttung ttung hae………

-Author POV-

Bibi Ahn tersenyum ketika ia mengambil pakaian kotor di kamar mandi Su Ho dan mendengar kedua orang disana sedang menari dan menyanyi sambil gosok gigi.

Ahjumma..!! Hehehe.. Sudah gosok gigi belum?? Aku sudah gosok gigi lho..” Ujar Su Ho.

“Hish! Kau ini.. Tentu sudah! Kalau bibi kan memang setelah bangun langsung gosok gigi..! Tidak seperti Kim Su Ho!”

Mereka bercanda sepanjang hari. Suatu kali, Su Ho mengajak Ha Neul ke sebuah taman bermain.

“Wah! Taman bermain!! Bagus sekali!! Besar-besar ya!” Ujar Ha Neul takjub.

Su Ho tersenyum dan mengikuti Ha Neul.

Oppa.. Itu apa??” Tanya Ha Neul sambil menunjuk sebuah wahana.

“Itu The Viking.. Mau naik itu??”

“Em!”

Su Ho dan Ha Neul menghabiskan waktu di taman bermain hingga tak terasa waktu sudah malam.

“Tadi aku berteriak kencang sekali!! Mr. Gom juga ketakutan! Kakiku hampir terjatuh kesamping saat tikungan! Lalu……………………”

Ha Neul dengan semangat dan antusias menceritakan pengalamannya bermain bersama Su Ho tadi ke bibi Ahn saat makan malam. Su Ho dan bibi Ahn mendengarkannya dengan setia.

“Hari ini benar-benar sangat menyenangkan!!” Tambah Ha Neul.

“Lalu, apakah Su Ho oppa juga menjerit ketakutan??” Tanya bibi Ahn.

“Eemm.. Aku tidak yakin itu suara oppa atau bukan, karena suaranya melengking seperti seorang wanita..” Jawab Ha Neul dengan polos.

Bibi Ahn tertawa mendengar jawaban Ha Neul. Su Ho hanya bisa melanjutkan makannya.

Oppa!” Panggil Ha Neul.

Ne??”

“Apakah besok… Maukah oppa mengajakku ke taman??”

“Ke taman?? Tentu saja mau! Ahjumma.. Kau ikut juga ya!”

“Boleh boleh.. Hehehe..”

Malam harinya, ketika semua orang sudah memejamkan mata dan berkelana di dunia mereka sendiri, Ha Neul perlahan masuk ke kamar Su Ho dan membaringkan tubuhnya di sebelah Su Ho. Ia memeluk Mr. Gom lalu memejamkan matanya untuk tidur. Sebenarnya Su Ho belum terlelap, ia masih tersadar dan ia tersenyum ketika Ha Neul menerobos masuk ke selimutnya.

Waeyo??” Tanya Su Ho masih memejamkan mata.

“Aku takut..” Jawab Ha Neul.

“Takut kenapa??”

“Nenek sihir..”

“Tak apa.. Tidurlah.. Kau aman disini..”

Su Ho membelai rambut Ha Neul.

-Su Ho POV-

Ketika aku akan tidur, aku merasakan sesuatu mendesak masuk kedalam selimutku. Ya, siapa lagi kalau bukan adikku tersayang? Kim Ha Neul. Aku tersenyum disitu.

Waeyo??” Tanyaku dengan mata masih terpejam.

“Aku takut..” Jawabnya masih menyembunyikan wajahnya.

“Takut kenapa??”

“Nenek sihir..”

“Tak apa.. Tidurlah.. Kau aman disini..” Ujarku sambil membelai rambutnya.

Rambutnya halus. Halus sekali. Hehe.. Ha Neul-a.. Kenapa aku baru menemuimu sekarang?? Hah.. Selamat malam, Ha Neul-a..

-Author POV-

“TAMAN!!!!” Teriak Ha Neul ketika mereka sampai di taman.

Ha Neul berlari-lari kesana-kemari.

“Gadis itu kekanak-kanakan sekali.. Ckckck.. Padahal cantik ya.. Kenapa sikapnya begitu??”

“Idiot mungkin..”

Para pengunjung taman itu berbisik-bisik mengenai Ha Neul. Su Ho dan bibi Ahn mendengar perbincangan mereka.

“Eh eh.. Pria itu tampan sekali.. Tapi, kenapa ia bersama dengan gadis itu ya?? Adiknya?? Tapi wajahnya tidak mirip.. Atau mungkin pacarnya?? Ih, mana mungkin..!”

Para pengunjung mulai berbisik-bisik lagi. Ha Neul diam saja tak mendengarkan obrolan mereka. Sedangkan Su Ho dan bibi Ahn merasa tersinggung. Namun, karena mereka melihat Ha Neul sangat santai, mereka jadi tidak mempedulikan ocehan para pengunjung.

Oppa! Ahjumma!” Panggil Ha Neul.

Ne??” Jawab kedua orang yang dipanggil.

“Ini untuk kalian! Aku membuatkan makanan ini untuk kalian.. Selamat menikmati!” Ujar Ha Neul memberikan seember pasir.

“Wah! Terimakasih banyak, Ha Neul!” “Terimakasih, nona Ha Neul..”

Ha Neul tersenyum.

“Kalau begitu, dimakan.. Ayo, dimakan..” Desak Ha Neul.

“Eh??!!”

Tak terasa, hari berlalu begitu cepat. Hingga pada suatu pagi,

Yoboseyo?? Eh?! Tuan besar Kim! Eemm.. Tuan Su Ho sedang bermain bersama nona Ha Neul di taman belakang.. Tunggu sebentar ya, tuan.. Akan saya panggilkan.. Eh? Tidak perlu? Baiklah.. Oh.. Baik.. Iya, tuan..”

Bibi Ahn menutup telfonnya. Lalu berjalan menuju ke taman belakang.

“Su Ho-ya!” Panggil bibi Ahn.

Ne, ahjumma???”

Su Ho berlari menghampiri bibi Ahn.

“Tadi, ayahmu telfon.. Katanya, lusa ia akan kembali ke Korea..”

“Hah? Lusa?? Kenapa cepat sekali?? Aku kan masih ingin bersama….. Eeee.. Ya sudahlah.. Tak apa..”

Oppa!! Ada cacing!! Imut sekali nih!!” Teriak Ha Neul.

Ketika malam telah tiba, Su Ho sedang membaca buku di kamarnya. Ditemani Ha Neul yang sedang bermain bersama Mr. Gom dan bibi Ahn.

“Hihihihi.. Hoaaaammmmmm..”

Ha Neul menguap ketika ia sedang bermain bersama bibi Ahn.

“Haaaammmmm..! Aduh aduh.. Nona Ha Neul sudah mengantuk ya??”

Ha Neul mengangguk sambil mengucek matanya.

“Ya sudah.. Tidur yuk..” Ajak bibi Ahn.

“Aku mau tidur disini.. Bolehkah???”

Ha Neul dan bibi Ahn menatap Su Ho. Su Ho tersenyum dan mengangguk. Akhirnya, bibi Ahn keluar meninggalkan mereka untuk beristirahat. Ketika Su Ho sudah memejamkan mata, Ha Neul membuka matanya dan menatap Su Ho.

Oppa..”

Ne?”

“Selamat malam…”

Su Ho tersenyum dan membalasnya dengan kecupan di kening.

“Selamat malam…”

2 hari kemudian,

“Bibi Ahn, aku jemput ayah dulu ya..” Pamit Su Ho.

“Ha Neul boleh ikut tidak???” Tanya Ha Neul.

“Boleh..”

Su Ho dan Ha Neul pergi ke bandara. Ketika di jalan, Ha Neul bermain-main dengan Mr. Gom.

“Kita akan jemput ayah! Aku harus senang atau sedih ya??” Tanya Ha Neul ke Mr. Gom.

“Tentu saja senang.. Kenapa sedih??” Tanya Su Ho.

“Karena itu kan artinya Ha Neul harus pulang bersama ayah.. Tidak bisa bersama dengan oppa lagi…”

Su Ho tersentak dan tersenyum masam.

“Tidak.. Kan masih bisa bertemu lagi.. Oppa kan bisa main ke rumah Ha Neul kapan-kapan.. Ha Neul juga bisa main ke rumah oppa.. Iya kan??”

“Iya.. Kalau boleh ya, oppa!”

Mendengar itu, Su Ho pun agak heran. Perjalanan berlanjut dan di tengah perjalanan, Ha Neul bermain-main Mr. Gom dengan Su Ho. Sesekali ia menyerahkan Mr. Gom ke Su Ho. Sesekali juga ia menutupi mata Su Ho. Dan pada saat itulah, Su Ho tak melihat, kalau jalan sudah berbelok. Mobilnyapun terjatuh karena tidak ada pagar pembatas jalan. Banyak orang langsung menolong mereka. Ketika ditemukan, Su Ho sedang memeluk Ha Neul. Su Ho mengalami cedera dibeberapa bagian tubuhnya, sedangkan karena terlindungi oleh Su Ho, Ha Neul hanya mengalami luka ringan.

Oppa..! Oppa!!” Panggil Ha Neul panik mengikuti rombongan pihak rumah sakit membawa Su Ho ke UGD.

“Nona! Maaf.. Anda tidak boleh masuk..” Larang salah satu suster.

“Tidak mau! Aku mau masuk! Oppa!!!”

“Nona! Anda tidak boleh masuk!!”

“Aku mau menemani oppa!! Aku mau masuk!!”

Security!!”

Beberapa satpampun datang dan membawa Ha Neul ke ruang tunggu. Disana, Ha Neul memeluk Mr. Gom begitu erat. Tubuhnya gemetar dan ia berkeringat dingin.

“Nona..” Panggil seorang dokter.

Ha Neul menoleh perlahan dan pada saat yang sama, tuan Kim dan istrinya datang dan terlihat terburu-buru.

“Dokter! Apakah anda menangani anak saya?? Kim Su Ho…!” Tanya si ayah.

“Iya, benar.. Anda ayahnya??”

“Benar! Bagaimana keadaannya??”

Dokter menjelaskan keadaan Su Ho yang tidak begitu ekstrim parahnya. Istirahat sebentar akan cukup untuk memulihkan kesadarannya. Tuan Kim dan istrinya serta Ha Neul masuk ke ruang inap Su Ho.

“Su Ho-ya.. Ini appa.. Bukalah matamu, nak..” Ujar si ayah hampir menangis.

“Apa yang telah kau lakukan?? Apa yang telah kau perbuat sehingga kau melukai putra tunggal ayahmu?!!” Bentak si ibu ke Ha Neul.

Ha Neul diam saja menatap ibunya sambil mundur kebelakang dengan air mata terbendung. Ia semakin gemetar dan sangat ketakutan saat ini.

“Apa yang telah kau lakukan, Ha Neul-a?!!” Bentak ibunya lalu memukul Ha Neul.

Ha Neul menangis dan meremas Mr. Gom. Ia merasa kesakitan karena ibunya memukul Ha Neul tepat di lukanya.

“Hwaaaa… Ha Neul tidak berbuat apa-apa.. Hwaa… Sungguh.. Hwaaaa..”

“Bohong! Jangan berbohong, Kim Ha Neul! Katakan! Kau apakan Su Ho?!! Kau apakan dia, hah?!! Dasar anak nakal!! Nakal kau ya!” Bentak ibunya terus memukuli Ha Neul.

“Kenapa kau harus lahir ke dunia ini?! Anak idiot sepertimu hanya membawa kesialan saja!! Rasakan ini!!”

Si ayah melihat dari mata tertutup Su Ho, keluar dan mengalir air mata. Si ayah agak kaget lalu membalikan badan.

“Sudah hentikan!! Cukup!!” Sela si ayah.

“Ini adalah rumah sakit, Mi Ra!” Lanjut tuan Kim membentak istri keduanya.

Ha Neul masih menangis di sudut ruangan. Ia memeluk boneka beruangnya sangat sangat sangat erat. Si ayah menghela nafas lalu keluar.

“Aku akan mengurus administrasinya dulu..” Ujarnya lalu berlalu pergi.

Si ibu menatap Ha Neul tajam lalu keluar dari ruangan. Selang beberapa menit, Ha Neul mendekati Su Ho dengan ragu-ragu. Ia menyentuh tangan Su Ho kilas.

Oppa…” Panggil Ha Neul dengan terisak.

Su Ho diam saja dan terlihat sangat lemas terbaring di kasur itu. Ha Neul lebih mendekat ke Su Ho lagi. Ia memegang tangan Su Ho.

Oppa… Maafkan Ha Neul ya… Maafkan, Ha Neul..”

Ha Neul meteskan air mata.

“Ha Neul… Hiks.. Tidak bisa.. Hiks.. Menjadi adik yang baik.. Hiks.. Untuk oppa.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ha Neul.. Adik yang nakal…”

Lagi-lagi keluar air mata dari mata tertutupnya. Ha Neul mengelus pipi Su Ho.

Oppa… Badan Ha Neul sakit… Sakittt sekali…. Apa oppa merasa lebih sakit?? Oppa! Kenapa tidak menjawab Ha Neul?? Oppa marah?? Jangan marah pada Ha Neul oppa.. Kumohon.. Jangan benci Ha Neul juga.. Maafkan Ha Neul, oppa..”

Tanpa sepengetahuannya, di luar ruangan…

“Hish! Anak ini.. Masih berani mendekati, Su Ho?!!” Gerundel Mi Ra hendak melangkah masuk.

“Jangan masuk!” Larang tuan Kim menarik tangan Mi Ra.

“Biarkan dia berbicara pada Su Ho..” Lanjut tuan Kim.

Oppa… Apakah oppa ingat foto wanita cantik seperti malaikat yang waktu itu kita lihat bersama?? Hehe.. Ha Neul ingin bertemu dengannya… Dia dimana ya??”

Tuan Kim mengangkat kepalanya kaget mendengar kalimat itu.

“Apa sekarang oppa sedang bertemu dengan wanita itu?? Kenapa tidak ajak Ha Neul juga??”

-Mr. Kim POV-

Foto wanita cantik? Seperti malaikat?? Su Ho-ya.. Apakah kau melihat foto ibumu bersama dengan Ha Neul??

“Apa yang dibicarakan anak itu?! Ck! Aku akan masuk!” Ujar istri keduaku, Mi Ra.

Aku menahan tangannya agar ia tetap diluar ruangan dan tidak mengganggu mereka.

OppaSaranghamnida.. Ha Neul sayang oppa..” Ujar gadis kecilku yang malang lalu mengecup kening kakak tirinya.

Seulas senyum tergambar di wajahku. Entah kenapa, aku hanya ingin tersenyum saja melihat hal itu.

-Author POV-

Ketika malam tiba, beruntung ada tuan Kim yang mengajak Ha Neul pergi ke rumah sakit menengok Su Ho. Ha Neul sangat senang sekali.

“Terimakasih, yah! Aku sangat senang bisa bertemu dengan oppa!” Ujar Ha Neul ketika perjalanan pulang ke rumah setelah dari rumah sakit.

“Iya.. Sama-sama.. Besok kita kesana lagi ya.. Kita temani oppa agar dia tidak merasa sendirian..”

“Em!”

Dan memang benar janji tuan Kim itu. Esoknya, ia mengajak Ha Neul pergi ke rumah sakit lagi. Karena waktu sudah siang, tuan Kim hendak membelikan makan siang untuk mereka berdua. Tinggalah Ha Neul sendirian di ruangan itu menemani Su Ho.

Oppa.. Kemarin, eomma marah lagi padaku.. Katanya, aku ini tidak pantas untuk dilahirkan.. Maksudnya apa ya?? Aku tidak mengerti.. Dan ia juga mengatakan kalau seharusnya aku ini hilang saja dari muka bumi.. Dia juga memukulku.. Dan dia bilang aku anak nakal.. Apa aku ini nakal?? Tidak kan oppa??”

Hening sejenak.

Oppa masih marah ya dengan Ha Neul makanya tidak membuka mata.. Ayolah, oppa.. Ha Neul berjanji akan menjadi adik yang baik untuk oppa! Asalkan oppa mau buka mata oppa..”

Tak ada respon dan tak ada perubahan. Ha Neul berdiri dan berjalan menuju ke jendela yang langsung menghadap ke jalan raya. Ia melihat ayahnya sedang membeli makan disebrang jalan. Ha Neul tersenyum lebar.

Appa!!! Appa!!!” Teriak Ha Neul menganggap ayahnya akan dengar.

Ketika ia melihat si ayah cuek saja, Ha Neul cemberut dan memanyunkan bibirnya.

“Kenapa appa tidak merespon teriakanku ya?? Aku kan sudah berteriak sangat keras..” Keluhnya.

“Aku mau susul appa ah.. Oppa! Kau tunggu disini ya! Aku akan menyusul appa!”

Ketika Ha Neul menutup pintu ruang inap Su Ho, perlahan mata Su Ho terbuka. Ha Neul berjalan keluar dari rumah sakit dengan masih Mr. Gom ada di tangannya. Ia hendak menyusul ayahnya. Ketika ia sampai di toko dimana ayahnya berada tadi, ia tak menemukan ayahnya disana.

“Kemana ya?? Tadi kulihat appa ada disini..” Ujar Ha Neul kebingungan.

“HA NEUL-A!!!!!” Teriak seorang pria dari sebrang.

Ha Neul yang merasa namanya terpanggil itu menoleh. Ia melebarkan mata tak percaya.

Oppa…….”

Su Ho menyebrang dan menghampiri Ha Neul lalu langsung memeluknya.

Oppa! Kenapa oppa kemari?? Kenapa oppa bisa ada disini???” Tanya Ha Neul.

Oppa, ingin bertemu denganmu..! Kau pasti sangat sedih dan kesakitan.. Iya kan??”

Ha Neul mengangguk.

“Sekarang, apakah sudah baikan?? Oppa kan sudah bangun..” Tanya Ha Neul.

“Sudah sembuh total!! Hehehe..”

“Syukurlah! Oppa! Saranghamnida…”

“Em. Na ddo saranghamnida..”

Su Ho menggandeng Ha Neul dan hendak kembali ke rumah sakit. Di ruangan Su Ho, tuan Kim tersenyum lebar ketika ia melihat Su Ho dan Ha Neul ada diluar sedang akan menyebrang.

“Ternyata, sudah sadar.. Baguslah.. Keadaannya juga sepertinya sudah baik-baik saja..” Ujar tuan Kim senang.

Ketika mereka menyebrang, Ha Neul melihat ke kanan kirinya was-was. Dan….

“AWAS!!!”

‘Ccciiiiiitttt!!’ ‘Brrraaakkk!!’

Su Ho terjatuh kedepan. Ia berusaha bangkit berdiri lalu menoleh ke belakang.

“Ha… Ha.. Ha Neul.. Ha Neul-a!!!”

Su Ho langsung menghampiri Ha Neul yang tertabrak truk. Ia tak peduli dengan sakit akibat jatuh karena Ha Neul mendorongnya tadi. Ia membalikan tubuh Ha Neul. Terlihat Mr. Gom masih dalam genggaman Ha Neul. Ia memeluknya.

“Ha Neul-a..!! Ha Neul-a..!! Bangunlah!!” Kata Su Ho panik sambil menepuk-nepuk pipi Ha Neul.

Ha Neul dalam keadaan setengah sadar saat ini. Su Ho mengangkat Ha Neul dan membawanya ke rumah sakit yang ada didepan mereka.

“Ha Neul-a! Bertahanlah!!!”

-Ha Neul POV-

Eh? Truk itu kok tidak berhenti??

“AWAS!!!!!”

‘Ccciiiiiitttt!!’ ‘Brrraaakkk!!’

Pandangan Ha Neul.. Jadi.. Gelap!! Tidak! Ha Neul tidak mau!! Ha Neul takut gelap!! Hidupkan lagi lampunya!!! Siapapun tolong hidupkan lagi lampunya!! Oppa… Ha Neul takut… Aku mulai menangis walaupun tak kurasakan air mata menetes dan mengalir lewat pipiku. Kenapa? Aku kenapa? Eh?? Cahaya apa ini??

“Ha Neul-a..!! Ha Neul-a..!! Bangunlah!!”

Eh? Suara siapa itu?? Oppa?? Aku sudah bangun, oppa.. Aku disini.. Kenapa wajah oppa begitu panik?? Apa yang terjadi denganku?? Badanku terasa sangat sakit.. Aku tidak bisa menggerakan badanku..!!

            “Ha Neul-a! Bertahanlah!!!”

Perlahan.. Wajah oppa kok menghilang ya? Kenapa mataku jadi terasa sangat berat? Oppa..?? Oppa…..??

-Author POV-

“Ha Neul-a!! Jangan begini! Ayo buka matamu!! Bernafaslah!!” Kata Su Ho sangat panik ketika ia melihat dada Ha Neul tak bergerak dan sangat tenang.

Tuan Kim yang melihat kejadian dari dalam kamar Su Ho langsung menemui Su Ho di bawah.

“Cepat!! Dokter!! Suster!!!” Teriak tuan Kim ikut panik.

“Ha Neul-a! Jangan bermain yang tidak lucu begini!!”

Su Ho memegangi tangan Ha Neul terus. Ia menatap wajah Ha Neul yang begitu damai. Tapi damai ini berbeda dengan damai saat ia tertidur. Wajahnya dan tubuhnya begitu lemas dan tenang. Matanya tertutup rapat serapat-rapatnya. Su Ho menatap Ha Neul dan berhenti panik seketika.

“Ha Neul-a…….?” Panggilnya lagi.

Ia tersenyum lalu mencium kening Ha Neul dengan masih meneteskan air mata.

“Kau tidak perlu takut gelap lagi.. Ada oppa yang akan mengusir kegelapan itu.. Oppa.. Akan bersinar seperti lampu paling terang untukmu…! Oppa akan melindungimu dari orang yang telah menyakitimu.. Mr. Gom juga akan menjagamu.. Kau akan aman disana.. Bertemu dengan seorang malaikat cantik yang waktu itu kita lihat di foto.. Kau akan hidup bersamanya.. Menerima kehangatan, kelembutan dan kasih sayangnya.. Kau akan bahagia dan tak kan ada lagi yang memukul atau menghinamu.. Oh ya.. Sampaikan salamku pada malaikat itu ya.. Bilang padanya.. Aku menyayanginya dan merindukannya.. Merindukan ibuku.. Ha Neul-a.. Saranghamnida… Kita bertemu di surga saja ya.. Tunggu aku..”

-Ha Neul POV-

Semuanya kembali menjadi gelap. Semakin lama semakin gelap! Aku tidak suka kegelapan!! Eh? Ada sinar lagi! Sinar apa itu? Terang sekali… Apa itu.. Oppa?? Hehe! Iya! Itu oppa!! Dia benar-benar bersinar mengusir kegelapan! Hehehe..

            “Ha Neul-a…….?”

Aduh.. Rasanya sakit sekali.. Bahkan.. Lama kelamaan, aku tidak bisa mendengar suara oppa dengan jelas lagi. Apakah.. Ini akan berakhir?? Kebahagiaan yang baru kurasakan akhir-akhir ini…. Apakah akan berakhir disini?? Hmm.. Hehehe.. Tak apalah… Karena..

Telingaku sudah tidak bisa mendengar suara merdu oppa.. Mataku juga sudah terpejam dengan rapat sehingga tak bisa melihat wajah oppa dan senyum oppa.. Mulutku sudah terkunci yang tak akan bisa dibuka lagi sehingga aku tidak bisa berbagi cerita dengan oppa lagi.. Hidungku sudah berhenti mencium segala macam aroma.. Aroma oppa yang wangi.. Aroma masakan bibi Ahn.. Dan suara ini.. Tak kan bisa keluar lagi untuk bernyanyi bersama dengan oppa.. Kalau begini.. Baiklah, oppa! Aku akan menunggumu hingga waktu untuk kita bertemu tiba…. Di surga sana

 

THE END THE END THE END!!! END END END!!!

Akhirnya selesai! Mian, chingudeul klo ff-nya jelek! Mungkin juga banyak typo! Alurnya gak jelas lagi! Kecepetan…! >.< Hahahaha.. Udah gitu panjang banget nih ff!! Wkwkwkwk.. Membuang waktu readers untuk membaca ni ff.. Hehehe.. Skali lagi mian.. #membungkuk 360 derajat.. Terimakasih juga mau baca ff pertama saia!! Gomawo, all.. Saranghae.. Chu~<3 RCL yaaa~~~

Iklan

23 pemikiran pada “In Heaven

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s