Can You Hear Me?

Title                 : Can You Hear Me?

Author             : Kim Eun Soo

Main Cast        : Byun Baekhyun, Kim Eunsoo

Genre              : Romance, Sad

Length             : Oneshot

Rating              : General

Disclaimer       : All casts in this ff are belong to God J Warning! It’s a failed ff =,=

A/N                  : Annyeong! Kim Eun Soo is back ^^ Well, sebenernya ini aku rencana bikin ficlet, tapi karena kepanjangan yaudah deh jadi oneshot aja ._. Trus mian banget kalau para readers tercinta membaca fanfic ini dan bingung sendiri. Jujur, author juga bingung kok *ditampar readers* Dan maaf karena judul dan isi ff nya sama sekali gak nyambung 😀

Summary         : “Mungkin Kau tidak bisa menjawabku. Tapi aku yakin Kau bisa mendengarku.”

 

Happy Reading! Don’t be silent readers. RCL 😀

 ____________________________________

Baekhyun POV

May, 6th 2010 at Lotte World

“Oppa, Kau mau naik wahana apa? Kau boleh pilih sesukamu. Aku akan menemanimu seharian karena hari ini ulang tahunmu, Oppa,” ucap Eunsoo dengan mata berbinar yang membuatku semakin gemas saat melihatnya. Ia kini menggamit lenganku dan menarikku agar berjalan bersamanya.

“Eum, neomu kyeopta.” Aku tidak menjawab pertanyaan Eunsoo tapi malah menyentil hidung kecilnya pelan. “Baiklah, aku ingin naik itu, itu, itu, dan itu. Ah, kurasa aku ingin naik semua wahananya, Eunsoo-ya. Otte?” tanyaku sambil melingkarkan lenganku di leher Eunsoo.

Eunsoo menggembungkan pipinya kemudian tersenyum manis. Bibir kecilnya bergerak-gerak seiring dengan setiap kata yang ia ucapkan. “Nope, Oppa. Kaja kita naik satu per satu. Kau mau yang mana dulu?”

Aku berpikir sejenak lalu memutuskan, “Bagaimana kalu kita naik roller coaster dulu?”

“Geura. Kaja, Oppa.” Aku dan Eunsoo berlari menuju wahana roller coaster dan ikut bergabung dengan orang-orang yang mengantri tiket lainnya.

***

            “Eunsoo-ya, thanks for everything. I love you, Sweety.” Kuusap puncak kepala Eunsoo lembut kemudian mencium keningnya.

“I love you too, Baekhyun Oppa.” Eunsoo menampilkan seulas senyum manis yang sangat kusukai. Aku mencium bibir pink-nya lembut dan melepasnya setelah sekitar lima menit saling terpaut.

“Kuharap kita bisa selalu menikmati kebahagiaan bersama seperti ini, Oppa.” Eunsoo memandangku dengan mata beningnya yang menyiratkan sesuatu, tapi sayangnya saat itu aku terlalu capek untuk sekedar mencari maknanya.

Kedua alisku terangkat sesaat, tapi akhirnya aku mengangguk kecil lalu menggandeng tangan Eunsoo keluar dari Lotte World.

 

May 11th, 2010 at Seoul International Hospital

“Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida. Saranghaneun uri Eunsoo. Saengil chukka hamnida.” Aku bertepuk tangan sesaat setelah selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk yeojachingu-ku. Kuusap pipinya lembut lalu mencium keningnya lama.

Aku memandangi paras cantik Eunsoo sambil menggenggam kedua tangannya erat. Kulitnya yang kini semakin putih, hidung kecilnya yang mancung, kedua alisnya yang melengkung sempurna, bulu matanya yang begitu lentik, pipi chubby nya yang mulai menirus, bibir pink mungilnya yang terasa manis tiap kali kukecup, rambut coklatnya yang tergerai rapi menutupi bahu, semuanya sangatlah indah.

Kecuali satu.

Mata bulat dengan bola mata berwarna coklat terang yang biasanya berbinar saat aku memberinya es krim atau coklat kesukaannya, yang selalu hilang dan digantikan oleh lengkungan indah ketika ia tersenyum atau tertawa, yang menatapku dengan sorot khawatir kala aku melewatkan jam makanku, yang selalu berkedip-kedip lucu saat menyerangku dengan aegyo-nya kini terkatup rapat, seolah enggan untuk sekedar membiarkanku menatap ke dalamnya sedetik saja.

Aku tersenyum pahit kemudian beralih memandang selang infus yang masih tersambung ke tangan kanan Eunsoo. Garis naik turun masih tergambar di layar elektrokardiograf, menandakan kalau jantungnya masih berdetak meski lemah. Aku memajukan wajahku dan mengecup bibirnya sekilas.

Sweety, kapan Kau akan membuka matamu kembali dan tersenyum manis kepadaku?

 

May 11th, 2011 at Seoul International Hospital

Aku meniup lilin berangka 16 yang tertancap manis di bawah permukaan kue tart berselimut whip cream warna krem dengan lapisan caramel yang mengeras di atasnya, serta sepasang cherry merah di tengah-tengahnya. Kuletakkan tart itu di meja kecil di samping tempat tidur Eunsoo kemudian kubelai rambutnya lembut.

“Eunsoo-ya, hari ini Kau tepat berusia 16 tahun. Look, I bought your favourite cake. Are you happy, Sweety?” Aku terdiam sejenak, menunggu mulut kecilnya terbuka dan membiarkan pita suaranya bergetar mengeluarkan suara, meski aku sadar itu mustahil. Dan akhirnya sebuah desahan keras menemukan jalannya untuk keluar dari mulutku.

Aku tertawa hambar untuk menyembunyikan kesedihanku di depannya. “Eunsoo-ya, apa Kau tidak lelah menutup matamu selama setahun lebih? Tidakkah Kau ingin membuka matamu untuk melihat dunia luar? Kau bilang kalau Kau ingin merayakan sweet seventeen mu di Paris bersamaku, kan? Maka dari itu, segeralah bangun dari tidur panjangmu dan kita bisa merayakan ulang tahunmu di Paris tahun depan.”

Tetap tidak ada jawaban. Mata Eunsoo masih terkatup rapat seolah ada lem yang menyatukannya satu sama lain, begitu juga dengan bibirnya. Sekali lagi, aku mendesah keras. Selama ini aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum di depannya meski sesungguhnya di dalam hati aku menangis meraung-raung, tapi kali ini aku tidak sanggup lagi menahan cairan bening yang telah terkumpul di sudut mataku, siap untuk meluncur turun. Kemudian kutundukkan kepalaku dan meleleh lah butiran air mata itu.

Sweety, when will I am possible to hear your calming voice again?

 

May 10th, 2012 at Seoul International Hospital

“Sweety, did you sleep well? How was your dream last night? Was that great? Did you hurt again?” Aku membuat sedikit jeda, kemudian menghela napas berat.

Kupeluk tubuh Eunsoo yang semakin kurus dari hari ke hari itu lalu menenggelamkan wajahku di leher putih jenjangnya, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Kuputar kembali memori menyakitkan ketika kemarin malam dokter yang biasa mengawasi perkembangan Eunsoo menyatakan bahwa kanker otaknya telah mencapai stadium akhir.

Terlebih ketika satu jam setelahnya kondisi Eunsoo turun drastis. Detak jantungnya teramat lemah, bahkan sempat beberapa detik tidak berdetak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis sepanjang malam dan tidak hentinya memanjatkan doa kepada Tuhan. Beruntung setelah sekitar 5 jam kondisinya mulai membaik. Tapi tetap saja, ia belum sepenuhnya melewati masa kritisnya.

Air mataku menetes dan mengenai leher Eunsoo. Kuusap pelan dengan ibu jariku lalu berucap dengan suara parau, “Sweety, mungkin Kau tidak bisa menjawabku. Tapi aku yakin Kau bisa mendengarku. Listen, I love you more than I love myself. Your presence is like the air I always breathe. Your smile is my soul. I just can breathe when you’re by my side. My heart can beat if you smile to me. I can’t do anything without you. See, you just too important for me. So please, I’m begging you right now. Don’t leave me, don’t leave us. Please fight with your disease for me, for your family, for your bestfriends, for everyone who loves you.”

Aku menghirup oksigen dalam-dalam, berusaha mengabaikan air mataku yang masih saja mengalir turun. “Sweety, besok adalah sweet seventeen-mu. Kumohon sadarlah dari komamu dan kita bisa merayakan ulang tahunmu bersama. Eunsoo-ya, j-jebal…” Kubekap mulutku dengan kedua tangan kemudian menangis tersedu-sedu di hadapan Eunsoo.

            Sweety, kumohon bertahanlah demi aku, keluargamu, dan semua orang yang menyayangimu.

 

May 11th, 2012 at Seoul International Hospital

“Sweety, happy seventeenth birthday. How’s your day? Are you feeling happier there? Do you like your new place? Are the angel being nice to you? Here, your favourite roses.” Aku meletakkan sebuket bunga mawar putih di atas nisan yang terbuat dari batu marmer itu.

“Do you like it, Eunsoo-ya?” Kupejamkan mata, membiarkan sebulir air mata jatuh dari pelupuk mataku dan mendarat di atasnya. Kembali kupandangi nisan itu lekat-lekat, membuat tubuhku bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh terduduk di tanah.

Rest In Peace

Kim Eun Soo

Birth date: Friday, May 11th 1995

Died: Monday, May 11th 2012

 

Hari ini Eunsoo tepat berusia 17 tahun, tapi tepat hari ini pula jantungnya tidak lagi berdetak, darahnya berhenti mengalir, dan tepat pukul 00.01 tadi pagi ia bernapas untuk yang terakhir kalinya. Benar. Eunsoo telah gagal melawan penyakit kankernya yang telah ia idap sejak umur 10 tahun.

Eunsoo tidak berhasil bertarung melewati masa kritisnya kemarin malam. Ia telah pergi ke surga sekarang, meninggalkanku yang semakin rapuh dan hancur.

Tuhan, inikah takdir yang terbaik untukku? Tapi kenapa? Kau tahu Eunsoo terlalu berharga bagiku. Dia adalah napasku, Tuhan. Aku bahkan baru mengetahui penyakitnya dua tahun lalu sehari setelah hari ulang tahunku. Dan sejak saat itu pula aku selalu melihatnya terbaring lemah di atas tempat tidur tanpa sekalipun membuka matanya. Lalu sekarang aku harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang sangat kucintai dan berarti dalam hidupku kini pergi meninggalkanku selamanya?

Tuhan, ini semua terlalu cepat. Aku tidak bisa bertahan tanpa seorang Eunsoo di sisiku. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku selanjutnya tanpanya?

Tuhan, aku tidak sanggup.

Aku duduk di depan makam Eunsoo sambil memeluk lututku, sekaligus menenggelamkan wajahku di antaranya. Aku tidak ingin berhenti menangis. Aku ingin terus mengeluarkan air mata sampai Tuhan bersedia mengambil nyawaku disini.

Eunsoo-ya, I’ll miss your warm hug, your sweet kiss, your angelic voice, those beautiful eyes, I will miss everything. But the last, let me say this, before those angels send you to the heaven.

Kim Eunsoo, I love you.

Thank you for give me the last chance to say that sentence, Eunsoo-ya.

But Sweety, bolehkah aku ikut pergi ke surga bersamamu?

 

END

Oneshot gak berhasil kan? Iya saya tahu -.- Jelek banget ya? Mianhae, aku kan tadi uda bilang kalo fanfic ini membingungkan *dibunuh readers* ._.v

Well, I’ll try better next time ~ yeaaa. Thanks a lot my lovely readers. Love you {} lol xD *bow* RCL, okay? 😉

39 pemikiran pada “Can You Hear Me?

  1. thor……. asli inii nyesek, feelnya dapet banget ;___;
    sedih jadi si baekhyun aaaaa sini bacon sama aku ajaaaa *plakk
    ini udah daebak! keep writing!

    • Se-nyesek itukah? Feel-nya dapet? You aren’t lying to me, are you? Well~ gomawo ^v^
      Jangaan bacon sama author ajaa *dibunuh exotics* ._.v
      Kamsahaeyo~~ 😀

  2. Euheuheuheu TTTTvTTTT
    Sedihnyaaaa~~ *cakar dinding*
    Ini daebak thor, gak aneh sumpah deh thor TTwTTV. Nyambung kok cerita sama judulnya.
    Cian Bacon~
    Ditunggy cerita lainnya ya thor^^

    • Huaaa, uljimayo~~ 😥 jebal, jangan bikin dosa author nambah gara-gara bikin orang lain nangis di bulan ramadhan dong *eh #plakk ^^v
      Wah, serem deh pake nyakar-nyakar dinding segala *pletak 😀
      Jeongmalyo? Fyuuh, syukur deh *elap keringet* ~~
      Ne, gomawoyo 😀

  3. nyesss njleb ini rasanya author T~T
    astaga Bacon kata2nyaaaaa ;A; #mewekdipojokan
    daebak author TAT hampir netes barusan(?) #duakk

    keep posting ya author 😀

    • Jebal uljima~~ *pat your back* 😥
      Aish, jincha! Kenapa pada nangis semua sih? Huaa, forgive me, God T^T
      Yahh, ternyata masih mau netes -____-
      Hehe~ ne, gomawo 😀

  4. bacon setia banget ya, gentleman!
    setia nungguin eunsoo sampe ending padahal masih muda banget itu dua manusia!
    it’s such a nice story, author!

    • Iyaaa, bacon emang cinta sejatinya author (re:eunsoo) #plakk 😀
      Enaknya sekalian aja si bacon nemenin di surga juga *pletak ._.v
      Jeongmal gomawo~~ 😀

    • Jinchayo? Aaa, gomawoyo, eonni~~ *hughug* ({})
      Ne, ff ku kayaknya banyak deh yg sad ending #plakk ._.v
      Hehe, ini pada dasarnya aku suka bikin orang galau *pletak 😀
      Hanbeondo gomawo, eonni 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s