I Choose to Love You (Chapter 1)

Title: I Choose to Love You (chapter 1)

 

Author: JongBanIn

 

Genre: hem..romance?

 

Cast: Jeong Na Yoon

Kim Jong In

 

Other cast: Choi hera

Park Chan Yeol

 

Annyeong~ haha..ini sebenarnya bukan ff pertama yang saya buat. Tapi ini ff yang pertama yang saya kirim ke blog. Walaupun ff ini sama sekali ndak jelas, saya harap kalian mau comment apapun itu. Kritik boleh saran juga boleh. Kalau kalian ndak suka atau nganggep ff ini jelek kalian juga boleh bilang langsung. Oh..saya hanya meminjam nama member exo-k saja. Jadi itu ndak benar sesuai dengan aslinya. Semoga kalian suka~ ^^

 

‘kalau namja yang ku cintai memilih mengacuhkanku..apa salah kalau aku merasa nyaman dengan namja lain?’

______________________________________________________________________

 

(Nayoon Side)

 

Lagi, suasana canggung ditengah-tengah kami berdua tercipta. Hanya sibuk memikirkan tugas masing-masing. Aku tersenyum miris melihat kenyataan yang ada didepanku saat ini. Apa kami bisa dikatakan sebagai pasangan kekasih? Setiap bertemu tak akan ada hal yang menarik yang kami bicarakan. Hanya sepatah dua patah yang keluar dari mulutnya setiap kami bertemu. Dan aku pun juga seperti itu. Aku lebih memilih untuk dia daripada banyak bicara. Karena sejujurnya aku takut untuk merusak suasana hatinya. Sudah 2 tahun lamanya aku dan namja dihadapanku ini berpacaran. Di awal kami berpacaran semuanya begitu manis. Dia adalah namja yang paling mengerti tentangku. Selalu ada untukku kapanpun itu. Dan tentu saja dia yang paling berharga untukku. Tapi entah saat usia pacaran kami masuk 1 tahun. Dia berubah. Dia tak sama seperti yang dulu, yang selalu mengerti tentangku. Yang selalu siap menjadi tempat untukku mencurahkan semua isi hatiku. Dia bukan namja manis lagi yang dulu bisa membuatku tersenyum hanya karena senyumannya. Dia sekarang hanyalah seseorang yang dingin dan seolah tak peduli dengan sekitarnya. Sekarang dia hanya bisa membuatku menangis karena sikapnya itu. Entah aku sekarang malah berfikir kalo seharusnya kami putus. Untuk apa kami berpacaran kalau sekarang sikap kami berdua sudah seperti orang yang tidak saling mengenal? Tapi bagaimana mungkin aku bisa meminta putus darinya kalau aku sampai sekarang masih sangat mencintainya. Aku kembali menatap kim jong in, namjaku itu dengan tatapan berharap kalau dia mau membalas tatapanku. Tapi sekali lagi, percuma untukku berharap karena itu tidak mungkin terjadi.

Aku berdeham pelan, lalu memutar cangkir kopiku pelan. Kopi yang sudah lama dingin karena terlalu lama dibiarkan dan tentu saja karena ini adalah musim dingin. Kemudian aku menyesap kopi itu sedikit.  Pahit. Itu yang kurasakan dilidahku saat ini. Walaupun sebanyak apapun aku menaruh gula kedalam kopi itu, rasanya akan tetap sama pahit. Karena sebenarnya bukan kopi itu yang pahit tapi perasaanku.

“bagaimana kabar eommamu di jepang? Aku harap eommamu akan segera sembuh..” kataku mulai membuka pembicaraan. Aku mulai tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini. Aku menatapnya yang sedang membaca buku, dia serius sekali. Terlalu serius sampai ia tak sadar kalau sejak 1 jam yang lalu ada seorang yeoja duduk dihadapannya dan baru saja mengatakan sesuatu. Apa aku boleh mengasihani diriku sendiri? Oh..aku ingin menangis sekarang. Tidak enak menjadi orang yang selalu di acuhkan seperti ini. Apalagi orang yang mengacuhkanku itu adalah namjaku sendiri. Namja yang sangat kucintai.

 

Aku kembali menundukan kepalaku mencoba menahan tangisanku yang bisa kapanpun pecah. Nayoon Kau harus kuat, demi apapun kau tak boleh menangis dihadapan namjamu. Sekuat apapun aku menahan tangisan ku saat ini, air mataku tetap saja mengalir. Dan untuk kesekian kalinya kau berhasil membuatku menangis, kim jong in. Aku mencoba menutup wajahku dengan syal tebal yang dari tadi tidak kulepas, mencoba menutupi wajahku yang sudah mulai basah karena air mataku. Tapi sepertinya aku salah kalau aku berfikir dia tak mungkin tau, karena sekarang dia memberikanku sapu tangannya.

“pakailah ini..kau tidak seharusnya menangis di hadapan banyak orang seperti ini.” katanya dingin lalu menaruh sapu tangan itu tepat dihadapanku. Aku tak mengambil sapu tangan itu dan malah memilih untuk diam. Sekarang aku bukan merasa tenang saat dia setidaknya sedikit memperhatikanku barusan. Air mataku bahkan mengalir lebih cepat dari sebelumnya. Aku sakit saat dia memperlakukanku seperti itu. Dulu dia akan langsung memelukku jika aku menangis dan tentu saja menghiburku. Tapi sekarang? tidak usah berharap dia akan memelukku karena menghiburku saja itu sudah tidak mungkin. Aku ingin kim jong in yang dulu.

“pakailah itu..” katanya lagi dan kali ini aku menurut. Aku mengambil sapu tangan berwarna merah maroon itu lalu memakainya untuk mengusap air mataku. Aku menatapnya lalu kembali menunduk.

“gomawo. Aku akan mencucinya dulu sebelum ku kembalikan padamu.” kataku lalu memasukkan sapu tangan itu kedalam tas ku. Aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum miris saat mengatakan hal itu. Kami benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal. Haruskah memakai bahasa formal saat berbicara kepada pacarmu sendiri? Ini aneh.

“baiklah..aku harus pergi sekarang, tugas kuliahku menumpuk. Annyeong.” ucapnya lalu pergi begitu saja. Aku melihatnya keluar dari cafe dengan tergesa-gesa, lalu dia dengan cepat menghilang di tengah-tengah pejalan kaki yang lain. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, sambil memejamkan mataku. Dia meninggalkanku lagi. Lagi dan lagi.

 

Aku berjalan cepat menuju apartementku. Karena aku tidak mungkin menangis di tengah keramaian seperti ini. Sekarang aku hanya butuh kasur dan bantalku, yang memang siap kapanpun untuk menjadi sasaran empuk saat aku menangis. Kalau saja bantal dan kasurku bisa berbicara, mungkin dari dulu mereka sudah mengomeliku karena terus membanjiri mereka dengan air mataku. Saat aku melihat apartementku sudah tepat didepan mata aku langsung berlari tidak peduli dengan sekitar. Sampai sebuah tangan menarikku dan itu membuatku berhenti. Dia adalah choi hera, sahabatku dan juga jong in. Aku langsung memeluknya dan menangis. Hera hanya bisa menepuk punggungku pelan dan membawaku masuk kedalam apartementku.

 

“apa dia mengacuhkanmu lagi?” tanya seorang namja dengan suara berat tepat dibelakangku. Dan dia adalah park chanyeol, namja chingu hera seklaigus sahabatku dan jong in. Aku hanya bisa mengangguk dan memeluk bantalku. Air mataku tak henti-henti mengalir. Sakit itu tetap kurasakan walaupun aku mencoba untuk menutupinya. Sebegitu besarnya kau untukku kim jong in.

“ah..dia sudah seharusnya diberi pelajaran..” balas chanyeol membuatku melihat kearahnya. Bukan karena aku takut dia akan benar-benar memberi pelajaran pada jong in, tapi aku meragukan kata-katanya. Selama ini chanyeol yang kukenal tidak bisa berkelahi sedikitpun. Sedangkan jong in dia hebat dalam hal itu. Aku jadi ragu kalau dia akan memberi pelajaran pada jong in.

“yak..park chanyeol, apa kau serius dengan perkataanmu itu? Aku rasa nanti bukan kau yang memberi pelajaran pada jong in, tapi sebaliknya. Kau yang akan diberi pelajaran pada jong in karena berani menantangnya.” kata hera sambil tertawa meremehkan namjanya itu. Aku menatap mereka bergantian. Betapa bahagiannya mereka. Bisa sama-sama bercanda seperti itu. Sedangkan aku? ah..tidak usah memulai kesedihanmu lagi, jeong nayoon.

 

Malam ini aku terpaksa keluar dari apartementku. Setelah 2 hari aku memilih untuk mengurung diriku dikamar Ini juga karena paksaan dari chanyeol dan hera. Mereka bilang kalau aku tak seharusnya diam di apartement terus menerus, karena itu dapat membuatku terus mengingatnya. Mungkin mereka benar, aku bisa melupakan kesedihanku sedikit saat aku berjalan-jalan di taman kota seperti ini. Hari ini taman kota begitu ramai. Entah ada perayaan apa..yang pasti hari ini banyak sekali pasangan kekasih yang memilih berjalan atau hanya duduk-duduk saja sambil menikmati pemandangan taman. Sepertinya hanya aku yang berjalan sendiri disini. Aku berjalan pelan menyusuri taman kota berusaha mencari hera dan chanyeol, ditengah-tengah beratus-ratus orang. Sulit mencarimereka disini. Tiba-tiba saja kakiku berhenti saat melihat seorang namja yang sedang duduk memegang gitar, dan menyanyikan sebuah lagu. Banyak orang yang mengelilinginya. Kurasa dia penyanyi jalanan. Aku tersenyum kecil saat mendengarnya menyanyi. Entah lagu apa yang sedang ia nyanyikan, yang pasti aku menikmati itu. Aku memejamkan mataku, mencoba lebih menikmati lagu itu. Suaranya benar-benar bagus. Tak tau berapa lama, saat aku membuka mataku tempat yang tadinya ramai dipenuhi orang yang sedang melihat namja itu menyanyi sekarang menjadi sepi, hanya ada aku dan namja itu saja. Tapi aku tak segera pergi, aku malah asik melihatnya memperbaiki gitarnya dan sebuah kotak untuk menyimpan uang.

“yak..kau yeoja yang disana..” panggilnya sambil menunjuk kearahku. Eh? Apa dia memangilku. Aku menoleh kiri-kanan, memastikan kalau aku tak sendiri disini. Tapi kenyataannya aku memang sendiri disini dan berarti dia memanggilku. Aku berjalan perlahan mendekatinya.

“ne..ada apa?” tanyaku sedikit takut. Aku kan belum tau kalau dia itu orang baik atau bukan. Apalagi aku hanya sendiri disini. Itu tambah membuatku takut. Dia menatapku sebentar lalu kembali sibuk memsukkan gitarnya dalam sebuah tas khusus untuk gitar.

“bukankah tadi kau juga mendengarku menyanyi? Sudah seharunya kau membayarku. Masukkan uangmu dalam kotak ini.” katanya pelan tapi tegas. Apa ini pemalakkan? Aku menatpnya lagi lalu mengeluarkan beberapa lembar uang won dari dompetku. Baru saja aku akan memasukkannya dalam kotak itu, dia malah menahan tanganku.

“tidak perlu. Aku hanya bercanda barusan. Pertunjukkan tadi gratis untukmu. Semoga lagu tadi bisa mengurangi kesedihanmu.” lanjutnya dan membuatku menatapnya bingung. Dia tau kalau aku lagi bersedih?

“kau tau dari mana?”

“jelas terlihat dari wajahmu.”

 

To be Continue~

 

Haha..bagaimana? Aneh kah? Jelekkah? comment aja deh… :p kalo banyak yang comment baru aku lanjutin. Kalau ndak ya..mikir-mikir juga. Thanks buat yang udah baca~ ^^

14 pemikiran pada “I Choose to Love You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s