Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 4)

Title                 : Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 4)

Author             : Kim Eun Soo

Main Cast        : Jeon Hyosung (Secret), Byun Baekhyun, Xi Luhan

Support Cast    : Wu Yi Fan / Kris

Genre              : Romance, Sad

Length             : Chaptered

Rating              : General

Disclaimer       : All casts in this ff are belong to God, except Key Oppa (?) He belongs to me :p *sejak kapan Key Oppa ikut nongol? Author juga bingung haha 😀 *bunuh author*

A/N                  : Annyeong! I’m back! Ada yang penasaran sama chapter ini? Enggak? Yaudah deh gak papa *author nangis gajelas :’(* Enjoy it  J And for plagiatrism, Go Away! Once more, sorry for typo(s).

Summary         : “Kurasa kali ini bintang keberuntunganku telah kehilangan sinarnya.”

Ketika cinta datang, berusahalah untuk menggapainya. Namun ketika akhirnya cinta itu pergi, relakanlah ia. Karena percayalah, bahwa suatu hari cinta sejatimu pasti akan datang. Dan ia akan memberikan kebahagiaan yang abadi untukmu.  ~Kim Eun Soo~

 

Happy Reading! Don’t be silent readers. Comment below 😀

 __________________________________

Author POV

Baekhyun kembali tersenyum tipis dan mengeluarkan ekspresi aneh yang sulit ditebak. “Ah, lupakan. A-ku.. ngg, aku hanya meracau tadi. Mmm.. Hyosungie, ada yang ingin kubicarakan.”

Hyosung melihat Baekhyun dengan kening berkerut. Namja itu terlihat.. gugup. Memang apa yang mau dikatakannya sampai raut wajahnya terlihat seperti itu? tanya Hyosung dalam hati. Sedetik kemudian yeoja itu tersadar dari pikiran melanturnya lalu berusaha menepis semua pikiran buruk yang menghampiri benaknya. “Apa itu, Oppa?” Hyosung berusaha membuat nada suaranya terdengar tenang serta mengeluarkan ekspresi tertariknya.

Baekhyun menelan ludah melihat mata coklat terang Hyosung yang kian berbinar. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras. Ia menggenggam tangan kiri Hyosung, meremasnya perlahan.

“Baekhyun Oppa, ada apa sebenarnya?” tanya Hyosung sekali lagi. Ia memilih memandang lurus ke depan dan memilin rambut coklatnya yang tergerai rapi, berusaha menghilangkan kegugupan yang entah sejak kapan menyelimutinya.

Baekhyun lagi-lagi mendesah keras. Namja itu melirik Hyosung sekilas lalu tersenyum pahit. “Jeon Hyosung, ku-kurasa.. ngg.. sebaiknya h-hubungan ini.. kita akhiri saja.” Selesai mengucapkan sebaris kalimat itu, Baekhyun berusaha menenangkan napasnya yang tiba-tiba saja menjadi tidak beraturan, senada dengan hatinya yang kini bergejolak berusaha meredam perasaan yang bergemuruh di dalam dadanya.

Hyosung berhenti memilin rambutnya. Napasnya seolah tertahan seketika, gadis itu menggigit bibirnya pelan. Pandangannya lalu mengarah pada Baekhyun. “Ne? Ahaha. Itu tidak lucu, Oppa. Ini bukan saatnya April Mop. Kau mau mencoba untuk mengerjaiku ya?” jawabnya sambil tertawa hambar.

“Hyosungie, aku serius. Lebih baik kita akhiri di sini saja,” ucap Baekhyun setengah memohon.

“Oppa! Sudah kubilang ini semua tidak lucu! Kau masih mau mengerjaiku rupanya. Hhh, menyebalkan!” Hyosung memutar bola matanya lalu bersendekap. Jauh di dalam hatinya, ia berharap Baekhyun akan segera tertawa kemudian mengatakan kalau namja itu memang sedang bercanda.

Tidak, ini tidak benar. Sekarang adalah musim gugur, musim keberuntunganku. Ini semua tidak mungkin terjadi. Tuhan, tolong. Ini semua bohong, kan? Racau Hyosung dalam hati.

Baekhyun menatap yeoja yang beridiri di depannya putus asa. Kenapa sulit sekali untukku mengatakan yang sebenarnya? tanya Baekhyun di dalam hati lebih kepada dirinya sendiri. Ia lalu mendekap Hyosung erat. “Hyosungie, kumohon. Kali ini aku benar-benar serius. Aku.. a-aku tidak bisa lagi bersamamu. A-aku tidak bisa selalu berada di sampingmu lebih lama dari ini. M-mianhae.”

Hyosung terdiam. Lengannya yang semula membalas pelukan Baekhyun kini terlepas. Tatapannya kosong. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. “Baekhyun Oppa.. K-kau..”

Tuhan, kenapa Kau tidak mengabulkan doaku? Apakah karena aku terlalu egois? Tuhan, jebal. Aku akan memperbaiki semuanya, asal jadikan ini semua sebatas mimpi. Aku sangat mencintai Baekhyun Oppa. Aku tidak bisa melepasnya. Tuhan, jebal, doa Hyosung dalam hati.

Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya, namja itu menenggelamkan wajahnya di bahu Hyosung. “Mianhae, Hyosungie. J-jeongmal mianhae.”

Hyosung masih belum bisa mempercayai semuanya. Tidak. Lebih tepatnya, ia tidak mau mempercayai semuanya. Andaikan ini sebuah mimpi, ia ingin segera bangun dari tidurnya. Nyawa yeoja itu belum terkumpul sepenuhnya untuk menerima kenyataan yang menghampirinya. Mata bening Hyosung mulai memerah, menahan cairan bening yang bisa kapan saja keluar dari pelupuk matanya. Tiba-tiba ia dengan kuat mendorong tubuh Baekhyun menjauh.

“Hyosungie…” Panggil Baekhyun lirih.

“Menjauhlah! Menjauhlah dariku, Oppa. Kalau Kau mau kita berpisah, pergi dari sini sekarang juga! Aku tidak mau melihatmu lagi!” Hyosung berteriak cukup keras. Wajahnya berurai air mata.

Baekhyun kembali memeluk Hyosung. Kali ini lebih erat––sangat erat––dari sebelumnya. Hyosung memukul Baekhyun berkali-kali, tapi namja itu sama sekali tidak melawan. Ia membiarkan Hyosung melakukan hal itu sesuka hatinya, berharap hal itu dapat membuat Hyosung menerima keputusan final-nya. Berharap agar Hyosung mau merelakan Baekhyun untuk pergi dari kehidupannya.

Air mata Hyosung masih saja mengalir, bahkan semakin deras. Matanya sembab, hidungnya memerah, wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Tangannya belum berhenti memukul-mukul dada Baekhyun, seolah ingin melampiaskan semua perasaannya yang telah berhasil diobrak-abrik oleh namja itu. Sedangkan Baekhyun hanya diam mendekap Hyosung sangat erat, seperti tidak mau melepaskan yeoja itu barang sedetik pun.

Sebenarnya Baekhyun tidak benar-benar diam. Ia juga ikut menangis. Wajahnya dipenuhi oleh air mata yang terus mengalir dan beberapa yang sudah mengering, meninggalkan semacam bekas berbentuk garis yang hampir tersamarkan oleh warna kulitnya. Akan tetapi ia berusaha sebisa mungkin meredam isakannya. Ia berusaha untuk menutupi salah satu sisi lemahnya di hadapan Hyosung. Ia tidak mau yeoja itu ragu akan keputusan yang dibuat sendiri olehnya.

Semakin lama tangis Hyosung semakin menjadi-jadi. Dia berteriak sangat keras, beruntung saat itu taman sedang sepi. Hanya mereka berdua yang menempati bagian kanan taman itu. Sedetik kemudian gerakan Hyosung melemah. Tangannya terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. Yeoja itu terisak, tapi tidak sekeras tadi. Tenanganya sudah terkuras banyak untuk memukul-mukul Baekhyun, meski hal itu tidak akan merubah apapun.

Kali ini Hyosung menangis dalam diam. Isakannya hanya terdengar sesekali. Bahunya bergetar pelan. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan sesuatu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai suara Baekhyun memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Hyosungie, mianhae. Jebal, biarkan aku pergi dari kehidupanmu,” ucap Baekhyun lirih, tetapi berhasil meruntuhkan pertahanan diri Hyosung.

Hyosung segera melepas dekapan Baekhyun dengan sedikit kasar. Ia memandang ke bawah. Hatinya belum siap benar untuk menatap langsung mata namja tinggi itu. Sebulir air mata menghambur keluar dari pelupuk matanya lalu mendarat dengan mulus di tanah.

“Wae? Apa alasanmu meninggalkanku, Oppa? Bukankah Kau selalu bilang kalau Kau mencintaiku?” tanya Hyosung dengan suara serak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nada suaranya agar tidak kembali tenggelam dalam isakannya.

Baekhyun terdiam. Ia tertegun menatap sosok Hyosung di hadapannya yang terlihat begitu rapuh. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa meminta Hyosung untuk kembali menjadi miliknya, meskipun sebenarnya ia sangat menginginkan hal itu. “Aku.. Aku tidak bisa mengatakan alasannya. Maafkan aku, Hyo.”

Hyosung semakin menundukkan kepalanya. Usaha yeoja itu sia-sia, air matanya tetap tak terbendung. Ditambah lagi dengan kalimat terakhir Baekhyun yang membuat dadanya semakin sesak. Udara. Dia butuh udara. Tapi Hyosung seolah lupa bagaimana caranya untuk bernapas. Otaknya terlalu penuh oleh berbagai macam pertanyaan yang terus berkecamuk.

Kenapa Baekhyun Oppa ingin meninggalkanku? Apakah dia tidak lagi mencintaku? Apakah dia mencintai yeoja lain? Apakah..? Apakah..? Berbagai pertanyaan serupa masih terus berputar-putar di otaknya.

“Apakah Kau tidak lagi mencintaiku?” tanya Hyosung menyuarakan isi pikirannya. Pandangannya masih tetap terarah ke bawah.

“Ani. Bukan seperti itu. Aku.. Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu,” jawab Baekhyun mencoba meyakinkan yeoja yang ia sayangi itu.

Kali ini Hyosung mengangkat kepalanya. Mata coklat terangnya menatap Baekhyun nanar. Wajahnya dibasahi oleh air mata. “Lalu kenapa, Oppa? Atau.. jangan-jangan.. Kau.. me-mencintai gadis lain?”

“Tidak! Itu sama sekali tidak benar! Aku tidak pernah mencintai yeoja lain selain Kau, Hyo. Aku hanya mencintaimu.”

“Lalu kenapaaa, Oppa? Kenapa Kau ingin mengakhiri semuanyaaa?” Suara Hyosung mulai meninggi.

“Sudah kubilang aku tidak bisa memberitahukan alasannya padamu, Hyo. Mengertilah,” ucap Baekhyun memohon.

“Kenapa? Kenapa tidak bisa?” Hyosung mencoba meredam nada suaranya. Tangannya sibuk menghapus air matanya yang masih tetap mengalir turun.

“Belum saatnya. Waktunya belum tepat, Chagi.”

Mata Hyosung berkilat-kilat saat menatap Baekhyun. “Jangan.. jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku benci mendengarnya!”

“Hyosungie..” gumam Baekhyun. Air matanya ikut tumpah. Ia tidak lagi peduli jika Hyosung melihatnya menangis seperti ini.

“Kenapa, Oppa? K-kenapa.. Kau tega.. melakukan semua ini.. p-padaku? Kenapa? Apa.. salahku, Oppa?” tanya Hyosung tersendat-sendat. Suaranya terdengar parau. Tubuhnya berguncang pelan.

“Maaf. Maafkan aku, Hyo. Maafkan aku. Kumohon mengertilah. A-aku.. aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi.. ini yang terbaik untuk kita. Percayalah, Hyo.”

Hyosung tidak menggubris perkataan Baekhyun. Ia menggunakan tangannya yang telah basah––karena sudah digunakan untuk menghapus air mata berkali-kali––untuk membekap mulutnya.

“Kau terlalu baik dalam segala hal, Hyo. Aku tidak pantas untukmu. Ada namja yang lebih pantas bersanding denganmu daripada aku,” ucap Baekhyun masih dengan tatapan memohon.

Hyosung seketika mengangkat kepalanya. Ia terpaku pada perkataan Baekhyun. Ia benar-benar tidak menyangka seorang Byun Baekhyun akan mengatakan hal serupa padanya.

“Tapi aku mencintaimu. Aku memilihmu, Oppa. Bukan namja lain,” jawab Hyosung lirih. Ia tidak mempunyai cukup energi untuk berkata lebih keras dari itu.

“Mianhae.” Hanya satu kata singkat yang bisa dikatakan oleh Baekhyun. Namun hal itu cukup membuat sisa-sisa dinding pertahanan diri Hyosung hancur berkeping-keping. Ia kembali membekap mulutnya, kali ini dengan kedua tangan.

Setetes air mengalir pelan di pipi Hyosung. Bukan. Itu bukan air matanya. Yeoja itu seketika mendongakkan kepalanya ke atas. Setitik air kembali mengenai wajahnya. Hujan. Itu air hujan. Rintik-rintik hujan mulai jatuh dari langit dan membasahi tubuh Hyosung. Tapi ia tetap bergeming di tempatnya.

Setelah semua yang baru saja kualami sekarang hujan ikut turun juga? Padahal hari ini weekend pertama di musim gugur tapi hujan sudah membasahi bumi? Sebegitu redupkah cahaya bintang keberuntunganku musim ini? batin Hyosung.

Baekhyun menyadari setiap tetes air hujan yang membasahi tubuh yeoja itu––begitu pula dengan dirinya. Ia berjalan mendekat ke arah Hyosung dengan cepat. Ia hampir saja memeluknya kalau yeoja itu tidak menyuruhnya berhenti.

“Jangan mendekat,” sergah Hyosung. Ia mundur beberapa langkah.

“Tapi sekarang hujan. Aku tidak mau Kau sakit, Hyo. Kuantar Kau pulang sekarang. Sebelum hujan ini semakin deras dan kita tidak bisa masuk ke mobil.” Baekhyun mencoba menggapai lengan Hyosung, tapi yeoja itu menampisnya.

“Kubilang jangan mendekat! Aku tidak akan pulang denganmu, Oppa! Lagipula, apa pedulimu aku sakit atau tidak? Aku bahkan sudah sakit meski tidak kehujanan,” ujar Hyosung cepat. Matanya menatap ke dalam mata Baekhyun tajam.

Baekhyun tahu arti tatapan itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan hal serupa dengan Hyosung. Ia berharap Tuhan mengambil nyawanya saat ini juga. Agar ia tidak harus merasakan sakit dan kehilangan karena telah melepaskan Hyosung dari sisinya. Namun ia sadar kalau Tuhan tidak akan mengabulkan doanya semudah itu. Ia yang menginginkan semua ini. Ia juga yang harus menyelesaikannya hingga akhir.

“Hyosungie, kumohon. Aku tidak mau Kau sakit. Kali ini saja. Lihat, bajumu basah!” Baekhyun berjalan mendekati Hyosung. Ia tidak peduli walaupun yeoja itu mengancamnya berkali-kali.

“Berhenti! Oppa, Kau sudah mulai tuli ya? Aku akan pulang sendiri!” serunya tajam, membuat Baekhyun seketika menghentikan langkahnya.

Hyosung berjalan melewati Baekhyun. “You’re such a jerk! I wish we won’t meet each other again and this is the last time I see your face. I hate you! Goodbye, Byun Baekhyun-ssi,” ucap yeoja itu saat berada tepat di samping Baekhyun. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba sekuat tenaga untuk menahan tangisnya agar tidak kembali pecah.

Baekhyun masih tidak bereaksi, walau jiwanya terasa dicabik-cabik oleh kata-kata terakhir Hyosung. Yeoja itu sudah akan berlari saat suara lirih Baekhyun menahannya. “Hyosungie..” Namja itu mencengkeram dada kirinya, berusaha menahan rasa sakit yang menyeruak. “Maafkan aku.. Saranghae.”

Hyosung tersentak. Ia menoleh ke arah Baekhyun yang masih memunggunginya, bajunya basah oleh air hujan. Ia menatap punggung Baekhyun dengan perasaan campur aduk. Hatinya kini hancur lebur. Baekhyun telah berhasil meluluhlantakkan hati beserta jiwanya.

Arrgh, ini adalah pertama kalinya aku mendapat ketidakberuntungan yang sangat menyesakkan di musim gugur. Cih, sepertinya bintang keberuntunganku benar-benar telah kehilangan sinarnya. Arrgh, mulai sekarang aku benci musim gugur dan hujan! Umpat Hyosung dalam hati.

Hyosung berpaling dengan cepat. Ia berlari sambil menangis tersedu-sedu. Pandangannya kabur karena air matanya yang tumpah ruah membasahi kedua pipinya. Ia berlari dan terus berlari, tidak lagi peduli dengan teriakan marah orang-orang yang ia tabrak. Sekali ini saja, ia ingin lenyap dari dunia ini.

***

Baekhyun berlutut di bawah payung hujan. Rasa sakit yang datang bertubi-tubi menyergap jiwanya, mengambil alih kuasanya, lalu membuangnya ke dasar laut yang paling dalam menyisakan sebuah luka yang akan tetap membekas meski telah mengering. Ia hampir mati rasa. Tidak ada yang bisa ia rasakan karena semuanya hampir tersamarkan oleh rasa sakit yang dihasilkan oleh luka yang bersemayam di hatinya.

Baekhyun mencoba untuk bangkit, tetapi usahanya sia-sia. Ia tidak punya cukup kekuatan untuk berdiri tegak dengan kedua kakinya. Energinya sudah terkuras habis untuk mencerna seluruh kejadian yang baru saja ia alami. Namja itu mengerang cukup keras, emosinya memuncak. Beribu perasaan bercampur baur menjadi satu di dalam hatinya dan menciptakan kombinasi buruk yang dapat membuatnya hilang kendali dalam sekejap mata.

Penyesalan atas keputusannya untuk melepaskan Hyosung terus menyelimuti diri Baekhyun, kesedihan mendalam turut andil mengisi relung hati dan jiwanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena telah menyakiti hati yeoja yang teramat ia cintai. Rasa takut akan kehilangan sosok Hyosung dalam hidupnya––meski ia tahu benar itu adalah keputusan yang dibuatnya sendiri––menempati setiap sudut kosong di dalam pikirannya.

Baekhyun memejamkan matanya sesaat. Ia berusaha mengumpulkan semua energinya yang tersisa. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang berhasil ia kumpulkan agar dapat berdiri tegak. Ketika kedua kakinya berhasil menopang berat tubuhnya dengan sempurna, ia segera berbalik ke arah trotoar sempit di belakangnya. Matanya melihat ke sekeliling, namun ia tidak dapat menemukan sosok yang ia cari. Ia berlari sekuat tenaga, berusaha mencari figur Hyosung. Tapi hasilnya nihil, yeoja itu telah pergi terlalu jauh, dan itu semua salahnya.

Baekhyun tersenyum pahit, sadar benar kalau ia sudah sangat terlambat untuk menggapai Hyosung kembali. Tapi kalau pun ia berhasil menemukan yeoja itu, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lebih tepatnya, ia tidak tahu apa yang bisa ia katakan untuk memperbaiki semua hal yang telah terjadi. Ia tidak mungkin meminta Hyosung kembali ke sisinya, tapi di sisi lain ia juga tidak sanggup untuk melepaskannya begitu saja.

Baekhyun masih mencintainya, terlalu mencintainya, sampai ia rela menukar apapun agar waktu bisa berputar kembali dan ia bisa selalu mendampingi Hyosung hingga malaikat maut menjemput salah satu dari mereka.

Seandainya saja penyakit itu berhenti menghantuinya, seandainya saja ia bisa hidup lebih lama lagi, seandainya saja ia cukup tangguh untuk bertarung melawan penyakit itu dan mempertahankan Hyosung agar tetap menjadi miliknya, seandainya saja… Terlalu banyak kata seandainya, sedangkan Baekhyun paham betul itu semua hanyalah harapan semata. Harapan yang akan selalu ia jaga di dalam hatinya sekaligus harapan yang akan ia bawa pergi ke tempat yang sangat indah di sisi Tuhan dan menemani kehidupannya yang baru.

Baekhyun tertawa hambar, seolah menertawakan dirinya sendiri. Ia berputar arah lalu kembali ke tempatnya memarkir mobil. Ia membuka pintu mobilnya kemudian berhenti sejenak. Tatapannya beralih ke kiri, ke arah trotoar sempit yang pavingnya berubah warna menjadi lebih gelap setelah bersentuhan dengan air hujan. Ia menarik napas dalam, mengeluarkannya dengan berat seolah ada sebongkah batu yang mengganjal di tenggorokannya.

Tubuhnya memasuki mobil dalam sedetik, tangannya menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Namja itu mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat, menggertakkan giginya, lalu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Detik setelahnya, mobil sport hitam milik Baekhyun meluncur dengan cepat di atas jalanan kota Seoul. Pikirannya kosong, ia tidak tahu kemana ia akan pergi. Yang jelas, ia tidak ingin pulang ke apartemennya dengan kondisi seperti ini. Ia ingin mendinginkan kepalanya dulu untuk sementara waktu.

Ketika lampu lalu lintas menghentikan laju mobilnya, Baekhyun meraih i-phone hitam yang ia letakkan di dashbor lalu menghubungi seseorang.

“Yoboseoyo?” Suara seorang namja menyapa pendengaran Baekhyun.

Dengan bibir bergetar, Baekhyun berusaha mengatakan satu kalimat yang terasa begitu sulit untuk ia ucapkan. “Wu Fan Hyung, hubunganku dengan Hyosung baru saja berakhir.”

***

Hyosung berlinang air mata. Wajahnya terlihat makin menyedihkan, seolah mampu membuat setiap orang yang melihatnya ikut merasakan kesedihan mendalam yang sedang dirasakan yeoja itu. Begitu pula dengan penampilannya yang terkesan berantakan. Bajunya basah, tubuhnya menggigil, hidungnya memerah, rambutnya kini awut-awutan, mata beningnya yang mulai membengkak itu tidak lagi memancarkan sinarnya, tetapi tergantikan oleh sorot kesedihan.

Berulang kali ia menabrak orang yang lewat di trotoar sempit itu dan mendapatkan tidak sedikit makian. Tapi tak sekali pun ia meminta maaf. Raganya memang berada di sana, akan tetapi tidak dengan hati dan pikirannya. Hati yeoja itu telah menjadi serpihan-serpihan halus yang mungkin saja sudah diterbangkan oleh angin atau ikut larut dengan air hujan. Sedangkan pikirannya melayang entah kemana, berusaha melepaskan diri dari pemiliknya yang mulai kehilangan arah hidup.

Hyosung menghentikan langkahnya di depan sebuah bangku taman. Ia tidak tahu kenapa dia ada di sini dan dimana dirinya berada sekarang. Otaknya terlalu lelah untuk berpikir saat ini. Yeoja itu memutuskan untuk duduk, sekaligus memulihkan kembali sisa-sisa energinya. Ia mengusap air matanya perlahan hingga ia merasa wajahnya akan terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia menyandarkan punggungnya lalu mendesah keras. Ditundukkannya wajahnya, berusaha mengontrol emosinya––yang mulai meletup-letup–– dengan baik.

Setelah hampir lima menit berkutat dengan penampilanya––sekaligus menenangkan emosinya yang bergejolak––agar tidak terlihat seburuk tadi, Hyosung bangkit kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari bangku taman itu. Ia memutuskan untuk membeli sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, dan tepat pada saat itu ia menemukan sebuah kafe kecil yang hanya terpaut beberapa bangunan dari tempatnya berjalan kini. Ia mempercepat jalannya ke kafe itu kemudian dengan cepat masuk ke dalamnya. Yeoja itu segera memesan satu cup kecil hot chocolate lalu membayarnya setelah pesanannya selesai dibuat.

Hujan telah benar-benar berhenti saat Hyosung keluar dari kafe kecil itu. Ia mengusap-usapkan telapak tangannya ke permukaan cup hot chocolate yang berada dalam genggamannya, membiarkan kehangatan menjalari tubuhnya yang mulai menggigil karena kehujanan. Ia berjalan dan terus berjalan, belum sekalipun menyesap hot chocolate-nya, sampai ekor matanya menangkap pantulan bayangan toko boneka di kaca etalase yang berada tepat di samping kirinya. Ia berhenti berjalan, memastikan bahwa matanya memang benar-benar melihat sebuah bayangan toko boneka. Ketika ia akhirnya percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, kedua kakinya secara otomatis melangkah ke arah toko boneka itu.

Hyosung kini berada di depan sebuah toko boneka yang cukup besar dengan sebuah kaca tembus pandang berukuran sedang di samping pintu masuknya. Ia memandangi toko itu dengan seksama. Setelah sekian menit berlalu, ia tetap berdiri di depan toko itu tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam maupun untuk pergi dari sana. Yeoja itu bahkan telah lupa pada hot chocolate-nya yang tidak lagi mengepulkan uap.

Tubuh Hyosung seolah membeku sesaat ketika ia baru menyadari keberadaan sebuah boneka Teddy Bear berwarna ungu dengan ukuran besar yang dipajang di etalase toko boneka itu.

Boneka itu..

Boneka itu adalah boneka yang diberikan Baekhyun padanya saat hari jadi mereka menginjak bulan pertama. Hyosung tetap mematung selama beberapa saat sampai ia merasakan bulir-bulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Yeoja itu segera menghapus air matanya dan memalingkan wajah untuk menghindari tatapan heran dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia meneruskan langkahnya karena ia tahu air matanya akan terus mengalir jika ia tetap berdiri di sana dan memandangi boneka Teddy Bear itu.

Langkah kaki Hyosung terhenti saat ia tiba di persimpangan jalan. Ia menyesap pelan hot chocolate-nya sambil berpikir keras untuk menemukan cara aman pulang ke rumah. Ia tidak menemukan halte bus di sekitar tempatnya berada sekarang, sedangkan ia tidak merasa akan menemukan taksi yang lewat dalam waktu dekat, mengingat jalanan ini cukup sepi.

Yeoja itu mengerucutkan bibirnya, menyesal karena tidak memperhatikan jalan yang ia lalui saat berlari tadi. Argh, ini semua salah Baekhyun Oppa, umpatnya dalam hati.

Saat nama mantan namjachingu-nya itu melintas di pikiran Hyosung, ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia telah bertekad untuk melupakan namja itu––meski ia tidak yakin ia bisa melakukannya, jadi mulai sekarang ia harus benar-benar bisa mengenyahkan sekecil apapun pikiran tentang Baekhyun.

Hyosung merogoh saku celana kulitnya dan mengeluarkan i-phone berwarna putih. Dicarinya kontak seseorang lalu menekan icon call, kemudian ditempelkannya i-phone itu di telinga. Suara halus milik Stevie Wonder menemani Hyosung menunggu pemilik nomor itu mengangkat teleponnya.

“Yoboseoyo? Hyosungie? Kau dimana sekarang?” tanya seorang namja di seberang telepon.

“Kris Oppa, bisakah Kau menjemputku? Dan jangan tanya dimana Baekhyun Oppa sekarang,” ucap Hyosung lemah.

“Ne? Ah, arasseo. Aku akan menjemputmu. Mmm, Kau ada dimana sekarang?”

Hyosung mendesah kecil lalu berkata, “Well, aku juga tidak tahu persis dimana aku berada sekarang. Aku akan mencari papan penunjuk jalan dulu. Akan kukirimkan alamatnya lewat pesan setelah aku menemukannya.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap kalau begitu. Cepat temukan, aku tidak mau menunggu terlalu lama,” jawab Kris tegas.

“Ne. Annyeong Oppa,” ujar Hyosung singkat lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Matanya menyusuri tempat di sekitarnya dan terhenti pada sebuah papan berwarna biru yang berada di dekat lampu lalu lintas. Ia membacanya sekilas lalu menuliskan sebuah pesan untuk Kris.

Setelah sekitar 45 menit berlalu, Porsche putih milik Kris berhenti tepat di hadapan Hyosung. Yeoja itu membuka pintu penumpang di samping Kris lalu masuk dengan perlahan, sedang namja itu segera menjalankan mobilnya dalam diam. Ia paham betul sifat yeo-dongsaengnya satu ini. Ia tidak akan memaksa Hyosung bicara sampai yeoja itu sendiri yang mengatakannya. Ia membiarkan yeoja yang ia sayangi itu membungkam mulutnya dan lebih memilih untuk menyesap hot chocolate dalam genggamannya yang masih tersisa separuh bagian.

 

TBC

            Otte? Bagus apa enggak? Mian kalau mengecewakan *bow 90 degrees* Please RCL and wait for the next chap J Annyeong ^^

Iklan

6 pemikiran pada “Let Me Say, “Saranghae” (Chapter 4)

  1. HUFFTT !! ck sangking cintanya si baekhyun susah bilang kalau dia sakit keras
    cupcupcup #nenangin baekhyun

    thor ngemeng2 part luhannya mana ya ?
    jadi penasaran ama luhannya
    lanjut htor
    FIGHTING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s