Glory Of Love (Chapter 1)

Tittle          : Glory Of Love (chapter 1)

 

Author       : Duizhangmeimei

 

Genre        : Romance, Friendship

 

Main Cast  :

  • Byun Baekhyun (Exo K)
  • Wu Yi Fan/Kris (Exo M)
  • Oh Sehun (Exo K)
  • Kim Joonmyun/Suho (Exo K)
  • Kim Kyuri/Suki (OC)

 

Other Cast : Temukan sendiri ^^

 

Length       : Chaptered

 

Note          :

  annyeong readers yang baik hati~~~, author datang lagi membawa chap 1.. adakah yang menunggu kelanjutan ff ini *authorngarep*sebelumnya author ngucapin banyak terima kasih bagi yang udah nyempetin komen ff author ini…:’)

 

Happy Reading Yeorobeun~~~

 

 

♥♥♥♥♥♥♥

Vancouver, Kanada

Oktober 2005

 

“Apa yang sedang kau fikirkan Suki?” Tanya seorang namja kepada gadis kecil yang terlihat seperti adiknya kini tengah mendongak ke atas menatap daun-daun maple yang melayang turun kearah mereka. Pandangan namja itu bergerak mengikuti lambaian daun tersebut.

“aku sempat berfikir seandainya pohon maple itu aku, dan daun maple itu kau oppa. Apa jadinya aku tanpa daun itu.” Gumam gadis yang di panggil Suki itu masih menatap ke atas.

Namja itu tertegun mendengar perkataan adiknya. Bagaimana bisa gadis beumur 10 tahun bisa berfikir seperti itu?. Namja itu hanya mengelus lembut puncak kepala adiknya tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia pun kembali berkutat pada buku di pangkuannya.

“Oppa..” panggil Suki selang beberapa menit kemudian memecahkan keheningan yang sempat tercipta tadi.

“Hmm..?!”

“berjanjilah padaku..!”

Namja itu langsung menoleh menatap adiknya. “ kau ingin aku berjanji untuk apa?”

“untuk tidak meninggalkanku seperti yang di lakukan daun maple ini.” Suki menunduk menatap daun maple yang ada di tangannya lalu meremasnya pelan.

 

Mendengar itu, namja itu langsung mengubah posisinya yang tadi duduk di samping adiknya kini beralih berlutut di hadapan adiknya. Sambil menghela nafas pelan, namja tersebut menegakkan sedikit tubuhnya lalu meletakkan tangan kanannya di puncak kepala adiknya.

“ Aku, Suho berjanji. Di bawah pohon maple ini, di atas kursi biru ini, di tengah musim gugur ini, dan di hadapannya, Suki adikku. Aku tidak akan meninggalkannya. Bahkan ketika langit menolak kehadiranku dan bumi tidak mengijinkanku kembali, aku akan tetap tinggal di tempat tersempit yang bahkan seekor semutpun takkan bisa memasukinya.” Namja yang bernama Suho itu meraih tangan adiknya dan meletakkannya di dada Suki.

“Aku akan tinggal di sini, di hati Suki.”

Suho mengakhiri janjinya lalu tersenyum menatap adiknya. Tanpa berkata apa-apa. Suho meraih tangan mungil itu dan menariknya turun dari kursi dan pergi meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu atas janji yang di ucapkannya tadi.

“Oppa..”

“Hmm..?!”

“Belikan aku permen soda lagi.” Pinta Suki sambil menggoyang-goyangkan lengan baju kakaknya.

“Tapi jaraknya cukup jauh dari sini, Suki.” Kata Suho lembut.

“Jebaaaal..”

Suho menghembuskan nafas pelan, menyerah. Ia paling tidak bisa melihat mata adiknya yang penuh harap itu.

“geurae…arasseo, kau tunggu di sini. Oppa akan pergi membelikannya untukmu.” Ujar Suho lalu berlari kearah berlawanan. Meninggalkan adiknya.

♥♥♥♥♥♥♥♥

Seoul, South Korea

Juni 2012

 

{Kyuri’s side}

Aku menarik koperku sambil melangkah mendekati sebuah pintu kamar yang di biarkan kosong sejak di tinggalkan oleh penghuninya 7 tahun yang lalu. Ku buka pintu tersebut lalu berjalan masuk. Aroma pengap dan hawa dingin karena tak pernah di huni lagi langsung saja menyambutku begitu ku tutup kembali pintu tersebut. Ku edarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan tersebut dan tersenyum tipis.

‘aku terakhir memasuki kamar ini 3 tahun yang lalu tepat ketika aku hendak pergi ke Kanada untuk memenuhi permintaan khusus ayahku. Dan kini ketika aku kembali, kamar itu masih tetap seperti dulu. Kosong, dingin, dan gelap.’ Batinku dalam hati.

Aku meraih bingkai foto yang sudah berdebu dari meja yang terletak tepat di samping ranjang sambil mengusapnya dengan lengan sweeter yang ku kenakan, lalu menata foto seorang namja yang tengah tersenyum lebar sambil merengkuh gadis kecil di depannyaaku.

Aku tertegun menatap foto itu, dan ingatanku pun kembali pada musim gugur 7 tahun yang lalu ketika namja yang ada di foto itu mengucapkan janji padaku, untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi. Dan di hari yang sama juga, dia mengingkari janjinya.

Masih sangat jelas ingatan kejadian itu terpatri di otakku ketika aku memintanya pergi membelikanku permen soda kesukaanku. Itulah terakhir kalinya aku melihatnya. Sejak saat itu, ia tak pernah kembali membawakan permen soda itu untukku.

Kini, sudah 7 tahun lamanya dia menghilang tanpa jejak dan tak pernah kembali. Ayahku sudah berulang kali memintaku untuk merelakannya, tapi aku tidak bisa, ada sebagian dari diriku merasakan bahwa dia masih ada di dunia ini. Walaupun peluang itu begitu kecil, tapi apakah aku tak bisa berharap pada peluang tersebut? Menggantungkan harapanku pada sebuah harapan kosong pun tak boleh? Aku hanya ingin kakakku kembali dan memenuhi janjinya dulu. Apakah harapan sesederhana itu begitu sulit untuk di penuhi. Teriakku dalam hati tak tahu untuk siapa pertanyaan itu di tujukan.

“Kyuri…” aku terlonjak kaget hingga nyaris menjatuhkan bingkai foto di genggamanku ketika suara bibi Jung menyadarkanku.

“ayo kembali ke kamarmu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kau pasti lelah setelah menempu perjalanan dari Kanada.” Lanjutnya sambil tersenyum hangat. Aku hanya mengangguk lalu meletakkan kembali bingkai foto itu dan melangkah keluar dari kamar Oppaku mengikuti bibi Jung.

♥♥♥♥♥♥

Aku nyaris saja membuat kekacauan di rumahku yang tenang keesokan paginya ketika seorang namja tak kukenal berlari kencang ke arahku dan memelukku begitu erat. Karena panik, dengan spontan aku layangkan tas jinjing berisi laptopku tepat ke belakang kepala si namja mesum itu hingga membuatnya terjatuh tak sadarkan diri.

“mianhae, jeongmal mianhae.” Ujarku beberapa saat kemudian tepat ketika namja itu sadar dan langsung membentakku habis-habisan.

“aku benar-benar tidak tahu kalau itu kau, Byun-ah. Sungguh…” kataku pada namja itu yang kini tengah mengelus pelan kepalanya yang membengkak sambil sesekali melayangkan tatapan membunuh ke arahku.

“ kau ini, bagaimana mungkin kau tidak mengenali sahabatmu dari kecil ini. Byun Baekhyun. Baru 3 tahun kita tidak bertemu dan kau sudah melupakanku. Ckckck…sahabat macam apa kau ini.” Sungutnya kesal sambil sibuk menutupi benjolan di kepalanya dengan perban yang ada.

Aku tidak pernah melupakanmu Byun-ah. Hanya saja, kau sudah banyak berubah, kau tidak seperti dulu lagi. ‘Si cengeng Byun Baekhyun dengan rambut baskom dan mata sipit anehnya’. Sekarang kau terlihat jauh lebih” aku menatapnya yang kini juga tengah menatapku. Kau terlihat jauh lebih tampan, Byun-ah.

“lebih terlihat berbeda.”

Badanku sedikit bergetar karena kalimat yang aku ucapkan tidak sesuai dengan isi hatiku. Dan Bakhyun menyadarinya.

Dia terkekeh pelan, dan aku merasa lega tahu bahwa kemarahannya sudah menghilang. Di raihnya tanganku dan menarikku pergi.

“ sebaiknya kita cepat, kau tidak mau mendapat masalah di hari pertamamu masuk sekolah kan?” ujarnya.

“karena terlambat datang tentu saja.” Lanjutnya kemudian begitu melihat wajahku yang bingung tidak mengerti. Baekhyun berada beberapa langkah di depanku masih dengan mengenggam tanganku. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan bahwa saat ini dia tengah tersenyum. Tidak tahu kenapa.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Kamipun sampai 20 menit kemudian tepat ketika jarum jam di tanganku masih menunjukkan pukul 07.20 KST. Itu tandanya masih tersisa waktu 40 menit lagi hingga lonceng berbunyi.

Baekhyun melepas genggamannya pada tanganku yang sedari tadi tak pernah di lepasnya. Ia membungkuk rendah hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.

“aku sangat bersyukur karena wajahmu masih jelek seperti dulu.” Ujarnya dengan senyum jahil sambil menyelipkan sejumput rambutku yang terlepas dari ikatannya ke belakang telingaku. Lalu menarikku ke dalam pelukannya.

DEG!!!

Walaupun dulu aku sering memeluknya untuk sekedar menenangkannya yang menangis sehabis di ejek oleh-teman-temannya, tapi aku tidak pernah merasakan sesuatu yang ‘asing’ di dadaku ini.

“Byun-ah, tidakkah kau merasa orang-orang sedang menatap kita?” bisikku dengan suara bergetar tidak mampu meredam debaran keras dadaku. Semoga dia tidak mendengarnya. Rutukku dalam hati.

“ja….isi baterai selesai.” Baekhyun melepas pelukannya beberapa saat kemudian, dan tertawa renyah begitu melihat reaksiku yang mematung dengan wajah yang hampir menyerupai warna kepiting rebus.

“sudah 3 tahun aku tidak melihat wajahmu yang jelek dengan pipi merona seperti ini. Membuat aku tidak bisa melakukan aktivitasku dengan baik. Gomawo…aku sudah mengisi penuh bateraiku.” Lanjutnya masih tersenyum kepadaku.

Sambil mendengus kesal, aku berbalik memunggunginya dan pergi meninggalkannya.

“Kyuri-ya, pulang sekolah nanti tunggu aku di sini ya… aku akan menjemputmu.” Teriaknya. Tapi aku tetap berjalan menjauhinya.

“Kyuri-ya!!” teriaknya lagi lebih keras dari sebelumnya. Membuatku berhenti namun tetap membelakanginya.

“ aku berubah karena dirimu.”

Aku terdiam membatu begitu mendengar ucapannya. Apa maksudnya?

Akupun berbalik menatapnya dan hanya melihat punggungnya yang berjalan menjauhiku sambil melambaikan 3 jarinya. Khas Baekhyun.

Grr…. Apa maksud ucapannya tadi? Senang sekali mempermainkanku dengan mulut berbisa tolonya itu.

Aku pun berbalik dan berjalan masuk menuju pekarangan sekolah yang cukup luas. Masih memikirkan maksud ucapan Baekhyun tadi. Hingga tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh kembali menyerang dadaku.

DEG!!

Aku berhenti dan tediam di tempat sambil mencengkram dadaku. Ini bukanlah debaran yang kurasakan ketika Bekhyun memelukku tadi. Ini berbeda, Setiap detakannya membuat aku merasakan sebuah chemistry yang kuat melilit tubuhku. Membungkus tubuhku seperti sulur-sulur tak terlihat. Mataku berkaca-kaca begitu menyadari perasaan apa ini. Untuk pertama kalinya sejak 7 tahun lamanya, aku kembali merasakan kehadiran Oppaku. Begitu nyata, dan sangat dekat. Ya! Inilah yang ku rasakan Setiap kali aku berada di dekat Oppaku.

Dengan pandangan yang yang mengabur akibat air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru sekolah. Hingga tatapanku terhenti dan terpaku pada seorang namja yang kini juga menatapku lekat. Dia berdiri tepat di depanku yang berjarak 5 meter jauhnya. Dia terus menatapku dengan raut wajah yang sulit untuk ku baca. Tepat ketika mata kami bertemu, perasaan itu kembali menghantam dadaku jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga membuat tubuh ku bergetar hebat dan jatuh berlutut di tanah keras sekolahku. Aku begitu terkehut begitu mengetahui bahwa namja yang ada di depanku juga jatuh berlutut tepat di waktu yang nyaris bersamaan denganku.

“Oppa…???”

 

TBC

 

Jebaaall…..

KRITIK DAN SARAN SERTA KOMEN DARI PARA READER SAYA TUNGGU. DEMI KELANGSUNGAN FF SAYA YANG ABAL-ABAL INI. =)

 

 

Iklan

27 pemikiran pada “Glory Of Love (Chapter 1)

  1. Whoott??? Where’s SUHO??? apa ntu SUHO yg ketemu barusan.. ahh tp kykny g mungkin deh… apa udah jd makhluk gentayangan yak??? #plakkmintamaapkeSUHO…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s