Love Sign (Chapter 4)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Disclaimer : Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Nanti tebak sendiri ya Author’s point of view nya ^^ dan juga timing-nya agak aneh hehehe mohon dimaklumi ya..

ini part penjelasan makanya agak panjang *giggles

_____________________

Yoojun’s point of view

“KYAAAA!!!”

Aku berlari meninggalkan Kai —yang kurasa masih berada didepan rumahku— disana. Pikiranku blank, ancamannya terlalu kejam walaupun sebenarnya aku lebih suka kalau ia benar-benar melakukannya. Oh okay, aku mulai berpikiran yang tidak-tidak.

Lampu didalam ruang tamu masih menyala, malah samar-samar aku mendengar suara TV yang sedang menyala.

Aku berjalan sepelan mungkin, berharap Taejun tidak menyadari keberadaanku disana. Yah, aku bisa mendengarkan ceramahan dari mulutnya. Err.. aku juga tidak mengerti mengapa ia bisa se-cerewet itu.

“Park Yoojun-gom,” panggil Taejun —yang kupikir sedang duduk disofa— dari ruang TV. Ish, lagi-lagi aku dipanggil beruang! Padahal sudah berapa kali kukatakan pada Taejun untuk tidak memanggilku beruang.

Aku berhenti, berjalan menuju arahnya, “Jangan panggil aku dengan embel-embel gom! Badanku tidak sebesar beruang!”

“Tapi rasa malasmu sama dengan mamalia yang satu itu,” papar Taejun tenang.

Pukk pukk.. Taejun menepuk-nepuk sofa yang ia duduki. Mungkin ia ingin aku duduk disebelahnya, aneh, dia jarang sekali menyuruhku duduk. Terlebih kalau dia sedang menonton TV, ia tidak akan memberikan celah sedikitpun untukku.

“Ada yang ingin kubicarakan,” kata Taejun dan nada bicaranya mulai terdengar serius.

Tanpa babibu lagi, aku duduk disampingnya. Menatap kakak lelaki-ku ini penasaran dan juga lekat. Sorot matanya yang tegas itu entah mengapa sekarang menatapku penuh dengan tatapan sendu.

“Aku baru dapat kabar dari gomo, *bibi” ucap Taejun, ia menelan ludahnya. “Uri bumonim… *orang tua kita”

“Kenapa?”

Taejun masih menatapku sendu, “Mereka akan tiba di Seoul sebentar lagi.”

Kau tahu apa rasanya? Yah.. seperti sebuah petir yang sedang menggelegar. Aku memang ingin —bahkan selalu ingin bertemu dengan mereka namun seiring bertambahnya umurku, keinginan itu seakan menghilang.

Lidahku (lagi-lagi) terasa kelu. Ingin mengucapkan abjad ‘A’ saja susah, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya ingin segera memejamkan mataku atau berteriak. Bertemu orang tua yang wajah mereka saja, aku tidak ingat.

Jujur saja, aku bukan memikirkan diriku sendiri. Aku lebih condong untuk memikirkan Taejun. Ya, kakak lelaki yang selalu memerankan dua peran dikehidupanku selama ini. Dia bisa menjadi seorang Ibu dan menjadi seorang Ayah disaat kedua orang tuaku tidak ada. Dan sebentar lagi orang tua yang sebenarnya akan datang —Aku memikirkan perasaan Taejun.

Masa muda yang harusnya diisi dengan kesenangan, bermain dengan teman sebaya, berlibur dan sebagainya, ia gunakan kesempatan itu untuk merawatku.

Namun, aku juga tidak bisa menyalahkan orang tuaku.

Taejun selalu meyakinkanku bahwa aku harus percaya pada mereka. Mereka pergi untuk anak-anaknya, bukan untuk diri mereka sendiri. Dan aku… tidak boleh membenci mereka.

Wae? Kau merasakan hal yang sama sepertiku?” tanya Taejun. Apa yang harus kukatakan padanya? Aku tidak mungkin berbohong pada Taejun. Aku tidak mau berbohong padanya.

Aku —entah saat itu seperti merasakan apa yang ia rasakan— mengangguk perlahan

Kurasakan aroma Taejun yang khas itu. Ia sedang memelukku, rasanya hangat. Pelukkan seorang kakak yang sudah lama sekali tidak kurasakan lagi ini.

Taejun…

Akankah ia senang, atau merasa semakin terluka?

Taejun melepaskan pelukannya. Ia tersenyum padaku dan menatapku dengan penuh rasa kasih sayang. Aku bisa merasakannya. Taejun, lalu mengusap kepalaku lembut, “Besok kita bicarakan lagi, sekarang kau tidur saja.”

Nejalja, *selamat tidur” ucapku.

Aku berjalan menuju kamarku. Menutup pintunya dan menghempaskan tubuhku ke-ranjang yang empuk itu. Sambil menatap langit-langit kamar, aku berpikir, lalu apa yang harus kulakukan ketika bertemu orang tuaku sendiri?

Memeluknya? atau hanya diam saja seperti orang tolol yang tidak mengerti keadaan sekitarnya? Tanpa sadar aku berteriak. Berteriak karena perasaaan kesal yang menumpuk dalam diriku ini.

Aku bahkan lupa wajah orang tuaku. Foto mereka satu-satunya adalah foto sepuluh tahun yang lalu. Itupun mereka masih berfoto dengan Taejun dan belum melakukan foto keluarga denganku. Kadang, karena hal itu, aku merasa kalau aku ini anak yang tidak dibutuhkan. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku tidak bertemu orang tua, sepuluh tahun aku ditelantarkan oleh mereka. Lalu setelah mereka sukses, mereka akan bertemu lagi dengan anak yang sudah mereka telantarkan? Begitu?

Memikirkan hal tersebut membuat mataku menjadi berat. Rasanya sulit untuk membuka mataku karena rasa kantuk yang makin merajalela ini, dan sepersekian detik semua terasa gelap.

***

“Kau masih ingat perkataanku di Apartemen waktu itu ‘kan?” tanya Sehun sambil memakan sebuah snack.

“Masih,” Jawab Kai singkat.

Sebenarnya, Kai sendiri malas membicarakan hal itu. Hal tentang masa lalunya dan tawaran Sehun tentang Yoojun. Ia sendiri juga masih bingung tentang tawaran Sehun tersebut.

“Aku punya ide yang menarik,” kata Sehun. “Kalau kau membuat Yoojun menangis, maka aku yang akan mendekatinya.”
Kai menoleh, menatap Sehun, “Museun soriya
?! *apa yang kau bicarakan?!”
Sehun terkekeh, “Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka merebut milik orang lain.”
“Hanya mendekatinya, arra? Sebagai sahabatmu, aku tidak akan membiarkan yang satu ini menjadi kisah cinta yang datar.” Kata Sehun tenang. “Lagipula ini cara yang bagus untuk mengetahui perasaan Yoojun yang sebenarnya.”
“Kalau kau yang jatuh cinta kepadanya bagaimana?” tanya Kai ragu.
“Seolma
, *tidak mungkin, karena aku bukan tipe orang yang seperti itu.” jawab Sehun tanpa rasa ragu sedikitpun dari sorot matanya.

Kai mengunyah roti isi selai cokelat itu perlahan. Memikirkan satu demi satu perkataan Sehun kepadanya. Sehun bukan orang yang seperti itu, kata Kai dalam hati. Sejujurnya, Kai sendiri merasa yakin pada Sehun.

Sehun sahabatnya dan Sehun bukan seorang pengkhianat. Kai mempercayai hal itu.

Hmm, kau sudah mengingatnya?” tanya Sehun.

“Sudah.”

“Lalu?”

“Aku setuju,” Kai menjulurkan lidah.

Bel berdering saat itu juga.

Sementara itu, kelas reguler masih belajar. Kelas Yoojun juga seharusnya belajar, namun sang guru sepertinya tidak masuk. Buktinya, kelas Yoojun sekarang kosong pelajaran dan semua muridnya sedang berkicau ria.

Hyesung yang memang tidak suka dengan keramaian, mulai menyematkan earphone-nya pada telinganya. Beruntung ia membawa PSP dan iPod-nya hari ini, jadi tidak akan ada keramaian lagi, pikirnya.

Jinjja!” pekik Yoojun. Mendapati sahabatnya sedang sibuk dengan console yang Yoojun sendiri tidak mengerti cara kerjanya —membuatnya merasa semakin bosan. Ia hanya bisa menatapi Hyesung yang sedang serius bermain game.

“Jangan menatapku seperti itu, aku bukan Kim Jong In.” ujar Hyesung yang masih menatap layar PSP-nya.

Yoojun meringis, “Aku bosan Hyesung-ie.”

Hyesung tidak menghiraukan perkataan sahabatnya itu dan masih menatap layar PSP-nya serius. Merasa bersalah, ia mematikan PSP tersebut dan menatap Yoojun garang.

“Kalau bosan, kau bisa coba melakukan hal yang baru,” papar Hyesung akhirnya.

“Hal yang baru seperti apa?” tanya Yoojun excited.

Hyesung menatap Yoojun datar, “Latihan bercumbu.”

Yoojun mendelik, “YAKK!!

Hyesung beralih ke iPod-nya. Menatapi song list yang khusus ia buat untuk didengarkan dilingkungan sekolah. 70% lagu-lagunya adalah lagu barat —yang kadang Hyesung sendiri tidak tahu artinya dan 30% adalah lagu Korea, walaupun bukan beraliran K-Pop.

Mungkin hanya 5% lagu-lagu bergenre K-Pop di iPod-nya. Itupun Yoojun sendiri yang memasukkannya tanpa izin dari sang pemilik.

Muse – Hysteria, menjadi pilihan pertamanya saat itu.

Hyesung menatap Yoojun sinis, “Jangan ganggu aku, arra?”

***

Yoojun menatap converse-nya sambil menunggu bis. Hari Minggu ini ia berencana untuk menemui kakaknya, Taejun. Sebenarnya Yoojun sendiri juga tidak mau pergi menemui kakaknya itu, tetapi ada sesuatu yang mengharuskan ia menemui kakaknya tersebut.

Bus berwarna merah itu tidak kunjung datang, dan Yoojun sudah menunggu selama 15 menit.

Tepat sudah dua minggu Yoojun berpacaran —secara tidak resmi— dengan Kai. Walaupun tidak melakukan hal-hal seperti seorang kekasih pada umumnya, Yoojun tetap senang. Apalagi Taejun dan Kai sekarang sudah cukup dekat.

Haah..” desah Yoojun. Mengingat perkataan Hyesung yang mengharuskan ia melakukan sesuatu yang ‘lebih’ dibandingkan dengan berpegangan tangan.

Yoojun memang kalap didekat Kai, didekat orang-orang yang membuat jantungnya berdegup kencang, lalu entah mengapa ia jadi memikirkan seorang namja bernama Sehun. Ia sama sekali tidak merasakan kalap —apalagi pacuan jantungnya biasa saja bila didekat Sehun. Mungkin karena Sehun orang yang mirip dengan Hyesung, maka dari itu Yoojun juga tidak merasa kalap. Mungkin.

Aggashi..”

Yoojun masih tersenyum-senyum sembari menatap converse-nya. Tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memanggilnya.

Argh!” runtuknya. Sebuah hantaman mengenai kepala Yoojun, ia lalu mendongak, ingin melihat siapa yang memukul kepalanya dengan gulungan kertas.

Sehun —yang entah datang dari mana— tiba-tiba muncul didepan Yoojun. “Kau mau naik bis tidak? Ahjussi itu menunggumu.”

“Eh?” Yoojun masih belum mendapatkan kesadarannya.

Sehun mendelik. “KAU LIHAT BIS ITU?! KAU MAU NAIK TIDAK?!”

Sepersekian detik kemudian, kesadaran Yoojun kembali. Namun Bus tersebut sudah berjalan cukup jauh dari pemberhentian Bus. Yoojun —malah sudah berlari, tetapi tetap saja, Bus tersebut tidak dapat ia kejar.

Yoojun, lalu kembali duduk di kursi dekat pemberhentian bus. Berharap ada bus lain yang lewat.

“Bodoh,” gumam Sehun sambil menatap Yoojun yang sedang duduk disampingnya itu.

Yoojun balik menatap Sehun, “Neo, kenapa kau bisa berada disini?”

“Kau lupa? Apartemen-ku ‘kan didekat sini,” Sehun tertawa. “Kau mau pergi kemana?” tanya Sehun mengalihkan pembicaraan.

“Menemui kakak-ku di Seoul.”

Yoojun tertohok ketika sekelebat pikiran memenuhi otaknya. Yah, ingatannya tentang perkataan Kai padanya untuk tidak mendekati Sehun. Dan sekarang, Yoojun sendiri sedang berada didekat Sehun.

“Aku akan menciummu.”

Yoojun merinding mengingat perkataan Kai tersebut. Ia takut Kai akan tahu kalau saat ini ia dan Sehun sedang duduk berdua, walaupun ditempat pemberhentian bus.

Tetapi, Yoojun tiba-tiba mengingat perkataan Hyesung juga.

“Kau ini sudah tujuh belas tahun, harusnya melakukan sesuatu yang lebih daripada bergandengan tangan! ciuman mungkin?”

Nah! Bukankah tidak apa-apa kalau Kai tahu ia dan Sehun berdekatan? Toh, hukumannya adalah sebuah ciuman. Bukankah bagus kalau ia dan Kai sudah berciuman? Inikan yang disebut sebagai sepasang kekasih?

“Sehun-ssi,” panggil Yoojun.

Ne?”

“Apa kau sedang sibuk? Kau mau mengantarkanku ke Seoul?” tanya Yoojun tanpa pikir panjang lagi. Sehun yang ditanya seperti itu hanya diam, terlihat berpikir.

Sehun masih terdiam. Ia memang harus memikirkan beberapa hal untuk yang satu ini. Masalah terbesarnya adalah, ia tidak mau membuat Kai salah paham kepadanya. Sehun memang bukan tipe orang yang merebut milik orang lain.

Dia juga bukan orang yang bisa jatuh cinta dengan mudah. Apalagi dengan orang introvert sepertinya, jatuh cinta bukanlah hal yang mudah untuk ia jalani.

Hmm…” gumam Sehun masih menimang-nimang pikirannya.

“Nanti kutraktir banana milk , deh!”

Sehun mengernyit. “Ah, aku tidak suka susu.”

Yoojun menatap Sehun heran. Didunia ini, baru ia temui dua orang muda-mudi yang tidak suka dengan susu. Bukankah susu itu enak? Mereka memang aneh.

Sebuah bis berwarna merah akhirnya datang dan berhenti disana. Yoojun menyerah mengajak Sehun untuk menemaninya ke Seoul, ia akan pergi sendiri. Tetapi, baru saja ingin berdiri untuk naik kedalam bis tersebut, Sehun menarik tangan Yoojun.

“Pakai mobilku saja, naik bis kelamaan.”

“Eh?”

Kaja!” seru Sehun. Yoojun yang sedari tadi diam, menatapi Sehun yang sudah berjalan, lalu ikut berjalan dibelakang Sehun. Sehun orang yang baik, pikir Yoojun. Sebuah senyum terukir dibibir mungilnya.

***

Kai’s point of view

“Jongin-ah.”

Aku menoleh dengan malas. Iya, yang memanggilku itu adalah ibuku. Aku malas menoleh jika dipanggil ‘jongin’ oleh beliau, padahal beliau sendiri yang membuat panggilan Kai.

Eomeoni  ingin pulang nanti siang.” Kata eomeoni tenang.

“Pulang?” tanyaku heran. “Rumah eomeoni ‘kan disini.”

Apa eomeoni tidak pernah sedikitpun merasa bahwa ini rumahnya? Lalu ia ingin pulang kemana? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran beliau. Terlalu rumit untuk dimengerti.

Dan aku masih meyakinkan diriku bahwa orang tuaku sendiri melupakan anaknya.

Eomeoni menatapku sendu. Seakan berkata bahwa ini bukan rumahnya, ini bukan tempat tinggalnya dan entah mengapa pemikiran buruk terus-menerus mencuat diotakku. Eomeoni, tidakkah kau rindu dengan anakmu?

Ah..” eomeoni merubah posisi duduknya. “Maksudku, eomeoni akan pulang ke Jepang. Maaf ya kemarin eomoni dan abeoji tidak datang. Kami terlalu sibuk.”

Aku tertohok mendengar pernyataannya. Pernyataan yang sama sekali tidak ingin kudengar itu, akhirnya kudengar juga secara langsung. Terlalu sibuk? Apakah pekerjaan lebih penting dibandingkan anak sendiri? Sepersekian detik aku mulai merasa bahwa aku harus pergi dari sini.

Yah, walaupun rasanya agak enggan karena ada satu hal yang masih ingin kutanyakan. Tentang abeoji.

Aku masih memikirkan antara pergi atau menanyakan keadaan abeoji. Kau tahu, itu semua adalah pilihan sulit. Kalau aku pergi, aku akan tersiksa karena tidak tahu keadaan ayahku sendiri dan kalau aku menanyakannya, resiko yang kutanggung cukup berat. Aku harus merasakan sakitnya pernyataan eomeoni.

Dan aku memutuskan untuk menanyakannya. “Mengapa abeoji tidak ikut denganmu?”

Senyuman eomeoni memudar. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum lagi. “Dia —ah, kau ingin eomeoni menjawabnya dengan bohong atau jujur?”

Aku terdiam.

Hum?”

Aku masih terdiam, tidak bisa menjawabnya.

Okay,” kata eomeoni, memulai pembicaraannya. “Versi bohongnya adalah ayahmu sedang sakit, dan ia tidak bisa pergi ke Korea untuk beberapa waktu karena sakitnya cukup parah. Versi jujurnya adalah ayahmu masih ingin mengerjakan proyeknya dan sepertinya, untuk setahun kedepan ia tidak bisa bertemu denganmu dan keluarganya karena pekerjaannya yang sibuk.

Eomeoni sendiri juga bingung mengapa ayahmu bisa se-maniak itu pada pekerjaanya.” lanjutnya. Hatiku mencelos mendengar pernyataan eomeoni. Ini adalah resikonya, dan memang pada kenyataannya abeoji adalah seorang maniak kerja.

Aku menunduk, memikirkan perkataan eomeoni tadi.

Tiba-tiba aku mencium aroma eomeoni disekitarku. Tangan eomeoni yang halus dan berwarna putih langsat melingkar dileherku. Ia sedang memelukku, memelukku dari belakang.

“Jangan salahkan ayahmu dan jangan sekalipun benci pada ayahmu, Kai.”

Aku bisa merasakan deru napas eomeoni. Aku rindu saat-saat seperti ini, rindu kehangatan saat eomeoni memelukku dan saat eomeoni mengacak-ngacak rambutku.

“Oh ayolah Kai, kalau mau menangis, menangis saja!” gerutu eomeoni sambil mencubit pipiku. “Haish, kau ini mirip sekali dengan ayahmu. Tidak pernah mengekspresikan keadaan hatinya sendiri.”

Tiba-tiba iPhone-ku berdering. Sebuah pesan masuk dari Sehun terpampang dilayar tersebut. Cepat-cepat kuambil iPhone-ku sebelum eomeoni.

From    : Sehun

Aku sedang bersama Yoojun. Kami menuju Seoul untuk menemui kakaknya. Aku akan mengirimkanmu alamat kantor Kakaknya (itupun kalau kau ingin kesini)

P/S jangan salah paham ㅡㅡ

Aku terkekeh setelah membaca pesan dari Sehun itu. Apa ini sifat barunya lagi? mengapa begitu lucu?

Sehun sebenarnya tidak menyeramkan. Yah, harus kuakui, dia memang namja yang intorvert —bahkan kebanyakan orang menilainya sebagai orang yang dingin dan Sehun mengakui bahwa dirinya sendiri adalah orang yang dingin.

Tetapi, TIDAK untukku. Dia bukan orang yang dingin, malah ia adalah orang yang hangat bagiku. Sifatnya sering berubah-ubah seiring bertambahnya umur. Bahkan terkadang aku berpikiran bahwa Sehun memiliki kepribadian ganda.

Tidak.. tidak.. Sehun bukan orang yang berkepribadian ganda. Dia hanya terlalu banyak berpikir untuk melakukan sesuatu, dan sesungguhnya, Sehun adalah orang yang selalu berhati-hati.

Itu yang kuketahui selama enam tahun berteman dengannya.

Nuguya? Sehun lagi?” tanya eomeoni.

Keureom! *tentu!” jawabku bangga.

Tiba-tiba eomoni bangkit dari duduknya. Ia lalu menghampiriku dan memukul kepalaku dengan tangannya. “Aish, Apayo!” runtukku.

Pukulannya selalu mendarat dititik kelemahanku dan rasanya sudah dipastikan sangat sakit. Padahal tangannya halus dan tidak kutemukan sesuatu yang kasar pada tangannya. Apa mungkin ia berlatih untuk memukul kepalaku selama berada di Jepang? Ahseolma.

Baka desu! *bodoh/ dasar bodoh! (bahasa jepang)” teriak eomeoni. “Kapan kau punya yeojachingu lagi kalau terus-menerus menempel dengan Sehun!”

“Kau bakal dikira seorang gay—”

Eomma!” sergahku. “Jangan bicara menggunakan bahasa jepang denganku, lagipula aku sudah punya yeo-ja-chin-gu.”

Eomoni menutup mulutnya dengan tangan. “jinjjaro?”

Aku menatapnya sengit, lalu mengangguk puas. Aku yakin —malah sangat yakin kalau beliau akan berteriak atau mungkin akan memelukku karena anaknya akhirnya mendapatkan seorang pacar, lagi.

Dan beliau benar-benar memelukku. “Eomeoni senang, kau sudah bisa mendapatkan yeochin (bentuk slang dari yeojachingu) lagi dan sedikit demi sedikit melupakan Jihye.”

Aku terdiam. Menatap eomeoni sendu. ternyata, eomeoni masih ingat dengan Jihye.

Yah, dialah yang pernah mengisi hari-hariku dengan senyuman manis yang selalu menghiasi bibirnya. Senyum yang tak bisa kulupakan meskipun sekarang dia sudah tidak berada disini lagi.

Jujur saja, sifatnya dan Yoojun hampir mirip, tetapi aku menemukan perbedaan yang sangat bisa kusadari saat aku bersama Yoojun.

Yoojun bisa membuatku tersenyum dan merasakan kesenangan saat memandangi wajahnya. Ia berbeda dan bisa membuatku melakukan hal-hal apa adanya tanpa harus menjaga imageku.

Sedangkan Jihye, aku dan dia memiliki banyak persamaan sehingga kami selalu menjalani hari dengan kesamaan-kesamaan kami. Ia tidak pernah marah padaku dan selalu berpikiran lurus padaku.

Bahkan ia tidak pernah sekalipun marah atau cemburu saat aku makan siang dengan yeoja lain dihadapannya.

“Hei,” ujar eomeoni membuyarkan lamunanku. “Eomeoni ingin makan siang denganmu sebelum pergi ke Bandara.”

“Aku mau asalkan eomeoni yang memasak.”

Eomeoni mendelik, “Kau menantang eomeoniGeuraeEomeoni akan memasak!”

Assa!!!”

***

Sehun akhirnya selesai menunggu setelah mendapati Yoojun yang keluar dari kantor fashion site itu. Ia menghela napasnya lega, menunggu bukanlah gayanya.

Joesong, kakakku sempat bertanya tentangmu jadi aku jelaskan saja,” ujar Yoojun sembari membungkuk.

Gwenchana, tapi kau harus mentraktirku makan siang.”

Yoojun menghela napasnya, ia tahu kalau ini akan terjadi. Yoojun, lalu mengutuk Taejun dengan berbagai kutukan. Kakanya memang over-protective pada Yoojun apalagi menyangkut soal namja.

“Baiklah,” kata Yoojun pasrah.

Yoojun’s point of view

Sehun masih memandang lurus kedepan dan memegang kokoh stir mobil-nya. Aku —well, entah mengapa aku merasakan kalau pemuda disampingku ini mirip sekali dengan Hyesung. Aku merasakan kalau dia adalah Hyesung versi namja. Sikapnya yang dingin dan kadang tak terduga itu membuatku semakin yakin kalau dia adalah jelmaan Hyesung.

Urin odiekayo? *Kita akan pergi kemana?” tanyaku gemas.

“Kau akan segera tahu.”

Aku yakin bahwa ia akan membawaku bukan ketempat yang menyediakan makanan. Lagipula bukankah itu keuntungan untukku? Tidak jadi mentraktir pemuda introvertini? Aku harus berteriak hore.

Sekitar 10 menit kemudian, Sehun memberhentikan mobilnya disekitar pertokoan. Ini —bukankah ini Hongdae?

Sehun tersenyum lalu melepaskan seatbelt-nya dan mulai keluar dari mobil. Aku pun mengikutinya dan beberapa detik kemudian aku sudah keluar dari mobil. Pertokoan yang satu ini memang pas untuk muda-mudi. Aku suka tempatnya, bergaya anak muda dan yang kuketahui harganya tidak mahal seperti di Myeongdong.

“Ayo, kita jalan saja. Mobilnya ditinggal disini,” kata Sehun tenang.

Apa kepalanya baru saja terbentur benda keras? Kataku dalam hati. Aku mengangguk, lalu mengencangkan ransel yang kubawa ini. Berbicara tentang penampilanku, aku cukup malu untuk sekedar jalan di Seoul. Aku bukan seorang yang peka fashion.

Taejun yang biasanya kutanyai tentang style dan fashion, tadi tidak ada dirumah karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke Kantornya. Ah, malang sekali nasibku.

Aku hanya memakai denim shirt dengan sebuah Jeans yang panjangnya selutut lalu sebuah studded converse yang menghiasi kakiku. Bukankah ini terlalu biasa untuk muda-mudi di Seoul?

Kami sudah berjalan cukup lama, dan aku semakin bertanya-tanya tentang apa yang dipikikan oleh Sehun.

“Café itu! kaja!” seru Sehun dan langsung berlari.

Sehun memesan sebuah Vanilla Latte dengan ice cream vanila yang ditaburi bubuk kopi, lalu aku hanya memesan segelas susu yang kebetulan café itu menyediakannya. Aku merasa payah.

Kamsahamnida,” ucapku dan Sehun saat pelayan itu mengantarkan pesanan kami.

“Han Jihye,” ujar Sehun tiba-tiba. “Namanya Han Jihye.”

“Apa maksudmu?”

“Kekasih Kai sebelum dirimu bernama Han Jihye.”

DEG! Aku bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Kai tidak pernah memberitahuku dan Aku pun tidak pernah ada niatan untuk menanyakan hal tersebut. Kupikir itu adalah privasi milik Kai yang tidak akan pernah kuganggu.

Aku terdiam. Aku —hanya— ingin mendengar cerita Sehun.

“Jihye noona lebih tua satu tahun dariku dan Kai. Kisah cinta mereka tidak begitu kusuka karena hanya sebuah kisah cinta yang datar, dan mereka berdua mengakui itu.”

Aku masih diam.

“Walau begitu, aku tak menyangka bahwa mereka sudah menjalani hubungan selama dua tahun lamanya,” Sehun meminum Vanilla Latte-nya. “Dan dua tahun yang lalu juga, Jihye noona meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.”

Tepat saat aku juga ingin menyeruput segelas susu yang ada dihadapanku ini —aku meletakkan gelas berisi susu itu kembali pada tempatnya. Aku tertohok mendengar perkataan Sehun tadi. Dia sudah meninggal dunia?

“Jihye noona meninggal saat dalam perjalanan untuk merayakan dua tahunnya hubungan mereka berdua dan semenjak saat itu, Kai menjadi aneh. Ia menjadi sesosok namja yang selalu berbuat baik pada setiap yeoja yang ia kenal ataupun tidak —termasuk padamu,” jelas Sehun.

Aku menatapnya heran, “Bukankah bagus jika ia berbuat baik?”

Geurae, itu bagus—” Sehun menggantungkan perkataannya. “Bagus untuk menyakiti hati para yeoja disekitarnya.”

Darahku mendesir lebih cepat setelah mendengar perkataan tersebut. Aku menatap Sehun tidak percaya, dan masih menunggu ceritanya.

“Park Yoojun,” panggil Sehun.

Ne?”

“Apa yang kau pilih, persamaan atau perbedaan?”

Aku tersenyum. “Tentu saja perbedaan! Untuk apa kau bertanya?”

Sehun menghela napasnya. Raut wajahnya menunjukkan perasaan kecewa yang mendalam, dan aku tidak mengetahui apa yang ia kecewakan. Aku hanya berharap bahwa jawabanku tidak mengecawakan, aku berniat untuk menanyakannya.

“Jawabanku mengecawakanmu?” tanyaku perlahan.

“Tidak, jelas tidak. Aku kecewa pada jawaban Jihye noona dulu,” Sehun mulai menceritakan tentangnya lagi. “Dia menjawab persamaan, dan alasannya adalah karena persamaan bisa menjamin hubungan yang dijalani.”

“Kai dan Jihye noona memang banyak persamaan. Maka dari itu, kubilang kisah cinta mereka adalah sebuah kisah cinta yang datar,” tambahnya.

Nah, sekarang aku mulai merasakan sebuah perasaan kecewa pada Kai, terutama pada Kai itu. Aku juga mulai berpikiran negative tentangnya, mulai mengeluarkan asumsi-asumsiku —yang bahkan aku sendiri tidak mengetahui apa itu benar atau tidak. Aku tenggelam dalam pikiranku.

Kai memang selama ini berkelakuan baik padaku. Tidak ada sisi kejelekkannya, walaupun ia pernah marah kepadaku. Jamkaman, ia pernah berbicara dengan nada tinggi denganku! Bukankah itu seperti membentak?

“Sehun-ssi, Kai pernah membentakku!” seruku semangat.

Sehun tersenyum. Dia tidak merespon pernyataanku, tetapi meresponnya hanya dengan senyuman. Senyuman puas.

“Ayo pulang.”

***

Kamsahamnida!” teriak Yoojun setelah mobil Sehun melaju meninggalkannya.

Baru saja ingin membuka pagar rumahnya, iPhone Yoojun berdering. Ada sebuah panggilan masuk untuknya.

“Kai?!” pekiknya.

Yoboseyo.” Kata Kai dari seberang sana.

Ne, Yoboseyo,”

“Bisakan kau pergi ke Taman didekat rumahmu?”

Yoojun mengernyit, “Maaf?”

“Iya, taman yang waktu itu kita kunjungi! Kau lupa?”

AAh.. aku ingat. Aku akan kesana,” jawab Yoojun sambil menepuk jidatnya. Begitu bodohnya sampai-sampai ia lupakan. Padahal itu adalah tempat kencan yang pertama untuknya dan Kai.

Sepuluh menit kemudian, Yoojun pun sampai di Taman tersebut. Ia sudah melihat sebuah porsche dan pemiliknya disamping mobil tersebut. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, mengingat perkataan Kai padanya waktu itu.

“Aku akan menciummu.”

Detik itu juga, Yoojun ingin segera melangkahkan kakinya dari taman tersebut. Tetapi, keberuntungan tidak dipihaknya, Kai sudah melihatnya dan bahkan sudah memanggil namanya. Tamat riwayatmu Park Yoojun, runtuknya dalam hati.

Mau tidak mau, Yoojun harus menghampiri Kai —atau ia akan mendapatkan masalah yang lebih berat lagi.

AAnnyeong!” sapa Yoojun terbata.

Annyeong,” Kai tersenyum, seakan mengerti apa yang ada dipikiran Yoojun.

Kai menatap Yoojun, “Rumahmu sepi hari ini. Kau pergi kemana?”

Ah.. Eh.. Aku pergi main dengan temanku,” jawab Yoojun.

“Jangan berbohong padaku, Yoojun-ah.”

Yoojun tertohok mendengar perkataan Kai. Kalau sudah begini, sepertinya Kai tahu semuanya, pikir Yoojun. “Mianhaeyo.”

“Aku pergi ke Seoul menemui Taejun,” kata Yoojun. lalu ia merunduk menatap converse-nya. “Bersama Sehun.”

Kai tersenyum puas. Akhirnya yeoja dihadapannya ini mengakui perbuatannya. Kai sebenarnya juga ingin tertawa, ingin memberitahu Yoojun bahwa sebenarnya ia sudah tahu semuanya dari awal.

Tetapi ia harus menahannya, Yoojun terlalu asyik untuk dikerjai.

“Kau tahu ‘kan apa hukumannya kalau kau berdekatan dengan Sehun?”

DEG. Jantung Yoojun berpacu lebih cepat, hal yang ia takutkan —dan yang ia inginkan— akan terjadi. Dan Yoojun mencoba pasrah dengan keadaannya saat itu. Ia yakin ini akan terjadi, tapi… TIDAK SECEPAT INI!

Ne,” ucap Yoojun lemah.

Yoojun menatap Kai dengan tatapan tolong-maafkan-aku. Tetapi Kai tidak menghiraukannya, dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Yoojun.

Yoojun hanya menyerahkan semuanya pada Kai, bahkan ia sudah menutup matanya, takut. Ia tidak pernah berciuman dan ini adalah yang pertama kalinya. Yoojun sendiri tidak tahu harus melakukan apa.

Kai menahan tawanya. Wajah Yoojun yang merah padam itu memang terlihat lucu dan mudah membuat seseorang tertawa jika dilihat.

“Kai-ssi, kau sudah selesai? Aku capek menutup mataku,” kata Yoojun agak terbata.

“Aku akan mulai kalau kau memanggilku Kai saja, itu terdengar lebih informal.”

Yoojun menghela napasnya, “Kai.”

TBC

Hayoloh, Kai mau ngapain? 8D

Maaf ya kalau dari ff ini terlalu banyak typo ><

Read, Like and Comment jangan lupa ya hehe atau yang mau bertanya-tanya kalau ada ketidakjelasan difanfict ini, boleh J Insya Allah saya jawab satu persatu.

38 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s