I Do Love You (Chapter 1)

Author : @leedonghyunn / @levinialdora

Main cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Byun Baekhyun
  3. Xi Luhan

Annyeong ^^ Ini FF pertamaku, jadi maafkan kalau ada beberapa typo dan kata-kata yang kurang dimengerti. Semoga seneng sama FF ini.Awalnya gara-gara malem-malem gabisa tidur, eh pas dengerin lagunya FT Island – girls don’t know, langsung ada ilham bikin FF ini

Dan juga maafkan soal wall pictnya yg berkualitas rendah X.X

+++

Jihyun’s POV

“Hyu~un!!” Aku menoleh kebelakang, melihat siapa yang memanggilku meski aku sudah dapat menebaknya. Xi Luhan. Hanya dia yang memanggilku seperti itu di dunia ini. “Annyeong!!” sapanya. Aku membalas sapaannya dengan senyum sekilas lalu terus berjalan pelan dengan dia yang berjalan di sebelahku, berusaha menyamakan langkahnya denganku.

“Wae? Kamu tampak marah..” Aku menoleh kearahnya, dia sedang menatapku dengan menggembungkan pipinya. “Anni, aku hanya mengantuk.” Dia hanya mengangguk-angguk, lagi-lagi membuatnya terlihat seperti anak kecil.

“Hyu~un..” panggilnya lagi. Aku hanya menatapnya dengan pandangan ebrtanya. “Saranghae.” Lagi-lagi kata itu.. Aku hanya tersenyum. “Ara.” ucapku singkat.

“Jeongmal saranghae..” Aku menjawabnya dengan jawaban yang sama lagi, dan harusnya seperti biasa dia akan mengucapkannya berpuluh-puluh kali. Tapi hari ini dia terdiam setelah mengucapkannya dua kali. Aku menoleh kearahnya, dia sedang menatapku dengan memajukan bibirnya.

“Wae? Sekarang kamu yang tampak marah Lulu.” ucapku memanggil nama panggilan kesayanganku untuknya. Memang sangat cocok dengan sikapnya yang kekanakan. “Ne, aku marah. Kamu selalu menjawab ‘ara’ setiap kali aku mengatakan ‘saranghae’.” Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Jinjja, dia benar-benar mirip dengan Jiwon, namja dongsaengku yang berbeda 4 tahun denganku, 14 tahun.

“Memang aku harus menjawab apa??” tanyaku. “Asalkan jangan ‘ara’, apapun boleh.” Aku hanya tersenyum menatapnya. “Araso. Aku tak akan menjawab apapun lagi saat kamu membahas masalah itu lagi.” Balasku menggodanya. “Bukan begitu!! Setidaknya katakan perasaanmu padaku. Tak apa kalau kamu tak menyukaiku, biarkan aku tahu..” Aku hanya terdiam. Aku tak dapat mengatakannya, dia terlalu baik. Setidaknya biarpun aku tak dapat mencintainya, aku menyayanginya sebagai chingu-ku.

“Sudahlah. Kita sudah sampai, hyunnie.” ucapnya sambil menarik tanganku masuk ke kelas XII-1, kelasku dan menuju kursi tempat aku dan dia duduk. Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan sesuatu yang menyakitinya saat dia memperlakukanku begitu baik..

“Annyeong, hyunnie! Annyeong, hannie! Lagi-lagi kalian datang bersama!” Baru saja aku meletakkan pantatku di kursiku yang nyaman, yeoja ini sudah mengangguku. Siapa lagi kalau bukan Lee Sena, chingu terbaikku yang sedang duduk dengan nyaman dibelakangku. Aku pun langsung memutar tubuhku sehingga dapat berhadapan dengannya. Luhan pun mengikuti apa yang baru saja kulakukan.

“Bukankah kalian berdua juga selalu datang bersama-sama? Aissh, dasar couple romantis.” godaku pada Sena yang sekarang sedang menatapku sambil tersipu-sipu malu. Aku sungguh tak ingin melihat namja yang duduk di sebelah Sena, tapi apa daya, mataku akhirnya melihatnya juga. Dan dia sedang menatapku dengan tatapan dingin. Menyeramkan.

“Kenapa baru datang?” tanyanya dengan nada rendah, membuatku merinding bahkan sebelum aku menjawab. Byun Baekhyun, kamu benar-benar menyeramkan. “Aku memang selalu datang pada jam segini, mungkin kalian yang datang terlalu cepat.” Aku tetap berusaha tersenyum tanpa berani melihat wajahnya yang menyeramkan itu.

“Kenapa datang bersama?” tanyanya lagi, seakan-akan aku tersangka suatu kriminal dan dia polisinya. “Tadi bertemu di gerbang.” ucapku singkat. Kenapa hari ini dia semakin menyeramkan? Padahal dulu dia orang terbaik yang pernah kukenal..

“Waeyo, chagiya? Luhan kan sangat menyukai hyunnie, wajar saja kalau mereka datang bersama.” tanya Sena pada Baekhyun dengan manja, lalu memalingkan wajahnya menatapku dan Luhan. “Besok kita harus pergi bersama, berempat!” ucapnya dengan girang. “Besok? Memangnya kenapa?” tanyaku pada Sena.

“Kamu tak ingat? Tentu saja 1st anniversary kita!” ucap Sena sambil memeluk lengan Baekhyun. Aku hanya terdiam melihatnya. Waktu berjalan begitu cepat, kini sudah 1 tahun sejak hari itu. “Ayo kita makan sushi kesukaanmu, hyunnie!!” Luhan mengguncangkan tubuhku pelan dengan nada bahagia. Aku menatapnya sebentar lalu menatap Sena. Mereka terlihat sangat senang. Lalu aku menatap Baekhyun, ternyata dia juga sedang menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Luhan.

“Baiklah. Terserah kalian.” ucapku pada Luhan dan Sena. “Eotte, chagi? Kamu mau?” tanya Sena pada Baekhyun yang hanya mengangguk. Tunggu, tapi.. “Tapi chagi, kamu kan nggak begitu suka makan sushi.”

“Gwenchana. Aku sedikit suka kok.” Begitu Baekhyun selesai berbicara, tiba-tiba bel langsung berbunyi. Aku membalikkan badan menghadap seongsaenim yang masuk ke kelas sambil menghela nafas. Lee Jihyun, sekarang kamu bukan orang yang paling mengerti dia lagi.

+++

Luhan’s POV

Sekarang sudah 10 menit sejak sekolah bubar, murid-murid pun sudah pulang, tapi aku masih disini. Di kursi tempatku duduk selama 6 bulan terakhir. Menatap yeoja yang sedang menelungkupkan kepala dengan kedua tangannya. Dia tampak aneh hari ini, sejak pelajaran pertama ia tak pernah beranjak dari kursinya, padahal biasanya saat istirahat dialah orang yang paling bersemangat pergi ke kantin.

“Hyu~un, kamu benar-benar tak mau pulang?” tanyaku padanya. “Shirreoh. Sudah kubilang pulang saja dulu. Aku masih ingin disini.” ucapnya tanpa mengangkat wajahnya. Aku menghela nafas. Aku tak mungkin meninggalkannya sendirian.

“Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kamu belum makan seharian, kamu sakit?” tanyaku bertubi-tubi. Aku hanya..khawatir. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum sekilas. Matanya terlihat lelah. “Kamu mengkhawatirkanku?” Aku mengangguk-angguk. Tentu saja aku khawatir. Dia hanya tertawa kecil, membuatku bingung. “Wae? Ada yang lucu?” tanyaku.

“Jinjja, kamu ini. Sebaiknya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri. Kamu tak cocok mengkhawatirkan orang lain.” Aku menatapnya bingung. “Kenapa tidak boleh?” Dia kini menatapku sambil menyentuh hidungku dengan telunjuknya pelan. “Kamu tahu, kamu terlihat seperti Jiwon. Anni, kamu bahkan lebih kekanakan dibanding dia.”

“Jadi kamu menganggapku anak kecil?” tanyaku padanya lagi. Dia hanya mengangguk. Aku menatapnya dengan memajukan bibirku. “Aku tak ingin dibilang anak kecil. Aku ini namja.” Dia tertawa lagi. “Jinjja, apa yang kamu katakan? Kamu memang namja, memangnya aku bilang kamu yeoja?”

Aku memang senang akhirnya dia tertawa, tapi tetap saja aku tidak ingin dia menertawakanku. Perlahan, tanpa dia ketahui, aku mendekati wajahnya dan menempelkan bibirku di pipi kanannya sekilas. Dia tampak terkejut dan menoleh kearahku dengan wajah memerah. Tapi aku yakin wajahku lebih merah darinya saat ini. Jantungku seperti akan meledak.

“Aigoo, apa yang kalian lakukan berdua di tempat sepi seperti ini. Aku dan baekkie bahkan belum pernah melakukannya.” Aku menatap kaget pada seorang namja dan yeoja yang berdiri di depan pintu kelas, menatap kami berdua kaget.

“Kenapa kalian kembali lagi?” tanyaku kaget. “Handphoneku ketinggalan.” ucap Sena dengan pandangan penuh arti, lalu berjalan kearah kami atau kearah kursinya dan mengambil handphone di lacinya. “Jadi kalian sudah berpacaran?” Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sena, tapi Jihyun malah menyangkalnya dengan wajah panik.

“Anni, bukan begitu. Bukan seperti yang kamu pikirkan.” ucap Jihyun seakan-akan mengatakannya kepada Sena, tapi aku dapat melihat dia sedang menatap Baekhyun dengan wajah panik. Baekhyun sendiri menatapnya dengan tajam.

“Sudahlah, aku mengerti. Jangan mengelak lagi. Sekarang cepat bereskan barangmu dan pulang bersama.” ucap Senaa masih tersenyum lebar. Aku pun membantu Jihyun membereskan barang-barangnya. Jihyun masih menatap Baekhyun dan Baekhyun masih menatap Jihyun tajam. Ada apa dengan mereka berdua? Seakan mereka berbicara melalui mata mereka.

Ada suasana canggung antara Baekhyun dan Jihyun saat kami berjalan menuju gerbang sekolah. Sejak beberapa bulan lalu, hubungan mereka memang menjadi berubah. Semakin lama semakin jauh bahkan seakan mereka tak saling mengenal. Padahal mereka berdua tak terpisahkan dulu. “Chamkaman, Baekhyun-ssi.” Tiba-tiba Jihyun menarik ujung kemeja Baekhyun saat kami akan berpisah. Baekhyun menghentikan langkah dan berbalik menatap Jihyun dengan tatapan..sedih(?)

“Mianhae, aku baru ingat. Besok aku ada janji pergi bersama eomma. Aku tak dapat datang.” ucapnya sambil menunduk. “Jinjja? Sayang sekali, hyunnie.” ucap Sena lagi. Bagaimana kaau perginya hari ini. Tak apa-apa kan, chagi?” tanya Sena pada Baekhyun yang hanya mengangguk tanpa ekspresi.

“Hari ini juga tak bisa. Nanti malam aku ada janji untuk mm… aah! Aku ada janji untuk membantu Jiwon mengerjakan PRnya.” Aku sangat mengenal Jihyun. Tapi kenapa saat ini dia berbohong? Apa dia sedang tak ingin pergi?

“Kita pergi sekarang saja, tak akan lama kok. Aku janji! Pokoknya kita harus pergi bersama. Di mall biasa. Ayo cepat!” ucap Sena tanpa meminta jawaban. Kulihat Jihyun hanya bisa menyetujuinya. Aku pun membimbingnya ke motorku.

“Pegang yang erat, Hyunnie!” ucapku. Dia memeluk pingangguk dengan erat, membuat jantungku berdegup keras. Tapi tanpa menunggu lagi aku langsung menjalankan motorku. Dalam perjalanan dia hanya terdiam, aku pun terdiam.

Jihyun..dan Baekhyun, hubungan apa yang sebenarnya mereka miliki??

+++

Jihyun’s POV

Bagaimanapun aku menghinndar, akhirnya aku tetap ada di sini. Mall kesukaan kami berempat. “Kemana saja sih mereka? Sudah 30 menit kita menunggu mereka masih belum datang.” gerutu Luhan dengan kesal. Memang sudah 30 menit kami menunggu di foodcourt, tapi mereka masih belum sampai.

“Sudahlah, mungkin macet. Mereka kan pakai mobil, Lulu. Kita jalan-jalan saja dulu.” ucapku sambil menarik tangannnya. Dia langsung mengenggam tanganku. Biarpun dia seperti anak kecil, tapi dia mempunyai tangan yang besar dan hangat.

Aku melihat-lihat toko-toko aksesoris yang ada di mall, berharap menemukan barang-barang lucu yang dapat kubeli. Tiba-tiba pandanganku tertumbuk pada dua boneka beruang putih yang memegang sebuah surat, yang satu berwarna pink dan satunya berwarna biru. “Uwwaa, itu pasti gantungan couple! Kita harus membelinya Hyunnie!” seru Luhan dengan senang dan langsung mengambil gantungan itu.

“Oh, kita harus menghadiahkannya pada Baekkie dan Sena. Mereka pasti senang!” seru Luhan lagi. Baekhyun dan Sena..mereka adalah pasangan. Pasti mereka senang. “Ne, kita belikan sepasang untuk mereka. Apalagi Sena sangat menyukai boneka beruang.” ucapku sambil membawa gantungan itu ke kasir. Setelah mengemasnya dalam kotak, kami langsung keluar dari toko itu sambil tetap berpegangan tangan.

Kebetulan sekali, Baekhyun dan Sena sedang berjalan di depan toko itu sambil berpegangan tangan dan bertatapan dengan mesra. “Baekkie, Sena! Kau baru sampai? Jinjja, kami sudah menunggumu dari tadi!” seru Luhan yang melihat mereka. Lagi-lagi tatapan kami bertemu, aku berusaha mengalihkan pandanganku ke Sena yang sedang tersenyum.

“Tadi macet sekali, coba saja Baekkie bawa motor sepertimu Hannie.” ucap Sena. “Ayo langsung ke restoran. Aku sudah memesan tempat dan makanan.” Tanpa banyak bicara kami langsung pergi ke restoran itu. Banyak sekali sushi berjejer di meja kami, dan itu semua adalah sushi kesukaanku. Atau mungkin aku menyukai sushi dengan bentuk apapun (?)

“Ini semua Baekhyun yang pesan. Dia bilang ini sushi yang paling kamu suka.” Aku langsung menatap Baekhyun yang langsung pura-pura tak melihatku begitu aku menatapnya. Baekkie, kamu masih ingat makanan kesukaanku..

Kami semua makan tanpa banyak bicara. Entah kenapa hari ini aku tak ada selera makan maupun berbicara. Untung sejak tadi Luhan dan Sena asyik berbicara tentang anime, hal yang sama-sama digilai mereka berdua. Saat mereka sudah berbicara tentang itu, sudah tak ada tempat bagiku untuk berbicara lagi.

“Sena-ya, bukankah itu EXO, boyband rookie SM entertainment?” ucap Luhan tiba-tiba sambil menunjuk kumpulan namja yang baru saja datang. “Iya, Hannie!! Aigoo, aku benar-benar menyukai mereka. Ayo kita minta tanda tangan dan foto!” Mereka berdua langsung berlari dengan bahagia ke tempat namja-namja bernama ‘EXO’ itu. Aku hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan mereka. Beberapa saat kemudian aku baru sadar, saat ini aku sedang bersama Baekhyun, hanya berdua. Tiba-tiba ada suasana mistis yang menyelimuti hatiku.

“Kenapa tidak makan banyak?” Tiba-tiba Baekhyun membuka pembicaraan dengan mnaruh beberapa sushi ke dalam piringku. Aku menatapnya yang sedang tersenyum. “Kamu masih suka california roll kan? Yang membuatmu merasa sedang berada di California saat memakannya?”

“Emm.. Ne, benar.” ucapku singkat. Lagi-lagi kami hanya terdiam dengan kesibukan masing-masing. Tapi tiba-tiba Baekhyun menarik tanganku dan menyuruhku berdiri, lalu membawaku pergi dari restoran itu. Aku hanya bisa terdiam kaget, lalu mengikutinya.

Sesampainya di mobil, aku baru sadar. “Baekhyun-ssi, kenapa kamu menarikku tiba-tiba?” tanyaku dengan bingung. “Kalau tak ingin berada di tempat itu, jangan memaksakan diri.” Aku hanya terdiam. Sedikit bahagia setidaknya dia masih dapat mengetahui hatiku. “Lalu kita mau kemana?” tanyaku. “Pulang. Ke rumahmu.” Aku hanya mengangguk.

“Kenapa kamu berbohong?” Aku tersentak mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba itu. “Ne?” tanyaku. “Setidaknya aku tahu kamu bukan orang yang dengan bahagianya membantu Jiwon membat PRnya.” Aku hanya diam. “Kenapa kamu tahu?”

“Biarpun kamu berubah, aku tahu sifatmu tak akan berubah. Benar kan?” Aku menatapnya. “Aku tak berubah kok Baekhyun-ssi, aku tetap Lee Jihyun yang kamu kenal.”ucapku pelan. “Jeongmalyo? Kenapa sekarang aku tak dapat melihat Jihyun yang memanggilku ‘Baekkie’ sambil tersenyum lagi?” Lagi-lagi aku terdiam.

“Kalau ini semua karena 3 bulan lalu, aku sungguh-sungguh tak memintamu untuk menjadi seperti ini. Kalau itu memang menganggumu, lupakan saja semuanya.” Aku hanya diam. “Baekhyun-ssi, apa maksudmu…kamu tak ingin aku mengingat 3 bulan lalu, karena kamu sudah tak memiliki perasaan padaku lagi?”

“Apa yang kamu bicarakan, Jihyunnie? Aku hanya tak ingin kamu merasa tak nyaman di dekatku.” Aku hanya diam. “Aku ingin kamu mengerti, sejak dulu kamu sangat berharga untukku. Yang aku sayangi, itu kamu..”

+++

20 pemikiran pada “I Do Love You (Chapter 1)

  1. entah kenapa… ane suka klo pmeran utamanya BaekHyunnie… apa gara2 kebanyakan makan FFny Baekki yak.. haha… nice thor.. sikat dah…

  2. 3 bulan lalu mereka kenapa, thor? Apa mereka itu sahabatan pas di California? Kalo gak gitu sahabatan dari kecil? Terus ada sesuatu diantara mereka, tapi mereka udah punya pacar? Terus si Baek ngajakin selingkuh? #plakk #readermintadigaplok
    ._.v

    BTW, aku suka nie ff. Cerita+cast mendukung ^^b
    Tapi rada susah bayangin karakter Baek yg ‘menatap tajam’ *lha yg terlintas muka childish Baek sih #apadeh*
    Ok, thor. Saya tunggu epep lanjutannya! Jangan lama”!

  3. 3 bulan lalu baekhyun nembak hyunnie ya ??
    trus di tolak gitu, trus sekarang hynnie nyesel gitu?? aishhh jinjja ..
    ntah knpa ngebayangi tampang baekhyun yg cool gak bisa, malahan yg muncul tampang baekhyun yg lgi aegyo hahahah 😀

  4. Thor, coba kata “kamu” di ganti kata “kau” deh.. Biar lbih enakeun bacanya.. Hehe ^^
    Pokonya, bahasanya lbih di perbaiki.. Sbnrnya si udh bgus.. Udh baku.. Tp, coba dilihat aja lg 🙂 over all, daebak ko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s