Killer Princess

Author                  : Kim Nami

Tittle                      : Killer Princess

Cast                       : Xi Luhan (EXO-M)

Nam Min Hwa (OC)

Kris (EXO-M)

Other EXO’s members

Genre                   : Romance, action #action darimana coba?#

Length                  : Oneshot

Rating                   : PG 15 #ga yakin#

Tau MV SJ-M – Supergirl? Saya terinspirasi dari situ.  Mian kalau ada typo… Semuanya Luhan POV ya… Oh iya, makasih buat readers yang udah berkenan baca+comment di ff saya sebelumnya. Love U all!!!! Ja! Happy reading all!

~~(*o*)~~

4th July 2012, 10 AM

Seoul Detective Central Office

“Kris-ah, haruskah aku melakukan misi ini?” aku bertanya pada namja di depanku yang tidak lain dan tidak bukan adalah Wu Yi Fan atau yang lebih dikenal dengan nama Kris. Dia sepupuku yang juga merangkap sebagai atasanku di sini.

“Ayolah, Luhan-ah. Aku tau ini masalah gampang untukmu. Kau sudah biasa mengatasi masalah seperti ini dan bahkan banyak yang lebih sulit.”

“Kan masih banyak agen yang kosong jadwalnya. Kenapa harus aku?”

“Hanya kau yang bisa kuandalkan dalam misi ini. Aku tidak mau tau, kau harus berangkat malam ini juga.” Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.

BLAM!!

Aish! Haruskah membanting pintu seperti itu? Seharusnya kan aku yang marah. Dasar tiang listrik!

Annyeonghaseyo! Xi Luhan imnida. 22 tahun. Tampan. Manis. Imut. Tinggi? Lumayan. Keturunan Korea-China. Tapi saat ini aku menetap di Korea. Dan satu lagi, lajang! Sekarang ini aku berstatus sebagai salah satu detektif yang sudah sangat dipercaya oleh kepolisian Korea.

Tapi bukan berarti Kris bisa seenaknya memberiku tugas seperti ini. Baru saja dia menyuruhku untuk menyelidiki kasus pembunuhan seorang pengusaha terkenal di Korea beberapa hari yang lalu. Itu memang kasus biasa untukku. Tapi yang jadi masalahnya adalah tempat yang harus kudatangi. Sebuah club malam yang sudah tidak asing lagi untukku.

~~(*o*)~~

FLASHBACK

30th Juny 2011, 11 PM

The Albatross Club

DUAR!!

Suara tembakan yang berasal dari pistol yang kupegang kini memenuhi seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu perlahan tubuhku merosot ke lantai. Jatuh semua air mata yang kutahan. Aku membunuh appaku sendiri. Appaku seorang bandar narkoba dan juga terlibat dalam berbagai kasus pembunuhan.

“Kau sudah melakukan yang terbaik Luhan-ah.” Kris  menghampiriku dan langsung memelukku, memberi semangat.

“Mianhae Appa.” Lirihku.

FLASHBACK END

~~(*o*)~~

 4th July 2012, 9 PM

The Albatross Club

Aku mencoba menghilangkan bayangan-bayangan kejadian 1 tahun silam itu. Tenang Luhan itu semua masa lalu. Kau harus bisa menjalankan misi ini atau kau akan kehilangan gelar ‘Detektif Muda Mempesona yang Selalu Sukses dalam Setiap Misinya’.

Kupakai kacamata baca berframe besar sebagai sentuhan terakhir dalam penyamaranku kali ini. Berkaca sedikit di spion mobilku lalu mulai berjalan memasuki club. Sudah beberapa langkah dan sejauh ini masih belum ada masalah.

Kuambil sebuah foto dari kantong celanaku. Kuamati sejenak wajah gadis di dalam foto ini. Cantik dan polos. Bagaimana bisa dia terlibat dalam kasus pembunuhan?

Aku menuju salah satu kursi kosong di depan namja imut berkulit putih mulus yang tidak lain dan tidak bukan bartender di sini #readers tau ini siapa?#. Pandanganku tertuju ke lantai dansa dimana orang-orang menggerakkan badannya dengan senang hati. Tidak lama setelah itu aku merasa ada yang memperhatikanku, aku mengalihkan pandanganku dari lantai dansa. Ternyata namja imut itu yang memperhatikanku dengan tatapan… mengejek???

“Orange Juice tuan?” tanyanya sambil tetap memandangku remeh. MWO??? Orange juice? Dia kira aku anak SMP yang nyasar di club apa? Sabar Luhan. Ini demi tugas.

“Boleh.”

Tidak lama dia langsung membawakan orange juice pesananku. Kualihkan pandanganku mengelilingi ruangan ini. Pandanganku berhenti pada seorang gadis yang tengah asyik meliukkan badannya di lantai dansa sambil memainkan balon di tangannya. Aku menemukanmu gadis cilik!

Kuteguk sedikit orange juiceku lalu mulai berjalan mendekatinya. Aku mengeluarkan ponselku. Mulai merekam keadaan sekitar. Ini bukan tanpa alasan. Aku sengaja melakukannya untuk menarik perhatiannya. Aku mulai mendekatinya dan menshot wajahnya. Aku rasa dia mulai risih.

“Ya! Dilarang memotret di sini tuan!” ucapnya sedikit berteriak dan memukulku dengan balon di tangannya.

DEG!

Cantik sekali gadis ini. Walaupun di foto juga cantik tapi jika dilihat langsung dia terlihat begitu menggemaskan.

PRANG!!

Seseorang menyenggolku dari belakang dan mengakibatkan ponsel di genggamanku jatuh. Kulihat gadis itu tertawa melihat keadaanku. Cih! Lihat saja nanti gadis cilik! Akan kubongkar semua kelakuanmu!

Aku pergi tanpa menghiraukannya lagi dan bahkan aku tidak peduli lagi dengan ponselku. Itu urusan gampang. Aku bisa membeli yang lebih canggih lagi.

~~(*o*)~~

5th July 2012, 8 AM

Seoul Detective Central Office

“Bagaimana semalam?” baru saja datang ke kantor, bosku yang menyebalkan ini sudah menyerbuku dengan pertanyaannya.

“Masih tahap awal Kris. Belum dapat apa-apa.”

“Kau sudah bertemu dengan targetnya?”

“Hmmm.”

“Wae? Tidak biasanya kau seperti ini. Jangan bilang kau jatuh hati pada target kita.”

“MWO? Maksudmu aku jatuh cinta pada seorang pembunuh?”

“Maybe.”

“Enak saja. Mana mungkin.” Aku tidak tau kenapa nada bicaraku terdengar ragu-ragu.

“Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Aku memberimu tugas ini bukan tanpa alasan Luhan-ah.”

“Aku ingin kau melupakan kejadian 1 tahun yang lalu. Sudah saatnya kau bangkit dan melupakan rasa bersalahmu pada Xi ajjussi.” Lanjutnya.

Sejenak aku tenggelam dalam pikiranku. Kris benar. Aku memang harus bangkit dan melupakan kejadian itu. Aku berjalan memutari meja kerjaku dan memeluk Kris erat.

“Gomawo Kris.”

~~(*o*)~~

5th  July 2012, 10 PM

The Albatross Club

Malam ini aku melanjutkan penyelidikkanku. Kali ini tanpa penyamaran. Karena kupikir penyamaran kemarin adalah ‘Produk Gagal’. Jadi kuputuskan untuk menjadi Luhan yang tampan, manis, imut, dan mempesona pastinya. Dan sekarang aku kembali duduk di tempat kemarin. Namja imut itu kembali memperhatikanku. Aku menoleh ke arahnya.

“Kau bukannya namja aneh kemarin tuan?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum misterius dan mulai turun ke lantai dansa.

“Luhan hyung?” sapa orang di belakangku. Aku menoleh.

“Kai? Apa kabar? Lama tidak bertemu.” Bukan lama tidak bertemu, kemarin aku juga bertemu dengannya di sini. Tapi dia tidak mengenaliku. Seburuk itukah penyamaranku?

“Baik. Di sana ada Tao, Suho hyung, dan yang lainnya. Tidak ingin bernostalgia?”

“Mian. Sebenarnya aku ke sini untuk menemui orang.”

“Oh, baiklah. Mungkin lain kali. Aku duluan hyung.” Aku hanya mengangguk. Dia kembali ke meja DJ-nya.

Oh Tuhan, kau begitu baik padaku. Tanpa dicari gadis itu sudah ada di hadapanku sekarang. Kuberanikan diri untuk berdansa dengannya dan sepertinya dia tidak menolak. Cih! Dimanapun yang namanya yeoja sama saja. Kemarin saja dia memukulku dengan balon, sekarang setelah aku melepas penyamaranku dia langsung nempel.

“Boleh berkenalan agassi?”

“Kau berani membayar berapa untuk namaku?”

“Berapa yang kau minta?” dia hanya tersenyum dan berjalan menuju meja yang dipenuhi minuman beralkohol. Aku mengikutinya.

“Nam Min Hwa imnida. Kau bisa memanggilku Min Hwa.” Dia munjulurkan tangannya dan aku menyambutnya.

“Xi Luhan imnida.”

“Kau bukan orang Korea?”

“Apa terlihat jelas? Ayahku orang China dan ibuku orang Korea.”

Pembicaraan kami berlanjut menjadi pembicaraan yang menyenangkan. Dan kurasa dia orang yang easy going.

~~(*o*)~~

Aku sudah gila. Setiap hari pergi ke The Albatross hanya untuk menemui Min Hwa. Dan kini kuakui aku jatuh cinta padanya. Padahal Kris sudah memperingatkanku. Dan sampai sekarang belum sedikitpun rahasia yang bisa kudapat dari Min Hwa tentang pembunuhan itu.

Yang kutau hanya Min Hwa adalah pelayan di The Albatross. Bukan. Dia bukan wanita penghibur. Dia gadis baik-baik, aku yakin itu. Dia hanya melayani pengunjung dan menemani pengunjung untuk menari. Dia juga penari di sini. Dia hidup sebatang kara dan bekerja di club untuk membayar kuliah dan keperluan sehari-harinya.

~~(*o*)~~

15th July 2012, 9 AM

Seoul Detective Central Office

“Sudah mendapatkannya?” Tanya Kris. Aku tau apa maksudnya.

“Masih ada banyak waktu Kris.”

“Apa perlu aku turun tangan?”

“Tidak perlu. Kau kan sudah memberikan tugas ini untukku. Tentu saja aku yang harus menyelesaikannya.”

“Seperti dugaanku sebelumnya.”

“Maksudmu?”

“Kau… jatuh cinta padanya.” Aku terdiam. Kris sudah mengetauinya.

“Terserah bagaimanapun caranya, kau harus membawanya ke hadapanku dalam waktu dekat ini.” Lanjutnya dan berlalu dari ruanganku.

~~(*o*)~~

15th July 2012, 10 PM

The Albatross Club

Aku berhadapan dengannya lagi malam ini. Entah ini hanya pendapatku atau orang lain juga sependapat denganku. Gadis ini semakin cantik dari hari ke hari.

“Jadi kau tinggal bersama sepupumu di Seoul?” tanyanya.

“Ne. Kau bisa bermain ke rumahku kalau kau mau.” Dia hanya tersenyum simpul.

Kurasakan ponselku bergetar. Kulirik sedikit layar ponselku yang terpampang nama Kris di sana. Aish! Dia meneleponku di saat yang sangat tidak tepat sekali.

“Aku permisi sebentar.” Ijinku pada Min Hwa. Dia mengangguk. Kucari tempat yang agak jauh dari Min Hwa di dekat pintu masuk.

“Yoboseyo.”

“Yoboseyo. Luhan-ah aku tau kau ada dimana sekarang. Dan kuharap kau bisa melaksanakan tugasmu dengan baik malam ini.”

“Kris-ah beri aku sedikit waktu.”

“Sampai kapan Luhan-ah?”

“Aku berjanji akan membawa Min Hwa ke hadapanmu, tapi tidak sekarang.”

“Tidak ada waktu Luhan-ah.”

“Kris-”

“Apapun caranya.”

Dan sambungan telepon putus begitu saja. Aku menghela nafas perlahan dan berbalik hendak kembali masuk ke dalam club sebelum gadis di depanku ini kini memandangku dengan pandangan sinisnya. Aish! Eotteokhe? Apa Min Hwa mendengar semuanya?

Dia mendekat ke arahku. “Neo… Nuguya? Kenapa kau menyebut namaku dalam percakapan teleponmu?”

“A- Ak- Aku-” kenapa aku mendadak gagap seperti ini?

“Kau polisi?”

“Ani.”

“Lalu?”

“Aku detektif.” Seketika itu juga dia membulatkan matanya.

“Sh*t!” umpatnya dan melarikan diri sebelum kutahan tangannya. Sialnya dia malah menghujam kakiku dengan heels sepatunya yang sepanjang 10 cm itu. Reflek aku memegang kakiku dan melepas tangannya.

“Ya! Min Hwa-ssi! Kajima!” teriakku sambil berlari mengejarnya keluar dari club, tentu saja dengan menahan rasa sakit di kakiku.

Kekuatan berlarinya boleh juga. Tapi kali ini aku benar-benar berterimakasih pada badan entengku sehingga aku bisa menandingi kekuatan berlarinya. 5 meter lagi. Dan HAP! Kucengkram lengannya. Dia berusaha berontak.

“Dengarkan aku. Aku tidak akan menyakitimu. Kau bisa pegang kata-kataku.” Ucapku.

Dia berhenti berontak danaku sedikit meregangkan cengkramanku di tangannya tapi tidak sepenuhnya melepaskannya. Aku menariknya untuk duduk di kursi taman sekitar sini.

Kami terdiam untuk beberapa saat. Tanganku masih menggenggam tangannya, takut dia akan kabur lagi.

“Jadi kau akan menangkapku? Mana borgolmu?” dia mulai memecah keheningan.

“Kau tau apa salahmu?”

“Membunuh orang. Arrasseoyo. Dan yang lebih parah, orang yang kubunuh adalah orang berduit yang sangat berkuasa.”

“Bisa kau ceritakan kronologisnya?”

“Kau mau mengintrogasiku di tempat seperti ini?”

“Katakan saja.”

“Apapun yang kukatakan. Aku benar atau salah juga tidak akan membantu.”

“Apa maksudmu dengan ‘kau benar atau salah’? Marhaebwa!”

“Malam itu seperti biasa, aku pergi clubbing. Semua berjalan lancar sebelum seorang ajjussi mabuk mendekatiku. Dia membawaku ke Privat Room dimana biasanya orang-orang penting menyewanya secara pribadi. Awalnya aku biasa saja dan melayaninya dengan membawakan minuman pesanannya. Sampai akhirnya dia mulai menyentuhku.”

Kalimat terakhirnya itu membuat darahku naik ke ubun-ubun. Kurang ajar sekali ajjussi itu.

“Dia semakin memojokkanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriakpun percuma, ruangan itu kedap suara. Sampai akhirnya aku berusaha menggapai botol bir di meja dan langsung memukul kepalanya.”

“Tidak ada yang melihatmu?” tanyaku.“Setauku tidak. Keadaan di sekitar Privat Room sangat sepi. Setelah kejadian itu aku meminta ijin pada manager untuk pulang lebih awal. Lalu bagaimana kau tau aku pelakunya?”

“Kau lupa di sana ada CCTV?”

“Ah, kau benar.” Kami kembali terdiam sampai dia mengulurkan tangannya yang lain yang tidak kugenggam.

“Tangkap aku. Hukum aku seberat-beratnya.” Dia berkata dengan pelan sekali.

Bagaimana bisa aku menangkapnya? Baru saja aku dapat melupakan kejadian dimana aku harus membunuh ayahku dan sekarang kejadian itu berulang kembali. Aku harus mengadili orang yang kucintai. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?

“Kau percaya padaku?” kugenggam kedua tangannya erat.

Dia memandangku bingung. Kutatap matanya untuk meyakinkannya. Perlahan dia menganggukan kepalanya.

Aku berdiri dan menariknya untuk ikut berdiri. Aku berbalik ke arahnya lagi sambil tesenyum lembut.

“Aku akan memperjuangkannya. Cukup patuhi kata-kataku dan kau akan selamat dari hukuman berat.”

“Karena aku mencintaimu.” Lanjutku.

~~(*o*)~~

23rd December 2015, 6 AM

Luhan’s House

“Eeuunghh…” aku menggeliat di atas tempat tidur kami yang sangat nyaman ini. Kuraba tempat di sampingku, masih memejamkan mata. Kosong. Kemana dia? Kubuka mataku perlahan. Menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk lewat balkon kamar kami. Di sana pula kudapati dia sedang berdiri memandang kota Seoul yang sangat indah di pagi hari.

Aku berjalan ke arahnya dan mendekapnya dari belakang. Aroma kopi langsung menyeruak ke dalam hidungku.

“Kopi?” tawarnya.

“Eumm, ani, ani, ani. Kau belum sikat gigi dan cuci muka. Kau bau!” lanjutnya.

“Kau pikir aku tidak tau kau suka yang bau-bau?”

“Cih! Siapa bilang? Aku suka namja yang wangi tau!”

“Lalu kenapa kau mau menerima lamaranku?”

“Kau yang memaksa!” yah, memang benar aku yang memaksanya. Tapi aku yakin dia tidak menyesal sama sekali sekarang.

“Sudah sana mandi! Kau bau tau!”

“Aku masih mau memeluk istriku.” Dia diam dan tidak protes lagi. Kutenggelamkan(?) kepalaku di tengkuknya. Mencium aroma khas tubuhnya.

Apa ini yang selalu dirasakan pengantin baru lainnya? Sangat menyenangkan ternyata. Kami memang baru saja menikah tepat seminggu yang lalu. Dan sebulan yang lalu dia menyelesaikan masa hukumannya. 3 tahun. Cukup lama. Tapi setidaknya lebih ringan karena dia menyerahkan dirinya baik-baik dan berkata jujur di pengadilan. Tentu saja aku membantunya. Aku tidak akan mengulang kejadian appaku 9 tahun yang lalu.

“Sebentar lagi hari Natal, kau mau hadiah apa?” tanyanya.

“Aegi?” jawabku.

“Mwoya?” dia menjawab dengan pelan sekali.

“Kurasa 5 sudah cukup.”

“MWOYA? Kau mau membunuhku? Sebelum kau membunuhku akan kubunuh dulu kau!” dia berbalik dan berpura-pura mencekikku.

“Ya! Cukup sekali kau membunuh orang, Putri Pembunuhku yang cantik.”

END

~~(*o*)~~

Selesai!!!!! Sekali lagi mian kalau ada typo atau salah-salah kata. Saya juga manusia. T.T Kesempurnaan hanya milik Tuhan. #apa coba?# Buat yang nunggu sequel ‘My Idol, My Friend, and My Boy’ sabar yah, InsyaAllah bentar lagi jadi. Commentnya yah… Thanks all!!! #muach# :*

21 pemikiran pada “Killer Princess

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s