Lovexotic

Title : Lovexotic
Author : Blue Exotic
Main cast : Kim Jongin, Park Chaerin (OC)

Other cast: Oh Sehun, Cho Hyemi (OC)

Genre : Romance
Rating : Teen

 

 

Errr sebenernya ini FF pertama author ._.v Jadi, bahasa dan alur ceritanya masih berantakan~ mian ya ._.v. Waktu mau coba-coba bikin FF yang terlintar di kepala cumin satu kata “EXOTIC” dan aku langsung inget Kai a.ka Jongin~ Menurut author, Kai itu eksotis banget XD . Oh, iya, kalo yang komen banyak (masih untung ada yang mau koment thor #plak), author bakalan bikini sequelnya 😀

______________________________

“Howaaa, dance mu keren sekali!”

 

“Berisik, kalau mau menontonku latihan jangan berisik, mengganggu saja”

 

“Aish, kalau cemberut seperti itu kau akan cepat tua. Eh, iya baiklah aku akan diam, duduk manis”

 

 

Mimpi, tadi itu siapa ya? Oh, ternyata masih pukul 3 pagi, sebaiknya aku kembali tidur.

 

 

—***—

 

 

Terdapat banyak teori yang telah mencoba untuk menjelaskan fakta gravitasi. Yakni, para ilmuwan bertanya apakah gravitasi itu, dan apa yang menyebabkannya. Ilmuwan kemudian mengembangkan sebuah model yang menjelaskan gravitasi, yaitu teori gravitasi. Selama berabad-abad, terdapat banyak penjelasan gravitasi yang dapat disebut sebagai Teori Gravitasi, yaitu penjelasan Aristoteles, Galilei, Isaac Newton, dan Einstein. Kerancuan pada istilah dapat muncul ketika…”

 

Kuperhatikan dengan seksama Prof. Brown berceloteh tentang materi kuliah kami hari ini, gravitasi. Sebenarnya dosenku ini menyampaikan dengan bahasa Inggris beraksen British yang fasih, hanya saja entah sudah terbiasa atau apa, bahasa pengantar asing yang kudengar langsung ter-translate ke bahasa asalku, Korea.Kuliah baru saja dimulai namun aku sudah mulai menguap. Kulihat jam di pergelangan tangan baru pukul setengah Sembilan pikirku. Tadi malam tidurku memang sedikit tidak nyenyak, well, tidak nyenyak sama sekali. Aku bermimpi sesuatu tapi aku tidak bisa mengingatnya begitu aku terbangun.

 

EHEM, Miss Park, do you have anything to say in order to give comment on Einstein’s theory?”

 

Shit, damn, mampus. Sepertinya aku ketahuan menguap dan mungkin Prof. Brown memergokiku yang nyaris tertidur.

 

Err, nothing, sir” jawabku sambil tersenyum sebisa mungkin.

 

This is the last time I saw you sleep during my class. One more time, end of the story”, dengan gayanya yang khas, membetulkan letak kacamata bergagang emas yang sedikit terturun, lalu melipat kedua tangannya di atas perut buncitnya dan sedikit menyandarkan sisi tubuh kanannya ke meja, Prof. Brown memperingatiku. Dan dia, Prof. Brown, begitu menengaskannya dengan gerakan tambahan berupa jari telunjuknya yang di arahkan kepadaku.

 

Ok, now we’ll talk about Newton’s theory, he said that…

 

“Yeah, you’re dead now, Clarissa Park”

Kubelokkan pandanganku kearah suara yang ternyata berasal dari seorang gadis dengan kulit pucat, rambut wavy platina blonde dikepang dan poni samping yang sedikit bergelombang¸ yang sedang duduk disampingku, gadis ini bernama Cindy White.

 

“Yeah, I’m dead” suaraku terdengar begitu frustasi, ketelungkupkan kedua tanganku di atas kepalaku yang sedang merunduk ke meja.

 

“No, not yet” Balas Cindy dengan smirk-nya yang terlihat licik sekaligus anggun. Keelokan orang Inggris mungkin? Aku pernah berharap mempunyai senyuman seperti Cindy, anggun dan berkelas. Kalau aku? Senyumanku mungkin bisa disebut cengiran kuda. Tapi kata Cindy bentuk bibirku ketika tersenyum sangat oriental, khas orang asia. Ditambah Cindy menyukai rambut hitam kelamku. Well, setidaknya aku cukup puas dengan pujian itu.

 

 

—***—

 

 

Yap, that’s all for today. See you next time” ucap Prof. Brown mengakhiri kelasnya.

 

Kali ini aku berhasil untuk tetap tidak tertidur, setidaknya dengan bantuan Cindy yang selalu menyenggol kakiku setiap 10 menit.

 

“Clarissa, kata James hari ini Prof. Dawn tidak masuk karena magh kronisnya kumat dan harus dibawa ke rumah sakit, Miss Potter juga tidak akan masuk karena masih cuti melahirkan, jadi hari ini kita kosong,” ucap Cindy dengan mata yang terlihat sangat excited.

 

“Terus?” jawabku dengan mata yang nyaris tertutup karena mengantuk

 

“Maukah kau menemaniku shopping hari ini? Aku dengar ada koleksi Gucci terbaru, Sophie, sepupuku,  sudah memilikinya, aku juga tak ingin ketinggalan. Please?”  bujuknya dengan nada yang begitu memohon.

 

“Err, aku…, aku sibuk hari ini” jawabku mencoba menolak sambil membereskan buku dari atas meja.

 

“Bohong, kau pasti hanya ingin pulang ke rumah dan tidur seharian” balasnya seraya kami keluar dari kelas.

 

“aisshh, baiklah. Apakah kita akan pergi sekarang?” tanyaku sambil membetulkan letak tali tas yang sedikit terturun.

 

Let me see, sekarang pukul  12, pertama-tama aku ingin mengembalikan buku ke perpustakaan, setelah itu kita makan siang di Danny’s, selanjutnya kita baru shopping

 

“Mengembalikan buku? Tumben sekali kau meminjam buku dari perpustakaan”

 

“Ya, aku tau buku ini dari Lucy, ceritanya sangat menarik”

 

“Novel? Apa ceritanya?”

 

“Judulnya EXOTIC, latar belakangnya tahun 40an tentang seorang lelaki London bernama Kay Blunt yang jatuh cinta kepada seorang gadis penari dari Thailand. Kalimat favoritku dari novel ini adalah ‘Her tan skin, exotic. Every step of her, fantastic. And now just like a lunatic, I’m addicted,’ keren sekali!”

 

Entah mengapa semua kata ‘her’ berubah menjadi ‘his’ dalam pikiranku.  His tan skin, exotic. Every step of him, fantastic. And now just like a lunatic, I’m addicted. Seperti…

 

“Hello? Miss Park? Heloooouu”

 

“Eh, Cindy, berhenti mengkibas-kibaskan tanganmu di depanku” tiba-tiba Cindy menarikku dari duniaku.

 

“Kau terlihat bengong. Ayo, kita kembalikan buku lalu makan” jawabnya sambil mempercepat langkahnya.

 

“Cindy, perpustakaan tidak akan lari” aku hanya menghembuskan nafas dengan heran dan berjalan cepat mengejarnya.

 

 

—**—

 

 

“Arrghhtt, I hate Tony Michaels!!”

 

Teriak Cindy di depanku, sekarang pukul  dua siang dan kami masih di Danny’s. Sebenarnya kami sudah selesai makan dari setengah jam yang lalu, tapi tiba-tiba hujan turun agak deras dan menyebabkan kami terjebak di Danny’s.

 

“Who is Tony Michaels?” tanyaku bingung.

 

“Pembawa acara ramalan cuaca, tadi pagi kulihat acaranya, katanya London hari ini akan cerah dan hanya kemungkinan berawan, bukannya hujan, kutekankan sekali lagi H-U-J-A-N. Biasanya ramalan Tony selalu tepat, tapi hari ini meleset.” jawab Cindy frustasi dengan ekstra cemberut.

 

“Kenapa hujan harus jatuh? Dan kenapa gravitasi selalu menyebabkan jatuh itu harus selalu ke bawah???  arrgh” kini Cindy menenggelamkan kepalanya keatas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.

 

Gravity makes you fall. And sometimes, gravity hurts. Kalimat itu muncul begitu saja di pikiranku. Kalimat itu berasal dari Hyemi, sahabatku semasa SMA ketika aku bersekolah di Seoul Art High School. Mimpi tadi malam, EXOTIC, dan gravity, ditambah hujan yang turun hari ini, ketika cuaca dipagi hari begitu cerah,  semua keywords itu menuntunku kembali ke masa sekitar 4 atau 5 tahun lalu. Tanpa sadar aku tersenyum, ternyata setelah sekian lama namja itu kembali muncul di mimpiku, ya aku yakin, semalam aku memimpikan namja itu. Jika dibandingkan dengan novel itu-EXOTIC, aku berada di posisi Kay Blunt dan dia, namja itu, berada di posisi gadis Thailand. Aku menjadi seseorang yang mengagumi ke-eksotisan kulitnya yang gelap, terbius oleh lekuk tubuhnya ketika menari, dan ya, aku tergila-gila padanya.

 

 

#FLASHBACK #

 

*awal masuk SMA*

 

“AWAS!!”

 

“Kyaa! Hyemi-ah” aku pun langsung membantu Hyemi yang terjatuh karena terkena lemparan bola basket yang nyasar.

 

“Gwenchanayo?!” tanyaku khawatir

 

“Astaga Park Chaerin, kau berlebihan. Aku baik-baik saja” jawab Hyemi yang langsung bangun sambil membetulkan lipatan roknya

 

“Aduh, maaf ya. Aku tidak tau kalian akan lewat situ” ucap seseorang yang sedang mengambil bola basket di dekat kaki Hyemi.

 

“Ani, aku tidak apa-apa kok” jawab Hyemi agak kaget. Entah tiba-tiba anak ini menjadi seseorang yang begitu maaf, atau…

 

“Sehunieeee, lama sekali kau meng-” tiba-tiba muncul seorang namja berkulit gelap.

 

“Ah, Jongin-ah, maaf. Ternyata bolaku tadi mengenai mereka” jawab namja yang tadi mengambil bola. Namja yang mengambil bola ini kulitnya sangat putih, berkebalikan sekali dengan namja yang baru datang, yang dipanggil Jongin. Namja itu, yang bernama Jongin, sedikit mengagetkanku. Kulitnya gelap, ditemani dengan paras tubuh yang tinggi dan tatapan mata yang tajam, eksotis, inilah hal pertama yang terlintas di pikiranku.

 

“Oh, kalau begitu cepat minta maaf dan segera kembali latihan” jawabnya dengan ekspresi dingin dan segera kembali menghilang ke arah lapangan basket.

 

“Err, maaf ya. Aku kembali latihan dulu, bye” pamit Sehun sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Dan kulihat Hyemi sedikit menganga, atau terpesona?

 

“Chaerin”

 

“Ya?”

 

“Kau tau, klub basket sedang mencari manajer klub,”

 

“lalu?”

 

“Kibum, teman sekelasmu, dia anggota klub basket kan?”

 

“……Iya, lalu?” ok, aku mulai curiga.

 

 “Bisakah kau meminta pada Kibum untuk menjadikanku manajer klub basket?” kini Hyemi sedang memohon di depanku dengan puppy eyesnya.

 

“Hyemi-ah, tidak mungkin se-”

 

“Ayolahhh, jeballl~~kau tau kan aku sangat berbakat dalam hal menjadi manajer?” ok, kini Hyemi mengeluarkan segenap aegyo-nya dan aku kalah telak.

 

“Baiklah, ok, akan aku usahakan” jawabku pasrah.

 

 

*SEBULAN KEMUDIAN*

 

 

“Hyemi-sshi, bisakah kau mengambilkan air minum untuk kami? Maaf merepotkan” pinta Sehun setengah berteriak yang sedang berada di tengah lapanga.

 

“Ani, tidak apa-apa Sehun-ah, ini memang sudah tugasku sebagai manajer. Oh, iya panggil saja aku Hyemi atau Hyemi-ah, toh kau juga memperbolehkanku memanggilmu Sehun-ah” jawab Hyemi riang

 

“Ah, ne, Hyemi….Hyemi-ah” balas Sehun malu-malu.

 

Bahkan dari jarak sekitar, err, ya agak jauhlah, aku sedang duduk di bangku penonton, aku bisa melihat rona merah di pipi Sehun dan Hyemi. Sepertinya sekolah akan mempunyai pasangan baru tidak lama lagi. Hari ini langit sedang cerah-cerahnya, angin bertiup santai membawa rambut panjangku terbuai aliran angin. Kuperhatikan kembali lapangan basket, kulihat Jongin sedang bercanda dengan Minho sunbae, dan sepertinya dia akan mengejar Sehun yang menyiram air kearahnya kalau saja Jinki sunbae tidak mencegahnya. Lucu sekali, dihadapan teman-teman setimnya dia bisa tertawa begitu lepas dan berekspresi konyol. Di hadapan yeoja? Kau mungkin akan menemui kemiripan antara Kim jongin dengan batu es. Tiba-tiba pandangan mataku bertemu dengan mata Jongin. Cepat-cepat aku arahkan pandanganku ke arah lapangan tenis yang berdekatan dengan lapangan basket. Tak lupa aku berhenti tersenyum, karena aku sudah tersenyum mungkin dari sekitar lima belas menit yang lalu. Sepertinya pipiku merona. Kulirik kembali lapangan basket dan Jongin sudah menghilang. Kurutukki diriku yang memalingkan pandangan, padahal aku ingin melihat Jongin lebih lama.

 

“Yaa, Chaerin, ayo pulang” kemunculan Hyemi yang tiba-tiba membuatku terbangun dari lamunan.

 

“Eh, ne”

 

“Kajja~”

 

Kulirik terakhir kali ke arah lapangan basket dan kulihat Jongin kembali ke lapangan. Pandangan mata kami bertemu lagi. Kini kuberanikan diri untuk tersenyum dan sepertinya dia tidak bergeming. Sorot mata yang dingin dan bibir yang tak terlukiskan senyum. Aku pun mempercepat langkahku meninggalkan Hyemi dibelakangku.

 

“Aissh, Chaerin-ah, tunggu aku” ucap Hyemi dengan suara agak keras dan berusaha mengejarku.

 

 Jangankan cinta yang tak terbalas, seulas senyum yang tak terbalas sudah cukup menyakitkan.

 

 

—***—

 

 

Tak terasa aku telah menyelesaikan masa SMA ku dan besok secara sah aku dinyatakan lulus, ya besok adalah upacara kelulusan, Graduating Ceremony. Sudah pukul  setengah sebelas malam dan aku tidak bisa tidur. Daritadi aku hanya merebahkan tubuhku di atas ranjang, memeluk boneka pororo, dan memandangi langit-langit kamar yang kosong, tidak ada dekorasi apapun di langit-langit kamarku. Lalu terlihat olehku, kamera SLR Canon yang setia menemaniku selama tiga tahun ini. Aku pun bangkit dari tempat tidur dan menuju meja belajar dan membuka laptop. Kunyalakan lalu kuklik folder bernama “Korea’s Most Exotic Guy” nama yang sedikit norak tapi aku suka :p. Di dalam folder ini masih banyak folder-folder lainnya. Ada folder yang berisikan foto-fotonya ketika tanding basket, foto-fotonya saat di sekolah, foto-fotonya ketika kecil bahkan aku memiliki foto kakaknya dan anggota keluarga lainnya. Ya, aku nyaris menjadi stalker untuknya. Namja ini, Jongin, terlihat begitu misterius dan tertutup membuatku nyaris mati penasaran dalam mencari info tentangnya. Aku ingin tau apa warna kesukaannya, apa music favoritnya, apa hal yang membuatnya senang. Semenjak aku tau Jongin menyukai warna hitam dan biru, baju-bajuku mulai didominasi oleh warna-warna itu. Aku juga mengetahui kekonyolan yang pernah dilakukan oleh Jongin dengan wajah coolnya, bahkan diantaranya aku nyaris tidak percaya karena tidak mungkin seorang Jongin bisa selucu itu. Setiap hal baru yang kuketahui tentangnya membuatku semakin menyukainya, entah baik atau buruk. Kata orang-orang Jongin sedikit bossy, tapi entah kenapa hal itu sangat cocok dengan wajah coolnya, lucu sekali. Dan ketika kutelusuri folder-folder dengan mengarahkan kursor dengan perlahan, kursor-ku berhenti di folder bernama “Korea’s Dancing Machine” folder ini berisi foto-foto dan video Jongin yang sedang menari. Aku baru tahu Jongin adalah seorang dancer yang hebat ketika kami naik ke kelas XI. Tanpa sengaja aku melihatnya berlatih di atap sekolah sepulang sekolah. Saat itu aku kepergok oleh Jongin, kemudian dia memohon kepadaku dengan wajah yang agak cemas agar tidak memberitahukan kemampuannya kepada orang lain. Tanpa sengaja dia juga memgang kedua tanganku ketika sedang memohon. Aku yang speechless dan dengan wajah memerah tentunya, hanya bisa mengangguk untuk merahasiakannya. Rasanya kami memiliki rahasia yang hanya boleh diketahui oleh kami berdua, dan hal ini membuatku senang. Berarti aku ada hubungan khusus dengan Jongin, walaupun hanya sekedar menjaga rahasianya. Dan semenjak itu terkadang aku diperbolehkan melihatnya latihan, walaupun ekspresi wajahnya sangat cemberut. Dan ekspresi wajahnya yang cemberut itu tertangkap oleh kameraku. Dan video-video dance-nya semuanya sedikit buram karena aku selalu mengambilnya secara diam-diam. Jongin tidak pernah mengijinkanku merekamnya. Kulihat jam dinding di kamar, pukul 1 dini hari. Astaga, aku harus cepat-cepat tidur.

 

 

—***—

 

 

“Horeee!! Akhirnya kita lulus!” ucap Hyemi dengan begitu gembira dan matanya mulai berair.

 

“Ya, akhirnya kita…lulus” jawabku sedikit lesu

 

“Yaak, semangat dong! Hidup kita baru dimulai! Coba lihat, hari ini begitu cerah ya walaupun sedikit berawan. Tapi, kita harus tetap semangat!” balas Hyemi berapi-api. Kenapa Hyemi tidak merayakan kelulusannya dengan Sehun? Jawabannya adalah mereka putus ketika naik ke kelas XII, aku tidak tau dan tidak berani menanyakan alasannya karena Hyemi begitu terpukul dengan putusnya hubungannya dengan Sehun. Yang kulakukan hanyalah menghiburnya. Dan suatu ketika Hyemi berkata padaku “Chaerin-ah, you know gravity makes you fall. And sometimes, gravity hurts” akupun hanya terdiam.

 

Lulus artinya meninggalkan sekolah, meninggalkan sekolah berarti kesempatan melihat Jongin nyaris hilang.

 

“Tak bisakah kau kuliah di sini, di Seoul? Tolak saja tawaran appamu untuk kuliah di London” rayu Hyemi sambil menggoyang-goyangkan tanganku.

 

“Kau tau bagaimana appaku Hyemi-ah, tidak mungkin aku diperbolehkan menolak” jawabku sambil sebisa mungkin tidak menangis.

 

“Aissh, masa tidak bisa? Ayolah~ jebal~” kini Hyemi semakin menjadi-jadi

 

“Hyemi-ah sudah kubi-“ kurasakan tetesan air jatuh diatas kepalaku. Aku pun menadahlan tanganku ke atas, hujan.

 

“Hujan! Ayo cepat kita kembali ke dalam gedung sekolah!” tangan Hyemi menarik tanganku dengan terburu-buru.

 

“Iya Hyemi-ah, sab-“

 

Tiba-tiba kulihat Jongin menuju lapangan basket. Hujan-hujan begini? Apakah dia ingin mengucapkan salam perpisahan kepada lapangan basket di tengah hujan? Romantis sekali (“-_-)

 

“Chaerin-ah, ayo cepat~”

 

Park Chaerin, ini adalah kesempatan terakhirmu. Lusa kau sudah harus berangkat kuliah di London, mungkin tidak ada kesempatan lain untuk bertemu Jongin. Inilah saatnya kau mengungkapkan yang harus kau ungkapkan.

 

“Chaerin~~ ayo cep-”

 

“Hyemi-ah, kau duluan saja”

 

“Yak, Park Chaerin!”

 

Aku langsung berlari ke lapangan basket, meninggalkan Hyemi di belakang. Sesampainya disana kulihat Jongin sedang berada di tengah lapangan, bermandikan air hujan.

 

“Ehm, Jongin-sshi” kulihat dia mendongakkan kepalanya yang semula memandangi lantai lapangan basket,ke arahku. Kutarik nafas pelan-pelan.

 

“Apa….apa kabar?” tanyaku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

Terkejut, aku melihatnya tersenyum.

 

“Baik, bagaimana denganmu?”

 

“Err, aku baik juga”

 

“Oh, kalau begitu aku duluan ya” dengan tatapan yang kosong, Jongin hendak melangkah sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya

 

“Jongin-sshi!”

 

Aku berhasil menghentikan langkahnya

 

“Aku….aku akan kuliah di London” jawabku sedikit terbata-bata karena menggigil terkena guyuran air hujan.

 

“Oh… selamat ya” jawabnya sekenanya. Dan dia pun mulai mengambil langkah untuk pergi.

 

“Jongin-sshi!” kali ini dia terhenti lagi

 

“Saranghaeyo! Aku.. sudah menyukaimu sejak lama. Sejak aku bertemu denganmu” ucap ku sedikit berteriak, aku tidak ingin pengakuanku terhalang oleh gemuruh hujan. Sekarang atau tidak sama sekali. Jongin yang berdiri di depanku hanya terdiam. Matanya terkejut, lalu sepasang bibir itu tergerak.

 

“Aku… tau itu” jawabnya dengan… pandangan sedih?

 

“Maukah…maukah kau menjadi namjachinguku?!” jawabku dengan suara sedikit lebih keras. Hujan semakin deras. Lusa aku akan pindah ke benua lain dan dengan mudahnya meminta seseorang menjadi pacarku, gila memang, tapi now or never.

 

“aku…mianhaeyo” jawabnya dengan bibir yang bergetar, dan kuperhatikan sekali lagi, sorot matanya penuh kesedihan sekaligus kemarahan.

 

Aku tak bisa berkata-kata. Aku terdiam di tempat membiarkan hujan mengguyur badanku.

 

“Mianhaeyo, Chaerin-ah” tiba-tiba Jongin berlalu sambil berbisik kearahku, di tengah guyur hujan yang ribut entah mengapa aku masih bisa mendengarnya.

 

“Yaak, Kim Jongin-sshi saranghaeyo!!” aku berteriak tak peduli akan sekitarku. Kini aku membelakangi Jongin dan kurasa Jongin menghentikan langkahnya. Namun di detik berikutnya ketika aku berbalik dia sudah tidak ada. Aku hanya bisa terduduk di lapangan basket yang kini kosong melompong. Tiba-tiba aku merasa hujan tidak lagi mengguyurku. Seseorang memayungiku, itu Hyemi.

 

“Chaerin, ayo kita pulang” dan dengan sigap Hyemi membantuku berdiri.

 

Keesokan harinya badanku demam tinggi. Dan keesokan harinya aku tak lagi berada di Korea.

 

 

#END OF FLASHBACK#

 

 

“….rissa, Clarissa”

 

“Eh, yes, Cindy” jawabku sedikit goyah

 

“Are you day dreaming again?”

 

“No, I’m not. I’m fine” kuulas senyum untuk meyakinkan Cindy, ya aku baik-baik saja.

 

“Oh, ok. Aku ke toilet dulu ya”

 

“Oke” jawabku asal.

 

Kuminum gelas ke-2 capuchino ku. Ku lirik jam tangan, pukul 3 sore kapansih hujan reda? Kembali kuingat saat itu, ketika aku demam Hyemi menceritakan sesuatu kepadaku. Sehun dan Jongin adalah trainee agensi besar, sehingga sudah seharusnya agensinya menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap para trainernya. Mereka juga akan debut sehingga akan menjadi sesuatu yang bermasalah jika artis yang mau debut menjalin hubungan dengan seseorang. Sekalipun sudah debut tidak semudah itu menjalin hubungan dengan mereka. Mereka akan menjadi sangat sibuk, dan jika semakin terkenal maka semakin sulit kau raih. Benar-benar seperti ingin meraih bintang. Hal itulah yang menyebabkan Hyemi dan Sehun berpisah walapupun sebenarnya Sehun masih memiliki rasa terhadap Hyemi. Dan mungkin hal itu juga yang menjadi penghalangku dengan Jongin. Hhhh, mengingat masa lalu di momen seperti ini, hujan deras, terduduk sendiri sambil meminum capuchino benar-benar membangkitkan luka lama. Setahun aku di London, aku menerima kabar bahwa Sehun dan Jongin debut dalam naungan SM Entertainment, salah satu agensi terbesar di Korea, dengan format boyband bernama EXO. Jongin memakai stage name KAI. EXO? Kebetulan sekali aku menjuluki Jongin sebagai Korea’s Most Exotic Guy dan kini ia menjadi bagian boyband bernama EXO di bawah naungan salah satu agensi terbesar di Korea?. Sungguh kebetulan yang lucu. Aku pun hanya tersenyum dan kembali menyeruput capuchino-ku. Padahal aku sudah berusaha melupakan namja itu dengan menyibukkan diri di kampus. Namun, hanya dengan sebuah mimpi, sekelebat sosoknya tadi malam mampu menghancurkan dinding pertahananku yang kubangun mati-matian selama 5 tahun ini.

 

Kling~

 

Kudengar bunyi bel yang terpasang di pintu berbunyi. Aku sedang tidak berminat untuk mengetahui siapa lagi pengunjung yang datang. Aku sudah bosan mengamati pengunjung lain dari pukul setengah dua siang tadi. Sekarang aku hanya ingin menikmati capuchino ku yang asapnya masih mengepul.

 

“Wuaaaah, tempatnya keren”

 

“Aish, Chanyeol hyung berhentilah bersikap norak”

 

“Suho hyung, maknae bersikap tidak sopan padaku~”

 

“Sehunna, jangan terlalu kejam terhadap hyungmu”

 

Tunggu dulu, aku merasa familiar dengan bahasa yang mereka gunakan, ini…… bahasa korea. Apakah tadi mereka menyebut nama Sehun? Sehunna? Aku pun menolehkan kepalaku ke arah mereka.

 

“Ya, Suho hyung, memang kenyataannya Chanyeol hyung yang norak, chanyeol hyung terla—Park….Chaerin-sshi?!”

 

Ya, benar. Itu memang Oh Sehun, Sehun yang tak sengaja melemparkan bola basketnya ke Hyemi, Sehun yang merupakan mantan Hyemi, Sehun yang merupakan sahabat karib dari Kim Jongin. Dan tepat di samping Sehun ada namja itu, Kim Jongin. Kulihat Jongin juga terkejut seperti Sehun dan bisa kubaca dari gerak bibirnya,

 

Park Chaerin

 

 

……Tuhan, tolong aku.

Iklan

46 pemikiran pada “Lovexotic

  1. Berkali kali baca ini dan berharap ada sequel yang menanti untuk dibaca… Author punya web gak? Kalo ada minta dong,, *puppy eyes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s