One Year Later

One Year Later

Title                 : One Year Later

Author             : Kim Eun Soo

Main Cast        : Xi Luhan, Kim Chaerin (OC)

Genre              : Romance

Length             : Ficlet (900 words)

Rating              : General

Disclaimer       : All casts in this ff are belong to God, except Kim Chaerin. Plotnya murni punyaku, this fanfic is inspired by one of my favourite song: Onew ft Jessica – One Year Later J

A/N                  : Annyeong yeoreobeun! Author balik lagi ^^ Fanfic ini adalah percobaan kedua setelah ficlet yang pertama terlalu panjang dan akhirnya jadi oneshot. Sorry for any typo(s) ._.

Summary         : “Masihkah Kau ingat pada janjiku setahun yang lalu di pantai ini?”

 

Happy Reading! Don’t be silent readers ~ RCL 😀

 

Author POV

Seorang yeoja dengan tubuh semampai mulai menapakkan kakinya di atas pasir putih yang membatasi lautan dan daratan. Dress putih selutut yang dikenakannya bergerak-gerak diterpa angin sepoi sore hari itu. Rambut hitamnya juga ikut menari-nari bersama angin yang berhembus. Ia sesekali bersenandung pelan, seakan ingin memamerkan suara malaikatnya kepada para ombak yang tengah bergulung-gulung di lautan menuju ke tepian pantai.

Yeoja itu menghentikan langkahnya kemudian berjongkok, sepasang mata indahnya memperhatikan seekor anak penyu yang tengah kesulitan merangkak menuju ke laut. Ia tersenyum manis, menikmati pemandangan menakjubkan yang sangat jarang dilihatnya. Manik matanya tidak beranjak sedetik pun dari mahakarya Tuhan itu.

Perlahan, yeoja itu mengulurkan tangannya dan mengangkat sang anak penyu. Ia berjalan mendekat ke laut dan melepaskan anak penyu itu hati-hati.

Yeoja berparas manis itu tertawa renyah kemudian bediri. Ia menatap ke arah muara sungai yang berhiaskan ombak di hadapannya dengan pandangan menerawang, seolah mencoba untuk mencari ujung laut itu. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha sekuat tenaga menahan cairan bening yang akan segera keluar dari matanya yang berkaca-kaca.

Ia tersenyum samar lalu merentangkan kedua tangan, merasakan belaian angin yang menyelimuti dirinya beserta bulir kristal yang luruh di pipinya. Ia memejamkan mata, menikmati semua rasa yang berpadu menjadi satu di hatinya.

Selesai menumpahkan seluruh perasaannya, yeoja itu duduk memeluk lutut di pinggir pantai. Diamatinya pemandangan di sekeliling sekaligus memutar kembali seluruh memorinya di pantai itu yang telah terekam dengan baik di benaknya.

Setiap memori itu membangkitkan rasa rindu yang telah lama bersemayam di hatinya serta membuat rindu itu semakin terasa membuncah di dada. Rindu itu kemudian mulai merambati setiap sel-sel di tubuh sang yeoja, membuat setiap sarafnya mati rasa dalam sekejap mata.

Sisa-sisa ombak yang menghantam kaki yeoja itu membawanya kembali ke masa kini. Ia menghela napas berat kemudian bangkit dan mulai melangkah ke arah karang-karang yang berdiri dengan kokohnya di salah satu ujung pantai meski dihempas ombak besar. Ia menikmati setiap belaian pasir lembut yang mengenai kaki telanjangnya, sedang tangan rampingnya menyibakkan poni yang menutupi dahi putihnya ke belakang.

Senyum yeoja itu mengembang kala tubuhnya telah berada di depan salah satu karang yang menyimpan begitu banyak kenangan miliknya bersama seorang namja. Namja yang teramat dicintainya hingga sekarang. Ia mengusap permukaan karang yang mulai terkikis itu lalu memejamkan mata, mencoba mereka ulang semua kenangan yang pernah diukirnya bersama namja spesial itu.

“Tidak kusangka Kau masih suka mendatangi pantai ini.”

Yeoja itu tersentak, wajah kagetnya belum juga memudar meski beberapa menit telah berlalu.

Suara itu. Ia begitu merindukan suara itu, tapi ia lebih rindu lagi pada namja pemiliknya. Namja yang berhasil mencuri hatinya dan membawanya pergi selama setahun terakhir.

“Chaerin-ah? Kau tidak lupa padaku kan?”

Suara itu terdengar lagi, tapi yeoja bernama Chaerin itu tetap saja diam. Sedetik kemudian ia memejamkan matanya dan menggeleng pelan, masih tanpa menoleh ke arah sumber suara.

Namja itu terkekeh pelan saat Chaerin tidak juga berbalik menghadapnya. Tetapi hal tersebut tidak sedikit pun merubah aktivitas kedua bola matanya yang hitam kelam untuk senantiasa terfokus pada sosok Chaerin, yeoja yang berhasil menyita seluruh pikirannya ketika namja itu telah meninggalkan Seoul sejak setahun lalu.

***

“Kau ingat janjiku padamu setahun yang lalu di pantai ini?”

“Tentu saja aku ingat. Kau bilang Kau ingin menyampaikan rahasia terbesarmu padaku kan? Apa itu, Luhan Oppa?” Chaerin menatap namja di sampingnya dengan sorot mata lembut yang sarat akan kerinduan.

“Kau benar-benar ingin tahu?” Luhan memandang Chaerin yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu namja itu penuh kasih sayang, kemudian disentilnya hidung mancung Chaerin pelan.

“Ya! Kau sudah janji mau memberitahuku, Oppa!” sungut Chaerin lalu meletakkan dagunya di antara kedua lutut.

“Arasseo.” Luhan menarik napas pelan dan mengeluarkannya. ”Mmm… saranghae, Chaerin-ah.”

Chaerin refleks mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat sempurna, terlalu tidak percaya dengan indra pendengarnya sendiri.

“N-ne? Lu-luhan Oppa, it’s not funny at all,” jawab Chaerin terbata-bata setelah berhasil mengontrol jantungnya yang sejak semenit lalu berdegup lebih cepat.

“I’m serious, Chaerin-ah.”

Chaerin memalingkan mukanya yang mulai dirambati semburat merah. Darahnya berdesir, degup jantungnya tidak lagi bisa dikendalikan, frekuensi detak nadinya meningkat drastis.

Belum juga Chaerin sanggup membalas perkataan Luhan, namja itu kembali berceloteh, “Oh, I have another important secret to tell you!”

Chaerin berpaling ke arah Luhan lalu merespon perkataannya meski sedikit tergagap, “W-what’s that?”

Luhan tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah yeoja cantik yang duduk dengan manis di sampingnya. Namja itu memegang dagu Chaerin, dan dengan perlahan mengucapkan sebaris kalimat yang telah dipendamnya sejak lama. “Sejak pertama kali bertemu denganmu setahun lalu, aku selalu ingin menjadikanmu yeojachingu-ku, Kim Chaerin.”

“Ne?” Mulut Chaerin otomatis membentuk huruf ‘O’ dengan sempurna. Ia memandang Luhan yang sedang tersenyum manis di hadapannya tidak percaya.

END

Otte readers? Bagus atau nggak? Gantung banget ya? Yah, begitulah author Eunsoo kekeke~ *evil laugh* You better RCL then *author maksa* Love you readers ({})

Iklan

19 pemikiran pada “One Year Later

    • Mianhae, yg ini emang uda dari sononya tidak mempunyai (?) sequel *yaoloh bahasanyaa -___- kkk~ #plakk ^^v
      Anyway, gomawoyo 😀

    • Ficlet ini sweet? Jincha? Sweet darimanaaa? -__- prasaan gaada sweet-sweet nya sama sekali deh~ tapi gomawooo 😀
      Hehe, hanbeon gomawo 😀

    • Hehe itu soalnya author takut kepanjangan. Berhubung ficlet, jadi emang sengaja digantungin gitu ceritanya *eh #plakk ._.v
      Well, gomawoyo 😀

    • Emang sengaja digantungin kok ceritanya #plakk ._.v
      Whoa gomawoyooo 😀
      Gaada sequel buat ini ficlet untuk sekarang. Mianhae *bowbow* 😦

  1. mwo? –a
    dari atas ke bawah feel nya beda thor.. yg sebelum tanda *** maksudnya, yang atas teh bahasaanya ngalir bagus penuh majas gitu jadi feel nya beda,
    nah yg luhan mulai ngmg ‘apa kau ingat janji ….’ itu feel nya beda jadi ga kerasa lagi, soalnya yg satu kesannya serius banget tp begitu chaering ngomong jadi childish banget efeknya .____.v
    but it’s nice, ditunggu tulisan yg lain ~ 🙂

    • Ne~ author tau kok 😦 emang abisnya tanda *** itu author singkat sesingkat mungkin, karna takut kepanjangan buat batesnya ficlet. Jadinya gitu deh -.-
      Kalo masalah yg mulai Chaerin ngomong jadinya childish, itu sih nalurinya author aja ._.v
      Ne~~ gomawoyo 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s