I Refuse to Lose You! (Chapter 1)

I Refuse to Lose You!

 

Author            : @kim_mus2

Note                : Sequel of HMH: Luhan Version

Main Casts      : Luhan & Myung Hee

Length             : Multi Chapter (Prediction: 3 Chapters)

Genre              : Romance, Comedy, School Life

Rating             : PG-15

Summary        : No matter how hard to reach you, I will never give up on you.

Disclaimer      :

Ide cerita FF ini murni 100% hasil imajinasi author saat sedang nongkrong di suatu tempat yang penuh inspirasi 😛

Author’s Talk :

FF ini author persembahkan buat para readers setia Half of My Heart The Series, terutama yang udah nyemangatin author buat bikin sequelnya versi Luhan. Gomawoo chingudeul… and enjoy your reading yoo 😀

=♡♡♡=

MyungHee’s Side

Aku rasa akulah yeoja paling beruntung di dunia ini. Tahu kenapa? Sekali saja melihat namja di sampingku ini, semua orang pasti terbius dengan ketampanan dan keimutan wajahnya. Dia namjachinguku. Satu-satunya namja yang paling sempurna di hatiku. Namja yang selalu membuatku tersenyum hanya dengan memandang wajahnya. Namja yang selalu mampu membuat hatiku tak hentinya berbunga-bunga setiap kali mengingat semua tentangnya.

Walau awal pertemuanku dengannya mungkin adalah hal yang tak sempurna, aku sangat bersyukur karena Tuhan telah memberiku kesempatan untuk pernah memilikinya. Entah sampai kapan kebahagiaan ini akan bertahan. Aku tak pernah tahu dan tak pernah ingin tahu. Yang ingin aku ketahui saat ini hanyalah, apakah dia benar-benar mencintaku?

Aku bertanya-tanya tentang hal itu, bukan karena aku tak pernah mendengar kata cinta dari bibirnya, atau karena tak lagi mendapatkan peluk dan cium darinya. Yang membuatku mulai bimbang adalah, sikapnya yang seperti tak nyaman berada di sisiku.

Aku mungkin bahagia bisa bersama dengannya. Tapi, jika ia terpaksa bersamaku, sebaiknya aku sudahi saja semua ini. Aku tak ingin menyakiti Luhan oppa dengan terus berada di sampingku.

=♡♡♡=

Author’s Side

“Oppa… kita mau melakukan apa sepulang sekolah nanti?” tanya Myung Hee semangat ketika Luhan datang menjemputnya untuk pergi ke sekolah.

“Eopseo” jawab Luhan singkat.

“Apa kita akan mampir ke café Kris oppa lagi?”

“Ne…”

“Kalo hari minggu nanti?” sambung Myung Hee.

“Seperti biasa” lagi-lagi Luhan menjawab dengan singkat sambil terus berjalan meninggalkan Myung Hee.

“Chankanman oppa, arasseo… arasseo… aku tunggu ne… hari minggu nanti!” teriak Myung Hee sekuat tenaga sambil berlari mengejar Luhan.

“Oppa, aku ingin kau bahagia bersamaku” gumam MyungHee pelan saat keduanya telah berjalan sejajar.

“Mwo?” tanya Luhan penasaran.

“Ani… ani oppa… bukan hal penting ko” tukas Myung Hee sambil tersenyum canggung.

~Bruuukkk~

“Awww!” MyungHee terjatuh tak waspada dengan batu kecil yang ada di hadapannya, karena terlalu banyak hal yang menguasai pikirannya.

“Aish jinjja! Kau selalu saja seperti ini” ujarnya sambil membantu Myung Hee bangun dan membersihkan debu di rok yeojachingunya itu.

“Mianhaee oppa…” balas Myung Hee sedikit terisak.

Perlakuan Luhan yang seperti ini selalu berhasil membuat Myung Hee semakin ingin terus bersamanya. Tapi, kali ini sikap Luhan itu membuat hati Myung Hee semakin perih karena ia sudah memutuskan untuk menjauhi namja yang dicintainya itu.

=♡♡♡=

Myung Hee’s Side

Beginilah kebiasaanku dengannya di hari minggu pagi. Setelah asyik melakukan jogging, kami akan pergi ke sebuah bukit kecil di dekat rumah Luhan oppa kemudian duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil melihat pemandangan hijau di bawah sana.

Suasana di tempat ini sangat menentramkan jiwa. Semilir angin yang menyapu rambut panjangku dan sensasi dinginnya saat menyentuh kulitku, kicauan burung yang riang bak mendendangkan melodi bahagia dan hamparan rumput hijau dihiasi bunga warna-warni yang menebarkan wewangiannya, benar-benar memanjakan semua inderaku.

Tapi bagiku, pemandangan yang paling sempurna adalah namja yang ada di hadapanku ini, Luhan oppa.

“Oppa… sedang baca buku apa?”

“Ini buku tentang atom dan tenaga nuklir, kau tidak akan suka”

“Aku suka ko oppa, aku mau ikut baca ya…”

“Shireo! Kau bermainlah sepuasmu! Setelah ini aku akan belajar untuk ujian akhirku, jangan menggangguku.”

“Baiklah oppa.”

Seperti inilah hubunganku dengan Luhan oppa. Keberadaanku hanya menganggunya. Aku tak ingin membuatnya kesal lebih lama lagi.

Cuit… cuit… cuit…

Aah… sepertinya ada telur burung yang baru menetas. Aku ingin sekali melihatnya, pasti burung itu sangat lucu hohoho, akan kupanjat pohon ini.

Tap… tap… tap…

Akhirnya sampai juga di atas pohon. Wuaahhh… bayi burungnya ada tiga. Aigooo… kyeopta!

“Annyeong! Kalian lucu sekali… oiya dimana ibu kalian? Kenapa dia meninggalkan kalian sendirian?”

Cit… cit… Sang eomma tiba di salah satu pohon dengan memasang wajah garang dan bersiap terbang ke arah Myung Hee.

Tuk… tuk… tuk… Burung itu mematuk kepala Myung Hee sebagai aksi balas dendamnya pada manusia yang yang mengganggu anaknya itu.

“Awww! Hentikan! Appo! Aaaaaahhhh….”

Bruuukkk

“YAA!  Lee Myung Hee! Apa yang kau lakukan?! Kalau tidak ada aku disini, kau pasti terjatuh ke lembah!” bentak Luhan pada Myung Hee ‘yang kini terduduk di pangkuannya dengan ekspresi kaget dan ketakutan.

“Mianhae oppa… jeongmal mianhae… hiks… hiks… aku janji, aku tidak akan membuat oppa mengkhawatirkanku seperti ini lagi” Myung Hee sedikit terisak karena bentakan Luhan tadi.

“Sekarang, diam dan duduklah di sampingku!” perintah Luhan.

“Ne…”

Aku tak bisa menahan rasa kantukku jika terus berdiam diri tanpa aktivitas seperti ini. Betapapun indahnya mahluk yang ada di sampingku ini, rasa kantukku menggugurkan tekadku untuk tetap terjaga.

….

….

….

Tertidur di tempat seperti ini ternyata memang nyaman. Tangan siapa ini? Tangan ini seperti tangan eomma, aku senang ada yang membelai rambutku. Nyaman sekali.

Apa ini tangan Luhan oppa? Benarkah? Oppa… kau membelai rambutku? Apa kau menyayangiku oppa?

Ya Tuhan… bolehkah aku sedikit egois? Setidaknya untuk saat ini, izinkan aku merasakan kebahagiaan bersamanya, sebelum aku benar -benar harus berhenti mencintainya.

=♡♡♡=

Author’s Side

Acara kelulusan siswa kelas tiga sudah semakin dekat dan sudah menjadi kewajiban para anggota OSIS untuk segera menyiapkan acara perpisahan untuk para sunbaenya itu. Myung Hee yang merupakan orang terpenting di kepengurusan organisasi siswa itu tentunya menjadi orang yang paling sibuk.

Setiap pulang sekolah, yang dikerjakannya hanyalah rapat bersama anggota lainnya atau melakukan pembicaraan serius tentang teknis pelaksanaan, pendanaan dan lain sebagainya dengan wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Ia berharap, setiap waktu yang ia gunakan untuk kesibukannya itu akan mengikis setiap perasaan yang ia miliki untuk Luhan.

Bukan hanya dengan menghanyutkan diri pada urusan OSIS, Myung Hee juga mengurangi frekuensi kontak dengan Luhan. Ia sudah tak pernah mengirim SMS ataupun menelpon. Apalagi pergi dan pulang sekolah bersama, semua itu sudah tak pernah mereka lakukan selama satu bulan ini. Setiap bentuk kontak langsung dengan pun Luhan akan selalu ia hindari tapi tidak untuk kali ini, karena Luhan mulai sedikit bertindak.

“Myung Hee!” panggil Luhan sambil menarik tangan kanan Myung Hee.

“Aah oppa, annyeong…” Myung Hee hanya menyapa Luhan sambil menyunggingkan senyuman tipisnya dan langsung melepas genggaman Luhan di tangan kanannya. Myung Hee berlari sekencang-kencangnya menuju kelas, berharap Luhan tak berhasil mengejarnya.

Luhan’s Side

Myung Hee, ada apa denganmu? Kenapa kau menjauh dariku? Apa kau membenciku? Aku memang bodoh, bahkan terlalu bodoh sebagai seorang namjachingu. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya membahagiakanmu. Aku tak mengerti, apa yang harus aku lakukan saat kita bersama? Aku terlalu gugup saat bersamamu.

“Myung Hee, kenapa kau murung sekali hari ini?” tanya Chaerin yang sedang tertunduk lesu di kursinya.

“Aah… Chaerin-aah, animnida, aku hanya sedang memikirkan konsep untuk acara malam perpisahan.”

“Kau pasti bohong! Aku yakin kau sedang memikirkan hal yang lain. Urusan OSIS tak pernah membuatmu kehilangan semangat seperti ini, marebwha Myung Hee-aah… jebal…”

“Hahaha… kau ini sok tahu sekali Chaerin-aah. Aku…  aku hanya…” Myung Hee tak dapat lagi membendung tangisannya dan itu sontak membuat Chaerin panik dan langsung memeluk sahabatnya itu.

“Ini pasti gara-gara Luhan oppa kan? Aish… namja itu memang sangat egois! Sama saja seperti adiknya, menyebalkan! Kembalilah menjadi Myung Hee yang periang seperti dulu, jangan seperti ini, kumohhon….”

Tangisan Myung Hee semakin menjadi setelah mendengar kata-kata Chaerin. Apa benar, kau menangis karenaku Myung Hee? Aku memang selalu jahat padamu, aku tak pantas bersamamu. Kau gadis yang periang, kehadiranku hanya akan membuatmu selalu menangis seperti ini. Maafkan aku Myung Hee.

=♡♡♡=

Author’s Side

Malam perpisahan kelas tiga sudah dimulai di Eternal Love Café milik Kris. Semua sunbae Myung Hee berdatangan dengan mengenakan pakaian formal sambil menggandeng pasangannya masing-masing. Meskipun ini adalah acara untuk siswa kelas tiga yang telah lulus ujian, Myung Hee sebagai ketua OSIS tentunya wajib hadir untuk membuka acara ini.

Malam ini Myung Hee sedikit kecewa, karena dia tahu benar kalau Luhan tak suka keramaian seperti ini. Kemungkinan Luhan datang ke pesta ini terlalu kecil. Tapi, Myung Hee tetap berharap keajaiban itu akan datang karena jujur dari dalam lubuk hatinya, Myung Hee sangat merindukan Luhan.

Nasib Myung Hee sangat tragis malam ini. Ia hanya dibutuhkan untuk memberi sambutan,  lalu setelahnya, semua orang berpencar meninggalkannya, tak terkecuali sahabat karibnya, Chaerin. Yeoja itu terlihat sangat bahagia bercanda bersama Sehun, kekasihnya.

Saat semua orang sedang asyik bercengkrama bersama sahabat dan pasangannya, Myung Hee hanya duduk sendiri di bangkunya sambil sesekali mengisap Mochaccino miliknya. Yeoja ini tahu benar kalau kebosanan yang ia hadapi saat ini akan membuatnya mengantuk dan Mocachino di tangannya kini adalah satu-satunya senjata ampuh untuk melawan rasa kantuknya itu.

“Aaarrgghh… Mocha-nya sudah habis, aku mulai mengantuk lagi. Ya Tuhan, kapan orang-orang ini pulang sih? Apa aku pulang duluan saja ya? Ah… andwaee… aku kan ketua OSIS, aku harus menghadiri acara ini sampai selesai. Kenapa berat sekali sih jadi ketua OSIS? Menyebalkan!” racau Myung Hee sambil mengaduk Mocha miliknya dengan kasar.

“Ibu ketua OSIS, boleh aku minta Mocha milikmu?” tanya seorang namja imut nan tampan yang duduk di depan Myung Hee.

“Oppa… bogoshippeoyoo… hmmpphh” Myung Hee langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.

Luhan hanya menunjukkan senyuman

“Aku mau pulang dulu oppa, annyeong!” Myung Hee bangkit dari posisi duduknya dan segera membalikkan badannya dari Luhan untuk segera pergi dari café itu. Tapi sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Myung Hee, membuat punggungnya beradu dengan dada bidang milik sang namja. Semua itu berhasil menahan langkah Myung Hee. Tubuhnya kini terpenjara dalam dekapan orang yang paling ia rindukan.

“Myung Hee, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku mohon, untuk malam ini, jadilah yeojaku yang dulu lagi, yang selalu tersenyum dan riang gembira walau apapun yang terjadi.” Ucapan Luhan menggema di telinga Myung Hee bagaikan sebuah mantra sihir yang mampu melunturkan semua tenaganya untuk menjauhi namja itu.

Dengan perlahan, Myung Hee membalikkan badannya untuk menatap Luhan. Tapi, usahanya itu sia-sia saja. Hanya beberapa detik ia menatap mata Luhan, air matanya malah mengalir dengan sendirinya.

“Kenapa kau menangis Myung Hee? Wajah cantikmu nanti jadi jelek.” Luhan mencoba menyeka air mata  di wajah Myung Hee dengan lembut.

“Gwaenchanayo oppa…”

“Myung Hee, musik yang sedang mengalun ini sangat indah kan? Maukah kau memeluku?“ tanya Luhan sambil menatap mata Myung Hee dalam.

“Kenapa harus pelukan oppa?” tanya Myung Hee sedikit bingung dengan kelakuan namjachingunya yang tidak biasa itu.

“Aku ingin berdansa sambil memelukmu, jebal… untuk kali ini saja Myung Hee.”

“Ne… oppa!” jawab Myung Hee sambil tersenyum.

Grep

Myung Hee… aku ingin selalu berada di sampingmu, membahagiakanmu dan memelukmu seperti ini. Tapi, aku sadar, lelaki pecundang yang bahkan tak bisa mengungkapkan perasaannya sepertiku ini tak pantas bersanding denganmu. Kau harus hidup bahagia tanpaku. Aku yakin kau bisa menjadi Lee Myung Hee yang ceria seperti dulu lagi.

=♡♡♡=

Jam dinding di kamar bercat hijau muda itu menunjukkan pukul 9 pagi. Myung Hee tertidur pulas karena lelah berada di pesta sampai larut malam. Saking mengantuknya tadi malam, ia bahkan tak menyadari sejak kapan ia berada di atas kasurnya. Yang ia ingat hanyalah betapa bahagianya ia karena bisa kembali memeluk namja yang paling dicintainya.

Gadis ini benar-benar enggan keluar dari selimut hangatnya kalau saja sebuah panggilan telepon tak mengabarinya sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Yeoboseyo… “

“Myung Hee-aah… itu…”

“Itu apa? “ tanya Myung Hee penasaran.

“Luhan oppa pergi ke Jepang, ia mendapat beasiswa kuliah di Universitas Tokyo, sebentar lagi dia akan terbang ke Jepang! Ppalli!”

Tanpa pikir panjang, Myung Hee langsung bersiap dan akhirnya ia pergi hanya dengan mengenakan kaos biru muda dan rok putih, tak lupa membawa tas kecil putih favoritnya. Sesampainya di bandara, Myung Hee berlari ke segala arah mencari keberadaan Luhan. Myung Hee terus berlari sampai akhirnya dia menemukan sosok yang dicarinya.

Myung Hee membungkuk sambil berusaha mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan. Kemudian ia tegakkan badannya dan mencoba menepuk bahu namja yang sedang membelakanginya itu.

“Luhan oppa…” panggil Myung Hee dengan suara pelan.

Namja itu menoleh dan menatap Myung Hee iba.

“Myung Hee… ini aku Sehun.”

“Ah aku kira kau Luhan oppa, habisnya kamu mengenakan jaket Luhan oppa.”

“Mianhae… Myung Hee, kau terlambat, dia sudah pergi.”

“Ah… arasseoyo… seharusnya aku tak usah datang kesini, aku terlalu percaya diri dengan sikap oppa tadi malam. Harusnya aku tak terlalu banyak berharap, sebenarnya Luhan oppa tak mencintaiku kan? Makanya dia tak bilang akan pergi meninggalkanku, iya kan Sehun?” jawab Myung Hee panjang lebar sambil menahan tangisnya.

“Myung Hee-aah… “

“Waeyo? Aku tidak apa-apa, aku akan pulang sekarang Sehun-aah….”

“Ani… tali tasmu copot…”

“Aish… aku benar – benar sial, semuanya selalu tak pernah berpihak padaku.”

“Myung Hee-aah…”

“Waeyo Sehun-aah?” Jawab Myung Hee lesu.

“Kaosmu masih ada label harganya,” ujar Sehun polos.

Kali ini Myung Hee sudah ingin sekali menangis, matanya sudah mulai berkaca-kaca dan akhirnya cairan bening itu pun membasahi pipinya. Sehun yang tak tega melihat ekspresi di wajah Myung Hee langsung memutar otak cerdasnya.

“Myung Hee-aah, jangan menangis lagi. Aku punya sesuatu untukmu.”

“Buku agenda? Untuk apa buku ini?”

“Bacalah! Nanti kau akan tahu.”

“Ini milik Luhan oppa?”

“Ne… aku mencurinya tadi malam. Soalnya aku penasaran, dia jadi jarang sekali curhat padaku sejak ada buku ini.”

“Gomawoo Sehun-aah…” Senyum pun kembali mengembang di bibir Myung Hee.

TBC

Preview:

“Aniya… dia hanya hoobaeku waktu SMA”

”… oppa… kau tak perlu repot lagi menghadapiku yang pembawa sial ini…”

“Perkenalkan, dia adalah tunanganku…”

50 pemikiran pada “I Refuse to Lose You! (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s