Sweet Child Memories (Chapter 1)

Sweet Child Memories (Part 1)

Author:                Kang Min Young

Genre:  Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Do Kyungsoo (D.O EXO-K)

Park Minhwa (OC)

Length: Multichapter

Annyeong^^ ff ini terinspirasi dari sebagian novel ‘Separuh Bintang’ sama setengahnya lagi imajinasi isengnya author. Maaf ya gaje ato garing juga lagian sering iseng nulis ff tapi ga pernah dipublish dimanapun. Mohon RCLnya readers J kalo  mau kenal author, follow twitter ya @kiraanniio ^^ oia rekomendasi kalo mau baca ff ini sambil dengerin lagu:

–          Taylor Swift – Back To December

–          Avril Lavigne – I’m With You

–          Avril Lavigne – Innocence

Gomawo ^_^

_____________________________

Di pinggir sungai Han yang tenang, seorang gadis duduk mematung memandangi jemabatan yang dipadati oleh kendaraan. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Gadis itu masih mengenakan pakaian sekolah dan sekarang masih jam 08.00 KST. Gadis itu membolos dari sekolah. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit.

“Minwoo oppa…..” Gumamnya.

Setetes air mata mengalir di pipi putih gadis itu. Senyum tipis menghiasi wajahya yang sendu. Gadis itu menarik kedua kakinya, menekuknya, dan memeluk kedua kakinya. Kepalanya masih menengadah ke arah langit.

“Minwoo oppa…..Minhyuk oppa…..bagaimana kabar kalian di atas sana? Di balik awan sana, pasti kalian baik baik saja. Oh iya, apa kabar appa? Aku yakin kalian menjaga appa dengan sangat baik.” Gumam gadis itu. Pelukan di kedua kakinya makin erat.

“Minwoo oppa, aku begitu merindukanmu, merindukan Minhyuk oppa, merindukan appa sampai dadaku terasa sangat sakit. Sampai aku tidak bisa bernafas. Tapi aku bisa apa? Kita takkan pernah bisa bertemu lagi kan oppa?”

Senyumnya belum hilang dari wajah gadis itu. Air matanya semakin deras mengalir di pipi gadis itu. Penat, lelah, kesedihan yang dirasakan gadis itu akan kehidupan yang tak diinginkan oleh semua orang. Termasuk gadis itu. Tapi, inilah yang dinamakan takdir. Gadis itu tidak dapat menghindarinya. Ia menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di atas kedua tangannya yang terlipat. Ia memejamkan matanya perlahan dan sejenak itu juga ia terlelap.

Memasuki dunia mimpi yang maya dan menyenangkan. Tak ada penderitaan, penyesalan, dan kesedihan disana. Hanya ada kebahagiaan disana. Sayangnya semua itu hanya sementara. Gadis itu membuka matanya perlahan. Ia kembali lagi ke dunia nyata yang tidak menyenangkan. Sebenarnya ia tidak ingin bangun lagi dan tetap di dunia yang indah itu. Rasanya tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.

Sudah 5 jam gadis itu terlelap disana tapi seperti terasa singkat sekali. Angin semilir yang menyejukkan menambah ketenangan di antara hamparan rumput yang hijau. Gadis itu membenarkan kembali posisi duduknya. Setelah itu, gadis itu mengusap pelan matanya dan mengusap pipinya menghilangkan bekas airmata di pipinya. Jejak air mata masih terlihat jelas disana.

And it’s so because of you~ and it’s so because of you~

Ponsel gadis itu berbunyi, lagu Ne yo berbunyi keras sehingga gadis itu terkejut. Ia meraih tasnya, membuka resleting depan tas itu, dan mengeluarkan ponselnya dari sana.

“yoboseoyo” jawab gadis itu dengan suara parau.

“Minhwa-ya, kau tidak masuk sekolah ya?”

“oh kau Kyungsoo-ah. Ne”

“pantas kau tidak kelihatan di sekolah. Kau dimana?”

“di tempat biasa”

“baiklah, tunggu disana. Aku akan menjemputmu.”

Klik. Sambungan terputus.

Gadis itu menghela nafas berat. Ia menegakkan kepalanya dan melihat sekitar. Setelah semua terlihat baik baik saja, ia bangkit sambil menggendong kedua tali tas di pundaknya. Ia membenarkan kembali seragam sekolahnya yang agak kusut. Gadis itu memutuskan untuk pergi ke arah halte dan menunggu disana.

Minhwa POV

Aku beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Tempat dimana aku bisa menyejukkan mata, hati, dan pikiranku. Menghilangkan penatku untuk sementara. Sejak aku kecil kalau aku merasa sedih atau merasa kesal dan marah pada seseorang, aku akan meluapkannya semua disini. Berteriak semauku. Menangis sesukaku. Melepas segala emosi yang meluap di dadaku.

Termasuk ketika aku merindukan Minwoo oppa, Minhyuk oppa, dan appaku. Tempat ini sungguh berarti bagiku. Aku tetap melangkahkan kakiku ke arah halte bus yang sudah tidak terpakai lagi. 2 langkah  sebelum aku sampai ke halte ini, langkahku terhenti sejenak. Sebuah mobil menghampiriku Jendela mobil itu bergerak turun dan menampakkan jelas siapa pemilik mobil tersebut. Aku menoleh dan tersenyum kecil pada si pemilik mobil tersebut. Do Kyungsoo si pemilik mobil itu.

Dia keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiriku. Aku berjalan berdampingan dengannya menuju halte. Aku dan dia duduk di bangku halte tersebut. Dia tersenyum melihatku. “hai Minhwa-ya” Aku hanya tersenyum kecil membalas sapaannya. Aku menunduk ke bawah dan memainkan kakiku disana.

“kau kenapa disini? Kenapa tidak sekolah?”

“hmm ani. Aku hanya merasa bosan jadi aku membolos. Boleh kan sekali saja aku tidak masuk sekolah?” jawabku pelan.

Dia mendengus kecil dan tersenyum kembali. “kau bohong, Minhwa-ah”

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Memang aku berbohong padanya. Dia terlalu mengerti aku. Malah dia lebih mengerti aku daripada diriku sendiri.

“kau bohong. Terlihat dari matamu. Ada apa? Jung ahjumma berbuat apa padamu? Apa karena tadi malam? Mianhae, jeongmal mianhae. Jika saja aku……..”

“ani. Bukan karena dirimu Kyungsoo-ah, bukan karena eommaku juga. percayalah padaku.”

Kupotong pembicaraannya. Memang alasanku membolos hari ini karena eomma. Hanya karena kesalahan kecil tadi malam. Sebenarnya bukan salah Kyungsoo. Salahku sendiri. Aku pulang terlambat tadi malam setelah eomma sampai di rumah duluan daripada aku. Aku hanya berniat mencari udara segar sebentar di luar. Saat di jalan, aku bertemu Kyungsoo. Dia mengajakku makan malam di luar. Tentu saja setelah mendengar bunyi berisik dari perutku.

Aku belum makan dari pagi hari itu. Aku dan Kyungsoo menikmati makan malam itu dengan obrolan dan tawa yang tak kunjung berhenti sampai aku lupa dengan waktu. Saat aku menyadarinya, tanpa memperdulikan Kyungsoo yang terus menerus memanggil diriku, aku langsung berlari menuju ke rumah. Sampai di rumah, pintu rumahku terkunci padahal eommaku sudah berada di dalam rumah.

Aku tahu percuma saja jika aku meminta eomma membukakan pintu rumah untukku dan menggedor gedor pintu rumahku. Bukan pintu rumahku yang terbuka, malah nanti tetanggaku yang akan datang memprotesku karena membuat kegaduhan di malam hari. Dan tambahan omelan pedas dari eomma.

Aku memutuskan untuk duduk di teras rumah. Kupikir aku akan tidur di luar lagi malam ini. Saat aku sedang menggigil kedinginan, sebuah motor sport hitam tiba tiba saja terparkir di depan pagar rumahku. Kyungsoo datang ke rumahku. Dia melepaskan jaket tebal yang ia kenakan dan mengenakkannya ditubuhku.

Tubuhku yang tadinya menggigil karena kedinginan sekarang terasa  menghangat. Tak terasa mataku panas dan air mata sukses jatuh mengalir di pipiku. Lengan Kyungsoo merangkul pundakku dan tangannya menyandarkan kepalaku agar bersandar di pundaknya.

“tenanglah Minhwa-ah, aku disini. Jika kau ingin menangis, menangislah di pundakku” katanya sambil tersenyum menenangkanku.

“gomawo Kyungsoo-ah. Mianhae karena telah merepotkanmu” kataku sambil terisak.

“kau tak pernah merepotkanku Minhwa-ah” katanya sambil sesekali mengusap pelan rambutku.

Mengalirkan kehangatan padaku. Rasanya nyaman dan tenang sekali di tengah kegelapan malam yang dingin ini. Di tengah ketenangan itu, pintu rumahku tiba tiba saja terbuka dan sepasang tangan menyeretku paksa ke dalam rumah. Tanganku terasa sangat sakit sekali ditarik oleh orang itu. Han ahjussi  menarikku paksa.

“YA! Kau Minhwa-ya! Cepat kau masuk ke dalam! Kau benar benar keterlaluan, memalukan diriku saja. Bukannya menjaga rumah, malah keluyuran malam malam seperti ini. Kau pikir kau ini namja hah?! Malah kau merepotkan orang lain menyuruh temanmu datang ke rumah. Kau pikir kau ini orang penting sekali hah?!” bentak eommaku sambil menjambak paksa rambutku.

Melihat pemandangan itu, Kyungsoo tidak diam saja. Dia segera bangkit dan menghampiri kami. Tapi aku segera memasang telunjukku di bibirku. Aku tidak ingin dia ikut disalahkan dalam masalah ini. Aku tidak ingin dia merasa bersalah karena kesalahanku. Melihat tanda dariku, dia menghentikan langkahnya dan hanya melihatku yang diseret paksa masuk ke dalan rumah.

“mianhae eomma, aku hanya mencari udara segar saja eomma,sungguh aku tidak…..” Plak. Tangan eommaku mendarat keras di pipiku.

“kau bilang tidak berbohong? Kau hanya mencari udara segar? Kenapa lama sekali hah?! Sudahlah aku tak mau melihatmu sekarang ini, aku sedang lelah sekali. Cepat kau masuk ke kamar dan tidur! Yeobo, lepaskan tangannya”

Ahjussi itu melepaskan tanganku. Aku segera bangkit dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Aku langsung masuk ke kamarku. Aku melihat bekas merah di tanganku. Aku yakin bekas merah itu akan menjadi biru esok hari. Aku memutuskan untuk membasuh wajahku dan langsung tidur.

Kupikir esok hari tidak akan ada hal buruk lagi yang menimpaku. Maksudku hari ini. Pagi tadi, setelah bersiap siap, aku langsung melenggang keluar rumah tanpa mengucapkan pamit pada orang orang rumah. Tapi setelah keluar dari pagar rumah, kerah bajuku ditarik dari belakang dengan kencang dan menarikku paksa memasuki mobil.

Kulihat eomma yang sudah berada di sampingku, kim ahjussi yang duduk di depan dengan supir. Eomma yang sedari tadi hanya melihat ke luar jendela. Setelah menyadari kehadiranku di mobil, eomma langsung membentakku.

“kau memang benar benar sudah tidak punya sopan santun. Kenapa kau tidak memakan sarapan yang telah kubuatkan?”

“aku tidak lapar” jawabku ketus. Aku tidak memperhatikan eommaku. Aku lebih memilih melihat ke luar jendela daripada aku harus melihat wanita mengerikan di sampingku sedang membentakku seenaknya.

“kau benar benar tidak tahu diri. Sudah bagus aku masih memperhatikan kesehatanmu. Kau malah masa bodoh seperti itu. Kau juga tidak maaf atas kesalahanmu semalam padaku. Kau benar benar membuat dadaku sesak”

“aku sudah mengucapkannya tadi malam. Mungkin saja kau tidak mendengarnya karena kau lebih mendengarkan emosimu dan rasa cintamu yang berlebih pada laki laki brengsek itu. Entahlah aku merasa sangat membenci kenapa kau yang harus menjadi eommaku”

Eommaku sontak menarik tanganku dan menampar keras pipiku. Aku berteriak pada supir agar menurunkanku di tengah jalan. Supirku langsung berhenti di pinggir jalan dan aku buru buru turun dari mobil dan berlari meninggalkan mereka. Aku takut mereka akan mengejarku. Nyatanya tidak. Dan disinilah aku sekarang.

Mengingat kejadian itu membuatku tidak kuasa menahan emosiku dan tiba tiba saja air mata mengalir di pipiku kembali. Kyungsoo yang menyadari keadaan itu langsung memelukku. Tangannya terus mengelus punggungku menenangkanku. Setelah tangisku reda, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyodorkannya kepadaku.

“susu cokelat?” tawarnya padaku.

Aku langsung menerima baik tawarannya dan mengambil sekotak susu cokelat itu dari tangannya. Sebelum aku menyesap susu cokelat itu, dia menangkup wajahku dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Setelah itu, dia tersenyum manis padaku,

“nah begini lebih baik. Minumlah. Itu akan membuatmu lebih baik. Aku yakin kau membutuhkannya”

 

Susu cokelat, mawar pink, es krim, dan sungai Han.  4 hal kesukaanku. Dan Kyungsoo tahu semua itu. Entahlah darimana ia mengetahuinya. Padahal aku baru setahun mengenalnya dan 6 bulan aku baru saja akrab dengannya. Aku meminum susu cokelat sementara Kyungsoo sibuk memainkan pspnya. Aku tersenyum melihat psp itu. Psp pemberianku sebagai kado ulang tahunnya sebulan yang lalu.

Namja ini membuatku begitu nyaman di dekatnya dan selalu mempunyai cara agar aku selalu tersenyum dan juga tertawa. Dia selalu ada untukku. Di saat aku membutuhkannya atau tidak, dia selalu di sampingku. Walaupun aku juga mempunyai teman dekat lainnya, Hyunmi dan Myung Jin, serta Kyungsoo yang selalu saja berkumpul bersama di kantin sekolah.

Tetap saja dia yang aku rasa selalu disisiku. Aku menyayanginya. Aku tahu aku menyayanginya. Sama seperti aku menyayangi Jungsoo oppa. Hanya saja aku belum yakin posisinya bisa menggantikan posisi Jungsoo oppa di hatiku. Tapi rasanya sosoknya mengingatkanku akan seseorang yang aku rindukan saat aku kecil dulu. Kupikir ini tidak mungkin karena sudah bertahun tahun lamanya sosok itu meninggalkan aku.

“sudah habis susu cokelatnya?”

 

Kyungsoo POV

“sudah habis susu cokelatnya?” tanyaku padanya. Dia menggeleng dan menundukkan kembali kepalanya. Aku menyadari pandangannya padaku saat aku masih berkutat dengan psp kesayanganku. Ya, psp kesayanganku dari gadis kecil yang kucintai. Park Minhwa. Gadis masa kecilku yang satu satunya mengisi hatiku sampai saat ini.

Aku yakin dia tidak mengingatku sama sekali. Dulu kami lahir di rumah sakit yang sama dan hanya berbeda beberapa jam saja. Aku lahir hari minggu dan Minhwa lahir pada hari senin. Kami bertetangga dan keluarga kami sungguh dekat. Kakak Minhwa sangat menyayanginya, Minwoo dan Minhyuk. Tapi lebih dominan Minwoo.

Kami berempat berteman sangat akrab saat itu. Kami semua menyayangi Minhwa dan Minhwa menyayangi kami. Tapi aku dan Minwoo  hyung mempunyai perasaan lebih pada Minhwa. Entahlah pada saat itu kami masih kecil dan kami tidak mengerti apa itu cinta, maka tak ada konflik di antara kami.

Pertemanan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya appa diutus perusahaan untuk dimutasi ke LA. Aku sekeluarga harus pergi meninggalkan Seoul, dan aku harus meninggalkan Minhwa. Aku memberikan gelang sederhana berbandul bintang untuknya sebagai kenangan dariku. Aku masih ingat waktu itu bagaimana Minhwa menangis keras pada eommanya dan menarik narik tangan eommanya agar memaksaku untuk tidak pergi. Eommanya hanya tersenyum kecil dan memeluk erat putri kecilnya.

6 tahun lamanya aku meninggalkan Seoul dan appaku diutus kembali lagi ke Seoul. Mendengar hal itu, aku merasa sangat senang. Aku bisa menghampiri lagi gadis kecilku yang manja itu. Tapi sepulang dari LA, semua keadaan itu berubah. Aku menghampiri rumah Minhwa dan aku mendengar teriakan seorang gadis meminta ampun disana.

Setelah aku menunggu lama di dekat rumah itu, aku melihat pintu rumah itu terbuka. Gadis berambut panjang sebahu dengan kaus lengan panjang yang longgar dan celana 3/4nya keluar dari rumah itu. Wajah itu sendu, tapi terlihat menawan. Wajahnya terlihat habis menangis. Dia melewatiku tanpa menyadari kehadiranku. Aku baru ingat bisa saja ia tidak lagi mengingatku.

Kulihat gelang kecil berbandul bintang di pergelangan tangannya yang kecil. Ya itu Minhwa. Aku terkejut melihat keadaannya sekarang. Apa yang terjadi padanya? Semua berubah sangat jauh dari perkiraanku selama 6 tahun lamanya kepergianku. Kemana Minwoo hyung? Kemana Minhyuk hyung? Seharusnya mereka menjaga gadis kecilku ini dengan baik.

Lalu aku masuk ke sekolah yang sama dengan Minhwa dan mencoba mendekatkan diriku kembali padanya. Ternyata benar, dia sudah benar benar melupakanku. Mungkin tidak melupakanku karena gelang itu masih di tangannya. Hanya saja, dia kehilangan aku. Seperti aku kehilangan dirinya. Aku rindu senyumanmu Minhwa-ya. Aku berusaha sebisa mungkin selalu menjaganya, membuatnya selalu tersenyum, dan selalu ada di sampingnya.

Puk. Kotak susu cokelat itu medarat dengan sempurna di dalam tong sampah itu. Minhwa telah menghabiskan susu cokelatnya. Aku menaruh pspku kembali ke tas dan menatapnya.

“gomawo susu cokelatnya. Benar benar lezat” katanya sambil menjilat bibir atasnya.

Aku hanya tertawa kecil melihatnya.

“kau tahu tidak baik memendam semuanya sendirian. Percuma ada aku disini kalau kau malah lebih memlilih memendam semuanya sendiri.” Bujukku agar dia mau menceritakannya.

Dia hanya tersenyum kecut dan tertawa kecil sambil memandangi pemandangan di depan halte.

“kehidupan ini tidak adil ya. Dari sekian kemungkinan, kenapa dia yang harus menjadi eommaku? Kenapa semuanya harus menimpaku? Kenapa appa harus meninggal dengan cara seperti itu? Dasar Kim ahjussi brengsek!! Dasar pembunuh!!” Minhwa menjejakkan kakinya keras keras ke tanah.

Melihat emosinya yang tidak terkendali, aku langsung meraih lengannya. Auww!! Dia meringis kesakitan ketika aku menyentuh lengannya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“buka blazermu” perintahku.

“mwo? Apa maksudmu?”

“buka kubilang!” perintahku tergesa gesa.

Karena dia tidak kunjung membuka blazernya, maka aku membuka paksa blazernya dan menggulung lengan kemejanya ke atas. Betapa terkejutnya aku melihat bekas memar yang membiru keunguan besar sekali di lengannya. Dia langsung menarik turun lengan kemejanya.

“gwaenchana. Ini karena kecerobohanku sendiri. Kemarin aku tidak sengaja terkena bantingan pintu kamarku sendiri. Kau tak perlu merasa khawatir padaku” dia tersenyum getir sambil meraih kembali blazernya.

“tidak bisa, kau harus ke rumah sakit. Ini karena perbuatan mereka padamu kan kemarin malam? Dan kau masih bisa bilang tidak apa apa dan berbohong padaku. Lebih baik kita obati lukamu dan kita ke kantor polisi, kita harus menuntut perbuatan mereka padamu.”

Aku sudah terlanjur terbawa emosi. Aku tidak habis pikir kenapa Jung ahjumma jadi berubah mengerikan sekali dan menyiksa putri kecilnya ini terus menerus. Aku menggendong tasku, meraih blazernya di bawah dan memapahnya ke mobil. Tapi tiba tiba saja dia menahan tanganku.

“jangan. Biarkan saja. Gwaenchana.” Katanya sambil tersenyum kecil padaku.

“berhentilah mengatakan kalau kau baik baik saja, karena sebenarnya kau memang tidak dalam keadaan baik baik saja Minhwa-ya.”

“aku mohon jangan lakukan itu Kyungsoo-ya. Aku sudah terbiasa begini. Kau jangan menuntut mereka aku mohon. Aku tidak mau kau terlalu ikut campur dalam urusanku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, Kyungsoo-ah.”

Aku menghela nafas panjang. Mau tidak mau aku harus mengikuti kata katanya. Aku tidak percaya dia punya kesabaran sebesar itu sampai dia melarangku menuntut keluarganya. Aku benar benar tidak habis pikir akan jalan pikirannya. Aku harus menahan emosiku hanya untuknya.

“baiklah. Tapi setidaknya lenganmu ini harus diobati. Bisa infeksi kalo sampai tidak diobati. Kau demam Minhwa-ya. Kajja kita ke mobilku. Kita harus ke rumah sakit.” Aku memapah tubuhnya perlahan menuju mobilku. Aku membawanya pergi ke rumah sakit.

Minhwa POV

Aku dan Kyungsoo menuju ke rumah sakit. Dia tetap bersikeras menginginkan lukaku diobati. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikannya padaku. Dia benar benar teman terbaikku saat ini, juga Hyunmi dan Myung Jin. Tapi tetap dia paling dekat.

Dia tinggal sendiri di kompleks rumahku. Dia bilang dia ingin tinggal mandiri makanya dia tinggal sendiri. Dia bekerja paruh waktu di restoran fast food dekat kompleks rumahku. Tapi aku heran dengannya. Dia mempunyai motor sport dan mobil yang lumayan bagus seperti ini agak terlihat aneh bagiku. Untuk ukuran seseorang yang tinggal sendiri dan bekerja paruh waktu, itu terlalu mewah.

Rumahnya saja terlihat mewah menurutku. Padahal rumahku juga mewah. Dengan fasilitas yang ada, aku tidak perlu merasa kekurangan. Tetap saja menurutku, semua itu tidak ada artinya bagiku. Apalah artinya rumah mewah dan fasilitas serba ada tapi keluarga saja aku tidak punya. Semua teman temanku mengaku iri padaku karena semua yang aku punya.

Semuanya terasa kosong dan hampa bagiku setelah sepeninggalan Jungsoo oppa, Jong Woon oppa, dan appa. Kejadian 4 tahun berturut turut itu menjatuhkanku ke lubang yang paling dalam dan penuh dengan ular berbisa yang mengerikan.

Tak terasa aku sampai di rumah sakit. Kyungsoo memapahku ke UGD. Kyungsoo menungguiku disana dengan sabar. Setelah selesai diobati dan mengambil obat, aku dan Kyungsoo kembali ke mobil.

“coba jelaskan yang kau katakan tadi. Siapa laki laki brengsek itu? Laki laki yang tadi malam menyeretmu ke dalam rumah itu bukan? Apa maksudmu dia pembunuh appamu? Ceritakanlah Minhwa. Mungkin aku tidak bisa membantumu menyelesaikannya, tapi setidaknya aku bisa membantumu meringankannya dengan mendengarkan ceritamu.” Bujuknya lembut padaku.

Aku tadinya ragu untuk menceritakan ini padanya. Tangannya terus menerus mengelus lenganku yang tadi diobati dan tatapan matanya yang teduh membuatku yakin untuk menceritakan semuanya padanya. Dia bisa membuatku tenang dengan cara yang sederhana seperti ini.

“Kim ahjussi itu. General manager di perusahaanku itu sekarang pacar eommaku. Dia yang membunuh appaku. Membunuh Minwoo oppa. Membunuh Minhyuk oppa juga. Dia masuk ke dalam kehidupan keluargaku. Dia mendekati eommaku dan berusaha berpura pura mencintai eommaku. Alhasil eomma dan ahjussi itu berselingkuh di belakang appa. Appa pura pura tidak tahu soal itu.

“sampai akhirnya Minwoo oppa mengetahui dengan mata kepalanya sendiri kalau eommaku berselingkuh dengan ahjussi itu. Minwoo oppa melajukan mobilnya kencang menuju hotel dimana eomma dan ahjussi itu berselingkuh. Tapi malang nasib oppa. Ban mobil Minwoo oppa selip dan menjungkir balikkan mobil yang dikendarain oppa. Oppa koma di rumah sakit selama seminggu. Sampai akhirnya aku, Minwoo oppa, dan appa menengok kesana. Minwoo oppa telah tiada. Kata dokter, salah satu pembuluh di otaknya pecah.

“aku benar benar menangis kencang melihat keadaan Minwoo oppa saat itu. Dia meninggalkanku. Orang yang sangat berarti bagiku meninggalkanku. Dengan cara yang sangat tragis. Kehidupannya terlalu singkat menurutku. Tak sampai setahun, aku menemukan Minhyuk oppa tergeletak kaku di atas tempat tidur. Dan betapa terkejutnya aku melihat kertas diagnosa dari dokter yang menyatakan kalau Minhyuk oppa mengidap kanker otak stadium 4.

“tubuhku mematung. Appaku menenangkanku. 2 orang yang paling berarti untukku meninggalkanku. Aku hanya punya appaku sekarang. Di saat berduka saat itu saja eommaku malah pergi berlibur ke pulau Jeju. Tentu saja dengan Kim ahjussi brengsek itu. Appa berusaha membuatku keluar dari keadaan menyedihkanku ini. Aku tidak mau makan sama sekali. Aku terus mematung di kamarku.

“appa tetap bersabar menghadapi kenyataan diriku yang yang tetap tidak bisa menerima kenyataan pahit semua ini. 2 tahun kemudian, appaku dapat kabar kalau eommaku diculik. Appaku langsung pergi menyelamatkan eommaku. Tapi setelah sampai di tempat yang dituju oleh penculik, tiba tiba saja appaku didorong dari gedung lantai 23 ke bawah. Mendengar kabar itu, aku merasa tidak ada gunanya lagi hidup.

“tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa apa apa. Aku hanya diam saja. Lalu Kim ahjussi pindah ke rumahku dan menelpon bodyguard untuk menjaga rumahku. Aku tidak bisa berontak sama sekali. Dan kehidupan mengerikanku dimulai. Setiap hari aku disiksa oleh eommaku. Paling ringan hanya dicaci maki. Dan sekarang ini yang lumayan. Aku belum tahu apa yang paling berat untukku.

 

“aku benar benar merasa sendiri sampai akhirnya aku bertemu kau, Hyunmi dan juga Myung Jin. Kalian membawa titik terang dalam hidupku, walaupun kecil. Tapi begitu berarti untukku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya mau mati melihat kehidupanku yang menyedihkan ini. Kupikir……tidak ada gunanya lagi aku…..hidup.”

Tubuhku seperti melayang ke pelukan Kyungsoo. Kyungsoo memelukku erat sekali. Terdengar isakan kecil dari mulutnya. Dadanya naik turun menahan tangis. Tapi kurasakan puncak kepalaku basah. Ia menangis. Aku juga menangis tanpa sadar.

Kyungsoo POV

Mengapa ceritanya begitu mengerikan setelah aku tinggal pergi. Kupikir Cho ahjumma akan berbohong padaku tentang cerita itu, ternyata…. membayangkannya saja membuatku pilu. Mianhae Minhwa-ya. Harusnya aku menjagamu. Harusnya aku berada disisimu saat itu. Jeongmal mianhae. Aku benar benar tidak kuasa menahan tangisku.

Ku raih lengannya dan kutarik ke pelukanku. Bagaimana bisa gadis sekecil ini melewati ini semua, sendirian? Aku merasa diriku tidak pantas di sisinya. Meninggalkannya jauh kesana tanpa bisa menjaganya. Aku benar benar terluka mendengarnya. Aku bersumpah akan membuat Jung ahjumma dan ahjussi brengsek membayar semua kesedihan, penderitaan, dan tangis gadis kecilku ini.

Aku menangis. Minhwa juga menangis. Kami berdua menangis terisak di dalam mobil ini. Untung saja parkiran ini sepi. Tangis kami agak lama. Setelah reda, aku tersenyum dan menghapus air matanya dari pipinya, mencoba menenangkannya.

“mianhae seharusnya aku tidak memintamu menceritakan ini semua. Kau malah jadi sedih lagi.”

Dia tersenyum manis padaku. “ani gwaenchana. Malah aku harusnya berterima kasih padamu. Bebanku sudah tak seberat itu lagi. Terima kasih Kyungsoo-ah.”

“ne cheonmaneyo. Kau lapar kan? Kita makan siang bersama yuk. Kita makan bulgogi bersama Hyunmi dan Myung Jin ya? Akan kutelpon mereka.”

Aku mengambil ponselku di dashboard mobilku. Mencari kontak Hyunmi dan Myung Jin lalu menghubungi mereka  untuk ikut makan siang bersamaku dan Minhwa. Setelah kami semua sepakat, aku memacu mobilku menuju kedai bulgogi langganan kami berempat.

 

Author POV

Setelah 15 menit perjalanan menuju kedai bulgogi, Minhwa dan Kyungsoo menunggu kedua temannya di dalam kedai tersebut. Sambil menunggu, mereka berdua menghabiskan waktu dengan bercanda gurau. Terhanyut dalam tawa bahagia masing-masing. Kyungsoo berusaha menghibur Minhwa dari bercerita tentang hal lucu sampai membuat ekspresi lucu. Minhwa yang tadinya hanya tertawa kecil sampai tertawa terpingkal-pingkal dan ia merasa harus menahan tawanya karena ia sudah tak sanggup lagi tertawa.

Kyungsoo menatap ekspresi Minhwa dengan senyum puas di bibirnya. Dia merasa sudah bisa membuat Minhwa melupakan kesedihannya, walaupun hanya sementara. Di tengah kebahagiaan tersebut, tiba-tiba saja Kyungsoo menoleh ke arah jendela dan melihat 2 orang yang dikenalnya tengah berlari-lari menuju kedai bulgogi.

Kemudian, Kyungsoo menyuruh Minhwa untuk berpura-pura mengacuhkan Hyunmi dan Myung Jin ketika mereka datang nanti. Minhwa hanya membalas dengan anggukan. Dan mereka mulai melaksanakan misi jahil itu. Mereka mulai mengobrol dan ketika Hyunmi dan Myung Jin datang, mereka tetap asyik mengobrol tanpa memperdulikan kedua temannya yang datang dan menghampiri mereka.

“annyeong Minhwa-ya, annyeong Kyungsoo-ah!!” seru Hyunmi dan Myung-Jin pada kedua temannya tersebut. Tapi, tidak digubris sama sekali. Mereka melakukannya terus menerus. Tapi, nihil hasilnya. Lalu, mereka memutuskan untuk pulang karena merasa tidak diperdulikan oleh kedua temannya itu.

“yayaya, kedua temanku yang suka terlambat ini mau kemana? Sudah telat malah ingin pulang. Teman macam apa kalian? Kalian tidak tahu kan aku dan Minhwa sudah sangat lapar menunggu kalian” celetuk Kyungsoo saat kedua temannya akan beranjak meninggalkan Minhwa dan Kyungsoo.

“aissh kau ini….jeongmal, kau mungkin tidak tahu kami sudah sangat lelah dan kami harus berlari mengejar waktu kesini. Tapi, apa? Kalian malah mengacuhkan kami disini. Kalian malah asyik mengobrol padahal sudah jelas-jelas kalau kami sudah berada disini, menyapa kalian sampai kami harus mempermalukan diri kami sendiri. Dan kami juga sangat lapar seperti kalian” protes Hyunmi yang diikuti dengan ekspresi protes dari Myung Jin.

Minhwa hanya melongo melihat kelakuan sahabat-sahabatnya. Dia tidak menyangka kedua sahabatnya yang humoris, cerewet dan juga periang ini juga bisa mengeluh dan memprotes. Minhwa tertawa kecil menanggapi protes kedua temannya.

“YA! Kau kenapa cengar-cengir saja?” sentak Myung Jin.

“aniyo! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengikuti apa yang Kyungsoo suruh padaku”

Minhwa terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan sendiri lalu ia menjitak sendiri kepalanya dan bergumam “neo jinjja paboya” pada diri sendiri. Kyungsoo, Hyunmi, dan Myung Jin kaget dengan perkataan Minhwa dan menatap Minhwa tak percaya. Tak percaya kalo Minhwa sepolos itu. Myung Jin tiba-tiba menjitak kepala Kyungsoo sebagai bentuk protes padanya lagi. Hyunmi juga ikut menjitak kepala Kyungsoo.

“appo…appo, neomu appo Myung Jin-ya,Hyunmi-ya. Hentikaaaaan!! Kepalaku sakit!! Dasar pasangan gila! Hentikan!” seru Kyungsoo yang mengeluh sakit karena kepalanya diserang jitakan yang bertubi-tubi dan tak kunjung berhenti.

“shireooo!!! Rasakan ini hahaha!!” seru Hyunmi dan Myung Jin dengan tawa setan mereka.

“aaaa mianhae, mianhae. Jeongmal mianhae, aku tidak akan melakukannya lagi. aku janji. Lepaskan aku”

Minhwa yang sudah tak kuat lagi tertawa dan merasa kasihan melihat Kyungsoo yang kesakitan karena serangan jitakan Hyunmi dan Myung Jin, dia meminta kedua temannya tersebut menghentikannya. Karena Minhwa yang meminta, maka kedua temannya menghentikan serangannya.

“sudahlah hentikan. Aku tidak mau nanti para pelayan akan mengusir kita karena melakukan kekerasan remaja di tempat umum seperti ini. Kalian duduklah disana”

Hyunmi dan Myung Jin dengan tidak rela menghentikan serangannya dan duduk di hadapan Minhwa dan Kyungsoo. Kyungsoo terlihat sangat kesakitan dan mengusap-usap kepalanya dengan sangat kencang. Minhwa ikut mengusap-usap kepala Kyungsoo.

“sini aku tiup, semoga kepalamu tidak sakit lagi” bujuk Minhwa agar Kyungsoo mau mendekatkan kepalanya ke Minhwa. Kyungsoo mendekatkan kepalanya pada Minhwa dan Minhwa meniup-niup kepalanya dan kembali mengusap kembali kepala Kyungsoo. Kyungsoo menyandarkan kepalanya ke bahu Minhwa sementara Minhwa sibuk mengusap kepala Kyungsoo sambil sesekali meniupnya.

“berterima kasihlah pada Minhwa, kalau bukan karena dia, aku tidak akan menghentikan seranganku” kata Hyunmi sambil mendengus kesal.

“memangnya salahku apa? Itu hanya iseng kecil saja. Lagipula, kenapa kalian lama sekali kesini? Kelas sudah selesai daritadi kalian malah tidak segera kesini. Apa yang kau lakukan di sekolah? Pasti berduaan dulu” protes Kyungsoo yang disambut pukulan kecil dari Minhwa.

“kau tidak tahu kan kalau Choi seosaengnim menghukum kelas kita? Kau beruntung sekali bisa kabur dari sekolah dan tidak ikut piket di kelas. Kau sungguh beruntung. Kelas kita sangat kotor sekali tadi” ujar Myung Jin.

“dan seharusnya tadi juga kau yang membersihkan kelas. Kau kan murid terbersih di kelas. Malah kau kabur” tambah Hyunmi.

“aku tidak kabur. Aku menjemputnya,” Kyungsoo mengerlingkan matanya pada Minhwa, “aku memang berniat akan menjemputnya disini” jawab Kyungsoo.

“sudahlah. Kalian tidak lapar memangnya? Aku sudah sangat lapar disini. Ayo kita pesan makanan” rengek Minhwa.

“ne. Aku juga. ayo panggil pelayan” tukas Hyunmi.

Myung Jin memanggil pelayan dan mereka memesan pesanan mereka masing-masing. Sambil menunggu pesanan mereka, mereka mulai mengobrol kembali.

“kalian ini terlihat seperti pasangan kekasih kalau kalian bersikap seperti itu. Tapi memang sih kalian terlihat cocok sekali. Aku jadi iri pada kalian” Myung Jin mulai bicara.

“ne. Kalian membuatku iri. Aku dan Myung Jin saja jarang seperti itu. Malah kami berdua terlihat seperti Tom and Jerry. Kalian kenapa tidak pacaran saja?” tambah Hyunmi.

Mendengar cibiran dan candaan kedua temannya, Kyungsoo dan Minhwa hanya tertawa menanggapinya.

“mwo? Kalian ini ada-ada saja. Kami kan hanya berteman biasa. Kalian jangan bercanda. Malah kami iri pada kalian. Ya kan, Kyungsoo-ah?” jawab Minhwa santai. Tanggapan Minhwa membuat Kyungsoo sedikit kecewa dan malas melanjutkan pembicaraan. Kyungsoo hanya menatap meja makan dan bermain main dengan kunci mobilnya sendiri. Tanggapan Minhwa hanya dijawab anggukan datar oleh Kyungsoo.

Pembicaraan itu tidak berlangsung lama dan makanan pun datang. Setelah itu, mereka mulai menyantap makanannya masing-masing dan tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut mereka. Mereka hanya sibuk dengan makanan mereka sendiri karena keadaan mereka yang sudah lelah dan sangat lapar. Hyunmi tiba-tiba saja bertanya pada Minhwa yang membuat Minhwa terkejut dan sedikit tersedak.

“Minhwa-ah, kau bolos kenapa? Apa ada masalah dengan eommamu?” tanya Hyunmi sambil terus mengunyah bulgogi.

“uhuk..uhuk…kk..kkau..uhuk..bagaimana kau…uhuk bisa tahu?”

“pelan-pelan makannya. Kau jadi tersedak kan? Ini minum dulu” Kyungsoo memberikan minuman itu pada Minhwa dan meminumkannya pelan-pelan pada Minhwa.

“mianhae Minhwa-ah, aku tidak bermaksud. Mianhae” Hyunmi langsung berpindah tempat duduk dan mulai menepuk-nepuk kecil punggung Minhwa. Minhwa sudah merasa baikan dan menyuruh Hyunmi kembali ke posisi semua.

“gwaenchana. Aku sudah tidak apa-apa. Tapi, Hyunmi-ah bagaimana kau tahu, masalahku dan eomma?” tanya Minhwa ingin tahu.

“ne. Tadi pagi saat aku berangkat sekolah aku melihatmu turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan berlari ke arah sebaliknya. Memangnya ada masalah apa?” setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Hyunmi, Kyungsoo langsung menatap tajam Hyunmi.

“ah aku salah lagi. Mianhae” Hyunmi lalu menundukkan kepalanya berkali-kali meminta maaf pada Minhwa.

“kau ini, aku tahu kalau kau ini orang yang sangat ingin tahu, tapi bisakah kau melihat kondisinya? Jeongmal paboya” Myung Jin mencibir sikap Hyunmi yang kadang sangat menyebalkan.

“ah mianhae, nan mollayo. Aku kadang suka tak sadar keadaan jika aku sedang penasaran” Hyunmi menjawab cibiran namjachingunya dengan rasa bersalah.

“Hyunmi-ah, kau tidak salah. Hanya saja aku bisa menceritakannya padamu nanti setelah aku merasa lebih baik. Aku masih merasa kacau walaupun sudah berkurang sedikit.” Minhwa membalasnya dengan santai.

“oh iya, Kyungsoo menyusulmu karena aku beritahu. Kau kan tidak sekelas sendiri dengan kami kan, Minhwa-ah? Aku mencarimu tadi saat istirahat. Aku ingin mengajakmu makan roti keju kesukaanmu buatan eommaku. Sudah lama kan kau tidak makan itu? Makanya kemarin aku meminta eommaku untuk membuatnya untuk kubawa ke sekolah hari ini. Kau malah tak masuk hari ini” jelas Hyunmi.

“Hyunmi bertanya pada Kyungsoo apa dia tadi bertemu denganmu atau tidak. Ternyata belum juga. Makanya tadi Kyungsoo sibuk mencarimu ke seluruh sekolah sampai sampai ia telat masuk kelas Seo seosaengnim, dan dia dihukum berlari mengitari lapangan sebanyak 10x. Tapi, hanya sedikit yang menertawainya. Sisanya hanya junior yeoja yang berteriak menyemangati dia” tambah Myung Jin.

“gomawo Hyunmi karena sudah memberitahuku jadi aku bisa menjemput si manja ini” kata Kyungsoo sambil tersenyum jahil pada Minhwa.

“jinjja? Waaaaah, sahabatku yang tampan ini ternyata baik sekali ya. Perhatian sekali sampai kau harus terlambat masuk kelas dan dihukum” ujar Minhwa sambil menyenggol pelan lengan Kyungsoo.

“YA! Minhwa-ah, jangan kau bilang dia tampan, nanti kepercayaan dirinya akan naik setinggi langit” protes Myung Jin yang membuat teman-temannya tertawa geli mendengarnya.

“kau jangan protes Myung Jin-ya, memang benar kalau Kyungsoo kita ini tampan. Aku saja bisa mengakuinya” Hyunmi mencibir.

“yah chagiya….kenapa kau tidak membelaku?” keluh Myung Jin tertunduk lesu.

“aku mengatakan kalau dia tampan hanya karena dia mau membantuku saja” ledek Minhwa.

Kyungsoo yang sudah tersenyum bangga karena pujian Minhwa mendadak menunduk lemas karena Minhwa tidak benar-benar merasa kalau Kyungsoo tampan.

“tak usah bilang begitu seharusnya, Minhwa-ah” keluh Kyungsoo.

“ani.. kau benar benar tampan. Aku sungguh-sungguh mengatakannya padamu. Tapi, kau harus beterima kasih padaku. Kalau bukan karenaku, kau tidak mungkin dikelilingi yeoja-yeoja cantik yang menyemangatimu saat kau dihukum tadi” goda Minhwa.

“mereka biasa saja menurutku. Tak ada yang menarik” kata Kyungsoo kesal.

“lalu yang menarik perhatian tuan tampan ini siapa? Seperti apa tipe idealmu?” tantang Hyunmi.

“tipe idealku itu seperti…….” ucap Kyungsoo ragu. sebenarnya ia ingin mengatakan kalau Minhwalah yang menjadi satu-satunya wanita ideal di dalam benak Kyungsoo. Tak ada yang mampu mengalihkan semua perhatian namja ini selain Minhwa.

“seperti…..seperti siapa kalian tidak perlu tahu. Itu tidak penting. Lebih baik sekarang kita habiskan makanan kita. Aku sudah hampir habis. Kalian masih setengah habis. Cepat habiskan!” kilah Kyungsoo.

“ne, ne tuan tampan” jawab Minhwa, Hyunmi, dan Myung Jin serempak.

Mereka lalu sibuk menghabiskan makanan mereka sampai habis tak tersisa. Setelah selesai, Kyungsoo mengajak ketiga temannya untuk menginap di rumahnya malam ini. Alasannya karena ia merasa kesepian dan ia membutuhkan teman untuk menemaninya malam ini.

“hmm aku ingin tanya, malam ini kalian punya acara tidak?” kata Kyungsoo setelah mengelap mulutnya.

“hmm aku? Nan mollayo” jawab Hyunmi.

“sama. Aku juga.” sahut Myung Jin.

“aku? aku sepertinya tidak. Wae?”

“aku ingin kalian menginap di rumahku malam ini. Apa kalian bisa? Malam ini aku ingin kalian menemaniku di rumah. Entah mengapa rasanya rumahku terasa sepi sekali” jelas Kyungsoo.

“bukankah memang rumahmu selalu sepi? Kau kan memang tinggal sendiri” ujar Myung Jin sambil menyeruput jus jeruknya.

“beda saja rasanya malam ini. Apa kalian bisa? Kutunggu jawaban kalian sampai…….,” Kyungsoo melirik jam tangannya sejenak, “pukul setengah 5 sore ini. Arraseo?” jelas Kyungsoo.

“arraseo” jawab ketiga temannya serempak. Lalu keempat sahabat itu pulang ke rumah masing  masing setelah rasa lapar menghilang.

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “Sweet Child Memories (Chapter 1)

  1. daebak thor, suka bngt sama ff mu yang satu ini thor 🙂
    kasian bngt ya minhwa *kalau aku jadi dia aku udah bunuh diri tuh #plakk :p
    ditunggu lanjutannya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s