Den (Chapter 5)

Den [ Chapter 5 ]

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [Author] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO]; Byun Baekhyun [EXO]

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO]; Suho [ EXO ]  find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Fanfict             :

 

Chapter 4

                ~Jongin’s Point Of View~

“Jongin-ssi, bagaimana kau sudah setuju bukan?” Seorang namja berdiri tepat di meja kantorku.

“Kau?”

“Ne. Kau sudah memastikannya bukan?” tanyanya diikuti dengan seringgai.

“Sudah,” ucapku pelan.

“Baiklah. Kalau begitu, kau harus segera pergi dari sini,” peringatnya.

“Kau juga harus menepati janjimu!” sahutku tegas.

“Tenang saja, aku tidak akan mengambilnya,” ujarnya remeh.

Apapun yang terjadi, aku harus tetap menjaganya. Menjaga yeodongsaengku. Seperti apa yang Appa pesan kepadaku, meskipun itu mengorbankan semua usaha Appa selama ini.

 

Chapter 5

                “Suho-ssi, kau tidak akan mengingkari janjimu ‘kan?”

“Tidak akan.”

“Baiklah aku pegang itu,” ujarku santai.

Aku lebih rela seperti ini daripada menyerahkan Hyosung untuk namja brengsek ini. Tidak akan.

Flashback

“Jonginie,” Appa membangunkanku yang tertidur di sofa.

“Ne, Appa. Waeyo?” ujarku sedikit malas.

“Appa perlu bicara padamu,” ucapnnya, suaranya menegang.

Aku yang tidak pernah mendengar suaranya terdengar seperti itu, aku membuka mataku sempurna. Namun tak berniat untuk bangun dan melihatnya, aku lebih memilih membelakanginya.

“Appa rasa, Appa tidak kuat lagi,” ucapnya masih tegang.

“Appa tahu, selama ini kau tidak seburuk apa yang dipikirkan Hyosung, Hyosung hanya melihat luarmu, tidak melihat ke dalam dirimu,” ucapnya dengan suara yang makin mengecil.

“Appa hanya ingin mengatakan ini padamu,” Appa menghela nafas, “Appa mungkin tidak akan bertahan lama lagi, mungkin Appa akan segera meninggalkan kalian, Eomma sudah tidak mungkin lagi untuk menghidupi kalian.”

“Jongin-ah,  seorang Oppa harus bisa menjaga dongsaengnya. Apabila .. Appa telah tiada, kau harus merawatnya dengan baik. Hanya kaulah seorang yang dapat Appa tinggalkan untuk Hyosung. Appa harap, Appa bisa melakukan lebih banyak, tapi aku tidak bisa. Appa tidak lagi memiliki orang yang Appa percaya selain kamu, Jongin-ah. Meskipun, Appa mengharapkan Hyosung bersama anak dari teman Appa, namun, hanya kaulah yang bisa Appa tinggalkan untuknya. Appa menyayangi kalian berdua, Appa ingin kalian bisa saling menyayangi, Appa ingin tidak ada pertengkaran yang menggema di rumah ini untuk sekali saja.”

“Appa menyayangimu, Appa mencintaimu, jaga diri baik-baik.”

Flashback End

Sejak saat itu, aku meyakinkan diriku sendiri, aku tidak akan menyakiti dia, aku akan menjaganya, aku akan melindunginya, aku akan selalu ada untuknya. Seorang Appa yang begitu mencintai anak gadisnya, begitu khawatir kalau anak gadisnya akan kenapa-napa jika tidak ada dirinya, sedangkan aku, namja yang tidak lain adalah Oppanya tidak bisa menjaganya. Appa tidak pernah membantah permintaanku, Appa tidak pernah kasar padaku, dia selalu sabar padaku, namun perhatiannya kepada Hyosung begitu besar, karena Hyosung tidak pernah meminta apapun pada Appa, dia tida pernah menuntut.

“Aku tidak akan membuatnya sakit, Appa. Aku tidak akan membiarkannya bersama namja brengsek itu, lebih baik aku pergi daripada itu terjadi,” desahku pelan.

Aku memakirkan mobilku di depan sekolah Hyosung. Aku menjemputnya lagi. Entah ini hanya perasaanku atau memang terjadi, sekolah ini menjadi semakin riuh. Bukannya pulang setelah bel pulang berdering, namun mereka berdiri di depan sekolah sambil berbisik-bisik satu sama lain. Ada apa?

“Ya, Oppa!!” teriak seseorang yang kupastikan itu Hyosung.

“Sungie, kenapa lama sekali?” gerutuku dengan kesal yang dibuat-buat.

Namun responnya hanya menatapku sebal. Dia memutar bola matanya sambil membuka pintu mobil dan menutupnya keras. Ada apa lagi? Aku segera masuk ke dalam mobil, dan kulihat di sedang bersendekap sambil mengerucutkan bibirnya, dia terlihat sebal.

“Kenapa lagi?” tanyaku.

“Aniyo,” jawabnya singkat.

Aku menghela nafas panjang. Kadang, aku bigung dengan sikapnya, kadang senang, kadang sedih, kadang kesal, atau kadang marah tiba-tiba.

“Sungie. Mau menonton bioskop malam ini?” tawarku, dia tidak mungkin menolaknya.

“Shireo, aku ada acara,” jawabnya tegas.

Apa? Dia acara? Dengan siapa? Setahuku, Hyosung tidak pernah berani keluar malam dengan orang lain selain Appa.

“Dengan siapa?” tanyaku mulai kesal.

“Baekhyun. Wae?”

Baekhyun? Namja yang menyukainya? Ha? Dia? Andwae!

“Mwo?! Tidak bisa, tidak! Tidak boleh,” sewotku.

“Wae? Kenapa melarang? Itu hakku pergi bersama siapa saja,” bentaknya.

“Tidak boleh dengannya, tidak boleh! Ah, ya! Dengan siapapun juga tidak boleh!” tegasku.

“Kenapa tidak boleh? Dengan siapa kau membolehkanku pergi, ha?” dia terdengar marah.

Aku menghentikan mobilku ke pinggir jalan mendadak. Dia tampak kaget. Aku menatapnya tajam. Aish, bagaimana mungkin dia pergi malam-malam dengan namja lain!

“Karena itu malam-malam, Sungie. Tidak seharusnya gadis bersama namja  lain malam hari,” ucapku melembut.

“Baekhyun bukan ‘namja lain’, dia temanku, dia keponakan dari Eomma,” elaknya.

“Lalu, atas dasar apa dia mengajakmu jalan malam-malam?”

“Dia.. dia bilang, dia tertarik padaku, tandanya dia menyukaiku,” ucapnya.

Seketika tatapanku menajam, rahangku mengeras. Hyosung melihatku sedikit ketakutan. Aku marah, aku cemburu, aku tidak suka kalau ada orang lain yang menyukainya, aku tidak mau seseorang berada di sampingnya selain aku, egois memang, tapi  itulah aku. Aku mendektakan wajahku ke arahnya, dia sedikit memundurkan wajahnya. Dia tidak pernah meolak sebelum ini, kenapa dia?!

“Jangan dia! Jangan siapapun! Hanya aku yang boleh keluar malam denganmu!” bentakku.

“Wae?”

“Karena aku, Oppamu,” jawabku enteng dan semakin mendekatkan diri ke arahnya.

“Juga karena aku mencintaimu, kau tidak boleh bersama namja lain, kau hanya boleh bersamaku, hanya aku yang bisa melindungimu, bukan mereka. Kalau sudah tiba saatnya aku melepasmu, akan aku lepaskan, tapi tidak untuk sekarang, karena aku mencintaimu.” Aku semakin erat menatap matanya yang berjarak kurang dari 10 centimeter itu.

Dia terlihat kaget atas pernyataanku. Aku juga tahu dia merasakan hal yang sama. Dia tidak bisa membohongi dirinya. Dia tidak menolak untuk aku cium dan aku peluk saat tidur. Apakah itu bukti yang cukup kalau dia juga mencintaiku?

~Hyosung’s Point Of View~

Apa-apaan ini? Jantungku berdetak kencang saat dia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Dia menyihirku dengan kalimat-kalimat yang terkesan jujur namun sangat indah. Jujur saja, aku tadi berbohong saat bilang ada janji dengan Baekhyun Oppa, bagaimana aku bisa punya janji dengannya? Dia saja di Jepang!

“Kalau begitu, kau juga jangan membuatku cemburu, kau jangan sekali-kali keluar dari mobilmu saat menjemputku, itu hanya mengundang yeoja yang ada di sekolahku untuk melihatmu, apakah kau tidak tahu kalau aku sangat cemburu?” Aku memberanikan diri untuk jujur.

Jongin Oppa menaikkan ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman dan menatapku lembut dengan jarak yang begitu dekat. Sungguh senyumannya itu membuat darahku berdesir, membuatku meriding.

~Jongin’s Point Of View~

Handphoneku sedari tadi berbunyi, namun aku tak kunjung mengangkatnya. Aku tahu itu pasti dari Suho. Aku sudah menyetujui kontraknya, kalaupun aku tidak mau tetap saja aku dipaksa untuk menyetujuinya, atau kalau tidak, dia akan mengambil paksa Hyosung. Ya, Suho, anak seorang pengusaha kaya yang entah dari mana aku tidak tahu bisa mencuri dokumen penting perusahaan Appa, mungkin dia memiliki anak buah di perusahaan Appa. Dia mengancam akan mengambil alih perusahaan atau kalau tidak bisa dia akan mengambil Hyosung. Tanpa berpikir panjang, aku memilih untuk menyerah dan melindungi Hyosung, mesipun harus merelakan usaha Appa yang telah dibangunnya bertahun-tahun jatuh ke tangan namja itu. Aku lebih memilih Hyosung, dongsaengku, yeojaku.

Ya, aku mencintai Hyosung sudah sejak lama meskipun selama ini aku selalu bersikap kasar, aku rasa sikapku yang kasar akan membuatku sedikit tidak mengaguminya dengan cara yang salah lagi. Mungkin disaat aku sadar, dia begitu peduli padaku, meskipun dia mengelak akan hal itu, namun sikapnya padaku tidak bisa ditipu. Dia yang setiap malam menyelimutiku ketika aku tidur di sofa, selalu memakirkan mobilku, dan secara tidak langsung selalu menyiapkan sarapan untukku. Hidupku mulai aku sia-siakan sejak perceraian Appa dan Eomma. Aku rasa Eomma sudah gila, menceraikan orang sebaik Appa. Aku mulai hidup berfoya-foya dengan uang yang aku dapatkan dari Appa. Jongdae, temanku sejak aku masih kecil, selalu memperingatkan aku, namun aku tak mau mendengarnya. Akhirnya tiba, di suatu hari, sehari setelah Appa ‘bicara’ padaku. Aku meminta bantuan Jongdae, aku terlalu takut sebagai seorang namja, aku takut aku semakin jauh mencintai Hyosung, adikku sendiri.

Jongdae tidak melarangku untuk mencintainya. Dia hanya menasihati diriku untuk mengingat apa resiko kalau aku menunjukkan cintaku padanya terang-terangan. Aku kira, Hyosung membenciku karena aku berani menciumnya dulu, namun aku salah, dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, dongsaengku mencintaiku. Atas dasar cinta itulah, aku bertekad untuk tetap di sampingnya, Appa berkata hanya aku yang dapat ditinggalkan untuknya, maka aku juga tidak boleh meninggalkannya bukan?

“Kenapa tidak menjawab panggilanku, Jongin-ssi?” Suho sudah berdiri dengan marah di hadapanku.

“Maaf, aku sibuk, dan aku tidak tahu kalau kau menelponku tadi,” ucapku sekedarnya.

“Baiklah, aku bisa memaklumi kesibukanmu menghabiskan waktu dengan adikmu itu,” ucapnya menyindir.

Aku hanya terdiam sambil menatapnya tajam.

“Jongin-ssi, sepertinya aku tidak bisa menepati perjanjian kita,” ucapnya mantap.

“Mwo?” tanyaku kaget.

Suho hanya tersenyum remeh dan menatapku sinis. Sekelibat persaan tidak enak menyelimutiku. Apa yang akan dia lakukan?

“Kau tahu, Jongin-ssi? Sebenarnya aku tak peduli kalau perusahaanmu atuh ke tanganku, aku sudah memimpin banyak perusahaan pusat, dan rasanya akan lebih baik kalau aku mengambil dongsaengmu daripada memiliki perusahaan lagi, lagipula aku juga ingin balas dendam,” ucapnya santai.

“Maksudmu?” aku mulai tegang akan pembicaraan ini.

“Appamu, Kim Tae Goo, dia adalah seorang Ajhussi yang lemah, Appaku sendiri memiliki dendam padanya, dan aku berpikir bahwa kau, anaknya, mungkin tak jauh berbeda dengan Appanya. Karena Appamu, Appaku meninggal tiba-tiba, karena perusahaan Appamu, bisnis Appaku bangkrut, dan aku kehilangan sosok appa, aku juga ingin kau merasakan kehilangan anggota keluargamu, sama sepertiku.” Suho mulai menatapku tajam.

“Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, menginginkan dongsaengmu salah satunya, aku bisa saja membunuhmu dalam sekejap kalau kau menghalangi jalanku,” ucapnya mendekat ke arahku.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Mungkin, aku akan menggambilnya paksa, Jongin-ssi, dia cocok untuk yeoja ‘pajangan’ di rumahku.”

-TBC-

Omo! How was it, readers? ~^^ Mianee kalau masih kurang dan banyak typo(s). Semoga, readers nggak bosen-bosen nunggu ^^ Dan maaf kalo semakin lama ini ff ngebosenin atau gaje (_ _”)

47 pemikiran pada “Den (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s