Finding True Love (Chapter 5)

Author: Candlelovable (@dillaiskandar)

Genre: Romance/Adventure/Circle Love

Main Cast: Oh Sehun, Krystal Jung, Kai Kim, Choi Sulli, Park Chanyeol, Baek Suzy, Byun Baekhyun, Kang Jiyoung

Length: Multichapter

 

***

“tidakkah kau berpikir kalau ini agak sedikit aneh?”

Sulli bertanya pada Kai disaat mereka berjalan di sepanjang bukit-bukit kecil. Langit sudah mulai gelap pertanda malam akan segera datang. Kai menoleh padanya dan yeoja cantik itu hanya tersenyum manis membuat Kai mendadak kehilangan kata-kata sesaat. Namja itu melompati sebuah batu besar dan dia membantu Sulli turun, meraih kedua pinggang langsingnya dan yeoja itu melompat turun.

“aneh apanya?” tanya Kai seraya mengacak-acak rambut hitamnya membuatnya sedikit berantakkan dan Sulli berusaha menahan diri untuk tidak merapikannya kembali. Semakin rambut gelap itu berantakkan Kai semakin terlihat tampan. Dan Sulli tidak mau mengkhianati perasaan tulusnya pada Sehun dengan jatuh hati pada Kai.

“teorimu…” Sulli mengedikkan bahunya pelan. “kurasa itu menjadi kenyataan… tapi… di situasi yang salah,”

“ah aku mengerti, maksudmu… kau mendapatkan namja yang salah?” Kai terkekeh kecil lalu kemudian dia melompat lagi saat melewati sebuah tebing kecil. Dia meraih kedua tangan Sulli dan membantunya melompati tebing itu. “kurasa aku sudah mengerti apa maksudmu dalam kasus ini,”

“ya, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk Sehun, Krystal lah yang ditakdirkan untuknya,” Sulli memasukkan kedua tangannya kedalam jaket.

“kau berpikir Sehun tersesat bersama Krystal sekarang, begitu? Bagaimana kalau ternyata dia tersesat bersama Jiyoung? Atau mungkin dengan saudara sepupunya? Jangan membuat suatu kesimpulan sendiri seperti itu Choi Sulli,”

“sebelum kita semua terpisah, hal terakhir yang kulihat adalah Sehun sedang bersama Krystal, apakah itu salah?”

“benarkah? Kau tahu, kadang kita tidak tahu apa yang sedang tuhan rencanakan untuk kita Ssul,” Kai melemparkan senyum hangat pada Sulli. Yeoja itu terpaku sesaat lalu kemudian menarik nafas dalam-dalam. “mungkin kalau kau berhenti berpikiran negatif hidupmu akan menjadi lebih baik Choi Sulli, jika tidak, aku berani bertaruh Sehun tak akan pernah menjadi milikmu selamanya,”

“kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Sulli kentara sekali merasa tersinggung. Kai sama sekali tidak tahu bagaimana perasaannya. Tentu saja, seorang cassanova kan memang selalu ‘dikejar’, bukan ‘mengejar’. Dia sama sekali tidak paham bagaimana rasanya menjadi objek yang mencintai. Sulli menatap namja itu dengan tatapan dingin.

“aku temannya dari kecil, aku tahu dia lebih baik dari siapapun termasuk Suzy,” Kai mengangkat bahunya santai. “dan sejauh yang aku tahu Sehun benci orang yang selalu berpikiran negatif, kau mengerti yang kumaksudkan kan?”

“jadi menurutmu dia membenciku?”

“kalau kau terus mempertahankan pikiran negatifmu itu, mungkin dia akan membencimu, kau perlu tahu Sehun adalah namja yang selalu berpikiran positif dan easy going, karena itu dia tidak pernah punya beban dalam hidupnya, tentu dia akan mencari yeoja yang mempunyai prinsip yang sama dengannya, dan kalau kau ingin menjadi salah satunya, berhentilah berpikir negatif dan jangan pernah membuat kesimpulan yang kau sendiri belum merasa pasti akan kebenarannya,” Kai menatap manik mata Sulli dalam-dalam. Yeoja itu tidak tahu bahwa saat dia mengluarkan kata-kata ini hatinya bagaikan teriris pisau. Perih sekali.

Sulli pun tersenyum. Dan melihat senyum itu. Luka Kai seperti ditaburi oleh garam, namun sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak memperlihatkannya didepan Sulli. Baginya, kebahagiaan gadis cantik ini adalah yang terpenting. Meskipun dia tahu bahwa kebahagiaan itu akan membawa kesedihan yang mendalam untuknya. Kai bersandar pohon besar. Tubuhnya agak sedikit kelelahan karena mereka terus berjalan tanpa sekalipun beristirahat.

“kita harus istirahat,” ucapnya parau. “sebentar lagi malam, besok kita lanjutkan berjalan lagi, arasseo?”

“ya,” Sulli menganggukkan kepalanya. “kau baik-baik saja Kai?”

Sulli mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka keringat di dahi Kai. Namja ini pasti sangat kelelahan, berjalan tanpa henti seharian, melindunginya dengan sangat ketat, tidak heran fisiknya mulai mengalami penurunan. Ditambah lagi udara gunung yang sangat dingin melebihi dingin lemari es. Wajah Kai terlihat agak sedikit pucat, Sulli menyeka keringatnya lagi dengan prihatin.

“aku baik-baik saja, hanya sedikit merasa lelah,” jawab Kai pelan sambil tersenyum pahit. Dia benci sekali jika tubuhnya sudah mulai kelelahan disaat dia harus menjaga Sulli seperti ini. Dia tidak ingin terlihat lemah. Dia harus kuat walau bagaimanapun caranya.

Kai perlahan duduk ditanah, tepat dibawah sebuah pohon besar yang sangat gelap dan rimbun. Langit sore berubah menjadi malam sekarang, Sulli duduk disebelahnya seraya memeluk lutut untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Dia sangat benci berada di sekitar hutan mengerikan ini, rasanya seperti sedang menunggu sebuah kematian. Dingin, gelap dan hening. Kai memejamkan matanya berusaha untuk menjernihkan pikiran dan memulihkan tubuhnya sebelum dia berdiri dan pergi mencari kayu-kayu untuk membuat api unggun. Tangan keduanya sudah sangat kaku dan mereka membutuhkan api unggun untuk menghangatkan diri. Sulli memeluk tubuhnya sendiri untuk menambahkan kehangatan.

“tunggulah disini, oke? Aku akan mengumpulkan beberapa kayu dan membuat sebuah api unggun,” bisik Kai pada Sulli.

“tidak, aku ikut denganmu!” Sulli meraih tangan Kai dan mengikutinya memunguti ranting-ranting kecil di sekitar mereka. Kai berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya yang mendadak terasa berat. Keringatnya bercucuran, tangannya memeluk ranting-ranting itu erat-erat. Sulli menyentuh bahu bidangnya dengan ekspresi khawatir. “Kai, kau sudah kelelahan, jangan memaksakan diri, ayo kita kembali ke pohon tadi, kita tidak memerlukan api unggun,”

“udara malam ini sangat dingin, kita bisa membeku nanti,” bisik Kai lirih, dia memejamkan matanya sesaat lalu kemudian kembali mengumpulkan kayu-kayu itu lagi. Sulli menahan tangannya agar namja itu tidak pergi. “jangan khawatirkan aku Ssul, hangatkanlah dirimu sendiri dulu, aku akan segera membuat api unggun,”

Kai kembali melangkah dengan ranting-ranting terkumpul rapi di tangannya. Sekuat tenaga dia berusaha mengabaikan rasa lelah yang menyerang tubuhnya sedari tadi. Dia tidak ingin terlihat lemah didepan Sulli, yeoja ini adalah prioritas utamanya sekarang. Tapi ternyata tubuhnya sendiri sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi, kaki Kai limbung dan semua kayu yang di pegangnya jatuh berserakkan di tanah. Sulli berlari kearahnya lalu memegang kedua pipinya kuat-kuat, memaksa Kai menatap matanya.

“hentikan… aku mohon Kai… hentikan oke?” Sulli berbisik dengan nada lirih. Tangannya membelai rambut hitam Kai penuh rasa prihatin dan kasihan. Walau bagaimanapun namja ini telah mati-matian menjaganya. Kai balas menatapnya dengan tatapan kosong, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tubuhnya sudah terlalu lelah bahkan untuk mengeluarkan suara saja dia tidak mampu. “kita tidak butuh ranting, kayu, api unggun atau apapun! Ayo kita kembali ke tempat tadi, kau benar-benar terlihat sekarat sekarang,”

Dengan susah payah Sulli mengalungkan lengan Kai yang kekar ke bahunya dan membawa namja itu kembali ke tempat mereka beristirahat tadi. Mereka duduk bersebelahan, Kai memejamkan matanya berusaha untuk memulihkan tenaganya yang sudah hampir terkuras. Nafasnya pun masih terdengar berat, perlahan Kai pun jatuh tertidur. Sulli meliriknya kasihan, Kai pasti sangat kelelahan, pikirnya.

Sulli masih belum merasa mengantuk, akhirnya dia memutuskan untuk memandangi wajah tidur Kai. Dia sangat tampan, bahkan saat dia sedang tertidur seperti ini. Bibir pink nya yang penuh, rambut hitamnya yang lebat, hidungnya yang mungil dan ekspresi polosnya saat tertidur. Secara keseluruhan Kai sama sekali tidak buruk. Dia sempurna. Tidak heran kalau dia adalah seorang cassanova. Dia memiliki segala kesempurnaan yang pria tampan manapun pasti miliki. Sulli merapikan poni Kai dengan hati-hati, dia meletakkan kepalanya diatas lutut mungilnya seraya menatapnya terus tertancap pada Kai. Entah kenapa dia merasa tidak bosan untuk terus menatap wajah ini. Lalu kemudian dia mulai menyadari bahwa selama perjalanan di gunung ini Kai lah yang selalu ada untuk menjaga dan mengorbankan segalanya untuknya.

Sulli merapikan poni Kai sekali lagi lalu kemudian menyentuh pipinya. Senyumnya mengembang.

“aku sama sekali tidak pernah tahu kalau ternyata kau sangat tampan Kim Jongin,” gumamnya sambil tersenyum geli. “kau sudah mati-matian menjagaku selama kita disini, kenapa kau begitu baik padaku?”

Mata Sulli mulai terasa berat, tanda kantuk telah menyerangnya. Perlahan kepalanya pun terjatuh ke bahu Kai. Dia menyelipkan tangannya ke pinggang namja itu, memeluknya erat-erat dan kehangatan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Sulli tersenyum tipis. Inilah sebabnya kenapa mereka tidak membutuhkan api unggun. Mereka bisa saling menghangatkan satu sama lain.

 

 

***

“ahh kakiku…”

Suzy terjatuh ke tanah seraya memegang kakinya yang rasanya seperti sedang tersengat aliran listrik. Chanyeol menoleh dengan segera lalu kemudian menghampirinya. Dia meraih kaki Suzy dan memeriksa apa yang terjadi dengan benda panjang itu. Suzy tampak kesakitan tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya. Dia tidak ingin Chanyeol melihatnya sebagai yeoja yang lemah. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya, siap mengalir ke pipinya yang mulus. Chanyeol menghela nafas seraya melepaskan sepatu Suzy.

“kakimu kram,” Chanyeol berkata dengan nada datar. “dan kurasa ini lebih buruk dari sebelumnya,”

“benarkah? Aww!” pekiknya keras saat Chanyeol mendorong telapak kakinya kedalam. Setitik air mata mengalir menuruni pipinya dan Suzy buru-buru mengusapnya.

“menangislah… untuk apa kau tahan air matamu itu?” tegurnya dingin. Lalu kemudian Chanyeol menyeringai malas. Dan Suzy tahu bahwa namja ini sedang meremehkannya. Chanyeol mendengus. “dasar yeoja…”

“aku tidak menangis!” bantah Suzy keras. Dia berusaha untuk tidak menangis dan mengusap air matanya cepat-cepat. Namun sepertinya Chanyeol sama sekali tidak peduli. Dimatanya Suzy tetaplah seorang perempuan, perempuan yang sangat lemah dan selalu membutuhkan pertolongan.

“begitu? Kau mengusap air matamu berkali-kali, kau bisa menjelaskan kenapa? Sangat menyedihkan, seharusnya kau tidak perlu ikut kesini Baek Suzy,” gumam Chanyeol dingin seraya memakaikan sepatu ke kaki Suzy. “meskipun berkali-kali kau bersikap sok kuat tetap saja, yeoja ya yeoja, kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan namja,”

“lalu kenapa kalau aku adalah yeoja?!” bentak Suzy tersinggung.

“kau itu… lemah!” tukas Chanyeol tegas membuat Suzy tersentak kaget. “sangat lemah, kau tahu? Dan gunung bukanlah tempat yang cocok untuk yeoja lemah sepertimu, sayang sekali aku tersesat bersamamu… kau benar-benar tidak menolong sama sekali,”

“ya! Kenapa kau berkata seperti itu Park Chanyeol?!” bentak Suzy marah. “kau pikir dirimu itu keren dengan menjadi seorang pendaki gunung yang berpengalaman?! Bersikap dingin pada semua yeoja, berkata dengan nada yang sinis dan kejam seperti itu? Aku benar-benar tidak percaya Sehun mempunyai teman sepertimu! Kau benar-benar… namja kasar yang tidak mempunyai rasa hormat terhadap yeoja!”

“begitukah? Lalu apa alasanmu untuk ikut kesini?”

Suzy terdiam sesaat. Pertanyaan itu seperti sebuah tamparan untuknya. Dia sama sekali tidak menyangka Chanyeol akan bertanya seperti ini. Namja itu melipat kedua tangannya didada, menunggu jawaban Suzy. Tapi begitu melihat yeoja itu hanya berdiri mematung diapun mendengus malas.

“aku…” Suzy tergagap.

“apa? Kau tidak bisa menjawab bukan? Aku tahu alasanmu untuk ikut mendaki gunung bersama saudara sepupumu itu untuk mendapatkan sesuatu bukan?” mata Chanyeol menajam saat dia menatap Suzy tepat di manik mata. “namun sayang sekali, aku tidak tahu apakah ‘sesuatu’ itu…”

“kau pikir aku ikut mendaki gunung untuk mendapatkan sesuatu?! Beraninya kau menuduhku seperti itu Park Chanyeol!”

“kau mungkin bisa berbohong pada Sehun atau yang lainnya, tapi kau tidak bisa berbohong didepanku Baek Suzy, aku telah bertemu dengan yeoja sepertimu berkali-kali, dan mereka sangat menyebalkan! Karena itu aku tidak ingin berdekatan denganmu disaat Sehun sedang tidak ada di sekitar kita, aku harus menjaga perasaannya sebagai sepupumu dan juga sahabatku,”

Suzy kehilangan kata-katanya, dia sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjawab tuduhan yang memang kenyataan ini. Dia juga tidak pernah menyangka Chanyeol akan berkata dingin dan tajam seperti ini. Mungkin inilah alasan kenapa Sehun tidak pernah mengizinkannya untuk mengejar Chanyeol.

“mungkin… aku memang aneh…” gumam Suzy pelan. Chanyeol mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Suzy. Air mata telah membanjiri wajah cantik yeoja itu dan bibirnya membentuk senyum pahit. “tapi apakah lebih aneh kalau… alasanku untuk ikut kesini adalah… kau…”

Chanyeol tersentak kaget, jujur dia sama sekali tidak menduga Suzy akan mengatakan hal ini. Padahal dia sudah membayangkan yeoja itu akan menyerangnya lagi atau mungkin menamparnya keras-keras. Namun diluar dugaannya, Suzy malah bertindak lain. Tangisnya pecah namun tidak terlalu keras.

“a-apa? a-apa m-maksudmu?” Chanyeol bertanya dengan gugup. Ekspresinya benar-benar tidak percaya saat mendengar pengakuan Suzy barusan.

“alasanku ikut mendaki gunung ini adalah kau… tapi kurasa aku salah… Sehun benar, kau itu terlalu jauh, terlalu sulit untuk diraih, aku sama sekali tidak pernah tahu kalau kau mempunyai pikiran seperti itu terhadapku… aku benar-benar minta maaf kalau begitu… aku tak akan mengganggumu lagi setelah kita menemukan Sehun dan yang lainnya,” Suzy mengusap air matanya lalu berjalan melewatinya. Kepalanya tertunduk menyembunyikan air matanya yang sudah mengalir deras serta rasa sakit di ulu hatinya.

Chanyeol terdiam di tempatnya. Tentu saja inilah dirinya yang sebenarnya, berbicara kasar adalah kebiasaan yang sulit dia hilangkan sejak dulu. Namun dia sama sekali tidak menyadari kalau kata-katanya itu sudah sangat menyakiti Suzy. Dia menjambak rambutnya dengan kesal lalu kemudian mengikuti langkah yeoja itu.

“mungkin memang lebih baik seperti ini…” guman Chanyeol pelan.

 

 

***

“lihat, bintang itu sinarnya paling terang diantara yang lainnya,” Baekhyun menunjuk langit sementara Jiyoung duduk di sampingnya.

“sangat cantik,” puji Jiyoung riang, yeoja itu bertepuk tangan. “aku tak pernah tahu bahwa bintang akan terlihat lebih indah jika dilihat darisini, apakah kau sering melihat bintang-bintang seperti saat sedang hiking Baekhyun-ah?”

“tentu saja aku sering melihatnya, apalagi kalau melihatnya dari puncak gunung, rasanya bintang-bintang itu seperti akan menghampirimu,”

Jiyoung terlihat sangat terkesan, dan dia terus memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang terang itu. Ada banyak pengalaman luar biasa dalam perjalanan ini, dan Jiyoung sama sekali tidak terpikir akan mengalaminya. Tersesat untuk pertama kalinya saat mendaki gunung kini tidak terlalu buruk juga dimatanya, Baekhyun menjaganya dengan sangat baik, menghangatkannya saat tubuhnya kedinginan, mengistirahatkannya saat tenaganya sudah mulai habis, dan Baekhyun sama sekali tidak mengeluhkan kelemahannya. Dia benar-benar namja yang sangat baik.

“Baekhyun-ah, apakah kita benar-benar bisa menemukan mereka? Kita terus berjalan dan berjalan tapi sepertinya hasil kita nol besar,” ujar Jiyoung pelan.

“pasti kita bisa menemukan mereka Jiyoung-ah, jangan menyerah! Gunung ini sangat besar dan luas, tentu kita akan sulit menemukan mereka dengan cepat, tapi jika tuhan berkehendak lain besok mungkin kita bisa bertemu dengan mereka semua,” Baekhyun tersenyum menyemangati. Dia menatap Jiyoung dalam-dalam. “kau lelah?”

“sedikit…” Jiyoung berbisik malu. Dia merasa sangat malu karena terlalu lemah. “maaf, aku pasti merepotkanmu dengan kelemahanku kan?”

“tidak juga, akupun merasakan hal yang sama sepertimu waktu pertama kali mendaki gunung,” Baekhyun menghela nafas. “diantara kami berempat akulah yang stamina nya paling cepat habis, bisa dibilang akulah yang terlemah, jadi melihatmu yang seperti ini, aku jadi ingat diriku beberapa tahun yang lalu,”

Jiyoung tersenyum tipis. Menurutnya kata-kata barusan adalah sebuah pujian untuknya. Baekhyun sangat ramah, kenapa Suzy tidak pernah menyadari keberadaannya? Kenapa dia malah sibuk mengejar-ngejar mahkluk super kaku seperti Chanyeol yang menurut Jiyoung sama sekali tidak pernah terlihat berminat pada yeoja? Jiyoung menghela nafas. Dia baru ingat kalau Baekhyun sangat menyukai Suzy.

Mereka terdiam untuk beberapa saat, tiba-tiba Baekhyun merasa bahunya sangat berat. Dia menoleh kearah kanannya dan melihat kepala Jiyoung sudah bersandar lembut di bahunya, Baekhyun hanya bisa tersenyum dan membiarkan yeoja itu tertidur. Dia tahu Jiyoung adalah yang terlemah diantara keempat yeoja itu, dia sangat berbeda dengan Suzy. Dengan hati-hati Baekhyun meletakkan kepala Jiyoung didadanya dan melingkarkan lengannya ke bahu yeoja mungil itu. Untuk beberapa saat Baekhyun tidak melepaska tatapannya dari wajah Jiyoung.

Yeoja ini… sangat cantik. Begitu polos, begitu bersih. Setiap ekspresi lemah yang memancar dari wajahnya entah kenapa malah membuat Baekhyun ingin selalu melindunginya, ingin selalu ada disampingnya untuk menjaganya. Ada perasaan aneh yang muncul dihatinya saat dia sedang berdekatan dengan Jiyoung. Tapi dia sama sekali tidak tahu dan tidak yakin apakah perasaan itu.

Untuk pertama kalinya semenjak dia menyukai Suzy dia sama sekali tidak memikirkan yeoja pujaannya itu malam ini. Yang ada hanya seorang yeoja cantik namun sangat lemah bernama Kang Jiyoung. Entah sadar atau tidak  perlahan Baekhyun mendekatkan bibirnya ke dahi Jiyoung dan memberikan sebuah kecupan manis disana. Setelah itu dia membeku, mata berkedip berkali-kali dan perlahan semburat merah muncul di kedua pipinya.

“apakah ini… takdir?” tanyanya pelan. Apakah ini takdir untuknya? Takdir itu adalah Jiyoung? Bukan Suzy?

 

 

***

“dingin?” Sehun melepaskan jaketnya dan memberikannya ke Krystal, namun yeoja itu menggeleng cepat-cepat seraya memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya sendiri. Sehun terkekeh geli. “tidak apa-apa, aku sama sekali tidak masalah tanpa jaket,”

“tidak, pakai kembali jaketmu Oh Sehun,” Krystal meraih jaket itu dan kembali memasangkannya ke tubuh Sehun.

Sehun tertawa lagi lalu menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Krystal, dia sama sekali tidak sadar kalau tindakkannya itu membuat jantung yeoja itu hampir melompat keluar. Sehun menengadahkan kepalanya keatas, memandangi bintang-bintang yang bertebaran indah bagaikan permata. Api unngun yang membakar kayu-kayu didepan mereka sudah cukup memberikan kehangatan untuk keduanya.

“Sehun-ah, kenapa kau ingin menjadi pendaki?” tanya Krystal membuka obrolan dengan topik yang sangat menarik.

Sehun terdiam sesaat lalu kemudian tersenyum.

“aku sendiri tidak tahu… aku hanya sangat menyukai gunung, gunung itu sangat indah dan banyak ciptaan tuhan yang bertebaran disana, air terjun, padang rumput, hutan yang gelap, berbagai macam binatang, bunga-bunga yang beraneka ragam, dan segalanya…” Sehun tertawa kecil. “malah kadang aku suka berpikir kalau gunung-gunung itu lebih cantik daripada yeoja,”

“jadi kau tidak pernah memikirkan seorang yeoja selama ini?” Krystal terlihat agak terkejut dengan pengakuannya namja satu ini.

“tidak juga, aku hanya bisa berimajinasi suatu saat nanti aku bisa menemukan yeoja yang tepat, lalu kemudian aku akan membawanya ke gunung dan melihat segala keindahannya disana, dan kalau memang ada mungkin dia adalah satu-satunya yeoja yang bisa mengalihkan perhatianku dari gunung,” Sehun menatap Krystal dalam-dalam.

“sudahkah kau menemukan yeoja itu?” tanya Krystal gugup. Dia benar-benar tidak sanggup menatap Sehun tepat di manik matanya. Rasanya seperti sedang dihipnotis. Namja ini sangat tampan. Terlalu tampan mungkin.

Sehun menatapnya penuh kelembutan, Krystal terlihat malu dan buru-buru menoleh kearah lain untuk menghindari tatapan lembut Sehun. Tapi namja itu malah meraih dagunya dan membawa wajahnya cantiknya lebih dekat. Dia butuh kehangatan… dan perlahan bibirnya menyentuh bibir Krystal dengan sangat lembut dan pelan, Krystal pun merespon ciuman itu dengan segera. Dia tahu dia telah mengkhianati Sulli dengan melakukan hal ini. Tapi dia juga sangat mencintai Sehun. Apakah itu salah?

Sehun melepaskan bibirnya dan tersenyum malu.

“kurasa aku sudah menemukannya…” gumamnya pelan. Dan beberapa menit kemudian Krystal sudah meletakkan kepalanya ke dada bidang namja tampan itu. Tangan mereka saling terkunci satu sama lain.

Malam ini sungguh hangat, lebih hangat daripada sebelumnya…

 

 

TBC

Annyeong readersku sayaaang ^^ makasih yaaa udah baca FF ku 😀 aku liat komennya dan aku langsung ngerasa terharu TT.TT aku nggak nyangka banyak yang suka FF ku TT^TT khamsamnidaaa *deep bow* momentnya SeStal emang selalu sweet ya??? Tapi kita lihat mereka bakalan sweet nggak di next chapternya??? 😛 aku rasa next chapternya nggak akan se sooo sweeet sebelumnya deh kekeke ^^ so keep reading yaaa mian kalo agak pendek, aku kurang bisa nulis FF panjang2 hehehe ^_^ sekali lagi khamsahamnida *deep bow* <333333

41 pemikiran pada “Finding True Love (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s