Because I’m Stupid

Title                 : Because I’m Stupid

Author             : Sayuri

Cast                 : Park Chanyeol (EXO K), Choi Jira , Kim Jong In (EXO K)

Sub cast           : Im Nara, Kim Hyun Ah, and other member EXO K

Genre              : Romance, frinedship.

“Ini adalah ff pertamaku. Jadi ma’af jika kurang bagus atau kosa kata dan alurnya jelek. Bila ada kesamaan dengan ff lain itu cuman kebetulan saja. So please enjoy it. ^^”

 ______________________________________________

Because I’m Stupid

“Karena kebodohanku aku masih mencintaimu yang sudah punya namja lain. Tapi aku percaya suatu saat kau akan jadi milikku.

Itulah  arti cinta” (Park Chanyeol)

“Karena kebodohanku aku tak menyadari cinta sejati yang selama ini selalu ada disampingku. Aku malah lebih memilih cinta palsu yang akhirnya membuatku tersadar akan arti cinta sesungguhnya” (Choi Jira)

(Chanyeol pov)

“Chanyeol-ah” teriak Jira yang tiba-tiba sudah duduk didepanku, ternyata aku baru menyadari dia datang. “Hah, ternyata kau Jira, kau mengagetkanku saja” cibirku, dia hanya tersenyum tak jelas. “ada apa kau ketawa-ketawa nggak jelas?” lanjutku. “Hehehe,,, kau tau tidak? aku tadi diajak bicara sama Jong In-ah, aku seneng banget…” ujarnya sambil masih tertawa sendiri, aku tau dia sedang bahagia, itu terpancar dari wajahnya, namun kebahagiannya tak menular padaku, karena kutahu ini hanya akan membuatku sakit. Yah, sakit, karena dia menyukai Jong In, sedangkan aku mencintainya. Mencintainya dengan tulus sejak kami pertama bertemu, sejak aku berumur 8 tahun, sepuluh tahun yang lalu. Kami memang bersahabat sejak lama, tapi apa yang kurasakan itu lebih dari seorang sahabat, dan dia tidak mengetahui apa yang kurasakan. Aku takut dia akan menjauh bila aku mengatakan yang sebenanya, jadi kupilih untuk memendamnya, meski kutahu ini tak akan mudah. “Jong In-ah? Jeongmalyo?” tanyaku dengan sedikit ragu. “ne, tentu saja, kau tak percaya?” tanya Jira meyakinkanku. “Anhi, ternyata ada laki-laki yang mau bicara sama gadis tomboy seperti kamu” ejekku. “Hah, kau, bukannya mendukungku malah mengejekku” katanya dengan wajah cemberut. “Hehehe,, just kid Jira-ah” ujarku mencoba membuatnya tersenyum, dan ternyata berhasil, dia pasti tau kalau aku hanya bercanda. “Nah, gitu donk, berarti kau mendukungku kan?” ujarnya dengan senyum manisnya. Senyum manis yang terkadang bisa menjadi menakutkan bila dia sedang marah. “mendukung buat apa?” tanyaku heran, meminta jawaban yang pasti dari mulutnya. “mendukung bila suatu saat nanti Jong In akan jadi namjachinguku” ujarnya dengan senyum yang saat ini ditambah wajahnya yang memerah. Hatiku langsung sakit mendengar perkataan itu. Seperti jarum yang menusuk-nusuk hatiku. Tapi kucoba untuk tersenyum, aku tak ingin dia mengetahaui apa yang kurasakan. “Mwo??? PD sekali kau” ujarku mencoba membuat lelucon. “Waeyeo? Ada yang salah?” tanyanya bingung. “Anhi, tapi apa kau yakin dia mau pacaran dengan yeoja jadi-jadian seperti kamu?” ujarku, dan itu langsung membuat mukanya kusut. “Chanyeol-ah, kau tega sekali ngatain aku yeoja jadi-jadian” ujarnya dengan wajah yang cemberut. “Hehehe,, mianhae Jira, tapi kau memang yeoja jadi-jadian, kau yeoja yang tomboy, galak. Mana ada namja yang berani sama kamu, bisa-bisa mereka babak belur gara-gara kau hajar” ucapku dengan cengengesan. “Hahaha… kau benar juga Chanyeol. Ah,, lupakanlah, aku memang terlalu berandai-andai” ujarnya dengan ekspresi yang datar, tepatnya seperti orang yang menerima kenyataan bila dia memang tomboy. Rasanya lega sekali mendengar perkataan Jira. Semoga saja dia hanya bercanda dengan perkataannya itu.

“Jira, mianhae, nanti aku tidak bisa pulang bersamamu, aku ada tugas” ujarku. “ne, gwaenchanayo, aku tidak akan mengganggumu.” Jawabnya dan senyumnya selalu terulas di wajah manisnya. “baiklah kalau begitu. Kau tidak pernah menggangguku kok”. “Hehe… sudah dulu ya,. Aku mau balik ke kelas, sebentar lagi bel masuk” ujarnya menghentikan percakapan kami, dan dia langsung berjalan keluar. “Ne Jira-ah“ jawabku singkat tapi selalu lembut bila bicara padanya.

@@@

Esok harinya aku tidak berangkat bersama Jira seperti biasanya, dikarenakan masih ada Tugas yang menjadi tanggunganku. Sesampai aku di koridor sekolah, tiba-tiba tangan kananku ditarik dari belakang. “Chanyeol-ah” ujar Jira dengan sedikit terengah-engah, mungkin karena berlari mengejarku. ”Ahh,, kau ternyata. Ada apa Jira? Kenapa kau terengah-engah seperti ini?” tanyaku heran. “Haah,, aku tadi mengejarmu tau!” jawabnya dengan muka yang dilipat. “mengejar? Aku kan sudah bilang, aku akan berangkat duluan” jawabku yang masih tak mengerti. “Iya, tapi karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu jadi aku mengejarmu” jawabnya, sekarang wajahnya tak kusut lagi. “Ada apa memang? Sesuatu yang pentingkah?” tanyaku dengan seribu tanda tanya. “Ne, penting sekali. Kau tahu, kemarin saat aku pulang Jong In mengajakku ngobrol berdua, dan kau tau, dia menyatakan cinta padaku Chanyeol. Menyatakan Cinta.. aku senang sekali Chanyeol” jawabnya dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Jlllepppp…. seperti pisau tajam yang menusuk hatiku, merobeknya hingga terasa amat sakit. Bad news. Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Aku sudah tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata lagi. Sekarang yeoja yang aku cintai telah memiliki namja lain. Padahal aku berharap akulah namjachingunya. Aku masih terdiam, tak bisa berkata apapun. Rasanya air mata ini ingin keluar, tapi apa kata Jira nanti bila melihatku menangis? Aku ini seorang namja, pantang untuk menangis, apalagi aku adalah sahabatnya, mana mungkin seorang sahabat akan menangis mendengar kabar baik dari sahabatnya. Kucoba untuk menahan semua sakit ini, aku masih diam, tak mampu untuk bicara, sampai Jira mengagetkanku dengan mengayunkan telapak tangannya didepan mataku. “Hey.. apa kau baik-baik saja” ucapnya. “Eh,, anu.. Y-yah,, aku baik-baik saja. Selamat ya Jira. Tapi bukankah dia namja playboy di sekolah kita. Kau tau itu kan?” ujarku, dengan air mata yang kutahan dengan kuat. “Ne, aku tau itu. Tapi aku merasa dia benar-benar mencintaiku Chanyeol” ujarnya tanpa rasa bersalah, bersalah karena dia sudah buat hatiku sakit. “Geuraeyo,. Baiklah, semoga kau tak memilih pilihan yang salah Jira” jawabku dengan penekanan di kata ‘salah’. Yah, salah karena dia tak memilihku. Tapi aku tak boleh egois, aku harus bisa melihatnya bahagia dengan namja lain. “Ne, gomawo Chanyeol. Kau memang slalu mendukungku” ujarnya lagi, senyumnya kali ini tak bisa menyembuhkan lukaku. “Baiklah, aku harus pergi, aku ada Tugas. Bye!” ucapku seraya menghindarinya, aku tak ingin merasa tersakiti lebih dalam lagi. “Yah,,.. kok langsung pergi siih. Ya sudahlah. Good Luck Chanyeol!” namun aku tak menghiraukannya, aku takut air mata ini berhasil keluar jika aku melihatnya lebih lama. Aku bergegas menuju kelasku, aku harap aku bisa melupakan sejenak masalah ini dengan setumpuk tugas-tugasku.

Namun ternyata dugaanku salah, seharian aku mengerjakan tugas-tugas ini namun aku tidak bisa konsen. Aku semakin tersiksa, aku stress, aku tertekan. *Lebe deh author XD . “Aaachhhh!!!” ucapku sambil mengacak-acak kepalaku di ruang kelas saat pulang sekolah. “Heh Chanyeol, kenapa kau?” tanya Joon Myeon heran. “Ah, tak apa, aku hanya merasa capek” jawabku menutupi kenyataan. “Kalau kau capek, kau pulang saja, biar aku yang mengerjakan ini” kata Joon Myeon mencoba membantuku. “Ah tak apa, biar kita selesaikan bersama”. “Kau yakin?”. “Mullonimnida Joon Myeon”. “Baiklah”.

3 hari aku sengaja menghindar dari Jira. Dia menelfonku, mengirim pesan, mendatangi kelasku namun aku menghindar dengan alasan tugas. Ku lakukan ini karena aku ingin menenangkan pikiranku. Supaya aku bisa merelakan dia dengan yang lain. Dengan Jong In. Yang kutahu dia adalah namja playboy yang gonta-ganti pacar. Aku takut Jira akan dijadikan korbannya selanjutnya. Tapi Jira keras kepala, mungkin karena dia terlanjur mencintai Joong In.

@@@

“Chanyeol-ah, gidariseyo!” ucap seorang gadis. Ya, aku tau itu adalah suara Jira, kutoleh kebelakang, aku rindu melihat wajah manisnya. “Ah,, Jira. Ada apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu dia pasti akan bertanya tentang sikapku 3 hari ini. “Hah? Ada apa? Tentu saja ada apa-apa. Kau kenapa akhir-akhir ini? Kau menghilang.” Jawabnya ketus. “Hehe,, mianhae Jira. Jebal mianhae, aku sungguh sangat sibuk kemarin” jawabku memohon. “Jeongmalyo?” tanyanya penuh curiga. “Mullonimnida Jira-ah. Kau tak percaya?” jawabku berbohong, semoga dia tak bisa membaca ekspresiku, seperti yang biasa dia lakukan. “Aku percaya kok. Oh ya, kau mau pulang dengan kami?”. “kami? Kau dan Jong In?” tanyaku balik. “he’em..” jawabnya polos dan tiba-tiba seorang namja datang dari belakang Jira dan langsung menggandeng tangan Jira, yah, tentu saja itu namjachingunya, Jong In. “Chagi..” katanya mesra sambil menggandeng tangannya. “Ah, Oppa…” jawab Jira manja. Aku tak pernah melihat Jira manja seperti ini sebelumnya. “Anhi, tidak usah, kalian duluan saja” jawabku. “Oh begitu, baiklah. Bye Chanyeol” ucapnya sambil melambaikan tangannya. Kulihat mereka begitu mesra. Tak kusangka ternyata Jira bisa berubah menjadi yeoja manis seperti itu. Hatiku kembali sakit, namun saat ini aku sudah bisa mengendalikannya. Aku berusaha menerima kenyataan. Aku akan berusaha bahagia melihat Jira dan Jong In. Meski itu sulit tapi aku selalu mencoba tersenyum.

Sudah satu bulan lebih mereka berpacaran. Mereka selalu bermesraan didepanku, entah disengaja atau tidak. Tapi mereka berhasil membuatku sakit. Mereka berhasil menusukkan pisau tajam dihatiku. Ditambah lagi hubungan persahabatan kami mulai renggang. Dulu kami berangkat dan pulang bersama, sekarang Jira lebih memilih pulang diantar Joong In. Dulu kami sering pergi ke kantin bersama, sekarang dia lebih memilih dengan Joong In. Mengirim pesan padaku pun tak pernah, kecuali bila dia membutuhkan orang untuk membantu mengerjakan Tugasnya. Yah, bisa dibilang dia hanya menemuiku untuk membantu mengerjakan tugasnya. Miris sekali memang, namun aku tak bisa menolaknya, karena itu satu-satunya kesempatanku untuk masih dekat dengannya. Mungkin karena kebodohanku aku masih sabar menghadapi semua ini, karena kebodohanku aku masih mencintainya dan masih mengharapkannya yang sudah mempunyai namjachingu.

@@@

Kulihat dari kejauhan seorang gadis dengan langkah gontai dipinggir jalan. Namun aku kaget setelah kulihat, gadis itu adalah Jira. “Kenapa dia tak pulang dengan Jong In?” tanyaku pada diri sendiri. Dia hendak menyebrang namun dia tak melihat jika ada mobil yang melaju cepat. Aku berlari secepat yang kubisa…

(Jira pov)

Kepalaku pusing, pipiku masih terasa sakit, apalagi bibirku. Mungkin karena aku tadi berkelahi dengan seorang preman yang mencoba menggangguku. Ku coba berjalan meski langkahku gontai, disaat aku menyebrang rasanya ada seseorang yang menarik tanganku. Aku kaget, mataku refleks tertutup hingga aku tak tahu apa yang terjadi. Itu berlangsung begitu cepat. Aku tertarik kebelakang, hingga kurasakan dada seseorang yang menarikku tadi. Kami terjatuh di trotoar karena dia terlalu keras menarikku. Aku merasakan bahwa dia seorang lelaki. Dan aku sempat mendengar dia tadi meneriakkan namaku. Saat aku membuka mataku kulihat seorang laki-laki. “Chanyeol-ah” kataku dengan nada lemah. “Jira, ada apa denganmu? Kalau jalan lihat-lihat. Kau hampir tertabrak tadi” ucapnya yang langsung nyerocos menceramahiku. “Mianhae, aku pusing Chanyeol. Gomawo sudah menyelamatkanku” ujarku dengan masih memegang bibirku yang sedikit berdarah. Chanyeol langsung mengangkat tubuhku, membantuku berdiri. Dia membawaku ke taman disamping jalan ini. Dia menyuruhku duduk di bangku panjang dibawah pohon di taman itu. “tentu saja aku akan menyelamatkanmu, tidak mungkin aku diam saja melihatmu hampir tertabrak” katanya menjelaskan. “Ne, sekali lagi gomawo” jawabku dengan tersenyum. “kau kenapa? Kenapa bibirmu berdarah dan mukamu memar begini?” Tanyanya yang sangat khawatir dengan keadaanku dengan memegang daguku. “Anhi, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja” jawabku mencoba menutupi keadaan, aku tak ingin membuatnya khawatir. “Heh,jelas-jelas kau berdarah begini masih bilang baik-baik saja. Pabo!” gerutunya sambil tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “jangan ngatain aku pabo donk!” ucapku dengan cemberut, namun aku selalu senang mendapatkan perhatian darinya, meski dia bukan namjachinguku. “kau pasti habis berkelahi dengan preman, ya kan?” Tanyanya sambil mengobatiku dengan obat merah yang dipegangnya. “Aawww.. sakit.” Ucapku mengeluh karena sudut bibirku ini memang terasa sakit. “diam dulu!” perintahnya dan aku hanya menurut. “Ne, aku memang habis berkelahi sama preman”. “Hah, kebiasaanmu itu tidak pernah berhenti ya. Kapan kau jadi yeoja normal?” ucapnya yang menurutku dia memarahiku sekaligus perhatian padaku. “Salah siapa tuh preman ganggu aku, jadi aku tonjok aja dia, eh ternyata dia ngebales. Akhinya kita berantem. Namun tetap aku donk pemenangnya” ucapku membela diri. “Iya, tapi kenapa kau tak pulang dengan Jong In saja? Jadi kau tak akan diganggu preman”. “Ah, dia lagi sibuk dengan gengnya”. “Ohhh,, jadi begitu, tapi lain kali kau harus lebih sabar menghadapi orang.” . “Iya Chanyeol” sambil memoncongkan bibirku dan dia langsung mencubit hidungku. “Apa kau sudah selesai mengobatiku?” lanjutku. “Ne, sudah selsesai. Ayo kita pulang” katanya dan langsung menggandeng tanganku. ”Baiklah. Gomawo ya Chanyeol” ucapku. “Gomawo buat apa?” dia menghentikan langkahnya. “Gomawo udah selamatkan aku dan udah ngobatin lukaku.” Jawabku dengan tersenyum, entah kenapa aku selalu ingin tersenyum saat bersamanya. “Kau ini, kita kan sahabat” ucapnya dengan mengacak-acak kepalaku. “Hehe,, kau benar” jawabku hanya tertawa.

(Chanyeol pov)

Aku sempat kaget saat dia bilang Jong In sedang ada urusan dengan gengnya. Padahal tadi sewaktu di sekolah aku sempat melihat dia dengan gadis lain. Mungkin mereka cuman teman, yah biasa lah, dia kan digandrungi banyak yeoja di sekolah. Namun aku tak ingin mengatakannya pada Jira, aku tau dia pasti cemburu atau kalau tidak dia malah akan benci padaku karena mengira aku menfitnah Jong In. Jadi kuputuskan untuk diam saja. Akhirnya aku bisa pulang dengan Jira lagi. Aku merindukannya. Aku rindu saat-saat dimana kami bersama, tertawa bersama, bercanda bersama, dan masih banyak lagi. Rumahku dan rumah Jira berdampingan, mungkin itu juga menjadi faktor persahabatan kami. Apalagi aku anak tunggal, jadi teman mainku hanya Jira dan terkadang dengan kakaknya. Jira tak pernah bercerita denganku semenjak dia mempunyai namjachingu. Mungkin aku sudah tak dibutuhan lagi. Ahh sudahlah, ‘jangan negative thinking’ kataku dalam hati. Jendela kamarnya yang berhadapan dengan jendela kamarku pun sekarang jarang terbuka. Mungkin dia sering pergi dengan Jong In. Aku sungguh-sungguh merindukannya. Merindukan sosok Jira yang tomboy dan Jira yang belum punya namjachingu.

@@@

(Chanyeol pov)

Satu minggu terakhir ini, aku sering melihat Jong In dengan yeoja lain. Awalnya aku tak curiga, namun lama-lama aku curiga juga. Tak jarang juga aku melihat dia masih bersama Jira. Kalau dengan Jira yah pantas lah, Jira kan yeojachingunya, tapi gadis itu? Siapa gadis itu? Kalau mereka cuman berteman mengapa harus berpegangan tangan segala? Ahh,,, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakannya pada Jira?

“Joon Myeon, kau tahu tidak siapa gadis itu?” tanyaku pada Joon Myeon yang sedang duduk disampingku di depan kelas saat istirahat. “gadis mana?” tanya Joon Myeon balik dengan sedikit bingung. “Itu, yang berada dipojok koridor, yang berdiri didepan Jong In?” ucapku sambil menunjuk kearah mereka berdua. “Ohh itu, dia Hyun Ah. Heh Chanyeol, bukannya Jong In pacar Jira ya?” tanyanya heran. “Iya, aku juga heran kenapa dia dengan yeoja itu. Ah, mungkin cuman teman” ucapku mencoba menjelaskan. “Iya sih, tapi apa teman semesra itu? Sebaiknya kau kasih tau sahabatmu itu. Jong In kan namja playboy” katanya memberiku saran. Setelah kupikir-pikir Joon Myeon benar juga. Mana mungkin mereka sekedar teman. Dia pasti selingkuh dengan yeoja genit itu. “Iya, kau benar” kataku sambil merogoh ponsel di saku celanaku.

To : JiRa ^^

Jira kau ada dimana?

Aku menulis pesan sesingkat itu saja. Setelah kupikir-pikir kembali, mungkin lebih baik jika aku yang bicara langsung dengannya. Tak lama kemudian, ponselku bergetar, kulihat layar ponselku.

From : JiRa ^^

Aku ada dikelas Chanyeol-ah. Ada tugas kelompok yang harus kukerjakan. Waeyeo?

Pantas saja dia tak tahu, dan pantas saja Jong In dengan yeoja lain. Dia kan tak terbiasa jika dia tak ditemani yeoja cantik. Mungkin yeoja itu memang selingkuhannya. Kasihan sekali Jira. ‘Brengsek!’ ucapku dalam hati. Berani-beraninya dia menduakan Jira yang sangat mencintainya. Apa dia tak tahu perasaan Jira yang sesungguhnya. Beribu pertanyaan terlintas dalam benakku. Lalu kubalas pesannya.

To : JiRa ^^

Ah, begitu rupanya. Bisakah kau kemari sebentar?

Kuharap dia bisa kemari dan melihat kelakuan Jong In dibelakangnya.

From : JiRa ^^

Mianhae Chanyeol-ah, aku tak bisa meninggalkan tugas ini. Jebal mianhae… L

“Haaahhh..” gerutuku. “Kau kenapa???” tanya Joon Myeon yang sedari tadi asyik mendengarkan musik lewat MP3 player dengan headset ditelinganya. Kupikir dia tak mendengar, namun ternyata dia masih bisa mendengar dengan baik meski headset terpasang di telinganya. “kau dengar ya?” tanyaku heran. “tentu saja, suaramu tadi itu sangat keras, seperti orang marah” jawabnya. “Ah, begitu rupanya. Hehehe…” ucapku dengan diselingi tertawa karena aku tak sadar jika gerutuku tadi terdengar keras. “Sial, beruntung sekali kau Jong In.”  Kataku dalam hati. Lalu kubalas pesan Jira.

To : JiRa ^^

Ne, gwaenchanayo. J

Setelah kukirirm pesan itu. Dia tak membalasnya lagi. Aku memahaminya, mungkin dia teramat sibuk. Yah, aku harus tahu itu.

@@@

Beberapa hari kemudian aku masih melihat Jong In dengan yeoja genit itu. Aku sudah tak sabar ingin memukulnya dan meminta penjelasan atas perselingkuhannya dengan Hyun Ah. Dan saat itu, saat istirahat, kulihat dia di pojok koridor lagi. “Jira pasti masih sibuk” pikirku. Aku yang tak tahan melihat mereka bermesraan di pojok koridor langsung menghampirinya. Namun sepertinya yeoja genit itu tau kedatanganku. Dia langsung pergi meninggalkan Joong In. Mungkin dia tahu kalau aku adalah sahabat Jira, dia takut bila aku akan mengadukannya pada Jira, dan Jira akan menjadikan mereka babak belur. “Jong In aku pergi dulu” ucap yeoja itu. “Hey, kenapa chagi?” teriak Jong In yang sepertinya belum menyadari kehadiranku, namun yeoja itu langsung pergi dengan langkah cepat. Aku kaget saat Jong In bilang ‘chagi’ pada yeoja itu. Bukankah chaginya adalah Jira? “Brengsek!!! Berani sekali kau selingkuh dibelakang Jira” teriakku sambil menarik krah seragam Jong In. Teriakanku mengagetkan semua murid yang ada di koridor ini. “Cha-Chanyeol-ah” ucapnya gelagapan. “Heh?? Siapa yeoja itu? Katakan! Cepat katakan? Kenapa kau panggil dia chagi, hah??!!” teriakku semakin tak sabar lagi, dan langsung saja aku menonjok mukanya. Wajah tampan itu sekarang menjadi memar. “Kau salah sangka! Dia cuman temanku!”  jawabnya dengan suara yang keras pula, dia mencoba melepaskan cengkraman tanganku. “Salah sangka? Kau pikir aku ini bodoh? Jelas-jelas kau bermesraan dengan yeoja genit itu, kau masih bilang aku salah sangka?” ucapku dengan nada tinggi pula. Kucoba tuk menonjoknya lagi namun dia berhasil menagkasnya, dia balik menonjok mukaku. Sudut bibirku terasa sakit karenanya. Kulihat telapak tanganku berdarah saat kucoba mengusap bibirku. “itu bukan urusanmu!!!” ucapnya tanpa dosa. “Bukan urusanku kau bilang??? Tentu saja itu akan menjadi urusanku!! Jira itu sahabatku! Aku tak akan membiarkannya tersakiti oleh namja brengsek sepertimu!” timpalku dengan tidak sabar lagi, disaat aku ingin menonjoknya lagi, tiba-tiba Jira berteriak “Berhenti!!!!!”. Akupun menunda keinginanku untuk menonjoknya. Jira berlari kearah kami, dia berdiri didepanku, diantara aku dan Jong In. “Chanyeol apa yang kau lakukan??” tanyanya dengan nada marah. Aku tak pernah melihat Jira semarah ini. Seingatku dia tak pernah bersikap seperti ini padaku sebelumnya. “Jira! Namja brengsek ini telah selingkuh dibelakangmu!” kataku dengan nada tinggi mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Tidak mungkin! Tidak mungkin Jong In selingkuh!” katanya yang tak percaya atas apa yang kukatakan, dia berbalik menghadap Joong In, berharap Jong In akan mengatakan yang sesungguhnya. “Itu tidak benar chagi. Aku tidak selingkuh. Aku hanya mengobrol dengan teman yeojaku yang lain. Hanya teman.” ucap Jong In mencoba menjelaskan pada Jira. “Brengsek kau!! Sudah tertangkap basah masih tidak mau ngaku!” kataku dengan kepalan tangan yang siap menerkam wajah dustanya. Namun usahaku terhalangi oleh Jira, pukulanku ditangkis olehnya. “Chanyeol! Tega sekali kau!” ucapnya yang sambil menampar mukaku. Meskipun cuman ditampar, tapi tamparan Jira itu sangat keras. Pantas saja, dia seorang ahli taekwondo. Jllepppp… aku kaget dia menampar mukaku. Seperti seribu pisau tajam yang menusukku secara bersamaan. ”Jira! aku bicara yang sesungguhnya! Apa kau tak percaya lagi padaku?” ucapku dengan nada tinggi. Aku masih tak percaya dia menamparku dan tak percaya dengan apa yang kukatakan.. Aku mencoba membelanya namun apa yang dia berikan? Dia malah menamparku. “Aku tak percaya padamu! Sejak awal kau tidak suka dengan hubungan kami.”. CTTTAARRR… rasanya itu seperti suara petir yang menyambar. Aku tak mengenal Jira yang sekarang. Dia tak pernah semarah ini padaku sebelumnya, dia selalu percaya dengan apa yang aku katakan. Namun kali ini tidak. Ini sungguh sulit dipercaya. “Jira! Kau berubah!” jawabku dengan masih memegangi pipi kiriku yang sakit. “Kau yang berubah!”. “Aku??? Apa aku pernah meninggalkanmu? Apa aku tidak ada disaat kau butuh? Hah??!!” bentakku, namun sejujurnya aku tak tega mengatakan hal sekasar ini padanya. “Cukup!!! Sekarang kau bukan temanku lagi!” katanya dengan air mata yang mengalir dari mata beningnya. CCTTTAARRRR…. lagi-lagi terdengar seperti suara patir. Sakit sekali. Aku mencoba mengatakan kenyataan namun dia tak percaya. Sungguh sakit, rasanya air ini ingin ikut keluar melihat Jira menangis. “jira tak kusangkau kau lebih memilih dia dibanding aku” ucapku dengan nada kecewa. “Kau yang keterlaluan menuduh Joong In yang tidak-tidak”. “Aku mengatakan yang sebenarnya!!”. “Tidak chagi! Dia bohong. Aku tidak melakukan apapun” tambah Jong In yang semakin merusak suasana. Jira masih terdiam. Dia menatapku dengan kekecewaan. Aku sungguh tak tahu apa yang ada dalam pikiran Jira. “Brengsek!!!” kataku lagi yang ingin menonjok mukanya. “Cukup!!!” Jira menangkisku, lalu dia mendorongku hingga terjatuh. Tenanganya kuat sekali. Dia lalu pergi dengan Joong In. Pergi meninggalkanku dengan kekecewaan. Sungguh sakit rasanya, dan aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata lagi.

“Chanyeol-ah, kau tak apa-apa?” ucap Joon Myeon yang membantuku berdiri. Mungkin dia hanya berdiri melihatku tadi dengan murid yang lain. Tak berani meleraiku dengan Joong In sampai Jira datang. “Ne, gwaencahana. Aku baik-baik saja. Hanya saja mukaku terasa sakit” keluhku yang masih memegangi pipiku. “Yah tetu saja, wajahmu memar dan bibirmu berdarah seperti itu, ayo kita ke UKS” ucapnya sambil menuntunku ke UKS. “ne, gomawo”. “Cheonma. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Aku tak menyangka Jira bisa seperti ini padamu.”. aku hanya terdiam. ‘Kau saja tak percaya, apalagi aku?’ kataku dalam hati.

@@@

Seminggu setelah kejadian itu Jira sama sekali tak menelfonku, mengirim pesan, atau sekedar menyapa. Dia seperti menghilang. Saat dirumah, jendela kamarnya pun semakin tertutup, tak pernah dibuka lagi. ‘apa kau semarah ini padaku Jira?’ pikirku. Awalnya aku ingin meminta ma’af, tapi dimana letak kesalahanku? Egoku mulai muncul. Bila aku memulai berbicara padanya aku takut dia tambah marah. Ah, sudahlah, mungkin untuk saat ini Tuhan tak mengizinkan kami untuk bersama. Biarlah aku yang tersakiti. Aku sendiri masih tak mengerti, kenapa rasa cintaku pada Jira begitu besar. Meski dia memarahiku, awalnya akupun marah, tak bisa menerima kenyataan. Namun akhirnya aku kembali berfikir jernih. Aku menyadari bahwa aku mencintai Jira dengan tulus, meski dia marah padaku aku masih tetap saja percaya bahwa suatu saat dia akan tahu yang sebenarnya. Tahu bahwa cinta Jong In hanya palsu belaka, dan akan tahu bahwa aku sangat mencintainya dengan tulus. Meski itu butuh waktu yang lama, ku coba tuk menerimanya.

“Chanyeol-ah, ada kabar buruk” ucap Joon Myeon yang tiba-tiba menghampiriku di koridor saat pulang sekolah. “Ah, kau. Memangnya berita apa?” tanyaku heran. “Tadi waktu dikantin tak sengaja aku mendengar perkataan Baekhyun dan Sehun kalau Jira itu hanya sebagai taruhannya Jong In” ucapnya dengan mendekat ketelingaku. “Hah?? Apa??!!” ucapku kaget mendengar perkataan Joon Myeon. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang dia katakan. JJLLEPPPP… lagi-lagi hatiku sakit seperti pisau yang merobek hatiku. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. “Brengsek tuh anak!” lanjutku kesal dengan memukul tanganku tanganku sendiri. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kalau aku menganggu Jong In lagi, sudah pasti Jira akan tambah marah denganku. Lalu aku harus bagaimana?? ‘Hahhhhhh!!!’ teriakku dalam hati. “Kau yakin?” tanyaku lagi dengan meminta penjelasan. “Tentu saja, aku mendengar dari mulut Baekhyun sendiri. Tadi tidak sengaja aku mendengar percakapan mereka, bahwa Jira hanya menjadi taruhan Jong In”. “Hah, apa yang harus kulakukan??” kataku kesal. “Menurutku kau jangan mengganggunya lagi, suatu saat Jira pasti tau akan hal ini” jawabnya memberi pendapat. “Tapi, itu akan menyakiti Jira”. “Iya, kau benar tapi kalau kau mengatakannya sekarang, belum tentu Jira akan mempercayaimu. Malah bisa-bisa dia akan membencimu”. “Kau benar, hah!! Aku benci keadaan seperti ini”. “Sabar ya!” ucapnya menasehatiku, mencoba membuatku tenang. ‘Ma’afkan aku yang tak bisa meyakinkanmu Jira’ kataku dalam hati.

@@@

3 hari setelah kejadian itu.

(Jira pov)

Aku masih teringat ucapan Chanyeol, kira-kira 10 hari yang lalu. Apa benar yang diucapkan Chanyeol? Selama ini aku percaya padanya, dia tak pernah membohongiku. Lalu kenapa kemarin aku tak percaya? Kenapa aku menamparnya? ‘Tuhan ma’afkan kesalahan dan kebodohanku yang dibutakan oleh cinta’. Sejak saat itu hubunganku dan Chanyeol mulai terputus, dan hubunganku dengan Jong In mulai renggang. Sebenarnya aku tak sepenuhnya percaya dengan Jong In. Lalu kenapa aku dulu menerimanya? Kenapa aku lebih memilih dia dibanding sahabatku sendiri. Padahal benar kata Chanyeol, dia yang selama ini ada untukku. Tidak seperti Jong In, yang terkadang meninggalkanku tanpa alasan. ‘Hahhh…’ gerutuku dalam hati.  Aku masih melamun sendiri dikoridor saat pulang sekolah. Tiba-tiba ada yang mengagetkanku. “Jira-ah” ucap Nara sambil menepuk pundakku dari belakang. “Ah, kau Nara.. kau mengagetkanku saja” ucapku. “Kau kenapa? Akhir-akhir ini kau selalu melamun” ucapnya yang berjalan disampingku. “Ne, kau benar. Aku selalu memikirkan kejadian itu” ucapku dengan nada lemah. “Oh,, kalau kau masih penasaran, kenapa tak kau tanyakan saja pada Jng In” ucapnya memberi saran. “Aku pernah menanyakannya pada Joong In, dan dia bilang dia tidak selingkuh, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dihatiku”. ”Kalau begitu, kau coba tanyakan pada gengnya, siapa tau mereka mengetahuinya. Mereka kan teman dekat”. “Ne, kau benar, kenapa tak pernah terfikirkan olehku?” ucapku yang langsung semangat. “Aku pergi dulu ya Nara, aku harus menemui mereka sekarang” lanjutku yang langsung meninggalkan Nara, aku berlari menuju kelas Jong In.

Disaat aku hendak memasuki kelas aku perlambat langkahku, karena kudengar mereka sedang berbicara. “Ah, sial!! gara-gara Jong In menang taruhan, aku harus mentraktirnya selama 2 bulan!” ucap seorang laki-laki yang berada dalam kelas itu. Aku terhentak. ‘Taruhan? Taruhan apa?’ kataku dalam hati. Aku lalu berjalan pelan aku sengaja tak langsung masuk dalam kelas, aku ingin mendengar percakapan mereka dulu. Bukan bermaksud menguping tapi aku mencoba mencari suatu kebenaran. Kutempelkan telingaku di pintu kelas yang tertutup itu. “salah sendiri kau taruhan dengan Jong In” ucap Sehun mencibir. Ya, Sehun aku bisa melihatya dari jendela, dan yang bilang ‘Sial’ tadi adalah Baekhyun. “Yah, kukira dia tidak akan sanggup menakhlukkan yeoja tomboy itu. Dan ternyata dia sukses. Dia berhasil menjadikan yeoja tomboy itu menjadi yeojachingunya” ucapnya dengan nada kesal. JLLLEEPPPP… CTAAARRRR… seperti pisau yang merobek hatiku sekaligus seperti petir yang menyambarku disiang yang cuacanya mendung ini. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Aku merasa tidak bisa bernafas lagi. Tapi kucoba tuk kendalikan diriku. Kucoba mendengar percakapan mereka sebelum aku benar-benar naik pitam. “Jadi, Joong In berpacaran dengan Jira itu hanya untuk taruhan?” tanya Kyung Soo kaget. “Iya, masa’ kau baru tahu sih Kyung Soo” jawab Sehun membenarkan. “Aku tak tahu jika akhrinya yeoja itu mau dengan Jong In, kupikir dia akan menolaknya. Jadi aku berani taruhan sama dia”. “Ah, kau seperti tak tahu Joong In saja, dia itu kan play boy” .”Iya sih, tapi kupikir yeoja itu malah akan menamparnya. Hahaha..”. “Kurasa dia mencintai Joong In deh, nyatanya kemarin waktu Jong In dan Chanyeol bertengkar. Jira malah menyalahkan Chanyeol. Padahal Jong In saat itu memang selingkuh sama Hyun Ah”. JLLLEEPPP… lagi-lagi pisau menusuk hatiku. Aku merasa jadi orang paling bodoh didunia. Kenapa kearin aku malah menyalahkan Chanyeol. ‘Bodoh, bodoh, bodoh’ ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan air mata ini. Aku merasa bersalah pada Chanyeol. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Namun segera kuhapus. Aku masih ingin mendengar kenyataan dari mulut mereka. “Hahaha… kau benar kyung Soo. Kasihan sekali Chanyeol, berusaha mengatakan yang sebenarnya tapi malah ditampar” ucap sehun. “Iya, gadis itu bodoh atau gimana sih? Lebih memilih si Playboy Jong In daripada sahabatnya sendiri” ucap Baekhyun.

Baekhyun benar, aku memang bodoh, dan aku tak tahan dengan ucapan mereka. Tanpa kusadari aku sudah sangat marah, ku buka pintu kelas dengan penuh amarahku, kubanting pintu itu. Aku berjalan mendekati mereka bertiga. Mereka milhatku dengan rasa takut. Mungkin karena ekspresi marahku yang sungguh menakutkan. Dengan sigap kugeret krah seragam Baekhyun dan langsung menonjok mukanya. BBUUGGGG… suaranya terdengar keras. Baekhyun langsung tersungkur ke lantai, Sehun membantunya berdiri. Sedangkan Kyung Soo menahanku. “Lepaskan aku!!!” teriakku. “Jira, tenang dulu. Biar kami yang jelaskan padamu” kata Kyung Soo. Baekhyun sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. “Penjelasan apa lagi? Semuanya sudah jelas! Lepaskan!!” kataku denga amarah yang masih saja menyelimuti diriku. “Iya benar, tapi kita selesaikan dengan baik-baik. Kau akan kulepaskan jika kau tenang” “Baik!” kataku, aku langsung mengontrol diriku supaya mereka mau menjelaskan padaku. “Aku minta ma’af. Telah bertaruh dengan Joong In. Aku bertaruh bila dia bisa menjadikanmu yeojachingunya maka aku harus mentraktirnya selama 2 bulan namun jika dia gagal, dia yang harus mentraktirku” kata Baekhyun dengan nada penyesalan. “Apa dia benar-benar selingkuh dengan Hyun Ah?” tanyaku tak sabar. “Ne! Dia selingkuh dengan Hyun Ah seminggu setelah kalian pacaran. Asal kau tahu, dia sama-sekali tidak mencintaimu. Dia hanya melihatmu dari segi fisik. Dimata dia kau lebih manis dibanding yeoja-yeoja lain disekolah ini”. “Brengsek!!! Dimana Jong In?? Katakan atau kau akan kupukul lagi!” tanyaku memaksa dengan mencengkram krah seragamnya. “Ampun,,.. aku tak tahu dimana dia.. tolong lepaskan aku” kata Baekhyun dengan nada memohon. “Tolong lepaskan dia” ucap Sehun dan Kyung Soo mencoba meleraiku. “Oke! Walaupun begitu gomawo sudah mengatakan yang sebenarnya!” kataku melepaskan cengkramanku. “Ne..” balas Baekhyun. Aku langsung pergi meninggalkan mereka bertiga, aku tak peduli lagi atas apa yang kulakukan pada Baekhyun.

Aku bergegas mencari Jong In diseluruh sudut Sekolah ini, aku tak peduli dengan orang-orang disekitarku. Aku sudah muak dengannya. Teganya dia melakukan semua ini. Teganya dia membohongi perasaanku, teganya dia mengkhianatiku. ‘ternyata selama ini kau tidak mencitaiku’ kataku dalam hati. Hatiku sungguh sakit. Sakit tak terkira. Aku mencari Joong In dimanapun. Amarah sudah menyelimutiku. Entah apa yang akan kulakukan nanti saat aku menemukannya. “Mati kau!” kataku dengan wajahku yang sepertinya mengerikan. Disaat aku sedang melewati koridor yang sepi, aku mendengar suara, samar-samar memang. Ku langkahkan kakiku pelan menuju sumber suara. Tepatnya di ruang kelas Hyun Ah. Aku mendengar dengan seksama. Suara seorang namja dan yeoja. Ya! itu adalah Jong In dan Hyun Ah. Aku sengaja merapatkan badanku ke pintu, melihat dari kaca yang ada di pintu itu.

CTAAARRRR…. kali ini suara petir yang nyata terdengar mengagetkanku dilanjut dengan hujan deras, tapi mereka berdua masih asyik berciuman. Ciuman mereka menjijikkan sekali bagiku. Mereka berciuman penuh dengan hawa nafsu. JLLEPPPP…. sungguh… pisau ini merobek-robek hatiku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Namja yang aku cintai berciuman panas dengan yeoja lain. Aku yang yeojachingunya saja tidak pernah berciuman. Yah, aku belum mendapatkan first kiss-ku. Tapi aku bersyukur first kiss-ku tidak dengan namja brengsek seperti dia. Aku masih mematung didepan pintu kelas itu. Kurasa mereka tidak menyadari kehadiranku. Kulihat Hyun Ah itu duduk diatas meja dan Jong In berdiri didepannya. Kedua tangan Jong In memeluk Hyun Ah, sedangkan tangan kiri Hyun Ah berada di pundak Jong In dan tangan kanannya di belakang kepala Jong In. Sungguh pemandangan yang membuat hatiku sakit, membuatku naik pitam. Aku sungguh tidak tahan lagi, kubuka dan kubanting pintu itu hingga mereka kaget dan mengehentikan aksi ciumannya. “JONG IN!!!! NAMJA BRENGSEK!!! MATI KAU!!!” teriakku yang langsung membuat ekspresi mereka menjadi takut. “Ji-Ji-Jira.. tunggu sebentar, biar aku jelaskan” ucapnya dengan nada takut dan memohon. Aku tak menjawab ucapannya, aku langsung mendekati mereka berdua dan…. BUGGGG!!!!… PLAKKK!!!!… Aku menonjok perutnya lalu menampar mukanya. Lalu aku menghadap Hyun Ah yang menatapku seperti melihat hantu. Dan… PLAKKK!!!! Tamparanku sukses mengenai wajah genitnya. Tersisa warna merah yang menghiasi wajah Hyun Ah. Dia sungguh tak bisa berkata apa-apa. Aku muak, aku benci, aku marah, rasanya ingin kuhajar lagi. Tapi rasanya percuma, karena Jong In tak mencintaiku. Kuputuskan tuk meninggalkan kelas neraka ini. “Chagi.. tunggu…” teriak Jong In. Aku berbalik dengan wajah yang masih marah, bisa-bisanya dia memanggilku ‘chagi’ sedangkan dia tidak pernah mencintaiku. “Chagi katamu!!! Hah!! Aku bukan chagimu. Kau bahkan tak pernah mencintaiku! Pembual!” kataku sambil melepaskan tangan Jong In yang menarikku. “chagi, ma’afkan aku..” mohonnya. “AKU BUKAN CHAGIMU! LEPASKAN AKU!” kataku dengan berteriak didepan wajahnya. Aku menyadari bahwa sosokku yang sedang marah ini mungkin seperti monster. “Ma’af saja tidak cukup untuk mengobati lukaku! Kita Putus!!!” kataku. Aku lalu berlalri meninggalkan mereka berdua. Berlari dengan air mata yang mengalir dari sudut mataku. Awalnya kudengar Jong In mengejarku, lalu aku berlalri lebih cepat hingga aku tak mendengar teriakan Jong In lagi.

Aku berlari tak tentu arah hingga akhirnya aku sampai di taman sekolah. Aku tak perduli hujan deras mengguyurku. Kubiarkan air mataku bercampur dengan air hujan. Aku sudah tidak peduli dengan keadaanku saat ini. Kujatuhkan tubuhku di taman sekolah itu, kini aku berdiri bertumpu dengan lututku. Ku hadapkan wajahku ke langit. Biar air hujan mengguyur wajahku. Aku merasa orang paling bodoh didunia ini yang tidak percaya dengan sahabatku sendiri, yang mau dibutakan oleh cinta. Kini aku menegerti kata-kata Chanyeol. Bahwa dialah yang selalu ada untukku, selalu memberi perhatian padaku. Tapi kenapa aku baru menyadarinya? Memang penyesalan itu selalu dtang di akhir. Aku pun tak tahu apakah Chanyeol mau mema’afkanku apa tidak. Sungguh aku masih berharap padanya. Ingin kukatakan ucapan ma’af dan rasa penyesalanku karena pernah menamparnya. “Aku bodoh, pabo!” Gerutuku pada diriku sendiri sambil memukul kepalaku. Kutundukkan kepalaku, merenungi semua kesalahanku, berharap Chanyeol mema’afkanku dan masih mau menerimaku menjadi sahabatnya kembali. Sejuta pikiran tentang Chanyeol tiba-tiba mengusikku. Aku bingung, apa yang kurasakan ini? Aku memang menyayangi Chanyeol, tapi aku juga mencintai Jong In. Namun aku tersakiti karena cintaku pada Jong In. Aku ingin melupakannya. Aku ingin menemukan namja yang menyayayngiku apa adanya. Aku ingin mencoba mencintai orang lain dan melupaka si Jong In. Tapi disaat aku memikirkan itu, kenapa wajah Chanyeol yang muncul? Kenapa? Apa dia yang selama ini mencintaiku apa adanya namun tak pernah kuketahui? “Jong In!! Aku benci kamu!!!!” teriakku ditengah hujan deras ini. Biarkan orang-orang menganggapku gila. Aku sudah tak peduli lagi.

@@@

(Chanyeol pov)

Sosok Jira masih mengganggu pikiranku. Apalagi setelah kutahu dari Joon Myeon kalau Jira hanya sebagai taruhan Jong In saja. Rasa sakitku kini masih tetap saja terasa, tapi aku tak tahu kenapa aku tidak bisa membenci Jira. Aku teramat mencintainya. Aku mencintainya apa adanya tidak seperti Jong In. Aku ingin dia masih mau menerimaku sebagai sahabat, walaupun aku berharap aku bisa menjadi namjachingunya.

“Chanyeol-ah, ayo kita pulang, ini sudah hujan. Lagi pula Tugas ini sudah selesai” ucap Joon Myeon sambil merapikan buku-bukunya. “Gidariseyo, kurang sedikit lagu aku selesai” jawabku dengan wajahku yang masih menghadap bukuku. “Kau pulang dulu tak apa” lanjutku lalu menoleh padanya. “Kau yakin?” tanyanya. “tentu saja, aku tak akan menahanmu disini” jawabku meyakinkan. “baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya” ucapnya. “Ne, hati-hati.” Jawabku. “Iya aku tahu. Bye!” ucapnya yang langsung pergi keluar kelas meninggalkanku sendiri. Aku hanya tersenyum, lalu melanjutkan tugasku lagi. 5 menit kemudian tugasku sudah selesai. Aku merapikan mejaku, memasukkan bukuku kedalam tasku lalu kupergi keluar kelas.

Saat aku melewati taman sekolah aku sempat terhenti, setelah kulihat ada seorang yeoja yang sengaja berdiri dengan lututnya dibawah guyuran hujan yang deras. “Gila tuh yeoja.” Kataku pelan. Tapi sesaat kusadari yeoja gila itu adalah Jira, yeoja yang aku sayangi. Aku berlari menujunya, akupun tak peduli dengan hujan deras yang membasahi tubuhku. Mungkin aku juga termasuk namja gila. Biarlah, aku tak peduli.

@@@

(Jira pov)

Tiba-tiba ada seseorang memelukku dari belakang, kutolehkan kepalaku, kulihat dia. “Chanyeol” ucapku dengan nada lemas tapi aku sempat memberi senyuman padanya meski air mata ini tetap mengalir bersama air hujan. “Jira..” ucapnya lembut. Aku melihat air mata yang hampir keluar dari sudut matanya. “Kenapa kau menangis?” tanyaku. Dia membantuku berdiri menghadapkan tubuhku padanya lalu dia memelukku erat. Tubuhnya sangat hangat meski kami dibawah guyuran hujan. “Seharusnya aku yang bertanya? Kenapa kau ada disini? Nanti kau sakit”. “Kau perhatian sekali, padahal aku pernah menamparmu”. “Bodoh! Aku ini kan sahabatmu, tentu saja aku perhatian padamu, meski kau pernah menamparku”. Aku menangis, kata-katanya semakin membuatku menangis. ‘Kenapa aku bisa menyia-nyiakan orang sebaik dirimu Park Chanyeol?’ kataku dalam hati.

(Chanyeol pov)

Kulihat dirinya menangis, aku tak kuasa melihat dia menangis, aku tahu pasti dia telah mengetahui kebusukan Jong In. Ternyata aku turut menangis. Ini pertama kalinya dia melihatku menangis. Tanpa kusadari kedua ibu jariku mengusap air matanya. “Jangan menagis lagi…” ucapku. Dia hanya memaksa untuk tersenyum. Matanya terlihat sembab, mungkin dia kebanyakan menangis. Aku tahu apa yang dia rasakan, aku tahu sakitnya dikhianati. Karena akupun merasakan sakit yang amat sangat disaat kulihat dia bersama namja lain. Aku memeluknya erat. Aku tak ingin melepaskannya. Aku merasakan nafasnya yang tersenga-sengal karena menangis. “Chanyeol, ma’afkan aku. Kau benar, Jong In playboy, dia selingkuh dengan Hyun Ah. Dia hanya menjadikanku taruhannya. Aku bodoh. Aku memang bodoh…” . Belum sampai dia selesai bicara aku sudah memotongnya, “Sssttt.. tentu saja aku mema’afkanmu” kataku sambil menempelkan telunjuk kananku di bibir manisnya. Dia lalu terdiam, dia menatapku dalam-dalam. Semakin aku melihat matanya, semakin aku mencintainya. Ku pegang dagunya dan kudekatkan ke wajahku. Wajah manis ini yang telah membuatku bodoh. Bodoh karena mencintainya, meski dia sudah punya namja lain. Kusingkirkan jarak diantara kami, kami tak peduli meski hujan deras. Hingga kurasakan hangat nafasnya, detang jantungnya. Dan….

(Jira pov)

Kututup mataku, Chanyeol menciumku, dibawah guyuran hujan yang deras ini. Ciumannya bukanlah ciuman yang penuh hawa nafsu. Ciumannya adalah ciuman deep kiss yang tulus dari hatinya. Kurasakan hangatnya tubuh Chanyeol, kuraskan hembusan nafasnya. Dan kurasakan bahwa Chanyeol-lah yang mencintaiku dengan tulus selama ini. Kenapa aku tak menyadarinya? Aku menyesal baru mengetahui sekarang. Kini kutahu arti cinta dan kudapatkan first kiss-ku dengan sahabat terbaikku.

(Chanyeol pov)

“Saranghae Jira-ah. Maukah kau menjadi yeojachinguku?” ucapku. Aku tak sadar atas apa yang telah aku ucapkan, tapi sudahlah, itu membuatku lega. Kutatap matanya dalam-dalam. Kurasakan penyesalan didalam matanya. Mungkin penyesalan karena telah mencintai Joong In. Aku menunggu dia menjawab pertanyaanku. Aku gugup. “Nado saranghae Chanyeol-ah, aku akan melupakan Jong In. Aku mau menjadi yeojachingumu” ucapnya lembut lalu kulihat wajah manis itu tersenyum. Aku sungguh senang sekali. Senyumku tak dapat ku sembunyikan. Kupeluk dia erat-erat dan dia juga membalas pelukanku. Aku ingin menciumnya lagi, dan benar saja, kami melakukannya lagi dibawah guyuran hujan.

‘Aku ingin mencintaimu selamanya Jira-ah’ ucapku dalam hati. Dan aku ingin tetap berada dalam keadaan seperti ini. Tak terpisahkan.

(Jira pov)

Aku bahagia menemukan namjachingu sepertimu Park Chanyeol aku berharap waktu dapat berhenti dan kita tetap dalam keadaan seperti ini. ‘You and I together, forever’ ucapku dalam hati.

^^ END ^^

20 pemikiran pada “Because I’m Stupid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s