EXO PLANET (Chapter 3)

EXO PLANET

Title            : EXO PLANET: Something That‘s Hidden (chapter 3)

Author        : shfli3424(@KAIisMINE)

Main Cast  : Park Nara(OC)

Kim Jong in a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Dio

Cast           : Park Chanyeol, EXO’s member

Genre        : Romance(maybe), friendship, mistery, fantasy

Length       : Chaptered

Rating        : PG 13

Author’s POV

Nara jatuh pingsan, ada tolakan dari tubuhnya yang sekarang dan masa lalunya, dia belum sanggup menerima semua itu. Ini terlalu cepat baginya, mengingat bahwa Kai bukanlah takdirnya lagi. Mereka adalah takdir yang salah pada masa lalu karena Park Yeon Ra adalah makhluk EXO sedangkan Kai adalah manusia. Kai terlahir menjadi makhluk EXO untuk menyelesaikan masalahnya dengan Nara yang dulu adalah Yeon ra, namun takdir kembali menolak mereka. Mereka terlahir kembali menjadi makhluk yang berbeda, kini entah apa yang Kai harapkan dia hanya bisa berusaha.

“sudah berapa kali takdir memisahkanku dengannya? Apakah selalu seperti ini?” Kai duduk disamping Tao.

“entahlah, itu bukan urusanku. Itu urusan kalian. Kurasa tidak akan selalu seperti itu. Kau tahu manusia memiliki sixth sense? Nara berbeda, dia seperti memiliki ellement lain.” Jawab Tao masih dengan sifat dinginnya itu.

“aku tahu. Maksudmu? Tidak mungkin manusia memiliki ellement seperti kita. Dari banyak manusia hanya eomma Dio yang terpilih. Apakah Nara akan seperti eomma Dio?”

“bisa dikatakan seperti itu, tapi dia memiliki takdir lebih dari pada do nari(kyung’s eomma) aku hanya akan mengatakan satu kali saja. Jadi dengarkan baik-baik, ini rahasia takdir. Aku berusaha melihat masa depan dengan ellementku untuk melihat masa depan Nara”

“nde, katakanlah.”

“dia memiliki ellement EXO. Seperti ellement yang Dio punya, semua saling melengkapi bukan? Jika ada earth maka akan ada exo, itulah Nara dan Dio. Oleh sebab itu mereka saling ditakdirkan. Tapi meskipun mereka ditakdirkan, mereka tidak bisa bersama.. jadi kau masih memiliki harapan.”

“bagaimana bisa? Sungguh ini diluar dugaanku, Nara memiliki ellement?”

“entah, sulit untuk melihatnya dimasa depan. Gambarannya terlalu abstrak, untuk manusia lain aku bisa dengan mudah melihat masa depan mereka tapi tidak dengan Nara.”

Kai hanya terdiam, melihat Tao yang menjelaskannya secara serius. Dari semua teman Tao, hanya Kai-lah yang mengetahui hal itu, Tao belum siap menceritakannya pada Kris dan Suho. Kris dan Suho adalah hyung mereka, mereka paling tua dari 8 temannya itu.

“tidurlah, sudah malam. Untuk beberapa bulan ini tidurlah dirumahku.” Tao pergi dari balkon rumahnya setelah menjelaskan hal tentang Nara tadi.

“ne..”

Setelah Kai memastikan Tao sudah masuk kamarnya, Kai memejamkan matanya untuk pergi kekamar Nara. kurang dari 2 detik Kai sudah berdiri disamping seorang yeoja yang sedang tertidur pulas, tubuh kecilnya tertutup selimut tebal. Dia hanya bisa memandangi yeoja ini dengan tatapan tak biasa, tatapannya bercampur mengisyaratkan isi hatinya yang sedang gelisah, sedih, khawatir dan juga senang.

 

Kim Jong In POV

Aku menatap wajahnya, disini.. didadaku sesak rasanya jika mengingat akan takdirku. Aku mendekat dan membelai lembut pipinya, Nara hanya diam. Tidurnya begitu pulas, aku putuskan untuk kembali ke rumah Tao. Hanya beberapa detik aku membalikkan badanku, aku mendengar suara lembut seorang yeoja..

“jangan pergi..” sepontan aku menoleh kebelakang.

“boleh aku bertanya sesuatu.. Kai” dia ragu-ragu memanggilku ‘Kai’

“tentu.”

“sebenarnya ada apa dengan diriku? Kenapa kalian menceritakannya padaku? Haruskah aku yang kalian pilih?” dia bangun dari tempat tidurnya.

“kau yang terpilih Nara, kau seperti Nari eomma Kyung Soo. Mungkin akan lahir entah itu yeoja atau namja yang memiliki ellement earth dari kau dan Dio. Bukan kami yang memilihnya, itu takdirmu.” Aku berjalan untuk duduk ditempat tidurnya.

“entahlah apa yang aku pikirkan sekarang, tapi penolakkan dari tubuhku ini sangat menyiksaku. Ketika tubuhku bergetar hebat dan badaku lemas saat melihat salah satu dari kalian menggunakan ellement yang kalian miliki itu sangat membuatku tersiksa.” Aku menatapnya dan menggenggam tangannya yang dingin dengan kuat.

arayo. percayalah, meskipun ini sulit tapi kita akan melewatinya bersama-sama.” Aku tersenyum padanya, kurasakan dia juga menggenggam tanganku.

“tak hanya itu Kai, aku merasakan ada sesuatu didadaku yang ingin lepas. Seakan aku terpancing untuk mengeluarkannya saat melihat kalian menggunakan kekuatan kalian.”

“kurasa kau memiliki suatu ellement. Ijinkanlah aku melihatnya.”

“tak mungkin! Aku seorang manusia. Melihatnya?”

“kenapa tidak? Ne, ulurkan tanganmu yang satunya. Setiap makhluk EXO memiliki koneksi pada sesamanya, dengan saling menggenggam tangan mereka. Akan kucoba..”

“pada sesama? Aku manusia Kai.”

“percayalah..”

Dia mengulurkan tangannya dan memejamkan matanya, aku mencoba melihat apa yang terjadi pada dirinya. Ini cukup sulit, aku melihat suatu lambang. Itu seperti lambang yang dimiliki Luhan, iya seperti ellement telepathy. Tapi sungguh ini tidak mungkin, aku kembali berkonsentrasi. Benar ucapan Tao, dia juga memiliki ellement exo. Tapi telepathy? Apa maksud semua ini?

Aku segera membuka mataku, nafasku tak teratur. Banyak keringat yang keluar, tenagaku habis untuk berkonsentrasi tadi. Kucoba mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku melepaskan kedua tangannya yang bertautan dengan tanganku.

“Kai gwenchana? Apa ada sesuatu yang salah padaku?”

gwenchana. Entah, aku belum bisa memastikanya. Aku pergi dulu Nara.”

“tapi Kai..”

Aku langsung pergi tanpa mendengar kelanjutan kata-kata Nara tadi. Aku berada didepan pintu kamar Tao sekarang. Kuketuk pelan, aku menunggu sedikit lama. akhirnya aku mengetuknya dengan keras dan cepat, sungguh kali ini aku gelisah dan bingung.

“bersabarlah, kenapa kau tidak langsung masuk saja?” Tao membuka pintu kamarnya.

“itu tidak sopan jika aku tiba-tiba muncul dikamarmu” aku masih mencoba mengatur nafasku yang masih terengah-engah.

“kenapa kau? Tunggu, apa terjadi sesuatu?”

“Nara.. Nara Tao..”

“ada apa dengannya?” Tao menuntunku masuk kamarnya.

“benar apa yang kau katakan, dia memiliki ellement exo. Tapi.. dia juga memiliki ellement telepathy.”

“tidak mungkin. Dari 12 ellement pokok hanya ada 12 makhluk EXO yang memilikinya. Aku masih bisa menerima jika dia memiliki ellement lain selain ellement pokok, tapi tentang ellement telepathy itu.. ini sungguh aneh.”

“benar Tao, itu aneh. Apakah dengan itu dia bisa mengalahkan Luhan?”

“kurasa seperti itu. Kita lihat saja besok, apakah dia bisa menggunakan ellementnya. Dia akan ikut latihan bukan?”

Masih banyak pertanyaan dibenakku, aku hanya menyimpannya dan pergi dari kamar Tao menuju kamar sementara ku. Aku menutup mata berharap sesuatu yang buruk tidak akan terjadi besok.

*next morning

Mataku terbuka pelan, beginilah hawa pagi hari di Seoul. Sejuk dengan matahari bersinar terang saat musim semi. Aku masih memandang langit-langit kamar mencoba memikirkan Nara kembali, aku tak mengerti kenapa takdirnya begitu rumit. Ini semua diluar dugaanku, aku tidak bisa membayangkan apa yang ke-8 temanku pikirkan jika mengetahui Nara memiliki kekuatan telepathy. Apakah mereka akan terkejut atau senang, Nara adalah satu-satunya makhluk bumi yang memiliki dua ellement sekaligus. Di EXO itu hal wajar jika makhluk exo memiliki dua kekuatan sekaligus, tapi disini.. seorang manusia, dia benar-benar terpilih untuk menjadi ‘berbeda’. Aku berjalan menuju dapur untuk mencari minuman hangat, juga meminta Tao nomer telepon Nara.

“kau memiliki nomer telpon Nara?”

“tentu. Ini, gunakanlah sesuai kebutuhanmu. Ingat kau hanya akan mengganggu Nara jika kau terus menghubunginya.”

arraso” aku menyalin nomer telpon Nara ke handphone ku.

Aku kembali kekamar tentu menggunakan kekuatanku, hanya dengan satu kejapan mata aku sudah sampai dikamar. Aku berjalan menuju balkon, kutekan deretan tombol di hpku.

Tut… tut..

Klik

yoboseo?” kudengar suara seorang yeoja, Nara.

“Kai. Kau sibuk?”

“oh Kai annyeonghaseyo. Tidak, wae?”

“annyeonghaseyo. Kau sedang dimana? Boleh aku kekamarmu?”

“aku sedang dibalkon rumah, kamar? Dibalkon saja.”

“baiklah.”

Kupejamkan mataku, kini aku telah berada di depan seorang yeoja yang sedang duduk manis dengan segelas teh ditangannya. Kulihat dia sedikit terkejut melihatku yang tiba-tiba datang.

“duduklah.”

“ne, kau libur?”

“nde, 3 minggu lalu ada ujian kenaikan kelas. Dan 2 minggu yang lalu pembagian hasilnya. Jadi sekarang libur”

“bagaimana hasilnya?” tanyaku sambil melihat pemandangan kota seoul dari balkon rumah Nara.

“cukup memuaskan.. aku mendapat peringkat lima besar.” Dia tersenyum

“apakah perlu kita rayakan?” aku memandangnya dengan kutarik ujung-ujung bibirku membentuk sebuah senyuman.

“tapi.. bukankah kita ada latihan?”

“aku melupakannya, haha. Baiklah besok saja.”

“tapi.. malam ini aku tidak ada acara, sungguh.” Aku kaget mendengarnya berkata seperti itu, apa dia sungguh ingin pergi denganku?

“baiklah, jam 8 nanti aku akan menunggumu disini. Aku pergi dulu..”

“annyeong.” Dia melambaikan tangannya dengan tersenyum manis.

 

Kim Nara POV

Aku melambaikan tangan padanya sambil tersenyum, dia sudah menghilang.. ada rasa kecewa dihatiku, karena dia pergi. Rasanya aku ingin selalu dengannya, tapi itu konyol dan tidak mungkin.. aku teringat pada perkataan Kai tadi malam ‘akan lahir seorang namja atau yeoja dari aku dan Dio’ maksudnya? Apa aku ditakdirkan untuk Dio oppa? Aku senang mendengarnya, tapi bersamaan dengan itu aku merasa sedikit kecewa.. bagaimana dengan Kai?

Apakah aku menyukai Kai ‘lagi’? ya, ‘lagi’ karena aku yang dulu juga menyukainya begitu juga dengannya. Bagaimana dengan Dio oppa? Dia juga masih ada dihatiku. Oh Tuhan.. apakah aku menyukai dua namja sekaligus? Ini gila..

**

“oppa, maafkan aku atas kejadian tadi malam. Aku tidak sopan mengatakan seperti itu padamu.” Kini aku duduk disamping chanyeol oppa, didalam mobil.

gwenchana.. lagi pula kau benar, aku tahu kau sedang marah.” Dia tersenyum dan menoleh kearahku.

jeongmal mianhae oppa..”

“sudah, aku sudah memaafkanmu. Tadi pagi Kai berkunjung bukan? Aku melihatnya, kau senang?”

“eh?” aku terkejut mendengar oppa bertanya seperti itu padaku.

“aku tinggal denganmu sudah 16 tahun lebih 4 bulan. Bagaimana aku tidak mengenal adikku sendiri?”

“entahlah oppa, kali ini aku benar-benar bingung, belum lagi Kai melihat didiriku ada kekuatan telepathy.” Chanyeol oppa tiba-tiba membelokkan mobilnya kekanan dan mengeremnya mendadak.

“mwo?! Kau memiliki ellement? Jinjjayo Nara? ini tidak mungkin..”

“…”

“Sudahlah, akan ku tanyakan lagi setelah kita sampai. Mian Nara aku membuatmu gugup.” Chanyeol oppa mulai menjalankan mobilnya lagi.

Aku sedikit gugup menjawab serangkaian pertanyaan chanyeol oppa, aku takut menjawabnya.. aku takut salah menjawab pertanyaan dari oppa. Aku hanya menunduk selama perjalanan. Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai. Aku melihat semua teman oppa yaitu ke-9 namja itu sudah sampai, kami berkumpul dirumah Dio oppa. Rumahnya cukup luas, bahkan kata cukup saja kurang. Lebih tepatnya sangat luas. Taman belakang rumahnya luas dan rapi.

Chanyeol oppa menyuruhku duduk di ayunan dan dia sedang membicarakan sesuatu pada teman-temanya. Sepintas sebuah pikiran yang menurutku konyol muncul di otakku ‘jika benar aku memiliki kekuatan telepathy pasti aku bisa melihat isi pikiran mereka, baiklah akan kucoba.’ Aku memejamkan mata dan konsentrasi pada sebuah titik yang aku bayangkan. Kubuka mataku dan aku mencoba membaca pikiran Sehun yang saat itu sedang menatapku, ada sesuatu dimatanya. Itu seperti “benarkah Nara memiliki kekuatan telepathy? Entahlah! Sekarang aku lapar. Aku benar-benar belum sarapan tadi pagi.” Sontak aku langsung tertawa, bagaimana tidak? Konyol bukan? Sehun sedang menahan lapar, hahaha. Tapi.. aku bisa melakukannya! Benar Kai! Aku memiliki kekuatan telepathy!

Aku berlari menuju gerombolan namja-namja tampan itu (kalo ini kata author ._.v) kulihat mereka menatapku bingung. Aku hanya tersenyum, sekarang aku senang.. aku memiliki kekuatan, dan itu sangat mengagumkan.

“Sehun, kau belum sarapan? Kau sedang menahan lapar bukan?” Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya, sedangkan kris oppa tertawa.

“kau.. kau bisa membaca pikiranku?”

“sepertinya” aku tersenyum memandang ke-10 namja itu. Mereka terkejut tapi tidak dengan Kai, dia sudah mengetahuinya lebih dulu.

“kalian dengar? Benar apa kataku bukan?” Kai berkata pada ke-9 temannya.

“Nara, coba kau baca pikiranku.” Kata suho oppa memintaku.

“ne.” Aku mengulangi hal yang sama. Tapi.. ini tidak semulus tadi, apa tadi hanya kebetulan saja?

“aku tidak bisa oppa. Entah kenapa, sungguh” dan kini mereka bingung(lagi)

“kau hanya kurang latihan, ini yang pertama bukan? Jika kau sudah banyak latihan kau akan terbiasa Nara.” Dio oppa menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum, senyumannya itu selalu membuatku tersenyum juga.

Aku hanya menganggukan kepalaku, kami mulai latihan. Ya, aku berlatih untuk menerima apa yang terjadi sehingga tubuhku tidak mengalami penolakan saat aku melihat mereka menggunakan kekuatan mereka, pertama-tama untuk antisipasi lay menggenggam tanganku. Dia lah yang mempunyai kekuatan healing, penyembuh berbagai penyakit. Yang pertama, chanyeol oppa mulai mengeluarkan api dari ujung-ujung jarinya. Jika kalian pernah melihat film animasi/kartun avatar the legend of aang kira-kira sekarang ini oppaku seperti zuko, ini sangat mengagumkan. Tubuhku mulai sedikit bergetar, bersamaan dengan itu aku rasakan sesuatu yang dingin tiba-tiba mengalir didarahku. Sangat cepat dan dengan sekejap tubuhku tidak bergetar lagi, aku memandang lay dengan kagum. Dia hanya membalasnya dengan mengulurkan lidah panjangnya, sial! Seharusnya dia tersenyum manis, dasar anak kecil.

Aku sudah melihat 6 ellement dan yang ke tujuh adalah giliran Sehun, angin atau wind. Dia sangat keren, padahal jika disekolah dia selalu bertingkah konyol tapi sekarang.. ada suatu pertanyaan yang muncul dibenakku ‘mengapa waktu aku melihat Dio oppa dan Kai menggunakan ellementnya, badanku merasa biasa saja?’

Tao mengajariku dari dasar, mengatur pikiranku untuk konsentrasi. Konsentrasi sangatlah penting untuk menggunakan kekuatan kita, jika kita tidak berkonsentrasi akan sedikit fatal. Tao oppa juga memberitahuku, dari 10 namja termasuk dia hanya Kai-lah yang sangat fokus dalam berkonsentrasi oleh sebab itulah dia pandai bermain game.. aku mulai terbiasa dengan ini, sekitar 5 jam dilatih Tao oppa kini aku mulai bisa membaca pikiran mereka sedikit demi sedikit. Tentu masih memerlukan waktu yang lama. latihanku masih sebatas itu, masih ada waktu sekitar 11 minggu sebelum kedatangan Luhan dan Xiumin. aku masih ragu harus melawan Luhan, dia lah yang paling hebat. Dia sangat menguasai kekuatannya itu, hebat bukan?

**

Kami sudah latihan cukup lama, dan ini juga sudah sore. Kami putuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang aku membantu Dio oppa membereskan sisa-sisa makanan dan cemilan yang tadi disajikan untuk kami. Aku membantunya membawa kedapur dan mencuci beberapa piring.

“kau tidak lelah?” Dio oppa memakai sarung tangan dan membantuku mencuci piring.

“tidak oppa, ini sangat menyenangkan.” Aku melihatnya dan sedikit menghirup aroma badannya itu, tak ada yang berbeda.

Aku mencoba melihat matanya dalam dan kutangkap apa yang dia fikirkan “kau sangat baik Nara, kau tahu? Aku senang bisa berdua denganmu sekarang, apakah kita akan melewati hari-hari kita kelak dengan seperti ini? seperti sepasang suami istri?”

DEG

Aku yakin sekarang pipiku sangat merah, aku cepat-cepat menundukkan kepalaku. Sekejap aku merasa sangat senang..

“oppa aku juga mengharapkannya” aku melihatnya dan tersenyum, sedang Dio oppa hanya mengangkat sebelah alisnya.. dia belum sadar.

“eh?” sedetik kemudia dia menggaruk kepalanya dan tersenyum malu padaku.

“aku melupakanya.. mian, aku akan lebih hati-hati untuk berfikir sesuatu saat dihadapanmu.”

gwenchana oppa.”

Akhirnya kami selesai, meskipun ada sedikit rasa canggung tapi sungguh aku menyukai ini. Chanyeol oppa menunggu dimobilnya, akupun diantar Dio oppa kedepan rumah. Rasa canggung kembali muncul saat aku akan berpamitan.

“kau akan pulang?” kurasa Dio oppa mulai kehabisan kata-kata -_-

“nde, aku pulang dulu oppa. Jeongmal gumawo, annyeong”

“ehm.. tunggu”

Dio oppa menarik tanganku, detak jantungku mulai meningkat ‘apa yang akan dia lakukan?’ sedikit demi sedikit kurasakan sapuan lembut nafas Dio oppa menyapu wajahku, sangat lembut. Dia semakin mendekat dan aroma tubuhnya juga semakin terasa, aku mencoba memejamkan mataku mengikuti suara kecil hatiku yang memerintahku. Hangat dan sangat lembut, itulah yang kurasakan saat bibir hangat Dio oppa menyentuh keningku. Sangat hangat, dia mengecupnya tidak begitu lama tapi sangat cukup untuk membuatku melayang. Sedikit basah dikeningku, Dio oppa melepaskannya perlahan dan kembali tersenyum.

“hati-hati, jaga dirimu baik-baik.” Dia mengacak-ngacak rambutku seperti biasa.

“nde oppa.” Aku melambaikan tanganku dan berjalan menuju mobil chanyeol oppa.

Aku membuka mobil dan mendapati tatapan aneh chanyeol oppa, apa dia melihatnya? Oh tidak, apa yang bisa aku jawab jika dia bertanya nanti.

“sudah puas? Tak kau lanjutkan lagi?” chanyeol oppa meledekku sambil tertawa kecil.

“lihat! Pipimu merah. Hahaha, adik kecilku ini mulai jatuh cinta.”

“ya! Oppa! Iss!” aku hanya mendesah kecil, dia sangat menyebalkan.

Kamipun pulang.. diperjalanan aku sempat tertidur sebentar, kami sampai rumah pukul 7. Aku segera mandi dan bersiap-siap pergi bersama Kai, aku memilih kaos berwarna hijau muda dan jeans panjang tak lupa mantel/jaket bulu berwarna abu-abu muda, sepatu cats berwarna hijau. Ini sudah pukul 8, aku duduk dibalkon rumah sambil sesekali melirik jam tanganku. Aku sedikit kaget melihat seorang namja yang tiba-tiba sudah duduk disampingku yang dengan asik berkutat dengan psp-nya. Aku mengankat sebelah alisku. Beginikah yang selalu dia lakukan? Selalu bermain game?

“aku sudah cukup lama disini, kau melamun bukan? Pantas saja tidak mengetahui kehadiranku.”

“mian. Kita akan kemana?”

“you win! Aku menang haha. Eh? Kita akan pergi kesuatu tempat, ulurkan tanganmu. Ini yang pertama bukan? Baiklah, kau hanya perlu memejamkan matamu dan percaya padaku.”

“eh?” aku sedikit bingung, apa dia akan membawaku pergi dengan kekuatannya? Kurasa..

Aku mulai memejamkan mataku, tiba-tiba terdengar suara yang sedikt ramai. Apa sudah sampai? Kubuka mataku, disini sepi tapi disebelah sana sangat ramai. Tidak lucu bukan jika kami tiba-tiba muncul dikeramaian? Aku mengerti, ini bermaksud agar tidak ada yang melihat kami. Kai menggandengku menuju ke keramaian itu. Seoul tower? Sangat ramai disini mengingat ini juga hari libur. Aku tidak begitu suka keramaian..

“aku malas berada dikeramaian, tak nyaman rasanya.”

“baiklah, kita duduk disini aja. Aku akan membeli minuman hangat, tunggu aku.” Kai berjalan pergi.

Tak lama dia sudah kembali dengan 2 gelas kopi hangat. Kami duduk berdua, canggung.. tidak ada yang kami bicarakan, aku hanya memandangi langit yang tidak dihiasi bintang. Disini lampu-lampu bersinar sangat terang, light pollution membuatku sulit melihat bintang. Aku hanya menatap langit dengan tatapan kosong, entah apa yang aku pikirkan tapi melamun itu cukup nyaman. Tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh tangan kananku, sepontan aku menoleh ke Kai. Dia menggenggam tangan kananku. Aku tersenyum, dia hanya mengangkat sebelah alisnya

“wae? Ini nyaman bukan? Bogoshipo..” sepontan aku bisa membaca pikiran Kai, aku mencoba menjawabnya

“sangat nyaman, apa kau akan melepaskannya? Nado Kai”

“aku akan berusaha untuk tidak melepaskannya lagi.”

“kau.. kau bisa membaca pikiranku?” tiba-tiba aku tersadar, ‘dia bisa membaca pikiranku?’

“omo! Benarkah? Aku hanya menatap matamu saja, dengan itu aku merasa kau mengatakannya.” Kai mulai bicara dengan nada sekit shock

“tapi.. kau menjawabnya. Tidak aku tidak bicara sejak tadi, sungguh.” Aku sedikit tersenyum kagum dengan apa yang terjadi.

“coba kita ulangi.” Kai mengajakku.

“kau tahu.. hidungmu pesek” aku mencoba meledeknya, semoga saja yang tadi hanya kebetulan.

“mwo?! Ya! Hidungmu lebih pesek”

“apa kau bilang?! Kulitmu hitam! Model rambutmu sangat menganggu mata! Kau tak setinggi Kris oppa! Bulu kakimu banyak!” aku menatapnya tajam.

“ais! Lihat, kau juga hitam! Pendek! Pesek! Bentuk matamu jelek! Dadamu rata!” dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“mwo?!” mataku membesar saat dia mengatakan, bukan mengatakan tapi berfikir lebih tepatnya bahwa dadaku rata.

“kau! Kai kau keterlaluan! Tau apa kau tentang wanita? Aku hanya mencoba meledekmu tapi kenapa kau membahas… ais! Sudahlah, aku tak mau telepathy lagi dengan mu!” aku berbicara dengan suara agak keras ‘bisa-bisanya Kai! Awas kau’

“hahaha.. lihat kau marah? Kau yang mulai dulu. Aku memang tidak mengerti tentang wanita maka  dari itu ajari aku untuk mengerti wanita, mengerti kau.. Nara.” seketika pipiku memerah. ‘oh tuhan. Aku tak sanggup menatap mata Kai’

“apa yang kau bicarakan? Terus saja mengolok-olokku!”

Aku terdiam, aku mengerjapkan mata sebentar dan tiba-tiba Kai sudah ada didepan mataku. Dia tersenyum, sangat lebar. Aku hanya bisa memalingkan mukaku tapi dia menarik daguku untuk menatapnya. Jantungku berdetak tak menentu, ini terlalu cepat saat muka kami benar-benar berhadapan dan mata kami bertemu.

DEG

“apa yang akan kau lakukan?” aku menatapnya lekat.

“menurutmu apa?”

“…” aku menatap matanya yang tersenyum tipis.

Jantungku berdetak semakin cepat, deruan nafas lembut Kai menyapu pipiku. Nafas kami saling bertabrakan. Sangat dekat hingga aku menutup mataku dengan pelan, sesuatu yang hangat.. sangat hangat dan nyaman menyentuh mata kanan ku.. tak butuh waktu lama, Kai melepaskan ciumannya.

“kau tahu, matamu indah. Sangat indah” Kai mengacak-acak rambutku pelan.

“…” aku hanya bisa menunduk dan tersenyum.

“ayo kita pulang, ini sudah malam. Kau perlu istirahat yang cukup.”

“gumawo Kai. Mian, mungkin kini aku bukan Yeon Ra dan aku tidak bisa menolak menjadi Nara, tapi aku tidak bisa menolak untuk kembali menyukaimu.”

Kai menggandeng tanganku pelan dan seketika aku sudah sampai dikamar tidurku. Aku melepaskan jaketku dan duduk didepan kaca rias, Kai belum juga pergi. Dia hanya menatapku dari kaca, dan berjalan mendekat.

“setelah ini semua akan menjadi berat. Aku tahu kau juga menyukai Kyung soo, tapi kau juga harus memilih Nara.” dia mengelus rambutku yang terurai.

“mianhae Kai. Jeongmal mianhae..” dia memelukku dari belakang, sangat hangat dan tentunya nyaman. Aku hanya bisa mengeluarkan beberapa tetes air mata.

“air mata tak akan menyelesaikan masalah..” dia membalikkan badanku ke belakang dan mengusap ait mataku dengan ibu jarinya.

“tidurlah.. sudah malam.” Dia tersenyum dan aku juga tersenyum melihatnya, entah kenapa aku tersenyum tapi malam ini sangat menyenangkan meskipun dihiasi beberapa tetes air mata.

Aku pergi kekamar mandi dan mengganti pakaianku dengan piyama berwarna hijau. Saat kembali dari kamar mandi aku terkejut melihat Kai masih di kamarku dan duduk di ranjangku. Aku duduk disampingnya, dia tersenyum kembali dan membaringkanku ditempat tidur. Menutupi tubuhku dengan bad cover, dia melambaikan tangannya dan aku segera menutup mata. Aku tak bisa melihatnya pergi, terlalu sakit meskipun mungkin besok aku masih bisa melihatnya lagi tapi sungguh melihatnya pergi itu sangat menyakitkan.

 

*7 weeks later

Kini hampir setiap pagi aku berlatih, hari demi hari ada sedikit kemajuan. Namun liburan sudah selesai, ini sudah bulan September. Semakin hari juga aku semakin takut, Luhan dan Xiumin? benar, mereka penyebabnya..

Aku memutar-mutar handphoneku diudara dengan arahan jari telunjukku, aku menunggu pesan singkat dari Kyung Soo oppa. Dia selalu mengirimku pesan singkat/sms setiap hari, aku hanya bisa tersenyum melayang diudara saat menerima pesan romantis darinya. Melayang di udara? Iya! Aku bisa melakukannya, hebat bukan? Dan kini aku sedang di ajari kekuatan teleportasi oleh Kai, benar apa yang Tao oppa katakan. Butuh konsentrasi tinggi! Aku hanya bisa melakukannya di kamar mandi dan turun ke dapur, tentunya tanpa sepengetahuan appa dan eomma. Jika mereka tahu, Tao oppa segera datang dan menghapus ingatan mereka. Mianhae appa eomma..

Oneureya gieoko bojimotan miracle siljesanghwang deo isang mut…

yeboseo?” aku mengangkat telpon

“…”

“ne oppa. Ada apa?”

“…”

“mwo?! Jinjjayo?!” dadaku seketika seperti berhenti, sesak dan tubuhku bergetar hebat.. sangat kencang, kuyakin kini mukaku sudah sangat amat pucat.

 

TBC

 

Pertama2 makasih sama admin EXO Fanfiction yang udah ngepost ff istri Chen ini ._.v

Author kembali~ *bbuing bbuing ala Tao*

Tambah geje ya readers? Mian banget T.T masih sibuk ngurusin dedek kecil anak author sama Chen oppa *jeder ._.v

Hehe gimana~? Gimana? FF-nya? 😀 commentnya ya readers. gumawo

Iklan

9 pemikiran pada “EXO PLANET (Chapter 3)

  1. Wah , enak bgt jadi Nara , disukain Kai n D.O !
    itu yg terakhir ada apa ? Langsung TBC :3 😀 lanjut ya , chingu . Jangan lama2 ^^

  2. Sosweeeettttt… hanya itu yg bisa kukatakan waktu partnya Nara ama kai n Nara ama D.O .
    Daebak buat author… ^ ^
    Btw dedeknya namanya siapa Thor? kapan nikahnya? *pletakk *disamberPetirChen.
    XD

  3. Aahhhhh bukannya xiumin dan luhan bagian dari mereka juga yah,,,,
    haammm,,,
    aku makin pesaran siapa yang di pilih Nara Kai apa Dio,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s