Way Back Into Love (Chapter 6)

Way Back Into Love Chapter 6

Title                 : Way Back Into Love

Author             : Lee Soon Hee (@HappinessLee_)

Main Cast        : Yoon Eun Hee

Huang Zi Tao as Huang Zi Tao

Oh Se Hun as Oh Se Hun

Other Cast       : Kang Min Ji

Byun Baek Hyun as Yoon Baek Hyun

Kim Joon Myun as Yoon Joon Myun aka Su Ho

Kim Jong In as Kim Jong In aka Kai

Genre              : Romance, Friendship, Family (Two Shoot)

Rating                         : Teen

 

Annyeong~ Author is back… Author ga mau banyak cincong hehe. Happy Reading!!!

P.S. : Don’t bash! Don’t plagiat! Don’t forget to RCL! ^^

– Eun Hee POV –

“Eomma, Appa, aku sudah memberitahu mereka untuk membersihkan makam Se Mi,” suara seorang namja mengagetkan kami.

“Geurae. Se Hun-ah, lihat eomma bertemu temanmu itu,” kata Nyonya Oh sambil tersenyum. Ini membuat aku sedikit malu dan canggung.

Aku memandang Se Hun yang tampak tak percaya aku ada di pemakaman. Aku mencoba tersenyum padanya dan ia membalasnya dengan tulus. Hari ini, keluarga Oh mentraktir aku dan Baek Hyun Oppa makan siang di restoran Jepang. Baekkie Oppa tampak sangat senang. Ia bahkan meninggalkan adiknya ini hanya makan berdua dengan Se Hun.

“Sedang apa kau di makam tadi, Eun Hee-ya?” tanya Se Hun Oppa. Aku memandangnya, bingung mau menjelaskan.

“Ehm. . . Aku mengunjungi makam sahabatku. Kau sendiri?” jawabku sedikit ragu. Jelas, aku sendiri bingung apa hubunganku dengan Jong In.

“Aku dan orangtuaku juga mengunjungi makam. Makam adik perempuanku, Oh Se Mi,” jawabnya pelan, ia mengambil takoyaki dengan sumpit dan memakannya.

“Oh, aku turut berduka, ya,” kataku. Ia mengangguk dan tersenyum simpul.

Kami makan dalam diam. Aku sendiri sudah membenamkan diri ke dalam mangkuk ramen yang enak ini. Kadang aku merasa jika Se Hun Oppa mengamatiku. ‘Yeoja ini mungkin agak gila, makan seperti orang kerasukan,’ batinku ketika mencoba membaca pikiran Se Hun Oppa.

“Ah, kenyang,” kataku sambil menepuk-nepuk perut yang penuh ini. “Oppa, gomawo atas makanannya,” kataku, memberikan dia senyuman.

“N-ne,” ia menjawab dengan agak ragu, langsung saja ia menenggak air putih.

“Oh, ya, sebentar lagi pekan sekolah akan dilaksanakan. Bagaimana dengan tugas fotografimu?” ia melontarkan pertanyaan ketika kami diam cukup lama.

“Yah, lumayan hampir selesai. Untung aku sudah memindah datanya ke laptop,” jawabku dengan nada agak sebal. Ahn Mi Cha, akan kupotong kau selesai pekan sekolah, rutukku ketika mengingat kejadian itu.

“Syukurlah,” ia tampak lega. “Jangan lupa kunjungi dan lihat pentasku bersama anak-anak dance ya sore harinya,” ia memberitahuku.

Aku tersenyum, memberinya semangat agar tampil bagus. Sebenarnya aku sedih tidak dapat menari lagi tapi tak kutunjukkan raut wajah sedih ini. Ia menceritakan beberapa hal yang cukup menarik sehingga sedikit demi sedikit bisa mengurangi rasa sedihku.

Pembicaraan beralih ke keluarga. Rupanya dulu Se Hun memiliki seorang adik perempuan. Se Mi namanya. Se Mi menderita penyakit kanker tulang saat usianya baru 10 tahun. Saat itu usia Se Hun baru 12 tahun.

“Aku sangat sayang padanya. Ia selalu tersenyum dan tertawa, mirip denganmu,” kata Se Hun tersenyum padaku. Mata kecilnya menyipit lucu. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal dan meringis.

Entah sejak kapan aku mulai mengamati Se Hun Oppa. Ternyata ia punya mata yang kecil indah, hidung yang lumayan mancung, kulit yang bagus, dan juga bibir yang mungil. Pantas dia jadi namja favorit di sekolah kami. Aku jadi penasaran dengan kehidupan cintanya.

“Ehm, Oppa, boleh aku bertanya satu hal?” tanyaku pelan-pelan. Paling tidak, aku tak boleh menyinggung perasaannya.

“Apa?” ia sepertinya penasaran dengan pertanyaanku. Soalnya mata kecilnya itu tampak berbinar-binar.

“Apa Oppa punya yeojachingu?” aku berbisik dan mendekatkan kepalaku ke arahnya. Ia mengikuti tingkahku itu.

“Yeojachingu i eobseoyo,” ia yang tadinya tegang tiba-tiba mengeluarkan evil smile-nya. “Tapi ada satu yeoja yang kusukai,” ia kembali duduk tegak tapi masih memasang evil smile.

Aku menatapnya lurus. Entah kenapa perasaanku sedikit bergetar. Ini seperti cemburu. Mungkinkah aku mulai menyukai Se Hun Oppa? Ah, tak mungkin. Se Hun Oppa itu adalah sahabatku. Jangan sampai aku menyukainya sebagai namja. Aku memasang tampang cengar-cengir. Ia tertawa dan mengacak-acak rambutku.

DEG!

 

– Author POV –

20 Desember

Seoul International High School sangat ramai hari ini. Walaupun sedang dingin-dinginnya musim dingin tetapi tidak menghalangi murid-murid SIHS untuk bersenang-senang hari ini. Pekan Sekolah diadakan hari ini di seluruh bagian sekolah.

Eun Hee dan Min Ji sudah bersiap-siap di ruang kesenian sejak pukul 6 pagi. Mereka sudah menata stand dengan beberapa figura dan beberapa hiasan.

Eun Hee sudah hampir selesai menata standnya. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan yang sekarang mirip stand-stand di pusat perbelanjaan. Ruang kesenian ini khusus untuk anak-anak ekstra fotografi. Ia mendongak menatap plang nama standnya. ‘Martial Arts : The Secret of China’. Ia tersenyum senang. Tiba-tiba ada yang menepuk pelan pundaknya.

“Eun Hee-ya, sebentar lagi acaranya dimulai. Sudah hampir pukul 9. Ayo ke aula,” ajak Min Ji, menggandeng tangan Eun Hee keluar ruangan menuju aula.

Di aula rupanya sudah banyak anak yang datang. Hari ini mereka akan mendengar kata sambutan dan pemotongan pita oleh kepala sekolah. Eun Hee dan Min Ji berdiri di barisan belakang. Mereka malah ngobrol seru tanpa memperhatikan sambutan kepala sekolah.

“Eun Hee, Min Ji,” tiba-tiba ada yang memanggil mereka berdua.

“Neomu meotjyeo,” bisik Eun Hee terkagum-kagum. Bagaimana tidak. Namja di depannya ini terlihat sangat keren dengan kaus tanpa lengan sehinggga ototnya yang besar terlihat, padahal udara benar-benar sangat dingin.

“Tao Sunbae, apa kau tidak kedinginan?” tanya Min Ji sedikit cempreng karena suara berisik di sekitar mereka.

“Tidak,” ia tersenyum ke Min Ji dan sekarang beralih ke Eun Hee. “Eun Hee kenapa melihatku seperti itu?” Tao tak bisa menahan tawa.

Sejak tadi Eun Hee memandang Tao kagum. Ia melamun, mulutnya juga membentuk huruf O sempurna. Ia benar-benar kagum dengan Tao.

“Ani,” Eun Hee meringis malu. Eun Hee teringat sesuatu. “Oh, ya, Tao Oppa kuajak ke suatu tempat,” Eun Hee menggandeng lengan Tao.

“Kemana?” tanya Tao sedikit bingung. Ia menatap Min Ji tapi Min Ji hanya mengangkat bahu.

“Ada, deh. Min Ji biar di sini saja,” Eun Hee bergegas menarik Tao keluar dari tempat itu. Tao hanya menurut.

 *skip*

 Tao terkagum-kagum melihat stand itu. Semua figura yang terpajang berisi fotonya sedang berlatih wushu. Ornamen yang menghiasi stand itu juga khas China. Stand tersebut didominasi warna kuning dan merah.

“Eun Hee, ini keren sekali,” Tao memuji dengan tulus. “Kau pandai sekali mengambil angle. You’re really a professional photographer. It’s such a beautiful photo,” tambahnya.

“Benarkah? Gomawoyo, Oppa,” Eun Hee tersipu-sipu mendengar pujian Tao. “Ini juga ada photobook-nya,” Eun Hee menunjukkan photobook yang juga berisi foto-foto Tao.

Tao berjalan mendekati Eun Hee. Ia melihat-lihat photobook itu. Ia kemudian memberi Eun Hee pandangan ‘Kau-hebat-dalam-bidang-ini’. Eun Hee yang dipandang seperti itu hanya merasa senang sekaligus malu.

“Eun Hee-ya?” tangan besar Tao memegang bahu Eun Hee. Eun Hee sangat kaget.

“Ne, Oppa?”

Tao mendekatkan tubuhnya ke arah Eun Hee. Eun Hee secara ajaib tak bisa bergerak. Ia hanya bisa merasakan Tao semakin dekat.

‘Dia mau apa? Kenapa semakin dekat? Aduh, hanya kami berdua disini. Apa yang harus kulakukan? Eotteohkajyeo? What should I do?’ batin Eun Hee panik. Yang ia rasakan wajahnya semakin merah.

– Author POV –

Huang Zi Tao dengan wajah serius memegang bahu Yoon Eun Hee yang nampak sedikit ketakutan. Bagaimana tidak, mereka hanya berdua di ruangan itu. Eun Hee memandang horor ke arah Tao yang menatapnya serius.

“Ehm . . . Ada apa, Oppa?” tanya Eun Hee gugup. Tao tetap menatapnya tanpa bicara sepatah katapun.

“Eh? Ehm sebentar lagi Min Ji akan datang. Sebaiknya kita menunggunya di luar,” ajak Eun Hee, ia menyesali keputusannya mengajak Tao kemari.

Tiba-tiba Tao yang sedari tadi mendekatkan diri ke Eun Hee, memeluk Eun Hee erat. Eun Hee tampak kaget dan tak bisa berkata-kata. Eun Hee mendengar Tao terisak di samping kanannya.

“Eun Hee-ya, nan jeongmal mianhaeyo. . .” kata Tao pelan. Eun Hee kebingungan melihat tingkah kakak kelasnya ini.

“Waeyo? Kau tidak salah apa-apa,” balas Eun Hee polos. Tao melepaskan pelukannya.

“Aku menyukaimu. Nan niga joheungeol. Saranghae~” Tao mengungkapkan perasaannya pada Eun Hee. Eun Hee hanya bisa melongo. Ia tak percaya. Tanpa terasa wajahnya merah seperti kepiting rebus. Tao pun tak kalah merah dengannya.

“Tapi. . .”

“Tapi apa, Oppa?” tanya Eun Hee. Wajah Eun Hee semakin merah setiap detik. Tao sedikit tersenyum melihat perubahan wajah Eun Hee.

“Tapi aku tak bisa bersamamu saat ini. Aku tak bisa menjadikanmu yeojachingu-ku,” ia tersenyum getir. “Pekerjaanku sebagai atlet wushu belum mengizinkanku memikirkan yeoja untuk saat ini,” kata Tao.

Entah kenapa Eun Hee merasa sedikit kecewa dengan pernyataan Tao barusan. Bagaimanapun juga, Eun Hee sangat menyukai Tao. Tapi Eun Hee sadar, Tao memiliki sesuatu yang lebih berharga.

“Gwaenchana, Oppa,” Eun Hee tersenyum. “Aku senang kau menyukaiku karena aku juga menyukaimu,” kata Eun Hee tersipu-sipu.

“Jinjja? Waaa. . .” Tao tampak takjub. ~ Aduh, si Tao malah takjub ==” #abaikanauthor ~

“Ne. Nan neomu neomu johayo,” Eun Hee mengeluarkan aegyonya, Tao mulai tersenyum. “Oppa, aku sudah merasa sangat senang waktu kau mengutarakan jika kau menyukaiku. Kau namja pertama yang mengungkapkan langsung perasaannya padaku,” Eun Hee menambahkan.

“Maaf, ya, sekali lagi,” Tao tampak mau pingsan saking bingungnya.

“Tak apa-apa. Sekarang kita jadi sahabat saja. Benar-benar sahabat,” Tao mengangguk. “Sekarang Oppa harus bersiap-siap menampilkan yang terbaik untuk anak-anak di sini dengan kung fu-mu yang keren itu,” kata Eun Hee sambil berpura-pura membuat gerakan kuda-kuda.

“Jadi yang keren bukan aku?” tanya Tao pura-pura cemberut. Eun Hee tertawa diikuti tawa Tao.

Sebenarnya di dalam hati Eun Hee, ia merasa kecewa dan putus asa. Yah, mau bagaimana lagi. Tapi sungguh ini sangat mengecewakan. Ketika kau mulai menyukai orang lain tetapi orang itu ternyata tak bisa menerima cintamu, bukankah itu sangat menyakitkan dan mengecewakan?

Di sisi lain, Eun Hee merasa tenang. Seseorang telah terlintas di pikirannya begitu saja. Tak ada sebab kenapa ia memikirkan orang itu. Yang jelas orang itu membuat kekecewaan Eun Hee berangsur-angsur pudar.

*skip*

 “Se Hun-ah, kau keren sekali! Lain kali jika kau selesai perform traktir kami,” celoteh Min Ji senang, ia memakan es krim yang dibelikan Se Hun untuk mereka bertiga.

“Ya! Min Ji-ya, kau itu kalau ada maunya baik sekali,” sindir Eun Hee saking gemas melihat tingkah sahabatnya itu.

“Hahaha. . . Tak apa-apa Eun Hee, Min Ji memang seperti itu,” Se Hun tertawa melihat kedua sahabat konyol itu.

Se Hun, Eun Hee, dan Min Ji pergi ke toko es krim setelah acara pekan sekolah berakhir. Walau musim dingin, mereka tetap semangat makan es krim. ~ Ga kenal musim XD ~. Lebih senang lagi jika yang mentraktir Se Hun.

“Terima kasih, Se Hun-ah,” kata Min Ji bahagia sekali.

“Gomawo, Se Hun Oppa,” kata Eun Hee juga. Mereka akan berpisah pulang ke rumah masing-masing.

“Ne, hati-hati,”

Tiba-tiba Eun Hee ingat kejadian tadi siang dengan Tao. Ia ingin menceritakannya pada Min Ji sebagai sahabat dekatnya. Awalnya ia ragu.

“Min Ji-ya, aku mau cerita sesuatu nih,” kata Eun Hee setelah mereka berpisah dengan Se Hun beberapa saat kemudian.

“Apa?” Min Ji mengeratkan syalnya karena kedinginan.

“Tadi Tao Oppa mengatakan sesuatu padaku,” kata Eun Hee pelan. Ia memasukkan tangannya ke saku mantelnya.

“Apa?”

“Kau itu dari tadi apa-apa saja,” protes Eun Hee kesal.

“Iya, iya, apa? Cepat katakan?” sahut Min Ji tak kalah menyebalkan.

Eun Hee menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir. Min Ji tak henti-hentinya ber-‘omo’ ria mendengarnya. Eun Hee juga menceritakan jika ia sebenarnya agak kecewa jika Tao Oppa tak menjadi namjachingu-nya. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Min Ji heran.

“Entahlah. Hanya saja saat dia mengatakannya ada seseorang yang terlintas di kepalaku,” jawab Eun Hee pelan. Haruskah ia mengatakannya pada Min Ji?

“Siapa? Jong In-ya?” tanya Min Ji penasaran. Ia menatap lekat-lekat Eun Hee sampai Eun Hee ingin melemparnya ke sungai.

“Aniya,” jawab Eun Hee ragu. “Dia Se Hun,” bisik Eun Hee pelan sekali hingga hampir tak terdengar.

“Omo! Jinjjayo???” Min Ji berteriak lumayan keras, membuat beberapa orang dijalan melihat aneh ke arah mereka.

“Pelankan sedikit suaramu, babo,” Eun Hee memperingatkan Min Ji. Ia bahkan harus menutup mulut Min Ji.

“Apa kau serius, Eun Hee?” tanya Min Ji sambil membelalakkan mata.

“Serius. Memangnya kenapa?” Eun Hee balik bertanya. Min Ji menarik Eun Hee ke bangku terdekat dan memaksanya duduk sementara ia menjelaskan pada sahabatnya yang lemot itu.

“Yoon Eun Hee, adik Yoon Joon Myun. Kenapa kau malah memikirkan Oh Se Hun padahal kau sedang menerima pengakuan cinta dari Huang Zi Tao? Ini aneh!” kata Min Ji, yang menurut Eun Hee sedikit berlebihan.

“Apa yang kau maksud, eo? Aku sedih ketika Tao Oppa tak bisa jadi namjachingu-ku,” kata Eun Hee sambil mengerucutkan bibir. Min Ji menghela nafas.

“Ya, apa kau menyukai Oh Se Hun?” tanya Min Ji tiba-tiba tanpa halangan sama sekali. Eun Hee melonjak kaget.

“Min Ji-ya, bukan berarti aku menyukai Se Hun Oppa, kan. Terpikirkan begitu saja tidak berarti menyukainya. Hanya terlintas begitu saja,” kata Eun Hee asal-asalan.

“Tapi katakan padaku dengan jujur. Apa akhir-akhir ini kau memikirkan Oh Se Hun?” tanya Min Ji, ia menatap tajam Eun Hee. Eun Hee diam beberapa saat.

“Mungkin, sedikit,” jawab Eun Hee jujur. Ia tak ingin menambah kaget sahabatnya itu.

Min Ji menarik nafas mencoba menenangkan diri. Ia kemudian memeluk Eun Hee hangat. Eun Hee membalas pelukan sahabatnya itu.

“Sudah saatnya kau kembali mencintai, Eun Hee,” kata Min Ji haru. Eun Hee mengangguk dalam pelukan Min Ji.

“Aku akan membantumu. Membantumu melupakan kenanganmu dengan Jong In dan membantumu mendapatkan orang lain yang lebih baik,” kata Min Ji bijak.

“Min Ji-ya, aku sudah bisa melupakan Jong In sedikit dan menyukai Tao Oppa,” celoteh Eun Hee.

“Babo kau, Eun Hee. Menyukai berbeda dengan mencintai tahu,” kata Min Ji sebal. Ia kembali seperti semula, tidak bijak lagi ==’.

“Iyakah? Jelaskan!” tuntut Eun Hee.

“Sirheo! Malas menjelaskan padamu. Kau kan lemot banget,” hina Min Ji. Eun Hee hanya bisa pasrah di-bully sahabatnya ini.

“Ngomong-ngomong, bisa tidak lepaskan pelukanmu. Orang-orang sudah hampir mengira kita ‘pasangan yuri’ ==”,” kata Eun Hee datar.

Min Ji melepaskan pelukannya dan menatap sekitarnya. Benar saja, sudah banyak orang yang menatap kedua orang sahabat ini dengan tatapan aneh bahkan ada yang terang-terangan menghakimi jika mereka berdua adalah lesbi.

“Ini salahmu,” kata Eun Hee datar dan tampak kesal.

“Aigoo~ mianhaeyoooo…” Min Ji berteriak. Akhirnya Min Ji mencoba menjelaskan pada semua yang tadi sempat melihat bahwa dia dan Eun Hee bukan lesbi.

“Konyol,” kekeh Eun Hee yang melihat dari kejauhan tingkah sahabat konyolnya itu.

– Eun Hee POV –

Aku tiduran di kasur sambil memandang langit-langit kamarku. Aku masih terngiang kata-kata Min Ji 5 hari yang lalu. Mungkin dia benar, aku harus mulai mencintai orang lain.

Satu hal yang kusadari dan setelah kutanyakan pada Baekkie Oppa adalah menyukai itu berbeda dengan mencintai. Menyukai itu sebuah perasaan suka yang bisa datang atau pergi dengan cepat. Sedangkan mencintai adalah perasaan suka, cinta, melindungi, dan menjaga hingga waktu yang tak terbatas. Intinya cinta itu lebih besar dari suka. Dan cinta itu lebih sakral dari suka.

Selama beberapa hari ini hingga awal tahun depan seluruh murid di Korea liburan musim dingin. Ini bisa kugunakan untuk istirahat dan tidur sepuasnya. Lagipula udara dingin di luar bisa kugunakan alasan untuk menyalurkan hobiku ini.

Aku mulai memakai selimut yang tebal dan menata bantal agar nyaman. Baru sepuluh menit aku tidur, pintu kamar terbuka dan Appaku masuk. Aku langsung terbangun dan memandang appaku itu penuh tanda tanya.

“Ada apa, Appa?” tanyaku heran karena Appa membawa sebuah kotak yang cukup besar. Appaku tersenyum.

“Hari ini rekan kerja  Appa dari China berkunjung ke Korea. Ia mengajak kita makan malam sekeluarga,” kata Appa, mengelus-elus rambutku.

Aku memegang kotak itu dan melihatnya. Aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Ini seperti kisah-kisah dalam drama.

“Appa tidak bermaksud menjodohkanku dengan anak teman Appa, kan?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Appaku tampak kaget tapi langsung tertawa.

“Eun Hee, Eun Hee. Tidak mungkin. Ayah bukan tipe orang tua ketinggalan zaman,” Appaku memelukku, aku memeluknya erat. Aku selalu sayang ayahku.

“Sekarang berdandanlah yang cantik. Tunjukkan kalau anak gadis Appa menakjubkan,” Appa berjalan keluar. “Jangan lupa, jam 6 sore. Joon Myun dan Baek Hyun akan menunggumu,” tambah Appa.

Aku tersenyum. Ternyata dugaanku salah. Appa tak mungkin akan menjodohkanku dengan namja lain. Aku membuka kotak besar itu pelan-pelan. Rupanya di dalam kotak itu ada sepotong dress selutut berwarna coklat muda, jepitan rambut berhiaskan bunga coklat, dan high heels 7 cm berwarna coklat lembut. Aku mengambil high heels itu dan menerawangnya.

“High Heels ini bisa membocorkan kepala si Babo Mi Cha itu,” celotehku polos.

*skip*

 Aku berdiri di depan cermin dengan tampang cemas. Dress ini akan lebih baik jika dipakai yeoja lain, bukan yeoja jadi-jadian sepertiku. Aku membenarkan letak jepitan rambut di kepalaku. Hari ini aku menggelung rambut sebahuku dan membiarkan poniku tergerai (?). Aku juga memastikan make-upnya tidak berantakan. Aku juga tambah tinggi memakai high heels ini.

Aku duduk sebentar di tepi kasur. Coba saja jika ada Eomma di sampingku saat ini, pasti dia akan membantuku. Aku kembali berpikir ke masa lalu, masa dimana Eommaku masih bersama kami. Sebenarnya Eommaku tidak meninggal dunia. Ia memutuskan meninggalkan kami dan menikah dengan orang yang lebih kaya. Itu semua terjadi ketika aku berusia 10 tahun dan ketika perusahaan Appaku collapse. Dengan tanpa perasaan dia meninggalkanku yang berlari mengejarnya, melihatnya pergi dengan suami barunya. Aku bahkan masih ingat janji Baek Hyun Oppa bahwa ia tak akan mau bertemu lagi dengan Eommaku itu.

Aku keluar kamar, menemui Oppadeulku. Mereka tampak keren ketika mengenakan jas hitam dan rambut disisir rapi.

“Oppa, aku sudah siap,” aku memberitahu mereka. Mereka menoleh bersamaan dan memasang ekspresi wajah yang sama.

“Eun Hee-ya, neon neomu yeppeoyo,” kata Joon Myun Oppa memuji.

“Ne. Benar-benar berbeda,” puji Baek Hyun Oppa. Aku tersenyum melihat tampang mereka yang lucu.

“Sudahlah, ayo kita berangkat. Kasihan Appa sendirian,” ajakku pada mereka.

“Gaja!” Baek Hyun Oppa menggandengku ke mobil.

 

– Author POV –

Mereka sampai ke restoran yang dimaksud, restoran yang ada di hotel bintang 5. Eun Hee berjalan santai ditemani oppadeulnya di kanan dan kirinya. Seperti seorang putri dan pangeran.

Seorang pelayan mengantarkan ke ruangan dimana Appa mereka berada. Pelayan itu membukakan pintu dan ketiga bersaudara itu masuk. Baru dua langkah Eun Hee masuk ke ruangan khusus keluarga itu, ia berhenti karena terkejut.

Seorang namja yang ia kenal tengah berbicara dengan Appanya. Kedua oppa Eun Hee mendahuluinya mencapai Appa mereka.

“Ah, Tuan dan Nyonya Huang, anak-anak saya sudah sampai rupanya,” Appa berdiri, diikuti keluarga China itu.

“Annyeong. Senang bertemu,” sapa Tuan dan Nyonya Huang ramah. Diikuti putra mereka, Huang Zi Tao, dan dibalas oleh kedua oppa Eun Hee.

“Eun Hee, kenapa berdiri di situ? Kemarilah,” Appanya menyuruhnya duduk.

Mendengar nama yang dikenalnya, Tao menoleh ke yeoja yang hanya berdiri itu. Saat ini semua orang sedang menatapnya. Yeoja itu hanya menunduk malu dan berjalan ke kursinya. Walaupun dia menunduk, Tao bisa melihat kecantikannya malam ini. Eun Hee duduk berhadapan dengan Tao.

“Tuan Yoon, apakah gadis cantik ini putri Anda?” tanya Nyonya Huang yang sepertinya tertarik dengan Eun Hee.

“Benar, putri bungsu saya,” jawab Appa bangga.

“Perkenalkan dirimu,” perintah Joon Myun. Eun Hee berdiri tapi masih tetap menunduk.

“Yoon Eun Hee imnida. Bangapseumnida,” kata Eun Hee singkat lalu kembali duduk.

“Gadis manis,” puji Nyonya Huang. Eun Hee tersenyum kecil ia terlalu malu untuk memandang semua orang terutama Tao.

“Kudengar Tao juga sekolah di Seoul International High School. Benarkah itu Tuan Huang?” tanya Appa di sela-sela makan malam.

Sejenak Eun Hee menegang. Tao melirik Eun Hee dengan lirikan ‘Apa-yang-akan-terjadi-?’. Eun Hee merasa tak nyaman dengan makan malam ini. Apalagi sejak pernyataan cinta oleh Tao beberapa hari yang lalu.

“Benar sekali, Tuan Yoon. Dia baru masuk tahun lalu dan akan lulus tahun ini,” jawab Tuan Huang dengan bahasa Korea yang lancar. “Eun Hee juga sekolah di sana, kan?” kali ini ia menanyai Eun Hee.

“Be-benar, Tuan Huang,” jawab Eun Hee sedikit kelabakan. Ia bergantian memandang Tuan Huang dan Tao.

“Anak pintar,” puji Tuan dan Nyonya Huang.

“Eun Hee, ajak Tao ngobrol-ngobrol dulu, ya? Appa dan kedua kakakmu mau membicarakan sesuatu dengan Tuan dan Nyonya Huang,” pinta Appa. Hal ini mau tidak mau membuat Eun Hee dan Tao kaget.

“Paman, tapi. . .” Tao meminta kebenaran pada Appa Eun Hee dan orang tuanya. Orang tuanya mengangguk setuju.

“Appa. . .” rajuk Eun Hee lemah. Mencoba membuat Appanya membatalkan permintaan itu.

Apa daya, Eun Hee dan Tao tak bisa menolak permintaan orang tua mereka. Mereka berjalan berdua menuju balkon karena tak tahu harus kemana. Udara dingin langsung menusuk kulit Eun Hee ketika mereka berada di balkon. Ia menyilangkan tangan untuk sekadar menghangatkan bagian kecil tubuhnya. Tao yang menyadari hal itu, langsung melepas jasnya dan memakaikannya pada Eun Hee.

“Eh? Gomawo, Oppa. Kau tidak kedinginan?” Eun Hee berterimakasih dan nampak khawatir.

“Tidak. Kau yang kedinginan,” kata Tao lantas tersenyum menenangkan.

Eun Hee tak melihat ke arah Tao. Ia tahu, jika ia melihat Tao terutama mata dan senyumnya, ia tak bisa melupakan namja itu. Ia sudah bertekad akan melupakan perasaannya pada Tao dan ia berharap Tao pun begitu.

“Bintangnya indah sekali walau sedang musim dingin” celoteh Tao. Eun Hee menatap Tao yang berdiri menjulang di sampingnya. Ia tampak menikmati bintang di langit yang memang indah.

“Iya,” Eun Hee mulai menikmati pemandangan langit yang indah. Sayang udara sedang dingin sehingga ia sedikit risih.

“Eun Hee, malam ini kau cantik sekali,” tiba-tiba Tao mengatakan kalau Eun Hee cantik. Kata-kata ini sukses membuat Eun Hee gelagapan.

“Apa? Siapa?” kata Eun Hee panik. Tao menatap Eun Hee lekat-lekat, tersenyum, dan kini tangan kirinya memegang pipi kanan Eun Hee.

 

TBC

Gimana???

Hehehe…

Oh ya, maaf kalau FF ini semakin ga jelas TT___TT. Terimakasih buat yang mau baca dan kasih kritik maupun saran. Gomawo~ *bow bareng SeHun*

12 pemikiran pada “Way Back Into Love (Chapter 6)

  1. Thor eun hee nya ama sehun aja yaaa, ya ya.. 🙂
    kasian itu sehun suka duluan tapi kalah cepet ama tao, huhuu sehunieee 😦 next next Thor, fighting!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s