My Sloppy Coordi Noona (Chapter 1)

Author: tashradr

Genre: Romance

Rating: T

Main Cast:

·      Kris Wu (Wu Yi Fan)

·      Han Hee Ra

Support Cast:

·      Exo M members

Length: Multi Chapter

Hei maaf ya kalo FFnya gaje, ga seru dll. maklum lah, pertama kali bikin FF. oh iya, buat pecinta yadong, maaf sekali FFku gaada yadongnya sama sekali. begitulah, author baru 15 tahun nih bocah baru lulus SMP yang belum cukup umur tapi udh punya SIM wkwk. udh deh ya berisik amat ga penting abis. selagi pemeran utamanya kris, dosa-dosa author diampuni kan? hehe ok ok happy reading bocah gaul!

Februari 2012.

Heera mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jarinya. Menggigit-gigit kukunya yang sudah tidak keruan lagi bentuknya. Berkali-kali meneguk green tea latte miliknya. Satu setengah jam, dua green tea latte, delapan kuku, ratusan ketukan, ribuan detik. Orang yang ia tunggu belum juga datang.

Ia mengecek ponselnya untuk melihat jam. 16:30. Astaga. Heera benar-benar ingin putus asa. Kalau begitu lebih baik ia memilih tawaran yang lain saja dari awal. Heera menutup mata untuk menenangkan. Setelah perasaannya tenang nanti, ia akan pergi dari kafe ini.

“Ehm… Han Heera?” tanya seseorang. Suaranya berat ciri-ciri pria perokok. Heera membuka kedua matanya yang sudah memerah. Astaga malunya. Beruntung hidungnya belum merah. Jadi ia terlihat seperti tidak menangis.

“Emm…?” gumam Heera, kemudian ia bangkit berdiri. Pria itu mengangguk, mengerti maksud Heera. Heera tersenyum lebar. Terlihat jelas ia sangat bahagia.

“Annyeong haseyo. Astaga, aku kira Paman tidak akan datang.” Kata Heera yang seenaknya memanggil Shin Jinho, pria berumur 50 tahunan yang menawarinya pekerjaan dengan sebutan ‘Paman’. “Ah, duduk dulu!” kemudian Jinho duduk di hadapan Heera.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Aku baru saja rapat staff.” Kata Jinho.

“Ah, ne, Paman. Tidak apa-apa kok… hehe.” Kata Heera diiringi gerakan tangan dan tawa canggung.

“Kau bisa berbahasa China?” tanya Jinho tiba-tiba. Heera mengerutkan alis tidak mengerti. Jinho tertawa dengan suaranya yang berat dan napas yang berbunyi. “Begini, rencananya kau akan menjadi penata rias boyband yang akan melakukan promosi di China.” Kata Jinho.

Heera mengerutkan alis sambil menggigit bibirnya. “Ehm… Super Junior M?” tanya Heera.

“Ah, bukan! Yang kumaksud disini bukan Super Junior M. mereka sudah punya empat stylish dari awal mereka dibentuk. Yang kumaksud adalah Exo M.” kata Shin Jinho sambil tertawa.

Exo M? Memangnya SM Entertainment punya boyband bernama Exo M? Aish… Shin Jinho ini pasti penipu, pikir Heera dalam hati.

“Maaf, Paman. Tapi SM Entertainment kan tidak punya boyband yang bernama Exo M…” kata Heera yang terdengar ragu.

“Astaga…” kata Jinho sambil menopang keningnya. Kemudian ia melepas topi bermodel Gatsby miliknya yang berwarna abu-abu itu lalu memakainya lagi. “Kupikir semua orang sudah mulai mengenal mereka. Padahal kemarin sudah sampai teaser ke 17!”

“Teaser ke 17? Sebanyak itu?” tanya Heera penasaran. Jinho mengangguk.

“Ya begitulah.” Kata Jinho sambil mengangkat bahu. “Oh iya, kau belum memegang kontrak dengan orang lain, kan? Begitu kau memenangkan lomba merias itu aku langsung buru-buru mencari kontakmu. Hah… jadi ingat aku dulu keduluan dengan perusahaan model Rusia.” Kata Jinho.

“Hehehe… sebenarnya emailku sudah banjir sejak aku memenangkan kontes itu. Dan Paman bukan orang pertama.” Kata Heera menjelaskan. “Aku berdebat dengan temanku membicarakannya. Akhirnya aku sepakat memilih tawaran paman.” Lanjutnya.

“Begitu rupanya. Sampaikan terima kasihku pada temanmu itu.” Kata Jinho lalu mereka tertawa. “Hei, kau bisa Bahasa China, tidak?”

“Tentu saja. Ibuku orang China, Paman. Ayahku orang Korea.” Kata Heera santai.

“Aku benar-benar tidak salah memilihmu. Kira-kira kau mulai bekerja bulan april nanti. Bagaimana? Tidak keberatan, kan?” tanya Jinho memastikan.

“Ne, Paman. Tentu saja tidak keberatan. Aku justru berharap pekerjaanku lebih cepat datang supaya cepat menerima gaji.” Kata Heera disambut tawa Jinho.

Jinho berdeham kemudian berbicara, “Ehm, jadi, kira-kira segini gajimu per bulan… kau setuju?”

*****

“Aigo, Youngmi! Aku benar-benar tidak menyangka kontes itu bisa menjadi lahan uang untukku. Kau mau kubelikan apa?” kata Heera yang sedang menelepon Youngmi, teman seapartemennya. “Oh, baiklah. Sampai jumpa nanti malam! Akan kubuatkan makan malam untukmu dan Woojin!” kemudian telepon diputus.

Heera berjalan dengan riang memasuki mini market. Setelah membeli beberapa bahan untuk dimasak nanti malam, ia bergegas keluar dan kini ia membawa dua plastik besar.

BRUK!

“Astaga!!” teriak Heera spontan melihat barang bawaannya berserakan. Ia memasukan kembali barang-barangnya yang berceceran dan menengok ke orang yang menabraknya atau yang ditabraknya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Heera. Bentuk mata pria itu berubah selama satu detik, tersenyum. Ya, Heera yakin pria itu pasti tersenyum kecil sekilas, kemudian berdiri. Disusul Heera yang kini berada dihadapannya. “Aigo, kau tinggi sekali!” kata Heera. Beberapa detik kemudian ia menyadari kesalahannya. Ia segera membungkuk dan meminta maaf. “Maaf, aku tidak melihat tadi.”

“Ya, tak apa-apa. Maaf juga.” Kata pria itu singkat. Suaranya berat sekali dan yang pasti ia bukan orang Korea jika mendengar logatnya.

Pria berambut pirang itu membungkuk sedikit dan berlalu. Kemudian ia menggunakan topinya kembali dan ditutupi lagi dengan hoodie abu-abunya. Aneh sekali, memakai masker, topi dan hoodie. Seperti penculik saja. Lalu Heera melihat pria itu masuk ke dalam gedung SM Entertainment yang tidak jauh dari apartemennya.

Aih, terserah sajalah siapa dia. Yang penting aku akan bersenang-senang malam ini! Seru Heera dalam hati.

*****

“Jadi, Heera, kapan kau mulai kerja?” tanya Youngmi sambil memasukan daging panggang ke mulutnya. Saat ini Heera, Youngmi dan Woojin sedang memakan daging panggang untuk merayakan keberhasilan Heera mendapatkan pekerjaan.

“April nanti. Masih lama sekali ya.” Keluh Heera. Jelas ia mengeluh karena semakin lama ia mulai bekerja, semakin lama pula gajinya sampai di tangan. Kemudian Heera bertanya, “Hei, kalian tahu boyband bernama Exo M?”

Youngmi dan Woojin mengangguk. “Boyband baru.” Jawab Woojin singkat kemudian melanjutkan makannya. Kemudian Youngmi menjawab, “Boyband itu keren sekali. Memiliki lambang tersendiri dan memiliki teaser sangat banyak. Tapi Exo dibagi menjadi dua.”

“Eh?” tanya Heera bingung. Menatap Youngmi dan Woojin yang duduk bersebelahan di depannya bergantian. Aku yang ketinggalan jaman atau kini Woojin si pria jenius ini juga menyukai boyband-boyband? Kalau Youngmi sih, tidak usah ditanya, pikir Heera.

“Ada Exo K dan Exo M. K di Korea dan M di China. Seperti Super Junior M.” jelas Youngmi.

Heera mengangguk mengerti. “Rencananya aku akan menjadi penata rias Exo M.” katanya memberi informasi. Seketika itu juga kegiatan mengunyah Youngmi dan Woojin berhenti.

“KAU SERIUS?!” jerit Youngmi histeris. “KAU!! ASTAGA! KAU BERUNTUNG SEKALI!” Youngmi menggebuk-gebuk meja histeris.

“Kau bisa keliling dunia kalau bekerja bersama mereka!” kata Woojin.

“Kau bisa mendandani anggota Exo M?! Astaga!! Keren sekali! Kris tampan sekali, loh!” kata Youngmi sambil mengetuk-ngetuk sumpitnya di meja. “Woojin, kau sudah menonton teaser ke 17 mereka? Milik Kris loh! Dia tampan sekali!”

“Untuk apa aku menontonnya, Youngmi?” tanya Woojin tak acuh.

Pembicaraan selanjutnya sudah tidak Heera mengerti lagi. Heera mendesah. Begitulah Youngmi, jika sudah histeris, harus cepat-cepat dialihkan. Akhirnya Heera memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. “Hei, Youngmi, bagaimana murid-muridmu hari ini? Ada yang tidak mengerjakan PR?”

*****

“Jadi kau akan pindah?” tanya Youngmi yang sedang memeriksa pekerjaan murid-murid di kursus bahasa inggrisnya. Ia duduk di hadapan Heera.

Siang tadi Heera datang ke gedung SM Entertainment untuk mengambil jadwal kerjanya. Dan kata Jinho, Heera mungkin akan berpindah-pindah tempat tinggalnya, mengikuti kemana Exo M pergi.

“Begitulah. Aku akan ditempatkan di sebuah apartemen di China. Dan kemungkinan hidupku akan berpindah-pindah mengikuti jadwal mereka.” Jelas Heera sambil meminum tehnya.

“Lalu aku tinggal sendirian disini?” Youngmi kini menghentikan pekerjaannya dan menatap Heera dengan serius.

“Kau bisa mengajak Woojin kalau kau mau.” Kata Heera santai.

“Astaga apa kata orang-orang! Kita memang berteman, tapi apa yang orang lain pikirkan?” seru Youngmi.

“Orang-orang yang mana? Apa peduli kita dengan orang-orang di apartemen ini? Memangnya kita punya kenalan disini?” tanya Heera heran.

“Ah, entahlah. Kau tahu sendiri aku benar-benar menjaga nama baikku.” Kata Youngmi. Heera mencibir. “Oh iya. Bagaimana keadaan ayahmu?”

“Entahlah. Tidak kunjung membaik.” Kata Heera terdengar frustasi. “Sudahlah, Youngmi. Ayahku pasti baik-baik saja, tak perlu khawatir. Sini kubantu pekerjaanmu.”

*****

Heera mengepang rambut panjangnya sambil berjalan. Saat ini ia berjalan ke arah gedung tempat pembuatan video klip untuk boyband yang akan ia dandani. Ini adalah hari pertama Heera bertemu dengan anggota boyband baru itu.

Heera membuka pintu gedung besar itu dan menanyakan dimana lokasi pembuatan videonya. Kemudian ia berjalan sesuai arah yang ditunjukan.

Ia membuka pintu berat berwarna putih yang kemudian membawanya ke sebuah ruangan serba hitam di salah satu sisi dan sisi lainnya terang. Lalu ia melihat Jinho melambai ke arahnya.

“Ah, annyeong haseyo, Paman. Aku terlambat?” tanya Heera.

“Tidak. Artisnya sedang dalam perjalanan kemari.” Kata Jinho lalu memanggil seseorang.

Oh, ternyata bukan seorang melainkan dua orang wanita. Yang satu terlihat seumuran dengan Heera sedangkan yang satu lagi sekitar umur 30 tahun keatas.

“Ini rekan baru kalian, namanya Heera, orang Korea.” Kata Jinho menggunakan bahasa China yang bisa Heera mengerti seratus persen.

“Ah, ya. Saya Han Heera. Senang berkenalan dengan kalian.” Kata Heera.

“Aku Mei Yin. 26 tahun. Sepertinya kau lebih muda dariku.” Kata perempuan berambut pendek.

“Aku Xia He. Lebih baik umurku tidak usah disebutkan. Aku sudah terlalu tua.” Kata Xia He yang kemudian disambut tawa.

Heera membungkuk. “Tapi sebelumnya maaf jika aku memanggil kalian eonni. Aku tidak terbiasa dengan kata jiejie.”

“Ah, kami tidak keberatan. Kau stylish juga? Kupikir translator.” Kata Mei Yin.

“Ah, bukan, eonni. Aku stylish. Aku bisa make up dan menata rambut. Sebelumnya aku memenangkan kontes.” Kata Heera sopan.

“Hei sudah berbincangnya! Ayo bersiap! Mereka sudah datang!” teriak Jinho di ujung ruangan.

Kemudian 12 orang pria yang terlihat masih muda masuk ke dalam ruangan. Mereka terlihat terlalu tinggi untuk Heera yang hanya setinggi 165 cm.

“Hei, kalian! Kemari dan mulailah berdandan!” seru Jinho. Kemudian setengah dari mereka menghampiri tempat Heera, Mei Yin dan Xia He berdiri.

“Hei perkenalkan, ini Han Heera, stylish baru kalian. Orang Korea.” Kata Xia He dalam bahasa China.

“Ya, saya Han Heera. Senang berkenalan dengan kalian.” Kata Heera sambil membungkuk yang juga menggunakan bahasa China.

“Jadi noona orang Korea atau orang China?” tanya salah satu di antaranya menggunakan bahasa Korea.

“Ya, aku keturunan China-Korea. Kau orang korea?” tanya Heera.

“Ya. Aku, Kim Minseok atau Xiumin dan ini Jongdae atau yang lebih dikenal dengan nama Chen.” Kata Xiumin sambil tersenyum lalu kemudian Chen ikut tersenyum.

“Oh begitu. aku Han Heera.” Kata Heera. “Lalu siapa yang harus aku dandani?” tanyanya.

“Kris hyung dan Luhan hyung, noona.” Kali ini Chen yang menjawab.

“Emm… yang mana orangnya?” tanya Heera.

“Yang memakai jaket baseball, itu Luhan hyung. Yang paling tinggi, itu Kris hyung.” Kata Chen sambil menunjuk orangnya.

“Oh, baiklah. Terima kasih, Chen. Aku dandani mereka dulu ya. Fighting, Chen! Fighting Xiumin!” kata Heera. Chen dan Xiumin hanya tersenyum.

Heera berjalan ke arah Luhan kemudian mencolek Luhan. Luhan menengok dan tersenyum.

“Annyeong haseyo, noona. Luhan imnida.” Kata Luhan sambil sedikit membungkuk. Heera ikut membungkuk sambil tersenyum ramah, seperti biasa.

“Han Heera.” Balas Heera. “Ayo duduk di kursi itu, biar aku mulai mendandanimu.” Kata Heera sambil berjalan ke arah sebuah kursi yang bersebelahan dengan sebuah meja yang penuh dengan peralatan make up.

Tidak lama waktu untuk mendandani Luhan, karena Luhan sendiri juga sudah mulus tanpa perlu dipoles lagi dan tataan rambut untuk video klip kali ini tidak aneh-aneh. Selanjutnya Kris.

“Ehm… Kris?” panggil Heera pada seorang pria yang sedang membaca buku tidak jauh dari tempatnya.

Kris mendongak kemudian bertanya, “Kini giliranku?” tanya Kris menggunakan bahasa Korea.

Heera merasa familiar dengan suara itu. Dimana ia pernah mendengarnya? Dan sepertinya Heera juga pernah melihat wajah Kris. “Kita pernah bertemu?” tanya Heera.

Kris mengerutkan alis sempurna miliknya. “Benarkah? Memangnya dimana?” tanyanya sambil berjalan ke arah kursi di dekat Heera.

“Eh? Tidak pernah ya?” kini Heera salah tingkah. “Ah, sudahlah. Mungkin aku salah orang. Ayo duduk.” Kata Heera.

Heera mulai menaburkan bedak pada wajah Kris ketika tiba-tiba Kris mengerang. “Ada apa, Kris?!” tanya Heera panik.

“Bedaknya masuk ke mataku, noona.” Kata Kris sambil mengucek matanya.

“Eh, jangan dikucek! Sini biar aku tiup!” kata Heera. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah Kris untuk meniup matanya.

“HAN HEERA! KAU SEDANG APA?! AYO CEPAT JANGAN MAIN-MAIN!” teriak Jinho. Heera yang posisinya sedang sedang membungkuk, akhirnya terjatuh karena kaget namanya diteriakkan. Kris ikut terhuyung ke belakang. Heera jatuh menimpa Kris.

Heera memegang bahu Kris untuk bangun. Lalu meletakkan lututnya di perut Kris supaya ia bisa berdiri.

“Argh, noona! Sakit!!” Kemudian Kris mendorong kaki kanan Heera yang kemudian mengakibatkan Heera terjungkal.

Kini Heera duduk di sebelah Kris dan membantunya duduk. “Maaf, Kris. Aku benar-benar minta maaf. Maaf! Aku kaget sekali!” Heera membungkukan badannya berkali-kali.

Kris memutar matanya. Kesal sekali. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tapi ini parah, sudah kelilipan, tertangkap basah dengan posisi mencurigakan, jatuh, ditimpa orang pula.

“Sudahlah, noona. Tak apa.” Kata Kris sambil mengucek matanya. “Boleh minta tolong carikan obat tetes mata?” tanyanya.

Heera mengangguk mantap lalu berlari ke arah Mei Yin. Beberapa saat kemudian Heera kembali ke hadapan Kris membawa obat tetes mata. “Biar kubantu.” Kata Heera sambil membuka tutupnya.

Kris menggeleng. “Tidak usah. Aku bisa sendiri, kok, noona.” Tolak Kris mencoba sesopan mungkin.

“Baiklah. Aku benar-benar minta maaf ya, Kris.” Kata Heera sambil membungkukkan badannya dan memberikan obat tetes mata kepada Kris.

Kris mengedipkan mata berkali-kali kemudian meletakkan obat tetes matanya di atas meja. Lalu memberikan isyarat anggukan kepada Heera.

Heera kembali mendandani Kris. Dengan rasa canggung, tentunya.

*****

12 pria itu terlihat lelah setelah shooting untuk video klip mereka. Berkali-kali berganti baju, didandani dan menari. Setelah sutradara dan para kru bertepuk tangan, menandakan mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, mereka kembali ke tempat istirahat.

“Heera, kau hapus make up Luhan dan Kris ya.” Kata Xia He sambil berlalu.

Heera mengambil kapas dan pembersih wajah. Luhan sudah duduk di kursi tempat ia tadi didandani. Menunggu Heera menghapus make upnya.

Setelah yakin wajah Luhan bersih, Luhan pamit untuk mengganti baju. Kemudian Kris berdiri menjulang di sebelah Heera. Mengambil kapas dan pembersih wajah yang ada di meja.

“Eh, Kris, biar aku saja.” Kata Heera berusaha mengambil pembersih wajahnya.

Kris mengangkat pembersih wajah itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari Heera. “Tidak usah, noona. Biar aku sendiri yang melakukannya.” Kemudian Kris mulai membersihkan wajahnya sendiri.

Heera merengut kesal. Merasa tidak dihargai. Kris melirik Heera yang masih ada di belakangnya. “Bukannya aku tidak menghargai noona. Tapi aku lebih senang melakukannya sendiri, selagi aku bisa.” Kemudian Kris melempar kapasnya ke tempat sampah.

Heera merasa tidak enak karena ketahuan merengut. Akhirnya ia tersenyum canggung. “Ah iya, tidak apa-apa.” Kemudian Heera menjauh dari Kris.

Mengapa Kris dingin begitu ya? Pikir Heera.

*****

Kris menatap Heera yang menjauh darinya. Berjalan ke arah Mei Yin. Kris sebenarnya ingat dulu Heera pernah menabraknya di jalan yang mengakibatkan belanjaan gadis itu berceceran. Namun tadi Kris tidak yakin apa ia benar-benar yakin itu Heera atau bukan.

Dan juga, Kris sebenarnya tidak membencinya, hanya saja kesal dengan semua kecerobohan yang gadis itu buat. Kris terlalu malas untuk mengerti bahwa setiap orang pasti bisa berbuat salah, termasuk dirinya dan Heera. Tetapi, dari awal bertemu saja sudah tidak mengenakkan. Mungkin saat ini Kris terlalu lelah sehingga apa pun yang terjadi padanya membuatnya kesal.

“Kris! Cepat ganti baju! Kalian harus segera pulang ke dorm untuk istirahat. Besok kalian shooting lagi!” teriak Xia He.

“Ya, jiejie!” Kris balas berteriak. Kemudian berjalan menuju ruang ganti.

Setelah Kris selesai berganti baju, ia membuka pintunya, hendak keluar. Begitu Kris membuka pintu ruang ganti, terdapat Heera yang sedang memunggunginya. Ya, Han Heera si ceroboh itu.

“Noona mengapa disini?” tanya Kris sambil berjalan ke arah meja di dekat Heera, mengambil tas kesayangannya.

“Aku disuruh mengantarmu ke bawah. Aku tidak tahu mengapa aku harus mengantarmu, tapi intinya aku disuruh oleh Paman Jinho.” Kata Heera sambil memakai topi rajutnya yang berwarna merah. “Ayo.” Ajaknya.

Kris berjalan di belakangnya. Heera membuka pintu namun tidak menahannya. Mengakibatkan tangan Kris terjepit.

“Aww!” pekik Kris kesakitan. Heera segera menengok ke arahnya dan melihat Kris yang sedang bersusah payah membuka pintu berat itu.

“Astaga, Kris?! Kau tidak apa-apa?” Heera membantu menahan pintu itu sedangkan Kris melangkah keluar sambil menggoyangkan telapak tangannya yang memerah.

Tidak apa-apa? Apanya yang tidak apa-apa? Jelas-jelas aku kenapa-napa! Gara-gara kau, noona baru! Geram Kris dalam hati. Namun yang keluar dari mulutnya justru kata “tidak apa-apa.”

“Kau bohong! Kau pasti kenapa-napa!” seru Heera sambil meraih tangan kanan Kris yang sudah benar-benar merah.

Itu kau tahu! Lagi-lagi kata-kata itu hanya sampai pada tenggorokan saja, belum ia lontarkan.

“Sudah, noona. Tidak apa-apa. Nanti sakitnya juga hilang.” Kata Kris lalu menurunkan tangannya yang sedang dipegang oleh Heera. “Ayo, kita ke bawah.” Kali ini Kris yang mengajak.

Kali ini Heera berjalan di belakang Kris. Tidak berbicara, tidak berbuat apa-apa. Setidaknya bisa membuat pikiran Kris tenang tanpa harus tertimpa masalah.

Ketika sampai di luar, mobil yang disediakan untuk Kris dan member Exo M sudah dinyalakan. Dan pastinya, member Exo M lainnya sudah ada di dalam mobil. Kris membuka pintu depannya, lalu menengok ke Heera. Heran mengapa gadis ini menunggunya.

“Noona menunggu apa?” tanya Kris.

“Menunggu kalian pergi dari sini. Setelah itu baru aku pergi.” Kata Heera sambil menggaruk tengkuknya, canggung.

“Noona pulang naik apa?” kini Kris terheran-heran karena tidak ada mobil lagi di gedung ini. Gedung sudah sepi karena sekarang sudah pukul 10 malam.

“Tentu saja naik subway. Biasanya juga begitu.” kata Heera sambil mengangkat bahu dengan gaya menyepelekan.

“Tidak ikut saja dengan kami?” tanya Kris.

“Eh?” Heera terkejut. “Tidak usah. Kan sudah kubilang, aku memang biasa pulang menggunakan Subway. Dulu juga pernah berjalan kaki pada pukul 1 dini hari.” Kata Heera.

Lalu terdengar suara dari dalam yang mengatakan bahwa Kris harus cepat masuk. Heera merasa tidak enak, karenanya juga Kris tidak kunjung masuk ke dalam mobil. “Sudah sana masuk.” Kata Heera sambil mendorong Kris masuk ke dalam mobil hingga Kris terduduk, lalu kemudian ia menutup pintunya.

“Hati-hati di jalan ya!” kata Heera sambil melambaikan tangan. Kemudian mobil berlalu meninggalkan Heera sendirian di lapangan parkir gedung pembuatan video itu.

Heera berjalan ke arah yang berlawanan dengan mobil tadi, ke arah kanan. Mencari Subway. Ia memikirkan sudah berkali-kali membuat Kris sial. Entahlah, tapi memang dari dulu Heera selalu dikenal ceroboh.

Ia ingat sekali dulu ketika ia di SMA, tidak ada yang mau berteman dengannya karena Heera sering menghancurkan pekerjaan kelompoknya. Beruntung ia bertemu lagi dengan Kim Youngmi, teman SDnya di China. Youngmi sangat terkenal ketika di SD karena jago berbahasa Inggris, namun tidak bisa berbahasa China. Heera lah yang pertama kali menyapa Youngmi menggunakan bahasa Korea. Membuat mereka berdua benar-benar dekat ketika SD.

Saat SMP, Heera dekat dengan Jo Woojin, laki-laki dingin yang jenius.nMereka dekat karena ayah Heera dan ayah Woojin teman dekat. Heera yang ceroboh, akhirnya bisa berteman dengan Woojin yang dingin.

Ketika mereka kelas 2 SMA, Youngmi masuk ke sekolah Heera sebagai anak baru. Youngmi benar-benar terkenal saat itu. Diterima di semua grup. Namun Youngmi menolaknya dan berteman dengan Heera. Sedangkan Woojin, baru masuk ke sekolah Heera saat semester kedua.

“Aih… bagaimana aku bisa bekerja dengannya jika aku selalu merepotkannya dan mencelakainya?” kata Heera penuh penyesalan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

*****

April 2012.

“Kau harus hati-hati dan jaga dirimu.” Kata Youngmi sambil memeluk erat Heera. Oh, jangan lupa, ia menangis.

“Kau juga, Youngmi. Undanglah Woojin atau Gaein eonni sesering mungkin.” Heera membalas pelukan Youngmi. Tidak menangis. Mencoba tidak menangis.

Suara peringatan untuk segera berangkat sudah diteriakan. Menandakan Heera dan Youngmi harus secepatnya berpisah.

“Tenang saja, Heera, kita masih bisa video call. Kau sudah punya account-nya, kan? Jika belum, segera minta tolong seseorang. Aku tahu kau buta teknologi!” teriak Youngmi. Heera mulai berjalan masuk ke ruang tunggu penumpang.

“Akan aku hubungi kau saat aku sudah sampai!” kemudian Heera menghilang, tertutup orang-orang yang lebih tinggi darinya.

Hari ini, Heera, beserta seluruh staff dan Exo M, akan pergi ke China. Menjalani hari-hari yang berpindah-pindah dan hidup yang melelahkan.

“Noona, kau duduk dimana?” tanya Chen.

Heera menatap Chen yang berada di sebelah kirinya. “Di 1A, kelas ekonomi. Enak kan, kau duduk di kelas eksekutif?” Goda Heera.

“Ahahaha. Tidak juga. Noona tidak takut naik pesawat, kan?” tanya Chen. Heera mematung. Lama kelamaan wajahnya sedikit pucat. “Noona takut?” tanya Chen lagi.

Heera mengangguk kemudian menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Astaga, lalu bagaimana?” tanya Chen lagi.

“Ah, tidak apa-apa. Lagi pula tidak mungkin kecelakaan. Kalau kecelakaan pun, kita semua akan jatuh, kan, bukan hanya aku.” Kata Heera sambil menepuk punggung Chen.

“Kita tidak mungkin kecelakaan, noona.” Kata Chen, kini memegang pundak Heera. Lalu mereka berdua bangkit berdiri, karena sudah sebentar lagi boarding. “Ayo, noona.” Ajak Chen.

Di dalam pesawat, Chen dan Heera berpisah. Jelas saja, mereka beda kelas. Heera duduk di samping jendela sedangkan sebelahnya adalah Mei Yin. Sepanjang perjalanan Heera tidak bisa tidur. Bahkan untuk sekedar bernafas normal saja tidak bisa. Masa lalunya selalu menghantui. Bagaimana ia membenci pesawat. Bagaimana pesawat membuat masa kecilnya kelam.

1 jam 45 menit Heera kehilangan kemampuan bernafasnya. Astaga, akhirnya landing juga. Heera berjalan keluar dengan sempoyongan. Terakhir ia naik pesawat kira-kira 8 tahun lalu saat ia akhirnya pindah lagi ke Seoul.

Seseorang memegang pundak Heera dan memutarnya. “Noona, kau sakit?” katanya.

“Eh, Kris.” Kata Heera sambil memegangi pipinya. “Tidak, aku hanya takut naik pesawat.” Kemudian Heera menunduk.

“Lalu apa yang kau lakukan di dalam pesawat?” tanya Kris sambil merangkul Heera, mengajaknya berjalan.

“Euhh… mendengarkan musik.” Kata Heera.

“Itu bagus. Kau juga harus meminum minuman hangat dan sebisa mungkin duduk di bagian depan. Yah, kau tahu… membuat rileks dan menghindari guncangan berlebihan.” Saran Kris.

Heera mendongak dan tersenyum. “Terima kasih sarannya.” Lalu ia tanpa sengaja melihat ke tas hitam Kris. “Kris, tasmu jelek sekali!” kata Heera spontan.

Kris mendelik sinis ke arahnya. “Aku tahu, noona.” Kemudian Kris terdiam. “Aku mau berbicara dengan manager hyung. Sampai nanti, noona.” Kemudian Kris berlalu.

Heera menatap Kris yang berjalan menjauh darinya. “Aih… sepertinya aku membuatnya kesal.” Kemudian Heera memijat keningnya.

*****

Seenaknya saja dia berkata tasku jelek. Ya, memang jelek. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Tapi bisa kan dia tidak berkomentar apa-apa? Orang-orang lain juga tidak pernah protes. Padahal tadi aku sudah mencoba mengakrabkan diri dengannya. Ia juga ternyata baik dan sopan. Tapi… astaga, setelah kecerobohannya, kini ia tidak bisa menahan hasratnya untuk berkomentar! Menyebalkan sekali.

Itulah yang dipikirkan Kris selama perjalanannya ke hotel. Gadis ceroboh yang baru dikenalnya, yang harusnya ia hormati, yang akan mengikutinya dan mungkin yang akan membuat hari-harinya menjadi berat.

Bersyukur mereka pisah mobil. Tapi yang membuat Kris heran adalah, gadis itu takut naik pesawat. Apa yang ditakutkannya? Jujur saja, Kris tidak pernah bertemu dengan orang yang takut naik pesawat walaupun Kris yakin pasti banyak yang takut naik pesawat. Tapi gadis itu sampai pucat dan sempoyongan. Gadis itu seperti baru saja berlari 1000 mil.

Intinya, Kris akan beristirahat. Toh, soal ketakutan Heera dengan penerbangan juga bukan urusannya. Setidaknya ia bisa tidur dengan tenang tanpa harus bertemu dengan gadis itu.

Oh, ia lupa. Showcase. Ya, jangan lupakan Showcase esok hari. Yang artinya ia akan bertemu lagi dengan Heera. Baiklah.

******

“Kris? Kris, ayo bangun. Hari ini kalian Showcase. Kalian harus rehearsal dulu sebelum Showcase dimulai. Ayo bangun.” Kata seseorang sambil mengguncang badan Kris.

Orang itu menarik selimut Kris. Kris kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Terjadi tarik menarik selimut sampai akhirnya orang itu menarik selimutnya dan melempar selimut putih besar itu ke lantai. Selanjutnya orang itu menaruh handphone-nya di telinga Kris, menyetel alarm kencang-kencang. Kris melempar handphone itu. Orang itu masih tidak menyerah. Ia membuka tirai kamar, membuat sinar matahari masuk ke dalam ruangan.

Kris duduk. Menyerah.

“Akhirnya bangun juga! Mengapa susah sekali, sih?! Ini sudah jam 7! Yang lain sudah bersiap! Lay sudah keluar dari tadi. Mereka sedang sarapan di bawah.” Kata orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Heera. Tumben sekali ia marah-marah.

Heera berjalan ke kamar mandi. Kemudian menangkupkan air dan berjalan kembali ke arah Kris. Menyipratkan air ke wajah Kris.

“Iya, noona! Aku sudah bangun!” Kris mengeluh kesal.

“Bagus. Kalau kau sudah siap, aku ada di kamar depan. Pastikan jam setengah 8 kau sudah makan.” Kata Heera kemudian berjalan ke arah pintu. “Dan pastikan kau terlihat rapi!” kemudian pintu ditutup.

Kris mengerang. Hanya Han Heera yang bisa membangunkannya kurang dari lima menit.

*****

“Noona, bisakah kau suruh para fans berhenti memotretku? Aku tidak nyaman jika harus makan sambil difoto.” Kris berbisik.

“Aigo, Kris. Kau pikir aku tidak risih? Anggap saja mereka itu rumput bergoyang. Untuk saat ini, jangan pedulikan mereka. Kita harus cepat dan setidaknya kau harus makan!” kata Heera sambil memasukkan pancake ke dalam mulutnya.

Tanpa diduga, Kris tersedak. Heera panik setengah mati. “Ini, Kris, ayo minum!”

GUBRAK. SPLASH!

Heera kehilangan kestabilan tubuhnya saat setengah berdiri untuk memberi Kris minum. Membuat gelas yang dipegangnya jatuh dan airnya mengenai baju dan wajah Kris.

Kris masih terbatuk. Berusaha meminum apa saja yang ada. Sudah tidak peduli dengan keramaian dan kamera yang memotretnya. Sedangkan Heera tersakit-sakit memegangi perutnya yang mengenai meja.

“Maaf, Kris, aku tidak sengaja.” Kata Heera sambil mengambil lap di meja. Kris mengambilnya dengan kasar. Sudah muak dengan semua yang dilakukan oleh Heera. Selalu membuatnya sial.

“Aku kembali ke kamar dulu, noona. Mengganti pakaianku yang basah karena tersiram air mineral yang noona berikan.” Kata Kris sarkas. Kemudian Kris melempar lapnya ke meja dengan kesal.

“Mau kutemani? Aku temani saja ya?” kata Heera penuh harap.

“Tidak perlu, noona.” Kemudian Kris berdiri dengan kasar, meninggalkan restoran hotel berbintang lima itu dan berjalan ke arah lift.

Heera memperhatikan setiap langkah Kris. Merasa benar-benar bodoh dan selalu membuat Kris kesal.

*****

Kris melirik semua benda mati di hadapannya dengan tatapan tajam. Serasa semua benda mati itu akan membuatnya sial. Mungkin ia minta ganti stylishnya saja ya? Jie Mei Yin dan jie Xia He nampaknya lebih hati-hati dari pada si ceroboh Heera itu.

Mulai saat ini, Kris akan selalu mencari cara untuk jauh dari Heera. Ya. Image cool andalannya seperti sudah hilang entah kemana.

Lift terbuka. Ia berjalan menuju kamarnya. Saat ia berniat mengambil baju di kopernya, di samping koper Kris terdapat secarik kertas dan sebuah plastik yang berasal dari toko buku. Yang pastinya tidak ia sadari sebelumnya.

Terima kasih, Kris atas sarannya kemarin. Kudengar dari Luhan, kau suka membaca ya? Beberapa minggu yang lalu aku juga melihatmu membaca buku. Ini aku membelikanmu buku biografi, sebagai ucapan terima kasihku. Ini rekomendasi dariku. Aku benar-benar menyukai ini. Kau sudah pernah membacanya, belum? Sepertinya belum, karena buku ini baru terbit. Ini menjadi best seller dan sedang ramai dibicarakan. Aku juga punya, satu, hanya saja terlalu sayang untuk diberikan kepada orang lain. Semoga kau suka!^^

Kris membuka plastiknya dan mengambil buku tentang perjalanan hidup yang memotivasi. Ini adalah buku yang ia inginkan namun belum sempat ia beli karena sudah tidak bisa berkeliaran seenaknya.

Apa yang harus Kris lakukan setelah ini? Melanjutkan niat untuk menjauh dari Heera, atau bersikap baik karena telah memberikan hadiah yang sedang ia dambakan?

TBC

P.S: jie itu bacanya ‘ci’. Cici gitu looh. Jiejie. Sama kayak gege. Tulisannya gege tapi bacanya ‘koko’. ok ok saya memang sok pinter tapi begitulah kenyataannya. comment? jgn yg pedes-pedes ya komennya kecuali kalo kalian tukang rujak hehe^^

Iklan

19 pemikiran pada “My Sloppy Coordi Noona (Chapter 1)

  1. Kris daripada ama heera mending ama aku-_- *digigit
    Kece asli ceritanya nyebelin, minta dibunuh si heera bikin suami gua (?) sial mulu-_- *digaplok authoor

    Keep writing yaa thoor!! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s