EXO PLANET (Chapter 4)

 

EXO PLANET

Title            : EXO PLANET: First Kiss (chapter 4)

Author        : @shfli3424

Main Cast  : Park Nara(OC)

Kim Jong in a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Dio

Cast           : Park Chanyeol, EXO’s member, Lee Taemin SHINee

Genre        : Romance(maybe), fantasy

Length       : Chaptered

Rating        : PG 15

Aku masih memutar-mutar handphoneku sampai akhirnya handphoneku berdering, tapi bukan nada sms melainkan telepon. Segera kutekan tombol di handphoneku dan menerima sebuah panggilan.

Oneureya gieoko bojimotan miracle siljesanghwang deo isang mut…

yeboseo?

“aku Tao.”

“ne oppa. Ada apa?”

“tenangkan dirimu dulu dan dengarkan baik-baik. Luhan dan Xiumin 2 hari lagi akan sampai di Bumi.”

“mwo?! Jinjjayo?!” dadaku seketika seperti berhenti, sesak dan tubuhku bergetar hebat.. sangat kencang, kuyakin kini mukaku sudah sangat amat pucat.

“tenanglah, sebentar lagi Kai akan kesana dan membawamu kemari. Kami sudah berkumpul.”

Handphoneku terjatuh karena tanganku yang lemas. Bagaimana bisa?! Ini baru tanggal 18! Seharusnya masih 15 hari lagi. Kai sudah ada di kamarku, dia berlari kecil ke arahku.

 

Author’s POV

Kai yang baru saja muncul dari sudut kamar Nara sangat terkejut dengan Nara yang sedang pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Dia berlari kecil mendekati Nara dan memegang kedua pipi Nara.

“Nara.. tenanglah, gwenchana. Sungguh, ini akan baik-baik saja.” Ucap Kai mencoba menenangkan Nara.

ani.. ani Kai.. aku belum siap.” Nara memandang Kai dengan tatapan kosong dan sedikit terbata-bata.

“sungguh, jebal Nara.. tenanglah, lihat kedua mataku. Tak akan terjadi apa-apa.” Kai memegang kedua pundak Nara dan sedikit mengguncangnya.

Tetes-tetes air keluar dari ujung mata Nara, tubuhnya masih bergetar. Dia terlalu takut sampai akhirnya Kai memeluknya dengan erat, Kai mengelus lembut rambut panjang yeoja itu dengan pelan..

gwenchana Nara, gwenchana.. mereka belum datang..”

“Kai, aku takut..”

Isakkan tangis Nara semakin keras, Kai pun memeluknya dengan semakin erat. Detakan jantung Kai terasa cepat dan khawatir akan keadaan yeoja yang dicintainya itu, Kai melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Nara dengan ibu jarinya itu. Semenit, dua menit, tiga menit tubuh Nara sudah tidak begitu bergetar lagi. Nara mencoba mengatur nafasnya dan memeluk namja di hadapannya itu, Kai hanya bisa membalas pelukkan Nara dengan hangat.

“mian Kai, aku terlalu berlebihan. Aku terlalu takut, aku bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.”

arayo.. tidak akan ada hal buruk yang terjadi, percayalah. Ayo kita pergi, oppa-mu sudah menunggu.”

Kai melepaskan pelukkannya dan memakaikan Nara sweater tebal bermotif bunga, ia memandang mata yeoja itu lekat. Dia mencoba mengurangi jarak mereka dan mendekatkan wajahnya itu dengan wajah yeoja dihadapannya, nafas berat Nara berhembus lembut di pipi Kai membuat detak jantung namja itu semakin cepat dan darahnya mulai panas. Sekilas dia elus lembut pipi kanan yeoja itu, bibir Kai mengecup kening Nara dan menempelkan bibirnya sedikit lama. Perlahan dia lepaskan ciumannya dan menatap wajah yeoja dihadapannya.

“sudah sedikit baikan?”

“kurasa..

Nara tersenyum malu dengan pipinya yang memerah, Kai menggenggam erat tangan Nara dan memejamkan matanya. Kini mereka pun sudah sampai dikamar Dio, ke-9 teman Kai sudah menunggu cukup lama.

“mengapa begitu lama?” Kris mendekat kearah mereka berdua yang baru sampai.

“mian hyung, Nara sedikit terguncang tadi.”

“oh, kau sudah baikan?” Kris memegang lengan Nara, memastikan apa yeoja itu sudah baikan.

“ne oppa, mian. Aku sedikit berlebihan, tapi sungguh aku takut. Entah apa yang membuatku terlalu berlebihan, kurasa bukan hanya karena Luhan dan Xiumin tapi aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan..”

“jangan teruskan Nara jika kau merasa tidak enak badan, duduklah. Aku akan membawakanmu segelas air.” Dio tersenyum hangat kepada Nara dan turun kebawah menuruni anak tangga menuju dapur.

Didalam kamar Dio masih hening, Chen dan Sehun memilih diam. Mereka tahu jika mereka langsung menceritakkan tentang kedatangan Luhan dan Xiumin 2 hari lagi, pasti tubuh yeoja itu semakin memburuk. Lay berjalan mendekati Nara dan tersenyum, dia memegang kening yeoja itu dan mulai menyalurkan beberapa energi yang terasa dingin.

“ini sedikit membantu.” Lay berjalan pergi

“minumlah, tenangkan dulu pikiranmu. Kami akan menceritakannya jika kau sudah siap.” Dio memberikan segelas air mineral.

**

Sudah setengah jam mereka menunggu Nara yang terdiam dengan tatapan kosong. Pikiran Nara sudah sedikit lebih tenang, ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan dari mulut.

“aku sudah siap.” Ucap Nara mantap.

“ne, tanggal 20 besok mereka berdua sudah tiba. Ada sedikit pergeseran di planet saturnus, pergeseran itu membuat mereka bisa datang ke Bumi lebih cepat. Tapi tenanglah, mereka juga butuh waktu untuk istirahat dan mempersiapkan diri melakukan serangan mereka. Bulan oktober, mungkin mereka akan melakukan beberapa serangan. Tugas utama kami menjaga kau dan Dio, aku tak yakin jika mereka belum mengetahui kekuatanmu. Tapi dengan kekuatanmu itu, aku yakin kau tidak akan masalah bertemu dengan salah satu dari mereka sebelum mereka melakukan serangan.” Nara mendengarkan penjelasan Tao oppa dengan seksama.

“beberapa serangan? Maksud oppa? Apa kau yakin oppa, aku tidak akan apa-apa jika bertemu mereka? Lalu bagaimana dengan Dio oppa? Maksudmu dengan ‘serangan’ itu apa?”

“iya, mereka tidak melakukan 1 kali serangan saja tapi berkali-kali. Ne Nara, kekuatanmu itu cukup banyak. Dio akan terus bersama Kai, aku dan Lay. Serangan, perlawanan atau mungkin bisa disebut pembunuhan.”

“oppa, aku belum mempelajari ellement EXO..”

“kau sudah bisa, untuk apa kami mengajarimu?”

“tapi oppa..”

“itu ada dalam dirimu sendiri, kau akan menemukannya sendiri.”

Nara hanya menatap Tao bingung, dia tak begitu mengerti apa yang Tao katakan tapi dia yakin kekuatan itu sangat berguna. Dia masih duduk tapi kini tatapannya menjadi tatapan kosong, dia mencoba mencari-cari dimana kekuatan EXO itu berada dalam dirinya. Yeoja berambut panjang itu perlahan memejamkan matanya, menghela nafas panjang dan menulusuri ruang-ruang kosong dalam dirinya, kini lebih berbeda dia seperti bertelepathy dengan dirinya sendiri. Tao yang melihatnya hanya mengisyaratkan agar teman-temannya itu diam dan tak mengganggu Nara.

 

Kim Nara POV

Tak butuh waktu lama untuk mengerti kata-kata Tao oppa saat aku memikirkannya lagi, aku mengerti kekuatanku pasti hidup dalam diriku sendiri. Kuturunkan kedua kelopak mataku perlahan hingga mataku benar-benar tak melihat apapun kecuali warna hitam dan bercak-bercak cahaya yang tak teratur, kujelajahi semua ruang dalam diriku. Aku melihat ellement telepathy, itu sudah jelas. Aku beralih kesebuah ruangan gelap, ruangan itu seperti tidak pernah terbuka. Sulit dipercaya bukan?

Aku butuh konsentrasi sangat tinggi untuk melihat semua ini, sangat tinggi. Kini kupandangi ruanganan itu, kucoba membukanya tapi sungguh sulit.

“kau mencoba membuka ku? Kau sudah siap? Bagaimana bisa kau membukanya jika kau tidak mengerti kekuatanmu sendiri? Itu seperti halnya kau bercermin tapi kau tidak melihat apa-apa dikaca itu.” Aku sedikit terkejut mendengar suara itu, itu seperti seorang yeoja.

“aku lah dirimu.. aku masalalu mu dan masadepanmu, Nara.” aku mencoba memecahkan teka-teki ini.

“Yeon Ra? Kau kah itu?”

“Ne, bukalah pintunya.” Aku membuka pintunya perlahan. Aku melihat sosok yeoja dengan gaun putih selutut, wajahnya sangat manis. Apakah itu aku?

“kau butuh bantuanku, semuanya saling berhubungan bukan? Aku hanya memiliki sedikit waktu, jadi dengarkan baik-baik.” Aku menundukkan kepalaku perlahan tanda ‘aku mengerti’.

“jika semua saling berhubungan maka semua juga memilliki pasangan, jika ada exo maka ada bumi. Jika ada kau maka ada kyung soo, disini didalam dirimu tersimpan kekuatan besar. Kekuatan ini menjaga takdir tetap pada garisnya, jika kedua makhluk itu ingin membunuh Kyung Soo maka kekuatanmu akan membantumu. Ellement EXO akan keluar pada saatnya, kau hanya perlu menunggu. Percayalah, satu lagi.. jika Kai memang yang terbaik untukmu, jagalah dia untukku dan untukmu juga. Titipkan salamku pada Kai.”

Seketika tubuh Yeon Ra bersinar sangat terang dan sinar itu membuatku tersadar. Aku sudah membuka mata, aku mengambil nafas panjang. Kini aku terengah-engah.. kekuatanku sudah terpakai untuk melihatnya, badanku sedikit lemas. Pandanganku sedikit kabur, kuguncangkan kepalaku perlahan.. tadi itu benar-benar membutuhkan tenaga yang sangat banyak, aku melihat sekelilingku dan senyum lebarku mengembang saat kulihat Kai.

“aku menemukannya!” aku tersenyum lega

Semua teman chanyeol oppa tersenyum, aku segera bangkit dari tempat dudukku dan mengajak namja-namja itu latihan.

*

“ini sudah cukup, saatnya kami mengukur kekuatanmu. Serangan mendadak.” Chen oppa tersenyum tipis, aku mengangkat sebelah alisku.

Ha?! Apakah yang mereka maksud… gila! Bagaimana bisa seorang yeoja melawan 5 namja dengan ellement teleportation, wind, lightning, water dan time control?! Tak sampai 10 detik mereka berlima sudah mengelilingiku, oh Tuhan!

“sedikitlah lembut pada seorang yeoja. Jebal oppa.” Aku menatap kelima namja itu seraya memelas.

“apa Luhan akan lembut kepadamu?” Tao oppa hanya tersenyum tipis, tatapannya sungguh..

Aku mulai dengan membaca pikiran mereka berlima, dapat! Aku mengerti taktik mereka, mereka menggunakan Tao oppa untuk serangan terakhir. Suho oppa yang pertama, dia memiliki kekuatan seperti Xiumin. setelah itu Sehun, Chen oppa dan Kai.

“baiklah, aku siap.” Aku mengatakannya dengan yakin

Kututup kedua mataku, menghela nafas panjang dan mulai berkonsentrasi. Dari belakang kurasakan kakiku sudah basah, Suho oppa mulai menjerat kakiku dengan airnya sedang Sehun yang berada tepat didepanku sudah siap dengan ‘tembakan’ anginnya. Sebelum Sehun melepaskan tembakan anginya aku berteleportasi menuju belakang Suho oppa, tepat! Semuanya berjalan dengan cepat, Suho oppa terkena tembakan angin Sehun dan aku menekan punggungnya dengan tangan kananku, ku alirkan kekuatanku agar Suho oppa jatuh pingsan. Satu sudah selesai, kini masih ada 4 namja lagi. Kini Kai sudah tepat berada dibelakangku, sial! Dia menarik kedua tanganku dan mengunciku agar tidak bergerak, Chen oppa berlari kearahku dengan sebuah petir di tangan kanannya sepontan aku menatapnya tajam dan mencoba mengendalikan tubuhnya. Dia berhenti dengan tatapan kosong, bingo! Kuarahkan dia untuk menyerang Tao oppa tapi dengan cepat Tao oppa menghindar, kulumpuhkan kekuatan Chen oppa yang masih terpengaruh kekuatan telepatiku. Chen oppa sudah jatuh pingsan(sepertinya) Kai masih mengunci tanganku, aku berteleportasi menuju kebelakang tubuh Sehun tapi belum sempat aku sampai Tao oppa menghentikan waktu dan aku berhenti tepat disamping tubuh Suho oppa. Chen oppa tidak pingsan! Oh tuhan habislah aku, tubuhku sudah terkunci lagi oleh Kai dan Tao oppa yang menghentikan waktu. Kini Sehun dan Chen oppa sudah bersiap menyerangku.

“kau kira kami semudah itu? Bodoh!” Tao mengangkat sebelah bibirnya tersenyum sinis ke arahku.

“arrgggh!” aku berteriak kencang mencoba melepaskan diri dari mereka.

Apa lagi ini?! Suho oppa sudah tersadar? Matilah aku! mereka bertiga sudah siap dengan sebuah bulatan terang ditangan kanan mereka masing-masing, itu angin, air dan petir. Bulatan itu sudah mendekat, kurasakan Kai melepaskan tanganku.

“arrghh!” aku kembali berteriak, didalam diriku ini ada sesuatu sedang keluar.

Sesuatu yang tidak berwujud, mataku terpejam saat cahaya terang keluar dari tubuhku. Apa ini? badanku terasa berat saat ‘sesuatu’ itu keluar dari tubuhku di ikuti cahaya terang, kubuka mataku perlahan. Pandanganku masih kabur, kulihat kelima namja itu jatuh. Apa mereka pingsan? Aku masih bingung dan gugup, mereka tidak mati-kan? Aku menangkap wajah chanyeol, baekhyun, Kris dan Dio oppa yang kelihatan shock. Lay berlari kearahku.

“apa itu tadi?”

“ha?” aku masih bingung dengan yang Lay katakan.

Kini Dio oppa berlari kecil ke arahku, dia menatapku bingung. Kulihat Tao oppa mulai bangun, lalu Suho oppa.

“oppa..”

Seketika tubuhku lemas, aku jatuh dipelukan Dio oppa. Untunglah aku tidak pingsan tapi badanku terasa sangat lemas.

“Dio oppa..”

“ne Nara.. neo gwenchanayo?”

“aku lemas oppa..”

Dio oppa membawaku menuju kamarnya, setibanya di kamar Dio oppa membaringkanku di tempat tidurnya.. dia masih menatapku dengan khawatir, kami saling menatap cukup lama tapi aku tak ingin membaca pikirannya. Kupandang matanya lekat, Dio oppa perlahan mengelus pipiku dengan lembut.

“gwenchana oppa, aku hanya lemas. Sungguh, tak ada yang terluka.” Aku mencoba menghilangkan rasa khawat

 

irnya.

“seharusnya aku yang melindungimu, tetapi malah kau yang melindungi aku dengan membunuh Luhan dan Xiumin. mianhae Nara..”

“gwenchana oppa.. ini memang takdirku.” Aku menggenggam erat tangan kanannya dan tersenyum lebar.

“istirahatlah sebentar, aku akan membawakanmu air minum.”

**

Kini sudah malam, aku tertidur dikamar Dio oppa mungkin karena terlalu lelah. Chanyeol oppa sudah pulang dan kini hanya ada aku sendiri di kamar Dio oppa, aku mencoba bangun meskipun sedikit sulit. Setidaknya sekarang tubuhku tidak selemas siang tadi, kudengar suara sepasang kaki menaiki tangga.

“kau sudah bangun?” Dio oppa berlari kecil ke arahku dan mengambil segelas air di meja kecil samping ranjangnya.

“minumlah, aku sudah buatkan bubur untukmu dibawah.”

“ne, gumawo oppa, tapi apakah ini tidak merepotkan?”

“ani..”

Kuhabiskan air minum yang di berikan Dio oppa, aku tersenyum padanya dan dia menuntunku untuk turun kebawah menuju meja makan. Aku duduk di sampingnya, hatiku merasa tenang disampingnya sekarang.

“aku suapi, bukalah mulutmu.” Aku menuruti perkataan Dio oppa dan membuka mulutku perlahan.

“oppa, dimana eomma dan appamu? Kenapa disini sepi sekali, lalu kenapa teman-temanmu meninggalkaku sendiri disini termasuk chanyeol oppa?”

“mereka sedang di luar kota, setelah Sehun pingsan cukup lama mereka memilih untuk pergi kerumah Tao. Chanyeol oppa, dia menitipkanmu padaku.”

“mwo?! Sehun?”

“ne, dia yang paling muda di antara kami.. jadi dia belum bisa mengontrol kekuatannya saat kau melawannya, tapi Sehun sudah sedikit baikan.”

“syukurlah..”

Dio oppa masih menyuapiku hingga suapan terakhir, dia memberiku susu hangat. Setelah selesai makan aku hanya diam, aku kehabisan kata-kata. Akhirnya kami berpindah tempat menuju sofa untuk melihat acara televisi. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan tapi saat aku menoleh untuk bertanya secara bersamaan Dio oppa juga menoleh ke arahku, mata kami benar-benar bertemu.

“lupakanlah Kai.”

DEG

Kurasakan berjuta peluru menembus hati dan paru-paruku membuatku sulit bernafas dan merasakan rasa sakit yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.. Tapi jauh di sudut ruang hatiku ada rasa senang, senang bahwa Dio oppa mengatakannya. Kedua tanganku kini saling bertautan dengan tangan Dio oppa yang menggenggam erat kedua tanganku, sangat erat seperti dia tidak ingin melepaskanku.

“akulah takdirmu Nara.”

Aku masih diam, tubuh hangat Dio oppa memelukku dengan erat. Aroma tubuhnya dengan lembut memasuki rongga-rongga hidungku membuat mataku terpejam menikmati aroma tubuhnya, tanganku secara tidak sadar mengelus pelan punggung Dio oppa. Aku membalas pelukannya, pelukannya sangat hangat dan nyaman. Tapi tak lama, mataku terasa lembab dan genangan air disudut kelopak mataku jatuh membasahi pipiku dan pundak Dio oppa. Aku menggigit bibir bawahku agar suara isakku tidak terdengar oleh Dio oppa, aku mulai mengatur nafas panjang.

uljima..

ani oppa, aku tidak menangis.” Dio oppa menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“saranghae Nara.. meskipun kalimat itu aku ucapkan berjuta kali, itu tidak dapat mencerminkan besar rasa cintaku padamu, besarnya rasa takutku jika kehilanganmu, besarnya rasa kecewaku jika kau bersama dengan Kai dan besarnya rasa marahku jika kau tersenyum untuk Kai. Jeongmal saranghae Nara..”

“nado oppa, nado saranghae oppa.”

Aku begitu senang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir manis Dio oppa, penantianku sejak sekian tahun sudah terbayar meskipun ada rasa janggal dihatiku. Aku tersenyum dan Dio oppa juga tersenyum.

“ijinkanlah aku melakukannya Nara.”

Aku membaca pikiran Dio oppa dan aku mengangguk pelan. Dio oppa sedikit mengangkat daguku dan kamipun saling menyesuaikan posisi agar hidung kami tidak saling berbenturan, deruan nafas lembut oppa menyapu pipiku yang sedang memerah ini. Nafasnya begitu teratur dan lembut, 8cm, 7cm, 6cm, 5cm, 4cm jarak wajah kami.. aku menurunkan kedua kelopak mataku perlahan, sesuatu yang hangat tepat berada di bibirku membuat tubuhku memanas seketika. Bibir Dio oppa dengan pelan menghisap bagian luar bibirku dan semakin lama bibir hangatnya itu mulai menekan bersamaan tangan kiri Dio oppa yang menarik daguku. Ciuman yang semula manis itu kini sedikit lebih dalam, lidahnya menelusuri rongga-rongga mulutku membuat gerakan sepontan mengalungkan kedua tanganku dilehernya. Hangat dan nyaman atau mungkin ‘nikmat’? entahlah, kini aku berada di bawah kendali begitu juga Dio oppa. Beberapa kali terdengar suara decakan dari bibir kami, tubuh Dio oppa semakin lama semakin mendorongku kebelakang hingga kini aku berada dalam posisi tertidur disofa. Sungguh ini ciuman yang sangat lama, hingga kurasakan tangan Dio oppa masuk menelusuri rokku dan mengelus pahaku pelan. Tidak! Ini sudah berlebihan! Kulepas ciuman kami dengan sulit, sulit karena aku juga tak ingin melepaskannya!

“oppaa, iinni ssudah ccuukkkup..” aku sedikit kesulitan mengatakannya, mengingat bibir kami masih bertautan..

Dio oppa membuka matanya perlahan dan sadar akan apa yang dia lakukan, kulihat matanya sedikit membesar saat dia menyadari tangan kanannya sudah berada didalam rokku. Dio oppa segera menjauh sedikit darikku, dia menundukkan kepalanya. Dia menyesal? Aku rasa, dan syukurlah dia namja yang baik.

“mianhae Nara tidak seharusnya aku melakukannya, aku benar-benar dibawah control.” Kulihat bibir Dio oppa yang masih basah itu berbicara dengan nada menyesal.

gwenchana oppa..”

Aku berdiri dan berjalanan menuju toilet untuk membenarkan bajuku yang sedikit tidak karuan ini, ku buka pintu dan masuk tak lupa menguncinya. Kubenahkan posisi rokku dan mengucir rambut yang sudah sedikit acak-acakan ini, kulihat bibirku dari kaca. Masih terasa bagaimana hangatnya bibir Dio oppa dan sensasi yang kurasaan saat dia menciumku, bibir bawahku sedikit lecet. Apa boleh buat, aku hanya tersenyum malu saat kembali mengingatnya. Setelah selesai aku membuka knop toilet dan kudapati Dio oppa tepat berada di depanku.

“kukira kau pergi, jangan pergi dari hadapanku lagi. Aku khawatir, aku takut kau meninggalkanku.” Tiba-tiba Dio oppa memelukku dengan sangat erat.

“ne oppa, saranghae.” Aku tersenyum dan membalas pelukannya

Terdengar suara bel dari dari ruang tamu, apakah itu chanyeol oppa? Kami melepaskan pelukan dan Dio oppa tersenyum padaku sekilas sambil mengacak-acak rambutku. Kami berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu, benar saja itu chanyeol oppa. Chanyeol oppa menyuruhku pulang karena ini sudah cukup larut, akupun berpamitan dengan Dio oppa dan sebelum pulang aku mendapat kecupan manis di keningku dari Dio oppa. Aku hanya tersenyum malu karena masih ada Chanyeol oppa disampingku, kulambaikan tanganku dan berjalan menuju mobil chanyeol oppa. Diperjalanan pulang aku hanya bisa tersenyum mengingat Dio oppa.

*next morning

Hangatnya sinar matahari yang muncul dari sela-sela jendela kamarku membuatku terbangun, kali ini aku sudah terbiasa bangun tanpa menggunakan alarm. Aku terdiam sejenak menatap langit-langit kamar, kuraba bibirku dan mulai tersenyum. First kiss-ku dengan namja tampan dan baik hati, syukurlah.

Aku mengucir rambutku dan berjalan menuju kamar mandi, selesai mandi kukenakan seragam sekolahku dan bergegas turun kebawah untuk sarapan. Aku melihat cermin dan memutar tubuhku berulang kali memastikan penampilanku sudah rapi, setelah kupastikan sudah rapi aku ambil tasku dan turun menuruni anak-anak tangga. Aku sedikit terkejut melihat seorang namja yang duduk dimeja makan, siapa lagi kalau bukan Dio oppa? dia tersenyum melihatku dan aku menyapanya.

“kyungsoo datang pagi-pagi untuk mengantarmu kesekolah, berterimakasihlah pada sunbae-mu itu.” Kata eomma seraya menuangkan susu hangat ke gelasku.

“hehe, gumawo oppa.”

Dio oppa hanya tersenyum dan menikmati teh yang eomma buatkan, apakah aku bermimpi? Lalu kemana chanyeol oppa? kusimpan pertanyaanku dan menunggu eomma untuk kembali kedapur, setelah kulihat eomma sudah jauh aku mulai bertanya pada Dio oppa.

“oppa, chanyeol oppa eoddiga? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

“dia ke rumah Tao.. kita kedatangan tamu dari Exo Planet, dia senior kami.”

“mwo? Planet-planet belum terletak dalam satu garis lurus, bagaimana bisa?”

“ada beberapa ellement yang tidak tergantung pada letak ke-8 planet, ellement itu tergantung pada letak bulan. Bulan purnama lebih tepatnya, tapi itu hanya satu ellement yang tergantung pada letak bulan.”

“oh, nuguya oppa?”

“Lee Taemin, dia lebih tua 2 tahun dariku. Dia memiliki ellement moon, jika disini mungkin bisa di sebut sebagai ‘dukun’ namun ellementnya berbeda dengan yang Lay miliki. Ellement Taemin hyung bisa membantunya berinteraksi dengan dunia roh, yah kurang lebih seperti itu penjelasan singkatnya.”

“wah, ternyata masih banyak yang belum aku tahu.”

“kajja, kita berangkat.”

“ne.”

Setelah selesai makan dan berpamitan dengan eomma, aku berangkat menuju sekolahku. Perjalanan dari rumah menuju sekolah sekitar 15menit, cukup lama.. aku berkali-kali menangkap ekor mata Dio oppa menoleh kearahku, aku hanya tersenyum.

“emm, apakah tadi malam firstkiss-mu?”

“ne oppa.” seketika rona pipiku berubah menjadi merah.

“nado.” Kulihat Dio oppa tersenyum dan menatapku singkat.

“mulai tadi malam kau menjadi yeoja chinguku,arraso?

“ne  oppa.. oppa, hari ini aku pulang lebih awal. Oppa akan menjemputku bukan?”

“baiklah, jam berapa? Setelah itu kita akan kerumah Tao dan latihan lagi.”

“nanti akan kutelpon saja, baiklah oppa.”

Kami sudah sampai tepat di depan pintu gerbang sekolahku, aku segera melepas safety belt dan saat aku akan membuka pintu mobil untuk keluar Dio oppa menarik tanganku dan mencium keningku singkat. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku setelah keluar dari mobil, aku berjalan melihat kanan-kiri mencoba mencari empat temanku.

Setibanya dikelas aku hanya melihat Sehun dan younghwa yang sedang bercakap-cakap. aku berjalan mendekati mereka dan bertanya dimana yang lain.

“dimana yang lain? Mereka belum berangkat?”

ani, mereka membolos. Mereka tahu hari ini hanya ada dua mata pelajaran saja.. pemalas.” Jawab younghwa.

“ah, dunia ini sudah gila.” Kuhempaskan tubuhku di kursi dan meletakkan tasku sembarangan.

“annyeonghaseyo~” sepontan aku menoleh kebelakang mencari sumber suara, ternyata Hyera dan Hyu Ri.

“mereka berangkat, lalu siapa yang membolos?”

“Lay dan Hye eun..” ucap Sehun.

“bibirmu lecet? Makan apa kau semalam?” Hyera duduk disampingku dan melihat bibirku dengan tatapan mata anehnya.

“ehm ini..”

“atau jangan-jangan!” Hyera memotong ucapanku dan mendekatkan wajahnya ke arahku.

“omo! Nara, kau gila. Dengan siapa? Bagaimana bisa sampai seperti ini?!” Hyu Ri memberiku pertanyaan bertubi-tubi.

“dengan Dio oppa.” aku segera menundukkan kepalaku malu..

jinjja?! Aaa!” mereka(Younghwa, Hyera, Hyu Ri) berteriak bersamaan.

“firstkiss-mu dengan Dio hyung?!” Sehun mendekat kearahku.

“ne..”

Tepat setelah aku menjawab pertanyaan Sehun bel tanda pelajaran berbunyi, mereka segera kembali ketempat duduk mereka.

**

Kini  aku sudah berada dirumah Tao oppa, kulihat seperti biasa ke-10 namja berkumpul. Kulihat Kai sedang berkutat dengan psp-nya, sedang Dio oppa duduk disampingku. Lalu dimana Taemin?

“oppa, dimana Lee Taemin?” Aku bertanya pada Dio oppa.

“dia sedang mandi, tunggulah.”

Kulihat isi ruangan ini, ruang keluarga milik Tao oppa bergaya klasik Eropa dan sangat rapi. Bukankah Kai juga tinggal disini? Aku melihat Kai dan pada waktu yang bersamaan Kai sedang melihatku singkat.

“Kai..” aku mencoba memanggilnya dengan telepathyku, kalian tahu bukankah kami bisa bercakap-cakap melalui pikiran?

“mwo? Aku sedang bermain game” Kai masih menatap mataku.

“emm, ani..”

“chukkae, aku yakin kyungsoo lebih baik dariku. Itu pilihan terbaikmu.”

Aku sedikit terkejut, apakah Kai mengetahuinya? Apakah Dio oppa memberitahu ke-8 temannya tentang hubungan kami? Sejumlah pertanyaan terbesit dipikiranku. Aku mencoba membalas apa yang Kai katakan tadi, namun dia sudah kembali berkutat dengan psp-nya. Tatapannya tadi begitu dingin dan tajam ‘mian Kai’ gumamku menatapnya. Seketika pikiranku berputar kembali kemasa lalu saat Kai mencium keningku, memelukku, tersenyum untukku. Sungguh sakit, aku berada dalam dua pilihan yang sangat sulit sekarang ini..

“mian, aku membuat kalian menunggu, oh! Itukah Nara? Annyeonghaseyo.” Aku terbangun dari lamunanku dan melihat seorang namja yang cukup tampan berjalan kearahku.

“ne, annyeonghaseyo Taemin oppa.” aku menundukkan  badanku.

Kami berbincang cukup lama, dari perbincangan tadi aku mengetahui bahwa taemin oppa dapat mengubah bentuk wajahnya seperti apa yang dia inginkan. Taemin oppa menawarkanku untuk melihat wajah Luhan, aku sedikit ragu untuk menerima tawaran Taemin oppa.. setelah berfikir dua kali, aku terima tawaran Taemin oppa. segera dia membelakangi semua yang ada diruangan ini, tak butuh waktu lama.. Tiba-tiba tubuhku bergetar dan lemas, wajah Luhankah itu? Diakah makhluk yang selalu membuat tubuhku bergetar hebat, makhluk yang akan membunuh namja chinguku, makhluk yang menentang takdir reinkarnasi? Oh Tuhan.. bagaimana bisa makhluk yang bisa dikatakan namja cantik ini memiliki niat jahat?

Seperti biasa, Lay mendekat dan menggenggam tanganku untuk mengurangi rasa gugup dan takutku.

kumanhae hyung!”

 

Author POV

kumanhae hyung!” Dio berteriak kepada Taemin dan segera menarik Nara kepelukannya.

“mianhae, tapi biarkanlah ia terbiasa Dio.. Nara bukan anak kecil lagi dan…”

“tapi semua itu butuh proses hyung, hentikan. Kita tunggu sampai Nara baikan.” Kai memotong perkataan hyungnya dan ia segera menghilang menggunakan teleportasinya.

Dio mengelus pelan rambut Nara dan mencoba menenangkan yeoja chingu-nya itu. Kali ini dia benar-benar takut, tapi itulah takdirnya.. melawan makhluk yang menurutnya adalah monster. Nara mencoba mengumpulkan semua tenaganya dan melawan rasa takut yang sedang menyelimuti dirinya, takut akan takdir yang sudah menunggunya untuk menyelesaikan semua masalah..

“sampai kapan kau akan seperti ini? kajja kita latihan.” Chanyeol menarik Nara pelan menuju taman kecil dibelakang rumah Tao.

“kau mencintai Dio?”

neomu oppa.. neomu.” Mereka berdua duduk disebuah kursi kayu berwarna coklat tua.

“kau ingin selalu bersamanya? Kau menyayangiku? Kau ingin semuanya berjalan baik-baik saja bukan?” chanyeol menghela nafas panjang dan menatap adik perempuannya itu dalam.

“jangan terlalu lemah, bersabarlah.. ini memang sulit Nara, aku juga merasakannya. Aku yakin kau lebih kuat dari pada Luhan, aku yakin kau dapat membunuhnya.”

“oppa.. gumawo.”

“jika kau lelah, pulanglah dan istirahat.. aku akan menyuruh Kai untuk mengantarkanmu.”

“ne oppa.”

Nara segera pulang dengan dibantu ellement teleportasi milik Kai, sesampainya dikamar Nara, Kai hanya diam dan segera kembali ke rumah Tao.  Nara yang melihat Kai terus diam hanya bisa menatapnya dengan tatapan tanya, ‘sesuatu terjadi pada Kai, apakah karena aku sudah memilih Dio oppa? tapi..’ gumam Nara..

 

Park Nara POV

*next Morning

Pagi ini aku bangun lebih awal, dengan sedikit menggeret kakiku menuju kamar mandi aku melihat kalender yang terpasang disamping lemari kecil dekat jendela. ‘Sial! Hari ini mereka datang!’ batinku dan membuka knop pintu kamar mandi. Kubasahi tubuh kecilku ini dengan air hangat dan segera mengelapnya dengan handuk lembut berwarna softpink, kubuka knop pintu dan berjalan lurus menuju cermin. Tepat dua langkah setelah aku berjalan kurasakan seseorang mendekap mulutku dan mengunci kedua tanganku, segera kugunakan teleportationku dan menjauh menuju depan cermin. Aku terkejut, itu bukan ‘seseorang’ tapi ‘makhluk’ karena dia itu..

“awal pertemuan yang bagus Park Yeon Ra.” Dia tersenyum tipis dan memberi penekanan pada kata ‘Park Yeon Ra’

“Kau salah Hyung, dia Park Nara.” bersamaan dengan suara laki-laki dibelakangku, tubuhku seketika bergetar hebat dan aku jatuh terduduk.

 

TBC

*drum sound*

Annyeonghaseyo readers ^^ mian ya banyak typo dimana-mana, trus nyeleseinnya agak lama soalnya author liburan ketempat kakek huehehe..

Gimana? Gimana? Ada cast baru mantan pacar author Lee Taemin kkk~

Jeongmal gumawo buat yang udah baca ^^ apalagi buat yang udah komen

[!!!] PLEASE DON’T BE SILENT READER

 

Iklan

21 pemikiran pada “EXO PLANET (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s