Fall (Chapter 1)

Title: Fall (Chapter 1)

Author: zelowifey

Length: Multi Chapter

Genre: Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Luhan (EXO-M), Jinri (OC)

Support Cast: Sehun (EXO-K) and more to come

Description: Jinri adalah seorang siswi sekolah menengah atas biasa yang tidak menyukai keramaian, dia lebih suka menyendiri dan menjadi bagian dari orang-orang yang terasingi. Luhan adalah siswa paling disegani dan popular, dimana dia selalu dikelilingi dengan orang-orang mainstream yang sama seperti dirinya. Lalu apa jadinya jika ‘Ms. Invisible’ dipertemukan dengan ‘Mr. Not-So Popular’ pada waktu dan tempat yang tidak pernah terduga?

Note: Annyeong chingu! J ini pertama kalinya aku nulis FF tentang EXO dan FF ini terinspirasi dari lagunya Marie Digby yang berjudul Miss Invisible, mianhe sebelumnya jika ceritanya gaje, bahasanya aneh, banyak typo, boring, dsb T.T jangan lupa tinggalkan komentar ya, komentar kalian berarti banget hehe J

————————————

Semua orang pasti tahu bagaimana rasanya menjadi suatu bagian di dalam sebuah keramaian, entah di dalam sekolah, kampus, organisasi dan lain sebagainya. Sebagian dari mereka berusaha dengan caranya masing-masing agar dapat masuk dan di terima di keramaian tersebut, lalu sebagian lagi telah lebih dulu diterima tanpa harus berusaha untuk masuk.

Semua siswa pasti juga mempunyai cara mereka masing-masing untuk dapat diterima di lingkungan sekolah, walaupun begitu ada hal ganjil yang tidak pernah bisa kita ketahui sebab munculnya, saat berdirinya kelompok atau golongan orang-orang mainstream (eksis/popular) yang selalu menjadi topik pembicaraan hangat disekolah, dan bagaimana mereka bisa dengan mudah diterima di keramaian. Pasti terdapat pertanyaan di benak kita bagaimana mereka bisa menjadi bagian dari golongan orang-orang yang begitu disegani di sekolah, mungkinkah karena mereka kaya? tampan? cantik? cerdas? atau memiliki kapasitas feromon yang lebih dari orang lain? itu mungkin saja.

Bicara soal feromon, sepertinya hal itu memang berfungsi untuk menarik perhatian orang-orang disekitar, contohnya Luhan, begitu banyak murid yeoja disekolahnya yang begitu tergila-gila pada salah satu murid mainstream ini, sebagian dari mereka akan sangat heboh saat menceritakan kepada teman-teman mereka tentang kejadian yang baru saja mereka alami seperti “omo! Luhan menatap ke arahku barusan!” atau “kyaaa! aku tidak sengaja menyentuh tangan Luhan saat sedang berjalan di lorong!” bahkan sebagian dari mereka hampir jatuh pingsan setelah mengalami kejadian-kejadian seperti itu, dan pada akhirnya mereka mulai berharap lebih karena merasa memiliki chemistry terhadap Luhan, namun sayangnya Luhan sama sekali tidak mengenal siapa mereka, kecuali jika mereka termaksud bagian dari orang-orang mainstream yang mudah untuk dikenali.

Namun disaat kebanyakan orang berusaha keras untuk dapat diterima di keramaian, Jinri justru membuat dirinya se-asing mungkin, menjauh dari keramaian. Jinri memang berbeda dari pelajar lain seusianya, dia lebih suka menyendiri dibanding berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah bahkan di kelasnya, dan karena itu banyak dari mereka yang menganggap bahwa Jinri adalah orang yang sangat membosankan bahkan aneh, dan perlahan mereka mulai menjauhinya, tapi Jinri sama sekali tidak merasa keberatan.

Walaupun begitu Jinri merasa tidak ada yang berbeda antara dirinya dengan teman-temannya yang lain, yang berbeda hanyalah bagaimana dia bisa menjadi dirinya sendiri dan menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada, tanpa harus berusaha keras untuk menjadi orang lain agar dapat diterima di keramaian. Jinri tidak pernah memiliki rencana sedikitpun untuk menjadi orang yang berbeda, dia bisa saja menjadi seperti teman-temannya kebanyakan, tapi itu berarti dia tidak menerima jati dirinya, karena memang sudah sejak kecil Jinri telah menjadi orang yang pendiam, apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal saat usianya masih 6 tahun, mulai saat itu dia tinggal berdua bersama bibi kandungnya, dan sejak saat itu Jinri semakin menjadi anak yang pendiam, melakukan segala sesuatunya sendirian, namun tetap saja seorang manusia itu tidak bisa hidup sendiri, karena mereka telah ditakdirkan sebagai mahluk sosial, Jinri pun tidak bisa memungkiri bahwa jauh dilubuk hatinya, dia begitu merasa kesepian.

Pada siang hari, kantin sekolah berubah menjadi lautan para siswa, dan seperti biasa Luhan bersama dengan kelompoknya sedang menikmati makan siang mereka bersama di meja yang selalu mereka kuasai pada setiap jam makan siang, dan tentu saja semua mata tertuju pada kelompok mereka.

“Lu, kau bisa pakai kendaraanku hingga mobilmu keluar dari bengkel, jika kau mau” tawar Sehun, Luhan memang sedang punya sedikit masalah dengan mobil yang selalu ia kendarai kesekolah, dan hal itu sedikit membuatnya kesulitan.

“gwenchana sehun, aku bisa naik bus” ujar Luhan sambil kembali menyantap makanannya.

“mworago? jadi kau akan naik bus? hahaha yang benar saja seorang Luhan bisa menggunakan kendaraan umum” ejek salah seorang temannya.

“tidak ada yang salahnya mencoba hal baru bukan?” Luhan membalas ucapan temannya sambil tertawa hambar.

Disisi lain Jinri juga sedang menyantap makan siangnya, dan seperti biasa dia duduk sendirian, sampai akhirnya beberapa murid yeoja datang dan bergabung di tempatnya, mereka terpaksa memutuskan untuk duduk bersama Jinri karena sudah tidak tersedia tempat duduk kosong lagi selain di tempat Jinri, Jinri menganggukan kepalanya pelan saat mereka meminta izin untuk bergabung dengannya, setelah itu dia kembali menyantap makanannya.

“omo! Luhan oppa baru saja tersenyum” teriak seorang yeoja disamping Jinri, dan kalimatnya pun berlanjut hingga menjadi topik panas mengenai senyuman Luhan. “tidakkah dia tampan?!” semua teman-temannya mengangguk setuju. “jika saja senyuman bisa membunuh, pasti aku sudah mati” salah satu dari mereka bahkan begitu terpesona setelah melihat senyuman Luhan.

Topik pembicaraan panas mereka terus-menerus berlanjut tanpa memperdulikan Jinri yang mulai merasa terganggu dengan kehadiran mereka yang begitu berisik, mungkin mereka telah lupa akan keberadaan Jinri, suasana berubah menjadi begitu ramai dan Jinri sama sekali tidak menyukai hal ini, dia mengambil Ipod dari sakunya lalu mulai mendengarkan lagu dengan volume yang cukup tinggi.

Sepulang sekolah Jinri menaiki bus yang biasa dia naiki sepulang sekolah, walaupun bibinya berkata bahwa dia bisa menjemputnya kapan saja, namun Jinri selalu menolak tawaran bibinya, dia tidak suka membebani orang lain, apalagi bibinya yang selalu berbaik hati padanya selama ini, maka dari itu walaupun jarak antara sekolah dan tempat tinggalnya lumayan jauh, Jinri tetap bersikeras untuk naik bus, waktu yang biasa dia tempuh berkisar 45 menit untuk sampai kerumahnya, memang cukup lama tapi Jinri sama sekali tidak keberatan, lagipula dia bisa menggunakan waktu yang dia miliki untuk beristirahat setelah aktivitas melelahkan yang dia jalani di sekolah, dan dia sudah terbiasa menggunakan kendaraan umum, sendiri tentunya.

Berbeda dengan Luhan yang sama sekali tidak berpengalaman dalam hal tersebut, tapi untungnya dia melihat seorang murid sekolah dengan seragam serba kuning-biru yang merupakan ciri khas seragam sekolahnya, murid itu terlihat sedang menaiki bus yang juga merupakan bus tujuan Luhan, lalu tanpa banyak pikir Luhan mengikuti murid tersebut, setelah itu dia duduk tepat disampingnya dan menepuk bahunya tanpa ragu-ragu.

Jinri mengalihkan pandangannya kesamping untuk melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya, dan dia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ada murid dari sekolahnya selain dirinya menaiki bus yang sama dengannya, karena sebelumnya dia tidak pernah sekalipun menemukan murid dari sekolahnya di dalam sebuah bus, karena mungkin saja kebanyakan dari mereka lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi milik mereka, namun kali ini jelas dia melihat murid dari sekolahnya duduk tepat disampingnya bahkan menyapanya, terlebih lagi murid tersebut adalah seorang Luhan.

“kau murid Seoul High School bukan? apa kau tahu kapan bus ini akan berhenti di halte Kangnam?” Luhan bertanya dengan sopan kepada Jinri, Jinri mengedipkan matanya berulang kali, memastikan apakah benar Luhan lah yang sedang duduk disampingnya, namun dia dengan cepat kembali ke alam sadarnya, dia tidak ingin terlihat bodoh dan berlebihan seperti para fangirl Luhan yang baru saja dia temui tadi siang.

“kau turun lebih awal sebelum halte pemberhentianku, mungkin akan memakan waktu sekitar 40 menit untuk sampai kesana, nanti juga akan ada pemberitahuannya” jelas Jinri, setelah itu Luhan mengucapkan terima kasih kepada jinri, dan mengalihkan pandangannya kedepan.

“aku tidak pernah melihatmu sebelumnya disini” ujar Jinri secara tiba-tiba, lalu setelah beberapa saat kemudian dia menyesali perkataan yang baru saja dia ucapkan kepada Luhan, pasti sekarang Luhan berpikir bahwa Jinri termaksud salah satu fangirl yang selalu mencari keberadaanya dimanapun dia berada, karena Jinri bukanlah salah seorang dari mereka.

“mobilku rusak, memang salah orang sepertiku naik kendaraan umum?” Luhan bertanya dengan mata yang terlihat mengintimidasi, dia ingat akan perkataan seorang temannya di kantin tadi siang yang tidak percaya bahwa dia bisa menggunakan kendaraan umum, dan jujur saja Luhan merasa sedikit kesal saat mendengar perkataan temannya itu.

“ma-maksudku” Jinri gagap saat melihat mata Luhan yang begitu tajam menatapnya, lalu dia memutar bola matanya sendiri, merasa begitu bodoh saat mendengar suaranya yang terdengar gagap.

“maksudku… aku tidak menyangka orang sepertimu lebih memilih untuk naik bus” Jinri berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“apa maksudmu dengan ‘orang sepertimu’?” nada suara Luhan terdengar sedikit tersinggung.

“kau yang mengatakan hal itu lebih dulu” Jinri menaikkan salah satu alisnya, “memang salah orang sepertiku naik kendaraan seperti ini?” Jinri menirukan cara bicara Luhan beberapa detik yang lalu, Luhan terdiam dan segera mengalihkan pandangannya kearah lain, karena apa yang dikatakan Jinri memang benar, lalu begitu melihat ekspresi diwajah Luhan, Jinri merasa seperti telah memenang sebuah pertandingan, walaupun sebenarnya tidak ada pertandingan sama sekali diluar sana. Jinri terkekeh pelan, lalu saat mendengar suara Jinri yang terkesan meledek, Luhan berubah menjadi kesal.

“apakah ‘orang sepertiku’ tidak diizinkan untuk naik kendaraan seperti ini?” kali ini Jinri yang terdiam saat mendengar perkataan Luhan, Jinri tidak pernah punya maksud sedikitpun untuk meledeknya.

“aniyo” Jinri menatap Luhan, “lakukan apapun yang kau sukai, siapa peduli dengan apa yang orang lain katakan” ujar Jinri.

Luhan menatap Jinri dengan tatapan yang melembut, Jinri seolah bisa membaca pikiran Luhan, karena ucapan Jinri memang jawaban yang Luhan harapkan. Untuk beberapa saat mata mereka terkoneksi satu sama lain, dan setelah itu Jinri mengalihkan pandangannya kearah lain lebih dulu, sedangkan Luhan mencoba memecahkan suasana yang tiba-tiba terasa begitu canggung diantara mereka berdua.

“jadi siapa namamu?”

“Jinri imnida” jawab Jinri, “aku Luhan” Luhan tersenyum kepada Jinri, Jinri tentu sudah tahu siapa itu Luhan, namun entah mengapa dia juga membalas senyuman Luhan tanpa dia sadari, aneh… Jinri segera mengalihkan pandangannya kedepan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini mulai memerah akibat namja yang baru saja tersenyum begitu menawan kepadanya, sekarang dia tahu mengapa para yeoja tadi siang membahas topik panas mengenai senyuman Luhan. Dan sayangnya, Jinri mengakui bahwa namja disampingnya memang terlihat begitu menarik, bukan karena feromon atau semacamnya, melainkan… dia sendiri juga tidak memiliki alasan yang tepat.

Tidak lama setelah itu, suara pemberitahuan terdengar dari dalam bus, mengisyaratkan penumpang bahwa pemberhentian bus selanjutnya merupakan halte Kangnam, lalu setelah pintu bus terbuka Luhan segera beranjak dari tempatnya dan turun dari bus, namun Luhan sama sekali tidak keberatan untuk memalingkan wajahnya kearah Jinri dan berkata “sampai jumpa besok” setelah itu dia turun dari bus.

Mendengar Luhan berkata demikian, membuat Jinri merasa tidak yakin dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Luhan, karena hal tersebut mengingatkannya akan orang-orang terdahulu. Mereka akan mengucapkan salam perpisahan sama seperti apa yang Luhan katakan barusan, namun Jinri sama sekali tidak pernah melihat kehadiran mereka keesokan harinya, bukan karena mereka pergi ketempat lain atau semacamnya, melainkan mereka akan berpura-pura tidak melihat Jinri, bahkan menganggapnya seperti tidak ada, namun Jinri sama sekali tidak merasa sedih atau marah, mungkin karena dia sudah kebal akan ucapan orang-orang yang pernah berkata bahwa dia adalah orang yang aneh, membosankan dan sebagainya, lalu apakah Luhan juga termaksud salah satu dari mereka? pikir Jinri.

Namun keesokan harinya saat sedang berjalan di lorong sekolah, Jinri melewati sekumpulan murid namja, termaksud Luhan di dalamnya, dan sepertinya mereka baru saja menjalani latihan yang cukup berat, hal itu terlihat jelas dari keringat yang bercucuran dari kening mereka, lalu saat mata Luhan dan Jinri tidak sengaja bertemu, Jinri sama sekali tidak pernah menduga bahwa Luhan justru akan menyapanya, dia bahkan berjalan menghampiri Jinri dengan santai, Luhan mengenakan kaos putih oblong dengan celana olahraga, berbeda dengan temannya yang memakai seragam olahraga sekolah dengan lengkap, walaupun terlihat begitu simple namun Luhan justru terlihat begitu keren, namja ini nampaknya memiliki potensi untuk membuat suatu yang biasa menjadi istimewa. “kita bertemu lagi” sapa Luhan sambil tersenyum kecil, namun lebih terlihat seperti sedang menyeringai, ternyata benar apa yang dikatakan Luhan kemarin saat dia bilang “sampai jumpa besok”, Luhan sama sekali tidak mengabaikannya atau berpura-pura seperti tidak melihatnya, dia justru menyempatkan waktu yang dia miliki untuk menyapa Jinri.

Jinri hanya bisa tersenyum kecil saat Luhan datang menghampirinya, mungkin karena tempat ini ramai atau akibat dari jarangnya bersosialisasi maka Jinri jadi tidak tahu harus berbuat apa selain tersenyum.

“begini, apa hari ini kau pulang dengan bus yang sama seperti kemarin?” tanya Luhan, Jinri mengangguk. “apa kau keberatan jika kita pulang bersama lagi?” tanya Luhan, Jinri menggelengkan kepalanya. “bagus, kalau begitu setelah pulang sekolah aku akan menunggumu di gerbang, arraseo?” tanya Luhan, Jinri mengangguk. “katakanlah sesuatu selain mengangguk dan menggelengkan kepalamu itu” sontak Jinri mengerutkan alisnya, binggung. “mwo?” tanya Jinri dengan wajah yang terlihat kebinggungan, “siapa gadis itu Lu? apa dia yeoja chingumu?” salah satu teman Luhan menggodanya dari belakang dan disusul dengan godaan-godaan lain yang teman-temannya buat. “aish lupakanlah, kau mau kemana?” tanya Luhan, Jinri menunjuk pintu kelas yang ada di hadapannya, lalu dengan sangat terburu-buru Jinri segera masuk ke dalam kelasnya, menghindari teriakan-teriakan kecil yang dibuat oleh teman-teman Luhan untuk menggoda dirinya dengan Luhan, dia memang tidak menyukai keramaian.

“kalian membuatnya takut” ujar Luhan dengan malas kepada teman-temannya, setelah itu dia kembali menghampiri mereka. “gadis itu memang cantik Lu, tapi dia sedikit aneh” ujar Sehun, “aneh?” Luhan bertanya sambil menegak botol minumannya. “waktu kelas dua aku sempat sekelas dengannya, dia murid yang sangat pendiam dan jarang bicara, berbeda dengan murid yeoja kebanyakan” jelas Sehun, “maksudmu karena dia tidak menggodamu seperti yeoja lainnya?” Luhan malah menggoda Sehun, “yah Luhan! aku serius” sahut Sehun, Luhan hanya membalas ucapannya dengan tertawa kecil.

Saat sekolah usai, Jinri berjalan melangkahkan kakinya keluar dari sekolah, lalu tiba-tiba dia ingat saat Luhan berkata bahwa dia akan menunggunya di depan gerbang, tapi Jinri merasa ragu, apakah benar seorang Luhan benar-benar menunggunya? tidakkah dia punya acara lain sepulang sekolah? seperti hang out bersama teman-temannya atau semacamnya. Macam-macam dugaan mulai bermunculan di benak Jinri, namun semuanya sirna seketika saat dia melihat Luhan yang sedang berdiri di dekat gerbang sekolah dengan tangannya yang berada di dalam saku celananya, dia kelihatan seperti sedang menunggu seseorang, para murid yeoja terlihat begitu senang bahkan sebagian dari mereka nampak histeris saat berpapasan dengan Luhan, lalu ketika Luhan melihat Jinri, dia segera memanggilnya tanpa ragu, Jinri bersumpah kalau dia baru saja mendapatkan tatapan maut dari pada yeoja di sekitar Luhan.

“hey” panggil Luhan, Jinri mempercepat langkahnya mendekati Luhan sebelum para yeoja itu menghabisinya dengan tatapan mereka yang begitu mengerikan, jika saja tatapan bisa membunuh pasti dia sudah mati, pikir Jinri, rambut panjangnya seolah melompat kesana kemari saat dia berlari.

“kajja” setelah itu mereka berdua berjalan bersama menuju halte bus, di dalam perjalan mereka hanya diam, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka berdua, setelah itu mereka masuk kedalam bus yang sama seperti kemarin, mereka pun duduk bersebelahan, sama seperti kemarin.

Karena perjalanan yang ditempuh lumayah jauh, Jinri memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mendengarkan musik di Ipodnya, sampai tiba-tiba Luhan mengajaknya bicara. “jadi, jenis musik apa yang kau sukai?” tiba-tiba saja Luhan bertanya, “molla, aku mendengarkan apapun yang membuatku nyaman” ujar Jinri, Luhan menatapnya dengan tatapan penuh tanya, “lalu kau sendiri, musik seperti apa yang kau sukai?” Jinri balik bertanya.

“molla, terkadang aku menyukai rock atau hip-hop, tapi sepertinya aku lebih sering mendengarkan lagu-lagu slow dan classic” ujar Luhan, setelah itu dia mengambil Ipodnya dari dalam sakunya, dan mulai mengacak-ngacak isinya. Setelah puas, Luhan memberikan Ipodnya kepada Jinri, melihat hal tersebut, Jinri menaikkan salah satu alisnya, dia binggung dengan apa yang Luhan lakukan.

“aku memasukkan beberapa lagu favoritku kedalam playlist, dengarkanlah, kau pasti akan menyukainya” ujar Luhan, lalu dengan sangat ragu-ragu Jinri mengambil Ipod dari tangan Luhan, dan yang membuat Jinri semakin binggung adalah ketika Luhan juga mengambil Ipod milik Jinri disaat yang sama.

“untuk sementara waktu aku akan menggunakan Ipod milikmu, sedangkan kau menggunakan milikku, arraseo?” kata-kata Luhan lebih terdengar seperti sedang memerintah, dan karena tidak mau ambil pusing, Jinri hanya menganggukan kepalanya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Luhan, dan mengapa dia memberikan Ipodnya kepada orang yang bukan temannya, dan kenapa dia hanya bisa menganggukan kepalanya setiap kali Luhan berkata apapun padanya.

Ini tidak bagus, pikir Jinri.

Setelah itu Jinri mulai mendengarkan lagu di playlist Luhan, lagu pertama yang Jinri dengarkan berjudul Who Is by Bruno Mars, Jinri memejamkan matanya, beristirahat sambil menikmati irama musik di Ipod Luhan, lagu kedua yang dia dengar berjudul Restless by Switchfoot, saat mendengarkan kedua lagu ini, Jinri merasa yakin bahwa Luhan memang orang yang menyukai musik slow, namun Jinri merasa nyaman saat mendengar lagu yang Luhan berikan, lalu sebelum lagu ketiga dimulai, Jinri justru memutar kedua lagu sebelumnya secara terus-menerus, dia memutuskan untuk menyimpan sisa lagu lainnya untuk dia dengarkan dilain waktu, entah mengapa Jinri tidak ingin mengembalikkan Ipod Luhan dengan cepat.

Berbeda dengan Jinri yang begitu nyaman saat mendengar lagu-lagu pemberian Luhan, Luhan justru hampir tertawa saat melihat track list lagu Jinri, tapi untungnya dia bisa menahan tawanya, dia tidak ingin menyinggung perasaan Jinri, karena dia adalah orang yang memiliki ide seperti ini.

A Whole New World, Beauty & the Beast, Part of Your World, I See the Light, hampir semua track list lagu Jinri berbau dongeng, sampai-sampai Luhan merasa seperti sedang berada di Disneyland, sesaat Luhan berpikir kalau Jinri bukanlah orang yang aneh dalam hal perilaku, atau karena dia pendiam dan jarang bersuara, melainkan karena selera lagunya yang terkesan kekanak-kanakan, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa Jinri sangatlah… lucu.

Dan sejak itu, kisah mereka dimulai.

 

 

TBC

Iklan

57 pemikiran pada “Fall (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s