Know Your Name

Know Your Name

Title                 : Know Your Name

Author             : Kim Eun Soo

Main Cast        : Byun Baekhyun, Kim Chaerin (OC)

Support Cast    : Kim Jongin / Kai, Xi Luhan

Genre              : Romance

Length             : Oneshot

Rating              : General

Disclaimer       : All casts in this ff are belong to God, except the imaginary casts. Plotnya murni punyaku dan terinspirasi dari lagunya Jay Park – Know Your Name Acoustic version

A/N                  : Annyeong yeoreobeun! Kim Eun Soo is back ^^ Semoga ff nya bagus 😀 Kalau nggak memuaskan, jeongmal mianhae *bow* Sorry for any typo(s)

Summary         :  “Aku ingin tahu namamu. Dan aku ingin Kau sendiri yang mengatakannya padaku, bukan orang lain.”

 

Happy Reading! Don’t be silent readers. Comment below 😀

 

Author POV

Seorang pria muda dengan pakaian formal yang melekat di tubuh tingginya sedang berjalan tergesa-gesa di antara banyak manusia lain yang juga berjalan di atas trotoar sempit itu. Tangan kirinya menggenggam erat sebuah map putih berisikan data-data penting untuk presentasi hari ini, sedang tangan kanannya sibuk menempelkan i-phone putih di telinganya demi bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Hyung sekaligus rekan kerjanya.

Pria itu mempercepat jalannya, takut terlambat barang sedetik di presentasi pertama proyek terbarunya kali ini setelah sejak tadi pagi kesialan sempat menghampirinya beberapa kali. Ia mendengus sebal mendengarkan Hyung-nya yang marah-marah karena ia bisa kesiangan pagi ini, lalu mobilnya mogok, dan alternatif transportasi terakhirnya––kereta bawah tanah––harus sedikit terlambat dari jadwal biasannya.

“Luhan Hyung, berhentilah marah-marah seperti itu! Kau membuatku semakin pusing. Sudah cukup aku mendapat sial sejak tadi pagi. Apa Kau mau menambah daftar kesialanku dengan mengomel tiada henti seperti ini?” kata pria itu cemberut.

“Aish, Kau ini! Ya, Baekhyunnie, aku ini kan hanya mengingatkanmu. Bagaimana bisa di hari sepenting ini Kau bangun kesiangan? Memangnya Kau tidak memasang alarm? Aku kan sudah pernah memberitahumu, orang yang bangunnya siang itu sering sekali mendapatkan ketidakberuntungan. Nah, akhirnya sekarang terjadi juga kan? Ckckck,” sahut Luhan di seberang telepon.

Wajah Baekhyun semakin muram saat mendengarkan komentar Luhan. Ia benar-benar tidak berniat berdebat kali ini. “Hyung, diamlah. Kalau Kau terus mengomeliku seperti itu, kujamin aku akan telat sampai di kantor.”

“Ya! Aish, Kau ini selalu saja begitu. Kapan Kau bisa berubah dari kebiasaan burukmu yang satu ini huh?” tanya Luhan berapi-api. Ia masih tidak ada niatan untuk menutup sambungan teleponnya kali ini. Waktu untuk presentasi semakin dekat, ia tidak mau mengambil resiko membiarkan Baekhyun yang masih dalam perjalanan ke kantor terkena sial lagi. Dalam kata lain, ia ingin mengontrol setiap pergerakan Baekhyun walau hanya lewat suaranya.

Baekhyun hanya bisa memutar bola matanya dan terus berjalan tanpa melihat ke depan, pandangannya menelusuri setiap jengkal barang yang dipajang di etalase toko pernak-pernik baru.

Brakk

Baekhyun tersentak saat tubuhnya menghantam sesuatu yang keras. Ia menunduk untuk melihat apa yang telah ditabraknya, tapi mata gelapnya justru menangkap sosok seorang yeoja yang tengah memungut beberapa barang yang berhamburan dari tasnya. “Jweoseonghamnida. Gwaenchanayo, agasshi?”

Yeoja itu mendongak lalu bangkit setelah berhasil memasukkan seluruh barangnya. “Ah, ne. Gwaenchana,” ucapnya lembut seraya tersenyum. Sedetik kemudian matanya membulat, sedang telunjuknya menunjuk sesuatu yang berserakan di bawah kaki Baekhyun. “Omo, kertas-kertasmu!”

Perlu semenit bagi Baekhyun untuk menyadari kalau map yang tadi ia genggam telah jatuh dan membuat beberapa data pentingnya berserakan di atas paving yang membalut trotoar itu. Ia ikut melakukan hal yang sama dengan yeoja itu––memungut kertas-kertasnya yang berserakan, meski sesekali ia mencuri pandang ke arah yeoja dengan mata bening di hadapannya.

“Igo, kurasa Kau sedang buru-buru. Cepatlah, sebelum terlambat.” Yeoja itu mengulurkan kertas-kertas milik Baekhyun yang telah dipungutnya tadi seraya tersenyum––senyum yang mampu membuat Baekhyun meleleh detik itu juga.

“K-kamsahamnida, agasshi,” jawab Baekhyun yang seakan terhipnotis oleh mata bening yeoja itu.

“Ne. Ah, aku juga harus segera pergi. Annyeong.” Yeoja itu tersenyum untuk yang terakhir kalinya lalu melangkah berlawanan arah dengan Baekhyun, meninggalkan namja yang masih berdiri mematung itu.

“A-annyeong.” Baekhyun akhirnya bisa membalas sapaan yeoja itu meski ia telah berjalan menjauh dan mustahil untuk mendengarnya. Namja itu mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian melanjutkan perjalanannya ke kantor yang kali ini dihiasi dengan pikiran-pikiran tentang yeoja yang baru ditemuinya tadi.

Detik itu juga, barulah seorang bussinessman muda bernama Byun Baekhyun mempercayai istilah “Love at The First Sight”.

***

            Baekhyun tengah memeriksa berkas-berkas miliknya sehabis presentasi proyek terbarunya yang terbilang sangat sukses. Ia tersenyum melihat kerja kerasnya semakin mendekati titik keberhasilan. Akan tetapi senyumannya sirna dan tergantikan oleh raut bingung kala ia menemukan sebuah sketsa pemandangan yang berhasil membuatnya terperangah.

“Wow.” Satu kata singkat mengalir keluar dari mulut Baekhyun, sedang kedua manik matanya belum juga berhenti memandangi sketsa itu. “Tapi sketsa ini milik siapa? Apa mungkin milik yeoja tadi? Oh my, goresan tangannya begitu halus. Memukau. Andai saja tadi aku tidak terburu-buru, pasti aku sudah menanyakan namanya, nomor ponselnya.”

Baekhyun menelusuri sketsa pemandangan itu dengan telunjuknya, ketika sesuatu di pojok kiri bawah sketsa itu menarik perhatiannya. “Apa ini? Kim *CR*? Apa maksudnya? Apa mungkin marganya Kim?”

Drrt Drrt Drrt

Getaran ponsel Baekhyun menghentikan lamunannya. Ia mengumpat kesal tapi dengan segera mengangkat telepon saat melihat caller id Kaimuncul di layar ponselnya. “Yoboseoyo? Kai? Kapan Kau kembali ke Korea? Minggu depan? Jincha? Kau akan tinggal dimana? Di rumahku?” tanya Baekhyun bertubi-tubi karena terlalu senang sahabat yang juga ia anggap sebagai dongsaeng-nya itu akan pulang lebih cepat dari jadwal sebelumnya.

“Ck, Hyung, bertanyalah satu-satu. Kau membuatku bingung.”

“Hehe, mianhae. Jadi bagaimana? Kau akan menginap di rumahku selama berada di Korea?”

“Ani, Hyung. Aku akan tinggal di rumah samcheon-ku. Keluarga mereka akan pindah ke rumah baru saat aku tiba di Korea, jadi sekalian saja aku ikut membantu mereka,” jawab Kai datar dengan suara bass-nya.

“Ah, begitu. Ya sudah, kuharap aku bisa mengunjungi rumah samcheon-mu,” ucap Baekhyun pada akhirnya. Tersirat rasa kecewa pada sebaris kalimat yang baru saja ia ucapkan.

“Hyung, gwaenchana?”

Baekhyun memutar bola matanya sebal kemudian menjawab panjang lebar. “Tentu saja tidak. Kau tahu aku ingin sekali Kau menemaniku tinggal di rumah. Eomma dan Appa baru akan pulang 2 bulan lagi. Rasanya sepi sekali berada di rumah sendiri dan hanya ditemani oleh Han Ahjumma.”

Kai tidak bisa menahan tawanya. Namja itu tidak habis pikir kenapa seorang bussinessman muda seperti Baekhyun bisa mempunyai pikiran seperti itu.“Ck, sudahlah. Kau itu bukan anak kecil lagi yang harus selalu ditemani kan? Bagaimana kalau rekan-rekan kerjamu itu tahu bahwa seorang direktur pemimpin perusahaan tersukses di Seoul tidak suka ditinggal di rumah sendiri?” cemooh Kai.

“Ya! Aish, jinjja! Geurae, aku tarik kembali kata-kataku, Kim Jongin-ssi!” seloroh Baekhyun yang kini mengerucutkan bibirnya.

“Hahaha. Oya, Hyung. Samcheon-ku mempunyai seorang anak perempuan. Tapi sayangnya, aku sudah lupa namanya. Maklum, sudah terlalu lama tidak bertemu. Oh! Dan tenang saja, aku akan mengenalkannya padamu. Siapa tahu kalian cocok,” lanjut Kai santai, membuat Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung.

“Untuk apa?”

“Supaya Kau tidak menjadi single bussinessman sepanjang hidupmu.”

Mata Baekhyun seketika membulat. Jika Kai tengah ada di sampingnya, sudah pasti ia akan memukul lengan namja berperawakan tinggi itu. “Seperti Kau tidak single saja! Tapi.. tidak perlu repot-repot mengenalkanku dengannya, Kai. Aku sudah menyukai orang lain.”

Kai terkejut mendengar pengakuan Baekhyun. Selama ini ia tidak pernah mendengar seorang Baekhyun membicarakan wanita, apalagi tertarik pada salah satu dari mereka. Namja yang sudah ia anggap sebagai Hyung itu selalu beralasan kalau pekerjaannya itu lebih penting dariapada memikirkan untuk mencari seorang pendamping hidup. “Jeongmal? Siapa yeoja itu?”

Baekhyun tertawa hambar, sedikit malu menceritakan kesialan yang dialaminya pagi hari tadi pada Kai. “Hehe, aku juga tidak tahu namanya. Aku hanya tidak sengaja menabraknya saat pergi ke kantor tadi pagi. Dia begitu menawan, senyumnya seolah menghangatkan hatiku.”

Kai mendengus sebal mendengar penjelasan Baekhyun lalu berkomentar, “Aish, terserah Kau saja. Ah, aku harus segera pergi. Sampai nanti, Hyung.”

“Ne, sampai nanti.”

***

Baekhyun POV

Hari ini untuk yang kedua kalinya aku bangun kesiangan. Tapi untung saja sedang tidak ada meeting penting pagi ini. Kalau saja ada, pasti aku sudah dimarahi habis-habisan oleh Luhan Hyung. Dan karena hari ini pekerjaanku lumayan longgar, aku lebih memilih untuk naik kereta bawah tanah menuju ke kantor. Di sisi lain, aku berharap bisa bertemu dengan yeoja yang kutabrak kemarin.

Kakiku melangkah di atas trotoar yang pavingnya agak menghitam akibat hujan yang mengguyur Kota Seoul kemarin malam ketika perutku mulai berceloteh minta diisi. Aku berhenti berjalan dan menghela napas pelan. Kulirik jam tangan coklatku kemudian tersenyum lebar. Masih jam 9 pagi. Sekali-sekali datang ke kantor sedikit siang tidak ada masalah kan? Toh akulah pimpinan mereka, pikirku.

Aku terus berjalan menyusuri deretan toko makanan yang sudah buka sejak pukul 8 pagi tadi. Aroma toasted sandwich dan spaghetti melebur menjadi satu dan menggelitik rongga hidungku saataku melewati sebuah kafe klasik. Sosok seorang waiters berseragam lengkap yang tengah membawa nampan berisi sepiring spaghetti dan secangkir cappucino yang masih mengepulkan uap memasuki indra penglihatanku saat kutolehkan kepala ke arah kafe yang dilengkapi dengan kaca tembus pandang itu.

Hmm, boleh juga, ucapku dalam hati.

Dengan langkah mantap aku memasuki kafe bergaya klasik Eropa itu. Sambutan hangat dari salah seorang waiters menyapa telingaku ketika tubuhku telah berada di dalam kafe. Aku segera menempati meja di dekat piano klasik yang sedang dimainkan oleh seorang laki-laki paruh baya. Kusebutkan pesananku disertai sebuah senyum manis saat seorang waiters menghampiri mejaku.

Karena merasa bosan, kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe setelah sekian lama berkutat memandangi seorang ahjussi yang sedang memainkan piano klasik di dalam kafe itu. Semua yang ada di kafe ini seakan lenyap seketika––menyisakan kami berdua––kala bola mataku terfokus pada seorang yeoja berparas rupawan dengan rambut hitam legam yang digerai menutupi punggungnya. Meski hanya bisa melihatnya dari samping, aku yakin benar yeoja itu adalah yeoja yang sama dengan yang kemarin tidak sengaja kutabrak.

Yeoja yang berhasil membawa hatiku pergi bersamanya detik dimana ia berjalan menjauhiku kemarin.

Aku terus saja melihat yeoja yang sedang melukis sesuatu di kanvasnya itu. Jari lentiknya bergoyang-goyang seiring dengan tangannya yang menorehkan setiap goresan di atas kanvas. Aku sendiri tidak bisa melihat apa yang sedang dilukisnya, tapi yang jelas, apapun itu pasti hasilnya sangatlah bagus.

Aku terpaku menatap lukisannya saat sebuah memori samar menyelinap di benakku. Hmm, rasanya aku melupakan sesuatu. Tapi apa ya? pikirku. Aku bertopang dagu di atas meja sambil berusaha menajamkan ingatanku tentang yeoja itu. Ah, sketsa! Aku segera mengobrak-abrik isi tas kerjaku, mencoba mencari selembar kertas putih yang menampung gambar pemandangan dengan goresan indah.

Aku mendecak sebal karena tanganku belum juga menemukan kertas itu. Tanpa pikir panjang, kutumpahkan seluruh isi tas kerjaku ke atas meja lalu menghela napas berat saat aku benar-benar tidak menemukan barang yang kucari.

“Permisi, Tuan.”

Aku hampir terlonjak kaget kalau saja akal sehatku tidak segera menahannya. Aku memalingkan wajah ke arah sumber suara dan mendapati seorang waiters laki-laki lengkap dengan nampan berisi spaghetti dan hot coffee tengah tersenyum dipaksakan meski matanya jelas menyiratkan sorot heran.

“Pesanan Anda, Tuan,” ucap waiters itu ramah.

“Ah, ne. Silahkan.”

Aku mengernyit heran saat waiters itu tidak juga meletakkan pesananku di atas meja. Ia justru menatapku dengan tatapan aneh. Memang apa yang salah?

“Ada yang salah?” tanyaku ke arahnya.

“Ngg, meja Anda, Tuan.” Waiters itu tersenyum hambar ke arahku lalu menunjuk mejaku menggunakan dagunya.

Kunaikkan sebelah alis heran kemudian mengikuti arah pandangnya. Oh, shit! Aku benar-benar tidak ingat kalau semua isi tasku masih berserakan di atas meja. Aku mendengus sebal dan akhirnya tersenyum bersalah ke arah waiters itu. “Tunggu sebentar, akan kubereskan dulu.”

Waiters itu mengangguk patuh dan tersenyum mengerti.

Aku membereskan barang-barangku secepat mungkin, sedikit merasa tidak enak pada waiters yang telah membawa nampan berisi pesananku itu lebih lama dari waktu seharusnya. Usai memasukkan semua barangku ke dalam tas, ia dengan sigap menata spaghetti dan hot coffee yang kupesan di atas meja.

Bon appetite, Tuan,” ujarnya sopan seraya membungkuk ke arahku.

“Ne,” jawabku sekenanya. Waiters itu hampir saja melenggang pergi kalau aku tidak segera memangilnya. “Ah! Tunggu!”

Ia berbalik dan berjalan kembali ke mejaku. “Ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Mmm, Kau tahu siapa nama yeoja itu?” tanyaku sembari menunjuk yeoja yang tidak sengaja kutabrak kemarin.

Waiters itu terdiam sejenak, seakan menimbang-nimbang sesuatu. Setelah agak lama berpikir, barulah ia membuka mulut. “Jweoseonghamnida, Tuan. Tapi, apakah Anda salah satu teman agasshi?”

Aku mengernyit heran. “A-agasshi? A-ah, ne.”

Waiters itu terlihat ragu akan jawabanku, membuatku dengan terpakasa sedikit berbohong padanya. “Iya, dia itu temanku. Tapi aku tidak terlalu dekat dengannya. Maka dari itu, aku lupa siapa namanya. Jadi, bisakah Kau memberitahuku?”

Waiters berperawakan kurus itu menggigit bibir bawahnya kemudian mengangguk lesu. “Ngg.. ah, ne. Baiklah. Namanya Kim Chaerin. Beliau adalah pemilik kafe ini.”

Mataku seketika membulat tidak percaya. “Jincha?”

“Ne. Sebenarnya kafe ini adalah milik Mr. Kim. Tapi karena Chaerin Agasshi yang lebih sering mengurus kafe ini, jadilah Mr. Kim mengalih kuasakannya pada Chaerin Agasshi.”

Aku mengangguk-angguk paham. Ah, tidak kusangka yeoja seperti dia pintar juga berbisnis dalam bidang kuliner.

“Ada lagi yang ingin ditanyakan, Tuan?”

Aku sedikit kaget mendengar suara waiters itu, lupa kalau ia masih saja berdiri di samping mejaku. Aku menggeleng pelan lalu mengulum seulas senyum yang menyiratkan rasa terima kasih. “Tidak, itu tadi sudah lebih dari cukup. Kamsahamnida.”

“Ne.” Waiters itu balas tersenyum kemudian berbalik dan berjalan menjauh dari mejaku.

Oh, jadi yeoja itu bernama Kim Chaerin. Hmm, yeoja yang menarik. Pandai melukis juga berbisnis kuliner. Baiklah, mulai detik ini aku akan mencoba mencari tahu tentangnya se-detail mungkin.

            Aku tersenyum kecil lalu melirik yeoja yang masih berkutat dengan lukisannya itu lewat sudut mataku. Senyumku melebar, kemudian dengan hati yang terasa begitu damai aku mulai memfokuskan diri pada spaghetti dan hot coffee yang telah memanggil-manggil namaku sejak tadi.

***

Aku menyesap hot cappucino yang berada dalam genggamanku, menikmati perpaduan rasa manis bercampur sedikit pahit yang tengah kukecap. Kupejamkan mata, menikmati dentingan piano lembut yang mengalun dari CD klasik yang sedang kuputar. Aku menyandarkan punggung di sandaran sofa, membiarkan hangatnya sinar matahari sore yang menerobos masuk lewat kaca jendela kamar menyelimutiku.

Sejenak semua hal itu membuatku merasa tenang, tapi sedetik kemudian rasa kesal itu kembali mengusikku. Aku menghela napas pelan lalu membuka mata. Kulirik jam tangan kulit berwarna coklat milikku kemudian mendecak sebal. Kuhembuskan napas perlahan, mencoba mengontrol emosiku yang mulai meletup-letup. Aku meminum habis sisa hot cappucino-ku dalam sekali tenggak dan menaruh mug yang telah kosong itu di atas meja.

Aku kesal sekali saat ini. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari kepulangan Kai, tapi ia justru tidak bisa mengunjungiku karena harus membantu keluarga samcheon-nya yang sedang mengurus kepindahan rumah. Ck, gagal sudah rencanaku untuk memaksanya menemaniku menginap di rumah.

Aku kembali mendecak sebal. Akhirnya aku bangkit dan berjalan menuju balkon dengan langkah gontai. Semilir angin segera menyambutku ketika tubuh ini telah berada di areal balkon. Aku tersenyum saat mengamati pemandangan di bawahku. Rasanya menyenangkan mengawasi aktivitas orang lain dari atas sini.

Derum mesin mobil yang berjalan mendekat menyita perhatianku. Aku mencari sumber suara dan kudapati sebuah Porsche hitam melaju lambat menuju arah rumahku. Tepat di rumah di samping rumahku mobil itu berhenti. Aku mencari posisi yang lebih nyaman untuk mengamati mobil itu sekaligus menajamkan penglihatanku. Entah, aku merasa begitu penasaran dengan siapa yang menaiki mobil itu. Mungkinkah ia penghuni rumah baru yang bertempat tepat di samping rumahku?

Seorang namja berperawakan tinggi kurus keluar dari mobil itu perlahan. Jaket kulit hitam dan skinny jeans berwarna gelap yang membalut tubuhnya menambah kesan tegas yang terpancar dari dirinya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia berdiri membelakangiku. Tapi entah kenapa sepertinya aku mengenal namja itu. Hmm, siapa ya? Aku belum sempat berpikir jauh karena namja itu tiba-tiba berbalik dan membuatku terkejut saat melihat wajahnya. Meskipun namja itu menggunakan kacamata hitam, tapi aku yakin betul kalau dia adalah Kai.

Ck, bukankah dia sendiri yang bilang kalau ia akan membantu keluarga samcheon-nya mengurus kepindahan rumah? Tapi kenapa ia ada disini? Arrgh, molla molla!

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari turun ke halaman rumahku secepat mungkin, sebelum Kai bisa hilang dari pandanganku. Aku sampai di halaman rumah dengan napas terengah-engah. Akhirnya aku meneriakkan namanya menggunakan sisa-sisa tenagaku. “Kai!”

Kai menoleh dan dari raut wajahnya aku bisa menerka kalau ia terkejut melihatku disini. “Oh, Baekhyun Hyung! Apa yang Kau lakukan di sini?”

Aku berhenti berjalan saat jarakku dengannya hanya terpaut selangkah. Kuputar bola mataku sebal lalu menjawab sekenanya, “Cih, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Dengar, aku tinggal di sini. Igo, yang bercat hijau itu rumahku.”

Kai mengikuti arah pandangku kemudian tersenyum antusias. “Jinchayo? Rumah samcheon-ku berada persis di sebelah rumahmu.”

Ah, jadi itu alasannya kenapa dia berada di sini. “Jadi Kau akan bertetangga denganku?” tanyaku yang masih sedikit kesal.

Kai mengangguk kecil. “Ah senangnya, aku sangat merindukanmu, Baekhyun Hyung.”

Mau tidak mau aku ikut tersenyum sekilas. “Ne, nado, Jonginnie.”

Aku dan Kai akhirnya saling melepas rindu seraya berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan. Kami lalu memutuskan untuk berhenti di sebuah taman saat rasa lelah melanda kakiku, begitu juga dengan Kai. Ketika kami tengah asyik berbincang-bincang dan sesekali bertukar lelucon, seruan seorang yeoja mengalihkan perhatian kami. “Jonginnie!”

Aku dan Kai refleks menoleh ke arah sumber suara. Aku terkesiap. Selama beberapa detik, bumi seakan memojokkan aku, Kai, dan ‘yeoja’ itu dalam suatu sudut yang sempit. Aku bahkan sempat lupa untuk memenuhi kebutuhan oksigenku.

Oh my.. kenapa dia bisa ada di sini? Tuhan, apakah ini semua mimpi? Kalau iya, tolong jangan bangunkan aku dari mimpi ini. Ta-tapi..

Aku memegangi dada kiriku, merasakan detak jantungku yang berdebar lebih kencang, seolah bisa kapan saja melompat keluar dari rongga dadaku. Kulirik Kai sekilas. Ia tengah menjawab seruan ‘yeoja’ itu dengan wajah sumringah. Tangannya melambai-lambai ke arah ‘yeoja’ itu.

Aku dengan sengaja berdehem kecil kemudian bertanya dengan hati was-was. “Kai, siapa yeoja itu?”

Kai berbalik menatapku dan senyumnya semakin melebar. “Sepupuku yang waktu itu kuceritakan padamu di telepon, Hyung.”

“Ne?” Aku refleks berteriak kaget, membuat Kai sedikit mundur teratur.

“Aish, jincha! Kenapa Kau berteriak sepeti itu, Hyung? Kau membuatku takut!” tukas Kai seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Hehe, mianhae, Jonginnie. Aku hanya terlalu kaget. Karena.. yeoja itu..”

Kai mendecak sebal lalu memutar bola matanya, “Ada apa dengannya huh?”

Aku mengacak rambutku kesal kemudian menjawab dengan tergesa-gesa dan sedikit berbisik, menghindari agar ‘yeoja’ itu yang sedang berjalan mendekat ke arah kami tidak bisa mendengarnya. “Aish, dia adalah yeoja yang kusukai, Jonginnie. Yang tidak sengaja bertabrakan denganku di trotoar.”

Kai otomatis melotot mendengar jawabanku. Ia menengok ke arah yeoja itu lalu kembali ke arahku. Sedetik kemudian, seulas seringai menghiasi wajahnya. “Ah, jeongmal? Kalau begitu, aku akan jadi lebih mudah untuk mendekatkan kalian berdua.”

“A-apa katamu?”

Belum sempat Kai menjawab perkataanku, yeoja itu telah berada di hadapan kami dengan napas terengah-engah. “J-jongin.. n-nie.”

Aku tanpa sadar menelean ludah saat yeoja itu benar-benar telah berada di hadapanku. Aku refleks menoleh ke arah Kai saat ia melingkarkan tangannya di tubuh yeoja itu. “Aigoo, Chaerin Noona. Untuk apa Kau berlarian seperti itu?”

Yeoja itu mendengus sebal lalu mencubit pipi Kai. “Aish, Kau ini kemana saja? Aku dari tadi mencarimu kemana-mana. Aku takut Kau tersesat, Jonginnie.”

“Tch, mana mungkin aku tersesat, Noona. Kau tidak ingat aku sudah besar huh? Ah aku lupa sesuatu. Chaerin Noona, kenalkan, ini Baekhyun Hyung yang pernah kuceritakan padamu. Dia seorang bussinessman muda yang telah sukses dan terkenal di Korea. Dan Baekhyun Hyung, ini Chaerin Noona. Dia anak dari samcheon-ku yang kukatakan padamu waktu di telepon itu.”

Aku hanya bisa melongo mendengar perkataan Kai. Arrgh, aku belum siap untuk berkenalan langsung dengannya. Aish, jincha! Eomma, eotteokhae?

“Baekhyun Hyung?” Aku tersadar dari lamunanku dan menatap Kai yang memandangku dengan heran.

“Ya! Kau tidak perlu menyebutkan bagian itu,” seruku sambil melotot ke arah Kai.

Kai menghela napas lalu menunjuk sesuatu dengan dagunya. Saat kuikuti arah pandangannya, mataku tertuju pada sebuah tangan mungil yang terulur ke arahku. Dan tangan itu milik ‘nya’.

“Annyeonghaseyo, Kim Chaerin imnida. Bangapseumnida,” ucap yeoja itu dengan senyum yang terungging di bibirnya.

“A-annyeonghaseyo, Byun Baekhyun imnida. Tidak usah perdulikan Jongin, terkadang dia terlalu berlebihan. Haha,” balasku sambil menjabat tangannya yang terasa begitu lembut, membuat aku untuk pertama kalinya melihat tawa lepas mengalun dari mulut kecil seorang Kim Chaerin.

“Berlebihan apanya? Semua yang kukatakan pada Chaerin Noona itu adalah kenyataan, Hyung,” jawab Kai seraya mehrong ke arahku.

“Ssst, sudahlah. Tidak ada yang perlu diperdebatkan sekarang. Arasseo?” kata Chaerin berusaha meleraiku dan Kai masih dengan tawa renyahnya.

“Ne, arasseo.” Aku dan Kai menjawab dengan patuh.

“Ahahaha. Geundae, eum, sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat.” Chaerin berucap pelan sembari menunjukku.

Entah keberanian dari mana yang merasuki saat ini, yang jelas sekarang aku tertawa dan mengangguk kecil ke arah Chaerin. “Kau benar, Chaerin-ssi. Kita memang pernah bertemu sekali. Aku namja yang menabrakmu di trotoar tempo hari. Tidakkah Kau ingat?”

Mata Chaerin seketika berbinar-binar. Aku tidak tahu kenapa, tapi ketika melihat kedua bola matanya yang indah itu hatiku benar-benar terasa tentram dan hangat. “Ah, ya. Aku ingat sekarang.”

“Dan apakah Kau tahu kalau saat Kau mengambilkan kertas-kertasku Kau tidak sengaja ikut memberikan kertas milikmu padaku?”

“Hm. Mianhae.” Chaerin tersenyum bersalah lalu membungkuk ke arahku.

Aku menampilkan seulas senyum menenangkan. “Gwaenchanha. Dan omong-omong, sketsamu indah sekali. Aku menyukainya.”

“Jinchayo? Aaa~ kamsahamnida, Baekhyun-ssi.”

“Ne. Oh satu lagi, sketsanya ada di rumahku sekarang. Kalau Kau tidak keberatan, Kau bisa mengambilnya sekarang deganku. Otte?”

Chaerin terlihat ragu sejenak. Ia kemudian melirik ke arah Kai yang dengan cepat berkata, “Chaerin Noona, lebih baik Kau ikut Baekhyun Hyung ke rumahnya. Tenang saja, aku bisa pulang sendiri. Dan aku tidak akan tersesat.”

Chaerin menggigit bibir bawahnya lalu akhirnya tersenyum. “Baiklah. Kaja, Baekhyun-ssi.”

“Ne, kaja.”

Aku dan Chaerin berjalan beriringan menuju ke rumahku, meninggalkan Kai yang masih tersenyum melihat keakraban kami. Aku dan Chaerin saling melempar lelucon atau sekedar menanyakan tentang kehidupan masing-masing, berusaha untuk melenyapkan sedikit kecanggungan yang menyelimuti kami.

Ketika kami saling terdiam, aku menengadahkan kepala menghadap ke langit. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Hhh, akhirnya aku bisa mengetahui namamu dari mulutmu sendiri, Kim Chaerin. Hmm, leganya. I’ve finally Knew Your Name, my soon-to-be-girlfriend.

END

            Oh my.. endingnya gantung abis yaa –“ *authornya kesel sendiri* hehe mianhae ^^v Tapi author janji bakalan bikin sequel kalo banyak yang minta. Yaksok! ._. Well, gomawo uda mau read and comment. Paii paii readers 😀

si-the�-othz 0di;mso-bidi-font-family:Arial;mso-bidi-theme-font: minor-bidi;mso-fareast-language:KO’>            Aku masih diam, tubuh hangat Dio oppa memelukku dengan erat. Aroma tubuhnya dengan lembut memasuki rongga-rongga hidungku membuat mataku terpejam menikmati aroma tubuhnya, tanganku secara tidak sadar mengelus pelan punggung Dio oppa. Aku membalas pelukannya, pelukannya sangat hangat dan nyaman. Tapi tak lama, mataku terasa lembab dan genangan air disudut kelopak mataku jatuh membasahi pipiku dan pundak Dio oppa. Aku menggigit bibir bawahku agar suara isakku tidak terdengar oleh Dio oppa, aku mulai mengatur nafas panjang.

 

uljima..

ani oppa, aku tidak menangis.” Dio oppa menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“saranghae Nara.. meskipun kalimat itu aku ucapkan berjuta kali, itu tidak dapat mencerminkan besar rasa cintaku padamu, besarnya rasa takutku jika kehilanganmu, besarnya rasa kecewaku jika kau bersama dengan Kai dan besarnya rasa marahku jika kau tersenyum untuk Kai. Jeongmal saranghae Nara..”

“nado oppa, nado saranghae oppa.”

Aku begitu senang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir manis Dio oppa, penantianku sejak sekian tahun sudah terbayar meskipun ada rasa janggal dihatiku. Aku tersenyum dan Dio oppa juga tersenyum.

“ijinkanlah aku melakukannya Nara.”

Aku membaca pikiran Dio oppa dan aku mengangguk pelan. Dio oppa sedikit mengangkat daguku dan kamipun saling menyesuaikan posisi agar hidung kami tidak saling berbenturan, deruan nafas lembut oppa menyapu pipiku yang sedang memerah ini. Nafasnya begitu teratur dan lembut, 8cm, 7cm, 6cm, 5cm, 4cm jarak wajah kami.. aku menurunkan kedua kelopak mataku perlahan, sesuatu yang hangat tepat berada di bibirku membuat tubuhku memanas seketika. Bibir Dio oppa dengan pelan menghisap bagian luar bibirku dan semakin lama bibir hangatnya itu mulai menekan bersamaan tangan kiri Dio oppa yang menarik daguku. Ciuman yang semula manis itu kini sedikit lebih dalam, lidahnya menelusuri rongga-rongga mulutku membuat gerakan sepontan mengalungkan kedua tanganku dilehernya. Hangat dan nyaman atau mungkin ‘nikmat’? entahlah, kini aku berada di bawah kendali begitu juga Dio oppa. Beberapa kali terdengar suara decakan dari bibir kami, tubuh Dio oppa semakin lama semakin mendorongku kebelakang hingga kini aku berada dalam posisi tertidur disofa. Sungguh ini ciuman yang sangat lama, hingga kurasakan tangan Dio oppa masuk menelusuri rokku dan mengelus pahaku pelan. Tidak! Ini sudah berlebihan! Kulepas ciuman kami dengan sulit, sulit karena aku juga tak ingin melepaskannya!

“oppaa, iinni ssudah ccuukkkup..” aku sedikit kesulitan mengatakannya, mengingat bibir kami masih bertautan..

Dio oppa membuka matanya perlahan dan sadar akan apa yang dia lakukan, kulihat matanya sedikit membesar saat dia menyadari tangan kanannya sudah berada didalam rokku. Dio oppa segera menjauh sedikit darikku, dia menundukkan kepalanya. Dia menyesal? Aku rasa, dan syukurlah dia namja yang baik.

“mianhae Nara tidak seharusnya aku melakukannya, aku benar-benar dibawah control.” Kulihat bibir Dio oppa yang masih basah itu berbicara dengan nada menyesal.

gwenchana oppa..”

Aku berdiri dan berjalanan menuju toilet untuk membenarkan bajuku yang sedikit tidak karuan ini, ku buka pintu dan masuk tak lupa menguncinya. Kubenahkan posisi rokku dan mengucir rambut yang sudah sedikit acak-acakan ini, kulihat bibirku dari kaca. Masih terasa bagaimana hangatnya bibir Dio oppa dan sensasi yang kurasaan saat dia menciumku, bibir bawahku sedikit lecet. Apa boleh buat, aku hanya tersenyum malu saat kembali mengingatnya. Setelah selesai aku membuka knop toilet dan kudapati Dio oppa tepat berada di depanku.

“kukira kau pergi, jangan pergi dari hadapanku lagi. Aku khawatir, aku takut kau meninggalkanku.” Tiba-tiba Dio oppa memelukku dengan sangat erat.

“ne oppa, saranghae.” Aku tersenyum dan membalas pelukannya

Terdengar suara bel dari dari ruang tamu, apakah itu chanyeol oppa? Kami melepaskan pelukan dan Dio oppa tersenyum padaku sekilas sambil mengacak-acak rambutku. Kami berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu, benar saja itu chanyeol oppa. Chanyeol oppa menyuruhku pulang karena ini sudah cukup larut, akupun berpamitan dengan Dio oppa dan sebelum pulang aku mendapat kecupan manis di keningku dari Dio oppa. Aku hanya tersenyum malu karena masih ada Chanyeol oppa disampingku, kulambaikan tanganku dan berjalan menuju mobil chanyeol oppa. Diperjalanan pulang aku hanya bisa tersenyum mengingat Dio oppa.

*next morning

Hangatnya sinar matahari yang muncul dari sela-sela jendela kamarku membuatku terbangun, kali ini aku sudah terbiasa bangun tanpa menggunakan alarm. Aku terdiam sejenak menatap langit-langit kamar, kuraba bibirku dan mulai tersenyum. First kiss-ku dengan namja tampan dan baik hati, syukurlah.

Aku mengucir rambutku dan berjalan menuju kamar mandi, selesai mandi kukenakan seragam sekolahku dan bergegas turun kebawah untuk sarapan. Aku melihat cermin dan memutar tubuhku berulang kali memastikan penampilanku sudah rapi, setelah kupastikan sudah rapi aku ambil tasku dan turun menuruni anak-anak tangga. Aku sedikit terkejut melihat seorang namja yang duduk dimeja makan, siapa lagi kalau bukan Dio oppa? dia tersenyum melihatku dan aku menyapanya.

“kyungsoo datang pagi-pagi untuk mengantarmu kesekolah, berterimakasihlah pada sunbae-mu itu.” Kata eomma seraya menuangkan susu hangat ke gelasku.

“hehe, gumawo oppa.”

Dio oppa hanya tersenyum dan menikmati teh yang eomma buatkan, apakah aku bermimpi? Lalu kemana chanyeol oppa? kusimpan pertanyaanku dan menunggu eomma untuk kembali kedapur, setelah kulihat eomma sudah jauh aku mulai bertanya pada Dio oppa.

“oppa, chanyeol oppa eoddiga? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

“dia ke rumah Tao.. kita kedatangan tamu dari Exo Planet, dia senior kami.”

“mwo? Planet-planet belum terletak dalam satu garis lurus, bagaimana bisa?”

“ada beberapa ellement yang tidak tergantung pada letak ke-8 planet, ellement itu tergantung pada letak bulan. Bulan purnama lebih tepatnya, tapi itu hanya satu ellement yang tergantung pada letak bulan.”

“oh, nuguya oppa?”

“Lee Taemin, dia lebih tua 2 tahun dariku. Dia memiliki ellement moon, jika disini mungkin bisa di sebut sebagai ‘dukun’ namun ellementnya berbeda dengan yang Lay miliki. Ellement Taemin hyung bisa membantunya berinteraksi dengan dunia roh, yah kurang lebih seperti itu penjelasan singkatnya.”

“wah, ternyata masih banyak yang belum aku tahu.”

“kajja, kita berangkat.”

“ne.”

Setelah selesai makan dan berpamitan dengan eomma, aku berangkat menuju sekolahku. Perjalanan dari rumah menuju sekolah sekitar 15menit, cukup lama.. aku berkali-kali menangkap ekor mata Dio oppa menoleh kearahku, aku hanya tersenyum.

“emm, apakah tadi malam firstkiss-mu?”

“ne oppa.” seketika rona pipiku berubah menjadi merah.

“nado.” Kulihat Dio oppa tersenyum dan menatapku singkat.

“mulai tadi malam kau menjadi yeoja chinguku,arraso?

“ne  oppa.. oppa, hari ini aku pulang lebih awal. Oppa akan menjemputku bukan?”

“baiklah, jam berapa? Setelah itu kita akan kerumah Tao dan latihan lagi.”

“nanti akan kutelpon saja, baiklah oppa.”

Kami sudah sampai tepat di depan pintu gerbang sekolahku, aku segera melepas safety belt dan saat aku akan membuka pintu mobil untuk keluar Dio oppa menarik tanganku dan mencium keningku singkat. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku setelah keluar dari mobil, aku berjalan melihat kanan-kiri mencoba mencari empat temanku.

Setibanya dikelas aku hanya melihat Sehun dan younghwa yang sedang bercakap-cakap. aku berjalan mendekati mereka dan bertanya dimana yang lain.

“dimana yang lain? Mereka belum berangkat?”

ani, mereka membolos. Mereka tahu hari ini hanya ada dua mata pelajaran saja.. pemalas.” Jawab younghwa.

“ah, dunia ini sudah gila.” Kuhempaskan tubuhku di kursi dan meletakkan tasku sembarangan.

“annyeonghaseyo~” sepontan aku menoleh kebelakang mencari sumber suara, ternyata Hyera dan Hyu Ri.

“mereka berangkat, lalu siapa yang membolos?”

“Lay dan Hye eun..” ucap Sehun.

“bibirmu lecet? Makan apa kau semalam?” Hyera duduk disampingku dan melihat bibirku dengan tatapan mata anehnya.

“ehm ini..”

“atau jangan-jangan!” Hyera memotong ucapanku dan mendekatkan wajahnya ke arahku.

“omo! Nara, kau gila. Dengan siapa? Bagaimana bisa sampai seperti ini?!” Hyu Ri memberiku pertanyaan bertubi-tubi.

“dengan Dio oppa.” aku segera menundukkan kepalaku malu..

jinjja?! Aaa!” mereka(Younghwa, Hyera, Hyu Ri) berteriak bersamaan.

“firstkiss-mu dengan Dio hyung?!” Sehun mendekat kearahku.

“ne..”

Tepat setelah aku menjawab pertanyaan Sehun bel tanda pelajaran berbunyi, mereka segera kembali ketempat duduk mereka.

**

Kini  aku sudah berada dirumah Tao oppa, kulihat seperti biasa ke-10 namja berkumpul. Kulihat Kai sedang berkutat dengan psp-nya, sedang Dio oppa duduk disampingku. Lalu dimana Taemin?

“oppa, dimana Lee Taemin?” Aku bertanya pada Dio oppa.

“dia sedang mandi, tunggulah.”

Kulihat isi ruangan ini, ruang keluarga milik Tao oppa bergaya klasik Eropa dan sangat rapi. Bukankah Kai juga tinggal disini? Aku melihat Kai dan pada waktu yang bersamaan Kai sedang melihatku singkat.

“Kai..” aku mencoba memanggilnya dengan telepathyku, kalian tahu bukankah kami bisa bercakap-cakap melalui pikiran?

“mwo? Aku sedang bermain game” Kai masih menatap mataku.

“emm, ani..”

“chukkae, aku yakin kyungsoo lebih baik dariku. Itu pilihan terbaikmu.”

Aku sedikit terkejut, apakah Kai mengetahuinya? Apakah Dio oppa memberitahu ke-8 temannya tentang hubungan kami? Sejumlah pertanyaan terbesit dipikiranku. Aku mencoba membalas apa yang Kai katakan tadi, namun dia sudah kembali berkutat dengan psp-nya. Tatapannya tadi begitu dingin dan tajam ‘mian Kai’ gumamku menatapnya. Seketika pikiranku berputar kembali kemasa lalu saat Kai mencium keningku, memelukku, tersenyum untukku. Sungguh sakit, aku berada dalam dua pilihan yang sangat sulit sekarang ini..

“mian, aku membuat kalian menunggu, oh! Itukah Nara? Annyeonghaseyo.” Aku terbangun dari lamunanku dan melihat seorang namja yang cukup tampan berjalan kearahku.

“ne, annyeonghaseyo Taemin oppa.” aku menundukkan  badanku.

Kami berbincang cukup lama, dari perbincangan tadi aku mengetahui bahwa taemin oppa dapat mengubah bentuk wajahnya seperti apa yang dia inginkan. Taemin oppa menawarkanku untuk melihat wajah Luhan, aku sedikit ragu untuk menerima tawaran Taemin oppa.. setelah berfikir dua kali, aku terima tawaran Taemin oppa. segera dia membelakangi semua yang ada diruangan ini, tak butuh waktu lama.. Tiba-tiba tubuhku bergetar dan lemas, wajah Luhankah itu? Diakah makhluk yang selalu membuat tubuhku bergetar hebat, makhluk yang akan membunuh namja chinguku, makhluk yang menentang takdir reinkarnasi? Oh Tuhan.. bagaimana bisa makhluk yang bisa dikatakan namja cantik ini memiliki niat jahat?

Seperti biasa, Lay mendekat dan menggenggam tanganku untuk mengurangi rasa gugup dan takutku.

kumanhae hyung!”

 

Author POV

kumanhae hyung!” Dio berteriak kepada Taemin dan segera menarik Nara kepelukannya.

“mianhae, tapi biarkanlah ia terbiasa Dio.. Nara bukan anak kecil lagi dan…”

“tapi semua itu butuh proses hyung, hentikan. Kita tunggu sampai Nara baikan.” Kai memotong perkataan hyungnya dan ia segera menghilang menggunakan teleportasinya.

Dio mengelus pelan rambut Nara dan mencoba menenangkan yeoja chingu-nya itu. Kali ini dia benar-benar takut, tapi itulah takdirnya.. melawan makhluk yang menurutnya adalah monster. Nara mencoba mengumpulkan semua tenaganya dan melawan rasa takut yang sedang menyelimuti dirinya, takut akan takdir yang sudah menunggunya untuk menyelesaikan semua masalah..

“sampai kapan kau akan seperti ini? kajja kita latihan.” Chanyeol menarik Nara pelan menuju taman kecil dibelakang rumah Tao.

“kau mencintai Dio?”

neomu oppa.. neomu.” Mereka berdua duduk disebuah kursi kayu berwarna coklat tua.

“kau ingin selalu bersamanya? Kau menyayangiku? Kau ingin semuanya berjalan baik-baik saja bukan?” chanyeol menghela nafas panjang dan menatap adik perempuannya itu dalam.

“jangan terlalu lemah, bersabarlah.. ini memang sulit Nara, aku juga merasakannya. Aku yakin kau lebih kuat dari pada Luhan, aku yakin kau dapat membunuhnya.”

“oppa.. gumawo.”

“jika kau lelah, pulanglah dan istirahat.. aku akan menyuruh Kai untuk mengantarkanmu.”

“ne oppa.”

Nara segera pulang dengan dibantu ellement teleportasi milik Kai, sesampainya dikamar Nara, Kai hanya diam dan segera kembali ke rumah Tao.  Nara yang melihat Kai terus diam hanya bisa menatapnya dengan tatapan tanya, ‘sesuatu terjadi pada Kai, apakah karena aku sudah memilih Dio oppa? tapi..’ gumam Nara..

 

Park Nara POV

*next Morning

Pagi ini aku bangun lebih awal, dengan sedikit menggeret kakiku menuju kamar mandi aku melihat kalender yang terpasang disamping lemari kecil dekat jendela. ‘Sial! Hari ini mereka datang!’ batinku dan membuka knop pintu kamar mandi. Kubasahi tubuh kecilku ini dengan air hangat dan segera mengelapnya dengan handuk lembut berwarna softpink, kubuka knop pintu dan berjalan lurus menuju cermin. Tepat dua langkah setelah aku berjalan kurasakan seseorang mendekap mulutku dan mengunci kedua tanganku, segera kugunakan teleportationku dan menjauh menuju depan cermin. Aku terkejut, itu bukan ‘seseorang’ tapi ‘makhluk’ karena dia itu..

“awal pertemuan yang bagus Park Yeon Ra.” Dia tersenyum tipis dan memberi penekanan pada kata ‘Park Yeon Ra’

“Kau salah Hyung, dia Park Nara.” bersamaan dengan suara laki-laki dibelakangku, tubuhku seketika bergetar hebat dan aku jatuh terduduk.

 

TBC

*drum sound*

Annyeonghaseyo readers ^^ mian ya banyak typo dimana-mana, trus nyeleseinnya agak lama soalnya author liburan ketempat kakek huehehe..

Gimana? Gimana? Ada cast baru mantan pacar author Lee Taemin kkk~

Jeongmal gumawo buat yang udah baca ^^ apalagi buat yang udah komen

[!!!] PLEASE DON’T BE SILENT READER

Iklan

26 pemikiran pada “Know Your Name

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s