Foreigners (Chapter 3)

Foreigners Part 3

 

Author : Pradesi (@paramitapradesi)

Cast : Byun Baekhyun, Sunghyo, Oh Sehun

Genre : Fantasy, Romance

Length : Chapter

__

“oppa” pekik Sunghyo pelan. Matanya tidak henti hentinya menatap lekat laki laki yang baru saja membuka pintu ini. “kenapa kau ada disini?” tanya laki laki itu, Baekhyun. Sunghyo kewalahan. Ia menatap bingung Seryung meminta pertolongan. “aku ..aku..”

“kita disini ingin mencari dompetku yang tertinggal sunbae, sekaligus mencari buku untuk pelajaran berikutnya” perkataan Seryung membuat Sunghyo bernafas lega untuk saat ini. “lalu untuk apa kau disini oppa?” kini Sunghyo yang melontarkan pertanyaan balik.

“ah aku” Baekhyun menggaruk garuk rambut belakangnya. “aku hanya ingin disini, dan bukan urusanmu”lanjut Baekhyun, Sunghyo mendengus kesal, lagi laki Baekhyun mengacuhkannya dan lebih memilih duduk di sebuah bangku sambil membolak balik buku disana.

‘dingin sekali dia’ Batin Sunghyo. Sunghyo melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia mencari cari dimana letak buku tentang de javu yang di beritahu Seryung. “Sunghyo-ah aku menemukannya” Sunghyo terkejut dan segera menghampiri Seryung.

“mwoya? Kau mendapatkannya seryung-ah” Sunghyo tidak membuang waktu lagi, ia membolak balik buku itu. Tidak sadar jika sedari tadi Baekhyun memperhatikannya dengan bingung dan heran, heran kenapa tiba tiba gadis itu antusias dengan buku yang baru saja di temukannya.

de javu adalah saat kau seperti mengenal suatu hal yang baru kau temui” Gumam Sunghyo, ia membalik halaman yang sepertinya bertuliskan dengan tulisan yang agak besar sehingga satu halaman tidak sampai 3 baris kalimat.

“ini sering terjadi, disaat itu kau mengalami perasaan aneh pada dirimu sendiri, dan itu tidak bisa kau tentang” Sunghyo membenarkan kata kata itu, ia sendiri tidak bisa menentang apa yang ia rasakan saat itu. Rasa penasaranpun menjalar di tubuh Sunghyo.

“hal itu bukan hanya imajinasimu sesaat tapi…

Sunghyo menggantungkan kalimatnya, membuat Seryung kaget dan sekaligus penasaran. “waeyo hyo-ah?” Sunghyo menggeleng. Seryung mengambil buku itu, ia melanjutkannya. “tapi hal itu adalah memorimu di masa lalu, yang masih tertanam di alam bawah sadarmu bahkan bisa berdampak pada kehidupanmu saat ini”

Sunghyo terduduk di lantai, memorinya. Kenapa itu benar benar memorinya. Sesaat semua yang pernah ia rasakan saat itu muncul, seperti kaset rekaman yang tidak sengaja di putar. Sunghyo memegang kepalanya yang terasa sakit.

“hyo-ah gwaenchanna?” tanya Seryung. “ne, kita harus lanjutkan” Sunghyo membalik halaman lagi. “kadang kadang kau akan dikatakan tidak waras oleh orang disekitarmu saat menyatakannya, karena itu seperti sesuatu yang tidak mungkin”

Sunghyo membalik lagi halaman itu. “De javu berbeda dengan jamais vu, jika de javu adalah mengingat masa lalu, maka..Jamais Vu adalah kemampuan mengingat masa depan”

jamais vu?” pekik Seryung. “ne? mungkin seperti melihat masa depan, ya seperti itu, waeyo?” Seryung menggeleng. “ah aniya, lanjutkan saja” Sunghyo mengangguk. Ia membalik buku itu. “hanya segelintir orang yang bisa memiliki kemampuan jamais vu dan hanya sedikit orang yang bisa merasakan déjà vu

“eh? Hyo-ah coba kau baca yang ini” Tunjuk Seryung, sunghyo mengedarkan pandangannya. “déjà vu bisa terjadi karena ikatakan masa lalu yang belum terselesaikan, artinya apa?” Sunghyo menggeleng. “ikatakan masa lalu?”

“ikatan masa lalu berarti kau masih berhutang di kehidupanmu yang dulu, atau ada sesuatu yang belum kau selesaikan” suara itu membuat Sunghyo terkejut, ia menatap Baekhyun yang sama sekali tidak membalas menatapnya.

“oppa kau tahu?” tanya Sunghyo sedikit kaget. “tentu saja, itu pelajaran dasar dan aku sudah mempelajarinya bahkan tidak hanya teori” Sunghyo mengangguk, ia malas berdebat lagi dengan Baekhyun, Sunghyo lebih memilih diam.

__

Sunghyo Pov

Baekhyun oppa masih disini, sedikit membuatku risih karena bersamanya. Entah kenapa dia datang ke sini. Hey..itu membuatku penasaran. Dan kenapa dia membentakku mengatakan itu adalah urusannya. ‘apa dia ingin menemuiku?’ ah, aku menggeleng pelan. Bagaimana bisa disaat seperti ini aku memikirkan hal yang tidak mungkin.

“hyo-ah aku ngantuk, bagaimana kalau kita tidur, besok saja lanjutkan membacanya” aku mengangguk, aku juga mengantuk. “kajja” aku menarik tangan Seryung untuk bangkit. Sebelumnya aku menatap Baekhyun oppa yang nampak selesai dengan bukunya, cepat sekali, dan juga kenapa bertepatan denganku.

Aku mencoba menepis pikiran pikiran aneh yang masuk ke otakku dan berjalan ke luar. Diluar sudah benar benar gelap, aku yakin jika aku tidak tidur segera maka besok akan telat. “seryung-ah” aku menatap Seryung yang terlelap disampingku.

Tidak ada jawaban. Ah , anak itu sudah tidur rupanya. Tapi sampai sekarang aku yang tidak bisa tidur. Pikiran pikiran aneh memasuki otakku , dan aku tidak bisa menghalanginya. “dejavu” kata yang singkat dan juga membuatku penasaran. Apa benar selama ini aku mengalaminya. Hal yang sama sekali baru namun aku mengenalnya.

Tiba tiba mataku tertuju pada cahaya tipis yang mengenai tembok ruangan ini. Cahaya yang berasal dari jendela kamar ini yang hanya berbalut gorden putih. Angin yang berhembus dari sela sela kaca membuatku kedinginan, tapi walaupun begitu aku berdiri dan melihatnya.

Sungguh menakjubkan, saat aku membuka jendela itu hanya pemandangan yang indah yang bisa menyejukkan mataku. Kenapa Seryung tidak pernah mengatakan padaku ada pemandangan sebagus ini.

Aku duduk di dekat jendela sambil merasakan deru angin yang sedikit menggerakkan rambutku. Cahaya tipis itu ternyata berasal dari cahaya bulan. Tidak bulat penuh tapi cahayanya lumayan pekat.

Satu hal yang aku sadari, pemandangan yang sedari tadi menyejukkan mataku adalah jutaan bunga matahari yang tersusun rapi disini. Aku mengingat rumah tempat Suho dan oppa lainnya. Disana juga aku bisa merasakan kehadiran bunga ini. Ah tidak, bunga ini tertanam hampir di setiap sudut daerah ini.

Aku melihat ke bawah, dan meloncat kecil. Kenapa aku begitu tertarik dengan bunga ini. Untung saja aku sudah memakai alas kaki.

Aku berlari kecil menuju hamparan bunga itu, melewatinya dan mengusap bunganya. Rasanya begitu bahagia, dan aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan aneh yang meliputi hatiku sekarang.

Tiba tiba saja aku merasa tertarik kebelakang. Tarikan itu semakin keras sehingga aku terjungkal. Aku memejamkan mata, berharap tidak terbentur dengan tanah, dan ternyata itu benar. Aku malah merasakan kehangatan di punggungku. Aku mencoba menoleh ke belakang, tapi tangan seseorang menghalanginya. Membuatku tetap terdiam seperti ini.

Tangan orang itu masih berada di perutku. Memelukku dari belakang. Dari sini aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus di tengkukku. “nugu?” tanyaku pelan. Dia tidak menjawab masih terdiam dan memelukku. “nuguya?” aku semakin resah dan mencoba melepaskan diri darinya.

“jangan bergerak, biarkan seperti ini” suara ini, bukan suara asing. Ya, aku mengenalnya. Tapi aku tidak yakin. “Sehun oppa?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk kecil, aku sedikit lega dengan jawaban itu. Dan di sela sela kelegaan itu ada sedikit perasaan terkejut. Kenapa dia tiba tiba memelukku seperti ini.

“oppa apa yang..membuatmu seperti ini?” perlahan pelukannya mengendur. Aku segera membalikkan badan. Merasa terkejut menemukan air mata yang terlihat jelas di pipinya. “oppa?” dia menatapku tajam. Aku merasakan sesuatu yang aneh saat dia menatapku, ada perasaan sedih yang memilukan.

“oppa waeyo?” tanyaku gugup. “ah mianhae” dia tersenyum dan membalikkan badan meninggalkanku. Aku mendekatinya. Menggenggam tangannya, dia tidak biasanya seperti ini, tanpa sebuah penjelasan yang membuatku penasaran.

“oppa kau kenapa seperti ini?” dia tidak menjawabku, bahkan tatapan matanya masih mengarah ke depan. “oppa” pekikku pelan.

“Baekhyun hyung” aku terkesiap, segera menoleh ke arah pandangnya juga. Benar, disana sudah berdiri seorang laki laki yang sejam yang lalu berada di sisiku. “masih berani kau kesini sehun-ah?” aku menatap Baekhyun oppa yang mengatakan hal tadi dengan dingin, matanya yang tajam ,aku bisa merasakan kemarahan dan kebencian disana.

Sehun oppa tersenyum tipis dan menghempaskan tanganku pelan, tersenyum padaku juga seakan mengatakan minta maaf. “aku hanya ingin melihatnya hyung, jika kau tidak suka, maka aku akan pergi” tidak, Sehun oppa benar benar pergi.

“oppa” panggilku pelan. Sehun oppa yang sudah jauh dariku berbalik, tersenyum lagi dan melambaikan tangannya. Aku benar benar bingung dan sedih. Barusan saja aku merasakan kehangatannya tapi sekarang laki laki itu pergi.

__

“aku suka tempat ini” aku menatapnya lekat lekat. Untung saja dia kini menatap ke depan. Dan mungkin tidak berniat menatapku. “kenapa?” tanyaku dan menyeruput pelan teh yang tadi ia berikan. “karena..ada kenangan yang manis disini” lirihnya pelan. Baekhyun oppa memandang bulan yang baru setengah.

Aigoo, aku harus mengakui bahwa dia sangat tampan. Bahkan aku susah sekali menyangkal hal itu. Andai saja dia bisa merubah sikapnya yang dingin padanya, ah tapi..kenapa aku memikirkannya.

“kenapa oppa bersikap dingin dengan Sehun oppa?” tanyaku dengan pelan. Jujur saja aku sedikit takut dengannya, apalagi tadi ia memberikan tatapan itu, penuh dengan kemarahan dan kebencian. Itu membuatku sedikit takut.

“karena dia pantas mendapatkannya” dahiku mengkerut. Pantas? Apa maksudnya. “maksud oppa?” tanyaku lagi. Kali ini ia menoleh melihatku. Tatapannya berbeda 180 derajat dari tatapan tadi. Tatapannya yang sekarang lebih sendu dan..menyedihkan. “karena dia sudah membuatku kehilangan seseorang”

Perkataannya tadi membuatku tercekat, aku hampir saja menumpahkan teh ini. “begitu” ucapku pelan, tidak berniat melanjutkan lagi. “kenapa oppa datang kesini?” ia tampak kaget dengan pertanyaanku tadi. “itu aku..”

“apa karena Sehun oppa?” tanyaku lagi. “aish kenapa semuanya selalu kau kaitkan dengan pria itu?” aku terlonjak kaget. “wae? Memangnya aku tidak boleh mengatakannya” Baehyun oppa mendengus pelan.

“jangan pernah kaitkan dengannya , arra? Dan juga..jangan pernah bertemu dengannya” aku menatapnya tajam. “wae? Memangnya kenapa jika aku dekat dengannya dan bertemu dengannya, itu bukan urusanmu sama sekali” aku sudah muak dengannya, sikapnya yang dingin dan suka memerintah entah kenapa muncul lagi.

“Sunghyo-ah” dia memanggilku saat aku sudah beranjak jauh darinya. “Sunghyo-ah” panggilnya lagi , aku tidak menghiraukannya dan masih berjalan. Malas sekali meladeni orang sepertinya. “Sunghyo” badanku tertarik kebelakang lagi. Aku ingin melepaskan genggaman tangannya yang entah kapan sudah ada di lenganku.

Aku benar benar tidak bisa melawan arus dan terdorong keras kebelakang. Hangat. Baekhyun oppa memelukku. Sama seperti apa yang Sehun oppa lakukan tadi. Hanya saja kali ini perasaan yang menyelimuti jantungku berbeda.

Pikiranku tidak focus saat ia memelukku. Jantungku berdebar ratusan kali lipat. Perasaan apa ini? Aneh sekali. Aku seperti susah untuk mendorongnya melepaskan pelukan ini. Aku malah terdiam menikmati aliran darah dan jantungku yang berpacu keras.

“mianhae” ucapnya pelan. Dari sini aku bisa merasakan detakan jantungnya. Aku..aku. Bagaimana bisa perasaan seperti ini aku deskripsikan sebagai cinta. Aku bahkan baru tadi memakinya dalam pikiranku.

Aku sedikit mendongakkan kepala, cahaya bulan yang hangat menerpa wajah tampannya. Ya, dari sini aku bisa menatap dengan jelas wajahnya itu. Perlahan wajahnya mendekat. Aku ingin  sekali melepaskannya, tapi hati kecilku berkata lain. Hanya terdiam saat wajah itu hanya berjarak beberapa inchi dari wajahku. Sampai akhirnya sesuatu yang hangat menyentuh permukaan bibirku.

Aku hanya bisa membulatkan mata, dan selanjutnya memejamkan mataku. Hatiku sakit sekali, terasa perih dan tertekan. Perasaan itu terus mengalir sampai aku merasakan rasa asin di bibirku. Aku menangis, memang aneh karena sampai detik ini aku tidak tahu kenapa aku bisa menangis.

Tapi..perasaan rindu yang semakin dalam membuatku seperti itu.  Bukan hanya aku, tapi Baekhyun oppa juga menangis. Ia mengeratkan pelukannya, seperti mengikatku dalam dalam. “jangan pernah pergi lagi hyo-ah”

__

Author Pov

“hoam” Seryung menguap kecil. Ia mengerjapkan matanya, angin yang dingin membuatnya terbangun. Kaget karena Sungyo sudah tidak ada disampingnya. “Sunghyo” panggilnya pelan. Sunghyo tidak ada di sekitar kamarnya. Matanya tertuju pada jendela yang terbuka. Pantas saja angin bebas memasuki kamarnya.

Ia berjalan ke arah jendela, mencoba menutupnya namun pandangan lain membuatnya terdiam. Seryung menutup matanya dan berbalik. Dengan cepat ia menutup jendelanya, tanpa melihat sama sekali pemandangan itu.

Jantungnya berdebar, baru kali ini ia melihat itu selain di film yang pernah ia tonton. Seryung melangkahkan kakinya keluar. Baru saja ia membuka pintu seseorang memakai jubah hitam mengagetkannya.

“kau…” nafas Seryung tercekat. Ia mencoba menutup pintu lagi namun tangan laki laki itu menghalanginya. “lepass” pekiknya pelan saat laki laki itu menariknya keluar. “lepaskan aku, apa maumu?” laki laki itu kini melepaskan Seryung.

Mengangkat sedikit wajahnya dan membuka coat jubah yang ia pakai. “kau..” Seryung membulatkan matanya. “selamat malam nona Shin” sapa Luhan dengan sinis. “untuk apa kau ke sini? Bukankah Mister Dennis sudah mengatakan padamu untuk pergi dari daerah ini”

Luhan tertawa kecil. “hahaha apa bisa laki laki tua itu mengusirku” tatapan mata Luhan yang tajam dan matanya yang memancarkan kilatan merah membuat Seryung bergidik. “jangan dekati aku, atau kau akan..”

“atau aku akan mati? Begitu? Memangnya apa saja kekuatanmu nona Shin, bukankah kau tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup untuk melakukan itu padaku” Seryung menggeleng, ia berbalik ingin lari tapi dengan sigap Luhan menariknya dengan satu gerakan tangan. Seakan ada tali yang membuat Seryung terjungkal ke belakang. “akh” Seryung mengerang pelan.

“bagaimana apa kau mau mencoba lari?” Luhan melihatnya dengan tatapan meremehkan. Sementara Seryung yang kesakitan hanya bisa diam. Luhan terus mendekatinya dan tangannya mencengkeram keras bahu gadis itu.

“yak lepaskan aku akh…”

Seryung merasakan punggungnya sakit. Seketika itu kesadarannya melemah. Luhan tersenyum mengejek mendapati tubuh gadis yang sekarang sudah ada di gendongannya. Ia menutupi tubuh gadis itu dengan jubahnya dan melangkah pergi.

__

“Shin seryung menghilang?” sunghyo mengangguk. Matanya sudah penuh dengan air mata , mengingat ia pergi meninggalkan Seryung saat itu, dan sekarang kecemasan dan rasa khawatir menghantuinya.

“bagaimana bisa dia menghilang” Cho Kyuhyun mengusap bahu Donghae pelan. Namja itu terlihat sangat rapuh menerima kabar itu. “tenang saja hyung dia pasti akan kembali, percaya padanya” Sunghyo hanya bisa menundukkan kepalanya. Semalaman ia tidak tidur memikirkan Seryung.

“mianhae seonsaengnim, aku..yang salah, aku meninggalkannya sendirian” “gwaenchanna” hibur Donghae. “dia pasti akan kembali aku yakin” Donghae tersenyum , mencoba menghibur Sungyo dan dirinya. Sudah bertahun tahun ia hidup di sini, dan Seryung adalah sosok yang selalu ia sayangi. Ia bahkan menganggap Seryung adiknya.

_

“seryung temanmu itu?” Sunghyo mengangguk. Sekarang Suho, Kai, DO, Baekhyun, dan Chanyeol terkejut saat tiba tiba Sunghyo mengatakan hal itu. “malam itu ia hilang, aku tidak tahu ia dimana” Sunghyo menundukkan kepalanya dan menangis membuat Kai dengan reflek memeluknya.

“gwaenchanna hyo-ah dia pasti baik baik saja” Kai menepuk pelan bahu Sunghyo yang tanpa ia sadari Baekhyun menatapnya tajam sambil menahan perasaannya. “bukan begitu oppa, tapi saat itu aku tidak ada disana, ini pasti salahku”

“kau tidak ada disana? Lalu kau saat itu kau dimana?” pertanyaan Suho membuatnya terdiam. Baekhyun menangkap rasa gugup itu. Ia satu satunya orang yang tahu Sunghyo dimana malam itu. “aku..

“Sunghyo” seseorang tengah terengah engah datang. Ditangannya ada sepucuk surat. “Mr Dennis menyuruhku untuk memberikan ini padamu” Sunghyo mengambil surat itu. Surat yang hanya digulung dengan pita berwarna merah.

Laki laki itu berlalu pergi, tanpa memberikan penjelasan apapun. Sunghyo menatap surat ini bingung. “buka saja hyo-ah” ucap DO. Sunghyo mengangguk ia membuka surat itu perlahan.

“Mister Dennis menyuruhku datang ke ruangannya”

 

To Be Continued…..

 

Gaje? Teralu panjang? 😦

Di Next Chap bakal ada Flashback yang lumayan panjang, dan mungkin next chap adalah titik terang bermulanya cerita ini. So..makasi banget yang udah mau baca sampe di part ini. Mungkin ff ini bakalan selese 2 atau 3 part lagi. Dan biasanya saya lebih cepet post di wp pribadi. ^^

10 pemikiran pada “Foreigners (Chapter 3)

  1. hoooh kayaknya luhan masuk golongan jahat disini huhuhu~ cie cie baekhyun… mmmkiss mmmkiss .. mau dibawa kemana tu cewek diculuk segala -_-#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s